Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Nilai Ekonomi Ekowisata Bahari Pulau Hari Kecamatan Laonti Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara Alwi, La Ode; Ketjulan, Romy
Buletin Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo Vol 12, No 22 (2010)
Publisher : Department of Agribusiness Halu Oleo University Kendari Southeast Sulawesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.253 KB) | DOI: 10.33772/bpsosek.v12i22.5830

Abstract

Development of marine tourism activity is one form of utilization of coastal resources that have no market value (non-market value). This research study about the economic value of Hari island waters as marine tourism object, tourism activities, especially diving and snorkeling tours. The results of this study cans are Used as a material consideration in the context of managing the Hari island as a tourist resort. Based on research, the existing economic value of tourism to Rp 37,772,353 per year, and the economic value of tourism carrying capacity as much as USD 268 977 384 per year.
Kajian Kualitas Air di Lokasi Budidaya Rumput Laut Desa Liya Mawi, Kabupaten Wakatobi Ermayanti Ishak; Anita Indria Sary; Al Rubaiyn; Romy Ketjulan
JSIPi (JURNAL SAINS DAN INOVASI PERIKANAN) (JOURNAL OF FISHERY SCIENCE AND INNOVATION) Vol 7 No 2 (2023): JURNAL SAINS dan INOVASI PERIKANAN
Publisher : Pascasarjana Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aspek penting keberhasilan budidaya yaitu pemilihan lokasi. Kesalahan dalam budidaya adalah lingkungan perairan yang tidak sesuai dengan peruntukkan jenis yang akan dibudidaya. Salah satu pertimbangan yang diperhatikan yaitu aspek kualitas air, meliputi parameter fisika, kimia, dan biologi perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi parameter kualitas air pada zona budidaya rumput laut dan mengetahui nilai kesesuaian perairan tersebut. Penentuan stasiun pengamatan secara purposive sampling berdasarkan pada pertimbangan karakteristik habitat. Stasiun pengamatan terdiri dari 4 (empat) titik. Metode penelitian yaitu metode eksploratif dengan pendekatan analisa kuantitatif. Parameter yang diamati yaitu suhu, kecerahan, kedalaman, kecepatan arus, salinitas, pH, oksigen terlarut, fosfat, nitrat, dan amonia. Kelimpahan plankton menggunakan persamaan APHA dan analisis kesesuaian berdasarkan pedoman kesesuaian lahan dari Bakosurtanal. Suhu perairan berkisar 29-30 0C, kedalaman air sekitar 77-257 cm (saat surut), kecerahan 80-100% (<1 m dan > 1 m), dan kecepatan arus berkisar 0.07-0.13 m/detik. Salinitas berkisar 30-31‰, pH adalah 7,08-7,18, oksigen terlarut berkisar 7.1-7.4 mg/l, kandungan fosfat yaitu 0.0084-0.0090 mg/l, nitrat yaitu 0.0000-0.0001 mg/l, dan ammonia berkisar 0,5-1 ppm. Kelimpahan plankton berkisar 1530-1660 ind/l dari kelas Cyanophyceae dan Bacillariophyceae. Kesesuaian perairan termasuk kategori S3 (kategori cukup sesuai) menunjukkan kondisi kualitas air perairan Desa Liya Mawi memadai untuk budidaya rumput laut jenis Eucheuma spinosum.
Pengaruh Perbedaan Jenis Umpan Terhadap Hasil Tangkapan Ikan Kakap Merah (Lutjanus Gibbus, Forsskal, 1775) Menggunakan Pancing Ulur Di Perairan Wakatobi La Ode Abdul Muis; Ahmad Mustafa; Romy Ketjulan; Naslina Alimina; Abdullah Abdullah
PekaBuana : Jurnal Ilmiah Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap Vol 3, No 01 (2023): Juni 2023
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to determine the effect of different types of bait (squid, mackerel, and scad) on the number and size of red snapper caught using hand line. The study was conducted during February 2022, in Wakatobi Waters, Southeast Sulawesi Province, specifically in Koko Atol, Koromaha Atol, Tuwu-Tuwu Reef, and Kenteolo Reef. This study used experimental fishing method with 6 fishing trips and 25 repetitions on each trip. The catch results showed that squid bait had the highest catch with 19 individuals, followed by scad bait with 13 individuals, and mackerel fish bait with the lowest catch at 9 individuals. The statistical analysis using one-way ANOVA (F-test) on the number of catch showed a significant difference. Further analysis using Tukey test showed a significant difference between squid bait and mackerel bait, while there was no significant difference between squid bait and scad bait, and also no significant difference between scad bait and mackerel bait. The length and weight of red snapper caught using a hand line with squid bait were dominated by larger size classes compared to the dominant size classes for mackerel bait and scad bait.
Variasi Temporal Biologi Reproduksi Cacing Kacang (Antillesoma sp.) di Perairan Pantai Toronipa, Kecamatan Soropia, Sulawesi Tenggara ezra jiwani, Yngwy; Bahtiar; Ketjulan, Romy
JSIPi (JURNAL SAINS DAN INOVASI PERIKANAN) (JOURNAL OF FISHERY SCIENCE AND INNOVATION) Vol 8 No 2 (2024): JURNAL SAINS dan INOVASI PERIKANAN
Publisher : Pascasarjana Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsipi.v8i2.837

Abstract

Cacing kacang (Antillesoma sp.) merupakan organisme dalan filum Sipuncula yang berarti tabung kecil atau sifon. Organisme ini dapat dijumpai pada Pantai Toronipa dengan nama lokal “Bantunang mondo” yang dimanfaatkan sebagai bahan lauk konsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi biologi reproduksi cacing kacang yang meliputi; nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematangan gonad (IKG), dan ukuran pertama kali matang gonad. Penelitian dilakukan pada bulan Juli hingga Desember 2023 di perairan Pantai Toronipa, Kecamatan Soropia, Sulawesi Tenggara. Jumlah sampel cacing kacang yang diperoleh sebanyak 375 individu (168 jantan dan 192 betina), serta ditemukan 15 cacing kacang dengan dua kelamin. Data dianalisis menggunakan formula baku yaitu Chi-square, regresi sederhana dan regresi non linear 50% kematangan gonad (Lmaturity). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nisbah kelamin cacing kacang jantan dan betina di Pantai Toronipa dalam keadaan seimbang. Cacing kacang memijah sepanjang tahun dengan puncak terjadi pada bulan September yang ditandai dengan tingginya presentase nilai TKG IV dan IKG. Fekunditas cacing kacang tertinggi pada ukuran 7,8-8,3 cm (43013 butir) dan menurun seiring bertambahnya ukuran tubuh. Ukuran pertama matang gonad (50%) cacing kacang dan betina secara berurutan berkisar 7,7,4 cm dan 7-7,3 cm. Kata Kunci: Biologi reproduksi, cacing kacang, pantai Toronipa
ANALISIS POTENSI KAWASAN BUDIDAYA LAUT DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KUALITAS PERAIRAN DI GUGUS KEPULAUAN TIWORO Romy Ketjulan; Zulhamsyah Imran; Muhumad Fajar Purnama; La Ode Muhumad Yasir Haya; Wa Iba; Kadir Sabilu; La Ode Aslin
Jurnal Perikanan Unram Vol 13 No 2 (2023): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v13i2.519

Abstract

ABSTRACT Kepualaun Tiworo merupakan area fishing ground yang telah mengalami penurunan produktivitas akibat tingginya intensitas penangkapan. Sebagai bentuk problem solving kondisi tersebut Pemerintah Daerah setempat merencanakan pengembangan kegiatan budidaya laut di kawasan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi kawasan budidaya laut dan implikasinya terhadap mutu air di perairan pulau-pulau kecil Kepulauan Tiworo Kabupaten Muna Barat. Kajian potensi kawasan budidaya mencakup aspek kesesuaian dan daya dukung, khususnya budidaya rumput laut, budidaya keramba jaring apung (KJA), dan budidaya keramba jaring tancap (KJT). Kesesuaian perairan ditentukan dengan menggunakan analisis matriks kesesuaian lahan. Daya dukung lahan untuk budidaya diestimasi dengan menggunakan pendekatan fisik. Sedangkan implikasi terhadap mutu air dianalisis dengan pendekatan estimasi beban limbah yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukan bahwa Luas perairan yang sesuai untuk budidaya rumput laut sebesar 1.7461 ha. Jumlah unit budidaya yang dapat diusahakan sebesar 1.4133 unit budidaya dengan asumsi setiap unit budidaya berukuran 50 x 100 m. Luas perairan untuk budidaya KJA sebesar 6.528 ha, dengan jumlah unit budidaya yang dapat diusahakan sebesar 3.138 unit KJA. Sementara itu, luas perairan untuk budidaya KJT 115,9 ha, dengan jumlah unit KJT yang dapat diusahakan sebesar 56 unit. Estimsi limbah yang dihasilkan yang akan membetuk ion amonia sebesar 0,001 mg/l masih jauh dibawah baku mutu air (0,3 mg/l) sesuai Kepmen LH No. 51 tahun 2004.
ANALISIS CATCH PER UNIT EFFORT (CPUE) DAN MAXIMMUM SUSTAINABLE YIELD (MSY) IKAN CAKALANG (KATSUWONUS PELAMIS) YANG DIDARATKAN DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA (PPS) KENDARI febriyani palungan; Andi Irwan Nur; Romy Ketjulan
Jurnal Perikanan Unram Vol 14 No 3 (2024): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v14i3.944

Abstract

Skipjack tuna is one of the large pelagic fish landed at the Kendari Ocean Fisheries Port (PPS Kendari). The objective of this research is to analyze the Catch per Unit Effort (CPUE) and Maximum Sustainable Yield (MSY) of skipjack tuna (Katsuwonus pelamis) landed at PPS Kendari. The study was conducted in November-December 2023 at PPS Kendari. Data obtained from PPS Kendari for the years 2016-2022 include the catch of landed skipjack tuna, types of fishing gear used, and the quantity of catch for each type of gear. The research method employed is the surplus production Scheafer method. Fishing gear used to catch skipjack tuna landed at PPS Kendari includes gillnets, hand lines, pole and line, purse seines, boat seine, lift net, and others. The standard fishing gear used is the pole and line. The analysis of CPUE values for landed skipjack tuna at PPS Kendari tends to fluctuate, with the highest CPUE occurring in 2020 at 3,670 kg/trip and the lowest CPUE occurring in 2018 at 1,578 kg/trip. Based on the MSY analysis, the optimal fishing effort is determined to be 2126 trips per year, with an optimal catch quantity of 6,130,516 kg per year. The utilization of skipjack tuna at PPS Kendari has not reached the level of overfishing. It can be concluded that the fishing effort for skipjack tuna has not exceeded the limits of sustainable stocks in the Banda Sea, allowing for an increase in fishing effort to achieve maximum results while still adhering to the calculated MSY limits.
Pendampingan Implementasi Model Pembangunan Wilayah Berbasis Kawasan Strategis di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara Kadir Sabilu; La Ode Alwi; Romy Ketjulan; Waode Siti Anima Hisein; Ruslaini; Yusnaini; Wellem H. Muskita; La Ode Muh. Yasir Haya
Jurnal Pengabdian Meambo Vol. 2 No. 2 (2023): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEAMBO
Publisher : PROMISE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56742/jpm.v2i2.72

Abstract

Pemetaan kawasan strategis berbasis kecamatan yang komprehensif dan terperinci sesuai pola pencaharian masyarakat, komoditi unggulan, keunggulan karakteristik situs dan geografis wilayah, ketersediaan fasilitas dan kelembagaan diperlukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan penduduk yang berkelanjutan. Hasil pengabdian masayarakat dengan tema Pendampingan Implementasi Model Pembangunan Berbasis Kawasan Strategis mengiformasikan bahwa secara umum Kabupaten Muna telah menerapkan pendekatan sektoral dan regional dalam meningkatkan daya saing ekonomi masyarakatnya, melalui penetapan 8 kawasan strategis berbasis wilayah kecamatan, yaitu: kawasan strategis perkotaan, kawasan strategis wilayah pesisir; kawasan strategis pariwisata terpadu, kawasan strategis perikanan terpadu, kawasan strategis ekonomi khusus, kawasan strategis rencana kawasan transmigrasi, kawasan strategis argopolitan, dan kawasan strategis agromina-bahari, yang termuat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Kabupaten Muna. Pengembangan sarana dan prasarana seperti perbaikan akses jalan dan sistem irigasi, peremajaan tanaman perkebunan yang kurang produktif, intensfikasi lahan pertanian, ekstensifikasi dan intensifikasi tambak udang dan ikan di kawasan strategis perikanan terpadu dan agromina-bahari serta optimalisasi alat-alat pengolahan tanah diperlukan untuk optimalisasi dan efektifitas program model pembangunan yang dijalankan
Demplot Budidaya Ikan Kakap Putih di Masa Pandemik Covid-19 Menggunakan Karamba Jaring Tancap (KJT) di Desa Samajaya, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara Yasir Haya, La Ode Muhammad; Asmadin; Ketjulan, Romy; Subhan; Pratikino, Asrin Ginong; Erawan, Muh Trial Fiar
Jurnal Pengabdian Meambo Vol. 1 No. 1 (2022): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEAMBO
Publisher : PROMISE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56742/jpm.v1i1.2

Abstract

Dampak pandemi Covid-19 telah mempengaruhi segala aspek kehidupan masyarakat pesisir termasuk nelayan dan pembudidaya ikan Desa Samajaya, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara. Dampak tersebut diketahui telah menimbulkan nilai jual ikan secara drastis hingga 50% dibanding sebelum pandemi Covid-19. Program PKM ini bertujuan untuk (1) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pembudidaya tentang teknik dan manajemen budidaya ikan di karamba, (2) demplot pembesaran benih ikan kakap di karamba jaring tancap, dan (3) pendampingan kelompok sasaran program. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif dan SNI 8228.5:2015 tentang teknik budidaya ikan yang baik di karamba jaring apung. Hasil yang diperoleh bahwa kelompok sasaran memiliki tingkat partisipasi yang tinggi pada setiap tahapan kegiatan serta adanya dukungan pemerintah desa. Penerapan teknis dan manajemen budidaya telah terapkan dengan baik oleh kelompok sasaran selama masa pemeliharaan benih ikan. Demplot usaha budidaya ikan kakap di karamba jaring tancap dapat dikatakan berhasil karena < 2 bulan diperoleh ukuran ikan rata-rata mencapai 100 gram (benih awal 10-12 cm atau 10-20 gram) dengan tingkat kelulusan hidup mencapai 75%. Keberhasilan tersebut perlu terus dipertahankan dan direplikasi di lokasi lainnya melalui upaya pendampingan yang intensif.  
STRATEGI KEBERLANJUTAN PEMANFAATAN RUANG KEPULAUAN TIWORO Imran, Zulhamsyah -; Ketjulan, Romy; Masahiro, Yamao
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 13 No. 3 (2021): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v13i3.35311

Abstract

Kompleksitas persoalan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di Kepulauan Tiworo menuntut adanya strategi kebijakan pengelolaan ruang yang lebih komprehensif. Isu pemanfaatan secara tidak berkelanjutan adalah faktor utama yang membutuhkan penanganan berupa formulasi strategi pengelolaan pulau kecil di Kepulauan Tiworo. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi kebijakan pengelolaan ruang pulau-pulau kecil yang berkelanjutan. Metode yang digunakan untuk menilai keberlanjutan dan sensitivitas atribut adalah metode Rapid Appraisal for Land Use (Raplanduse). Strategi kebijakan pengelolaan dilakukan berdasarkan tingkat pengaruh dan ketergantungan atribut-atribut sensitif yang dianalisis dengan analisis prospektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keberlanjutan pemanfaatan ruang pulau-pulau kecil di Kepulauan Tiworo cukup bervariasi, mulai dari kategori baik, buruk, hingga kategori kurang berkelanjutan. Atribut sensitif dalam dimensi ekologi adalah material padatan tersuspensi, dan suhu permukaan laut. Dalam dimensi sosial atribut yang sensitif adalah kejadian konflik, dan sumber daya manusia. Dalam dimensi ekonomi adalah atribut tingkat pendapatan, ketersediaan modal usaha, dan produksi tangkapan. Dalam dimensi hukum dan kelembagaan atribut yang sensitif adalah atribut status kepemilikan lahan, dan zonasi kawasan. Kebijakan pengelolaan berdasarkan atribut-atribut sensitif tersebut meliputi peningkatan kapasitas adaptasi masyarakat, mengendalikan pemanfaatan lahan di wilayah DAS di daratan, mengembangkan diversifikasi usaha, menertibkan penggunaan ruang, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.