Claim Missing Document
Check
Articles

Uji Fenolik Total dan Kapasitas Antioksidan Ekstrak Buah Psophocarpus tetragonolobus Darma, Timothy Halomoan; Limanan, David; Yulianti, Eny
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.159

Abstract

Reactive Oxygen Species (ROS) adalah molekul oksigen reaktif yang dihasilkan sebagai produk sampingan dari metabolisme sel normal, terutama di mitokondria. Meskipun ROS memainkan peran penting dalam proses fisiologis, akumulasi berlebih dapat menyebabkan kerusakan oksidatif pada biomolekul seperti DNA, protein, dan lipid. Antioksidan berfungsi untuk menetralkan ROS dan melindungi sel dari kerusakan oksidatif. Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus) diketahui memiliki kapasitas antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi kapasitas fenolik total dan kapasitas antioksidan keseluruhan dari ekstrak metanol yang berasal dari kecipir. Penelitian ini menggunakan desain studi eksperimental in vitro. Proses ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan metanol sebagai pelarut. Analisis meliputi tes kapasitas antioksidan menggunakan 1,1-Diphenyl-2-Picrylhydrazyl (DPPH) dan uji fenolik total. Uji kapasitas antioksidan menunjukkan nilai IC50 sebesar 47,7 µg/mL, mengklasifikasikannya sebagai antioksidan sangat kuat. Temuan ini menunjukkan potensi ekstrak kecipir sebagai antioksidan yang efektif. Sementara untuk uji fenolik totalnya 34,90 mg GAE/gram dengan pengenceran dua kali. Ekstrak metanol buah kecipir memiliki potensi sebagai sumber antioksidan alami yang efektif dengan aktivitas antioksidan yang kuat, serta kandungan fenolik yang tinggi, sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut dalam aplikasi kesehatan, khususnya pencegahan penyakit akibat stres oksidatif.
Uji Kapasitas Antioksidan Pada Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia Sappan L.) Dengan Metode DPPH, FRAP Asyraf, Muhammad Zain Alwi; Limanan, David; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.165

Abstract

Antioksidan berperan sebagai pelindung dari kerusakan oksidatif, termasuk antioksidan eksogen yang bisa didapatkan dari bahan-bahan herbal. Salah satu contoh antioksidan eksogen alami yang banyak ditemukan di Indonesia adalah kayu secang (Caesalpinia sappan L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kapasitas antioksidan dari ekstrak kayu secang menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) dan FRAP (ferric reducing antioxidant power). Hasil uji kapasitas antioksidan dengan metode DPPH pada ekstrak kayu secang menunjukkan nilai IC50 sebesar 99,996 µg/mL, sementara dengan metode FRAP nilai IC50 yang diperoleh adalah 24,853 µg/mL. Berdasarkan nilai ini, kayu secang memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat menurut metode FRAP (nilai IC50 ≤ 50 µg/mL) dan aktivitas antioksidan kuat menurut metode DPPH (nilai IC50 antara 50 – 100 µg/mL). Dengan demikian, kayu secang (Caesalpinia sappan L.) berpotensi dimanfaatkan sebagai antioksidan.
Uji Kadar Fenolik Total dan Uji Kapasitas Antioksidan Daun Kunyit (Curcuma longa) dengan Metode ABTS Rumengan, Peterjohn Andrew Benhard; Limanan, David; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.170

Abstract

Bisphenol-A yang ditemukan pada beberapa galon minuman dapat menyebabkan ketidakseimbangan Reactive Oxygen Species (ROS) dengan meningkatkan mediator oksidatif dan menurunkan enzim antioksidan. Kadar ROS yang berlebihan memicu stres oksidatif, merusak makromolekul penting seperti lipid, protein, karbohidrat, dan asam nukleat, yang dapat menyebabkan penyakit metabolik dan degeneratif. Antioksidan memiliki peran penting dalam mencegah stres oksidatif dengan menghambat produksi ROS berlebih. Kunyit (Curcuma longa) merupakan tanaman herbal yang banyak digunakan di Indonesia, dengan daun yang diketahui kaya akan antioksidan dan fenolik. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kapasitas antioksidan dan kadar fenolik total dari daun kunyit. Metode eksperimen yang digunakan adalah uji ABTS dan pengukuran kadar fenolik dengan asam galat. Ekstrak daun kunyit menunjukkan nilai IC50 sebesar 27,895 µg/mL dan kadar fenolik total sebesar 153,184 mgGAE/g. Uji ABTS menghasilkan nilai IC50 <50 µg/mL, yang menunjukkan kapasitas antioksidan yang sangat kuat. Temuan ini menunjukkan bahwa ekstrak daun kunyit memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pengobatan alternatif untuk penyakit metabolik dan degeneratif. Aktivitas antioksidan yang kuat dan kandungan fenolik tinggi menjadikan daun kunyit sumber alami yang menjanjikan untuk eksplorasi lebih lanjut dalam bidang pengobatan.
Uji Fenolik Total dan Kapasitas Antioksidan DPPH Ekstrak Daun Singkong (Manihot esculenta) Lin, Leonard; Yulianti, Eny; Ferdinal, F.
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i2.175

Abstract

Singkong merupakan bahan makanan pokok yang sering dikonsumsi di Indonesia. Daunnya sendiri bisa menjadi berbagai masakan seperti ditumis, direbus ataupun sebagai lalapan. Daun singkong dikatakan dapat membantu beberapa penyakit seperti hipertensi. Daun singkong banyak mengandung mineral seperti Fe, Zn, Mn, Cu, Mg, Ca, K, mengandung protein kasar, β-karoten serta memiliki senyawa aktif flavonoid, fenolik, dan mengandung klorofil yang merupakan antioksidan alami. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yang bersifat in vitro dan bioassay. Uji in vitro yang dilakukan terdiri dari uji fitokimia, uji kapasitas total antioksidan, uji fenolik total serta uji toksisitas BSLT. Hasil Penelitian menunjukan bahwa didalam kandungan bahwa ekstrak Manihot esculenta positif alkaloid, anthocyanin dan betacyanin, kardioglikosida, coumarin, flavonoid, glikosida, fenol, saponin, steroid, dan tannin. Sedangkan hasil uji fitokimia kuinon, dan terpenoid didapatkan hasil negatif. Kadar fenolik dalam ekstrak daun Manihot esculenta didapatkan 48,87 mgGAE/gr. Hasil uji kapasitas antioksidan DPPH diperoleh IC50 sebesar 285,371 μg/mL. Berdasarkan hasil ini, dapat disimpulkan bahwa daun singkong berpotensi sebagai sumber antioksidan alami yang dapat dimanfaatkan dalam pengobatan untuk melawan penyakit akibat oxidative stress, meskipun dengan efektivitas yang lebih rendah dibandingkan dengan standar antioksidan Trolox.
Skrining Fitokimia dan Uji Toksisitas Ekstrak Bunga Tapak Dara (Catharanthus Roseus) Najukha, Yusrifa; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.208

Abstract

Bunga tapak dara (Catharanthus roseus) merupakan tanaman perdu yang termasuk dalam famili Apocynaceae. Tanaman ini telah dikenal sejak lama sebagai tanaman hias dan juga dalam pengobatan tradisional sebagai obat. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dan tingkat toksisitas pada bunga tapak dara (Catharanthus roseus). Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental yang bersifat in vitro dan bioassay. Terdiri dari uji fitokimia dan uji toksisitas dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Hasil uji fitokimia didapatkan bahwa ekstrak bunga tapak dara (Catharanthus roseus) mengandung alkaloid, betasianin, kardioglikosida, kumarin, flavonoid, glikosida, fenolik, kuinon, saponin, terpenoid dan tannin sehingga dapat berpotensi sebagai antioksidan. Tingkat toksisitas ekstrak bunga tapak dara (Catharanthus roseus) ditunjukkan dengan nilai LC50 sebesar 162,181 µg/mL sehingga masuk dalam kategori toksik sedang yang berpotensi sebagai antimitosis. Ekstrak bunga tapak dara (Catharanthus roseus) mengandung berbagai senyawa fitokimia dengan kapasitas antioksidan kuat menurut metode ABTS dan FRAP, serta potensi sebagai senyawa antikanker. Namun, kapasitas antioksidan berdasarkan metode DPPH tergolong sangat lemah. 
ANALISIS FITOKIMIA, UJI FENOLIK DAN TOTAL ANTIOKSIDAN EKSTRAK BIJI CHIA METODE FRAP Saerang, Stefanus Handy; Limanan, David; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v5i1.34477

Abstract

Radikal bebas dapat didefinisikan sebagai suatu senyawa yang bersifat tidak stabil karena memiliki elektron tidak berpasangan, menjadikannya sangat mudah bereaksi dan berpotensi merusak struktur biologis tubuh, sehingga berpotensi merusak struktur biologis dalam tubuh. Apabila jumlah pembentukan radikal bebas melebihi kapasitas sistem tubuh untuk menetralkan radikal bebas, maka dapat memicu kondisi stres oksidatif, yang berhubungan erat dengan berbagai gangguan kronis seperti diabetes, kanker, penyakit kardiovaskular, dan gangguan ginjal. Antioksidan memiliki peran penting dalam menetralisir radikal bebas, yang pada akhirnya berperan dalam menjaga sel agar tidak mengalami kerusakan. Biji chia (Salvia hispanica L.) diketahui memiliki senyawa aktif seperti fenolik dan flavonoid yang berpotensi bertindak menjadi antioksidan alami. Penelitian ini dilaksanakan untuk menilai jumlah keseluruhan senyawa fenolik serta kemampuan antioksidan, dan profil senyawa aktif dari ekstrak biji chia melalui pendekatan in vitro. Proses analisis meliputi identifikasi senyawa aktif menggunakan skrining fitokimia, pengukuran kadar fenolik total dilakukan dengan metode Folin–Ciocalteu, dan untuk pengujian aktivitas antioksidan dilakukan melalui metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power). Pengujian fitokimia mengindikasikan bahwa ekstrak biji chia memiliki berbagai senyawa, di antaranya steroid, terpenoid, dan alkaloid, fenol, flavonoid, kuinon, saponin, tanin, kumarin, betasianin, dan kardioglikosida. Kandungan total fenolik mencapai 46,79 mg GAE per gram, mencerminkan tingginya konsentrasi senyawa fenolik. Sementara itu, uji FRAP menunjukkan nilai kapasitas antioksidan sebesar 15,885 µg/mL, yang menandakan bahwa kemampuan antioksidannya tergolong sangat tinggi. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa ekstrak biji chia berpotensi digunakan sebagai antioksidan alami dan kandidat bahan aktif untuk mendukung pencegahan penyakit akibat stres oksidatif.
Skrining Fitokimia, Kapasitas Antioksidan, dan Efek Sitotoksik Ekstrak Metanol Daun Kari (Murraya koenigii L.) Tanuhariono, Ardhita Felicia; Limanan, David; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Bahasa Indonesia Vol 24 No 1 (2025): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v24i1.5940

Abstract

Pendahuluan: Kanker merupakan kelainan genetik dan metabolik yang menjadi tantangan yang besar pada abad ke-21 ini. Dewasa ini terbukti bahwa Reactive Oxygen Species (ROS) dapat memicu karsinogenesis melalui beberapa jalur ongkogenik atau mutasi ongkogenik pada DNA. Oleh sebab itu diperlukan antioksidan yang dapat meregulasi jumlah ROS dalam sel kanker. Selain itu, hampir semua aktivitas fitokimia bekerja dalam beberapa jalur pensinyalan sel dan dapat berpotensi menghambat progresi keganasan. Salah satu fitokimia yang dapat memicu apoptosis adalah alkaloid karbazol yang terdapat pada daun kari (Murraya koenigii L.). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan fitokimia, kapasitas antioksidan, dan sitotoksisitas ekstrak metanol daun kari. Metode: Penelitian ini menggunakan ekstrak metanol daun kari yang diperoleh dengan metode perkolasi. Ekstrak kemudian dilakukan pengujian secara invitro untuk mengetahui kandungan fitokimia dan kapasitas antioksidan dengan metode 3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid (ABTS). Selain itu, dilakukan juga pengujian dengan bioassay pada uji sitotoksisitas metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Hasil: Ekstrak metanol daun kari mengandung alkaloid, antosianin, koumarin, flavonoid, kuinon, saponin, steroid, tanin, dan terpenoid, dengan kapasitas antioksidan yang dinyatakan dalam IC50 sebesar 30,70 μg/mL, sedikit lebih lemah dibandingkan Trolox sebesar 16,46 µg/mL. Sedangkan uji sitotoksisitas pada ekstrak metanol daun kari didapatkan LC50 sebesar 235,34 µg/mL. Simpulan: Ekstrak metanol daun kari memiliki beragam fitokimia dengan aktivitas antioksidan yang sangat kuat (> 150 µg/mL) dan tergolong toksik (31 – 1000 µg/mL) sehingga bersifat sitotoksik terhadap sel yang sedang membelah sehingga memiliki potensi sebagai antikanker.
Analisis Parameter Kimia Kualitas Air Minum Ayam Petelur (Gallus domesticus) di Kabupaten Blitar dan Kajian Literatur Fitoremediasi Kadar Fluorida Yulianti, Eny; Wahyuningtyas, Titian Ajeng; Sholikhah, Badiatus; Yuliastuti, Rostiwi Endah; Royanudin, Moch; Nafi’ah, Sriani
Bioscientist : Jurnal Ilmiah Biologi Vol. 12 No. 1 (2024): June
Publisher : Department of Biology Education, FSTT, Mandalika University of Education, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/bioscientist.v12i1.8885

Abstract

Drinking water quality is a crucial factor that influences livestock productivity. Regular evaluation of the quality of livestock drinking water is an essential activity. Blitar Regency is known as a center for egg production from laying hens (Gallus domesticus). This study aims to evaluate the quality of livestock drinking water and provide a literature review regarding the potential for improvement through phytoremediation methods. This research method involves laboratory analysis and literature review. Laboratory analysis is carried out to determine the quality of water chemical parameters, then the results are compared with livestock drinking water standards regulated by Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number 32 of 2017. If a discrepancy is found with the standards, it is continued with a literature study regarding the use of phytoremediation methods as a solution. Analysis of chemical parameters, including ion levels, using a reagent kit with the help of Spectroquant Pharo 300 UV Vis spectroscopy. The results of the analysis involve iron, fluoride, manganese, nitrate, nitrite, cyanide, hardness, cadmium, zinc metal and sulfate. All parameters meet quality standards, except for Fluoride (F-) levels which exceed the threshold of 1.5 mg/L, caused by the use of groundwater sources or wells which have the potential to have higher mineral content than surface water. The potential impacts of high fluoride levels on laying hens include reduced egg production, impaired growth, reproductive disorders, decreased water consumption, and decreased body weight. The literature review highlights phytoremediation methods involving plants as an economical and effective solution. Afforestation, such as planting grass or bushes around livestock areas and wells, or through creating ponds with aquatic plants, can significantly reduce fluoride levels in livestock drinking water.
Perbandingan Uji Kapasitas Total Antioksidan Ekstrak Daun Kelor dengan Metode DPPH, FRAP, dan ABTS Putri, Nawaika Shafira; Limanan, David; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 6 No. 02 (2024): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v6i02.154

Abstract

Reaksi oksidasi adalah proses alami dalam tubuh manusia yang terjadi selama metabolisme sel dan respirasi, menghasilkan reactive oxygen species (ROS) atau radikal bebas. Ketidakseimbangan antara produksi ROS yang berlebihan dan pertahanan antioksidan yang tidak memadai dapat menyebabkan stres oksidatif, yang berdampak negatif pada molekul biologis seperti karbohidrat, protein, lipid, dan DNA. Stres oksidatif ini berkontribusi pada berbagai penyakit, termasuk radang sendi, aterosklerosis, diabetes, kanker, dan gangguan neurodegeneratif, serta mempercepat penuaan. Antioksidan berperan penting dalam menetralkan radikal bebas dan memperbaiki kerusakan akibat stres oksidatif. Daun kelor (Moringa oleifera L) dikenal kaya akan nutrisi dan antioksidan, termasuk vitamin C, vitamin E, flavonoid dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kapasitas total antioksidan dari ekstrak daun kelor menggunakan tiga metode yang berbeda, yaitu DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil), FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power), dan ABTS (2,2'-azinobis-(3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid)). Pengukuran absorbansi dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer Genesys 30-vis, dan data dianalisis menggunakan grafik dari program GraphPad Prism versi 7.0 (La Jolla, California, USA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai IC50 ekstrak daun kelor dengan metode DPPH adalah 71,011 μg/mL, yang tergolong antioksidan kuat (50-100 μg/mL). Dengan metode FRAP, nilai IC50 16,943 μg/mL, dengan metode ABTS nilai IC50 sebesar 25,533 μg/mL; keduanya termasuk dalam kategori antioksidan sangat kuat (<50 μg/mL). Hasil ini menunjukkan bahwa metode FRAP dan ABTS lebih sensitif dalam mendeteksi kapasitas antioksidan ekstrak daun kelor dibandingkan metode DPPH. Penelitian ini menunjukkan potensi ekstrak daun kelor sebagai sumber antioksidan alami yang berpotensi mencegah penyakit terkait stres oksidatif.
Uji Kapasitas Antiokisdan pada Ekstrak Daun Peppermint (Mentha piperita L.) dengan Metode DPPH, FRAP, ABTS Kusuma, Andrea Bianca Castafiore; Limanan, David; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 6 No. 02 (2024): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v6i02.155

Abstract

Paparan terhadap konsentrasi oksigen tinggi bisa merugikan organ tubuh mulai dari sistem kardiovaskular, gastrointestinal, pernapasan dan saraf. Melalui reaksinya dengan elektron, oksigen dapat berubah menjadi reactive oxygen species (ROS). ROS merupakan by-product yang berasal dari metabolisme sel terutama mitokondria. Ketika ROS diproduksi melebihi kapasitas antioksidan sel, terjadilah stres oksidatif dimana keadaan ini dapat merusak makromolekul seperti lipid, protein dan DNA sebagai inisiasi perkembangan suatu penyakit. Salah satu mekanisme pertahanan untuk melindungi tubuh dari efek berbahaya ROS adalah dengan antioksidan, yaitu senyawa yang mampu mencegah atau memperlambat proses oksidasi. Tentunya antioksidan sudah terkandung dalam sel tubuh, tetapi antioksidan juga bisa diperoleh dari luar, salah satunya daun peppermint (Mentha piperita L.). Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menguji metabolit sekunder, aktivitas antioksidan, dan toksisitas dari ekstrak daun mint. Desain penelitian ini merupakan eksperimental yang bersifat in vitro. Daun peppermint diekstrak dengan metode maserasi menggunakan metanol sebagai pelarut. Ekstrak yang diperoleh dilakukan pengujian yang uji kapasitas total antioksidan menggunakan tiga metode yakni, DPPH, FRAP dan ABTS dengan pembanding trolox. Dari uji kapasitas total antioksidan,  didapatkan nilai IC50 terhadap DPPH 92,994, FRAP 23,899, dan ABTS 27,180. Dapat dikatakan ekstrak daun mint tergolong kategori antioksidan kuat hingga sangat kuat dengan kapasitas antioksidan lebih kecil dibandingkan trolox. Hal ini membuktikan ekstrak daun mint memiliki potensi sebagai antioksidan.
Co-Authors A. Ghanaim Fasya Abdul Hakim Ahmad Hanapi Akhmad Sabarudin Akyunul Jannah Al Akbar, Ramadhana Fatahillah Al-Rosyid, Ahmad Taufiqurrahman Amaliyah, Nada Rifqi Aspasia, Ariadne Calista Asyraf, Muhammad Zain Alwi Az Zahra, Audy Azmiyani, Ulal Bayyinatul Muchtarohmah Begum Fauziyah Chanafi, Imam Chilmy, Mochammad Sholla Nadhif Darma, Timothy Halomoan David Limanan Eloydia Vintari, Clarista Ezra, Pasuarja Jeranding Fadlan, Mochamad Lailul Fiddaroini, Saidun Frans Ferdinal Habibah, Rizka Azahra Haq, Naufal Rizqi Hartini, Eny Yulianti, Rif’atul Mahmudah, Lilik Helmi Rizal Hilmi, Fakih Himmatul Barroroh Ida Ayu Putu Sri Widnyani Istighfarini, Vina Nurul Kusuma, Andrea Bianca Castafiore Latifah, Annazmil Fayros Lilik Miftahul Khoiroh Lin, Leonard Luky Adrianto Lutfia, Fadilah Nor Laili M Mukhlis Fahruddin Ma'rifah, Ainul Maharani, Karennina Larissa Mahmudah, RIf'atul Majdi, Dani Sanaya Marcella, Agnes Mellenia, Kelnia Mubasyiroh, Mubasyiroh Muslimah Muti'ah, Roihatul Nafi’ah, Sriani Nafi’ah, Sriani Najukha, Yusrifa Noer Saelan Tadjudin Norman Ferdinal Okky Vara Velya Oky Bagas Prasetyo Palufi, Ulfa Engky Praminto, Yusa Linda Qotru Nada Pujiana, Nurliza Purwoko, Agus Putri, Ivvani Aulia Putri, Nawaika Shafira Rahmatulloh, Arief Rohmad, Azzufa Nurkamila Rohmatullah, Wahyu Adhi Putra Royana, Isna Royanudin, Moch Royyanuddin, Moh Ro’iyah, Maulidhotur Rumengan, Peterjohn Andrew Benhard rustan, felicia Saerang, Stefanus Handy Sakhi, Fillah Mufti Santoso, Stanley Sholikah, Siti Amanatus Sholikhah, Badiatus Siswahyudianto Siti Aisyah Siti Suwaibatul Aslamiah, Siti Suwaibatul Soebrata, Linginda Sri Harini Susi Nurul Khalifah Swantari, Ni Made Sya’banah, Nishfu Sya’baniah, Khalda Tamba, Monica Diva Maharani Tanuhariono, Ardhita Felicia Taufik, Moh Titian Ajeng Wahyuningtyas Tiyas, Rika Setianing Ulil Fitriyah Verita, Chaeza Nara Wadziatir Rizqi, Wadziatir Wahyuningtyas, Titian Ajeng Warsito . Widad Hakim, Sofwatul Yuliastuti, Rostiwi Endah Zamroni, Anits