Claim Missing Document
Check
Articles

KAJIAN PEMANFAATAN DATA PENGINDERAAN JAUH UNTUK IDENTIFIKASI OBJEK PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (Studi Kasus : Kecamatan Tembalang Kota Semarang) Lasmi - Rahayu; Sawitri - Subiyanto; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1021.415 KB)

Abstract

ABSTRAKPenginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah, atau fenomena yang dikaji. Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh oleh PBB diharapkan dapat menunjang performance dalam pengelolaan tugas perpajakan. Salah satu produk citra satelit resolusi tinggi yang dimiliki adalah citra GeoEye. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi objek pajak bumi dan bangunan (PBB) dengan memanfaatkan data penginderaan jauh dan mengevaluasi peta PBB berdasarkan hasil identifikasi data penginderaan jauh dan survei lapangan.Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah identifikasi perubahan objek bangunan dari hasil overlay peta PBB dengan citra terkoreksi geometrik dengan cara interpretasi secara visual. Hasil interpretasi perubahan kemudian dilakukan uji ketelitian interpretasi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa teridentifikasi 15176 buah bangunan belum terpetakan pada peta PBB dengan luas bangunan belum terpetakan sebesar 1560415,057 m2.Kata Kunci: penginderaan jauh, citra GeoEye, objek Pajak Bumi dan Bangunan ABSTRACT Remote sensing is the science and art to get information about an object, area, or phenomenon through the analysis of data obtained with a device without direct contact with the object, area, or phenomenon under study. Utilization of remote sensing technology by administrator of land and property tax is expected to support performance in management of taxation duty. One of the products of high-resolution satellite imagery is GeoEye imagery. The purpose of this study is to identify the object of land and property tax by using remote sensing data and evaluate the land and building tax maps based on the identification of remote sensing data and  field  surveys. The method used in this study is the identification of the object changes in property taxes from the land and property tax map overlay image geometric correction by means of visual interpretation. Results interpretation changes then test the accuracy of interpretation. The results showed that the identified 15 176 pieces uncharted building on PBB map with a building area of 1560415.057 uncharted m2.Keywords: remote sensing, GeoEye imagery, land and property tax object
PEMETAAN TINGKAT LAHAN KRITIS DENGAN MENGGUNAKAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (Studi Kasus : Kabupaten Blora) Lorenzia Anggi Ramayanti; Bambang Darmo Yuwono; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1050.609 KB)

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Blora saat ini mengalami perubahan berupa alih fungsi lahan pertanian dan hutan menjadi lahan non pertanian atau lahan terbangun yang tidak memperhatikan syarat-syarat konservasi tanah dan air sehingga berpotensi menyebabkan terjadinya degradasi lahan, kekeringan, bencana tanah longsor dan bencana banjir yang akhirnya akan menimbulkan lahan kritis. Berangkat dari permasalahan diatas maka dilakukan tinjauan penelitian tentang pemetaann tingkat lahan kritis di Kabupaten Blora.Penelitian ini bertujuan untuk memetakan dan menghitung luas tingkat lahan kritis di Kabupaten Blora.Metode yang digunakanadalah metode overlay,skoring serta pembobotan. Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Bina Pengelolaan DAS dan Perhutani Sosial No: P.4/V-SET/2013 faktor yang mempengaruhi lahan kritis adalah vegetasi, kelereng, erosi, produktivitas, dan manajemen.Berdasarkan hasil pengolahan data, lahan kritis di Kabupaten Blora didominasi lahan tidak kritis seluas 119.672,80 Ha. Lahan kritis paling banyak berada di kecamatan Bogorejo seluas 181,53 Ha dan lahan agak kritis paling banyak berada di Kecamatan Jiken seluas 2.441,54 Ha. Sedangkan lahan  potensial kritis paling banyak terdapat di Kecamatan Todanan seluas 13.245,71. Dari hasil penilaian tingkat lahan kritis diketahui bahwa kerapatan vegetasi berperan besar dalam tingkat lahan kritis pada fungsi kawasan lindung di luar kawasan hutan, sedangkan tingkat produktivitas lahan berpengaruh besar pada kawasan budidaya pertanian dan hutan produksi. Kata Kunci : Kabupaten Blora; Lahan Kritis.                                                                      ABSTRACT Blora at this time has changed such as conversion of agricultural land and forest land to non- agricultural or undeveloped land that does not pay attention to the terms of the conservation of soil and water and thus potentially lead to land degradation, drought, landslides and disasters flooding which will eventually lead to critical land. From the above problems therefore a study of mapping level critical land.This study aims to mapping and calculate  the area of level of critical land in Blora. The methods used in this study are the overlay method, scoring and weighting. According Regulation of the Director General of Watershed Management and Social Perhutani No: P.4 / V-SET / 2013factors affecting the occurrence of critical areas such asvegetation, slopes, erosion,  productivity and management.From the result of data processing, Blora dominated by criteria not critical area of 119.672,80 Ha. Most criteria critical in the district areBogorejoarea of 181,53 Ha and most criteria medium critical in the district are Jiken area of 2.441,54 Ha. While the most criteria potential critical in the district are Todanan area of 13.245,71Ha.  From the results of assessment of the level of critical land known that the density of vegetation plays a major role in the function of the level of critical land in protected areas outside the forest area, while the level of productivity of land have great impact on agricultural production areas and production forests. Keywords : Blora; Critical Land
APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK PEMETAAN INVENTARIS ASET TANAH DAN BANGUNAN KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT DIREKTORAT JENDRAL SUMBER DAYA AIR BALAI BESAR WILAYAH SUNGAI BENGAWAN SOLO (Studi Kasus : Kabupaten Wonogiri) Theodorus Satriyo Singgih; Bambang Sudarsono; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1253.875 KB)

Abstract

ABSTRAK             Kabupaten Wonogiri, secara geografis berlokasi di bagian tenggara Provinsi Jawa Tengah. Bendungan Gajah Mungkur adalah salah satu ikon Kabupaten Wonogiri yang berada dalam tanggung jawab Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Bukan hanya Bendungan Gajah Mungkur, kantor-kantor pendukung, gudang alat berat, aset tanah dan bangunan lainnya yang tersebar di beberapa wilayah di Kabupaten Wonogiri perlu dipetakan keberadaan lokasi dan kondisinya.            Inventarisasi aset tanah dan bangunan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo ini dapat dilakukan dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Sistem Informasi Geografis merupakan terobosan pemetaan modern. Dengan perkembangan teknologi pemetaan dan teknologi komputer/informatika memungkinkan dibuat sistem informasi persebaran aset tanah dan bangunan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo dengan basis SIG.            Dari hasil penelitian dapat diketahui persebaran lokasi aset terdapat pada 5 (lima) kecamatan yang berbeda. Aset tanah dan bangunan yang tersebar tersebut kondisinya dikategorikan dalam 3 (tiga) golongan yaitu baik, rusak ringan dan rusak berat. Sistem informasi Geografis memliki peranan yang penting untuk inventarisasi aset BBWSBS khususnya di Kabupaten Wonogiri dalam menampilkan peta lokasi persebaran aset tanah dan bangunan karena akan mempermudah dalam melakukan analisa kondisi aset dan monitoring.           Kata Kunci : Aset, Bendungan Gajah Mungkur, Inventarisasi, Sistem Informasi Geografis, Monitoring ABSTRACT          Wonogiri District, geographically located in the southeast part of Central Java, had Gajah Mungkur DAM well-known as one of notable icons which was being responsible by Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) under Kementrian Pekerjaan Umum and Perumahan Rakyat Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Not only does Gajah Mungkur DAM, the locations and conditions of supported offices, heavy equipment warehouses, field assets, and other buildings are also needed to be mapped.            Inventory of field and building assets of Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo can be conducted by Geographic Information System (GIS). By sophistication of mapping and information technologies, GIS appears as a modern mapping system which is enable to create the distribution of information system.            According to the result, it was known that the distribution of asset location was divided into five districts. Those distributed field and building were categorized into three types; proper, slight broken, and weight broken. GIS has an important roles in order to invest the BBWSBS’ asset particularly in Wonogiri District. It is related to display the location map of field asset’s distribution in order to easily analyze the condition of monitoring and asset. Keywords: Asset, Gajah Mungkur DAM, Inventory, Geographic Information System, Monitoring
HITUNGAN DISTRIBUSI SLIP KOSEISMIK GEMPA MENTAWAI 25 OKTOBER 2010 BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS KONTINU SuGAr Yolanda Adya Puspita; Moehammad Awaluddin; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKAktivitas pergerakan lempeng di zona subduksi pantai barat Pulau Sumatera mengakibatkan Kepulauan Mentawai dan daerah disepanjang zona tersebut memiliki aktivitas seismik cukup tinggi.  Diantara catatan sejarah kegempaan di wilayah pantai barat Sumatera, gempa bumi Mentawai pada tahun 2010 (magnitude 7.8) merupakan salah satu gempa bumi berkekuatan besar yang memicu terjadinya Tsunami. Mengacu pada teori dislokasi elastis yang mengasumsikan bahwa kerak bumi bersifat homogen, isotropis, linier dan elastis. Pergeseran di bidang gempa akan mengakibatkan pergeseran juga di permukaan bumi.  Besarnya pergeseran di bidang gempa akibat gempa bumi Mentawai 2010 tidak bisa diukur secara langsung, namun dengan data pergeseran di permukaan bumi yang diperoleh dari pengukuran GPS kontinu SuGAr, pergeseran di bidang gempa dapat dihitung dengan teknik inversi dari data pergeseran di permukaan.Hitungan distribusi slip dilakukan untuk merepresentasikan pergerakan di bidang gempa. Perhitungan inversi pada penelitian ini dilakukan pada diskrit bidang gempa ukuran 30 x 10, yaitu membagi bidang gempa menjadi beberapa diskrit seragam. Hal ini mengakibatkan jumlah parameter model yang akan ditentukan melebihi jumlah data. Oleh karena itu dilakukan inversi menggunakan teknik kuadrat terkecil dan penambahan constraint untuk memperoleh solusi parameter yang akan ditentukan.Pergeseran maksimal pada stasiun SuGAr sebagai akibat gempa Mentawai 2010 yaitu sebesar 45 cm untuk komponen horizontal dan 7.8 cm untuk komponen vertikal, yaitu pada stasiun BSAT (Bulasat, Pulau Pagai Selatan) yang lokasinya relatif dekat dekat dengan pusat gempa. Hitungan inversi menghasilkan nilai slip maksimal sebesar 1.997 m dengan lokasi berdekatan dengan pusat gempa dan momen seismik Mo = 6.89 x 1020 N.m. yang setara dengan magnitude Mw 7.8.Kata Kunci : gempa bumi Mentawai, SuGAr, distribusi slip.ABSTRACTThe tectonic activities in the western part of Sumatera subduction zone cause a very high seismic activities in Mentawai Island and around subduction zone. Stated in the earthquake record history along the Sumatra west coast, the earthquake happened in Mentawai in 2010 was one of the big earthquake which was about magnitude Mw 7.8, and it trigered Tsunami disaster which hit Mentawai Island. According to the elastic dislocation theory, it assumes that crust is homogen, isotropic, linier and elastic. The displacements in fault plane will also cause the displacements in other surface of the earth. The number of the displacements in fault plane in Mentawai earthquake in 2010 couldn’t be determined directly. However, by using the surface displacements data which was got from Sumatran GPS Array (SuGAr) measurement, fault plane displacement could be counted by using inversion method.The calculation of slip distribution was to represent the displacement in fault plane. The inversion process in the research was done in the fault plane discreet about 30 x 10 by dividing the fault plane into several similar discreet. This caused the number of the model parameters which would be determined were more than the number of the data. Therefore, the research used the least square methode to get inversion in calculation and added constraint to get the solution of model parameters.As the result of Mentawai earthquake in 2010, the maximum dislocation of SuGAr in BSAT (Bulasat, Pagai Selatan Island) station, the nearest location to the epicenter, was about 45 cm for horizontal component and about 7.8 cm for vertical component.  The inversion calculation resulted maximum slip was about 1.997 m near epicenter, seismic moment Mo = 6.89 x 1020 N.m., which is equivalent magnitude Mw 7.8.Keywords: Mentawai earthquake, SuGAr, slip distribution.  *) Penulis, Penanggungjawab
ANALISIS KETELITIAN DSM KOTA SEMARANG DENGAN METODE INSAR MENGGUNAKAN CITRA SENTINEL-1 Handaru Aryo Suni; Bambang Darmo Yuwono; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1032.516 KB)

Abstract

ABSTRAK Perkembangan teknologi yang pesat menyebabkan semakin berkembang pula teknologi dalam bidang pemetaan. Terdapat banyak metode yang dapat dilakukan untuk mendapatkan data elevasi, seperti pengukuran terestris yang menghasilkan peta kontur, fotogrametri, atau menggunakan metode pengindraan jauh khususnya dengan menggunakan citra radar dengan metode pengolahan InSAR.  Metode InSAR selain dapat digunakan untuk pembuatan informasi ketinggian dapat juga digunakan untuk pembuatan peta deformasi (Pepe, A. dan Calo, F. 2017), identifikasi longsor (Kang, Y. dan Zhao, C, 2017), dan dapat dikombinasikan dengan metode lain seperti pengukuran GPS untuk pengamatan penurunan muka tanah (Yuwono, B, D, dkk. 2018). Informasi ketinggian (elevasi) dapat berupa tabel koordinat, peta kontur, ataupun model elevasi digital. Informasi ketinggian dapat diaplikasikan pada banyak hal, seperti : pembuatan peta jaringan sungai, analisis daerah rawan longsor, perencanaan jaringan jalan, pemetaan daerah rawan banjir, pembuatan peta deformasi, bahkan hingga keperluan militer. Kota Semarang sebagai salah satu kota pusat pemerintahan dan pusat industri di Pulau Jawa sangat membutuhkan data ketinggian untuk menunjang proses pengembangannya. Data ketinggian dapat digunakan untuk perencanaan tata guna lahan, manajemen drainase, jaringan air bersih, jaringan jalan, identifikasi daerah rawan bencana longsor di Kota Semarang. Hasil dari penelitian ini didapatkan DSM dengan selisih ketinggian 0,148 meter sampai 203,558 meter dengan ketelitian 52,381 meter dengan standar deviasi 35,386 meter.
ANALISIS KESESUAIAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP RENCANA TATA RUANG/WILAYAH DI KECAMATAN KUTOARJO MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Fauzi Iskandar; Moehammad Awaluddin; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.88 KB)

Abstract

ABSTRAKRuang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang didalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya. Keberadaan ruang yang terbatas dan pemahaman masyarakat yang berkembang terhadap pentingnya penataan ruang sehingga diperlukan penyelenggaraan penataan ruang yang transparan, efektif, dan partisipatif agar terwujud ruang yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan. Untuk kepentingan pengendalian, dilakukan monitoring agar didapatkan kesesuaian penggunaan lahan yang baikPenelitian ini dilakukan dengan cara membuat peta penggunaan lahan yang bertujuan untuk melihat bagaimana keadaan di lapangan serta mebandingkannya dengan dengan peta perencanaan menggunakan Sistem Informasi Geografis. Hasil dari perbandingan peta perencanaan dan keadaan di lapangannya didapatkan kesesuaian penggunaan lahan.Berdasarkan hasil penelitian, 3.620,782 hektar (92,35%) merupakan lahan dengan klasifikasi sesuai, dan 299,995 hektar (7,65%) merupakan lahan dengan klasifikasi tidak sesuai.Kata Kunci : Kesesuaian, Penggunaan Lahan, Peta Perencanaan.ABSTRACTSpace is a container which includes land space, sea space and air space, including the space on the earth as a place for humans and other living creatures for live, doing activities and preserving their survival. Limited of existence space and grew up of people comprehension against spatial planning are required spatial planning that transparent, effective, and participatory. It will cause spatial planning in order to materialize the safe, comfortable, productive, and sustainable room. To get good suitability of land use, it is conducted a monitoring due to controlling purpose.This research is conducted by making a land use map which aims to see the circumstance on the grounds then comparing with the spatial planning maps of Geographic Information Systems. By comparing a spatial planning map and  an appearing of the ground,  it is obtained the land use suitability map.By the result of research, 3,620.782 hectare (92.35%) is land with suitable area classification, and 299.995 hectare (7.65%) is land with unsuitable area classification.Keyword : Land use, Planning Map, Suitability *) Penulis, Penanggungjawab
PEMODELAN GEOID LOKAL KOTA SEMARANG BERDASARKAN MODEL GEOPOTENSIAL GLOBALGRACE Risa Ayu Miftahul Rizky; Bambang Darmo Yuwono; Moehammad - Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1055.9 KB)

Abstract

Abstrak                Pemodelan geoid Semarang dilakukan dengan metode gravimetrik.Tiga komponen gelombang yang digunakan dalam metode gravimetrik yaitu komponen gelombang panjang, menengah, dan pendek.Komponen gelombang panjang diperoleh dari model geopotensial global EGM2008, GGM03C, dan GIF48 dengan degree maksimum 360.Komponen gelombang menengah diperoleh dari data gayaberat teristris, sedangkan komponen gelombang pendek diperoleh dari data topografi atau terrain. Hasil pengolahan pada GRAVSOFT menunjukkan nilai undulasi gravimetrik sebesar 24,902 meter hingga 25,596 meter untuk model EGM2008; 25,417 meter hingga 25,036 meter untuk model GGM03C; dan 23,746 meter hingga 24,442 meter untuk model GIF48. Evaluasi Model geopotensial global GRACE dilakukan dengan membandingkan pola undulasi geoid lokal Kota Semarang dengan pola undulasi geoid regional Pulau Jawa, serta mengurangkan undulasi gravimetrik dengan undulasi geometrik. Pola undulasi geoid lokal Kota Semarang memiliki kesesuaian dengan pola undulasi geoid regional Pulau Jawa.Nilai selisih terkecil Undulasi Lokal Kota Semarang dihasilkan oleh model GGM03C dengan selisih nilai sebesar 1,482 meter, sedangkan selisih terbesar dihasilkan oleh model GIF48 dengan selisih nilai sebesar 2,691 meter.Kata kunci: Undulasi geoid lokal, metode gravimetrik, EGM2008, GGM03C, GIF48 Abstract                Semarang geoid models determined by gravimetric method. The wavelength components used in the gravimetric method is long-wavelength, medium-wavelength, and short-wavelength. The long-wavelength component obtained from global geopotential model EGM2008, GGM03C, and GIF48 with maximum degree 360. The medium-wavelength component derived from terrestrial gravity, and the short-wavelength component obtained from the topography or terrain. Data processing in the GRAVSOFT shows the undulations gravimetric value of 24.902 meters to 25.596 meters from the EGM2008 models; 25.417 meters to 25.036 meters from the GGM03C models; and 23.746 meters to 24.442 meters from the GIF48 models.GRACEglobal geopotential model evaluation is done by comparing the local geoid undulation pattern of Semarang with the regional geoid undulation pattern of Java, also subtracting the gravimetric undulation and the geometric undulation. The local geoid undulation pattern of Semarang have conformity with the regional geoid undulation pattern of Java. The highest accuracy of the geoid undulation of Semarang generated by the GGM03C model with an error value of 1.48 meters, the lowest accuracy generated by the GIF48 model with an error value of 2.691 meters.Keywords: undulation, local geoid, gravimetric method, EGM2008, GGM03C, GIF4
Studi Land Subsidence dengan Kondisi Sumur Milik Masyarakat di Wilayah Utara Semarang dan Demak Diqja Yudho Nugroho; Bambang Darmo Yuwono; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (884.788 KB)

Abstract

ABSTRAKKota Semarang sebagai Ibukota Provinsi Jawa Tengah memiliki karakteristik geografis yang unik dimana  wilayah Semarang   terbagi  menjadi dua  yaitu dataran  rendah di  bagian utara  dan dataran tinggi di bagian selatan. Wilayah Semarang bagian utara merupakan dataran rendah yang  berada di pesisir pantai utara Pulau Jawa. Land Subsidence atau disebut juga penurunan permukaan tanah pada dasarnya merupakan perubahan (deformasi) permukaan tanah secara vertikal ke bawah dari suatu bidang referensi tinggi. Maka dari itu penulis mencoba untuk mencari dan menyajikan informasi mengenai korelasi antara kondisi air sumur galian terhadap penurunan muka tanah yang terjadi di wilayah Utara Semarang dan Demak. Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini berupa data toponimi sumur, data peta penurunan muka tanah, data peta tata guna lahan, serta data peta struktur geologi Kota Semarang, pelaksaan dimulai dengan survey lapangan yang selanjutnya di plot-kan titik-titik observasi yang sudah didapat dari survey lapangan serta di digitasi, sehingga menghasilkan Peta Zona Penelitian yang selanjutnya ditambahkan ditambahkan data shapefile yang di satukan dalam satu geodatabase yang selanjutnya di topologi untuk kemudian di overlay menggunakan menu Intersect, sehingga dapat di analisis. Hasil dari penelitian ini adalah peta overlay antara peta penurunan muka tanah dengan peta zona penelitian, peta struktur geologi dengan peta zona penelitian, peta tata guna lahan dengan peta zona penelitian, setelah dilakukan analisis maka dapat disimpulkan bahwa:  Kondisi sumur yang ada pada daerah yang mengalami penurunan muka tanah, kandungan air sumur galian mengalami kepayauan. Sedangkan korelasi antara laju penurunan muka tanah dengan kondisi sumur galian di daerah yang mengalami laju penurunan muka tanah secara signifikan belum bisa di simpulkan secara pasti, hal ini disebabkan karena kurang nya distrbusi data penulis serta time seris dari penelitian ini. Kata Kunci : ArcGIS, Kabupaten Demak, Kabupaten Semarang, Sumur, Sistem Informasi Geografis, Penurunan Muka Tanah ABSTRACTSemarang City as the Capital of Central Java Province has unique geographical characteristics where the Semarang region is divided into two namely lowlands in the north and highlands in the south. The northern part of Semarang is a low-lying area on the north coast of Java Island. Land Subsidence or also called land subsidence is basically a change (deformation) of the land surface vertically downward from a high reference field. Therefore the author tries to find and present information about the correlation between the condition of dug well water on land subsidence that occurred in the northern part of Semarang and Demak. The data needed in this study are well toponimi data, land subsidence map data, land use map data, as well as Semarang City geological structure map data, the implementation begins with a field survey which is then plotted observation points that have been obtained from field survey and digitization, so that the resulting Research Zone Map is then added shapefile data added together in a geodatabase which is then topologized and then overlaid using the Intersect menu, so it can be analyzed. The results of this study are overlay maps between land subsidence maps with research zone maps, geological structure maps with research zone maps, land use maps with research zone maps, after analysis it can be concluded that: Condition of wells in the affected area land subsidence, the water content of dug wells has been subjected to headache. While the correlation between the rate of land subsidence and the condition of dug wells in areas experiencing significant land subsidence rates cannot yet be concluded with certainty, this is due to the lack of distribution of author data and time series of this study. Keywords: ArcGIS, Geografis Information System, Kabupaten Demak, Kabupaten Semarang, Land Subsidence, Well
ANALISIS PERUBAHAN ZONA NILAI TANAH BERDASARKAN HARGA PASAR UNTUK MENENTUKAN NILAI JUAL OBJEK PAJAK (NJOP) DAN PENINGKATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) (Studi Kasus : Kec. Semarang Timur, Kota Semarang) Saul Ambarita; Sawitri Subiyanto; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.484 KB)

Abstract

ABSTRAK NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) selama ini digunakan sebagai dasar pengenaan PBB (Pajak Bumi dan Bangunan). Penentuan NJOP haruslah sesuai dengan ketentuan nilai pasar wajar (NPW). Tetapi kenyataannya NJOP seringkali tidak sesuai dengan NPW. Hal ini mendasari semakin berkembangnya sistem penilaian harga pasar menggunakan peta Zona Nilai Tanah (ZNT). Peta ZNT dapat dimanfaatkan untuk penentuan tarif dalam pelayanan pertanahan, referensi masyarakat dalam transaksi, penentuan ganti rugi, inventaris nilai aset publik maupun aset masyarakat, monitoring nilai tanah dan pasar tanah, dan referensi penetapan NJOP untuk PBB.Penelitian ini dilakukan dengan cara penilaian massal tanpa memperhatikan properti khusus dengan menggunakan pendekatan perbandingan penjualan (Sales Comparative). Penelitian ini dilakukan dengan pembuatan zona untuk menentukan titik sampel yang akan dicari. Kemudian membuat peta zona nilai tanah berdasarkan Harga Pasar dan NJOP Kecamatan Semarang Timur. Pembuatan Peta Zona Nilai Tanah Kecamatan Semarang Timur Tahun 2015 menggunakan teknologi analisis SIG (Sistem Informasi Geografis).Hasil penelitian diketahui peningkatan NJOP berdasarkan harga pasar yang tertinggi mencapai 1229,3% dengan data NJOP sebesar  Rp. 1.086.000 dan data harga pasar sebesar Rp. 14.436.000. Sedangkan peningkatan harga pasar yang terendah 40,85% dengan data NJOP sebesar Rp. 2.444.000 dan data harga pasar  sebesar Rp. 3.442.000. Kata Kunci :    Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), Nilai Pasar Wajar (NPW), Pajak Bumi Bangunan (PBB), Sistem Infomasi Geografis (SIG), Zona Nilai Tanah (ZNT)   ABSTRACT Tax Object Sales Value (NJOP) has been used as a basis for the imposition of Tax on Land and Building(PBB). NJOP determination process must be suitable with the provisions of the fair market value (NPW). But the fact is NJOP often incompatible with NPW. It underlies the development of a scoring system using the market value of the Land Value Zone (ZNT) Map. ZNT map can be utilized for the cost determination in land service, reference for the community in  transaction, the determination of indemnify, inventory for public assets or community assets value, monitoring the value and market of land, and as reference for the NJOP's determination for PBB.This research done by massive appraisal without concerning about specific property. Mapped by land’s value in massive assessment using the sales comparative approach. This research was conducted to create a zone which determine sample points for analysis. Then create a zone map of land values based on the market value and NJOP District of Semarang Timur. Making a zone map of land value by the district of Semarang Timur in 2015 using GIS (Geographical Information Systems)  analysis technology.From this research shown that NJOP increased based on the highest market value reached 1229,3% with the value of land based on NJOP data is Rp. 1.086.000 and the land based on the market value is Rp. 14.436.00. While the lowest value increas is 40,85%. The land value based on NJOP data is Rp. 2.444.000 and the land based on the market value is Rp. 3.442.000. Keywords: Geographical Information Systems (GIS), Land Value Zone (ZNT), Tax Object Sale Values (NJOP), Tax on Land and Building(PBB), The Fair Market Value (NPW)  *) Penulis Penanggung Jawab
PEMODELAN GEOID LOKAL UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG Studi Kasus: Universitas Diponegoro Semarang Galih Rakapuri; Bambang Sudarsono; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1093.55 KB)

Abstract

ABSTRAKGeoid disebut sebagai model bumi yang mendekati sesungguhnya.Lebih jauh geoid di definisikan sebagai bidang equipotensial gayaberat atau bidang nivo yang berimpit dengan permukaan laut rata – rata dan tidak terganggu (Kahar, S. 2007).Di dalam geodesi geoid bereferensi terhadap ellipsoid karena ellipsoid merupakan model matematis pendekatan bumi.Jarak antara permukaan ellipsoid dengan geoid dinamakan undulasi geoid.Di dalam geodesi besaran tinggi adalah salah satu unsur posisi yang sangat penting.Dalam penelitian ini metodologi yag digunakan adalah pengukuran gravimeter yang hasilnya diolah di software gravsoft sehingga menghasilkan pola undulasi gravimetrik. Dibandingkan dengan metodologi pengukuran sipat datar dan GPS geodetik sehingga menghasilkan tinggi H elevasi (ortometrik) dan tinggi h ellipsoid, hasil dari pengukuran digabungkan untuk menghasilkan pola undulasi geometrik .Berdasarkan hasil penelitian ini, nilai undulasi geoid didalam Universitas Diponegoro Tembalang Semarang yang dihasilkan dari metode gravimetrik menggunakan model gayaberat terukur berada pada rentang nilai terendah  26,177 meter berada di titik GD 35 hingga rentang nilai tertinggi 26,1960meter berada di titik GD 23 dan GD 22. Sedangkan untuk  nilai undulasi geoid local di wilayah Universitas Diponegoro Tembalang Semarang yang dihasilkan dari metode geometrik berada pada rentang nilai 26,658 meter di GD 35 hingga 26,737 meter di GD 05.Hasil geoid lokal Diponegoro Tembalang Semarang belum bisa di jadikan acuan tinggi untuk pengukuran praktis, kaerna nilai hasil pengukuran belum teliti.Kata Kunci :  Geoid, Geometrik, Gravimetrik, Undulasi ABSTRACTGeoid is called as an earth model which approach to the real earth surface. Furthermore, geoid is an gravity equipotential field or nivo field which coincide to the mean sea level and not disturb field (?) Geoid is referenced to ellipsoid because ellipsoid is mathematical model of earth approach. The distant between ellipsoid surface and geoid is called geoid undulation. Height element is one of important position elements in geodesy science.This research used gravimeter measurement method which its results was analyzed using gravsoft software so that producing the gravimetric undulation patterns. It then compared to leveling and GPS Geodetic method in order to get the result as H-elevation (orthometrik) and h-elevation (ellipsoid). The results of measuring was then combined to get geometric undulation patterns.By this research, it was finally known that geoid undulation value in Diponegoro University, Semarang which was gotten from gravimetric method used measured-gravity model has the lowest value of 26,177 in GD 35 and the highest value of 26,196 in GD 23 and GD 22. Besides, local geoid undulation value in Diponegoro University, Tembalang which was gotten from geometric method was in range of 26,658 – 26,737 in GD 35 and GD 05, respectively. Local geoid result in Diponegoro Semarang can’t be used as reference for height practical measurement model because it is still not accurate.Keywords : Geoid, Geometrik, Gravimetry, Undulation  *) Penulis, PenanggungJawab
Co-Authors Abdi Sukmono, Abdi Adzindani Reza Wirawan Ahadea Kautzarea Yuwono Aisyah Arifin Alfian Budi Prasetya Alfin Nandaru Alfred Boni Son Simbolon Ali Amirrudin Ahmad Alvian Danu Wicaksono Amirul Hajri Amri Perdana Ginting Andre Hermawan Andri Suprayogi Anggoro Pratomo Adi Arief Laila Nugraha Arintia Eka Ningsih Arwan Putra Wijaya Azeriansyah, Reyhan Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bobby Daneswara Indra Kusuma Desvandri Gunawan Dian Rizqi Ari Wibowo Diqja Yudho Nugroho Dzaki Adzhan Elceria Susanti EVAN BRILLIANTO Extiana, Kiky Fadli Rahman Fadli Rahman, Fadli Fathan Aulia Fauzi Iskandar Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Fina Faizana Fuad Hari Aditya Galih Rakapuri Hana Sugiastu Firdaus Handaru Aryo Suni Hani’ah Hani’ah Haris Yusron Hasanuddin Z. Abidin Henndry . Heri Gusfarienza Indira Nori Kurniawan Indra Laksana Inessia Umi Putri Iqbal Yukha Nur Afani Khairuddin Khairuddin Kusmaryudi, Alan L. M. Sabri Lanjar Cahyo Pambudi Laode M Sabri Lasmi - Rahayu Leur P. Maranatha Sitorus Lorenzia Anggi Ramayanti Lutfi Eka Rahmawan Lutgar Sudiyanto Sitohang M. Awaluddin, M. Maylani Daraputri Merpati Dewo Kusumaningrat Moehammad Awaluddin Moh Kun Fariqul Haqqi Mohamad Rizki Ramadhan Mualif Marbawi Much. Jibriel Sajagat, Much. Jibriel Muhamad Nurman Cholid Muhamad Salahuddin Muhammad Adnan Yusuf, Muhammad Adnan Muhammad Chairul Ikbal, Muhammad Chairul Muhammad Hilmi Muhammad Ilman Fanani Nugrahanto, Prasetyo Odi Nurhadi Bashit ORY ANDRIAN APSANDI Ory Andrian Apsandi R. Sapto Hendri Boedi Soesatyo Raka Angga Prawira Ramdhan Thoriq Setyabudi Ramlansius Tumanggor, Ramlansius Reisnu Iman Arjiansah Renaud Saputra Purba Rian Yudhi Prasetyo Risa Ayu Miftahul Rizky Riska Pratiwi Risty Khoirunisa Risty Khoirunisa, Risty Rizki Fadillah Rizki Putra Agrarian Rizqie Anarullah, Rizqie Roy Kasfari Sanches Budhi Waluyo Satrio Wicaksono Saul Ambarita Sawitri Subiyanto Susilo Susilo Tatag Abiyoso Utomo Theodorus Satriyo Singgih Vauzul Rahmat Wahyu Gangga Widi Hapsari Wijaya, A. P. Wikan Isthika Murti WIWIT PURWANTI Yolanda Adya Puspita Yudo Prasetyo YULIA SAVIRA RACHMA Zainab Ramadhanis