Claim Missing Document
Check
Articles

IDENTIFIKASI KANDUNGAN KROMIUM (Cr) PADA LIMBAH CAIR DAN KERUPUK RAMBAK SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN TERHADAP DAMPAK KESEHATAN Fitria Nur Azizah; Prehatin Trirahayu Ningrum; Ellyke Ellyke
Jurnal Informasi Kesehatan Indonesia (JIKI) Vol 4 No 1 (2018): Jurnal Informasi Kesehatan Indonesia
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31290/jiki.v4i1.340

Abstract

Proses pembuatan kerupuk rambak akan menghasilkan limbah cair yang mengindikasikan mengandung kromium. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan kromium pada limbah cair dan kerupuk rambak di industri kerupuk rambak UD.X di Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember. Penelitian ini menggunakan metode peneltian deskriptif. Sampel penelitian ini menggunakan grab sampling untuk pengambilan limbah cair yakni sebanyak 1,5 L dan purposive sampling untuk pengambilan kulit mentah dan kerupuk rambak yakni sebanyak 10 gram. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tahap pembuatan kerupuk rambak UD.X yaitu tahap perebusan, pengguntingan, pembumbuan, penjemuran, penggorengan I dan penggorengan II. Hasil pemeriksaan uji laboratorium, sampel limbah cair mengandung kromium sebesar 2,17 mg/l. Sampel kulit mentah sebesar 0,0315 mg/kg dan kerupuk rambak sebesar 0,0426 mg/kg.
Penggunaan Serbuk Piper ornatum sebagai biopesticide larva lalat rumah Musca domestica Anita Dewi Moelyaningrum; Violita Pita Nugraheni; Prehatin Trirahayu Ningrum
BIOEDUSCIENCE Vol 4 No 1 (2020): BIOEDUSCIENCE
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/j.bes/414341

Abstract

Background: Red betel (Piper ornatum) contains several compounds including flavonoids, alkaloids, tannins, and essential oils that have the ability as bioinsecticides. The purpose of this study was to analyze the differences in the number of deaths of house fly larvae (Musca domestica) exposed to red betel in the control group (0%) and the treatment group with a concentration of 1%; 1.5% and 2% for 24 hours. Methods: used is true experimental method with only posttes control group design. There were 4 treatments with 6 replications per treatment. Each treatment was described on 8 larvae, so the number of larvae used in this study was 192 tails. Results: Research shows that red betel powder is indeed effective in killing Musca domestica larvae, but it still requires a long time, which is at least 24 hours. Concentration is needed at least 2% if used as a biopesticide to reduce the density of flies. Conclusion: There was no significant difference in the mortality of Musca domestica larvae in the administration of red betel powder (Piper ornatum.
Garam Indonesia Berkualitas: Studi Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) Pada Garam [The Quality of Indonesia Salt: Study of Heavy Metal Lead (Pb) Levels in the Salt] Nurus Samsiyah; Anita Dewi Moelyaningrum; Prehatin Trirahayu Ningrum
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 11 No. 1 (2019): JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jipk.v11i1.11058

Abstract

AbstrakKualitas garam sangat ditentukan oleh perlakuan dan penanganan yang diberikan pada saat pra produksi, proses produksi maupun pasca produksi. Kontaminan Pb dalam garam dapat bersumber dari lingkungan perairan laut sebagai bahan baku, tanah sebagai media / tempat produksi garam dan lingkungan udara dimana proses produksi garam berlangsung di lahan terbuka. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kadar logam berat timbal (Pb) dalam garam di Kabupaten Pamekasan. Jenis penelitian ini adalah jenis deskriptif. Teknik pengumpulan data penelitian melalui observasi dan wawancara. Hasil observasi menunjukkan bahwa rata-rata kadar logam berat timbal (Pb) di Kabupaten Pamekasan masih di bawah batas maksimum yang telah ditentukan dalam SNI 3556-2010 dan SNI 7387-2009 yaitu <10 ppm dengan kadar Pb terendah 0,066 ppm dan tertinggi 0,162 ppm. Proses produksi garam kurang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, perlunya penangangan yang baik pada pra produksi, proses produksi hingga pasca produksi pembuatan garam agar kadar Pb tidak meningkat.AbstractThe quality of salt is very determined by the treatment and handling given during the pre-production, production and post-production processes. Pb contamination in salt can be sourced from the marine environment as raw material in the process of making salt, the soil environment as a medium / place of salt production and the air environment where the salt production process takes place in an open area. The aim of research was to analyze levels of lead heavy metals (Pb) of salt in Pamekasan Regency. This research is a descriptive analysis. The techniques of data collecting of this research are observation and interview. Observations indicate that the average level of heavy metal lead (Pb) in Pamekasan regency is still below the maximum limit specified in SNI 3556-2010 and SNI 7387-2009 is <10 ppm which is the lowest grade of 0.066 ppm and grade the highest is 0.162 ppm. The salt production process is not in accordance with established standards The Therefore, the need for good handling in pre-production, production processes to post-production of salt production so that Pb levels do not increase.
Microplastic Contamination in Marine Fish and Shells in the Coastal Areas of Jember Regency, Indonesia Prehatin Trirahayu Ningrum; Abul Haris Suryo Negoro; Didin Erma Indahyani; Kusnadi; Yanuar Nurdiansyah
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 15 No. 1 (2023): JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jipk.v15i1.34888

Abstract

Highlight Research Fish and shellfish on the coast of Payangan and Puger Several types of microplastics were detected in their gastrointestinal tract There were microplastic types of fiber, fragments, granules, and filaments Abstract Every year, it is estimated that the Indonesian seas receive 100,000-400,000 tons of plastic waste used for human consumption. Indiscriminate disposal of plastic waste will have an impact in the future. The problem of microplastics is an illustration that the use of plastic in daily activities will cause environmental ecological damage. The purpose of the study was to describe microplastic contamination in marine fish and shells in the coastal areas of Jember Regency, Indonesia. The method used is to detect and identify the type and numbers of microplastic particles in the gastrointestinal tract content of sea fish and shells obtained from fishermen around Payangan and Puger coastal Jember, Indonesia. The gastrointestinal tract was extracted with peroxide oxidation method (WPO). A light microscope was used to examine microplastic particles of types and numbers. The results showed that marine fish and shells in the coastal area of Jember Regency, Indonesia have been contaminated with microplastic. The microplastic in each marine fish and shells sample has a different type. There were microplastic types of fiber, fragments, granules, and filaments in the shells sample, while in the marine fish samples, there were all these types except granules. Fish and shellfish on the coast of Payangan and Puger had several types of microplastics detected in their gastrointestinal tract.
Penggunaan Serbuk Piper ornatum sebagai biopesticide larva lalat rumah Musca domestica Anita Dewi Moelyaningrum; Violita Pita Nugraheni; Prehatin Trirahayu Ningrum
BIOEDUSCIENCE Vol 4 No 1 (2020): BIOEDUSCIENCE
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/j.bes/414341

Abstract

Background: Red betel (Piper ornatum) contains several compounds including flavonoids, alkaloids, tannins, and essential oils that have the ability as bioinsecticides. The purpose of this study was to analyze the differences in the number of deaths of house fly larvae (Musca domestica) exposed to red betel in the control group (0%) and the treatment group with a concentration of 1%; 1.5% and 2% for 24 hours. Methods: used is true experimental method with only posttes control group design. There were 4 treatments with 6 replications per treatment. Each treatment was described on 8 larvae, so the number of larvae used in this study was 192 tails. Results: Research shows that red betel powder is indeed effective in killing Musca domestica larvae, but it still requires a long time, which is at least 24 hours. Concentration is needed at least 2% if used as a biopesticide to reduce the density of flies. Conclusion: There was no significant difference in the mortality of Musca domestica larvae in the administration of red betel powder (Piper ornatum.
KESIAPAN PUSKESMAS MENUJU BADAN LAYANAN UMUM DAERAH (BLUD) DI WILAYAH KABUPATEN JEMBER Herawati, Yennike Tri; Baroya, Ni’mal; Sandra, Christyana; Sulistiyani, Sulistiyani; Ramani, Andrei; Ningrum, Prehatin Trirahayu; Akbar, Kurnia Adriansyah
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 18 No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/ikesma.v18i1.31491

Abstract

Badan Layanan Umum Daerah yang selanjutnya disingkat BLUD adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah di lingkungan pemerintah daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan, dan dalam melaksanakannya kegiatan didasarkan pada prinsip-prinsip efisiensi dan produktivitas. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 79 Tahun 2018 suatu Unit Pelaksana Teknis Daerah dapat menerapkan BLUD apabila meyelenggarakan pelayanan umum baik sebagai penyediaan barang maupun jasa layanan umum kepada masyarakat terutama untuk penyedia pelayanan kesehatan. Unit – unit di bidang kesehatan yang dapat menerapkan BLUD diantaranya adalah puskesmas, rumah sakit, dan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda). Penyelenggaraan BLUD di Puskesmas bertujuan untuk memberikan keleluasaan bagi pemberi pelayanan kesehatan dalam memberikan dan meningkatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di wilayah puskesmas. Akan tetapi untuk dapat menerapkan kebijakan BLUD tersebut puskesmas harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan baik itu persyaratan substantif, teknis, maupun administratif serta kesiapan struktur birokrasi, sumber daya organisasi, dan budaya organisasi. Analisis dilakukan terhadap 10 puskesmas terpilih di wilayah Kabupaten Jember yaitu Puskesmas Kaliwates, Ajung, Klatakan, Patrang, Sumberbaru, Lojejer, Kalisat, Silo 2, Sukowono, dan Sumberjambe. Hal ini dilakukan mengingat belum adanya puskesmas berstatus BLUD di wilayah tersebut. Mayoritas puskesmas sudah mendapatkan sosialisasi dan siap meningkatkan status mejadi BLUD namun perlu adanya dasar regulasi yang kuat, sumber pembiayaan dan melengkapi fasilitas dan sumber daya manusia terutama tenaga akuntan yang dibutuhkan untuk mendukung terbentuknya puskesmas BLUD. Puskesmas juga diharapkan melakukan survey kepuasan pelanggan sebagai salah satu indikator persyaratan yang harus dipenuhi untuk mengajukan diri sebagai puskesmas BLUD
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMBAYARAN KAPITASI BERBASIS PEMENUHAN KOMITMEN PELAYANAN (KBKP) DI KABUPATEN JEMBER Sandra, Christyana; Tri Herawati, Yennike; Baroya, Ni'mal; Sulistiyani, Sulistiyani; Ningrum, Prehatin Trirahayu; Akbar, Kurnia Ardiansyah; Ramani, Andrei
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 17 No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/ikesma.v17i1.22441

Abstract

Kapitasi berbasis pemenuhan komitmen pelayanan (KBKP) merupakan salah satu sistem pembayaran dalam program jaminan kesehatan nasional pada puskesmas untuk meningkatkan pelayanan yang efektif dan efisien sehingga mutu layanan yang diberikan dapat terjaga. Kabupaten Jember sebagai salah satu kabupaten yang menjalankan kebijakan tersebut, namun diketahui terdapat kendala dalam pelaksanaan kebijakan tersebut. Penilaian terhadap puskesmas melalui KBKP dilihat berdasarkan pencapaian indikator yang meliputi angka contact rate, rasio rujukan rawat jalan non spesialistik, rasio peserta prolanis dan 1 indikator tambahan yaitu kunjungan rumah. Namun pelaksanaan kebijakan ini terdapat beberapa permasalahan yang dapat menghambat pencapaian target. Penelitian ini menggunakan metode Riset Implementasi. Riset ini membahas berbagai masalah implementasi dalam konteks yang beragam dimana pengambilan datanya dilakukan secara kualitatif (indepth interview) dan kuantitatif (analisis data sekunder). Evaluasi pelaksanaan KBKP tahun 2016 menunjukkan masih banyaknya tantangan dan hambatan sehingga BPJS Kesehatan mengeluarkan petunjuk teknis terkait KBKP. Tujuan penyusunan petunjuk teknis tersebut adalah memberikan panduan bersama pelaksanaan pembayaran kapitasi berbasis pemenuhan komitmen pelayanan di FKTP. Pemerintah daerah diketahui kurang terlibat dalam kebijakan KBKP tersebut, tidak terdapat kebijakan yang mendukung kebijakan KBKP di tingkat kabupaten. Pencapaian target indikator yang telah ditetapkan dalam regulasi KBKP masih sulit dicapai oleh puskesmas khususnya pada indikator contact rate, pencapaian target indicator contact rate hanya 15 puskesmas (30%). Pencapaian indikator rujukan non spesialistik yang telah ditetapkan dalam regulasi KBKP selalu dapat dicapai oleh puskesmas (100%), namun indikator prolanis target pencapaiannya hanya 38 puskesmas dari 50 puskesmas yang dapat mencapai (76%). Sulitnya pencapaian target indikator contact rate karena petugas kesehatan di puskesmas tidak sempat meng-entry data kontak sehat dan kontak sakit pada aplikasi P Care. Diketahui KBKP dapat meningkatkan kepuasan peserta karena memaksa puskesmas untuk meningkatkan contact rate dengan peserta JKN dan merasa di ‘spesial’kan dengan program prolanis. Kebijakan KBKP juga dapat meningkatkan mutu pelayanan puskesmas karena puskesmas harus meningkatkan sarana prasarana agar 145 diagnosis tersebut dapat diselesaikan.
ANALISIS KANDUNGAN KADMIUM (Cd) DAN TIMBAL (Pb) PADA IKAN BELANAK DI WILAYAH INDUSTRI PESISIR KECAMATAN MANYAR DAN GRESIK Romdhonia, Nur Firdausa; Pujiati, Rahayu Sri; Ningrum, Prehatin Trirahayu
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 19 No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/ikesma.v19i3.38926

Abstract

Keberadaan industri di Kabupaten Gresik menjadi salah satu sumber pencemaran lingkungan termasuk terjadinya pencemaran perairan di Wilayah Industri Pesisir Kecamatan Manyar dan Gresik, tidak ada pembuangan khusus limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3) menyebabkan banyaknya pengaduan terkait pembuangan limbah B3 secara liar. Jenis limbah B3 dari proses produksi dua diantaranya adalah kadmium dan timbal. Sifat logam berat yang dapat terakumulasi dalam tubuh makhluk hidup (salah satunya manusia) akan mempengaruhi kualitas hidup dan dapat menimbulkan masalah kesehatan pada rentang waktu tertentu. Tujuan adanya penelitian ini adalah untuk mengukur dan menganalisis kadar kadmium dan timbal pada ikan belanak. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan metode survei yang dilakukan di pantai utara. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan Teknik incidental sampling pada September 2021 yang dibantu oleh nelayan setempat dengan menggunakan jaring. Kriteria sampel, ikan belanak yang tertarik pada titik sampel yang telah ditentukan, sampel ikan yang didapatkan kemudian dianalisis dengan metode Atomic Absorption Spectrometer (AAS) di salah satu laboratorium di Surabaya. Data kadar kadmium dan timbal pada ikan belanak akan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis data univariat. Hasil uji kadar kadmium dan timbal dibandingkan dengan nilai baku mutu yang telah ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia 7378:2009 terkait Batas Maksimum Cemaran Logam Berat dalam Pangan. Kadar kadmium di bawah 0,1 mg/kg atau berkisar antara (-1,1663 sampai -0,0751 mg/kg) sedangkan nilai timbal berada di bawah 0,3 mg/kg atau berkisar antara (-1,2414 sampai -0,5665 mg/kg). Sehingga ikan belanak layak untuk dikonsumsi masyarakat namun tidak berlebihan. Batas maksimum yang dapat ditolelir oleh manusia dalam mengonsumsi ikan belanak dalam satu minggu untuk orang dewasa 12,5 g (setengah ekor ikan belanak ukuran sedang) dan untuk anak-anak 3.75 g (seperempat ekor ikan belanak ukuran sedang). Konsumsi kadmium pada lingkungan yang tercemar jika perhari mencapai 140-260 gram/hari dapat menyebabkan proteinuria. FAO menetapkan asupan kadmium bulanan sementara yang dapat ditoleransi pada tahun 2010 adalah sebesar 25 g/kg berat badan.
Identifikasi Kelimpahan Partikel Mikroplastik pada Gula Pasir di Indonesia sincihu, yudhiakuari; Morina, Shella; Sudewi, Ni Putu; Mulyasari, Tri Marthy; Ningrum, Prehatin Trirahayu; Steven; Dewi, Dewa Ayu Liona
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal Vol. 3 No. 3 (2023): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37148/comphijournal.v3i3.123

Abstract

Microplastics (plastic particles <5 millimeters in diameter) have become a novel food contaminant for humans.Microplastics was estimated that children consume 106-113 microplastics per day and 126-142 particles in adults.The main prevention effort is to identify the presence of plastic particles in food, one of which is sugar. Microplasticsthat are in the digestive tract can enter the bloodstream and distributed to other parts of the body. These particlescannot be destroyed by the body's cellular mechanisms, thus triggering inflammation, genotoxicity, hypersensitivity,oxidative stress, and cell death. The aim of the study was to measure the number of particles, shape and diameter ofplastic particles as contaminants in refined sugar produced in Indonesia. Quantitative descriptive research using 16sugar brands that are produced, known and widely consumed in Indonesia. The research was carried out at theClinical Pathology Laboratory, Widya Mandala Surabaya Catholic University. Quantification of the number, shapeand diameter of plastic particles using a microscope. The examination results showed that all sugar samples containedplastic particles between 5-100 MPs/50 gram of sugar, most of the contaminants were in the form of pellets, and thelargest particle diameter was 367µm.
PENGGUNAAN ARANG AKTIF KULIT DURIAN (Durio zibethinus Murr) TERHADAP TINGKAT ADSORPSI KROMIUM (Cr6+) PADA LIMBAH BATIK Moelyaningrum, Anita Dewi; Zarkasi, Kharta; Ningrum, Prehatin Trirahayu
Efektor Vol 5 No 2 (2018): Efektor Vol 5 No 2 Tahun 2018
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.471 KB) | DOI: 10.29407/e.v5i2.12069

Abstract

Chromium (Cr6+) is a heavy metal that often finds in the batik wastewater. The activated carbon of durian peel (Durio zibethinus Murr.) Is an adsorbent which can adsorb heavy metals in the batik wastewater. The purpose of this study to analyze the effectiveness of the durian peel activated carbon to adsorb Cr6+ in the batik wastewater. This research was the true experiment with six repetitions. The sample consists of the control group (C) and the treatment groups (X1, X2, X3). Adsorption has done by using the mass of durian peel activated carbon 20 gr/litter (X1), 30 gr/ litter (X2), and 40 gr/ litter (X3). Each sample contacted with batik wastewater stirred by jar test with a speed of 400 rpm for one minute, then it allowed to stand 30 minutes. After that, the results compared with the control group. Data were analyzed by Kruskal-Wallis test and Mann-Whitney test. The results show that there was the difference between the control group and the treatment groups (p = 0.017). The most significant differences occurred in the third treatment group (X3) (p= 0.029).