Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

FORMULASI SEDIAAN KRIM DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN PEPAYA (Carica papaya L.) TERHADAP Staphylococcus aureus ATCC 25923 DENGAN VARIASI KONSENTRASI TWEEN 80 DAN SPAN 80 elva wahyu kurnia cici; Bangkit Riska Permata; Desy Ayu Irma Permatasari
Duta Pharma Journal Vol. 3 No. 1 (2023): Duta Pharma Journal
Publisher : Universitas Duta Bangsa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47701/djp.v3i1.2648

Abstract

Permasalahan kulit merupakan masalah yang paling banyak dijumpai dimasyarakat terutama infeksi kulit. Bakteri yang dapat menyebabkan infeksi salah satunya adalah Staphylococcus aureus ATCC 25923. Staphylococcus aureus ATCC 25923 merupakan spesies patogen paling umum dari genus (Staphylococcus) yang terlibat dalam infeksi nosokomial. Di era globalitas saat ini terapi herbal mulai diminati masyarakat karena herbal lebih aman dan jarang atau tidak menimbulkan efek samping. Salah satu tanaman tersebut adalah daun pepaya yang mengandung senyawa metabolit sekunder berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif eksperimen yang bertujuan untuk mengetahui ekstrak etanol daun pepaya (Carica papaya L.) dengan variasi konsentrasi 10%, 15%, 20%, 25%, 30% memiliki aktivitas menghambat bakteri Stapyhlococcus aureus ATCC 25923 dengan menggunakan metode difusi kertas cakram dan membuat sediaan krim dari ekstrak daun pepaya dengan variasi konsentrasi emulgator tween 80 dan span 80 serta evaluasi mutu fisiknya. Ekstrak daun pepaya diperoleh dengan metode remaserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.) pada konsentrasi 10% diperoleh nilai rata-rata sebesar 9,03±0,41 mm, 15% Konsentrasi sebesar 10,3±1,05 mm, konsentrasi 20% sebesar 12,56±0,25 mm, konsentrasi 25% sebesar 15,80±0,62 mm dan konsentrasi 30% sebesar 21,40±0,95 mm. Hasil uji organoleptis dan homogenitas yaitu sediaan krim ekstrak daun pepaya didapatkan bentuk semisolid, warna hijau kehitaman, aroma khas daun pepaya dan sediaan krim homogen. Uji pH pada sediaan krim FI=5,83, FII=6,10 dan FIII=5,68. Uji daya sebar FI=6,78 cm, FII=5,26 cm dan FIII=5,68 cm. Uji daya lekat FI=1,7 detik, FII=5,49 detik dan FIII=4,37 detik. Uji Viskositas FI=31889 cP, FII=31876 cP, FIII=64677 cP.
Uji Aktivitas Anti Bakteri Ekstrak Etanol Dan Fraksi n-Heksana, Etil Asetat, Air Dari Kulit Buah Kakao (Theobroma cacao L.) Terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis ATCC 12228 Dengan Metode Difusi Dan Dilusi Regita Fortunata; Tatiana Siska Wardani; Desy Ayu Irma Permatasari
Jurnal Medika Nusantara Vol. 1 No. 4 (2023): November : Jurnal Medika Nusantara,
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59680/medika.v1i4.610

Abstract

Cacao fruit peel (Theobroma cacao L.) is a plant that can be used as an antibacterial. Cocoa pod shell contains chemical alkaloids, flavonoids, tannins, saponins, triterpenoids. The purpose of this study was to determine the antibacterial activity of the ethanol extract, n-hexane fraction, ethyl acetate fraction, and water fraction from cocoa pod shells to determine the Minimum Inhibitory Concentration (MIC and Minimum Killing Concentration) of the most active fraction of cocoa pod shell on the growth of staphylococcus bacteria. epidermidis ATCC 12228. Cocoa pod powder was macerated using 96% ethanol, then fractionated using n-hexane, ethyl acetate, and water and tested for antibacterial activity using the diffusion and dilution method.Diffusion and dilution methods used the same concentration of 50% preliminary test 25%; 12.5%; 6.25%; 3.125%; 1.565% against Staphylococcus epidermidis ATCC 12228. The results of the antibacterial activity test using the diffusion method showed that the n-hexane fraction, ethyl acetate fraction, and water fraction from cocoa pod shell Each concentration of 50% inhibited the growth of bacteria in the presence of inhibition.The ethanol extract of cocoa pod shells had the greatest inhibition, namely 13.9 mm. The average diameter of the inhibition zone at a concentration of 25%; 12.5%; 6.25%; 3.125%; 1.565% respectively is 13.43 mm; 6.2mm; 4.23mm; 4.06mm; 3.46mm. The results of the dilution method test showed the MIC and KBM values of the ethanol extract, namely 12.5%, based on the results of the study it can be concluded that the ethanol extract has the most active antibacterial content.
Identifikasi Sakarin Dalam Sediaan Jamu Instan Beras Kencur Yang Beredar Di Pasar Gede Kota Lutfi Indah Irmayanti; Danang Raharjo; Desy Ayu Irma Permatasari
Jurnal Medika Nusantara Vol. 1 No. 4 (2023): November : Jurnal Medika Nusantara,
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59680/medika.v1i4.638

Abstract

Saccharin is a synthetic chemical substance that is classified as a food or beverage additive. Excessive consumption of saccharin can cause side effects, including migraines and headaches, memory loss, confusion, insomnia, irritation, asthma, hypertension, diarrhea, stomach pain, allergies, impotence and sexual disorders, baldness, and brain and bladder cancer. The purpose of this study was to identify saccharin in beras kencur instant herbal preparations circulating in Pasar Gede, Surakarta. This research was conducted to determine the content of saccharin in instant herbal medicine using the color reaction method, Thin Layer Chromatography (TLC) and FTIR Spectroscopy. This research is an experimental descriptive research. The results of this study were 10 samples of instant herbal beras kencur MF, JM, SPA, IE, MR, BK, SP, BC, AG on the color reaction test, the negative TLC test contained saccharin. The FTIR spectral profile contains functional groups in the standard saccharin N-H (Stretching) secondary amine, C-H aromatic, C=O (stretching) carbonyl, C=C (stretching) cyclic aromatic, S=O sulfoksida, C-N (stretching) amine, C-H (bending) 1,2- substituted benzene (ortho) with wave numbers respectively 3402.68 cm-1, 3093.74 cm-1, 1718.84 cm-1, 1592.92 cm-1, 1358.84 cm-1, 1054.60 cm-1, 758.43 cm-1 which is in accordance with the literature. From the results of the analysis, it can be concluded that of the 10 samples of instant herbal medicine, beras kencur that was examined tested negative for the artificial sweetener saccharin. This shows that the beras kencur instant herbal medicine in market is safe for public
PENETAPAN KADAR TOTAL FLAVONOID DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL BATANG DAN DAUN TURI PUTIH (Sesbania grandiflora L) DENGAN METODE ABTS Silvia Devi; Desy Ayu Irma Permatasari; Tiara Ajeng Listyani
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 11, No 3 (2022): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/pjif.v11i3.4176

Abstract

Turi putih (Sesbania grandiflora L) merupakan tanaman yang termasuk dalam famili Fabaceae. Turi putih (Sesbania grandiflora L) mengandung banyak senyawa metabolit sekunder meliputi alkaloid, saponin, tanin, steroid, triterpenoid, fenolik dan flavonoid (Nista et al., 2010). Namun dalam kalangan masyarakat pemanfaatan turi putih (Sesbania grandiflora L) digunakan sebagai tanaman hias dan bunga turi putih (Sesbania grandiflora L) sebagai bahan makanan, turi putih (Sesbania grandiflora L) juga memiliki manfaat lain yaitu sebagai antioksidan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kadar flavonoid dan aktivitas antioksidan batang dan daun turi putih (Sesbania grandiflora L) yang diekstraksi dengan menggunakan pelarut etanol 95%. Penetapan kadar flavonoid dengan menggunakan metode kolorimetri dengan kontrol positif yaitu kuersetin. Pengujian aktivitas antioksidan dengan menggunakan metode ABTS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar flavonoid total ekstrak etanol batang turi putih (Sesbania grandiflora L) sebesar 12,08 mg/L dan kadar flavonoid total ekstrak etanol daun turi putih (Sesbania grandiflora L) sebesar 11,28 mg/L. Serta ekstrak etanol batang, daun dan kombinasi ekstrak etanol batang dan daun turi putih (Sesbania grandiflora L) memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 berturut-turutsebesar 36,519 mg/L, 37,438 mg/L, dan 40,860 mg/L. 
Uji Potensi Ekstrak Etanol dan Fraksi N Heksan-Etil Asetat-Air Batang Serai Wangi (Cymbopogon nardus L.) terhadap Bakteri Streptococcus mutans. Desy Ayu Irma Permatasari
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 11, No 1 (2022): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/pjif.v11i1.3214

Abstract

Cymbopogon nardus L. merupakan tanaman yang biasa digunakan sebagai rempah oleh masyarakat Indonesia. Pemanfaatan serai terbatas pada bagian batangnya saja, sedangkan daunnya masih menjadi limbah. Penelitian ini bertujuan menganalisis komponen fitokimia, menentukan kadar fenolik serta menguji aktivitas antioksidan ekstrak batang serai (Cymbopogon citratus) dengan etanol 96%. Ekstraksi daun serai dilakukan dengan maserasi. Hasil analisis fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun serai memiliki kandungan alkaloid, saponin, tanin, flavonoid, fenol, dan steroid. Ekstrak etanol batang serai berpotensi sebagai antibakteri terhadap streptococcus mutans dengan diameter zona hambat 28.2 mm untuk fraksi teraktif yaitu fraksi etil asetat.
FORMULASI SEDIAAN FACEMIST ANTIBAKTERIAL DAN IDENTIFIKASI MINYAK ATSIRI BUNGA KENANGA (Cananga odorata) MENGGUNAKAN GC-MS Annisa Nurlaila Sari; Bangkit Riska Permata; Desy Ayu Irma Permatasari
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 12, No 3 (2023): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/pjif.v12i3.5524

Abstract

Bunga kenanga memiliki minyak atsiri yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Untuk meningkatkan kepraktisan dalam penggunaan, minyak atsiri bunga kenanga diformulasikan dalam bentuk sediaan facemist. Penelitian ini bertujuan mengetahui randemen minyak atsiri dari bunga kenanga, mengetahui komponen minyak atsiri yang diidentifikasi dengan GC-MS, mengetahui evaluasi fisik sediaan facemist dan mengetahui aktivitas antibakteri facemist terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923. Bunga kenanga (Cananga odorata) didestilasi menggunakan metode destilasi uap. Minyak atsiri diidentifikasi senyawanya menggunakan alat GC-MS dan diformulasikan kedalam sediaan facemist dan dilakukan uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923. Hasil dari penelitian didapatkan randemen minyak atsiri bunga kenanga sebesar 0,33%. Hasil dari identifikasi komponen minyak atsiri terdapat 4 senyawa tertinggi β-Caryophyllene, Germacrene-D, Benzyl benzoate dan α-caryophyllene. Hasil uji aktivitas antibakteri sediaan facemist pada formula 1 (10%), formula 2 (15%) dan formula 3 (20%) dengan daya hambat rata-rata sebesar 9,26 mm, 11,16 mm dan 11,83 mm. Hasil evaluasi fisik dari keempat formulasi sediaan facemist menujukkan semua nya memenuhi standar mutu fisik yang baik dan berdasarkan hasil uji iritasi sediaan facemist tidak menunjukkan adanya iritasi pada kulit.
UJI TOKSISITAS FRAKSI n-HEKSAN - ETIL ASETAT - AIR BATANG BAJAKAH KALALAWIT (Uncaria gambir Roxb) MENGGUNAKAN METODE BSLT (BRINE SHRIMP LETHALITY TEST) Desy Ayu Irma Permatasari; Putri Solihah Kartika Sari; Bangkit Riska Permata; Anita Dwi Septiarini
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 12, No 3 (2023): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/pjif.v12i3.5762

Abstract

Tumbuhan Bajakah Kalalawit dengan nama lain Uncaria gambir Roxb berasal dari pedalaman pulau Kalimantan tepatnya Kalimantan Tengah. Bajakah Kalalawit (Uncaria gambir Roxb) biasanya digunakan masyarakat sebagai peningkat stamina. Akan tetapi, tumbuhan tersebut juga memiliki potensi sebagai antikanker. Batang kayu Bajakah Kalalawit (Uncaria gambir Roxb) diduga mengandung senyawa metabolit sekunder yang dapat di gunakan sebagai anti kanker. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui aktivitas toksisitas serta nilai Lethal Concentration (LC50) dari fraksi batang Bajakah Kalalawit (Uncaria gambir Roxb) terhadap larva udang Artemia Salina Leach dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Nilai LC50 dihitung menggunakan metode analisis probit. Efek toksisitas dari masing-masing fraksi diidentifikasi presentase kematian neupli Artemia Salina Leach dan dihitung nilai LC50 menggunakan analisa probit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari fraksi n-heksan, etil asetat, dan fraksi air berturut- turut mendapatkan nilai LC50 sebesar 43,9612 ppm; 63,3869 ppm; dan 75,4049 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi n-heksan lebih toksik daripada fraksi etil asetat, dan fraksi air dengan nilai LC50 sebesar 43,9612 ppm.
PENENTUAN KADAR FLAVONOID EKSTRAK ETANOL FRAKSI N-HEKSAN, FRAKSI ETIL ASETAT DAN FRAKSI AIR DAUN KETEPENG CINA (Cassia alata L.) DITINJAU DARI LAMA WAKTU EKSTRAKSI Febriyanto Eko Syahputra; Anita Dwi Septiarini; Desy Ayu Irma Permatasari
Jurnal Farmasindo Vol 6 No 1 (2022): Juni
Publisher : Program Studi D3 Farmasi Politeknik Indonusa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahan alam telah lama dikenal baik sebagai obat, bahan makanan, bumbu, kosmetik, maupun sebagai bahan ramuan yang digunakan dalam upacara ritual keagamaan. Berdasarkan uraian tersebut, maka perlu dilakukan penelitian yang lebih lanjut mengenai pengujian kadar flavonoid ekstrak etanol daun ketepeng cina (Cassia alata L.), sehingga potensi tumbuhan ini sebagai bahan baku obat untuk pencegahan maupun pengobatan berbagai penyakit dapat lebih dikembangkan secara maksimal. Tujuan penelitian ini untuk menerangkan pengaruh perbedaan lamanya waktu ekstraksi terhadap kadar flavonoid dengan memanfaatkan daun ketepeng cina. Metode yang digunakan adalah penelitian eksperimental yang terdiri dari tiga kelompok perlakuan pengekstraksian tumbuhan yaitu lama waktu ekstraksi 6, 8, dan 10 hari. Metode ekstraksi menggunakan maserasi dengan pelarut etanol 70% yang kemudian di fraksinasi menggunakan N-Heksan, Etil asetat dan Air. Kadar flavonoid diperoleh menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Rendemen hasil ekstraksi yang diperoleh pada lama waktu 6 , 8 dan 10 hari secara berturut-turut sebanyak 24,21; 28,00 dan 32,03 % dengan kadar flavonoid yang diperoleh dalam 100 g sample masing-masing yaitu, maserasi 6 hari dengan Fraksi NHeksan 0,53 mg, 8 mg, 0,9 mg, Etil asetat 30 mg, 31 mg, 30 mg, Air 9 mg, 8,4 mg, 9 mg, lalu maserasi 8 hari fraksi N-Heksan 9,2 mg, 3,1 mg, 9,7 mg, Etil asetat 75 mg, 74 mg, 75 mg, Air 22 mg, 23 mg, 23 mg, dan maserasi 10 hari fraksi N-Heksan 15 mg, 15 mg, 16 mg, Etil asetat 206 mg, 187 mg, 189, Air 95 mg, 97 mg, 96 mg.
NANOEMULSION-BASED MOUTHWASH OF ETHYL ACETATE FRACTION OF SERAI WANGI STALK: FORMULATION, CHARACTERIZATION AND ANTIBACTERIAL ACTIVITY TEST Desy Ayu Irma Permatasari; Weri Veranita; Novalisa Nindhi Soraya; Eva Kholifah
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 3 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i3.908

Abstract

Serai wangi or citronella (Cymbopogon nardus L.) has long been used in Indonesia as a component of traditional medicine. A recent study aimed to determine the antibacterial activity of the most active fraction of Citronella stalk extract and to formulate it  into a nanoemulsion mouthwash. Fractionation of the ethanolic extract was carried out using liquid-liquid extraction, and it was found that the ethyl acetate fraction (EAF) was the most active. This fraction was then varied at concentrations of 25%, 12.5%, 6.25%, 3.125%, 1.5625%, and 0.78125% for the antibacterial activity test using the disc diffusion test method. To determine the potency of microbial activity, the minimum inhibitory concentration (MIC) and minimum bactericidal concentration (MBC) were evaluated. Subsequently, the ethyl acetate fraction was formulated into a nanoemulsion and characterized by measuring the transmittance percentage, droplet size, and polydispersity index (pdI) using a particle size analyzer. The results showed that the ethyl acetate fraction at a concentration of 25% obtained an inhibition zone diameter of 10.67 mm. MIC and MBC values ??were obtained at a fraction concentration of 6.25%. In addition, characterization of formulae exhibited particle size and pdI as follow 101.6 nm and 0.681 (Formula I); 84.1 nm and 0.609 (Formula II); 108.3 nm and 0.527 (Formula III).  Keywords:  Citronella stalk; fractionation; Streptococcus mutans; nano-emulsion; mouth wash
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Jambu Biji Variates Australia (Psidium Guajava Variates Pyrifera) Terhadap Bakteri Escherichia Coli ATCC 25922 Dengan Metode Difusi Dan Dilusi Fevi Indri Oktaviani; Desy Ayu Irma Permatasari; Danang Raharjo
Journal of Educational Innovation and Public Health Vol. 1 No. 4 (2023): Oktober : Journal of Educational Innovation and Public Health
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/innovation.v1i4.1869

Abstract

Diarrhea is a disease characterized by frequent bowel movements with watery or watery stool conditions. Symptoms are infections in the intestinal tract due to bacteria, viruses, or other parasitic microorganisms. Not a few cases of diarrhea caused by Escherichia coli bacteria. Plants that can be used as antibacterial one of them is guava leaves variates Australia. Has biological activity as an antibacterial, because it contains several active compounds, such as: tannins, terpenoids, alkaloids, flavonoids, and essential oils. The purpose of this study was to determine the active compounds contained in guava leaves of Australian variates and their antibacterial activity. The extraction method used is maceration with 70% ethanol solvent. Testing its antibacterial activity with the disc diffusion method to see the inhibition zone, then testing the KHM value with liquid diffusion and testing the KBM value with solid diffusion. The results showed that guava leaf extract of Australian variates has antibacterial activity against Eschericia coli ATCC 25922 bacteria. The average diameter of the inhibitory zone in Australian guava leaf extract concentrations of 25%, 12.5%, 6.25%, 3.125%, 1.562%, respectively was 6.6 mm, 3.3 mm, 2.6 mm, 0.83 mm, 1.33 mm. The KHM and KBM values of the liquid dilution test and solid dilution of Australian guava leaf extract in this study were expressed at a concentration of 12.5%.