Claim Missing Document
Check
Articles

Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera Lamk.) dalam Edible Oil Sakhi, Fillah Mufti; Mahmudah, Rif'atul; Yulianti, Eny
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 10, No 1 (2025): February 2025
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v10i1.9132

Abstract

Daun kelor merupakan bagian dari tanaman kelor yang banyak dimanfaatkan sebagai obat karena memiliki kandungan senyawa aktif salah satunya flavonoid yang dapat menangkal radikal bebas. Penelitian bertujuan mengetahui aktivitas antioksidan pada ekstrak maserasi daun kelor dalam extra virgin olive oil (EVOO) dan virgin coconut oil (VCO) dengan metode DPPH menggunakan variasi waktu ekstrasi dan variasi volume tween 80. Variasi dilakukan dengan penambahan volume tween 80 sebesar 0 - 0,4 mL dan waktu ekstraksi selama 2-4 jam. Penambahan tween 80 dan lama waktu ekstraksi terhadap aktivitas antioksidan daun kelor dalam EVOO menunjukkan hasil terbaik pada volume tween 80 0,4 mL dan waktu ekstraksi 4 jam dengan EC50 sebesar 106,848 ± 4,746 ppm. Sementara itu, dalam VCO memberikan hasil terbaik pada volume tween 80 0,4 mL dengan lama ekstraksi 4 jam menghasilkan EC50 sebesar 282,914 ± 10,008 ppm.
Konsentrasi Fenolik Total dan Aktivitas Antioksidan dari Ekstrak Metanol Daun Kari (Murraya koenigii L.): Hasil Penelitian Tanuhariono, Ardhita Felicia; Limanan, David; Ferdinal, Frans; Yulianti, Eny
Cermin Dunia Kedokteran Vol 52 No 5 (2025): Mei 2025
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v52i5.1333

Abstract

Introduction: Curry leaves (Murraya koenigii L.) are plants that naturally grow in the Indian subcontinent, except at the peak of the Himalayan mountains, which in their development have spread widely to various corners of the world. Traditionally, curry leaves have been used by people as medicine. However, it is now known that this plant contains carbazole alkaloid compounds and polyphenols that have antioxidant activity. This is very useful for controlling free radical levels in the human body so that they remain within reasonable limits. This is very useful for controlling the levels of free radicals in the human body to stay within reasonable limits. Free radicals are produced by normal cell metabolism which has recently been associated with the pathophysiology of various diseases. Methods: This in vitro research was to determine phenolic content and antioxidant potential in methanol extract of curry leaves. Total phenolic content testing used the Folin-Ciocalteu method and expressed by Gallic Acid Equivalent (GAE). Total antioxidant capacity testing used the DPPH method and Trolox as a comparison solution. Results: The total antioxidant capacity is expressed in the form of IC50. The total phenolic content of curry leaf methanol extract was 4007.78 μg/mL or equivalent to 133.59 mg GAE/g DW and the total antioxidant capacity of curry leaf methanol extract was 37.418 μg/mL. Conclusion: The total phenolic content of curry leaf methanol extract is high (>5 mg GAE/g). Correspondingly, the total antioxidant capacity of curry leaf methanol extract is also classified as very strong (<150 µg/mL).
Ekstrak Metanol Bunga Telang (Clitoria Ternatea L.) : Kapasitas Total Antioksidan Dan Kadar Metabolik Sekunder Eloydia Vintari, Clarista; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Jurnal sosial dan sains Vol. 4 No. 9 (2024): Jurnal Sosial dan Sains
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jurnalsosains.v4i9.1526

Abstract

Latar Belakang: Reactive Oxygen Species (ROS) memiliki peran vital pada aktivitas fisiologis manusia. Namun, ketika pada tekanan yang tidak rendah, ROS bisa merusak makromolekul krusial seperti protein, karbohidrat, lemak, sertaasam nukleat, yang dapat memicu berbagai penyakit. Ketidakseimbangan antara ROS dan antioksidan dalam tubuh dapat menyebabkan stres oksidatif. Tujuan: Penelitian ini memiliki tujuan dalam membuat keterampilan antioksidan serta metabolit sekunder pada bunga telang Metode: Penelitian dengan eksperimen ini memanfaatkan sari dari bunga telang yang telah mengering serta menghalus, kemudian dimaserasi menggunakan pelarut metanol serta diuapkan sampai menjadi mengental. Skrining fitokimia dilakukan dengan menggunakan metode Harborne, sementara takaran keseluruhan antioksidan diuji menggunakan metode DPPH (Blois). Selain itu, tingkat fenolik keseluruhan diuji mengikuti prosedur Singelton serta Rossi, adapun tingkat alkaloid diukur berdasarkan metode Trivedi et al. Hasil: Penggunaan uji skrining fitokimia, menggunakan sari dari bunga telang teridentifikasi didalamnya terdapat senyawa flavonoid, glikosida, kardioglikosida, alkaloid, saponin, kuinon, fenolik, kumarin, terpenoid, steroid, tanin, dan antosianin. Kapasitas total antioksidan dari sari bunga telang menunjukkan nilai IC50 sebesar 471,42 µg/mL, yang mengindikasikan jika ekstrak ini mempunyai takaran antioksidan yang lemah. Selain itu, ekstrak ini juga memiliki kadar fenolik total sebesar 575,99 µg/mL serta tingkat  alkaloid total sebesar 2,782 µg/mL. Kesimpulan: Sebagai penutup, bunga telang memiliki potensi sebagai sumber antioksidan.
Synthesis and Characterization of Alginate-Cellulose Xanthate Beads from Corn Stalk with NaCl As Porogen Rohmatullah, Wahyu Adhi Putra; Yulianti, Eny; Khoiroh, Lilik Miftahul; Mahmudah, Rif'atul
Annales Bogorienses Vol. 24 No. 2 (2020): Annales Bogorienses
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In this study, the synthesis of porous beads from corn stalks was carried out. The cellulose extracted from corn stalks was converted into cellulose xanthate and combined with alginate to form porous alginate-cellulose xanthate beads by the ionic gelation method. This study attempted to use sodium chloride (NaCl) as a porogen and zinc acetate as a crosslinker. Beads were characterized to determine the porosity, swelling properties, and functional groups using Fourier Transform Infra-Red (FTIR). The geometry of beads was analyzed by optical microscopy, and its surface morphology was analyzed by Scanning Electron Microscopy-Energy Dispersive X-ray (SEM-EDX). The results showed that corn stalks as agricultural waste material could be used to synthesize porous beads material. The swelling and porosity of beads increased with increasing concentration of NaCl. The presence of porogen has increased beads formation. The results demonstrate the crosslinks between zinc acetate and alginate were successfully characterized using FTIR. NaCl concentration of 9.5% resulted in the highest swelling properties (52.80%) and porosity (81.4%) of the beads.
IDENTIFIKASI FITOKIMIA, UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN TOKSISITAS DARI EKSTRAK METANOL DAUN SIRSAK (ANNONA MURICATA L.) Tamba, Monica Diva Maharani; Tadjudin, Noer Saelan; Ferdinal, Frans; Yulianti, Eny
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 4 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i4.52717

Abstract

Radikal bebas mampu merusak struktur biomolekul penting dalam tubuh seperti protein, lipid dan asam nukleat yang berpengaruh terhadap kesehatan. Untuk mencegah kerusakan ini, tubuh membutuhkan antioksidan sebagai penetralnya. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kandungan senyawa fitokimia serta mengevaluasi aktivitas antioksidan dari ekstrak metanol daun sirsak (Annona muricata L.). Metode yang digunakan meliputi uji fitokimia kualitatif dan pengukuran aktivitas antioksidan menggunakan metode FRAP. Selain itu, dilakukan juga uji toksisitas dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, terpenoid, tanin, steroid, antosianin, kardioglikosida, kumarin, glikosida, fenolik, kuinon, dan saponin. Uji aktivitas antioksidan melalui metode FRAP menghasilkan nilai IC₅₀ sebesar 19,61 μg/mL yang tergolong dalam kategori sangat kuat. Jika dibandingkan dengan standar trolox (IC₅₀ = 10,54 μg/mL), ekstrak menunjukkan efektivitas yang cukup tinggi dalam mereduksi ion ferri. Pengujian toksisitas menunjukkan ekstrak daun sirsak memiliki potensi toksik dengan nilai LC sebesar 212,73 μg/ mL, sehingga berpotensi sebagai agen mitosis. Penelitian ini mendukung potensi daun sirsak sebagai sumber antioksidan alami yang kuat dan aman untuk dikembangkan dalam bidang kesehatan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa ekstrak metanol daun sirsak mengandung senyawa fitokimia yang beragam dan menunjukkan aktivitas antioksidan yang tinggi, sehingga berpotensi sebagai kandidat bahan alam untuk terapi preventif penyakit degeneratif.
UJI FENOLIK TOTAL DAN KAPASITAS ANTIOKSIDAN METODE ABTS DAUN KEDONDONG (SPONDIAS DULCIS PARKINSON) rustan, felicia; Yulianti, Eny; Ferdinal, F.
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 4 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i4.52718

Abstract

Kedondong (Spondias dulcis Parkinson) merupakan tanaman tropis yang tersebar luas di Asia Tenggara dan telah lama dimanfaatkan secara tradisional untuk mengatasi infeksi kulit, batuk, demam, serta nyeri tenggorokan, juga sering dikonsumsi sebagai sayuran. Daunnya diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, fenolik, saponin, triterpenoid, dan vitamin C yang berperan sebagai antioksidan alami dalam menetralisir radikal bebas, termasuk ROS dan RNS, pemicu stres oksidatif dan kerusakan seluler. Penelitian ini menganalisis total senyawa fenolik dan aktivitas antioksidan dari ekstrak metanol daun kedondong secara in vitro. Penentuan kandungan fenolik total dilakukan dengan metode Folin-Ciocalteu, sedangkan evaluasi kapasitas antioksidan menggunakan uji ABTS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun kedondong memiliki kandungan fenolik total sebesar 54.691 mg GAE/g serta potensi aktivitas antioksidan tinggi dengan nilai IC₅₀ sebesar 16.05 µg/mL. Menurut klasifikasi aktivitas antioksidan oleh Ranggaini et al. (2024), antioksidan dikategorikan sangat kuat jika nilai IC₅₀ < 50 µg/mL, kuat 50–100 µg/mL, sedang 101–150 µg/mL, dan lemah >150 µg/mL. Dengan nilai IC₅₀ sebesar 16.05 µg/mL dan kandungan fenolik yang tinggi, ekstrak metanol daun kedondong menunjukkan aktivitas antioksidan sangat kuat serta berpotensi dikembangkan sebagai sumber antioksidan alami untuk perlindungan terhadap kerusakan akibat radikal bebas.
EKSTRAK PENTA HERBS FORTE : KAPASITAS ANTIOKSIDAN, UJI TOKSISITAS DAN PENGARUH TERHADAP KADAR GSH HATI TIKUS YANG DIINDUKSI HIPOKSIA SISTEMIK KRONIK Verita, Chaeza Nara; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 1 (2026): MARET 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i4.54183

Abstract

Hipoksia sistemik kronik dapat meningkatkan pembentukan senyawa oksigen reaktif (ROS) yang berperan dalam terjadinya stres oksidatif dan kerusakan jaringan, khususnya pada organ hati. Kondisi ini menyebabkan penurunan aktivitas sistem antioksidan endogen, salah satunya glutation tereduksi (GSH). Penta Herbs Forte merupakan kombinasi ekstrak lima tanaman herbal, yaitu jahe merah, temulawak, meniran, sambiloto, dan sembung, yang diketahui memiliki potensi antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kapasitas antioksidan ekstrak Penta Herbs Forte menggunakan metode ABTS, uji toksisitas menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), serta pengaruhnya terhadap kadar GSH hati tikus yang diinduksi hipoksia sistemik kronik. Penelitian ini merupakan studi eksperimental yang terdiri dari uji in vitro dan in vivo. Uji kapasitas antioksidan dilakukan dengan metode ABTS dan dinyatakan sebagai nilai IC₅₀. Uji toksisitas dilakukan menggunakan BSLT untuk menentukan nilai LC₅₀. Uji in vivo dilakukan pada tikus Sprague Dawley jantan yang dibagi ke dalam kelompok kontrol dan kelompok uji yang diberikan ekstrak Penta Herbs Forte, kemudian diinduksi hipoksia sistemik kronik. Kadar GSH hati diukur menggunakan metode Ellman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak Penta Herbs Forte memiliki kapasitas antioksidan yang tinggi berdasarkan uji ABTS dan menunjukkan aktivitas toksik pada uji BSLT. Kadar GSH hati mengalami penurunan seiring lamanya paparan hipoksia pada kedua kelompok. Namun, kadar GSH hati pada kelompok yang diberikan ekstrak Penta Herbs Forte lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak Penta Herbs Forte memiliki aktivitas antioksidan dan berperan dalam mempertahankan kadar GSH hati pada kondisi hipoksia sistemik kronik.
Kapasitas Antioksidan Ekstrak Batang Brotowali (Tinospora crispa L.) dengan metode ABTS, DPPH, dan FRAP Soebrata, Linginda; Swantari, Ni Made; Ferdinal, Frans; Yulianti, Eny
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ Vol 9, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/amj.v9i1.27669

Abstract

Antioksidan banyak terkandung dalam tanaman, terutama tanaman herbal. Batang brotowali (Tinospora crispa L.) merupakan salah satu tanaman herbal yang memiliki potensi antioksidan. Kapasitas antioksidan dapat bervariasi tergantung dari metode yang digunakan. Oleh karena itu, pada penelitian ini, penulis bertujuan untuk menentukan kapasitas antioksidan ekstrak batang brotowali dengan berbagai metode. Penelitian dilakukan menggunakan metode DPPH, ABTS, dan FRAP, dengan metanol sebagai pelarutnya. Hasil didapatkan bahwa metode FRAP menghasilkan nilai IC50 yang paling rendah yaitu 17.08 µg/mL, dengan hasil ABTS dan DPPH berturut – turut sebagai berikut 38.63 µg/mL, 245.95 µg/mL, sehingga dapat disimpulkan bahwa batang brotowali memiliki aktivitas antioksidan yang bervariasi antara kuat hingga lemat bergantung pada metode yang digunakan. Hasil paling tinggi ditemukan pada metode FRAP.Kata kunci: ABTS, antioksidan, DPPH, FRAP
Analisis Kandungan Fitokimia, Fenolik, Aktivitas Antioksidan, dan Toksisitas Daun Kumis Kucing Aspasia, Ariadne Calista; Swantari, Ni Made; Ferdinal, Frans; Yulianti, Eny
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 32 No 3 (2026): MEI
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v32i3.3818

Abstract

Introduction: Orthosiphon stamineus (cat’s whiskers) is a traditional medicinal plant rich in bioactive compounds and has potential as a natural antioxidant. However, comprehensive studies linking its phytochemical composition with antioxidant activity and toxicity remain limited. Purpose: This study aimed to evaluate the phytochemical profile, total phenolic content, antioxidant activity, and toxicity of O. stamineus leaf extract. Methods: The study was conducted experimentally using in vitro and bioassay approaches. Phytochemical screening was performed to identify secondary metabolites. Total phenolic content was determined using the Folin–Ciocalteu method with gallic acid as the standard. Antioxidant activity was assessed using DPPH, ABTS, and FRAP assays, while toxicity was evaluated using the Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Results: The results showed that the extract contained various secondary metabolites, including alkaloids, flavonoids, coumarins, tannins, phenolics, terpenoids, steroids, glycosides, quinones, anthocyanins, and cardiac glycosides. The total phenolic content was 43.02 mg GAE/g DW. The IC₅₀ values for DPPH and ABTS were 116.29 µg/mL and 123.22 µg/mL, respectively, indicating moderate antioxidant activity. The FRAP value was 337.9 µmol/L. Toxicity testing yielded an LC₅₀ value of 653.6 µg/mL, indicating low toxicity. Conclusion: O. stamineus leaf extract shows potential as a natural antioxidant source with low toxicity, supporting its prospective application in pharmaceutical and health-related fields.
Co-Authors A. Ghanaim Fasya Abdul Hakim Ahmad Hanapi Akhmad Sabarudin Akyunul Jannah Al Akbar, Ramadhana Fatahillah Al-Rosyid, Ahmad Taufiqurrahman Amaliyah, Nada Rifqi Aspasia, Ariadne Calista Asyraf, Muhammad Zain Alwi Az Zahra, Audy Azmiyani, Ulal Bayyinatul Muchtarohmah Begum Fauziyah Chanafi, Imam Chilmy, Mochammad Sholla Nadhif Darma, Timothy Halomoan David Limanan Eloydia Vintari, Clarista Ezra, Pasuarja Jeranding Fadlan, Mochamad Lailul Fiddaroini, Saidun Frans Ferdinal Habibah, Rizka Azahra Haq, Naufal Rizqi Hartini, Eny Yulianti, Rif’atul Mahmudah, Lilik Helmi Rizal Hilmi, Fakih Himmatul Barroroh Ida Ayu Putu Sri Widnyani Istighfarini, Vina Nurul Kusuma, Andrea Bianca Castafiore Latifah, Annazmil Fayros Lilik Miftahul Khoiroh Lin, Leonard Luky Adrianto Lutfia, Fadilah Nor Laili M Mukhlis Fahruddin Ma'rifah, Ainul Maharani, Karennina Larissa Mahmudah, RIf'atul Majdi, Dani Sanaya Marcella, Agnes Mellenia, Kelnia Mubasyiroh, Mubasyiroh Muslimah Muti'ah, Roihatul Nafi’ah, Sriani Nafi’ah, Sriani Najukha, Yusrifa Noer Saelan Tadjudin Norman Ferdinal Okky Vara Velya Oky Bagas Prasetyo Palufi, Ulfa Engky Praminto, Yusa Linda Qotru Nada Pujiana, Nurliza Purwoko, Agus Putri, Ivvani Aulia Putri, Nawaika Shafira Rahmatulloh, Arief Rohmad, Azzufa Nurkamila Rohmatullah, Wahyu Adhi Putra Royana, Isna Royanudin, Moch Royyanuddin, Moh Ro’iyah, Maulidhotur Rumengan, Peterjohn Andrew Benhard rustan, felicia Saerang, Stefanus Handy Sakhi, Fillah Mufti Santoso, Stanley Sholikah, Siti Amanatus Sholikhah, Badiatus Siswahyudianto Siti Aisyah Siti Suwaibatul Aslamiah, Siti Suwaibatul Soebrata, Linginda Sri Harini Susi Nurul Khalifah Swantari, Ni Made Sya’banah, Nishfu Sya’baniah, Khalda Tamba, Monica Diva Maharani Tanuhariono, Ardhita Felicia Taufik, Moh Titian Ajeng Wahyuningtyas Tiyas, Rika Setianing Ulil Fitriyah Verita, Chaeza Nara Wadziatir Rizqi, Wadziatir Wahyuningtyas, Titian Ajeng Warsito . Widad Hakim, Sofwatul Yuliastuti, Rostiwi Endah Zamroni, Anits