Claim Missing Document
Check
Articles

Uji Toksisitas dan Kapasitas Antioksidan ABTS pada Apium Graveolens Maharani, Karennina Larissa; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.157

Abstract

Seledri (Apium graveolens) merupakan tumbuhan yang mudah ditemukan, dapat dikonsumsi dan umumnya dapat digunakan sebagai  pengobatan karena memiliki banyak manfaat terutama dalam bidang kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dan mengetahui kandungan kapasitas antioksidan dan toksisitas pada Apium graveolens. Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental in vitro. Analisis yang digunakan meliputi uji kapasitas antioksidan 2,2’-azino-bis-(3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic)acid (ABTS) dan uji toksisitas Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Pada uji kapasitas antioksidan menunjukan nilai IC50 11,446 µg/mL, termasuk ke dalam kategori antioksidan yang sangat kuat. Penelitian ini menunjukan bahwa Apium graveolens merupakan antioksidan yang cukup efektif. Tingkat toksisitas Apium graveolens yang ditunjukan dengan nilai LC50 didapatkan sebesar 269,153 µg/mL, termasuk ke dalam kategori toksisitas toksik sedang sehingga memiliki potensi sebagai antimitosis. Berdasarkan hasil ini, disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai aplikasi klinis ekstrak seledri, terutama dalam pengembangan suplemen antioksidan untuk pencegahan penyakit degeneratif.
Uji Fenolik Total dan Kapasitas Antioksidan Ekstrak Buah Psophocarpus tetragonolobus Darma, Timothy Halomoan; Limanan, David; Yulianti, Eny
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.159

Abstract

Reactive Oxygen Species (ROS) adalah molekul oksigen reaktif yang dihasilkan sebagai produk sampingan dari metabolisme sel normal, terutama di mitokondria. Meskipun ROS memainkan peran penting dalam proses fisiologis, akumulasi berlebih dapat menyebabkan kerusakan oksidatif pada biomolekul seperti DNA, protein, dan lipid. Antioksidan berfungsi untuk menetralkan ROS dan melindungi sel dari kerusakan oksidatif. Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus) diketahui memiliki kapasitas antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi kapasitas fenolik total dan kapasitas antioksidan keseluruhan dari ekstrak metanol yang berasal dari kecipir. Penelitian ini menggunakan desain studi eksperimental in vitro. Proses ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan metanol sebagai pelarut. Analisis meliputi tes kapasitas antioksidan menggunakan 1,1-Diphenyl-2-Picrylhydrazyl (DPPH) dan uji fenolik total. Uji kapasitas antioksidan menunjukkan nilai IC50 sebesar 47,7 µg/mL, mengklasifikasikannya sebagai antioksidan sangat kuat. Temuan ini menunjukkan potensi ekstrak kecipir sebagai antioksidan yang efektif. Sementara untuk uji fenolik totalnya 34,90 mg GAE/gram dengan pengenceran dua kali. Ekstrak metanol buah kecipir memiliki potensi sebagai sumber antioksidan alami yang efektif dengan aktivitas antioksidan yang kuat, serta kandungan fenolik yang tinggi, sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut dalam aplikasi kesehatan, khususnya pencegahan penyakit akibat stres oksidatif.
Uji Kapasitas Antioksidan Pada Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia Sappan L.) Dengan Metode DPPH, FRAP Asyraf, Muhammad Zain Alwi; Limanan, David; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.165

Abstract

Antioksidan berperan sebagai pelindung dari kerusakan oksidatif, termasuk antioksidan eksogen yang bisa didapatkan dari bahan-bahan herbal. Salah satu contoh antioksidan eksogen alami yang banyak ditemukan di Indonesia adalah kayu secang (Caesalpinia sappan L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kapasitas antioksidan dari ekstrak kayu secang menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) dan FRAP (ferric reducing antioxidant power). Hasil uji kapasitas antioksidan dengan metode DPPH pada ekstrak kayu secang menunjukkan nilai IC50 sebesar 99,996 µg/mL, sementara dengan metode FRAP nilai IC50 yang diperoleh adalah 24,853 µg/mL. Berdasarkan nilai ini, kayu secang memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat menurut metode FRAP (nilai IC50 ≤ 50 µg/mL) dan aktivitas antioksidan kuat menurut metode DPPH (nilai IC50 antara 50 – 100 µg/mL). Dengan demikian, kayu secang (Caesalpinia sappan L.) berpotensi dimanfaatkan sebagai antioksidan.
Uji Kadar Fenolik Total dan Uji Kapasitas Antioksidan Daun Kunyit (Curcuma longa) dengan Metode ABTS Rumengan, Peterjohn Andrew Benhard; Limanan, David; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.170

Abstract

Bisphenol-A yang ditemukan pada beberapa galon minuman dapat menyebabkan ketidakseimbangan Reactive Oxygen Species (ROS) dengan meningkatkan mediator oksidatif dan menurunkan enzim antioksidan. Kadar ROS yang berlebihan memicu stres oksidatif, merusak makromolekul penting seperti lipid, protein, karbohidrat, dan asam nukleat, yang dapat menyebabkan penyakit metabolik dan degeneratif. Antioksidan memiliki peran penting dalam mencegah stres oksidatif dengan menghambat produksi ROS berlebih. Kunyit (Curcuma longa) merupakan tanaman herbal yang banyak digunakan di Indonesia, dengan daun yang diketahui kaya akan antioksidan dan fenolik. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kapasitas antioksidan dan kadar fenolik total dari daun kunyit. Metode eksperimen yang digunakan adalah uji ABTS dan pengukuran kadar fenolik dengan asam galat. Ekstrak daun kunyit menunjukkan nilai IC50 sebesar 27,895 µg/mL dan kadar fenolik total sebesar 153,184 mgGAE/g. Uji ABTS menghasilkan nilai IC50 <50 µg/mL, yang menunjukkan kapasitas antioksidan yang sangat kuat. Temuan ini menunjukkan bahwa ekstrak daun kunyit memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pengobatan alternatif untuk penyakit metabolik dan degeneratif. Aktivitas antioksidan yang kuat dan kandungan fenolik tinggi menjadikan daun kunyit sumber alami yang menjanjikan untuk eksplorasi lebih lanjut dalam bidang pengobatan.
Uji Fenolik Total dan Kapasitas Antioksidan DPPH Ekstrak Daun Singkong (Manihot esculenta) Lin, Leonard; Yulianti, Eny; Ferdinal, F.
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i2.175

Abstract

Singkong merupakan bahan makanan pokok yang sering dikonsumsi di Indonesia. Daunnya sendiri bisa menjadi berbagai masakan seperti ditumis, direbus ataupun sebagai lalapan. Daun singkong dikatakan dapat membantu beberapa penyakit seperti hipertensi. Daun singkong banyak mengandung mineral seperti Fe, Zn, Mn, Cu, Mg, Ca, K, mengandung protein kasar, β-karoten serta memiliki senyawa aktif flavonoid, fenolik, dan mengandung klorofil yang merupakan antioksidan alami. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yang bersifat in vitro dan bioassay. Uji in vitro yang dilakukan terdiri dari uji fitokimia, uji kapasitas total antioksidan, uji fenolik total serta uji toksisitas BSLT. Hasil Penelitian menunjukan bahwa didalam kandungan bahwa ekstrak Manihot esculenta positif alkaloid, anthocyanin dan betacyanin, kardioglikosida, coumarin, flavonoid, glikosida, fenol, saponin, steroid, dan tannin. Sedangkan hasil uji fitokimia kuinon, dan terpenoid didapatkan hasil negatif. Kadar fenolik dalam ekstrak daun Manihot esculenta didapatkan 48,87 mgGAE/gr. Hasil uji kapasitas antioksidan DPPH diperoleh IC50 sebesar 285,371 μg/mL. Berdasarkan hasil ini, dapat disimpulkan bahwa daun singkong berpotensi sebagai sumber antioksidan alami yang dapat dimanfaatkan dalam pengobatan untuk melawan penyakit akibat oxidative stress, meskipun dengan efektivitas yang lebih rendah dibandingkan dengan standar antioksidan Trolox.
Skrining Fitokimia dan Uji Toksisitas Ekstrak Bunga Tapak Dara (Catharanthus Roseus) Najukha, Yusrifa; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.208

Abstract

Bunga tapak dara (Catharanthus roseus) merupakan tanaman perdu yang termasuk dalam famili Apocynaceae. Tanaman ini telah dikenal sejak lama sebagai tanaman hias dan juga dalam pengobatan tradisional sebagai obat. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dan tingkat toksisitas pada bunga tapak dara (Catharanthus roseus). Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental yang bersifat in vitro dan bioassay. Terdiri dari uji fitokimia dan uji toksisitas dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Hasil uji fitokimia didapatkan bahwa ekstrak bunga tapak dara (Catharanthus roseus) mengandung alkaloid, betasianin, kardioglikosida, kumarin, flavonoid, glikosida, fenolik, kuinon, saponin, terpenoid dan tannin sehingga dapat berpotensi sebagai antioksidan. Tingkat toksisitas ekstrak bunga tapak dara (Catharanthus roseus) ditunjukkan dengan nilai LC50 sebesar 162,181 µg/mL sehingga masuk dalam kategori toksik sedang yang berpotensi sebagai antimitosis. Ekstrak bunga tapak dara (Catharanthus roseus) mengandung berbagai senyawa fitokimia dengan kapasitas antioksidan kuat menurut metode ABTS dan FRAP, serta potensi sebagai senyawa antikanker. Namun, kapasitas antioksidan berdasarkan metode DPPH tergolong sangat lemah. 
ANALISIS FITOKIMIA, UJI FENOLIK DAN TOTAL ANTIOKSIDAN EKSTRAK BIJI CHIA METODE FRAP Saerang, Stefanus Handy; Limanan, David; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v5i1.34477

Abstract

Radikal bebas dapat didefinisikan sebagai suatu senyawa yang bersifat tidak stabil karena memiliki elektron tidak berpasangan, menjadikannya sangat mudah bereaksi dan berpotensi merusak struktur biologis tubuh, sehingga berpotensi merusak struktur biologis dalam tubuh. Apabila jumlah pembentukan radikal bebas melebihi kapasitas sistem tubuh untuk menetralkan radikal bebas, maka dapat memicu kondisi stres oksidatif, yang berhubungan erat dengan berbagai gangguan kronis seperti diabetes, kanker, penyakit kardiovaskular, dan gangguan ginjal. Antioksidan memiliki peran penting dalam menetralisir radikal bebas, yang pada akhirnya berperan dalam menjaga sel agar tidak mengalami kerusakan. Biji chia (Salvia hispanica L.) diketahui memiliki senyawa aktif seperti fenolik dan flavonoid yang berpotensi bertindak menjadi antioksidan alami. Penelitian ini dilaksanakan untuk menilai jumlah keseluruhan senyawa fenolik serta kemampuan antioksidan, dan profil senyawa aktif dari ekstrak biji chia melalui pendekatan in vitro. Proses analisis meliputi identifikasi senyawa aktif menggunakan skrining fitokimia, pengukuran kadar fenolik total dilakukan dengan metode Folin–Ciocalteu, dan untuk pengujian aktivitas antioksidan dilakukan melalui metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power). Pengujian fitokimia mengindikasikan bahwa ekstrak biji chia memiliki berbagai senyawa, di antaranya steroid, terpenoid, dan alkaloid, fenol, flavonoid, kuinon, saponin, tanin, kumarin, betasianin, dan kardioglikosida. Kandungan total fenolik mencapai 46,79 mg GAE per gram, mencerminkan tingginya konsentrasi senyawa fenolik. Sementara itu, uji FRAP menunjukkan nilai kapasitas antioksidan sebesar 15,885 µg/mL, yang menandakan bahwa kemampuan antioksidannya tergolong sangat tinggi. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa ekstrak biji chia berpotensi digunakan sebagai antioksidan alami dan kandidat bahan aktif untuk mendukung pencegahan penyakit akibat stres oksidatif.
Kinetics and Adsorption Equilibrium of Methylene Blue Using Shell and Coconut Husk Ash from Waste of Tofu Industry Cooking Process Activated with Sulfuric Acid Yulianti, Eny; Falahiyah, Falahiyah; Fahmi, Fariz Rifqi Zul; Istighfarini, Vina Nurul; Aini, Nur
ALCHEMY:Journal of Chemistry Vol 13, No 1 (2025): ALCHEMY: JOURNAL OF CHEMISTRY
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology UIN Maulana Malik Ibrahim Malan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/al.v13i1.32476

Abstract

 Methylene blue adsorption was conducted using ash from coconut husks and shells, derived from industrial tofu fuel waste in Malang City. The ash was activated using 2% H₂SO₄. The determination of the optimum adsorption conditions for methylene blue included variations in contact time, solution pH, and adsorbent dosage. This study also examined adsorption capacity and adsorption isotherms. The ash was characterized using XRD to identify the silica phase present in the ash. The results showed that the optimum conditions for adsorbing 50 mL of methylene blue at a concentration of 13.97 mg/L were a contact time of 75 minutes, a pH of 3, and an adsorbent dosage of 0.5 grams. The adsorption capacity of methylene blue was found to be 4.533 mg/g, and the adsorption isotherm of methylene blue using H₂SO₄-activated coconut husk and shell ash followed the Freundlich isotherm model more closely than the Langmuir isotherm. XRD analysis indicated that the crystallinity and purity of silica in the ash activated with 2% H₂SO₄ improved due to the removal of impurity peaks from KCl and HNaCO₃  
Skrining Fitokimia, Kapasitas Antioksidan, dan Efek Sitotoksik Ekstrak Metanol Daun Kari (Murraya koenigii L.) Tanuhariono, Ardhita Felicia; Limanan, David; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Bahasa Indonesia Vol 24 No 1 (2025): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v24i1.5940

Abstract

Pendahuluan: Kanker merupakan kelainan genetik dan metabolik yang menjadi tantangan yang besar pada abad ke-21 ini. Dewasa ini terbukti bahwa Reactive Oxygen Species (ROS) dapat memicu karsinogenesis melalui beberapa jalur ongkogenik atau mutasi ongkogenik pada DNA. Oleh sebab itu diperlukan antioksidan yang dapat meregulasi jumlah ROS dalam sel kanker. Selain itu, hampir semua aktivitas fitokimia bekerja dalam beberapa jalur pensinyalan sel dan dapat berpotensi menghambat progresi keganasan. Salah satu fitokimia yang dapat memicu apoptosis adalah alkaloid karbazol yang terdapat pada daun kari (Murraya koenigii L.). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan fitokimia, kapasitas antioksidan, dan sitotoksisitas ekstrak metanol daun kari. Metode: Penelitian ini menggunakan ekstrak metanol daun kari yang diperoleh dengan metode perkolasi. Ekstrak kemudian dilakukan pengujian secara invitro untuk mengetahui kandungan fitokimia dan kapasitas antioksidan dengan metode 3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid (ABTS). Selain itu, dilakukan juga pengujian dengan bioassay pada uji sitotoksisitas metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Hasil: Ekstrak metanol daun kari mengandung alkaloid, antosianin, koumarin, flavonoid, kuinon, saponin, steroid, tanin, dan terpenoid, dengan kapasitas antioksidan yang dinyatakan dalam IC50 sebesar 30,70 μg/mL, sedikit lebih lemah dibandingkan Trolox sebesar 16,46 µg/mL. Sedangkan uji sitotoksisitas pada ekstrak metanol daun kari didapatkan LC50 sebesar 235,34 µg/mL. Simpulan: Ekstrak metanol daun kari memiliki beragam fitokimia dengan aktivitas antioksidan yang sangat kuat (> 150 µg/mL) dan tergolong toksik (31 – 1000 µg/mL) sehingga bersifat sitotoksik terhadap sel yang sedang membelah sehingga memiliki potensi sebagai antikanker.
Analisis Parameter Kimia Kualitas Air Minum Ayam Petelur (Gallus domesticus) di Kabupaten Blitar dan Kajian Literatur Fitoremediasi Kadar Fluorida Yulianti, Eny; Wahyuningtyas, Titian Ajeng; Sholikhah, Badiatus; Yuliastuti, Rostiwi Endah; Royanudin, Moch; Nafi’ah, Sriani
Bioscientist : Jurnal Ilmiah Biologi Vol. 12 No. 1 (2024): June
Publisher : Department of Biology Education, FSTT, Mandalika University of Education, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/bioscientist.v12i1.8885

Abstract

Drinking water quality is a crucial factor that influences livestock productivity. Regular evaluation of the quality of livestock drinking water is an essential activity. Blitar Regency is known as a center for egg production from laying hens (Gallus domesticus). This study aims to evaluate the quality of livestock drinking water and provide a literature review regarding the potential for improvement through phytoremediation methods. This research method involves laboratory analysis and literature review. Laboratory analysis is carried out to determine the quality of water chemical parameters, then the results are compared with livestock drinking water standards regulated by Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number 32 of 2017. If a discrepancy is found with the standards, it is continued with a literature study regarding the use of phytoremediation methods as a solution. Analysis of chemical parameters, including ion levels, using a reagent kit with the help of Spectroquant Pharo 300 UV Vis spectroscopy. The results of the analysis involve iron, fluoride, manganese, nitrate, nitrite, cyanide, hardness, cadmium, zinc metal and sulfate. All parameters meet quality standards, except for Fluoride (F-) levels which exceed the threshold of 1.5 mg/L, caused by the use of groundwater sources or wells which have the potential to have higher mineral content than surface water. The potential impacts of high fluoride levels on laying hens include reduced egg production, impaired growth, reproductive disorders, decreased water consumption, and decreased body weight. The literature review highlights phytoremediation methods involving plants as an economical and effective solution. Afforestation, such as planting grass or bushes around livestock areas and wells, or through creating ponds with aquatic plants, can significantly reduce fluoride levels in livestock drinking water.
Co-Authors A. Ghanaim Fasya Abdul Hakim Ahmad Hanapi Akhmad Sabarudin Akyunul Jannah Al Akbar, Ramadhana Fatahillah Al-Bena, Maziyah Al-Rosyid, Ahmad Taufiqurrahman Amaliyah, Nada Rifqi Asyraf, Muhammad Zain Alwi Az Zahra, Audy Azmiyani, Ulal Bayyinatul Muchtarohmah Begum Fauziyah Chanafi, Imam Chilmy, Mochammad Sholla Nadhif Choiriyah, Ainur Rizqi Darma, Timothy Halomoan David Limanan Eloydia Vintari, Clarista Ezra, Pasuarja Jeranding Fadlan, Mochamad Lailul Fahruddin, Muhammad Mukhlis Falahiyah, Falahiyah Fariz Rifqi Zul Fahmi Ferdinal, Ferdinal Fiddaroini, Saidun Frans Ferdinal Habibah, Rizka Azahra Haq, Naufal Rizqi Hartini, Eny Yulianti, Rif’atul Mahmudah, Lilik Helmi, Helmi Rizal Hilmi, Fakih Himmatul Barroroh Husna Iftinan Ida Ayu Putu Sri Widnyani Istighfarini, Vina Nurul Kusuma, Andrea Bianca Castafiore Latifah, Annazmil Fayros Lilik Miftahul Khoiroh Lin, Leonard Luky Adrianto Lutfia, Fadilah Nor Laili M. Ali Zulfikar Ma'rifah, Ainul Madjid, Armeida D.R Maharani, Karennina Larissa Mahmudah, RIf'atul Majdi, Dani Sanaya Marcella, Agnes Mellenia, Kelnia Mubasyiroh, Mubasyiroh Muslimah Muti'ah, Roihatul Nafi’ah, Sriani Nafi’ah, Sriani Najukha, Yusrifa Noer Saelan Tadjudin Nur Aini Okky Vara Velya Oky Bagas Prasetyo Palufi, Ulfa Engky Praminto, Yusa Linda Qotru Nada Pujiana, Nurliza Purwoko, Agus Putri, Ivvani Aulia Putri, Nawaika Shafira Putri, Viola Ananda Jerika Rahmatulloh, Arief Rohmad, Azzufa Nurkamila Rohmatullah, Wahyu Adhi Putra Royana, Isna Royanudin, Moch Royyanuddin, Moh Ro’iyah, Maulidhotur Rumengan, Peterjohn Andrew Benhard rustan, felicia Saerang, Stefanus Handy Sakhi, Fillah Mufti Santoso, Stanley Setiyanto, Henry Sholikah, Siti Amanatus Sholikhah, Badiatus Siti Aisyah Siti Suwaibatul Aslamiah, Siti Suwaibatul Soebrata, Linginda Sri Harini Susi Nurul Khalifah Swantari, Ni Made Sya’banah, Nishfu Sya’baniah, Khalda Tamba, Monica Diva Maharani Tanuhariono, Ardhita Felicia Taufik, Moh Titian Ajeng Wahyuningtyas Tiyas, Rika Setianing Tri Kustono Adi Ulil Fitriyah Verita, Chaeza Nara Wadziatir Rizqi, Wadziatir Wahyuningtyas, Titian Ajeng Warsito Widad Hakim, Sofwatul Yuliastuti, Rostiwi Endah Zamroni, Anits