Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

PENGARUH LATIHAN SEBELUM DAN SESUDAH 1 DAN 2 JAM PADA PEMAIN BADMINTON TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA DENGAN METODE POINT OF CARE TESTING (POCT) M. Nur, Yunus; Murdiyanto, Joko; Amalia, Arifiani Agustin
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 1 (2026): MARET 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i1.55545

Abstract

Trigliserida merupakan salah satu jenis lemak dalam darah yang berperan penting dalam penyimpanan energi. Peningkatan kadar trigliserida (hipertrigliseridemia) dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan gangguan metabolik lainnya. Aktivitas fisik, termasuk olahraga seperti badminton, diketahui berpotensi menurunkan kadar trigliserida melalui peningkatan aktivitas enzim lipoprotein lipase (LPL). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan sebelum dan sesudah 1 dan 2 jam pada pemain badminton terhadap kadar trigliserida dengan metode Point of Care Testing (POCT). Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental one group pretest-posttest. Populasi Mahasiswa TLM Angkatan 23 Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, menggunakan purposive sampling, variable terikat adalah kadar Trigliserida dan variabel bebas adalah latihan badminton. Data yang diperoleh menggunakan SPSS Uji Shapiro Wilk untuk Normalitas dan dilanjutkan menggunakan Uji Wilcoxon Signed Rank untuk melihat perbedaan penurunan. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan penurunan yang signifikan antara kadar trigliserida sebelum dan sesudah 1 dan 2 jam. Kadar trigliserida yang diperiksa dari sebelum latihan hinggan 1 jam setelah latihan menunjukkan kecendurungan penurunan yang lebih besar dibandingkan dengan perubahan kadar trigliserida antara 1 jam dan 2 jam setelah latihan. Namun perbedaan tersebut tidak bermakna secara statisik.
SURVEI MITIGASI RISIKO COVID-19 PADA TENAGA KESEHATAN DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Joko Murdiyanto; Heni Suryadi; Rina Nuryati; Tri Wijaya
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 12 No. 2, Juli 2021
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.255 KB) | DOI: 10.34035/jk.v12i2.743

Abstract

Tenaga Kesehatan merupakan salah satu profesi yang paling beresiko untuk terjangkit infeksi COVID-19. Tingginya angka morbiditas dan mortalitas tenaga kesehatan menjadi perhatian khusus bagi pemerintah dan organisasi profesi terkait, sehingga perlu dilakukan survey terkait perilaku tenaga kesehatan dalam masa pandemic COVID 19. Penelitian ini bertujuan untuk mendsikripsikan mitigasi tentang perilaku tenaga kesehatan selama pandemi COVID 19. Penelitian menggunakan metode deskriptif survei dengan responden yaitu tenaga kesehatan di Wilayah Darah Istimewa Yogyakarta yang terapapar COVID 19. Analisa data menggunakan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan dari 111 responden didapatkan hasil untuk physical distancing, menggunakan masker, dan cuci tangan pakai sabun selama di rumah yaitu 73%, 55%, 99,1% sedangkan saat di masyarakat hasilnya 87,3%, 99,1%, 94,3%. Sewaktu di fasilitas kesehatan tempat bekerja, responden 48,1% bisa menjaga jarak > 1 m, sedangkan penggunaan APD mencapai 95,5%. Ada beberapa alasan Tenaga Kesehatan tidak menggunakan APD, diantaranya tidak tersedia (16,7%), lupa (8,3%) tidak sempat (8,3%), tidak lengkap (41,5%) dan lainnya seperti tidak menangani pasien, tidak kontak langsung dengan pasien terkonfirmasi COVID 19 (25,2). Ruang ganti APD masih banyak yang jadi satu antara ruang pemakaian dan pelepasan (41,3%). Dari sisi imunitas sejumlah responden tidak mengkonsumsi makanan tambahan (38%) dan multivitamin (14,8%) untuk meningkatkan daya tahan tubuh ketika terpaksa harus terpapar Covid-19. Kesimpulannya disiplin penerapan protokol kesehatan masih rendah baik ketika memberikan pelayanan kepada pasien maupun saat di rumah, hal ini tentu menjadi potensi besar terjadi transmisi dari penderita. Health workers are one of the professions most at risk for contracting COVID-19 infection. The high rate of morbidity and mortality of health workers is a special concern for the government and related professional organizations, so it is necessary to conduct a survey related to the behavior of health workers during the COVID 19 pandemic. This study aims to describe the mitigation of the behavior of health workers during the COVID 19 pandemic. The study uses a descriptive method survey with respondents, namely health workers in the Special Blood Region of Yogyakarta who were exposed to COVID 19. Data analysis used quantitative descriptive. The results showed that from 111 respondents, the results for physical distancing, using masks, and washing hands with soap while at home were 73%, 55%, 99.1% while in the community the results were 87.3%, 99.1%, 94 ,3%. While at the health facility where they work, 48.1% of respondents can maintain a distance of > 1 m, while the use of PPE reaches 95.5%. There are several reasons why health workers do not use PPE, including unavailability (16.7%), forgetting (8.3%) not having time (8.3%), incomplete (41.5%) and others such as not handling patients, no direct contact with confirmed COVID-19 patients (25,2). There are still many PPE changing rooms that are one between the use and removal rooms (41.3%). In terms of immunity, a number of respondents did not consume additional food (38%) and multivitamins (14.8%) to increase their immune system when forced to be exposed to Covid-19. In conclusion, the discipline of implementing health protocols is still low both when providing services to patients and at home, this is certainly a great potential for transmission from patients.Keywords: personal protective equipment; the Covid-19 pandemic; health workers.
PENGARUH ELEVASI KAKI TERHADAP KESTABILAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN SECTIO CAESAREA DENGAN SPINAL ANESTESI Dwi Inggar Pratiwi Octavirani; Joko Murdiyanto
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 14 No. 1, Januari 2023
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34035/jk.v14i1.983

Abstract

Hipotensi merupakan suatu kondisi dimana terjadi penurunan pada tekanan darah arteri yang mencapai >20% dibawah nilai absolut atau dasar dari tekanan darah sistolik dibawah 90% atau Mean Arterial Pressure yang berada dibawah 60 mmHg. Hipotensi menjadi salah satu efek yang ditimbulkan karena spinal anestesi yang dilakukan pada wanita hamil memiliki angka kejadian hipotensi sekitar 80%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh elevasi kaki terhadap kestabilan tekanan darah pada pasien sectio caesarea dengan spinal anestesi. Penelitian ini menggunakan metode literature review dan melakukan pencarian literatur menggunakan metode PICOST menggunakan 2 database yakni Pubmed dan Google Scholar. Jurnal yang digunakan pada penelitian ini yakni jurnal dengan rentang waktu sepuluh tahun terakhir (2012-2021). Elevasi kaki pada pasien sectio caesarea dengan spinal anestesi menunjukkan bahwa tindakan elevasi kaki yang dilakukan setelah dilakukan spinal anestesi dapat mengurangi kejadian hipotensi. Elevasi kaki mempunyai keefektifan dalam mengatasi ketidakstabilan tekanan darah setelah spinal anestesi dan elevasi kaki efektif dapat membantu dalam mengatasi hipotensi atau penurunan tekanan darah pada elevasi kaki 400 atau 450. Elevasi kaki kurang efektif dalam mengatasi hipotensi atau penurunan tekanan darah jika elevasi kaki hanya 300 walaupun dapat meningkatkan tekanan darah namun tidak banyak karena tidak cukup dalam mendorong darah yang terkumpul pada perifer sirkulasi sentral atau ekstremitas bawah. Hypotension is a condition where there is a decrease in arterial blood pressure that reaches > 20% below the absolute or base value of systolic blood pressure below 90%, or the MAP (Mean Arterial Pressure) value which is below 60 mmHg. Hypotension is one of the effects because spinal anesthesia performed on pregnant women has an incidemce of hypotension of around 80%. This study aims to determine the effect of leg elevation on blood pressure stability in sectio caesarea patients with spinal anesthesia based on literature searches. This study applied a literature review method, and a literature search with the PICOST method used 2 databases, namely Pubmed and Google Scholar. The journals used in this study were journals with a time span of the last ten years (2012-2021). Elevation of the legs in sectio caesarea patients with spinal anesthesia shows that the leg elevation after spinal anesthesia can reduce the incidence of hypotension. Leg elevation is effective in overcoming blood pressure instability after spinal anesthesia, and effective leg elevation can help in overcoming hypotension or a decrease in blood pressure at a leg elevation of 400 and 450. Leg elevation is less effective in treating hypotension or a decrease in blood pressure if the leg elevation is only 300 although it can increase blood pressure but not much because it is not enough to push the blood that collects in the peripheral central circulation or lower extremities.
PERBEDAAN KADAR HbA1c PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 YANG MENGGUNAKAN INSULIN DAN OBAT ANTIDIABETIK ORAL Rindy Primadona; Joko Murdiyanto; Titin Aryani
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 3 No. 3 (2026): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/ykk4am70

Abstract

Hemoglobin terglikasi (HbA1c) menggambarkan rerata paparan glikemik selama dua sampai tiga bulan sebelumnya dan digunakan untuk memantau pengendalian glikemik jangka panjang pada diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini bertujuan membandingkan kadar HbA1c antara pasien rawat jalan yang menggunakan insulin dan obat antidiabetik oral (OAD) di RS PKU Muhammadiyah Gamping. Penelitian kuantitatif non-eksperimental ini menggunakan desain potong lintang dan data sekunder rekam medis periode Januari-Desember 2025. Sebanyak 36 pasien dipilih dengan purposive sampling, terdiri atas 18 pasien yang menggunakan insulin dan 18 pasien yang menggunakan OAD secara konsisten sekurang-kurangnya tiga bulan sebelum pemeriksaan HbA1c. HbA1c diperiksa menggunakan metode kromatografi afinitas boronat. Data dianalisis secara deskriptif dan menggunakan independent-samples t-test setelah pemeriksaan normalitas dan homogenitas. Sebagian besar pasien berusia 56-65 tahun (38,9%) dan berjenis kelamin laki-laki (63,9%). Rerata kadar HbA1c sebesar 7,48% pada kelompok insulin dan 9,02% pada kelompok OAD. Terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara kedua kelompok (p=0,033). Kadar HbA1c berbeda secara signifikan antara pasien yang menggunakan insulin dan OAD, dengan rerata lebih rendah pada kelompok insulin. Karena pemberian terapi tidak dilakukan secara acak serta kadar HbA1c awal dan faktor perancu klinis tidak dianalisis, hasil tidak dapat ditafsirkan sebagai bukti bahwa insulin lebih efektif daripada OAD.
HUBUNGAN KADAR SGOT DAN SGPT DENGAN JUMLAH TROMBOSIT PADA PASIEN DEMAM BERDARAH DENGUE DI RUMAH SAKIT NURHIDAYAH Rena Rahmaliani Tsalits; Joko Murdiyanto; Arifiani Agustin Amalia
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 3 No. 3 (2026): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/affedd53

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Trombositopenia dan peningkatan kadar SGOT serta SGPT merupakan temuan laboratorium yang sering dijumpai pada pasien DBD. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kadar SGOT dan SGPT dengan jumlah trombosit pada pasien DBD di Rumah Sakit Nurhidayah. Penelitian observasional analitik ini menggunakan desain cross-sectional dan data sekunder rekam medis. Sebanyak 50 pasien dipilih menggunakan purposive sampling. Data dianalisis secara deskriptif, dilanjutkan dengan uji Shapiro-Wilk, korelasi Spearman, dan regresi linear berganda pada α=0,05. Rerata kadar SGOT, SGPT, dan jumlah trombosit masing-masing sebesar 165,74±41,52 U/L, 102,76±14,15 U/L, dan 37,36±19,11 ×10³/µL. SGOT (rₛ=-0,761; p<0,001) dan SGPT (rₛ=-0,540; p<0,001) berkorelasi negatif dengan jumlah trombosit. Model regresi signifikan (F=34,729; p<0,001; R²=0,596). Dalam model multivariat, SGOT berhubungan dengan jumlah trombosit (B=-0,458; 95% CI=-0,615 hingga -0,301; p<0,001), sedangkan SGPT tidak signifikan (B=0,401; 95% CI=-0,064 hingga 0,866; p=0,090). SGOT dan SGPT berkorelasi negatif dengan jumlah trombosit, tetapi hanya SGOT yang tetap signifikan dalam model multivariat.