p-Index From 2021 - 2026
7.479
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Humaniora Dialektika Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya Litera Lingua Didaktika: Jurnal Bahasa dan Pembelajaran Bahasa Indonesian Journal of Applied Linguistics (IJAL) BAHASTRA BAHASA DAN SASTRA Lingua Cultura LITERASI: Jurnal Ilmu-Ilmu Humaniora Semantik : Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurnal Arbitrer Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia KEMBARA Kajian Linguistik dan Sastra Jurnal Gramatika Indonesian Language Education and Literature International Journal of Humanity Studies (IJHS) Jurnal Orientasi Baru Briliant: Jurnal Riset dan Konseptual Transformatika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Aksara RETORIKA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Diglosia Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Pendas : Jurnah Ilmiah Pendidikan Dasar Kandai Adabiyyat: Jurnal Bahasa dan Sastra Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni Linguistik Indonesia Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa SALINGKA Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Suar Betang Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Bahtera Indonesia; Jurnal Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia Imajeri: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia SCAFFOLDING: Jurnal Pendidikan Islam dan Multikulturalisme Jurnal Edukasi Sumba (JES) Jurnal Pena Indonesia Loa : Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan TANDA: Jurnal Kajian Budaya, Bahasa dan Sastra Journal of Pragmatics and Discourse Research Jurnal Gramatika: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajaran BAHASTRA Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Aksara JURNAL PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN MISSIO Majalah Ilmiah Bahasa dan Sastra Sawerigading
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Humaniora

IMPERATIF DALAM BAHASA INDONESIA : PENANDA-PENANDA KESANTUNAN LINGUISTIKNYA R Kunjana Rahardi
Humaniora Vol 11, No 2 (1999)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.148 KB) | DOI: 10.22146/jh.658

Abstract

Terdapat empat pemarkah kesantunan linguistik (linguistic politeness) tuturan imperatif dalam bahasa Indonesia . Keempat pemarkah tersebut adalah (1) panjang pendek tuturan, (2) urutan tutur, (3) intonasi dan isyarat kinesik, (4) ungkapan-ungkapan penanda kesantunan . Sedikitnya terdapat 10 macam ungkapan pemarkah yang dapat menentukan kesantunan linguistik tuturan imperatif dalam bahasa Indonesia . Pemarkah-pemarkah kesantunan linguistik tuturan imperatif tersebut adalah tolong, mohon, silakan, marl, biar, ayo, coba, harap, hendak(lahlnya), dan sudi kiranyalsudilah kiranyalsudi apalah kiranya . 1. Pengantar Sesuai dengan judulnya, di dalam tulisan ini akan diperikan penanda-penanda kesantunan linguistik tuturan imperatif bahasa Indonesia . Yang dimaksud dengan penanda kesantunan linguistik (linguistic politeness) adalah ungkapan entitas linguistik yang kehadirannya dalam tuturan menyebabkan to turan tersebut menjadi Iebih santun dibandingkan dengan tuturan sebelumnya . Di samping kesantunan jenis yang pertama itu dalam linguistik terdapat jenis kesantunan lain yang kemunculannya bukan didasarkan pada hadir tidaknya ungkapan entitas linguistik, melainkan karena terdapatnya entitasentitas nonlinguistik yang sifatnya pragmatik . Kesantunan jenis kedua itu lazim disebut de- 16 I Doktor, Magister Humaniora, staf pengajar ASMI Santa Maria, Yogyakarta . ngan kesantunan pragmatik (pragmatic politeness). Karena berbagai keterbatasan, yang akan diperikan di dalam tulisan singkat ini hanyalah kesantunan jenis pertama . Dengan demikian jenis kesantunan yang kedua berada di luar lingkup tulisan ini . Data penulisan singkat ini didapatkan secara lokasional dari sumber data tertulis maupun lisan yang terdapat di dalam pemakaian bahasa Indonesia keseharian (ordinary language) . Data tersebut didapatkan dengan cara melakukan penyimakan terhadap pemakaian bahasa tulis maupun lisan . Di samping itu, data tulisan singkat ini juga didapatkan dengan cara mengadakan percakapan dengan mitra tutur yang dalam kesehariannya berbahasa Indonesia . Dengan perkataan lain, data penulisan ini didapatkan dengan menerapkan metode simak dan metode cakap seperti yang lazim digunakan di dalam penelitian-penelitian linguistik struktural . Karena penulis merasa memiliki distansi lingual yang masih berkadar kuat dengan bahasa Indonesia, data penulisan ini pun juga dibangkitkan secara kreatif dad intuisi lingual penulis. Dalam hal yang terakhir ini data harus dikenai teknik triangulasi terlebih dahulu untuk menguji keabsahannya sebagai data penulisan ilmiah .
Linguistic Impoliteness in The Sociopragmatic Perspective Kunjana Rahardi
Humaniora Vol 29, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.113 KB) | DOI: 10.22146/jh.24954

Abstract

The discrepancy of the study of linguistic politeness and impoliteness phenonema has been pronounced in the pragmatic study. However, up to this day the study of linguistic impoliteness, particularly based on culture-specific backgrounds has not been done. This research discusses the pragmatic manifestations of linguistic impoliteness. Through this research, a detailed description of how the manifestations and intentions of the linguistic impoliteness markers would be obtained. The data was gathered by using listening and speaking methods in linguistics. The data gathered through the basic and advanced listening and speaking methods was analyzed by using the equivalence method, particularly the extra-lingual equivalence. The research results showed that the pragmatic impoliteness was classified into five categories, namely (1) face-aggravating, (2) face-loss, (3) face-playing, (4) face-threatening, (5) deliberate ignorance. Each category of the linguistic impoliteness was described in details in its impoliteness subcategories, each was determined by its pragmatic meanings and intentions.