Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

PERBEDAAN RETENSI MEMORI PASCA PENYULUHAN KELUARGA BERENCANA DENGAN MEDIA CERAMAH DAN VIDEO PADA WANITA USIA SUBUR Dila Muflikhy Putri; Firdaus Wahyudi; Ani Margawati
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.087 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14267

Abstract

Latar Belakang : Jumlah penduduk Indonesia diprediksi akan terus melonjak karena Total Fertility Rate (TFR) wanita Indonesia sebesar 2,6 anak. Penggunaan Kontrasepsi Modern /CPR yang menjadi salah satu faktor jumlah TFR belum mencapai target MDG’s 2015. Peningkatan pelayanan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) berupa penyuluhan dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kepesertaan Keluarga Berencana (KB) dan memecahkan masalah kependudukan. Penyuluhan dengan ceramah (unimodal) dan video (multimodal) akan menghasilkan peningkatan pengetahuan dan retensi memori yang berbeda. Diperlukan media yang tepat untuk meningkatkan pengetahuan dan retensi memori tentang KB untuk menahan lonjakan jumlah penduduk Indonesia.Tujuan : Membuktikan perbedaan retensi memori pasca penyuluhan KB dengan media ceramah dan video pada wanita usia subur (WUS).Metode : Penelitian quasi-experimental dengan two group pre and post test design pada responden wanita usia subur menggunakan purposive sampling. Responden diberi pretest kemudian diberikan penyuluhan KB dengan media ceramah pada kelompok 1 dan dengan video pada kelompok 2, lalu diberi post test 1. 7 kemudian, responden diberi post test 2. Selisih pretest dan post test 1 merupakan pengetahuan, sedangkan selisih post test 1 dan post test 2 merupakan retensi memori yang dianalisis dengan uji T berpasangan, uji Wilcoxon, uji T tidak berpasangan, uji Mann-Whitney, dan Uji Chi-Square.Hasil : Terdapat peningkatan pengetahuan pasca penyuluhan KB dengan media ceramah (p=0,00) dan media video (p=0,00) yang signifikan. Tidak terdapat perbedaan peningkatan pengetahuan yang signifikan antara kelompok dengan penyuluhan ceramah dan kelompok dengan penyuluhan video (p=0,71). Terdapat penurunan memori 7 hari pasca penyuluhan KB dengan media ceramah (p=0,00) dan dengan media video (p=0,00) yang signifikan. Terdapat perbedaan yang signifikan pada retensi memori pasca penyuluhan KB kelompok dengan penyuluhan ceramah yang lebih rendah dari kelompok dengan penyuluhan video (p=0,00).Kesimpulan : Retensi memori pasca penyuluhan Keluarga Berencana dengan media ceramah lebih rendah dari retensi memori pasca penyuluhan Keluarga Berencana dengan media video.
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DAN ASPEK PERILAKU DENGAN STATUS KONTROL GLIKEMIK PASIEN DIABETES MELITUS DI RSUP DR. KARIADI Hefa Aghna Fauzia; Heri-Nugroho Heri-Nugroho; Ani Margawati
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.881 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.20785

Abstract

Latar belakang : Jumlah kasus diabetes melitus di indonesia sebanyak 8,4 juta jiwa tahun 2010. Jumlah kasus di Jawa tengah tahun 2013 sebesar 9,376 kasus. Penyakit diabetes termasuk 10 besar kasus di RSUP Dr. Kariadi. Komplikasi diabetes melitus mencakup mikrovaskular dan makrovaskular yang berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas pasien DM. Ketidakpahaman pasien terhadap terapi yang sedang dijalaninya menjadi penyebab kegagalan terapi. Tujuan : Menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dan aspek perilaku dengan status kontrol glikemik pada pasien diabetes mellitus di Poliklinik Penyakit Dalam RSUP Dr. Kariadi Semarang.Metode penelitian : Observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Pengambilan subjek dilakukan dengan cara purposive sampling. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari rekam medis RSUP Dr. Kariadi dan data primer menggunakan instrumen kuesioner pengetahuan dan perilaku. Subjek penelitian sebanyak 45 pasien DM yang dirawat inap maupun rawat jalan di RSUP Dr. Kariadi. Analisis statistik menggunakan uji chi square dan Rasio Prevalensi.Hasil : Rata-rata usia responden adalah 57 tahun, 23% responden berjenis kelamin perempuan, tingkat pendidikkan respoden dengan jumlah terbanyak adalah  SD, 29% responden bekerja, dan 27% responden terkena DM selama > 5 tahun.Hasil uji hipotesis hubungan tingkat pengetahuan dengan status kontrol glikemik didapatkan nilai signifikansi p = 1,00 (p> 0,05), ini menunjukkan hubungan yang tidak bermakna. Hasil uji hipotesis hubungan aspek perilaku dengan status kontrol glikemik didapatkan nilai signifikansi p = 0,35 (p> 0,05), menunjukkan hubungan yang tidak bermakna.Simpulan : Tidak ada hubungan yang bermakna antara usia, jenis kelamin, tingkat pendidikkan, pekerjaan, lama menderita, pengetahuan, dan perilaku dengan status kontrol glikemik (p> 0,05).
PENGARUH PEMBERIAN INJEKSI KETOROLAC INTRAPERITONEAL TERHADAP PENYEMBUHAN FRAKTUR KRURIS TIKUS WISTAR DEWASA Ivandy Fam; Yan Wisnu Prajoko; Ani Margawati
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.401 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14482

Abstract

Latar belakang: Obat anti inflamasi non-steroidal (NSAID) terbukti efektif dalam menangani nyeri fraktur. Namun, berbagai penelitian telah membuktikan bahwa pemberian NSAID jangka panjang dapat menghambat penyembuhan fraktur. Ketorolac, NSAID non-spesifik, merupakan salah satu obat yang paling banyak digunakan pada kasus fraktur. Durasi penggunaan ketorolac dianjurkan maksimal 5 hari, karena penggunaan lebih lama diasosiasikan dengan efek samping berat. Belum diketahui apakah penggunaan ketorolac dalam 5 hari dapat menghambat penyembuhan fraktur.Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian injeksi ketorolac intraperitoneal terhadap penyembuhan fraktur kruris tikus wistar dewasa.Metode: Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan post-test only control group design. Sampel tikus wistar dewasa sejumlah 20 ekor dibagi acak menjadi kelompok kontrol dan perlakuan. Dilakukan frakturisasi tertutup pada kruris kanan tikus, dan difiksasi dengan bidai gips. Kelompok kontrol diberikan pakan dan minum standar selama 21 hari, sedangkan kelompok perlakuan diberikan injeksi ketorolac 5mg/kgBB selama 5 hari pertama, kemudian dilanjutkan dengan pakan dan minum standar sampai hari yang ke 21. Pada hari ke 22 tikus diterminasi dengan overdosis chloroform, dan tulang kruris kanan di diseksi. Kalus fraktur kemudian dibuat preparat histologi menggunakan pengecatan HE, dan dibaca menggunakan mikroskop cahaya. Penilaian maturasi kalus fraktur menggunakan scoring Allen yang telah dimodifikasi.Hasil: Kelompok perlakuan menunjukkan penghambatan penyembuhan fraktur yang signifikan, dengan rerata skor maturasi kalus 3.67±0.27, dibanding dengan kelompok kontrol dengan rerata skor 44.38±0.302. Hasil uji independent t-test menunjukkan perbedaan yang bermakna dengan p=0.001.Simpulan: Pemberian injeksi ketorolac intraperitoneal selama 5 hari dapat menghambat penyembuhan fraktur kruris tikus wistar dewasa.
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS SATU PAKET PROGRAM TERAPI SWD DAN TENS TERHADAP PENGURANGAN NYERI PADA PASIEN LOW BACK PAIN MEKANIK Adventina Silalahi; Tanti Ajoe Koesoma; Ani Margawati
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.915 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14198

Abstract

Latar Belakang : Low Back Pain (LBP) merupakan salah satu keluhan paling sering dijumpai yang menyebabkan disabilitas untuk melakukan kegiatan sehari-hari. LBP juga merupakan salah satu keluhan muskuloskeletal yang paling umum dijumpai pada populasi orang dewasa. Terdapat berbagai macam modalitas terapi fisik untuk mengurangi nyeri, diantaranya adalah terapi Short Wave Diatermy (SWD) dan Trancutaneus Electrical Nerve Stimulation (TENS). Terapi tersebut terbukti bermanfaat dan menjadi terapi yang sering digunakan di RSUP Dr.Kariadi Semarang.Tujuan : Mengetahui efek pengurangan nyeri pada penderita LBP Mekanik yang mendapat satu paket program terapi SWD dan TENS yang dirujuk ke instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Dr.Kariadi Semarang.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian di bidang Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan data sekunder (Rekam medik pasien). Subjek penelitian adalah pasien penderita LBP mekanik di Poliklinik Rehabilitasi Medik RSUP Dr.Kariadi Semarang.Hasil : Ada pengurangan intensitas nyeri secara bermakna sebelum dan sesudah terapi TENS (p = 0,000). Begitu juga pasien dengan terapi SWD, terjadi pengurangan intensitas nyeri secara bermakna sebelum dan sesudah terapi ( p = 0,000 ). Tidak terdapat perbedaan rerata selisih nilai Visual Analogue Scale (VAS) yang bermakna antara pasien LBP mekanik yang mendapatkan terapi TENS dangan pasien LBP mekanik yang mendapatkan terapi SWD (p = 0,109 ).Kesimpulan : Satu paket program terapi TENS sama efektifnya dengan satu paket program terapi SWD untuk mengurangi nyeri pada pasien dengan LBP mekanik.
HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN STATUS TUBERKULOSIS PARU LESI LUAS Radityo Utomo; Heri-Nugroho Heri-Nugroho; Ani Margawati
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15782

Abstract

Latar Belakang : Tuberkulosis paru (TB paru) merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan sampai saat ini masih menjadi masalah yang penting dalam kesehatan di dunia khususnya di negara berkembang. Salah satu faktor risiko tuberkulosis adalah diabetes melitus. Pasien DM memiiki 2 hingga 3 kali risiko untuk menderita TB dibanding orang tanpa DM.Tujuan : Membuktikan hubungan antara DM tipe 2 dengan status tuberkulosis paru lesi luas. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan rancangan studi belah lintang. Besar sampel dalam penelitian ini adalah 43 sampel yang merupakan pasien tuberkulosis yang berobat di BKPM Semarang. Pengukuran variabel dilakukan dengan cara pemeriksaan kadar gula darah dengan tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO), pemeriksaan foto rontgen, wawancara, dan rekam medis. Variabel perancu dalam penelitian ini adalah kebiasaan merokok, status gizi, kondisi rumah, status sosial ekonomi, jenis kelamin, dan umur. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji Chi-Square dan Mann-Whitney untuk bivariat. Sedangkan untuk multivariat menggunakan uji regresi logistik. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara diabetes melitus tipe 2 dengan tuberkulosis paru lesi luas (p=0,03). Diabetes melitus tipe 2 dapat meningkatkan risiko status tuberkulosis paru lesi sebanyak 5,25 kali.Variabel perancu yang bermakna dalam penelitian ini adalah kebiasaan merokok (p=0,01) dan status gizi (p=0,02).Simpulan : Terdapat hubungan yang bermakna antara diabetes melitus tipe 2 terhadap status tuberkulosis paru lesi luas.
HUBUNGAN ANTARA KADAR ALBUMIN SERUM PRAOPERASI DENGAN ILEUS PASCALAPAROTOMI PERFORASI ULKUS PEPTIKUM David Setiadarma; Parish Budiono; Ani Margawati
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 4 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.095 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i4.22258

Abstract

Latar Belakang: Ileus pascalaparotomi perforasi ulkus peptikum merupakan ileus paralitik yang terjadi setelah dilakukannya laparotomi. Pemeriksaan kadar albumin serum praoperasi merupakan salah satu pemeriksaan yang dilakukan sebelum dilakukannya laparotomi. Diharapkan kadar albumin memiliki hubungan dengan ileus pascalaparotomi, sehingga dapat memprediksi terjadinya ileus pascalaparotomi perforasi ulkus peptikum untuk kemudian dapat dilakukan intervensi lebih lanjut untuk menurunkan komorbiditas, lama tinggal, dan biaya perawatan di rumah sakit.Tujuan: Mengetahui hubungan antara kadar albumin serum praoperasi dengan ileus pascalaparotomi perforasi ulkus peptikum melalui waktu pertama flatus, waktu pertama BAB, dan waktu pertama menerima makanan padat.Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik prospektif dengan desain cross sectional. Sampel adalah pasien pascalaparotomi perforasi ulkus peptikum dan dirawat inap di RSUP Dr. Kariadi periode Juli 2017-Maret 2018.Hasil: Dari 25 sampel, didapatkan 18 (72%) laki-laki dan 7 (28%) perempuan dengan rerata usia 52,92±14,99 tahun. Terdapat hubungan yang berbanding terbalik secara signifikan kuat antara kadar albumin serum praoperasi dengan waktu pertama flatus (p<0,001; r=-0,715), waktu pertama BAB (p<0,001; r=-0,679), dan waktu pertama menerima makanan padat (p<0,001; r=-0,675). Didapatkan cut-off point dari kadar albumin serum praoperasi sebesar 2,95 g/dL.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara kadar albumin serum praoperasi dengan ileus pascalaparotomi perforasi gaster.Kata Kunci: kadar albumin serum praoperasi, ileus pascalaparotomi perforasi ulkus peptikum, waktu pertama flatus, waktu pertama BAB, waktu pertama menerima makanan padat.
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF Wilda Umami; Ani Margawati
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 4 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.527 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i4.22265

Abstract

Latar Belakang: Pemberian ASI eksklusif merupakan salah satu upaya untuk memperoleh tumbuh kembang bayi yang baik. Karena ASI mengandung semua nutrisi penting yang diperlukan bayi untuk tumbuh kembangnya dan mengandung zat antibodi untuk kekebalan tubuh bayi. Seringkali ibu tidak dapat memberikan ASI kepada anaknya dengan baik disebabkan oleh banyak faktor.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif di Kecamatan Semarang Utara.Metode: jenis penelitian ini adalah observasional dengan desain penelitian cross sectional . Sampel diambil dengan teknik purposive sampling dan didapatkan 34 orang, yaitu ibu menyusui yang memiliki balita di Kecamatan Semarang Utara yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan menggunakan metode wawancara dengan instrumen berupa kuesioner.Hasil: Teknik analisis yang digunakan adalah analisis analisis bivariat (uji Fisher). Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan antara Pendidikan dengan pemberian ASI eksklusif (p = 0,578). Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan pemberian ASI eksklusif (p = 0,539). Tidak terdapat hubungan antara pendapatan dengan ASI eksklusif (p = 0,683). Terdapat hubungan antara dukungan Keluarga dengan pemberian ASI eksklusif (p = 0,002). Tidak terdapat hubungan antara pekerjaan dengan ASI eksklusi (p = 0,394). Simpulan: tidak terdapat hubungan antara pendidikan, pengetahuan, pendapatan, ibu yang bekerja dan tidak bekerja dengan pemberian ASI eksklusif dan terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan pemberian ASI eksklusif.Kata Kunci: ASI eksklusif, faktor – faktor
PENGARUH CIRCUIT TRAINING TERHADAP NILAI ARUS PUNCAK EKSPIRASI PADA ANAK OBESITAS Andi Wicaksono; Erna Setiawati; Ani Margawati
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.218 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14223

Abstract

Latar Belakang : Obesitas merupakan suatu kondisi dimana terdapat akumulasi lemak abnormal di jaringan adiposa yang mengganggu kesehatan, dimana dapat diketahui melalui Index Masa Tubuh (IMT). Seorang anak dapat dikatakan obesitas apabila IMT ≥ 95 persentil sesuai grafik pertumbuhan. Salah satu masalah yang dapat ditimbulkan dengan adanya obesitas adalah permasalahan sistem respirasi. Fungsi sistem respirasi dapat diketahui salah satunya dengan pengukuran arus puncak respirasi (APE). Untuk mengatasi permasalahan yang ditimbulkan oleh obesitas adalah dengan melakukan latihan salah satunya berupa latihan sirkuit. Belum ada penelitian tentang pengaruh latihan sirkuit terhadap APE.Tujuan : Menganalisa perbedaan nilai arus puncak ekspirasi sebelum dan setelah pemberian latihan sirkuit pada anak obesitas.Metode : Penelitian kuasi eksperimental ini menggunakan metode satu kelompok pretes postes dengan sampel sebanyak 17 anak obesitas. Subjek penelitian diberikan perlakuan dengan latihan sirkuit 2 kali dalam seminggu selama 6 minggu. Subjek penelitian diukur APE menggunakan peak flow meter sebelum dan sesudah 6 minggu pemberian latihan sirkuit.Hasil : Terdapat peningkatan nilai APE anak obesitas setelah melakukan latihan sirkuit selama 6 minggu dibandingkan dengan sebelum melakukan latihan sirkuit . Dimana APE sebelum melakukan latihan sirkuit 232,93 ± 22,29 L∕menit menjadi 257,06 ± 21,14 L∕menit setelah melakukan latihan sirkuit.Simpulan : Pemberian latihan sirkuit pada anak obesitas meningkatkan nilai APE
ASSOCIATION BETWEEN HEMOGLOBIN LEVEL AND BODY MASS INDEX IN THE FIRST TRIMESTER OF PREGNANCY WITH BIRTHWEIGHT IN TEMBALANG Saniya Millatina; Nurul Setiyorini; Vannya Dewi Puspitasari; Ani Margawati
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro )
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.81 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v9i1.26569

Abstract

Background: Low birthweight babies (LBW) have a risk of death 10-20 times greater than normal birthweight babies. Data from Semarang Health Office in 2018, there were 24 cases of LBW in Tembalang. Low nutrional status, namely low body weight and anemia were the risk factor of LBW incident. Objective: To analyze the association features between hemoglobin levels and body mass index in the first trimester of pregnancy with LBW in Tembalang. Methods: This was a observational research with cross sectional analytic design. Respondents were mothers who met the criteria and randomly selected using simple random sampling. There were 44 respondents in this research. The independent variables are body mass index and hemoglobin levels in the first trimester with birthweight as dependent variables. Data is obtained from structured questionnaires and medical records or maternal KIA book. Chi-Square and logistic regression are used to analyze the data. Result: Respondents were mother, who did first trimester antenatal care at the Government's First Health Care Facility in the Tembalang. The majority are multiparity (56,8%), had normal midd-upper arm circumference (72,7%), had weight gain during pregnancy below recommendation (50%), had high compliance of blood vitamin consumption (68,2%), non-work status (59,1%), senior high school graduate (59,1%), and had good family income (52,3%). Analysis result showed there were no significant association between first trimester body mass index and birthweight (p=0,061), also between first trimester hemoglobin level and birthweight (p=1,000). Analysis from the two independent variables also showed no significat association with birthweight (p = 0,877). Conclusion: Most of the respondents had good nutritional status with hemoglobin level and body mass index features in the first trimester showed normal value. Average birthweight also in the normal value and the incidence of LBW is low. The research analyst showed no significant association between first trimester of body mass index and hemoglobin levels with birthweight.Keywords: Birthweight, Body Mass Index, Hemoglobin
PERBEDAAN JENIS PEKERJAAN IBU DENGAN KUANTITAS PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF ( STUDI KASUS DI KECAMATAN SEMARANG UTARA ) Winarning Dinanti; Ani Margawati
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.29 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18649

Abstract

Latar Belakang: Air susu ibu bermanfaat bagi kesehatan bayi karena mengandung gizi tinggi serta dapat melindungi bayi dari penyakit infeksi. Data Dinas Kesehatan Kota Semarang menyatakan cakupan pemberian ASI eksklusif tahun 2014 adalah 64,7% , hal ini belum mencapai target nasional yaitu 80 %.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan jenis pekerjaan ibu dengan kuantitas pemberian ASI eksklusif.Metode: Desain penelitian ini adalah studi cross sectional yang dilakukan dengan pendekatan kuantitatif. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling dan didapatkan 40 orang, yaitu ibu yang bekerja sebagai buruh pabrik dan PNS yang memiliki balita di Kecamatan Semarang Utara yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan menggunakan metode wawancara dengan intrumen berupa kuesioner.Hasil: Teknik analisis yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis bivariat ( uji chi square dan uji Fisher). Penelitian ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan ibu yang bekerja sebagai buruh pabrik dan PNS dengan pemberian ASI eksklusif ( p=0,197 ), frekuensi pemberian ASI dalam sehari (p=0,327) dan lamanya pemberia ASI (p=0,322). Hal yang menjadi faktor lain yaitu pendidikan,pengetahuan,perilaku, dukungan suami, pendapatan juga tidak terdapat perbedaan dengan kuantitas pemberian ASI eksklusif.Simpulan: Jenis pekerjaan ibu antara buruh pabrik dan PNS tidak terdapat perbedaan yang signifikan dengan kuantitas pemberian ASI eksklusif.