Claim Missing Document
Check
Articles

PENGUJIAN AKURASI DAN KETELITIAN PLANIMETRIK PADA PEMETAAN BIDANG TANAH PEMUKIMAN SKALA BESAR MENGGUNAKAN WAHANA UNMANNED AERIAL VEHICLE (UAV) Anggoro Pratomo Adi; Yudo Prasetyo; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (948.735 KB)

Abstract

ABSTRAKKebutuhan pengukuran dan pemetaan bidang tanah di Indonesia masih sangat tinggi, dimana masih banyak bidang-bidang tanah yang belum terpetakan. Untuk itu dibutuhkan metode pengukuran dan pemetaan bidang tanah yang efektif dan efisien untuk menunjang terlaksananya pemetaan bidang tanah tersebut.Salah satu metode efektif dan efisien yang dapat digunakan selain terestris adalah metode fotogrametri menggunakan wahana pesawat tanpa awak atau biasa disebut UAV (Unmanned Aerial Vehicle). Untuk mengetahui apakah pemetaan bidang tanah menggunakan wahana UAV memenuhi standar ketelitian geometri dan planimetrik dari BIG maupun BPN, maka perlu dilakukan pengujian mengenai ketelitian geometri dan planimetrik pada pemetaan bidang tanah menggunakan wahana pesawat tanpa awak atau UAV. Pengujian ketelitian geometri dilakukan dengan berpedoman pada Perka BIG Nomor 15 Tahun 2014. Sedangkan pengujian ketelitian planimetrik dilakukan dengan membandingkan luas serta jarak dari sampel bidang-bidang tanah antara hasil pengukuran menggunakan UAV (metode fotogrametri) dengan hasil pengukuran terestris yang berpedoman pada Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997. Dari pengujian yang dilakukan, seluruh orthofoto yang dihasilkan memenuhi standar ketelitian geometri peta RBI serta ketelitian planimetrik peta dasar pendaftaran. Selain itu, berdasarkan hasil uji statistika F (Fisher) tidak terdapat perbedaan ketelitian geometri yang signifikan antara orthofoto yang dibentuk dari dua buah perangkat lunak baik pada daerah yang memiliki topografi relatif datar maupun berbukit.Kata Kunci : Bidang Tanah, Ketelitian Geometri, Ketelitian Planimetrik, UAVABSTRACTNeeds of measurements and plot mapping in Indonesia is very high, it shown by many unmapped plot. So required the effective and efficient method to support the plot mapping implementation. One of the effective and efficient method that can used besides terrestrial is photogrammetric method using an UAV (Unmanned Aerial Vehicle). To determine whether the plot mapping using UAV meets the geometric and planimetric accuracy standard of BIG and BPN, it needs the geometric and planimetric accuracy test.. Testing of geometric accuracy is based on the Perka BIG 15/2014. While testing of planimetric accuracy did by comparing the area and distance from sample plot between the measurement results using UAV (photogrammetric method) with the measurement results using a Total Station (terrestrial method) that based on PMNA 3/1997. Based on the tests, generated orthophotos meet the geometric accuracy of RBI map also the planimetric accuracy of base map registration. In addition, based on the results of F statistics test ( Fisher), there are no significant differences of geometric accuracy between orthophotos that generated by two software on flat and hilly topography.Keywords: : Geometric Accuracy, Planimetric Accuracy, Plot, UAV
ANALISIS KORELASI SPASIAL DAMPAK PENURUNAN MUKA TANAH TERHADAP BANJIR DI JAKARTA UTARA Zainab Ramadhanis; Yudo Prasetyo; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.439 KB)

Abstract

ABSTRAKMeningkatnya jumlah penduduk di Jakarta Utara memaksa pemerintah untuk menambah lahan melalui reklamasi. Reklamasi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan lahan permukiman dan dapat meningkatkan pendapatan ekonomi Pemerintah Daerah. Banyaknya gedung-gedung pencakar langit, pengambilan air tanah secara terus menerus dan jenis tanah Jakarta yang sebagian besar adalah alluvial menjadi beberapa faktor penyebab penurunan muka tanah, dikutip dari Kompas (2016) laju penurunan muka tanah di Jakarta meningkat dari 5-6 cm menjadi 10-11 cm per tahun. Penurunan muka tanah yang terjadi di Jakarta menyebabkan berbagai macam masalah yang serius, salah satunya adalah banjirDalam penelitian ini menggunakan Citra Sentinel-1A pada tahun 2015 dan 2016 untuk mengetahui penurunan muka tanah yang terjadi di Jakarta Utara dengan menggunakan metode DInSAR. Kemudian, untuk mengetahui zona ancaman banjir di Jakarta Utara, menggunakan metode pembobotan yang mengacu pada pada Katalog Metodologi Penyusunan Peta Geo Hazard Berbasis GIS karya Endro Santoso dari Badan Meterologi dan Geofisika dengan parameter berupa curah hujan, ketinggian, zona banjir dan tata guna lahan.Hasil dari metode DInSAR, penurunan muka tanah terjadi di empat dari enam kecamatan dengan besar -0,18 cm/tahun sampai dengan -2,45 cm/tahun dimana 61% penurunan muka tanah terjadi pada kawasan terbangun, 25% terjadi di kawasan tidak terbangun dan 14% terjadi kawasan sekitar perairan. Kemudian, hasil dari metode pembobotan adalah 82% dari wilayah Jakarta Utara merupakan zona banjir ancaman tinggi, 15% merupakan zona banjir ancaman sedang dan 3% merupakan zona banjir ancaman rendah. 81% zona ancaman banjir terdiri dari kawasan terbangun, 12% terdiri dari kawasan tidak terbangun dan 7% terdiri dari kawasan perairan. Selanjutnya, korelasi penurunan muka tanah terhadap banjir dibagi menjadi tiga tingkat kesesuaian, yaitu tinggi sebesar 74%, sedang sebesar 22% dan rendah sebesar 4%.  77% wilayah yang terdeteksi adanya korelasi penurunan muka tanah terhadap banjir merupakan kawasan terbangun, 17% merupakan kawasan tidak terbangun dan 6% merupakan kawasan perairan.Harapannya, penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai penurunan muka tanah dan zona ancaman banjir di Jakarta Utara. Hal ini, dapat digunakan sebagai bahan kajian untuk perencanaan tata kota yang lebih baik.Kata Kunci : Banjir, DInSAR, Korelasi, Pembobotan, Penurunan Muka Tanah ABSTRACTThe population growth in North Jakarta forces the Government to enhance the land by reclamation. Reclamation was done to fulfill the settlement needs and to increase the economic revenues of Local Government, so that a lot of skyscrapers were built. A lot of skyscrapers, taking groundwater continuously and geological structure of Jakarta which most of it is alluvial become the factors cause land subsidence. Quoted from Kompas (2016), land subsidence rate in Jakarta is increasing from 5-6 cm to 10-11 cm a year. Land subsidence causes some serious problems, one of them is flood.This research used Sentinel-1A image in 2015 and 2016 to know the land subsidence rate in North Jakarta by using DInSAR method. Then, in order to know the flood threat zone in North Jakarta, used scoring method which referred to the Catalogue of Geo Hazard Map Methodology Based on GIS by Endro Santoso from Indonesian Agency for Meteorological, Climatological and Geophysics with parameters of rainfall, topographic height, flood zone and land use.The result of DInSAR method, prove that land subsidence occurred in four of out six sub-districts with the rate of to -0,18 cm/year to -2,5 cm/year which 61% of the land subsidence occurred in a well-built area, 25% occurred in a non-built area and 14% occurred at around the waters area.  The result of scoring method is 82% of North Jakarta area is high the flood threat zone, 15% is medium the flood threat zone and 3% is low the flood threat zone. 81% of the flood threat zone consist of the built area, 12% consist of non the built area and 7% consist of the waters area. Then, the correlation land subsidence to flood is divided into three levels, 74% for high correlation, 22% for medium correlation and 4% for low correlation. 77% of area which detected to have the correlation land subsidence to flood is well-built area, 17% is non-built area and 6% is waters area. Hopefully, this research can provide information about land subsidence and flood threat zone in North Jakarta. So that, it can be used for better urban planning.Keywords: Correlation, DInSAR, Flood, Land Subsidence, Scoring
PENGAMATAN PENURUNAN MUKA TANAH KOTA SEMARANG METODE SURVEI GNSS TAHUN 2018 Adzindani Reza Wirawan; Bambang Darmo Yuwono; L M Sabri
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.312 KB)

Abstract

Penurunan muka tanah atau land subsidence merupakan fenomena perubahan ketinggian muka tanah yang berlangsung dalam kurun waktu singkat atau lama yang persebarannya tidak merata di setiap lokasi. Penelitian penurunan muka tanah di Kota Semarang telah dilakuan secara berkelanjutan karena masih terjadi penurunan yang signifikan. Berdasarkan penelitian terdahulu, besarnya penurunan muka tanah di Kota Semarang bervariasi pada tiap tahunnya dan berbeda di setiap lokasi penelitian sehingga titik pengamatan harus tersebar merata di Kota Semarang. Pengamatan penurunan muka tanah pada penelitian tugas akhir ini menggunakan pengamatan GNSS metode statik selama ± 6 jam di 9 titik yang terdiri dari 8 titik pengamatan dan titik ikat. Penelitian ini juga didukung dengan data pengamatan titik yang sama pada tahun 2013, 2015, 2016 dan 2017. Data pengamatan diolah menggunakan software scientific GAMIT 10.7 yang diikatkan dengan titik ikat IGS sebagai titik ikat global dan titik TTG447 sebagai titik ikat lokal. Koordinat hasil pengolahan kemudian dibandingkan dengan hasil penelitian terdahulu yang akan didapatkan perubahan ketinggian titik pengamatan. Nilai laju penurunan muka tanah pada titik SMK3 sebesar 2,95269 cm/tahun; titik N259 sebesar 4,59026 cm/tahun; titik K371 sebesar 0,40994 cm/tahun dan titik KOP8 sebesar 6,17139 cm/tahun. Hasil analisa laju penurunan muka tanah menyatakan bahwa adanya korelasi yang signifikan antara penurunan muka tanah dengan pengambilan air tanah di Kota Semarang.
VERIFIKASI KOORDINAT TITIK PATOK BATAS WILAYAH DENGAN NTRIP-CORS (Studi Kasus : Batas Kota Semarang Dengan Kabupaten Kendal) Muhammad Ilman Fanani; Bambang Darmo Yuwono; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (827.193 KB)

Abstract

ABSTRAK Indonesia merupakan negara kepulauan dengan total 34 provinsi, maka batas daerah merupakan hal mutlak yang harus diperhatikan dalam informasi Geospasial. Batas antar daerah tersebut disajikan dalam daftar koordinat yang telah diatur dan dicantumkan dalam Peraturan Menteri dalam Negeri dan bentuk fisiknya dilapangan berupa pilar-pilar batas daerah. Namun pada kenyataannya sebenarnya pilar batas daerah tidak mungkin ditempatkan tepat pada koordinat batas daerah yang sebenarnya, sehingga menyebabkan adanya perubahan nilai koordinat, sehingga perlu dilakukan verifikasi.Terkait dengan masalah tersebut, maka pada penelitian tugas akhir ini dilakukan pengukuran pilar batas daerah dengan menggunakan sistem GNSS CORS (Global Navigation sattelite system Continuosly Operating Reference Stations) dengan metode RTK-NTRIP (Real Time Kinematik- Networked Transportasi  of  RTCM via Internet Protocol) yaitu metode pengukuran GPS yang mendapat koreksi secara Real Time dengan protokol stateless berdasarkan protokol HTTP yang selama ini pemanfaatannya masih terbatas pada pengukuran bidang tanah maupun pengukuran detail situasi.Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat nilai perbedaan antara nilai koordinat hasil pengukuran pilar batas daerah metode RTK-NTRIP terhadap koordinat batas daerah yang tercantum dalam Permendagri dengan nilai terbesar 74,5m, terkecil 1,8m dengan nilai simpangan baku 17,07m, hal ini dikarenakan nilai koordinat batas daerah yang tercantum dalam Permendagri merujuk pada batas daerah secara administratif, bukan nilai koordinat batas daerahnya dilapangan.  Kata Kunci : Batas Wilayah, CORS Undip, RTK-NTRIP, Verifikasi                                                                       ABSTRACT Indonesia is an archipelago with total of 34 provinces, the border is an absolute thing that must be considered in Geospatial information. Boundaries between regions are presented in the list of coordinates that have been set up and included in the Ministry of Internal Affairs and the physical form of the border is presented by pillars. But in fact the pillars of the boundary area may not be placed right on the actual coordinates from the border, causing the change in the value of the coordinates, so it’s need a verification.Related to these problems, then at this research the pillars of boundary area are measured using GNSS CORS (Global Navigation Sattelite system Continously Operating Reference Stations) systems with RTK-NTRIP (Real Time Kinematik- Networked Transport of RTCM via Internet Protocol) method, that is GPS measurement method that gets corrections by Real Time with stateless protocol based on HTTP protocol which is their use has limited in measurement and plot details of the situation .The results indicate that there is a difference in the value of the coordinate between the measurement of the pillars with RTK - NTRIP method to the boundary areas that listed in the Regulation with maximum value 74.5m, minimum value 1.8m, standar deviation 17.07m, because the value of the coordinates that listed in the Regulation refers to the administrative area boundaries, is not the coordinate value that refers to the field. Keywords : Borders, CORS Undip, RTK-NTRIP, Borders, Verification *) Penulis, Penanggung Jawab
PENENTUAN ZENITH TROPOSPHERIC DELAY DAN PRECIPITABLE WATER VAPOR MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK GAMIT Heri Gusfarienza; Bambang Darmo Yuwono; Moehammad Awaluddin; Susilo Susilo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2232.477 KB)

Abstract

Abstrak Sinyal - sinyal dari setiap satelit Global Positioning System (GPS) yang mengorbit diatas permukaan bumi akan diterima oleh alat penerima dengan sebelumnya melalui lapisan atmosfer. Sinyal yang berupa gelombang elektromagnetik akan mengalami hambatan terbesar di lapisan ionosfer dan troposfer. Besarnya penyimpangan jarak akibat perlambatan waktu tempuh sinyal saat melewati lapisan troposfer umumnya disebut delay troposfer. Besaran ini juga dapat diekstraksi menjadikandungan uap air menggunakan data meteorologi permukaan.Dalam penelitian tugas akhir ini,dilakukan penentuan delay troposfer dan kandungan uap air menggunakan perangkat lunak ilmiah GAMIT dimulai pada doy 090 sampai 096 pada tahun 2014. Dengan memanfaatkan 10 titik pengamatan GPS CORS Badan Informasi Geospasial di Bantul, Cilacap, Kebumen, Magelang, Purbalingga, Pekalongan, Purwodadi, Semarang, Solo, dan Tegal. Serta diikatkan di 4 titik ikat IGS, diantaranya: Stasiun ALIC, COCO, NTUS, dan PIMO. Penelitian tugas akhir ini menghasilkan nilai variasi temporal delay troposfer di titik pengamatan berkisar antara 2446.2 - 2754.5 mm dan nilai variasi temporal kandungan uap air berkisar antara 38.81 - 64.46 mm. Adapun hasil validasi antara data ZPD di Stasiun IGS dengan ZTD hasil pengolahan diperoleh rerata RMS error 5.599 mm dengan korelasi 97.73% untuk project spza, 5.425 mm dengan korelasi 97.86% untuk project spzb, dan 10.462 mm dengan korelasi 92,99% untuk project spzc. Kata Kunci: Delay Troposfer; GAMIT; GPS; Kandungan Uap Air Abstract The signals from each Global Positioning System (GPS) satellites that  orbiting above the earth's surface will be received by a receiver through the layers of atmosphere. The signal that in electromagnetic waves form will experience the biggest obstacle in ionosphere and troposphere. The amount of deviation due to a slowdown in signal’s travel time as it passes through the troposphere called tropospheric delay. This measurement can also be extracted into precipitable water vapour by using the surface meteorological data. This study was conducted to determine the zenith tropospheric delay and precipitable water vapour using scientific software GAMIT starts from doy 090 to 096 in 2014. By utilizing 10 GPS CORS observation points owned by Badan Informasi Geospasial in Bantul, Cilacap, Kebumen, Magelang, Purbalingga, Pekalongan, Purwodadi, Semarang, Solo, and Tegal. It also connected to 4 area points of IGS, that are: ALIC, COCO, NTUS, and PIMO Station. This research produces the value of temporal variation in zenith tropospheric delay observation point ranges between 2446.2 - 2754.5 mm and the value of temporal variation of precipitable water vapor ranges between 38.81 - 64.46 mm. The validation results between the ZPD data in IGS Station and the ZTD that was processed by GAMIT is 5.599 mm of RMS error average with a 97.73% of correlation for the spza project, 5.425 mm with a 97.86% of correlation for the spzb project, and 10.462 mm with a 92.99% of correlation for the spzc project. Keywords:GAMIT; GPS; Precipitable Water Vapor; Zenith Tropospheric Delay    *) Penulis Penanggung Jawab
ANALISIS AKURASI KETELITIAN VERTIKAL MENGGUNAKAN FOTO UDARA HASIL PEMOTRETAN PESAWAT TANPA AWAK UNTUK PEMBENTUKAN DIGITAL TERRAIN MODEL (DTM) YULIA SAVIRA RACHMA; Yudo Prasetyo; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (900.229 KB)

Abstract

Perkembangan teknologi yang semakin modern, membuat kebutuhan akan data geospasial dituntut untuk dapat memberikan suatu informasi mengenai posisi dan ruang dari keadaan real world, untuk mengatasi hal tersebut dibutuhkanlah suatu cara atau teknik pemetaan yang cepat dan efisien namun tidak mengabaikan aspek ketelitiannya. Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi fotogrametri kamera non metrik yang biasanya merupakan hasil pemotretan UAV. Salah satu data primer yang dihasilkan dari foto udara tersebut berupa data kontur yang dapat dibentuk dari Digital Terrain Model (DTM). Diperlukan metode pembentukan DTM yang cepat dan efisien untuk mempercepat memenuhi kebutuhan peta dasar. Metode yang digunakan untuk filterisasi DSM menjadi DTM dapat dilakukan dengan cara klasifikasi point clouds. Klasifikasi dilakukan secara semi otomatis dengan menggunakan algortima macro dan untuk klasifikasi manual menggunakan bantuan ortofoto dan identifikasi tampak samping (cross section), selanjutnya DTM yang diperoleh dari foto udara hasil pemotretan UAV dibandingkan terhadap DTM yang diperoleh dari pengukuran Total Station. Data foto udara diperoleh dari pemotretan UAV pada tanggal 3 Juni 2017 di wilayah pertambangan kapur Desa Sidokelar, Lamongan. Hasil georeferencing didapatkan pergeseran nilai error terbesar adalah 1,05 cm yaitu pada GCP 2 dan nilai error terkecil adalah 5 mm yaitu pada GCP 6. Perbandingan ICP model dengan lapangan menunjukkan nilai selisih terbesar yaitu pada ICP 8 sebesar 0,9 cm dan pada ICP 2 sebesar 0,2 mm. Hasil DTM ekstraksi foto udara memiliki RMSE sebesar 0,778 meter serta dihasilkan nilai LE90 sebesar 1,284, sehingga berdasarkan Perka BIG No 15 tahun 2014 ketelitian DTM yang diperoleh masuk kedalam ketelitian skala 1:5000 pada kelas 2. Hal ini menunjukkan bahwa DTM hasil ekstraksi pengolahan foto udara dapat digunakan untuk keperluan pemetaan di wilayah pertambangan kapur Desa Sidokelar, Lamongan dengan skala 1:5000 atau yang lebih kecil.
ANALISIS PENGARUH MULTIPATH DARI TOPOGRAFI TERHADAP PRESISI PENGUKURAN GNSS DENGAN METODE STATIK Indira Nori Kurniawan; Bambang Darmo Yuwono; L M Sabri
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.515 KB)

Abstract

Topografi dengan kondisi curam pasti memiliki tebing di sekitar daerah tersebut. Faktor topografi yang memiliki karakter daerah bertebing memungkinkan akan muncul adanya gangguan multipath yang akan mempengaruhi kualitas dan ketelitian data hasil pengukuran topografi menggunakan GNSS. Pengukuran GNSS pada sekitar daerah bertebing rentan dengan adanya efek multipath yang ada dalam data hasil pengukuran. Multipath sendiri merupakan fenomena dimana sinyal dari satelit tiba di antena GNSS melalui dua atau lebih lintasan yang berbeda, tentunya faktor ini akan mengurangi keakuratan dari hasil pengukuran. Teknologi receiver GNSS milik Topcon memiliki pengaturan alat anti multipath dan mengasumsikan dapat mengurangi efek multipath yang ada. Penelitian ini melakukan analisis pengaruh multipath dari topografi terhadap presisi pengukuran GNSS sesi 1 menggunakan pengaturan alat menyalakan anti multipath serta pengukuran GNSS sesi 2 mematikan anti multipath metode statik dengan base station CORS UDIP. Tingkat presisi posisi horizontal (X,Y) dari pengukuran topografi dengan survei GNSS metode statik pada daerah sekitarnya bertebing yang diikatkan pada stasiun CORS UDIP pada titik observasi dan titik simulasi pengukuran sesi 1 dan pengukuran sesi 2 dengan pengamatan 1 jam. Presisi horizontal pada pengukuran sesi 1 pengamatan 1 jam diperoleh nilai rata-rata 0,00146 m sedangkan presisi horizontal pada pengukuran sesi 2 pengamatan 1 jam diperoleh nilai rata-rata 0,00172 m. Presisi horizontal pada pengukuran sesi 1 pengamatan 1 jam titik simulasi diperoleh nilai rata-rata 0,00357 m sedangkan presisi horizontal pada pengukuran sesi 2 pengamatan 1 jam titik simulasi diperoleh nilai rata-rata 0,00444 m. Data diatas dilakukan pengujian statistik data dengan uji Fisher untuk mengetahui tingkat presisi diantara pengukuran sesi 1 dan sesi 2,  karena uji Fisher diterima maka dapat disimpulkan tidak dapat perbedaan presisi horizontal yang signifikan antara pengukuran sesi 1 dan pengukuran sesi 2 baik titik observasi ataupun titik simulasi.
ANALISIS IDENTIFIKASI DAMPAK BENCANA TANAH LONGSOR DENGAN MENGGUNAKAN UNMANNED AERIAL VEHICLE (UAV) (Studi Kasus : Kelurahan Ngesrep, Kecamatan Banyumanik) Reyhan Azeriansyah; Yudo Prasetyo; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.878 KB)

Abstract

ABSTRAK Tanah longsor merupakan salah satu bencana yang sering terjadi di Indonesia terutama di wilayah Semarang yang secara geologi memiliki bentuk topografi berbukit. BPBD Kota Semarang tahun 2016 mencatat bahwa ada 22 kelurahan yang tergolong wilayah siaga bencana longsor yang salah satunya adalah Kelurahan Ngesrep. Dikutip dari Tribun Jateng, 2016, di wilayah Bukitsari, Kelurahan Ngesrep telah terjadi bencana tanah longsor pada tanggal 4 Oktober 2016 yang menimbulkan korban jiwa dan juga kerugian material. Oleh karena itu, perlu dilakukan identifikasi dampak bencana tanah longsor untuk membantu dalam pengambilan keputusan dan meminimalkan terjadinya bencana. Salah satu proses identifikasi dampak tanah longsor adalah dengan memanfaatkan teknologi pesawat tanpa awak (UAV) yang mana dalam proses pengidentifikasian dapat mencakup wilayah yang luas, murah dari segi biaya dan tidak membahayakan jiwa manusia.Proses identifikasi dilakukan memanfaatkan teknologi UAV untuk mengidentifikasi terhadap wilayah terdampak melalui hasil orthofoto UAV. Proses identifikasi dilakukan untuk mengetahui luas wilayah dan penggunaan lahan yang terdampak. Selain itu dilakukan analisis risiko bencana tanah longsor terhadap wilayah terdampak melalui proses kajian risiko bencana tanah longsor BNBP No.2 Tahun 2012 dan analisis penurunan dan kenaikan muka tanah terhadap wilayah terdampak menggunakan metode penginderaan jauh yakni menggunakan metode DInSAR dengan citra Sentinel 1-A.Dari hasil pengamatan UAV menghasilkan orthofoto memenuhi ketelitian peta dasar kelas 1 pada skala 1:1000 baik secara horizontal maupun vertikal berdasarkan Peraturan Kepala BIG No.15 Tahun 2014 yang digunakan untuk proses identifikasi dampak. Berdasarkan hasil klasifikasi wilayah terdampak bencana tanah longsor dapat diidentifikasi luas wilayah pertama yang terdampak bencana tanah longsor sebesar 1026,339  m² dan luas wilayah kedua yang terdampak bencana tanah longsor sebesar 521 m². Dari klasifikasi wilayah terdampak ini dapat diketahui pula zonasi risiko bencana tanah longsor, penurunan kenaikan muka tanah yang terjadi di wilayah terdampak yang selanjutnya dilakukan validasi untuk diketahui validitas dari hasil yang didapatkan melalui survei lapangan, telaah dokumen dan diskusi dengan pihak Kelurahan Ngesrep.
PENGAMATAN PENURUNAN MUKA TANAH KOTA SEMARANG TAHUN 2017 Roy Kasfari; Bambang Darmo Yuwono; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.504 KB)

Abstract

ABSTRAKPenurunan muka tanah merupakan fenomena yang merugikan bagi wilayah yang mengalaminya. Banyak faktor penyebab yang mendukung terjadinya fenomena ini diantaranya jenis tanah, tata guna lahan, penggunaan air tanah, dan sebagainya. Akibat yang ditimbulkan juga bermacam-macam seperti banjir rob serta kerusakan infrastruktur dan fasilitas di wilayah yang mengalami. Kota Semarang sebagai salah satu kota besar di Indonesia sudah mengalami fenomena ini. Dari penelitian yang telah dilakukan sejak tahun 2008 hingga tahun 2016, Kota Semarang telah mengalami laju penurunan muka tanah. Nilai Laju penurunan tanah juga berbeda pada setiap wilayah Kecamatannya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Kota Semarang mengalami penurunan muka tanah setiap tahun. Oleh sebab itu, perlu dilakukan upaya mitigasi. Setelah diketahui bahwa dari tahun 2008-2016 Kota Semarang mengalami penurunan muka tanah, maka pada tahun 2017 tetap dilakukan pengamatan untuk membuktikan apakah pada tahun 2017 Kota Semarang masih mengalami penurunan muka tanah. Mengetahui laju penurunan muka tanah Kota Semarang pada tahun 2017 dilakukan dengan menggunakan teknologi GPS. GPS melakukan pengamatan dan perekaman data pada 7 titik tersebar dan telah ditentukan letaknya di Kota Semarang. Titik tersebut antara lain N259, SP05, SMK3, CTRM, K371, dan KOP8 serta titik T447 sebagai base. Selanjutnya data yang diperoleh, diproses pada software GAMIT 10,6 (2016) untuk mengetahui nilai laju penurunan muka tanah. Dari penelitian ini, diperoleh nilai laju penurunan muka tanah tertinggi berada pada titik KOP8 yaitu berkisar ± 21,33 cm. Sementara itu, nilai laju penurunan terendah berada pada titik SMK3 yaitu berkisar ± 2,18 cm. Nilai laju penurunan muka tanah yang diperoleh merupakan laju penurunan yang dialami Kota Semarang selama kurun waktu empat tahun terakhir (2013-2017). Dan selanjutnya hasil laju penurunan dihubungkan dengan data sekunder seperti tata guna lahan, jumlah penduduk, penggunaan air tanah, dan jenis tanah.Kata Kunci : GPS, Kota Semarang, Laju Penurunan Muka Tanah ABSTRACTLand subsidence is a phenomenon that giving so many disadvantages to the exposed area. There are so many factors that cause this phenomenon such as land types, landuse, groundwater using, and many others. The various impact would happen, for instance, tidal flood and infrastructure and facility damage in the exposed area above. Semarang city as one of the big city in Indonesia has been experiencing this phenomenon. A research result that has conducted since 2008 until 2016 shows that Semarang city experienced a rate of land subsidence. The rate itself has a differentiation between each of sub-district. Based on those research that shown Semarang city has a rate land subsidence for every year. Therefore it requires a mitigation. After it is known that Semarang city has the rate of land subsidence from the year of 2008 until 2016, then an observing activity on 2017 is still required to know whether Semarang city has a rate of land subsidence or not. To find out the rate of land subsidence in 2017, it would be done by using a GPS. GPS is observing and data recording on seven spread points and the location has been determined in the Semarang city itself. Those seven points are N259, SP05, SMK3, CTRM, K371, KOP8, and the T447 as the base. Furthermore, after all of the data has been gathered, it is proceed by using GAMIT 10,6 (2016) software to finding out the rate of land subsidence. Based on this research it is known that the highest rate of land subsidence is located on point KOP8 which is around ±21,33 cm. Meanwhile, the lowest rate of land subsidence is located on SMK3 which is around ± 2,18 cm. Semarang city has been experiencing rate of land subsidence for the last four years (2013-2017). Furthermore, the rate of land subsidence is connected to secondary data such as landuse, the amount of population, groundwater using, and land types.Keywords : GPS, Rate of Land Subsidence, Semarang City
PEMBUATAN APLIKASI SISTEM INFORMASI PERSEBARAN TOKO BATIK DI KOTA PEKALONGAN BERBASIS ANDROID Muhamad Salahuddin; Bambang Darmo Yuwono; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (867.414 KB)

Abstract

ABSTRAKKota Pekalongan terletak di dataran rendah pantai utara Pulau Jawa, dengan ketinggian kurang lebih 1 meter di atas permukaan laut. Posisi geografis antara 6o 50’ 42" sampai dengan 6 o 55’ 44” Lintang Selatan dan 109 o 37’ 55” sampai dengan 109 o 37’ 55” - 109 o 42’ 19” Bujur Timur. Luas daerah Kota Pekalongan sekitar 45.25 Km2 atau sekitar 0.14 % dari luas wilayah Provinsi Jawa Tengah. Pekalongan dikenal mendapat julukan kota batik, karena batik Pekalongan memiliki corak yang khas dan variatif. Oleh karena itu, Kota Pekalongan diharapkan dapat memberikan informasi yang praktis dan informatif bagi para wisatawan, sehingga dapat menjadi daya tarik dan menambah jumlah wisatawan yang datang ke Kota Pekalongan. Penelitian ini menggunakan data spasial dan non spasial berupa nama toko batik,  nama pemilik, nomor telepon, alamat, dan produk yang dijual dengan memanfaatkan popularitas smartphone Android sebagai program sistem informasinya. Aplikasi ini dikembangkan menggunakan kerangka android SDK, bahasa pemrograman java dan PHP, MySQL sebagai basis data, dan peta Google. Hasil akhir dari penelitian ini adalah aplikasi Android sistem informasi persebaran toko batik di Kota Pekalongan yang berisi informasi dari tiap toko batik yang ada di Kota Pekalongan untuk memudahkan pencarian akan lokasi toko-toko batik yang ada di Kota Pekalongan.Kata Kunci : Kota Pekalongan, Aplikasi, Android.ABSTRACTPekalongan is located in the lowlands along the north coast of Java Island, at a height of approximately one meter above sea level. The geographical position of Pekalongan is between 6° 50' 42" to 6° 55' 44'' North Latitude and 109° 37' 55''to 109° 42' 19'' East Longitude.Pekalongan area of about 42.25 km2 or approximately 0.14% from the area of Central Java Province.Pekalongan is known by the nickname city of Batik, because batik Pekalongan has distinctive and varied livery. Therefore, Pekalongan is espected to provide a practical and informative information for tourists, so it can be an attraction and increase the number of tourists coming to Pekalongan. This research uses of spatial and non spasial data in the form of batik store name, the owner’s name, phone number, address, and products sold with using the popularity of android smartphone as a platform system information.This application was developed using an SDK Andoidframework, java and PHP programming languages, and MySQL as base data, and Google Maps. The final result of this research is the Android application of the distribution of batik store in Pekalongan is accompanied by information (as has been mentioned above) from each store for easier searching the location of the batik stores in PekalonganKeywords:Pekalongan City, Application. Android.
Co-Authors Abdi Sukmono, Abdi Adzindani Reza Wirawan Ahadea Kautzarea Yuwono Aisyah Arifin Alfian Budi Prasetya Alfin Nandaru Alfred Boni Son Simbolon Ali Amirrudin Ahmad Alvian Danu Wicaksono Amirul Hajri Amri Perdana Ginting Andre Hermawan Andri Suprayogi Anggoro Pratomo Adi Arief Laila Nugraha Arintia Eka Ningsih Arwan Putra Wijaya Azeriansyah, Reyhan Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bobby Daneswara Indra Kusuma Desvandri Gunawan Dian Rizqi Ari Wibowo Diqja Yudho Nugroho Dzaki Adzhan Elceria Susanti EVAN BRILLIANTO Extiana, Kiky Fadli Rahman Fadli Rahman, Fadli Fathan Aulia Fauzi Iskandar Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Fina Faizana Fuad Hari Aditya Galih Rakapuri Hana Sugiastu Firdaus Handaru Aryo Suni Haris Yusron Hasanuddin Z. Abidin Henndry . Heri Gusfarienza Indira Nori Kurniawan Indra Laksana Inessia Umi Putri Iqbal Yukha Nur Afani Khairuddin Khairuddin Kusmaryudi, Alan L. M. Sabri Lanjar Cahyo Pambudi Laode M Sabri Lasmi - Rahayu Leur P. Maranatha Sitorus Lorenzia Anggi Ramayanti Lutfi Eka Rahmawan Lutgar Sudiyanto Sitohang M. Awaluddin, M. Maylani Daraputri Merpati Dewo Kusumaningrat Moehammad Awaluddin Moh Kun Fariqul Haqqi Mohamad Rizki Ramadhan Mualif Marbawi Much. Jibriel Sajagat, Much. Jibriel Muhamad Nurman Cholid Muhamad Salahuddin Muhammad Adnan Yusuf, Muhammad Adnan Muhammad Chairul Ikbal, Muhammad Chairul Muhammad Hilmi Muhammad Ilman Fanani Nugrahanto, Prasetyo Odi Nurhadi Bashit ORY ANDRIAN APSANDI Ory Andrian Apsandi R. Sapto Hendri Boedi Soesatyo Raka Angga Prawira Ramdhan Thoriq Setyabudi Ramlansius Tumanggor, Ramlansius Reisnu Iman Arjiansah Renaud Saputra Purba Rian Yudhi Prasetyo Risa Ayu Miftahul Rizky Riska Pratiwi Risty Khoirunisa Risty Khoirunisa, Risty Rizki Fadillah Rizki Putra Agrarian Rizqie Anarullah, Rizqie Roy Kasfari Sanches Budhi Waluyo Saul Ambarita Sawitri Subiyanto Susilo Susilo Tatag Abiyoso Utomo Theodorus Satriyo Singgih Vauzul Rahmat Wahyu Gangga Widi Hapsari Wijaya, A. P. Wikan Isthika Murti WIWIT PURWANTI Wulan Sari, Lailathul Fitria Yolanda Adya Puspita Yudo Prasetyo YULIA SAVIRA RACHMA Zainab Ramadhanis