Wiwid Noor Rakhmad
Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP

Published : 121 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN TERPAAN IKLAN DAN CITRA MEREK DENGAN KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK TOP COFFEE Vicho Whisnurangga; Tandiyo Pradekso; Wiwid Noor Rakhmad; Sri Widowati Herieningsih
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.794 KB)

Abstract

Produk kopi instan merek Top Coffee dari Wings Food merupakan kopi sachet adalah kopi yang diproduksi untuk pria yang menginginkan kebebasan dan pemenuhan selera jantan pemberani. Seiring dengan perkembangan teknologi dan munculnya permintaan masyarakat yang tinggi akan kopi, kini produk Top Coffee lebih tersegmentasi. PT. Wings Food merupakan produsen kopi Top Coffee membidik segmen pasar laki-laki dewasa, khususnya bagi pria yang suka kebugaran dan berselera jantan pemberani.Dalam membangun citra merek TOP coffee memilih Iwan Fals sebagai bintang iklan dan sebagai pendongkrak citra merek TOP coffee . Dalam hal ini Iklan memiliki hubungan dengan citra merek karena dengan beriklan bisa dapat membangun sebuah citra merek melalui pesan-pesan yang disampaikan melalui iklan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan terpaan iklan dan citra merek dengan keputusan pembelian. Landasan teori pada penelitian ini adalah Cognitive Respons Theory. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplanatori. Penelitian ini menggunakan teknik multistage random sampling dengan metode accidental sampling sebagai alat untuk menentukan sampel. Jumlah sampel sebanyak 84 responden dengan usia 20-50 tahun. Analisis data yang digunakan adalah korelasi kendall dengan bantuan SPSS .Hasil penelitian ini adalah bahwa terdapat hubungan antara terpaan iklan dan citra merek (H1).Dan pada hipotesis yang kedua juga terdapat hubungan antara citra merek dengan keputusan pembelian produk TOP coffee. Saran yang kita peroleh dari penelitian ini adalah bagi pembuat iklan TOP coffee harus lebih kreatif lagi dalam pembuatan iklan selanjutnya dan lebih mengutamakan hal-hal yang penting seperti pemilihan bintang iklan ,isi cerita ,dan sebagainya.
Fenomena Penggunaan Blackberry Messenger Sebagai Media Personal Branding Imam Dwi Nugroho; Agus Naryoso; Wiwid Noor Rakhmad; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.158 KB)

Abstract

Perkembangan teknologi informasi sekarang ini telah memasuki babak baru yakni dunia digital. Blackberry messenger merupakan bagian dari perkembangan teknologi saat inimemudahkan penggunanya untuk memperluas pertemanan. Fenomena Blackberry messengersudah menjadi kebutuhan bagi para penggunanya untuk menjadi media komunikasi palingefektif antar teman, keluarga, bahkan rekan bisnis. Dalam personal branding pada mediaBlackberry Mesenger, pengguna harus dengan cermat mengetahui bagaimana cara memasarkan dan membangun image diri sendiri kepada target. Maka dari itulah pokokpermasalahan bagaimana pengalaman berkomunikasi pengguna Blackberry messengersebagai media personal branding melalui pesan instan.Studi ini merupakan penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan fenomenologi yangberupaya memberi penjelasan tentang pengalaman individu dalam memanfaatkan Blackberrymessenger sebagai media personal branding. Penulis teori dramaturgi karya Erving Goffmandalam konteks Computer Mediated Communication (CMC) untuk mendeskripsikanpenggunaan Blackberry messenger sebagai media personal branding.Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman penggunaan Blackberrymessenger sebagai media untuk mengelola kesan (impression management) demi membentukpersonal brand yang kuat. Struktur kognitif yang terbangun dari pemrosesan informasi kemudianmengantar pengguna sampai pada kesadaran bahwa pembentukan personal branding yang kuatterjadi karena strategi pembentukan yang baik dan dapat mengelola kesan. Sehingga, brandimage dapat melekat pada target.Implikasi studi ini dalam lingkup teoritis adalah memahami pengalaman komunikasi pengguna pesan instan Blackberry messenger dalam membentuk personal branding padakonsep dramaturgi oleh Erving Goffman yang erat kaitannya dengan pengelolaan kesan(impression management). Secara praktis, penelitian ini dapat memberikan penjelasan mengenai pembentukan personal brand dalam sebuah komunikasi interpersonal. Kesan perluuntuk dibentuk agar komunikasi interpersonal yang terjalin dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Sementara, sebagai implikasi sosial hasil studi ini memberi informasikepada masyarakat bagaimana membentuk personal branding dalam komunikasi di mediasosial khususnya pesan instan.Kata kunci : Media, BBM, personal branding
MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PENGASUHAN ANAK DALAM EXTENDED FAMILY MERCYANA MAJESTY YULION; Sri Budi Lestari; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.802 KB)

Abstract

JURNALMEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PENGASUHAN ANAKDALAM EXTENDED FAMILYMERCYANA MAJESTY YULIOND2C009132JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PENGASUHAN ANAKDALAM EXTENDED FAMILYABSTRAKSIKeluarga merupakan lembaga sosial inti di dalam masyarakat, sebab di dalamkeluargalah seorang anak memperoleh berbagai bekal dalam menghadapikehidupannya kelak di masyarakat. Konsep keluarga meluas (extended family)atau keluarga besar yang tidak hanya terdiri dari orang tua dan anak (keluarga inti)tetapi juga anggota keluarga besar yang lain seperti kakek-nenek, paman, bibi, dansaudara sepupu. Di dalam keluarga besar yang memiliki anak sebagai salah satuanggotanya menimbulkan adanya intervensi atau campur tangan juga dominasipengasuhan anak oleh anggota keluarga besar selain orang tua kandung anak itusendiri.Penelitian ini menggunakan genre interpretif dan tradisi fenomenologiyang berusaha untuk menyelami dunia pengalaman perceiver dalam kasus ini,yaitu orang tua dan anggota keluarga besar yang lain ketika melakukan kegiatanpengasuhan anak sehari-hari di dalam keluarga besar. Dengan menggunakan teorirelational dialectics theory (RDT) atau teori dialektika hubungan yang berfokuspada dialog multivocal dalam komunikasi keluarga, penelitian ini berupaya untukmenjelaskan pemaknaan partisipan terhadap pengasuhan anak dalam keluargabesar.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa figur orang tua di dalam keluargabesar memiliki pemaknaan bahwa pengasuhan anak, selain dari segi fisik seperimemberikan suplai kebutuhan pokok, juga berkaitan dengan segi psikis dan sosialyang diwujudkan dalam bentuk kasih sayang, perhatian, komunikasi,pembelajaran, serta kontrol orang tua kepada anak-anak. Keberadaan pihak ketigadalam pengasuhan anak dipandang dapat memicu konflik akibat perbedaan carapandang dan cara pengasuhan anak. Hal ini terlihat pada pengalaman informan, dimana keberadaan anggota keluarga lain sebagai pihak ketiga yang lebih banyakberinteraksi dengan anak pada pengasuhan anak dalam keluarga besar, kerapmenimbulkan konflik antara orang tua dan anggota keluarga besar. Penyelesaianmasalah dalam keluarga besar dilakukan dengan gaya collaboration dimanapihak-pihak yang terlibat dalam konflik berdiskusi mengenai suatu masalah untukdiselesaikan bersama.Kata kunci: intervensi, pengasuhan anak, keluarga besarUNDERSTANDING THE COMMUNICATION EXPERIENCE OFPARENTING IN EXTENDED FAMILYABSTRACTThe family is a core social institution in society, as in the family a child obtainsvarious provisions to face their future life in the community. The concept of anextended family or a big family does not only consist of parents andchildren (nuclear family), but also other major family members, such asgrandparents, uncles, aunts, and cousins. In an extended families who havechildren as their members raises any intervention or interference, and also thedominance of parenting by a family member other than the child's biologicalparents itself.This research uses interpretive genre and phenomenology approach todeeply understanding the perceiver's world, which is parents and other familymembers when performing activities of daily child care within the family. Byaccomodating the theory of relational dialectics (RDT) focusing on familycommunication in multivocal dialog, this study seeks to explain participants’sdefinition of parenting in an extended family.The results of this research shows that the figure of the elderly within thefamily have the meaning of parenting, aside from the physical aspects such asdelivering supplies of basic necessities, also related to psychic and social aspectwhich is manifested in the form of affection, attention, communication, learning,as well as parent’s control to children. The presence of a third party in parenting isseen could trigger the conflict due to differences in viewpoints and ways ofparenting. It can be seen at the informants’s experience, in which the existence ofother family members as third parties that dominate the parenting in an extendedfamily, often gives rise the conflicts between parents and other family members.To solve a problem in an extended family is using collaboration style where theparties involved in the conflict discuss about an issue to be resolved together.Keywords: intervention, parenting, extended familyPendahuluanPengasuhan anak di dalam sebuah keluarga meluas (extended family) tidak hanyamenjadi dominasi orang tua si anak, tetapi turut menimbulkan adanya intervensibahkan dominasi dari keluarga besar. Mengasuh dan merawat anak menjadi perandan tanggung jawab orang tua di dalam keluarga. Namun di saat sebuah keluargainti tinggal bersama dengan orang tua maupun saudara-saudara mereka, makaperan mengasuh dan merawat tidak hanya menjadi milik orang tua. Akibatnyamuncul suatu campur tangan atau intervensi dari keluarga besar di dalampengasuhan anak tersebut.Keluarga merupakan lembaga sosial dasar di dalam masyarakat. Dalampraktiknya masyarakat memiliki berbagai definisi mengenai keluarga. Keluargainti (nuclear family) merupakan keluarga yang didasarkan pada pertalianperkawinan atau kehidupan suami-istri dengan anak-anak mereka. Selain keluargainti, juga ada keluarga hubungan sedarah yang dewasa ini lebih dikenal denganistilah keluarga meluas (extended family), yaitu keluarga inti berikut kerabat laindengan siapa hubungan baik dipelihara dan dipertahankan. Bentuk keluarga initidak didasarkan pada perkawinan, melainkan pada pertalian darah dari sejumlahkerabat dekat. (Horton, 2006: 268).Bentuk keluarga tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakatsekitar tempat tinggal. Bagi masyarakat kebudayaan barat keluarga bisa terbentukbaik dengan atau tanpa ikatan perkawinan yang sah, sedangkan di budaya timuryang disebut keluarga adalah mereka yang terikat dalam ikatan perkawinan yangsah. Jumlah anggota keluarga di masyarakat barat biasanya hanya terdiri darianggota keluarga inti yaitu ayah, ibu, dan anak. Sedangkan di masyarakat timurkonsep anggota keluarga bukan hanya terdiri dari keluarga inti namun termasukanggota keluarga yang lainnya seperti nenek, kakek, adik, keponakan, dansebagainya yang tinggal dalam satu rumah. (Sumarwan, dalam Wardyaningrum,2010: 289-298).Perubahan bentuk keluarga inti akan menimbulkan kesulitan dalamkomunikasi keluarga dan peran yang disandang. Hal ini juga berlaku ketikabentuk keluarga inti berubah ke bentuk keluarga meluas. Anak yang dibesarkanoleh kakek-neneknya mungkin merasa bahwa bentuk keluarganya tidak lazim danmenolak untuk membicarakan tentang keluarganya ketika berada di sekolah. (LePoire, 2006: 17-19).Salah satu peran utama dalam keluarga inti adalah pengasuhan anak.Namun di dalam sebuah keluarga meluas (extended family) peran ini tidak hanyamenjadi dominasi orang tua, tetapi turut menimbulkan adanya intervensi darikeluarga besar. Peran yang disandang oleh ayah dan ibu di dalam keluarga intisebenarnya memiliki porsi yang sama terutama dalam hal mendidik anak mereka.Pendidikan non formal dalam lingkungan keluarga sadar atau tidak, akan turutmembentuk karakter dan kepribadian anak. (Le Poire, 2006: 16-22).Sosialisasi juga menjadi salah satu fungsi keluarga. Keluarga menjadiujung tombak bagi masyarakat untuk melakukan sosialisasi kepada anak-anakmengenai alam dewasa sehingga nantinya mereka dapat berfungsi dengan baik didalam masyarakat itu. (Horton, 2006: 275-276).Fungsi sosialisasi tersebut diterapkan perlahan-lahan dalam prosespengasuhan anak. Pengasuhan yang dilakukan keluarga ini memiliki pola.Menurut pedoman yang dikeluarkan oleh Tim Penggerak PKK Pusat (1995) yangdimaksud sebagai pola asuh anak dalam keluarga, adalah usaha orang tua dalammembina anak dan membimbing anak baik jiwa maupun raganya sejak lahirsampai dewasa (18 tahun), serta kegiatan kompleks yang memiliki dampak padaanak dengan tujuan menciptakan kontrol pada anak. (Puspa, 2013).Keberadaan beberapa orang dewasa ini memicu adanya intervensi atauikut campur tangan bahkan dominasi dari orang-orang sekitar dalam mendidikanak. Keberadaan keluarga besar yang terlibat dalam mengasuh anak terkadangmenimbulkan kontra terhadap peraturan yang sudah disepakati sebelumnya yangdapat menimbulkan kebingungan bagi anak. Bahkan dominasi pengasuhan olehpihak ketiga membuatnya menjadi lebih dekat dengan anak, sehingga memicuadanya kecemburuan orang tua terhadap pihak ketiga. Hal-hal tersebut dapatmemicu konflik di antara orang tua si anak dengan anggota keluarga besar yanglain.Teori dan Metoda PenelitianTeori dialektika hubungan (RDT) digunakan untuk memahami bahwa orangorangyang telah memiliki hubungan menggunakan komunikasi untuk mengatasikekuatan yang bertentangan secara alami yang menimpa hubungan mereka setiapsaat. RDT menjelaskan bagaimana di dalam setiap hubungan mengalamikontradiksi dialektika, yaitu suara-suara yang bersatu tetapi bertentangan. Dalamteori ini disebutkan 3 pandangan mengenai dialog yaitu dialog sebagai proseskonstitutif, dialog sebagai percakapan, dan dialog sebagai estetika. (Littlejohn danFoss, 2009: 298-300).Pengasuhan anak dalam keluarga besar melibatkan beberapa pihak selainorang tua kandung si anak. Hubungan antar partisipan (orang tua, kakek-nenek,paman, bibi, anak) berkembang melalui proses komunikasi yang kontradiktifterutama dalam konteks pengasuhan anak. Pemaknaan masing-masing individuterhadap pengasuhan anak mungkin berbeda dan bahkan bertentangan. Dalamperbedaan ini justru makna dapat terbentuk. Tidak menutup kemungkinan masingmasingindividu dapat saling mengerti dan hubungan keluarga semakin dekat.Dalam keluarga besar yang terdiri dari beberapa individu menggunakan dialogsebagai proses komunikasi yang tidak terlepas dari kontradiksi dialektika. Meskiterdapat kontradiksi, dalam dialog tersebut muncul suatu pemahaman yang estetistentang hubungan keluarga besar yang dimiliki oleh partisipan (Littlejohn danFoss, 2009: 306).Sedangkan untuk menyelesaikan konflik yang muncul di dalam keluarga,terdapat lima macam gaya penyelesaian konflik menurut K.W.Thomas dan R.H.Killmann (dalam Bebee, 2005: 231-236): (1) avoidance atau menghindar darimasalah yang ada, (2) accomodation atau mengalah kepada partner, (3)competition atau menyelesaikan masalah dengan beradu pendapat hingga salahsatu pihak menang, (4) compromise atau menentukan jalan tengah, (5)collaboration atau menampilkan konflik sebagai sebuah masalah untukdiselesaikan bersama-sama.Penelitian ini menggunakan tipe penelitian kualitatif yang merujuk padaparadigma intepretif. Penelitian tipe kualitatif merupakan penelitian yangmenggunakan pendekatan alamiah untuk mencari dan menemukan pengertian ataupemahaman tentang fenomena dalam suatu latar yang berkonteks khusus dantidak mengadakan perhitungan. (Moleong, 2007: 3-5).Pendekatan yang digunakan dalam mengkaji fenomena tersebut adalahtradisi fenomenologi. Fenomenologi berusaha memahami arti suatu peristiwa dankaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi tertentu, dimana yangditekankan adalah aspek subjektif dari perilaku orang tersebut. Fenomenologimenganggap bahwa manusia secara aktif merepresentasikan pengalaman merekadan memahami dunia berdasarkan pengalaman mereka. (Littlejohn, 2002: 38).Komunikasi dalam pengasuhan anak merupakan fenomena yang dialamisecara sadar yang diseleksi untuk menjadi pengalaman masing-masing individu.Tujuan penelitian ini sejalan dengan tujuan fenomenologi, yaitu untukmempelajari bagaimana fenomena dialami dalam kesadaran, pikiran, dan tindakan,seperti bagaimana fenomena tersebut bernilai atau diterima secara estetis.(Kuswarno, 2009: 2).Memahami Pengalaman Komunikasi Pengasuhan Anak Dalam ExtendedFamilyCara pengasuhan anak yang diterapkan seseorang tidak terlepas dari pemaknaanmasing-masing individu terhadap pengasuhan itu sendiri. Pengasuhan anak dimata para informan bukan saja merupakan perkara fisik atau sesuatu hal yangdapat dilihat mata. Lebih dari itu seluruh informan mengungkapkan bahwapengasuhan anak juga berkaitan dengan memberikan pendidikan baik secarapsikis dan sosial dalam bentuk kasih sayang, perhatian, komunikasi, pembelajaran,dan kontrol. Le Poire (2006: 134) mencatat bahwa figur orang tua di dalamkeluarga amat memperhatikan keperluan anak-anak agar mereka tumbuh dengansehat. Orang tua berkomunikasi dalam cara-cara yang dibentuk untuk membantuanak berkembang secara intelektual, fisik, emosional, dan sosial, yang mengarahpada kesehatan dan kesejahteraan terbaik bagi mereka.Kegiatan pengasuhan anak yang dilakukan para informan sehari-haridilakukan bergantian dengan anggota keluarga besar yang lain, biasanyaberdasarkan waktu luang di luar jam kerja mereka. Aktifitas keseharian tersebutterkadang digunakan informan untuk berbincang-bincang dengan anak, mengajakmereka bercerita kegiatan selama di sekolah, atau menjelaskan kepada anak halhalyang baru mereka temukan. Akan tetapi kemajuan teknologi yang berkembangsampai ke dunia permainan lebih menarik bagi anak-anak dari pada harusmenuruti perintah orang tua untuk belajar, tidur siang, bahkan makan. Dalammenghadapi dan menyelesaikan hal ini hampir seluruh informan mengambillangkah serupa yaitu memarahi anak dan menjelaskan. Langkah ini selaludilakukan agar perilaku anak dapat terkontrol dengan baik.Meskipun berpartisipasi dalam kegiatan pengasuhan anak yangmelibatkan orang ketiga, mayoritas informan justru menyatakan ketidaksetujuanbahkan ketidaksukaan terhadap keberadaan pihak ketiga dalam proses pengasuhananak. Menurut mereka campur tangan pihak ketiga justru berpotensi menimbulkanperbedaan pandangan yang berdampak pada perbedaan cara pengasuhan anak.Berdasarkan temuan penelitian kedua ibu yang menjadi informan memilikipandangan bahwa sebagai ibu, mereka lah yang mengemban tanggung jawabdalam mengasuh anak, sementara anggota keluarga besar hanya membantu,selama yang bersangkutan tidak bisa melakukan kewajibannya.Strategi komunikasi pengasuhan anak meliputi aspek perawatan dankontrol. (Baumrind, dalam Le Poire 2006: 134-139). Kedua hal ini memerlukanproses interaksi orang tua dan anak. Dalam penelitian ini ditemukan suatu realitadimana anggota keluarga besar memiliki intensitas interaksi dengan anak yanglebih tinggi, jika dibandingkan dengan ibu sebagai orang tua, sehingga seolaholahmereka mendominasi pengasuhan anak. Tingginya intensitas interaksi pihakketiga dengan anak dalam keluarga besar membuat anak-anak lebih merasa dekatdan terbuka kepada nenek dan paman.Upaya Menangani Konflik tentang Pengasuhan Anak dalam ExtendedFamilySaat berhubungan dengan pengasuhan anak di dalam keluarga, terutama dalamkeluarga besar, dimungkinkan terjadi adanya perbedaan pendapat, cara pandang,cara pengasuhan, yang seringkali menimbulkan pertengakaran di antara anggotakeluarga. Dalam menyelesaikan masalah tentang pengasuhan anak dalam keluargabesar, masing-masing informan mengesampingkan gaya penyelesaian konfliknya,dan cenderung mengambil gaya collaboration dimana mereka mengambil jalanberdiskusi dengan anggota keluarga yang bermasalah untuk mencari jalankeluarnya bersama-sama. Semua proses komunikasi secara tatap mata tersebutdilakukan tanpa adanya pihak ketiga dari anggota keluarga besar yang menjadipenengah.Berdasarkan pengalaman menghadapi konflik di dalam keluarga, semuainforman sepakat bahwa mereka tetap memiliki hubungan baik dengan anggotakeluarga, bahkan menjadi semakin dekat dan mengenal kepribadian masingmasing.Kesimpulan1. Kegiatan pengasuhan anak dianggap lebih tepat jika dilakukan oleh orang tuakandung anak dari pada oleh figur orang tua yang lain, sebab merekalah yanglebih mengerti apa saja kebutuhan pokok anak. Anggota keluarga besar hanyabersifat mendukung dalam proses kegiatan pengasuhan dalam bentukmemberikan perhatian dan memenuhi kebutuhan anak di saat orang tuakandung mereka tidak berada di rumah karena berbagai alasan, misalnyakarena harus bekerja.2. Proses pengasuhan anak yang terjadi di dalam keluarga besar tetapmelibatkan dimensi responsif dan tuntutan guna mengarahkan perilaku anak.Gaya authoritative di mana tingkat responsif dan kontrol tinggi menjadipilihan anggota keluarga dengan pertimbangan anak-anak akan menjadi lebihsegan terhadap figur orang tua memegang kuasa penuh atas diri mereka,namun di saat lain tetap memberikan perhatian, kehangatan, dan kasihsayang.3. Perbedaan cara pengasuhan dan intensitas komunikasi tatap muka dengananak di antara orang tua dan anggota keluarga besar berdampak padakedekatan dan keterbukaan anak dengan pihak ketiga lebih besar dari padadengan orang tuanya sendiri.4. Penyelesaian konflik yang muncul di dalam keluarga besar cenderungmenggunakan gaya collaboration di mana anggota keluarga besar berdiskusimengenai suatu masalah untuk diselesaikan bersama. Gaya penyelesaiankonflik individu tidak selalu diterapkan. Mereka akan menyesuaikan diridengan anggota keluarga yang lain, terutama demi kepentingan anak-anak.DAFTAR PUSTAKABeebe, Steven. A. (2005). Interpersonal Communication Relating to Others(4thed). USA : Pearsons Education.Braithwaite, Dawn O and Leslie A. Baxter. (2006). Engaging Theories in FamilyCommunication Multiple Perspectives. California: Sage Publications,Inc.Horton, Paul dan Chester L. Hunt. (2006). Sosiologi Jilid I (Edisi 6). Jakarta:ErlanggaKuswarno, Engkus. (2009). Metodologi Penelitian Komunikasi Fenomenologi:Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitian. Bandung: WidyaPadjadjaranLe Poire, Beth. A. (2006). Family Communication Nurturing and Control in aChanging World. California: Sage PublicationLittlejohn, Stephen W. (2002). Theories of Human Communication (7thed).USA:Wadsworth.Littlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi(Edisi 9).Jakarta: Salemba Humanika.Moleong, Lexy J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: RemajaRosda KaryaWadyaningrum, Damayanti. (2010). Pola Komunikasi Keluarga dalamMenentukan Konsumsi Nutrisi bagi Anggota Keluarga. Jurnal IlmuKomunikasiFISIP UPN Yogyakarta 8 (3): 289-298.Puspa, Dian. (2013). Pola Asuh Anak dalam Keluarga (Makalah). http://blogdianpuspa.blogspot.com/2013/04/pola-asuh-anak-dalam-keluargamakalah.html. Diunduh 1 Juli 2013, pukul 10.20 WIB
Interpretasi Khalayak Terhadap Acara Reality Show “Tolong” di SCTV Venansius DavyGian A; Drs. Wiwid Noor Rakhmad, M.I.Kom
Interaksi Online Vol 4, No 4: Oktober 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.405 KB)

Abstract

Televisi dianggap mampu memberikan income atau pengaruh yang besar terhadap para audiencenya. Karena semakin banyak munculnya stasiun di televisi saat ini, maka semakin banyak pula acara-acara yang ditawarkan kepada masyarakat, salah satunya adalah acara reality show. Reality show adalah suatu acara yang menampilkan realties kehidupan seseorang yang bukan selebriti (orang awam), lalu disiarkan melalui jaringan TV, sehingga bisa dilihat masyarakat. Reality show tak sekedar mengekspose kehidupan orang, tetapi juga ajang kompetisi, bahkan menjahili orang. Reality show secara istilah berarti pertunjukan yang asli (real), tidak direkayasa, dan tidak dibuat-buat. Kejadiannya diambil dari keseharian, kehidupan masyarakat apa adanya, yaitu realita dari masyarakat. Beberapa acara TV di Indonesia menggunakan judul reality show tapi keseluruhan isinya merupakan rekayasa yang apabila di tinjau lebih jauh mengandung unsur kepentingan pihak modal dan ironisnya yang dijadikan objek adalah orang-orang miskin. Alih-alih memberi pertolongan dan mengatasi kemiskinan adalah jurus jitu yang dijadikan landasan. Sehingga tidak heran sebagian masyarakat percaya bahwa program reality show tersebut membantu orang-orang miskin bangkit dari keterpurukan
SIKAP KOMPAS.COM TERHADAP PEMBERITAAN MEIKARTA Devy Widya Cahyani; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.685 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Sikap Kompas.com terhadap proyek Meikarta milik Lippo Group. Tipe penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis framing yang dikembangkan oleh Robert N Entman. Teori yang digunakan adalah Teori Konstrusi Sosial Peter L.Berger dan Thomas Luckmann untuk menjelaskan bagaimana media massa mengkonstruksi realitas yang diaplikasikan ke dalam konteks media massa yang disebut dengan Teori Konstruksi Sosial Media Massa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kompas.com melakukan keberpihakan kepada Meikarta. Pemberitaan proyek Meikarta dalam Kompas.com secara tegas membingkai bahwa proyek milik Lippo Group tersebut tidak melanggar aturan maupun melakukan kesalahan dengan melakukan pemasaran, promosi besar-besaran, meskipun belum memiliki IMB (Izin Mendirikan Bangunan). Secara jelas, Kompas.com mendukung apa yang dilakukan oleh pihak Meikarta dengan menyajikan 99% pemberitaan positif mengenai Meikarta untuk publik.
HUBUNGAN TERPAAN IKLAN PESTA BLANJA POIN TELKOMSEL DAN TINGKAT KETERLIBATAN KONSUMEN TERHADAP MINAT MENGIKUTI PROGRAM PESTA BLANJA POIN TELKOMSEL Raden Mas Muhammad Ridha Prasetya; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.108 KB)

Abstract

Telkomsel telah menyelenggarakan iklan pesta blanja poin Telkomsel dengan target 40% konsumen mengikuti program tersebut. Namun kenyataannya hanya 15% konsumen yang mengikuti program pesta blanja poin Telkomsel. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan terpaan iklan pesta blanja poin Telkomsel dan tingkat keterlibatan konsumen terhadap minat untuk mengikuti program pesta blanja poin Telkomsel. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Advertising Exposure Theory dan Teori rantai arti akhir. Tipe penelitian ini adalah eksplanatif (eksplanatori) dengan metode survey. Metode yang digunakan untuk mengambil sampel adalah non random sampling dengan tehknik purposive sampling. Jumlah sampel sebanyak 50 orang dengan kriteria pengguna kartu perdana Telkomsel di kota Semarang yang pernah terpapar iklan Pesta Blanja Poin Telkomsel minimal satu kali dalam satu minggu terakhir. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan dengan keeratan rendah antara terpaan iklan pesta blanja poin Telkomsel dan minat mengikuti program pesta blanja poin Telkomsel berdasarkan hasil uji Kendall Tau-b yang menyatakan nilai signifikansi 0,004 dan nilai korelasi sebesar 0,313. Artinya semakin tinggi terpaan iklan pesta blanja poin Telkomsel maka semakin tinggi minat mengikuti program pesta blanja poin Telkomsel namun keeratannya lemah. Hasil penelitian ini juga menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan dengan keeratan sedang antara tingkat keterlibatan konsumen dan minat mengikuti program pesta blanja poin Telkomsel berdasarkan hasil uji Kendall Tau-b yang menyatakan nilai signifikansi sebesar 0,000 dengan koefisien korelasi sebesar 0,474. Artinya semakin tinggi tingkat keterlibatan konsumen maka semakin tinggi minat mengikuti program pesta blanja poin Telkomsel namun dengan tingkat keeratan sedang. Temuan penelitian menunjukkan bahwa faktor terpaan iklan dan tingkat keterlibatan konsumen berpengaruh terhadap minat. Namun terpaan iklan memiliki keeratan lemah sedangkan tingkat keterlibatan memiliki keeratan sedang terhadap minat. Untuk itu peneliti menyarankan agar Telkomsel mencari faktor lain yang memiliki keeratan kuat bahkan sangat kuat dalam mempengaruhi minat.
Internet Access and the Potential in Facilitating Online Political Communication of Disabled Nurul Hasfi; Joyo NS Gono; Wiwid Noor Rakhmad
Jurnal ASPIKOM - Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24329/aspikom.v5i1.468

Abstract

Researchers defined Internet as a medium for overcoming the social exclusion of marginal groups, including the disabled. The increasing of the internet penetration in Indonesia should be an opportunity for the group to build inclusive elections. However, in the Indonesian context, non-disabled still controls virtual political space. This paper identifies the potential of the internet as a means of online political participation of disabled groups. Using the case study method in the context of 2018 Central Java Pilgub, researchers conducted in-depth interviews with the disabled, election organizers and disabled educational institutions in the Semarang city. The findings of the study indicate that certain diffables (physical, deaf and mild disabilities) have access to the internet, however there is no access to the interactive political communication. The internet has not functioned optimally as an Assistive Technology (AT) mainly caused by digital divide; skepticism to the internet and limited internet literacy.
KRISIS KOMUNIKASI DI TINGKAT ORGANISASI: ANALISIS POLA KOMUNIKASI KRISIS AIESEC CABANG SEMARANG PADA MASA PANDEMI COVID-19 Ignatia Endra Kristianti; Yanuar Luqman; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 10, No 3: Juli 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di masa pandemi, AIESEC cabang Semarang tertimpa rumor di media sosial terkait perekrutan tahun 2020, sehingga situasi krisis komunikasi tersebut perlu diatasi guna menjaga reputasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola komunikasi krisis yang diterapkan oleh AIESEC cabang Semarang dalam menghadapi krisis komunikasi di masa pandemi COVID-19 dengan menerapkan metode studi kasus deskriptif, pendekatan kualitatif, dan paradigma interpretif. Teknik yang digunakan adalah wawancara mendalam semi-terstruktur dan teknik analisis pattern matching berdasarkan teori utama yang mencakup Integrated Crisis Management Framework dan Situational Crisis Communication Theory. Analisis hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun tidak berdampak luas pada perilaku publik, namun para pemimpin AIESEC cabang Semarang tetap melakukan evaluasi serta memperbaiki sistem komunikasi organisasi. Kesesuaian pola komunikasi krisis tersebut dapat dilihat dari langkah-langkah preventif organisasi yang sesuai dengan sejumlah pola terkait komunikasi krisis. Kesesuaian pola menunjukkan organisasi ini telah menerapkan langkah evaluasi krisis secara runtut serta meningkatkan hubungan kemitraan, peran, dan sumber daya internal. Upaya tersebut diterapkan melalui peningkatan sistem dan alat komunikasi, khususnya selama perekrutan, uji kelayakan program, dan penyusunan rencana mitigasi risiko. Strategi komunikasi krisis yang diterapkan organisasi adalah strategi bolstering message yang berfokus pada publikasi pesan positif. Keberlanjutan komunikasi organisasi juga dipastikan melalui rutinitas kemitraan dan pengembangan anggota yang terstandardisasi. Simpulan hasil penelitian ini yaitu para aktivis organisasi mampu menerapkan pola komunikasi krisis dan terlibat aktif dalam memperbaiki kualitas komunikasi organisasi. Karena kemampuan menentukkan keputusan strategis dan memodifikasi sistem komunikasi memegang peranan penting, maka teori dalam penelitian ini dikembangkan dengan elemen kapabilitas interaksionisme dan tahap inovasi. Dengan merekomendasikan perluasan media komunikasi organisasi, penelitian ini menyatakan bahwa organisasi dapat mempertahankan reputasinya di masa krisis dengan teroptimalisasinya sistem komunikasi yang memperkuat esensi organisasi.
Implementasi Cyber Public Relations dalam Penyampaian Berita di Website Pemerintah Daerah (Analisis Tematik dalam Berita Website Pemerintah Daerah) Tita Adi Tiyawati; S. Rouli Manalu; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 10, No 3: Juli 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Era perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membuat kinerja humas di kalangan manapun harus dapat melaksanakan tugas dengan memanfaatkan internet sebagai wujud aktivitas humas secara online yang disebut dengan Cyber Public Relations. Keadaan ini menjadi suatu tantangan bagi humas pemerintah daerah dalam menjalankan tugas dan fungsi melalui media online. Salah satu jenis dalam Cyber Public Relationsyang ada di pemerintah daerah adalahberita. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui penerapan cyber public relations dalam penyampaian berita dan mengetahui ada atau tidaknya tanggapan dari publik dalam kolom komentar di kanal berita website pemerintah daerah. Teori yang digunakan dalam penelitian ini excellence in public relations theory dan Teori Effendy mengenai model komunikasi. Metode penelitian dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan analisis isi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengumpulkan artikel berita dalam website pemerintah daerah. Unit analisis yang digunakan dalam penelitian adalah tujuan humas pemerintah dengan menggunakan teknik analisis tematik yang merujuk pada model jalur pengkodean menurut Johnny Saldana. Hasil penelitian pada penerapan cyber public relationsini telah menunjukkan hasil yang sesuai dengan tujuan humas pemerintah. Penyampain berita yang dilakukan oleh humas pemerintah daerah masuk dalam kriteria tujuan humas pemerintah, walaupun tidak secara keseluruhan kriteria tersebut ada di dalam berita pemerintah daerah. Setiap berita dari pemerintah daerah memiliki 3-6 kriteria tujuan humas pemerintah. Selain itu, aktivitas humas pemerintah daerah menunjukkan perilaku yang bersifat menyebarkan informasi tanpa ada tanggapan masyarakat. Karena dalam kanal berita website pemerintah daerah tidak terdapat kolom komentar sehingga model komunikasi yang digunakan bersifat satu arah.
DISEMINASI INFORMASI DAN PERSEPSI RISIKO BENCANA HIDROMETEOROLOGI KELOMPOK RENTAN DI DAERAH TERTINGGAL RAWAN BENCANA Al Afifka Ma’rifatul Qomari Zaman; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 10, No 3: Juli 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan frekuensi bencana hidrometeorologi telah terjadi di wilayah Kabupaten Tegal yang merupakan daerah dengan risiko bencana tertinggi kedua di Provinsi Jawa Tengah. Kondisi ini juga terjadi di Desa Wotgalih, Kecamatan Jatinegara yang dikategorikan sebagai desa tertinggal oleh Kemendesa, dimana terdapat satu pedukuhan terisolir yang paling sering mengalami bencana. Upaya untuk dapat menimalisir dampak yang ditimbulkan oleh bencana adalah dengan penyebaran informasi kebencanaan. Teori Diseminasi Inovasi dan Kerangka Persepsi Risiko menjadi landasan utama peneltian ini. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan proses diseminasi informasi kebencanaan dan mengetahui bagimana persepsi risiko masyarakat pada bencana yang terjadi. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus serta melibatkan 12 informan data diinterpretasikan melalui pola penjodohan sederhana. Hasil penelitian menunjukan bahwa diseminasi informasi kebencanaan belum berjalan dengan semestinya, persepsi risiko masyarakat timbul berdasarkan pengalaman mereka dalam menghadapi bencana.
Co-Authors Adelya Putri Ayu Felita Adham Helian Wicaksana Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Nugroho Aditya Putra, Mochammad Afidati Hidayanti, Syafira Afifah Azzahra Agus Naryoso S.Sos, M.Si, Agus Naryoso Al Afifka Ma’rifatul Qomari Zaman Alifati Hanifah Alisha Mumtaz, Farah Alya Khoirunnisa, Mayfida Amida Yusriana Anggita Pratita Sandya Annisya Winarni Putri Anugrah Beta Familio Anzilna Mubaroka Aprilla Agung Yunarto Arham Syarif, Muhamad Arif Andhika, Wisnu Asti Amalia, Fatiha Audrey Marsanda, Marchella Ayu Saraswati Ayu Sri Purnama, Ayu Sri Bayu Widagdo, Muhammad Bening Shabilla Utami Bhaswarani Oktadianisty Chrisintya Mauli Sitorus Chykla Azalika DANIEL EDI KURNIAWAN Destika Fajarsylva Anggraini Desvira Siahaan, Ulita Desvira Siahaan Devi Yuhanita Qorina, Devi Yuhanita Devy Widya Cahyani Dika Okta Fianto, Ferdian Diyan Krissetyoningrum Djoko Setyabudi Djoko Setyabudi Dody Pradana Eryanto DR Sunarto Dr. Sunarto Dwi Purba ningrum Dwi Ratna Setyorini Elsa Septiana Pertiwi Endang Retnowati Erisa Dwi Syafira Eva Wijiyanti Hidayat Fajru Akbari Putra Sinik, Fikri Fani Adhiti Farrah Alfarani Nur Hidayat Fatraya, Denisa Febriyanti, RT Annisa Fikri Onasis Fitri Nur Hidayat Fitriana Nur Indah S Gusti Restu Kinanti Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hesti Ratnasari, Hesti Hizarani Lailan Saadah Sihombing Ignatia Endra Kristianti Ika Putri Hanafi Ilham Futaki Ilvani Fylandita Vristiandaniva Imam Dwi Nugroho Indra Prayoga Intan Mashitasari Intan Maylani S.D. Iswara Pramusita, Regina Joyo NS Gono Joyo NS Gono Kevin Surya Laksmana, Muhammad Khansa Berlian, Dinda Kholita Putri Arifiana Lintang Ratri Rahmiaji M Bayu Widagdo M Yulianto Mabchut Nahdi, Faris Maerel Dhalia Arumnisa Mar'atul Hanifah Marwah Gayatri Purnado MERCYANA MAJESTY YULION Mila Candra Novianti Mira Adinia Much. Yulianto Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Rofiuddin Naabigha, Tsaabitah Naura Kamila Prasetyanti Neazar Astina Prabawani Nico Ariowibowo Niki Hapsari Fatimah Nugroho Adhi Santoso, Ixnatius Nur Hidayati, Ayuk Nur Mustika, Ratu Nur Rahmi, Faurina Nur Suryanto Gono, Joyo Nurist Surayya Ulfa Nurriyatul Lailiyah M.I.Kom Nurul Hasfi Nurul Istiqomah Octavia, Jelena Olivia Anjani Paskah M Pakpahan Pertiwi, Bunga Pingki Setiyo Anggraeni Primada Qurrota Ayun Pua Ayu Wardhani Putri Ramadhini Putty Elvia Nusdalita R. Sigit Pandhu Kusumawardana Raden Mas Muhammad Ridha Prasetya Rahadianto, Anugrah Ramadhani Zahra Rizki Fajar Bagaskoro, Sektianto Rizki Kurnia Yuniasti Rosada Fitrianum, Febia Roseana, Brilianti Roy Bagus Royyani Rugayah Rugayah Rwanda Zwazdianza Azwar S. Rouli Manalu Salma M, Jihan Selo Pangestu Imawan Setyo Eka Rofi Shintaloka Pradita Sicca, Shintaloka Pradita Siadari, Roulina Silvia Kartika C Dewi Silviana, Resy Sri Budi Lestari Sri Budi Lestari Sri Widowati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Sunarto Sunarto Tandiyo Pradekso Taufik Suprihartini Taufik Suprihatini Teguh Kurniawan, Petrus Teresia Kinta Wuryandini Tita Adi Tiyawati Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Turnomo Rahardjo Uci Andriani Ulya Saida Usaid Abdullah Dzikri Velina Prismayanti Susanto Venansius DavyGian A Vicho Whisnurangga Vincentius Raditya Kristiawan Vinna Dewi Haryanti Wening Jiwandaru Pradanari Yanuar Luqman Yuanita Putri Melati Yusriana, Amida Zefa Alinda Fitria Zulfa Priastuti, Nadia