Claim Missing Document
Check
Articles

APLIKASI MOBILE IP (TELKOMSEL,INDOSAT,XL) UNTUK VERIFIKASI TDT ORDE-3 MENGGUNAKAN METODE RTK-NTRIP (Studi Kasus : Stasiun CORS UNDIP) Dzaki Adzhan; Bambang Darmo Yuwono; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (914.066 KB)

Abstract

ABSTRAK Seiring dengan perkembangan teknologi GPS yang pesat melahirkan metode-metode pengukuran dapat menambah efisiensi dalam pengukuran seperti metode RTK-NTRIP. Pengukuran GPS metode RTK-NTRIP menggunakan internet protokol  (IP) secara mobile dalam pengiriman data koreksi GPS, sebagai solusi pengukuran yang lebih efisien dari segi teknis dalam pengukuran terestris.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ketelitian titik yang dihasilkan provider  Telkomsel berada pada posisi terendah dibandingkan providerXL. Hasil dari uji hipotesis komparatif uji t dapat dibuktikan tidak ada perbedaan yang signifikan koordinat hasil pengamatan antara provider Telkomsel,Indosat dan XL dalam pengukuran GPS menggunakan metode RTK-NTRIP. Provider XL menjadi provider yang paling baik dipakai pada pengukuran ini karena memiliki nilai standar deviasi (S) yang paling kecil yaitu sebesar 0,112341229 m sedangkan provider Telkomsel yang paling rendah karena memiliki Standar deviasi (S) sebesar 0,191590617 m Kata Kunci :GPS , RTK-NTRIP, Provider, TDT-Orde 3   ABSTRACTAlong with technological growth fast GPS bear the measurement method can increase the efficiency in measurement of like method RTK-NTRIP. Measurement of GPS of method RTK-NTRIP use the internet protokol  ( IP) by mobile in corrective data delivery of  GPS, as more efficient measurement solution from technical aspect in field measurement.These results indicate that the accuracy of the resulting point Telkomsel provider is at the lowest position compared XL provider. Results from comparative hypothesis t test can be conclude it was no significant difference between Telkomsel , Indosat and XLcoordinateproviders in GPS measurement using RTK – NTRIP method .XL Provider best in measurement because it has a standard deviation ( S ) value 0,112341229 m , and the lowest provideris Telkomsel provider because it has a standard deviation ( S )value 0,191590617 Keyword: GPS , RTK-NTRIP, Provider, TDT-Orde 3           *) Penulis PenanggungJawab
STUDI REGISTRASI POINT CLOUD PADA PEMROSESAN DATA TERRESTRIAL LASER SCANNER (TLS) (Studi Kasus : Jembatan Gading Batavia, Kelapa Gading, Jakarta Utara) Alfin Nandaru; Bambang Sudarsono; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1167.789 KB)

Abstract

ABSTRAKDalam metode pengukuran dengan menggunakan teknologi Terestrial Laser Scanner (TLS), proses registrasi sangat berpengaruh dalam menentukan kualitas geometri model dan keakuratan data yang dihasilkan. Jika kualitas proses registrasi baik, maka  bentuk geometri dan dimensi ukuran dari objek yang diamati juga akan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya serta keakuratan data juga akan memenuhi toleransi ketelitian yang telah ditetapkan.Dalam penelitian tugas akhir ini, metode pengukuran Terrestrial Laser Scanner digunakan untuk pemindaian Jembatan Gading Batavia, Jalan Gading Batavia, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dengan proses akuisisi data lapangan dengan menggunakan Leica Scan Station C10 serta pengolahan data menggunakan software Cyclone Versi 8.1. Proses akuisisi data lapangan serta pengolahannya dilakukan menggunakan dua metode yaitu metode target to target registration dan metode cloud to cloud registration.Hasil akhir dalam penelitian ini adalah model space Jembatan Gading Batavia dari masing-masing metode pengukuran. Dimana kedua metode tersebut menghasilakan nilai RMS yang berbeda yaitu 0,0015 m untuk metode target to target registration dan 0,009 m untuk metode cloud to cloud registration. Pengujian hasil model space dari masing-masing metode juga dilakukan dengan membandingan jarak antar sisi jembatan dari hasil pengukuran Electronic Total Station. Nilai rata-rata kesalahan dari perbandingan jarak antar sisi jembatan melalui dua metode tersebut adalah sebesar 0,00581 m untuk metode target to target dan 0,0084 m untuk metode cloud to cloud.Kata Kunci : Terrestrial Laser Scanner, Registrasi, Jembatan Gading Batavia, Cyclone Versi 8.1 ABSTRACTIn measurement method by using Terestrial Laser Scanner (TLS) technology, registration process hugely affected in determining the quality of geometry model and the accuracy of data produced. If once the registration is good, the geometry shape and measurement dimension of an object observed will reflect the real condition and also data accuracy will pass tolerance accuracy that has been determined.In this research, Terrestrial Laser Scanner measurement method used for scrutinizing of Gading Batavia Bridge located on Gading Batavia street, Kelapa Gading, East Jakarta. Acquisition of the data processed with Leica Scan Station C10 whereas Cyclone Version 8.1 used as data processor. Acquisition of field data and data processing executed into two methods, target to target registration method and cloud to cloud registration method.This research results Gading Batavia Bridge model space for each measurement method. Both methods show different  RMS score, 0.0015 m  for target to target registration  method and 0.009 m for cloud to cloud registration method. Examination  of  model space for each method executed by comparing the distance between the bridge of Electronic Total Station result. Average error term of the comparison the distance between the bridge through both methods are 0.00581m for target to target method and 0.0084 m for cloud to cloud method.Keywords: Terrestrial Laser Scanner, Registration, Gading Batavia Bridge, Cyclone version 8.1
ANALISIS KETELITIAN TITIK KONTROL HORIZONTAL PADA PENGUKURAN DEFORMASI JEMBATAN PENGGARON MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK GAMIT 10.6 Sanches Budhi Waluyo; Bambang Sudarsono; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.209 KB)

Abstract

ABSTRAK Jembatan merupakan bangunan yang membentang diatas sungai, jalan, saluran air, jurang dan lainnya untuk menghubungkan kedua tepi yang dibentanginya agar dapat difungsikan sebagai sarana penyebrangan. Seperti bangunan sipil lainnya, jembatan juga mengalami deformasi, sehingga memerlukan pemeliharan secara berkala agar jembatan tersebut dapat berfungsi secara normal, bermanfaat yang sesuai dengan rencana teknis dan efektif sepanjang umur jembatan tersebut.Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan GPS dual-frekuensi pada delapan titik pengamatan yang terletak di sekitar jembatan.  Pengolahan data pengamatan GPS menggunakan perangkat lunak GAMIT 10.6. Penelitian dilakukan selama tiga periode: Juli, Agustus, dan September 2015. Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui deformasi atau pergerakan titik kontrol horizontal yang terjadi di Jembatan Penggaron.Setelah dilakukan pengolahan data menggunakan GAMIT dan GLOBK didapatkan nilai perubahan koordinat dalam sistem koordinat kartesian tiga dimensi dengan rata-rata nilai perubahan koordinat pada sumbu n = 3,854 mm, sumbu e = 5,745 mm, dan sumbu u = 7,344 mm. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kedelapan titik pengamatan pada penelitian deformasi jembatan Penggaron mengalami perubahan koordinat secara numeris. Namun, berdasarkan hasil uji statistik dengan selang kepercayaan 95%, disimpulkan bahwa kedelapan titik pengamatan deformasi jembatan tidak mengalami perubahan posisi titik secara signifikan. Kata Kunci : Jembatan, Deformasi, GPS, GAMIT   ABSTRACT A bridge is a kind of construction which lies over rivers , roads , waterways, canyons and others in order to connect those two sides, so it   can be functioned as a crossing facility. Like other civil constructions, bridges also have a deformation, so that every bridges need  periodic maintenance to make it has its normal functions,  give positive values   due to the construction technical plan and  can be   effectively    used in a long period of time of  the bridge age.The methodology in this research used the GPS dual frequency data in eight points of observation which are located around the bridge. Data processing of GPS observation used GAMIT 10.6 software. This research conducted in three periods: July, August, and September 2015. The goal of this research was to determine the deformation or the movement of the horizontal control points on the Penggaron’s bridge.After  data processing using GAMIT 10.6 and GLOBK, it was found  that  the changes of the coordinate in three dimension cartesian coordinate system with average changes on the n axis = 3,854 mm, the e axis = 5,745 mm and the u axis = 7,344 mm. Following the data processing result, it can be concluded that the coordinates of the eight observation points in this Penggaron’s bridge deformation research has changed numerically. In the other hand, based on the result of statistical test with 95% confidence interval. It was concluded that the position of the eighth observation points of the bridge has not changed significantly. Keywords: Bridge, Deformation, GPS, GAMIT *) Penulis Penanggung Jawab
STUDI DEFORMASI WADUK PENDIDIKAN DIPONEGORO TAHUN 2017 Raka Angga Prawira; Bambang Darmo Yuwono; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.955 KB)

Abstract

ABSTRAKBendungan Waduk Pendidikan Diponegoro berlokasi di kawasan Tembalang, Semarang. Waduk ini mampu menampung genangan air normal sampai 478.240 m3 dengan luas daerah tangkapan air mencapai 7,1338 Ha. Tahap pertama, pembangunan dimulai awal bulan Maret hingga Desember 2013 dengan dana hibah dari Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumber Daya Air sebesar Rp 42 miliar. Pembangunan waduk ini dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan lingkungan, serta pengendali banjir di kawasan sekitar kampus Undip Tembalang. Dalam penelitian ini akan dilakukan pengamatan deformasi terhadap Waduk Pendidikan Diponegoro, dengan metode pengamatan GNSS (Global Navigation Satellite System) dilakukan pengamatan terhadap 9 titik pantau deformasi (bench mark) yang tersebar di sekitar tubuh bendungan. Data hasil pengamatan GNSS diolah menggunakan scientific software GAMIT 10.6. Titik pantau deformasi juga diamati perubahan jarak dan tingginya terhadap titik kontrol yang dipasang diluar tubuh bendungan. Pengamatan deformasi dilakukan dari bulan April sampai dengan Juni 2017 dengan dua kali periode pengamatan. Hasil dari pengamatan GNSS selama periode pengamatan menunjukkan titik pantau deformasi mengalami perubahan koordinat. Berdasarkan pada sistem koordinat kartesian toposentris, nilai perubahan berkisar antara 0,4 mm sampai dengan 45 mm untuk sumbu X, 0,02 mm sampai dengan 10 mm untuk sumbu Y, dan 1,8 mm sampai dengan 91 mm untuk sumbu Z. Perubahan jarak dan tinggi dari hasil pengamatan total station dan waterpass selama periode pengamatan berkisar antara 0,2 mm sampai dengan 1,7 mm dan 0,2 mm sampai dengan 8,7 mm. Dari hasil pengamatan deformasi bendungan menggunakan metode pengamatan GNSS dan total station pada sumbu horizontal terhadap titik pantau deformasi tidak menunjukan adanya deformasi, sedangkan pada metode pengamatan GNSS dan waterpass pada sumbu vertikal terhadap titik pantau deformasi menunjukan adanya deformasi pada beberapa titik pantau.Kata Kunci: Bendungan, Deformasi, GAMIT, GNSS ABSTRACTThe dam of Diponegoro Education Dam is located in Tembalang, Semarang. This dam is able to accommodate the normal water puddle up to 478,240 m3 with the water catchment area reaches 7,1338 Ha. The first phase, construction starts from March to December 2013 with grants from the Ministry of Public Works of the Directorate General of Water Resources amounting to Rp 42 billion. The construction of the reservoir is intended to maintain the balance of ecosystems and environment, as well as flood control in the area around the campus Undip Tembalang. In this research will be observation of the deformation of Pendidikan Diponegoro dam, with observation methods GNSS (Global Navigation Satellite System) will be observed of 9 monitoring points deformation (bench mark) spread around the body of the dam, the observed data GNSS processed using scientific software Gamit 10.6, deformation monitoring points were also observed changes in distance and height from the control points are placed outside the body of the dam, deformation observations carried out from April to June 2017, with twice the period of observation.  The results of GNSS observations during the observation period showed deformation monitoring points change the coordinate. Based on topocentric cartesian coordinate system, value with ranging from 0.4 mm to 45 mm for the X axis, 0.02 mm to 10 mm for the Y axis, and 1,8 mm to 91 mm for the Z axis. Distance and height changes based on total station and waterpass measurement during the observation period ranging from 0.2 mm to 1.7 mm and 0.2 mm to 8.7 mm. From observation of dam deformation with GNSS observation method and total station on horizontal axis to deformation monitoring point did not show deformation, whereas for GNSS and waterpass observation method on vertical axis to deformation monitoring point showed deformation at some monitoring point. Keywords: Dam, Deformation, GAMIT, GNSS
ANALISIS PENGUKURAN METODE RAPID STATIC DENGAN SINGLE BASE DAN MULTI BASE (STUDI KASUS: TITIK GEOID GEOMETRI DI KOTA SEMARANG) ORY ANDRIAN APSANDI; Bambang Darmo Yuwono; L M Sabri
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (969.254 KB)

Abstract

Pengukuran GNSS pada saat ini sudah mengalami perkembangan yang pesat. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk melakukan penentuan posisi secara teliti dan cepat. Pengamatan GNSS dapat digunakan untuk melakukan pengukuran bidang tanah, gcp, dan pengukuran titik orde 1 sampai 3. Untuk memenuhi kebutuhan pengukuran posisi yang semakin berkembang, diperlukan efektifitas dalam penentuan posisi, yaitu dengan mempersingkat waktu pengamatan. Metode rapid static dapat dilakukakan untuk menghemat waktu dan biaya dengan ketelitian yang dihasilkan mencapai milimeter. Untuk mencapai ketelitian milimeter diperlukan titik kontrol unutuk melakukan proses post-processing.  Penelitian ini adalah pengukuran GNSS metode rapid static dengan single base dan multi base. Pengukuran dilakukan pada 20 titik geoid dan geometri di Kota Semarang. Titik kontrol yang digunakan dalam pengukuran ini adalah GRAV11, CORS BIG Kota Semarang, dan CORS Universitas Diponegoro. Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan hasil pengukuran rapid static 20 menit dan satu jam, serta perbandingan hasil pengolahan pada sampling rate satu detik, lima detik, 15 detik, dan 30 detik. Pengolahan dilakukan secara post –processing dengan single base dan multi base. Pengukuran rapid static dengan menggunakan receiver yang menerima sinyal dari satelit GPS dan GLONASS dengan lama pengamatan 1 jam pada panjang baseline 0-13,5 km dan nilai PDOP <10 menghasilkan nilai simpangan baku horizontal sebesar 0,002-0,020 meter, dan nilai simpangan baku vertikal sebesar 0,004-0,026 meter. Pengukuran rapid static dengan menggunakan receiver yang menerima sinyal dari satelit GPS dan GLONASS dengan lama pengamatan 1 jam pada multi base (GRAV11, CSEM, dan UDIP) menghasilkan nilai simpangan baku horizontal sebesar 0,002-0,010 meter dan nilai simpangan baku vertikal sebesar 0,003-0,017 meter. Nilai simpangan baku horizontal pada pengukuran rapid static 20 menit pada multi base sebesar 0,002-0,092 meter dan nilai simpangan baku vertikal sebesar 0,002-0,96 meter. Pengukuran rapid static multibase menghasilkan nilai presisi yang lebih bak dibandingkan dengan single base.
PERHITUNGAN VELOCITY RATE CORS GNSS DI PULAU SULAWESI Haris Yusron; Bambang Darmo Yuwono; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.579 KB)

Abstract

ABSTRAK Pulau Sulawesi terletak pada zona pertemuan diantara tiga pergerakan lempeng besar yaitu pergerakan lempeng Hindia-Australia dari selatan, lempeng Pasifik dari arah timur dan lempeng Asia bergerak relative pasif ke tenggara. Data pengamatan stasiun CORS bisa digunakan untuk mempelajari aktivitas tektonik dan karakteristik fenomena alam dan deformasi yang terjadi di suatu daerah. Oleh karena itu dilakukanlah penelitian mengenai velocity rate stasiun CORS di Pulau Sulawesi untuk mengetahui nilai dan vektor arah pergeseran posisi titik CORS.Penelitian ini menggunakan data pengamatan lima stasiun CORS yang berada di Sulawesi yaitu CBIT, CKEN, CMAK, CTOL dan PALP pada tahun 2013 sampai dengan 2016. Titik IGS yang digunakan yaitu AIRA, ALIC, ANKR, CUSV, DARW, GUAM, IISC, KARR, KIT3, PIMO, POL2, XMIS, dan YARR. Pengolahan data menggunakan software ilmiah GAMIT.Penelitian ini menghasilkan arah pergeseran dari masing-masing stasiun CORS dan kecepatan pergeseran. CBIT arah pergeserannya ke tenggara dengan kecepatan -0,00508 ± 0,00064 m/tahun untuk komponen utara, 0,02307 ± 0,00081 m/tahun untuk komponen timur, dan -0,00703 ± 0,00307 m/tahun untuk komponen vertikal. CKEN arah pergeserannya ke timur laut memiliki kecepatan 0,00739 ± 0,00045 m/tahun untuk komponen utara, 0,02569 ± 0,00054 m/tahun untuk komponen timur, dan 0,07917 ± 0,00177 m/tahun untuk komponen vertikal. CMAK arah pergeserannya ke tenggara dengan kecepatan -0,00632 ± 0,00042 m/tahun untuk komponen utara, 0,02569 ± 0,00053 m/tahun untuk komponen timur, dan 0,00238 ± 0,00166 m/tahun untuk komponen vertikal. CTOL arah pergeserannya ke timur laut memiliki kecepatan 0,02839 ± 0,00079 m/tahun untuk komponen utara, 0,02425 ± 0,00092 m/tahun untuk komponen timur, dan 0,00858 ± 0,00410 m/tahun untuk komponen vertikal. PALP arah pergeserannya ke timur laut memiliki kecepatan 0,00974 ± 0,00040 m/tahun untuk komponen utara, 0,02071 ± 0,00051 m/tahun untuk komponen timur, dan -0,01167 ± 0,00163 m/tahun untuk komponen vertikal.Kata Kunci : CORS, Kecepatan Pergeseran, GAMIT  ABSTRACT Sulawesi Island is located in the zone of meeting between three large plate movement is the movement of the Indian-Australian plate from the south, the Pacific plate from the east and Asian plate moves relatively passive to the southeast. CORS station observation data can be used to study the tectonic activity and characteristics of natural phenomena and deformations that occur in an area. Therefore conducted this research on the velocity rate CORS station on the island of Sulawesi to know the value and the vector direction of the shift position CORS point.This study used five observational data CORS stations located in Sulawesi, namely CBIT, CKEN, CMAK, CTOL and PALP in 2013 until 2016. The point IGS used are AIRA, ALIC, ANKR, CUSV, DARW, GUAM, IISC, KARR, KIT3, PIMO, POL2, XMIS, and YARR. Data processing using scientific software GAMIT.This research resulted in a shift direction of each station CORS and speed the shift. CBIT direction of the shift to the southeast with speeds -0.00508 ± 0.00064 m / year for the northern parts, 0.02307 ± 0.00081 m / year for the eastern component, and -0.00703 ± 0.00307 m / year for components vertical. CKEN direction of the shift to the northeast has a speed of 0.00739 ± 0.00045 m / year for the northern parts, 0.02569 ± 0.00054 m / year for the eastern component, and 0.07917 ± 0.00177 m / year for the vertical component , CMAK direction of the shift to the southeast with speeds -0.00632 ± 0.00042 m / year for the northern parts, 0.02569 ± 0.00053 m / year for the eastern component, and 0.00238 ± 0.00166 m / year for the vertical component , CTOL direction of the shift to the northeast has a speed of 0.02839 ± 0.00079 m / year for the northern parts, 0.02425 ± 0.00092 m / year for the eastern component, and 0.00858 ± 0.00410 m / year for the vertical component , Palp direction of the shift to the northeast has a speed of 0.00974 ± 0.00040 m / year for the northern parts, 0.02071 ± 0.00051 m / year for the eastern component, and -0.01167 ± 0.00163 m / year for components vertical. Keywords : CORS, Velocity Rate, GAMIT
ANALISIS DAMPAKPERUBAHAN MUKA TANAH AKIBAT BENCANA TANAH LONGSOR TERHADAP KAWASAN PERMUKIMAN DI KABUPATEN BANJARNEGARA MENGGUNAKAN METODE DInSAR WIWIT PURWANTI; Yudo Prasetyo; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (799.192 KB)

Abstract

Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki topografi bervariasi seperti dataran landai, pegunungan dan dataran tinggi. Kabupaten Banjarnegara merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang juga memiliki topografi bervariasi. Kondisi tersebut menjadikan Kabupaten Banjarnegara rawan bencana alam seperti tanah longsor. Tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara tidak hanya disebabkan oleh relief yang curam tetapi juga curah hujan yang tinggi, tataguna lahan di wilayah pegunungan yang tidak tepat dan jenis tanah di Kabupaten Banjarnegara.Penelitian ini menggunakan metode DInSAR, identifikasi kawasan permukiman dan overlay  (tumpang susun). Data yang digunakan yaitu citra Sentinel-1, citra Landsat 8, DEM SRTM, peta rawan bencana longsor, peta RTRW dan batas administrasiKabupaten Banjarnegara.Hasil overlay DInSAR tahun 2016 dan 2017 menunjukkan bahwa di kabupaten Banjarnegara terjadi perubahan muka tanah sebesar -0,35 sampai 0,34 meter/tahun. Hasil overlay DInSAR menunjukkan 1 kecamatan mengalami kenaikan muka tanah yaitu Kecamatan Karangkobar dan 19 kecamatan lainnya mengalami penurunan muka tanah. Hasil NDBI adalah sebesar 1,64% wilayah Kabupaten Banjarnegara adalah permukiman, sedangkan 98,36% nya berupa non permukiman. Hasil identifikasi permukiman menggunakan algortima NDBI memiliki hasil yang kurang maksimal, sehingga digunakan data sekunder dari peta RTRW untuk identifikasi permukiman. Hasil overlay perubahan muka tanah dengan kawasan rawan bencana menghasilkan 5 kelas yaitu tidak rawan sebesar 7,44%, kurang rawan 29,79%, agak rawan 30,42%, rawan 29,96% dan sangat rawan 2,39%. Hasil overlay perubahan muka tanah pada kawasan rawan longsor dengan kawasan permukiman menghasilkan 3 kelas permukiman yaitu 799,73 ha kelas aman, 1.937, 61 ha kelas sedang dan 305,60 ha kelas bahaya.
ANALISIS NILAI EKONOMI KAWASAN MENGGUNAKAN TCM DAN CVM UNTUK PEMBUATAN PETA ZNEK DENGAN SIG (Studi Kasus : Kawasan Dataran Tinggi Dieng, Kab. Wonosobo Dan Kab. Banjarnegara) Dian Rizqi Ari Wibowo; Bambang Darmo Yuwono; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (897.882 KB)

Abstract

ABSTRAKDengan begitu besar potensi  Kawasan Dataran Tinggi Dieng berdasarkan pemanfaatan Willingness To Pay, oleh karena itu diperlukan pengkajian mengenai manfaat nilai ekonomi Kawasan Dataran Tinggi Dieng dalam hal ini dilihat dari kunjungan yang dilakukan oleh wisatawan pada objek wisata ini untuk menduga dan mengetahui seberapa besar nilai ekonomi yang diberikan oleh wisatawan yang berasal dari zona-zona kunjungan wisatawan yang kemudian diduga akan mempengaruhi permintaan wisata serta pengkajian terhadap nilai manfaat yang diperoleh masyarakat dari keberadaan Kawasan Dataran Tinggi Dieng tersebut. Manfaat Willingness To Pay pada penelitian ini yaitu keuangan jadi dikelola dengan baik dan jadi mengerti pentingnya keberadaan Kawasan Dataran Tinggi Dieng bagi pengelola ataupun pengunjung. Perhitungan yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan Travel Cost Method dan Contingent Valuation Method untuk menentukan Total Economic Value dari Kawasan Dataran Tinggi Dieng. Berdasarkan hal tersebut maka perlu dibuat Peta ZNEK pada kawasan tersebut.Metode penarikan responden yang digunakan dalam penelitian tugas akhir ini adalah sampling non probability sampling dengan teknik sampling incidental, yaitu responden yang ditemui secara kebetulan datang berkunjung di Dataran Tinggi Dieng. Data yang digunakan adalah 180 responden untuk TCM dan 120 responden untuk CVM. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dan perhitungan menggunakan software Maple 17. Serta dilakukan juga uji asumsi klasik (normalitas, heteroskedastisitas, autokorelasi, dan multikolinearitas), validitas dan reliabilitas menggunakan SPSS 23.Dalam penelitian tugas akhir ini, uji asumsi klasik menunjukkan semua data berdistribusi normal, tidak terjadi heteroskedastisitas, terbebas dari autokorelasi dan tidak memiliki multikolineritas. Uji validitas dan reliabilitas menunjukan hasil valid dan reliabel pada model yang digunakan. Hasil perhitungan nilai total ekonomi didapatkan nilai DUV sebesar Rp. 3.951.129.350.000,-. Nilai EV sebesar Rp. 228.275.872.100,- sehingga diperoleh nilai total ekonomi objek wisata Dataran Tinggi Dieng sebesar Rp. 4.179.405.222.100,-.
ANALISIS DEFORMASI DI WILAYAH JAWA TIMUR DENGAN MENGGUNKAN CORS BIG Renaud Saputra Purba; Moehammad Awaluddin; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.598 KB)

Abstract

ABSTRAK Jawa Timur terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik besar antara lain Eurasia, Hindia-Australia, dan Pasifik. Aktivitas seismik tersebut mengakibatkan terjadinya pergerakan lempeng dan mempengaruhi posisi suatu objek dapat berubah secara dinamis. Perubahan yang terjadi menandakan adanya deformasi. Deformasi merupakan perubahan yang terjadi pada posisi, bentuk dan dimensi dari suatu objek yang berada di bumi. CORS meruapakan stasiun pengamatan GNSS bersifat statik yang beroperasi selama 24 jam. Data pengamatan CORS dapat digunakan untuk memantau arah dan kecepatan pergeseran deformasi  yang terjadi di suatu daerah.Penelitian ini berfokus pada penentuan kecepatan pergeseran dan regangan menggunakan data pengamatan tujuh CORS yang berada di wilayah Jawa Timur yaitu CTUL, CNGA, CMJT, CMLG, CMAG, CPAS dan CLUM pada tahun 2013 sampai dengan 2016. Titik IGS yang digunakan yaitu AIRA, ALIC, BAKO, COCO, DARW, LHAZ dan PIMO. Pengolahan data menggunakan software ilmiah GAMIT.Penelitian ini menghasilkan arah pergeseran menuju ke arah tenggara. Kecepatan pergeseran CORS adalah sebesar -0,00162 m/tahun sampai dengan -0,01463 m/tahun untuk komponen utara, 0,02529 m/tahun sampai dengan 0,03600  m/tahun untuk komponen timur dan -0,00182 m/tahun sampai dengan 0,02810 m/tahun untuk komponen vertikal. Regangan yang terjadi pada titik pengamatan berkisar -5,25926458 x 10-9 strain/year sampai dengan 7,03391481 x 10-8 strain/year.
SURVEY DEFORMASI SESAR KALIGARANG DENGAN METODE PENGAMATAN GPS TAHUN 2016 Bobby Daneswara Indra Kusuma; Moehammad Awaluddin; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.707 KB)

Abstract

ABSTRAK Semarang terletak pada bagian utara Pulau Jawa memiliki kemungkinan terjadinya pergerakan lempeng tektonik, yaitu sesar. Salah satu sesar yang berada di Semarang adalah Sesar Kaligarang. Sesar Kaligarang adalah sesar yang telah ada sejak zaman tersier dan aktif kembali di zaman kuarter. Sesar Kaligarang terdapat pada lembah Sungai Kaligarang yang membelah wilayah Semarang pada arah hampir utara – selatan. Penentuan deformasi Sesar kaligarang dapat ditentukan dengan pengamatan secara berkala.Pengamatan deformasi Sesar Kaligarang dapat dilakukan dengan pengamatan GPS Dual Frequency. Perencanaan untuk pemasangan titik kontrol pengamatan dilakukan sesuai dengan bidang sesar. Perencanaan dan pemasangan titik pengamatan berdasarkan analisis mengenai geomorfologi dari Sesar Kaligarang untuk mengetahui segmen sesar yang aktif. Pemasangan titik kontrol pengamatan dipasang sesuai bidang pusat sesar yang aktif. Pengamatan pada titik kontrol dilakukan dengan metode statik, dan berlangsung selama 7-8 jam. Data pengamatan GPS diolah menggunakan software ilmiah yaitu GAMIT 10.6. Hasil pengolahan dari GAMIT 10.6 pada file GLOBK adalah koordinat kartesian 3D dan koordinat toposentrik yang masing – masing memiliki simpangan baku.Hasil pada penelitian ini adalah desain titik kontrol baru pengamatan GPS yang dipasang tegak lurus terhadap bidang pusat Sesar Kaligarang yang aktif. Jarak antara titik kontrol pengamatan sebesar 1-2 kilometer. Pengolahan data yang diikatkan terhadap stasiun IGS BAKO, COCO, DARW, GUAM, IISC dan PIMO menghasilkan rata-rata simpangan baku n = 0,004401 m; e = 0,004641 m; z = 0,004972 m.                                                                                   Kata Kunci : Sesar, Sesar Kaligarang, Jaringan Titik Kontrol, GPS, GAMIT 10.6 ABSTRACT Semarang City located in the northern of Java Island has the possibility of tectonic plate movement, for the example is fault. One of the faults in Semarang is Kaligarang Fault. Kaligarang Fault is a fault that has existed since the time of tertiary and active back in the days of the quarter. Kaligarang Fault located in Kaligarang River’s valley that divides the area of Semarang in the direction nearly north - south. Determining Kaligarang Fault deformation can be determined by periodic observation.Kaligarang Fault deformation can be observed with Dual Frequency GPS observations. Planning for the installation of the control point observations were made in accordance with the fault plane. Planning and installation of observation points based on the geomorphology analysis of Kaligarang Fault to reveal the segments of active faults. Setting-up the control points must be installed in accordance field observations about the center of active faults. Observations on the control point is done with static methods, and lasts for 7-8 hours. GPS observation data is processed using scientific software, which is GAMIT 10.6. The results of the processing from GAMIT 10.6 on GLOBK file is a 3D cartesian coordinates and toposentrik coordinate that each has a standard deviation.The results of this research is design of new control points GPS observations, that are mounted perpendicular to the center active plane of Kaligarang Fault. The distance between control point observation is 1-2 kilometers. Data processing is tied to the IGS station BAKO, COCO, DRAW, GUAM, IISC and PIMO produces an average standard deviation n = 0,004401 m; e = 0,004641 m; z = 0,004972 m. Keywords : Fault, Kaligarang Fault, Network Control Point, GPS, GAMIT 10.6
Co-Authors Abdi Sukmono, Abdi Adzindani Reza Wirawan Ahadea Kautzarea Yuwono Aisyah Arifin Alfian Budi Prasetya Alfin Nandaru Alfred Boni Son Simbolon Ali Amirrudin Ahmad Alvian Danu Wicaksono Amirul Hajri Amri Perdana Ginting Andre Hermawan Andri Suprayogi Anggoro Pratomo Adi Arief Laila Nugraha Arintia Eka Ningsih Arwan Putra Wijaya Azeriansyah, Reyhan Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bobby Daneswara Indra Kusuma Desvandri Gunawan Dian Rizqi Ari Wibowo Diqja Yudho Nugroho Dzaki Adzhan Elceria Susanti EVAN BRILLIANTO Extiana, Kiky Fadli Rahman Fadli Rahman, Fadli Fathan Aulia Fauzi Iskandar Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Fina Faizana Fuad Hari Aditya Galih Rakapuri Hana Sugiastu Firdaus Handaru Aryo Suni Haris Yusron Hasanuddin Z. Abidin Henndry . Heri Gusfarienza Indira Nori Kurniawan Indra Laksana Inessia Umi Putri Iqbal Yukha Nur Afani Khairuddin Khairuddin Kusmaryudi, Alan L. M. Sabri Lanjar Cahyo Pambudi Laode M Sabri Lasmi - Rahayu Leur P. Maranatha Sitorus Lorenzia Anggi Ramayanti Lutfi Eka Rahmawan Lutgar Sudiyanto Sitohang M. Awaluddin, M. Maylani Daraputri Merpati Dewo Kusumaningrat Moehammad Awaluddin Moh Kun Fariqul Haqqi Mohamad Rizki Ramadhan Mualif Marbawi Much. Jibriel Sajagat, Much. Jibriel Muhamad Nurman Cholid Muhamad Salahuddin Muhammad Adnan Yusuf, Muhammad Adnan Muhammad Chairul Ikbal, Muhammad Chairul Muhammad Hilmi Muhammad Ilman Fanani Nugrahanto, Prasetyo Odi Nurhadi Bashit Ory Andrian Apsandi ORY ANDRIAN APSANDI R. Sapto Hendri Boedi Soesatyo Raka Angga Prawira Ramdhan Thoriq Setyabudi Ramlansius Tumanggor, Ramlansius Reisnu Iman Arjiansah Renaud Saputra Purba Rian Yudhi Prasetyo Risa Ayu Miftahul Rizky Riska Pratiwi Risty Khoirunisa Risty Khoirunisa, Risty Rizki Fadillah Rizki Putra Agrarian Rizqie Anarullah, Rizqie Roy Kasfari Sanches Budhi Waluyo Saul Ambarita Sawitri Subiyanto Susilo Susilo Tatag Abiyoso Utomo Theodorus Satriyo Singgih Vauzul Rahmat Wahyu Gangga Widi Hapsari Wijaya, A. P. Wikan Isthika Murti WIWIT PURWANTI Wulan Sari, Lailathul Fitria Yolanda Adya Puspita Yudo Prasetyo YULIA SAVIRA RACHMA Zainab Ramadhanis