Claim Missing Document
Check
Articles

STRUKTUR GEOLOGI DAN SEDIMENTASI BATUBARA FORMASI BERAU Achmad Rodhi; Basuki Rahmad
Jurnal Ilmiah MTG Vol 2, No 1 (2009)
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Perkembangan Sub-Cekungan Batubara Berau selama Tersier di Kalimantan Timur berada di continental plate margin dalam suatu sistem passive margin, berhubungan dengan regangan (rifting) Selat Makasar. Formasi Berau merupakan formasi pembawa batubara di Sub-Cekungan Berau yang berumur Miosen Tengah. Proses pengendapan batubara Formasi Berau di lingkungan delta melalui sisi flexure bidang sesar normal halfgraben berupa sliding gravity.Pengaruh struktur geologi terhadap lapisan batubara baik vertikal maupun lateral secara langsung berpengaruh terhadap ketebalan lapisan batubara, kualitas dan kelayakan penambangannya. Baik dalam skala besar maupun kecil khususnya karakter internal dan eksternal susunan lapisan batubara atau sedimen pengapitnya. Karakter struktur endapan batubara dapat untuk memecahkan permasalahan korelasi stratigrafi, perhitungan cadangan / sumber daya batubara dan sebaran kualitas batubara sebelum dilakukan rancangan penambangan. Pertimbangan struktur geologi tersebut untuk mengetahui pola sebaran batubara dan sejauh mana pengaruh sebaran batubaranya. Tulisan ini disusun selama penulis mengikuti kegiatan eksplorasi di Binungan Blok 1 – 4, dan pengamatan singkapan di Binungan Blok 1 - 4 PIT K, dan Sambarata PIT Gaharu.
Underground Coal Gasification in the North Muara Tiga Besar Utara Area, East Merapi District, Lahat Regency, South Sumatera Basuki Rahmad; Sugeng Raharjo; Ediyanto Ediyanto; Heru Asbi Rahmanda
Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia "Kejuangan" 2019: PROSIDING SNTKK 2019
Publisher : Seminar Nasional Teknik Kimia Kejuangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGARUH HUTANG LUAR NEGERI, PENANAMAN MODAL ASING, DAN TABUNGAN DOMESTIK TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA (1976 - 2000) Basuki Rahmad; Yuni Prihadi Utomo
Jurnal Ekonomi Pembangunan: Kajian Masalah Ekonomi dan Pembangunan Vol 6, No 1 (2005) : JEP Juni 2005
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jep.v6i1.4005

Abstract

Indonesian economic development along with economic growth needs sustainable development funding sources. This research examines the effect of developmental funding sources such as international debt, foreign investment, and domestic saving toward the development of Indonesian economy.The analysis instrument of the research is double linier regression with ECM model (Error Correction Model). ECM model is an econometric model that can be used to search for regression equations of short term and long-term balance. The data employed are data time series gathered with annual method starting from 1976 to 2000. These data are a secondary data obtained from the financial reports of Indonesian Bank and Statistics Center Agency. Furthermore, to reveal whether the estimation result can be trusted, the researcher performs classical assumption test and statistical test. The analysis result shows that the three factors of funding source for economic development above have significant effect toward the growth of Indonesian economy.
Identifikasi Biomarker Fraksi Aromatik Batubara Muara Wahau, Kalimantan Timur 2016 Basuki Rahmad; Komang Anggayana; Sri Widodo; Agus Haris Widayat
Jurnal Ilmu Kebumian Teknologi Mineral (JIK TekMin) Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Teknologi Mineral

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research location in Wahau Muara District, East Kutai Regency, East Kalimantan Province. Geological setting of Muara Wahau located in the Kutai Basin Upper included in the Early Miocene Formations Wahau. Coal of Muara Wahau has a unique characteristic that inertinite abundant content with an average value of 20.1% with a low maturity (immature) with Rv (random) 0.40 to 0.44 including lignite rank.Coal samples taken from Seam-1 directly from drill core which drill hole GT-02. Intake of sample done by coring method with the preparation ply by ply based on lithotype appearance. Laboratory analysis of coal samples for organic geochemical analyzes conducted by Soxhlet extraction and then using column chromatography to obtain aromatic fractions.Picene derivatives such as 1,2,4a, 9-tetramethyl-1,2,3,4,4a, 5,6,14b-octahydropicene dominate with the highest concentration of 6509 mg / g TOC than other pentacyclic compounds in the aromatic hydrocarbon fraction Muara Wahau coal.The presence amyrin resulting from microbial degradation or the result of oxidative degradation in tropical climates and several derivatives amyrin typical of Muara Wahau coal one of which is a non-aromatic fraction hopanoid pentacyclic triterpenoids (picene) indicating Angiosperm plant origin. Picene presence implies that the formation of Muara Wahau coal still in the initial transformation during the first stage of diagenesis (early diagenetic) with the maturity level is low (immature). Keywords: picene; amyrin; oxidative degradation; tropis; angiosperm; immature. ABSTRAKLokasi penelitian terletak di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur. Tatanan geologi daerah Muara Wahau berada di Cekungan Kutai Bagian Atas termasuk dalam Formasi Wahau berumur Miosen Awal. Batubara Muara Wahau memiliki keunikan yang khas yaitu kandungan inertinite yang berlimpah  dengan nilai rata-rata 20,1% dengan kematangan yang rendah (immature) dengan Rv (random) 0,40-0,44 termasuk peringkat lignite.Conto batubara diambil dari Seam-1 langsung dari inti bor yaitu lubang bor GT-02.  Pengambilan conto dilakukan dengan metode coring dengan preparasi ply by ply berdasarkan kenampakan lithotype. Analisa laboratorium conto batubara untuk analisis geokimia organik dilakukan dengan cara ekstraksi soxhlet kemudian menggunakan column chromatography untuk memperoleh fraksi aromatik.Turunan picene seperti 1,2,4a,9-tetramethyl-1,2,3,4,4a,5,6,14b-octahydropicene mendominasi dengan konsentrasi paling tinggi 6509 µg/g TOC dibanding senyawa-senyawa pentasiklik lainnya dalam fraksi hidrokarbon aromatik batubara Muara Wahau.Kehadiran amyrin yang dihasilkan dari microbial degradation atau akibat dari oxidative degradation di iklim tropis dan beberapa turunan amyrin yang khas dari batubara Muara Wahau salah satunya adalah fraksi aromatik non-hopanoid pentacyclic triterpenoid (picene) yang mengindikasikan tumbuhan asal angiosperm. Kehadiran picene mengimplikasikan bahwa pembentukan batubara Muara Wahau masih dalam transformasi awal selama tahap pertama diagenesis (early diagenetic) dengan tingkat kematangan yang masih rendah (immature). Kata kunci: picene; amyrin; oxidative degradation; tropis; angiosperm; immature.
Coal Gasification and Coal Microscopic Characteristics in Tanjung Baru, Lahat Regency, South Sumatera Basuki Rahmad; Sugeng Raharjo; Ediyanto Ediyanto; Gerhana Prasetya Putra
Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia "Kejuangan" 2020: PROSIDING SNTKK 2020
Publisher : Seminar Nasional Teknik Kimia "Kejuangan"

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The location of research is located in the Tanjung Baru Area, Lahat Regency, South Sumatera. The Geological setting of the Tanjung Baru Area in the South Sumatra Basin is included in the Muara Enim Formation the age is Middle Miocene to Late Miocene. Coal in the Tanjung Baru Area, has a calorific value of 5089-5321 Kcal / kg and is rank High in Bituminous Volatile C-High Volatile Bituminous B according to the ASTM classification. Average quality (proximate test) of Muara Enim Formation coal: total sulphur 0.36-1.49% (adb); 1.28-2,5% ash (adb); inherent moisture 9-11% (adb); volatile matter 38.7-42.4% (adb); fixed carbon 45.5-47.9% (adb), total moisture 28.1-28.8% (Ar); relative density 1.28. Coal Charactersitics of Coal Tanjung Baru  the macerals average are vitrinite (92,4% vol.); liptinite (2.9% vol.); inertinite (5,7% vol.). Each macerals or group macerals has different physical and chemical properties. The variation of composition microscopy showed the changes of plant communities or coal facies leading to varies of coal quality, with a average vitrinite reflectance value 0.47-0.58, generally the coal rank is subbituminous-bituminous. Coal gasification is the process of converting coal into synthesis gas. One of the gas produced is a flammable methane gas. Gasification is raw fuel, in this case coal is partially oxidized to produce a product called combustible gas. The main product from the gasification product is synthesis gas or syngas, consisting of Carbon Monoxide (CO), Hydrogen (H2), Methane (CH4), Carbon Dioxide (CO2) and Nitrogen (N2).
METODA TERINTEGRASI PENYUSUNAN RENCANA TEKNOLOGI INFORMASI Basuki Rahmad
Jurnal Ilmiah Teknologi Infomasi Terapan Vol. 4 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Widyatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.338 KB) | DOI: 10.33197/jitter.vol4.iss2.2018.162

Abstract

[Id]Paper ini ditujukan untuk mengusulkan metoda terintegrasi penyusunan rencana teknologi informasi (TI), mencakup arsitektur dan tata kelola TI. Metoda-metoda perencanaan TI yang ada saat ini secara umum terbagi dalam dua kelompok terpisah, yaitu perencanaan arsitektur dan perencanaan Tata Kelola TI. Dikotomi metoda ini memiliki potensi risiko ketidaktepatan strategi dan sumberdaya dalam mengimplementasikan rancangan arsitektur TI, sehingga realisasi value dari implementasi TI tidak optimal. Metoda yang diusulkan terdiri dari empat tahapan: assessment, visioning, design dan roadmap. Pada tahapan assessment, perbaikan yang diusulkan adalah mengaitkan antara ketercapaian kontribusi value bisnis dan korelasinya dengan tingkat kematangan TI. Pada tahapan visioning, perbaikan yang diusulkan adalah pendekatan berbasis kapabilitas untuk pada domain arsitektur teknis dan tata kelola, yang akan menjadi rujukan dalam tahapan design. Pada tahapan design, perbaikan yang diusulkan ditekankan pada identifikasi model operasi TI yang tepat untuk merealisasikan desain enterprise architecture. Pada tahapan roadmap, perbaikan yang diusulkan ditekankan pada sinkronisasi pencapaian arsitektur dan ketepatan strategi sumberdaya pada komponen-komponen tata kelola seiring dengan peningkatan kematangan tata kelola. Metoda ini memberikan alternatif architecture view yang terintegrasi dan kuat tentang strategi merealisasikan arsitektur enterprise.Kata kunci : Rencana Strategis TI, Master Plan TI, Arsitektur Enterprise, Tata Kelola TI[En]This paper is aimed to propose the integrated method of information technology (IT) planning development, covering IT Architecture & IT Governance. In general, the current methods are separated between both. That dichotomy has a potential risk of inaccuracy of strategy and resource allocation in implementing IT Archicture Design. And finally, the potential value of IT Architecture is not optimal. The proposed method consists of four stages: assessment, visioning, design and roadmap. At the assessment stage, the proposed improvement is to link between the achievement of the business value contribution and its correlation with the level of IT maturity. At the stage of visioning, the proposed improvement is a capability-based approach to the domain of technical architecture and governance, which will be a reference in the design stage. At the design stage, the proposed improvements emphasize the identification of the right IT operation model for the realization of enterprise architecture design. At the roadmap stage, the proposed improvements are emphasized on synchronizing architectural achievements and the timeliness of resource strategies on governance components in line with improved governance maturity. This method provides an integrated and robust architecture view alternative to the strategy of realizing enterprise architecture.
ANALISIS MIKROSKOPIS SULFUR DAN FASIES BATUBARA SEAM-X MUARA WAHAU, KUTAI TIMUR, KALIMANTAN TIMUR Basuki Rahmad; Ediyanto Ediyanto; Abi Zarkasyi
Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan (SEMITAN) Vol 3, No 1 (2021): Prosiding
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.semitan.2021.1974

Abstract

Lokasi penelitian terletak di sisi barat Sungai Wahau, daerah Muara Wahau, Kalimantan Timur. Formasi pembawa batubara adalah Formasi Wahau, berumur Oligosen-Miosen Awal diendapkan di sistem delta plain. Berdasarkan mikroskopi, komposisi maseral batubara Muara Wahau adalah vitrinite antara 73,4% - 88,0%; liptinite 0,6% - 4,0%; inertinite 6,4% - 34,0%; sclerotinite 5,2% - 23,6% dan mineral matter 2,0% - 8,8% dengan nilai reflektan vitrinite antara 0,44 – 0,45 % (Rr) termasuk peringkat batubara sub-bituminus. Sampel batubara Seam-2 diambil langsung dari inti bor IB-001 dengan metoda ply by ply, sedang analisis laboratorium dilakukan dengan mikroskopis poles batubara guna mengidentifikasi karakteristik sulfur pyrite dalam batubara Seam-2. Hasil analisa mikroskoskopis secara vertikal kandungan sulfur pyrite berbentuk framboidal (koloni) adalah mengalami perubahan yang bervariasi/beragam berkisar 0,2–4,4. Berdasarkan analisis fasies dari maseral batubara, pembentukan sulfur  pyrite framboidal batubara Seam-2 berada pada kondisi pasang-surut (limnik-telmatik/oxic-anoxic) pada hutan rawa basah sebagai sulfur anorganik sedangkan kondisi anoxic sedangkan aktifitas bakteri menghasilkan sulfur organik
Application of Fracture Barrier Analysis in Well Stimulation Planning for Upper Baturaja Limestone Formation Based on Well Log & Drill Cutting Data from OBF-01 and OBF-04 Wells, Offshore Southeast Sumatra Aris Buntoro; Muhammad Nurcholis; Basuki Rahmad; Allen Haryanto Lukmana; Ristiyan Ragil Putradianto
Journal of Petroleum and Geothermal Technology Vol 1, No 2 (2020): November
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jpgt.v1i2.3686

Abstract

In general, the South Sumatra Regional Stratigraphy of the Baturaja Limestone Formation facies is deposited on the Buildup Carbonate (Reef) and the Limestone Clastic Carbonate of the Baturaja Formation which grows as a buildup reef on the platform in the Basement High (Horst) underneath is the Lemat Formation volcanic deposits. Referring to the facies model in general, the Baturaja Limestone Formation, the depositional environment starts from Shelf Lagoon Open Circulation - Winnowed Edge Sand - Organic Buildup - Fore Slope - Deep Shelf Margin - Open Sea Shelf - Basin, meaning that carbonate is formed starting from pure organic Cabonate Buildup Reef without / a little sludge / mud to the Carbonate Basin where more muddy / mud is present, this condition causes clay minerals to also more and more mix with Terigenous Clastics (Quartz, feldpar). The complexity of the Baturaja Limestone Formation requires fracture barrier analysis associated with well stimulation planning in order to increase oil productivity with the appropriate method.   Fracture barrier fracture analysis is an approach method to determine the depth interval that becomes a barrier in hydraulic fracturing by correlating the results of geomechanical analysis from well log data and mineralogical analysis from drill cuttings data, so that a commonly used well stimulation method can be selected, namely hydraulic fracturing, acidizing, and acid-fracturing.From the ternary diagram plot the XRD (bulk) analysis results show that the distribution of the main minerals (Quartz, Clay, Calcite) is more dominant in the ductile zone, hard to frac category. This shows that all the depth intervals in the OBF-01 and OBF-04 wells are more ductile, and are not recommended for hydraulic fracturing. From the XRD (bulk) analysis, Calcite mineral is more dominant, so for well stimulation work it is recommended to use acidizing or acid-fracturing.
MODEL PENENTUAN DAERAH RESAPAN AIR KOTA BANJARBARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN MENGGUNAKAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFI Muhammad Ruslan; Syama’ani Syama’ani; Basuki Rahmad; M. Hardimansyah
Jurnal Hutan Tropis Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Tropis Volume 1 Nomer 3 Edisi November 2013
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1732.818 KB) | DOI: 10.20527/jht.v1i3.1538

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi sebaran kondisi daerah resapan air Kota Banjarbaru berdasarkan kondisi saat ini, penentuan daerah-daerah yang akan ditetapkan sebagai zona-zona resapan air Kota Banjarbaru menggunakan pemodelan spasial. Penelitian ini dilaksanakan dengan melakukan ekstraksi data spasial, kemudian menentuan titik sampel survey lapangan, melaksanakan survey lapangan, melakukan pengolahan data lapangan, kemudian membuat pemodelan spasial sebaran kondisi daerah resapan air dengan pemberian skor data permeabilitas tanah, data kelerengan, dan data curah hujan. Pemodelan spasial zonasi daerah resapan air dengan melakukan tumpang susun (overlay) data spasial RTRWK, Curah Hujan, Debit Air, Permeabilitas, Kelerengan, Arah Lereng, Ketinggian, dan Daerah Tangkapan Air. Penentuan zona prioritas daerah resapan air menggunakan metode kombinasi skoring dan aritmatik. Hasil penelitian menunjukan resapan air di Kota Banjarbaru dalam kondisi baik (80%), sementara  yang sudah dalam kondisi sangat kritis (20%). Secara keseluruhan, zona resapan air Kota Banjarbaru dapat diklasifikasikan menjadi zona prioritas I sebesar 22,99%, zona prioritas II sebesar 13,90%, kemudian dan  zona prioritas III sampai dengan V (5,13%) sedangkan 57,96% tidak diprioritaskan sebagai zona resapan air.Kata Kunci  : pemodelan data spasial, resapan air dan zona prioritas
Rencana Pengembangan Lapangan Gas Metana Batubara Dangkal (Shallow CBM) di Daerah Ida Manggala, Rantau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan Basuki Rahmad; Sugeng Raharjo; Eko Widi Pramudiohadi; Ediyanto Ediyanto
Jurnal Offshore: Oil, Production Facilities and Renewable Energy Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Offshore : Oil, Production Facilities and Renewable Energy
Publisher : Proklamasi 45 University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1058.585 KB) | DOI: 10.30588/jo.v2i1.351

Abstract

Potensi kandungan gas batubara (Gas Content) Idamanggala, Rantau, Kalimantan Selatan berkisar 6,72 m3/ton. Sumberdaya gas batubara (Gas in Place/GIP) Rantau, Kalimantan Selatan 0,002 tcf (saturasi gas 90%), kisaran kedalaman 50-150 meter. Gas Metana Batubara (GMB) diproduksi dengan cara terlebih dahulu merekayasa batubara sebagai reservoir agar diperoleh cukup ruang sebagai jalan keluarnya gas metana. Proses rekayasa diawali dengan memproduksi air (dewatering) agar terjadi perubahan keseimbangan mekanika. Setelah tekanan turun, gas batubara akan keluar dari matrik batubara. Gas metana kemudian mengalir melalui rekahan batubara dan akhirnya keluar menuju lubang sumur. Puncak produksi Gas Metana Batubara (GMB) bervariasi antara dua minggu sampai dengan tiga tahun. Rencana pengembangan lapangan dimulai dari tiga tahun pertama dengan melakukan lima sumur pilot (pilot well). Pemboran pilot dilakukan untuk mengenal dimensi seam dan kualitasnya, baik secara lateral maupun vertikal. Apabila regulasi pemerintah sesuai  dan memungkinkan untuk memulai pengembangan, maka pengembangan sumur produksi dapat dimulai pada tahun 2021. Pengembangan Lapangan Gas Batubara Daerah Rantau Kalimantan Selatan diprioritaskan untuk kebutuhan pasar lokal yaitu kebutuhan tenaga listrik setempat baik industri maupun rumah tangga dan jika memungkinan dapat dialirkan melalui pipa untuk perusahaan gas negara.Coal gas content potential  (Gas Content) Idamanggala, Rantau, South Kalimantan is around 6.72 m3/ton. Rantau coal gas resources (Gas in Place/GIP), South Kalimantan 0.002 tcf (90% gas saturation), range of depths from 50-150 meters. Coal Methane Gas (GMB) is produced by first engineering coal as a reservoir in order to obtain enough space as a way out of methane gas. The engineering process begins with producing water (dewatering) so that there is a change in mechanical balance. After the pressure drops, coal gas will come out of the coal matrix. Methane gas then flows through the coal fractures and finally exits into the wellbore. The peak production of Coal Methane Gas (GMB) varies between two weeks to three years. The field development plan starts from the first three years by conducting five pilot wells. Pilot drilling is carried out to recognize the dimensions of seam and its quality, both laterally and vertically. If government regulations are appropriate and allow to start development, the development of production wells can begin in 2021. The development of the South Kalimantan Overseas Coal Coal Field Development is prioritized for the needs of the local market, namely the needs of local electricity both industrial and household and if possible can be channeled through pipes for the state gas company.
Co-Authors Abdurrachman, Mirzam Abi Zarkasyi Achmad Rodhi Achmad Subandrio Agus Haris Widayat Aisyah Indah Irmaya Ajeng Citra Rizkyanur Allen Haryanto Lukmana Ari Saputra, Ari Aris Buntoro Aris Buntoro Asvic Helida Aulia Primadani Badriah, Dina Bambang Eka Purnama Batubara, Mustofa Marli Budi Prayitno Buntoro, Aris Chatleen Prycilia Ompi Chintamy Christini Chintamy Christini Chintamy Christini Chintamy Christini Chintamy Christini, Chintamy Deddy Kristanto Dita Antari Setyaningsih Dwi Fitri Yudiantoro Ediyanto Ediyanto Ediyanto Ediyanto Ediyanto Ediyanto Ediyanto Ediyanto Eko Widi Pramudiohadi Elfama, Yudha Fauziah, Rainy Happy Shahisa Fitri Febriana Purba Fitri Febriana Purba, Fitri Febriana Fitriani Fitriani, Eka Yuliana Gerhana Prasetya Putra Gusti Muhammad Sagala Hendaryono Hendaryono Hendrik Hendriana Firmansyah Heru Asbi Rahmanda I Wayan Sadia Ian Fahmi Nugraha Ibnu Yazid Ikhwana Intan Paramita Haty Irfan Darmawan Irwan, Raden Jamhari Jamhari Kadek Rihendra Dantes Ketut Gunawan Komang Anggayana Komang Anggayana Kristanto, Dedy Lanusgana Amerta Liane Okdinawati Liane Okdinawati LIANE OKDINAWATI, LIANE Listriyanto Listriyanto Lua Nafsiah Hafizah A. Abdan Lucyana Luthfi Ramadani M. Hardimansyah M. Teguh Kurniawan Minarni Nur Trilita Muchamad Ocky Bayu Nugroho Muhammad Jamaaluddin Zuhri Muhammad Nurcholis Muhammad Nurcholis Muhammad Pramaditya Muhammad Ruslan Muhammad Ruslan Muhammad Yusup Murtado, Ade Natalia, Anita Navya Kirana Safitri Nelsa , Putri Neni Marlina Novirina Hendrasarie Nurhayati Damiri Oskar Halomoan Manalu Pangaribuan, Zekson Panji Permana Syahid Paramita Paramita Permana, Deddy Prawido Utomo Puji Pratiknyo Putri Myke Wahyuni Raden Iin Siti Aminah Radityo Prakoso Rahim, Supli Ramadhani , Lutfi Rani Auliya Syafrudin Rani Auliya Syafrudin, Rani Auliya Rd. Rohmat Saedudin Rini Setyaningsih Rini Setyaningsih Rini Setyaningsih Rini Setyaningsih Riska Puspita Sari, Riska Puspita Ristiyan Ragil Putradianto Rosita Salatun Said Sapsidi, Herlianto Sapto Kis Daryono Septriono Hari Nugroho Sinung Suakanto Siregar, Anggi Deliana Soesilo, Joko Sri Haryani Br. Manjuntak Sri Widodo Sugeng Raharjo Sugeng Raharjo sugeng raharjo Sugeng Raharjo Sugeng Raharjo Sugeng Widada SUPLI EFFENDI RAHIM Supli, Nur Aslamiah Syama’ani Syama’ani Temmy Wikaningrum Umar unan Kurnia Septo Hediyanto Umar unan Kurnia Septo Hediyanto, Umar unan Kurnia Septo Warsono Warsono Winanda, Lutgardis Dianika Yody Rizkianto Yuli Adam Prasetyo Yuli Prasetyo Yuliarsono, Alifian Yuni Prihadi Utomo Zarkasyi, Abi