Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Register in The Good Doctor Movie Muhammad Fadli Hasan; Ansor Putra; Rasiah Rasiah
ELITE: Journal of English Language and Literature Vol. 8 No. 2 (2023): Vol. 8 No. 2, December 2023
Publisher : Program Studi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/elite.v8i2.2216

Abstract

This study aims to describe the types and functions of register used in The Good Doctor (season 5 episode 18). This research is qualitative and descriptive with The Good Doctor movie as the data source. The data were collected by watching, annotating, and coding. Analysis by presenting, describing, analyzing, and concluding the data. This research found there are 60 utterances of type of registers used in the movie such as Frozen, Formal, Consultative, Casual, and Intimate. Then, the researcher also found that there are sixty-six data on the function of the register including Emotive (13), Directive (21), Referential (26), Peotic (1), and Phatic (5). In this movie, the researcher found all types of registers used by characters. For the function of the register, the researcher only found five of six functions in the movie. The most used type of register is the casual register with twenty-eight data and referential is most used by characters in the movie with twenty-six data. The use of a casual register can reflect a more relaxed speaking style, not overly formal, and closer to everyday conversation. The metalinguistic function was not found because there are no situations where characters have a conversation that refers to the metalinguistic function in the movie.
The Formula of Romance in the Redeeming Love (2022) Movie Jusrianti; Rasiah Rasiah; Arman Arman
ELITE: Journal of English Language and Literature Vol. 9 No. 1 (2024): Vol. 9 No. 1 June 2024
Publisher : Program Studi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/elite.v9i1.2630

Abstract

This research aims to analyze the formula of romance in the Redeeming Love (2022) movie. The focus of the problem is the convention and invention formula of romance in the Redeeming Love (2022) movie. The theory of Formula from John G. Cawelti analyzes the problem. This research method is descriptive qualitative. The data in this research is collected by watching the movie, taking notes, identifying, describing, interpreting, and analyzing the data, and concluding the results of the analysis. From the results of the analysis, the researcher found convention and invention in the movie. In terms of convention, this movie still maintains the romance formula, such as; (1) The plot of romance still consists of their first meeting, the man winning the woman, the conflict, and the happy ending. (2) The figure of romance still the presence of the hero and heroine namely Michael and Angel. (3) The setting of romance consists of a place setting on a hill, a time setting such as in the morning, afternoon, and evening, and an atmosphere setting such as happy, regretful, angry, tense, sad, worried, and afraid. As for the invention of new romance elements found in the movie, such as;  (1) Romance narrative structure using a mixed pattern of Cinderella pattern, Pamela pattern, and contemporary pattern, (2) The character of romance, such as; the hero is described as an ordinary, popular and beautiful heroine, and heroine who has a stubborn nature, (3) The plot of romance, such as; Hero gives up on heroine.
Naluri Kematian Tokoh Utama Dalam Cerpen "Sedap Malam Yang Cemburu" CEMBURU” KARYA D. PURNAMA Mustika Mustika; Rasiah Rasiah; Boy Candra Ferniawan
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 12 No. 2 (2021): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v12i2.1961

Abstract

Keganjilan psikologis tokoh dalam cerpen menjadi keunikan cerita. Tokoh utama lelaki dalam cerpen memiliki kepribadian feminin (yang bernama Sedap Malam) dan maskulin. Sedap Malam pada akhirnya memotong alat kelamin si lelaki. Hal ini disebut sebagai naluri kematian dalam konsep psikoanalisis Sigmund Freud. Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk menganalisis cerpen “Sedap Malam yang Cemburu” karya D. Purnama dengan tinjauan psikoanalisis Sigmund Freud untuk memahami bagaimana dinamika kepribadian atau kondisi tokoh yang mendorongnya untuk mengakhiri hidupnya dan bagaimana naluri kematiannya bekerja. Berdasarkan hasil penelitian, si lelaki adalah tokoh biseksual yang sebelumnya merasa nyaman dengan kepribadian feminin dan maskulin dalam dirinya. Sedap Malam adalah metonimi dari kepribadian feminin si lelaki yang dalam perkembangannya ingin agar si lelaki benar-benar bisa konsisten hanya dengan satu kepribadian, yaitu feminin. Di sisi lain, hasrat dari kepribadian maskulinnya juga tetap tergoda untuk bercinta dengan tubuh perempuan. Hal ini pun sejalan dengan sikapnya yang ingin memenuhi norma masyarakat yang cenderung menolak biseksual. Namun kepribadian feminin dalam dirinya juga begitu kuat, sehingga ada rasa dilema dalam dirinya untuk memilih antara kepribadian feminin atau maskulin. Hal ini membuatnya cemas dan begitu depresi. maka rasa depresi yang dialaminya mendorongnya untuk memenuhi naluri kematiannya atau melakukan pengrusakan terhadap dirinya sendiri. Naluri kematiannya dipicu oleh perasaan untuk membebaskan diri dari perasaan depresi yang dalam. Upaya memenuhi naluri kematiannya dianggap sebagai jalan untuk memutuskan segala kebimbangannya.Kata Kunci: Naluri Kematian, Cerpen, Psikoanalisis Freud
Perempuan dan Alam: Sebuah Kajian Ekofeminisme pada Novel Haniyah Dan Ala Di Rumah Teteruga Karya Erni Aladajai Megawati; Nurlailatul Qadriani; Rasiah
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 3 No. 4 (2023)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v3i4.558

Abstract

Penelitian ini secara khusus akan membahas tentang relasi perempuan dan alam pada novel Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga karya Erni Aladjai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui relasi perempuan dan alam dalam novel Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga karya Erni Aladjai. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian bersumber dari novel Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga dan dianalisis berdasarkan kajian ekofeminisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga karya Erni Aladjai merepresentasikan relasi perempuan dan alam melalui dua hal: (1) Tumbuhan sebagai kebutuhan sehari-hari; (2) Peran perempuan dalam menjaga keutuhan alam.
Resepsi Naskah Masa'il As-Samarqandi Karya Syeikh Abu Laits As-Samarqandi Supriatna, Agus; Marhadi, Akhmad; Hayunira, Sasadara; Rasiah, Rasiah
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 21 No 1 (2023): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 21 No. 1 Tahun 2023
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31291/jlka.v21i1.996

Abstract

Information on the acceptance of the text manuscript is essential as a reference for Islamic teaching materials in Nusantara. This article aims to explain the reception of the ancient manuscript entitled "Masa'il As-Samarqandi" written by Sheikh Abu Laits As-Samarqandi. The study em­ployed philology research and descriptive analytic method with a literary reception theory approach. This ancient manuscript of Masa'il As-Samarqandi (MS) contains questions related to Islamic Aqidah. The study found that Masa'il As-Samarqandi manuscript is an explanatory text about the Islamic Aqidah. The text reception of MS is Qathrul Ghaits (Syarah Masa’il As-Samarqandi ) written by Syeikh Imam Nawawi Al-Bantani). Qathrul Ghaits makes commentary on the MS and adds the explanation from Qur’an and Hadist. The commentary contains the meaning of faith, the branches of faith, faith in Allah swt, faith in Angels, faith in the Prophets, faith in Allah's books, faith in the Last Day, and also discusses the explanation of the consequences of that faith, as well as its reflection on worship. This study indicates that Sheikh Imam Nawawi tried to explain each description of the text based on the reference source referred to. Keywords: Reception of text, manuscript, Masa’il As-Samarqandi, Imam Nawawi   ABSTRAK Informasi penerimaan teks suatu naskah penting diketahui, termasuk naskah kuno Masa’il As-Samarqandi ini yang merupakan naskah yang banyak digunakan sebagai rujukan materi ajaran aqidah Islam di Nusantara.  Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai resepsi teks naskah kuno yang berjudul "Masa'il As-Samarqandi" karya Syeikh Abu Laits As-Samarqandi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian filologi dan metode deskriptif analitik dengan pendekatan teori resepsi sastra. Naskah kuno Masa'il As-Samarqandi ini berisi mengenai pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan Aqidah Islam. Hasil penelitian menunjukan bahwa teks Masa'il As-Samarqandi (selanjutnya disingkat MS) merupakan teks penjelasan mengenai Aqidah Islam, salah satu kitab hasil pembacaan MS adalah Kitab Qathrul Ghaits (Syarah Masa’il As-Samarqandi Karya Syeikh Imam Nawawi Al-Bantani). Kitab syarah ini menjelaskan setiap bagian isi teks MS disertai dalilnya dari Al-Qur’an dan Al-Hadist. Awal penjelasannya berisi mengenai pengertian iman, penjelasan-khusus iman, iman kepada Allah swt, iman kepada Malaikat, iman kepada para nabi, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada hari Akhir, dan dibahas pula tentang penjelasan konsekuensi keimanan tersebut, juga refleksinya terhadap ibadah. Dilihat dari sisi pembacaan terhadap teks Masa’il As-Samarqandi, Syeikh Imam Nawawi berusaha menjelaskan setiap uraian teks berdasarkan sumber referensi yang dirujuk.  Kata kunci : Resepsi Teks, Naskah Kuno, Masa’il As-Samarqandi, Imam Nawawi
Performativitas Gender dan Narasi Queer dalam Film: Kajian Komparatif atas "Portrait of a Lady on Fire," "Brokeback Mountain," dan "Memories of My Body" Berdasarkan Pemikiran Judith Butler Al Farisi, Salman; Suyuti, Nasruddin; rasiah, Rasiah; la aso, La Aso
Jurnal Penelitian Budaya Vol 8, No 2 (2023):
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jpeb.v8i2.46786

Abstract

Penelitian ini menginvestigasi performativitas gender dan narasi queer dalam tiga film berbeda, yaitu "Portrait of a Lady on Fire," "Brokeback Mountain," dan "Memories of My Body." Penelitian ini menggunakan kerangka pemikiran Judith Butler untuk menganalisis bagaimana karakter-karakter dalam film-film tersebut membentuk identitas gender melalui tindakan performatif. Metode kajian komparatif digunakan untuk mengeksplorasi perbedaan dan kesamaan dalam representasi performativitas gender dan narasi queer di ketiga film tersebut. Analisis film ini difokuskan pada cara ketiga film menggambarkan konstruksi identitas gender, pengelolaan performativitas gender, dan realisasi narasi queer. Hasil penelitian ini menunjukkan variasi dalam performativitas gender dan narasi queer antara ketiga film tersebut. Interpretasi karakter dalam konteks pemikiran Judith Butler memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana keberagaman pengalaman gender dan queer tercermin dalam karya seni visual seperti film. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman representasi gender dan queer dalam konteks seni visual dan menggambarkan pentingnya pemikiran teoretis Judith Butler dalam menganalisis performativitas gender. Kata kunci: performativitas gender, narasi queer, "Portrait of a Lady on Fire," "Brokeback Mountain," "Memories of My Body," Judith Butler
NEGOTIATING FEMINIST IDEOLOGY IN ASMA NADIA’S NOVEL ASSALAMUALAIKUM BEIJING (Negosiasi Ideologi Feminis dalam Novel Asma Nadia Assalamualaikum Beijing) Rasiah, NFN; Bilu, La
Kandai Vol 19, No 2 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i2.4612

Abstract

Feminis dan Islam sering dibenturkan sebagai ideologi yang berlawanan. Islam sebagai agama seringkali dipandang sebagai sumber munculnya praktik-praktik ketidakadilan terhadap perempuan. Akhir-akhir ini, ada upaya untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Islam untuk memperkuat posisi perempuan, terutama bagi mereka yang lahir dan hidup dalam konteks budaya berbasis Islam. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap upaya negosiasi ideologi feminis dalam novel Assalamualaikum Beijing karya Asma Nadia. Feminisme multikultural digunakan sebagai perspektif dalam mengkaji isu ideologi feminis dalam novel dengan asumsi bahwa perempuan tidak diciptakan dan dikonstruksi dengan cara yang sama tetapi bergantung pada latar belakang sosial budayanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel ini menekankan kemandirian perempuan dengan mendorong mereka melalui pendidikan dan karir untuk melepaskan diri dari masalah ekonomi dan sosial. Namun, kemandirian dan kesetaraan perempuan juga harus didukung oleh nilai-nilai agama (Islam). Tampaknya novel ini melawan stereotip yang menganggap atribut agama (Islam) yang melekat pada perempuan sebagai kurungan atau bentuk subordinasi, seperti hijab dan taaruf, namun atribut tersebut justru menjadi bentuk pembebasan dan otonomi perempuan. Feminism and Islam are often viewed as opposing ideologies. Islam as a religion is seen by feminists as the source of the emergence of fraudulent practices against women. However, in the present decade, feminists have developed their ideas dealing with cultural attributes, particularly about Islamic rule on women. There has been an effort to enliven Islamic values to strengthen the position of women, especially for those who were born and live in an Islamic-based culture. This article aims to reveal the negotiation of feminist ideology in Assalamualaikum Beijing novel written by Asma Nadia. Multicultural feminism is used as a perspective in examining how feminist ideology is negotiated in the novel. The assumption that women are not created and constructed in the same social and cultural circumstances, thereby having a different way to exist in society. The results show that the novel emphasizes women's independence by encouraging women's education and career to liberate themselves from economic and social shortcomings. However, women's independence and equality must also be in line with religious (Islamic) values. It seems that the novel fights against the stereotypes of Islamic attributes attached to women as confinement or a form of subordination, such as hijab and taaruf, these attributes, on the other hand, become a form of women's self-liberation and autonomy. 
MAKNA PENAMAAN SAJIAN RITUAL KABASA DARI PERSPEKTIF GASTROLINGUISTIK Lindayani, Lilik Rita; Rasiah, Rasiah; Azi, Rahmawati; Sifatu, Wa Ode; syahrun, syahrun; La Sawali, La Sawali
Paradigma: Jurnal Kajian Budaya Vol. 14, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article is about Munanese (an ethnic group in Southeast Sulawesi) traditional dish kabasa as a form of referential support to the gastrodiplomacy trend. Kabasa is a part of the haroa ritual that features a range of dishes with various ingredients, which is strongly connected to various aspects of the community such as social position, psychology, and environment. In this study, a combination between linguistics as language science and gastronomy which examines food within its culture is considered effective for investigating the semantics of the naming pattern of kabasa dishes in order to document this unique culinary tradition and introduce new concepts in Indonesian gastronomy, particularly that of Southeast Sulawesi. Using the qualitative descriptive method and macrolinguistic approach, this study shows that kabasa naming pattern consists of three semantic levels. Meanwhile, more comprehensive gastrolinguistic analysis on the data suggests that the meanings of the names can be found based on (1) the food ingredients, which are tied to the region’s geographical features and (2) the semantic convention of kabasa itself, which shows an associative relationship between an object, its name, and environmental aspects as contextual clues.
Flipbook untuk Menguatkan Literasi Digital dan Keterampilan Desain Bahan Ajar Interaktif bagi Guru-Guru Sman 8 Konawe Selatan Rasiah, Rasiah; Qadriani, Nurlatul; Ulya, Afriani; Mutmainnah, Mutmainnah; Nugraha, Shafwan; Koso, Halijah; Bilu, La; Fauzan, Muh.; Jabaru Hidi, Abd.; Saheya Kowuna Brkt, Wd. Siti
Jurnal SOLMA Vol. 13 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v13i3.15818

Abstract

Background: Kegiatan pengabdian ini betujuan untuk melakukan pendampingan penyusunan bahan ajar interaktif berbasis flipbook pada guru-guru SMAN 8 Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara sebagai mitra. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menguatkan literasi digital dan meningkatkan keterampilan mendesain bahasa ajar yang berbasis digital bagi guru-guru SMAN 8 Konawe Selatan. Analisis situasi menunjukkan bahwa masalah yang hadapi mitra adalah masih rendahnya literasi digital sehingga keterampilan dalam menggunakan perangkat digital dalam pembelajaran juga sangat minim. Padahal era teknologi dan program-program dalam dunia pendidikan dewasa ini menuntut guru untuk cakap dalam menggunakan teknologi digital alam pembelajaran. Metode: Metode yang digunakan untuk menyelelesaikan masalah mitra adalah melaksanakan workshop pembuatan bahan ajar berbasis flipbook. Sebanyak 15 peserta ditentukan secara purpossive random sampling yang mewakili tiga bidang ilmu; Bahasa, IPA, dan IPS. Dalam Workshop pembuatan bahan ajar berbasis flipbook, peserta diperkenalkan dengan tiga aplikasi pendukung, yakni; Canva, Heyzine, dan S.id. Pelatihan ketiga bentuk aplikasi digital ini tidak saja meningkatkan keterampilan membuat bahan ajar berbasis digital tetapi juga dapat menguatkan literasi digital guru-guru mereka. Hasil: Hasil program menunjukkan bahwa kegiatan berhasil menguatkan literasi digital dan meningkatkan keterampilan guru dalam mendesain bahan ajar yang bersifat interaktif melalui pengenalan beberapa aplikasi digital dan fitur-fitur yang dapat digunakan dalam media pembelajaran. Kesimpulan: Adanya kegiatan pelatihan ini telah membantu guru dalam mendesai sumber dan media pembelajaran yang efektif dan efisien tanpa harus mengeluarkan uang untuk pembelian aplikasi, tetapi dapat digunakan secara gratis dengan memadukan tiga aplikasi tersebut.
IMAGE OF VICTORIAN WOMEN IN AN IDEAL HUSBAND DRAMA SCRIPT BY OSCAR WILDE: A FEMINIST READING Rahayu, Milda; Rasiah, Rasiah; Putra, Ansor
Seshiski: Southeast Journal of Language and Literary Studies Vol 4 No 2 (2024): Volume 4 Issue 2 December 2024
Publisher : Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia, Komisariat Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53922/seshiski.v4i2.71

Abstract

This study purposed to show the image of Victorian women in England through the playwright script An Ideal Husband written by Oscar Wilde. Feminist criticism proposed by Elaine Showalter is used as a tool to analyze the women images in the drama script, particularly dealing with Victorian women. The result of the analysis indicated that the script presents women in two faces; women as angels and women as demons. A woman as an angel is described as an ideal image of a woman in Victorian society. They are portrayed as women who maintain piety, purity, submission, and domesticity in societal life. Whereas Women as demon is described as the opposite ones, a contradicting image against the values of traditional Victorian women. They have an aggressive, independent and ambitious attitude which were prohibited to be owned by women. Angel seems represented the ideal image of women in patriarchal norms. Demon, in the other hand, is the picturesque of ideal women in feminist perspective.