p-Index From 2021 - 2026
5.467
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Perbedaan Berbasis Gender Dalam Memberikan Pujian: Studi Kasus Pada the Indonesian Next Big Star 2022 Astri Amaliah Fatonah; Sailal Arimi
Jurnal Multidisiplin West Science Vol 2 No 01 (2023): Jurnal Multidisiplin West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.254 KB) | DOI: 10.58812/jmws.v2i1.97

Abstract

Bahasa sebagai alat komunikasi yang bermakna, bahasa berperan penting dalam proses pembelajaran khususnya dalam ranah komunikasi dalam hal bertutur untuk memuji dalam membangun kaitan yang berharga. Dalam memberikan pujian seseorang memiliki pilihan-pilihan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbedaan dalam strategi pujian dan fungsi pujian antara juri laki-laki dan juri perempuan dalam audisi The Indonesian Next Big Star 2022. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk memperoleh penjelasan secara mendalam mengenai fenomena pujian yang ditemukan dalam The Indonesian Next Big Star 2022, serta pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dan catat dari laman YouTube the Indonesian Next Big Star 2022. Sumber data penelitian ini adalah tuturan-tuturan dalam bentuk kata, frasa, atau kalimat dari sesi penjurian di audisi The Indonesian Next Big Star 2022 dari TOP 5 sampai TOP 3. Ada dua juri laki-laki dan dua juri perempuan. Juri laki-laki adalah Judika dan Sandhy Sandoro sedangkan juri perempuan adalah Maia Estianty dan Bunga Citra Lestari. Data yang ditemukan diklasifikasikan menggunakan teori strategi pujian (Kasper, 1995) dan fungsi pujian (Wu, 2008). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa juri laki-laki dan juri perempuan menunjukkan perbedaan dalam memuji. Pada strategi pujian, terdapat strategi pujian secara langsung, pujian secara tidak langsung. Juri perempuan menggunakan strategi pujian langsung lebih banyak daripada juri laki-laki, sementara itu juri laki-laki menggunakan strategi pujian tidak langsung. Di samping itu, juri perempuan memuji untuk mengekspresikan kekaguman yang tulus lebih banyak daripada juri laki-laki.
Speech Features in Food Endorsement of Indonesian Influencers: a Study of Language and Gender Assayyidah Bil Ichromatil Ilmi; Sailal Arimi
SUAR BETANG Vol 18, No 1 (2023): June 2023
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v18i1.4457

Abstract

This study aims to identify the speech features employed by male and female influencers while promoting food. This research decided to apply a qualitative method, specifically in the form of a case study. Meanwhile, the researchers chose observation through social media, namely Instagram, as the data collection process. The data analysis consists of three stages, such as reduction, presentation, and conclusion. The researchers found that the female influencers use speech features are intensifier, emphatic stress, tag question, rising intonation, empty adjectives, specialized, hypercorrect grammar, super polite forms, avoidance of strong swear, and one form that belongs to the men known as command and directive. Meanwhile, the speech features employed by the men are command and directive, swearing and taboo words, compliments, and theme, and three forms of speech feature that belong to women, which are intensifier, empty adjective, and emphatic stress. The finding of this study is that both genders are not constantly with their own speech features. Both genders also applied speech features that belong to the opposite gender while doing promotion, although the language features of each gender dominate the respective results. AbstrakPenelitian ini bertujuan mengidentifikasi fitur tuturan yang digunakan oleh influencer pria dan wanita saat melakukan promosi makanan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, khususnya dalam bentuk studi kasus. Penulis memilih observasi melalui salah satu media sosial, yakni Instagram, pada proses pengumpulan data. Proses analisis data terdiri atas tiga tahap, yaitu reduksi, penyajian, dan penarikan simpulan. Penulis menemukan bahwa para influencer wanita menggunakan fitur ucapan yang intensif, penekanan tegas, tanda pertanyaan, intonasi tinggi, kata sifat kosong, kata khusus, tata bahasa yang berlebihan, bentuk sangat sopan, menghindari umpatan yang kuat, dan satu bentuk milik pria yang dikenal sebagai perintah dan direktif. Sementara itu, ciri-ciri tuturan yang digunakan oleh influencer laki-laki adalah tuturan perintah dan direktif, umpatan dan kata-kata tabu, pujian, dan tema, serta tiga bentuk tuturan yang dimiliki wanita, yaitu intensifier, kata sifat kosong, dan tekanan empatik. Temuan dari penelitian ini adalah bahwa kedua jenis influencer tidak selalu memiliki fitur bicara mereka sendiri. Mereka juga menerapkan fitur bicara milik lawan jenis saat melakukan promosi meskipun hasilnya didominasi oleh ciri fitur bahasa pada masing-masing gender. 
Threats and Verbal Abuse toward Feminists: Linguistic Forensic Analysis on Instagram’s Comment: Linguistic Forensic Analysis on Instagram’s Comment Fardan Mahmudatul Imamah; Sailal Arimi; Novi Eka Susilowati; Surahmat
IJFL (International Journal of Forensic Linguistic) Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL FORENSIC 2023
Publisher : Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55637/ijfl.4.1.6670.136-146

Abstract

This study analyzes the online abuse received by feminist activists due to their support for Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS). The Activist received online verbal abuse directly from particular accounts on Instagram for their campaign on the controversial term ‘concern.’ The data are based on the Okky Madasari Instagram account case. These abused comments on Instagram violate Law No. 11 of 2008 concerning Information and Electronic Transactions related to hate speech. This article uses a forensic linguistics perspective to obtain linguistic evidence. The result shows that some intent comments reveal threatening online abuse and the campaign invites cyberbullying toward feminists on social media.
Alleged case of blasphemy on podcast: Forensic linguistic analysis Novi Eka Susilowati; Sailal Arimi; Surahmat Surahmat; Fardan Mahmudatul Imamah
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um015v51i22023p225

Abstract

This study aimed to analyze the linguistic features that allegedly contained elements of blasphemy in Jenderal Dudung Abdurrachman's (JDA) speech. The analysis was carried out using a forensic linguistic perspective. This research data is in the form of JDA utterances delivered in a broadcast conducted with Deddy Corbuzier (DC). Based on a forensic linguistic analysis of the text of JDA's conversation with DC on Deddy Corbuzier's podcast, it can be concluded that JDA's linguistic evidence does not support blasphemy but a lack of knowledge in religion, especially in matters of faith. Due to the lack of knowledge of religion, JDA interprets religion and personifies God according to his understanding. In JDA's speech, there is also no intention to tarnish religion because the controversial JDA's speech cannot be interpreted partially but can be interpreted with other speeches. If it is related to other utterances, it can be concluded that there is no intention of JDA to tarnish religion. However, there are efforts by JDA to invite audiences to follow JDA's understanding and interpretation of religion.Dugaan kasus penodaan agama di podcast: Analisis linguistik forensikTujuan penelitian ini adalah menganalisis fitur kebahasaan yang diduga memuat unsur penodaan agama dalam tuturan Jenderal Dudung Abdurrachman (JDA). Analisis dilakukan dengan menggunakan perspektif linguistik forensik. Data penelitian ini berupa tuturan JDA yang disampaikan dalam siniar yang dilakukan bersama Deddy Corbuzier. Berdasarkan analisis linguistik forensik atas teks perbincangan JDA dengan DC di siniar DC, dapat disimpulkan bahwa tuturan JDA bukti-bukti kebahasaan tidak mendukung adanya penodaan agama, melainkan kurangnya pengetahuan dalam beragama, terutama dalam hal akidah. Akibat kurangnya pengetahuan dalam beragama tersebut, JDA menafsirkan agama dan mempersonifikasi Tuhan sesuai dengan pemahamannya. Dalam tuturan JDA juga tidak terdapat niat untuk menodai agama karena tuturan JDA yang kontroversial tersebut tidak dapat dimaknai secara parsial, melainkan dimaknai secara menyeluruh dengan tuturan-tuturan lain. Jika dikaitkan dengan tuturan yang lain, dapat disimpulkan bahwa tidak ada niat JDA untuk menodai agama. Meski demikian, terdapat upaya JDA untuk mengajak audiens agar mengikuti pemahaman dan penafsiran JDA tentang agama.
Menelusuri Pandangan Dunia Orang Hitu, Maluku, Melalui Pataniti Fahmi Sirma Pelu; Sailal Arimi
Linguistik Indonesia Vol. 41 No. 2 (2023): Linguistik Indonesia
Publisher : Masyarakat Linguistik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/li.v41i2.385

Abstract

Artikel ini berupaya untuk mengkaji fungsi dan struktur pataniti, pandangan dunia orang Hitu, dan posisi pataniti sebagai praktik kebahasaan dan kebudayaan lokal di Kepulauan Maluku. Data yang dianalisis dalam artikel ini berupa empat buah teks pataniti. Landasan teori yang dipakai dalam artikel ini ialah antropologi linguistik yang dikemukakan oleh Duranti (1997) dan pandangan dunia yang dikemukakan oleh William Underhill (2011). Metode penelitian yang digunakan ialah metode etnografi. Artikel ini menunjukkan bahwa pandangan dunia orang Hitu mengenai keperkasaan, karisma, dan kepercayaan spiritual ditandai dengan keberadaan nama-nama tokoh yang dibentuk melalui serangkaian proses sosiohistoris dalam kebudayaan Islam dan kebudayaan Hitu. Selain itu, artikel ini juga menemukan bahwa pataniti sebagai praktik bahasa dan budaya lokal sejatinya dibentuk melalui proses pertukaran dan pertemuan nilai yang inklusif dari berbagai kebudayaan di luar Kepulauan Maluku. Terakhir, pataniti sebagai tradisi lisan dan praktik kebudayaan dapat menjadi alternatif dalam diskursus kebahasaan dan kebudayaan di Kepulauan Maluku.
Menelusuri Pandangan Dunia Orang Hitu, Maluku, Melalui Pataniti Fahmi Sirma Pelu; Sailal Arimi
Linguistik Indonesia Vol. 41 No. 2 (2023): Linguistik Indonesia
Publisher : Masyarakat Linguistik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/li.v41i2.385

Abstract

Artikel ini berupaya untuk mengkaji fungsi dan struktur pataniti, pandangan dunia orang Hitu, dan posisi pataniti sebagai praktik kebahasaan dan kebudayaan lokal di Kepulauan Maluku. Data yang dianalisis dalam artikel ini berupa empat buah teks pataniti. Landasan teori yang dipakai dalam artikel ini ialah antropologi linguistik yang dikemukakan oleh Duranti (1997) dan pandangan dunia yang dikemukakan oleh William Underhill (2011). Metode penelitian yang digunakan ialah metode etnografi. Artikel ini menunjukkan bahwa pandangan dunia orang Hitu mengenai keperkasaan, karisma, dan kepercayaan spiritual ditandai dengan keberadaan nama-nama tokoh yang dibentuk melalui serangkaian proses sosiohistoris dalam kebudayaan Islam dan kebudayaan Hitu. Selain itu, artikel ini juga menemukan bahwa pataniti sebagai praktik bahasa dan budaya lokal sejatinya dibentuk melalui proses pertukaran dan pertemuan nilai yang inklusif dari berbagai kebudayaan di luar Kepulauan Maluku. Terakhir, pataniti sebagai tradisi lisan dan praktik kebudayaan dapat menjadi alternatif dalam diskursus kebahasaan dan kebudayaan di Kepulauan Maluku.
SWEAR WORDS IN KPOPMINTON TREND AMONG BADMINTON LOVERS IN TWITTER: A STUDY ON LANGUAGE AND GENDER Ainia Arum Novitasari; Sailal Arimi
Ethical Lingua: Journal of Language Teaching and Literature Vol. 11 No. 1 (2024): Volume 11 No 1 April 2024
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/25409190.676

Abstract

The phenomenon of the Kpopminton trend among badminton lovers on Twitter lately is very fascinating to discuss. This phenomenon has drawn a lot of criticism from badminton lovers because it combines the worlds of different things, namely K-pop and badminton. The aim of this research is to investigate the forms and references of swearing, as well as differences in gender forms of swearing in Kpopminton trends that occur on Twitter among badminton fans. This research uses a descriptive approach with qualitative methods. Data collection was carried out using the notetaking and listening method. The results of this research show that comments on the Kpopminton trend among badminton fans on Twitter contain a lexicon of swear words, where the male gender is wider and more varied. Swearing is classified based on its morphological and syntactic lingual form, as well as its linguistic form. Referents of swear words used by men are conditions, animals, activities, objects, and body parts. Meanwhile, women use more polite referents, although they still tend to be rude, namely referents related to objects and animals. Lastly, men tend to use more swear words than women with a harsher choice of curse words as can be seen from the level. The level of swear words shows that in terms of extreme levels the curses are spoken by men. At high levels, it is spoken by both men and women. Meanwhile, at the standard level it is spoken by women.
Inkonsistensi Fitur Kebahasaan pada Kaum Gay dalam Kanal Langit Entertainment Al Fiansyah, Muhammad Azmi; Arimi, Sailal
Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol 19, No 1: Mei 2024
Publisher : Indonesian literature Program, Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/nusa.19.1.46-60

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fitur kebahasaan yang digunakan oleh kaum gay dan faktor sosial apa yang mempengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan data berupa video dari kanal Langit Entertaiment yang berjudul “KITA G4Y KARENA TRAUMA, BUKAN PILIHAN! SUATU SAAT KITA PENGEN PUNYA KETURUNAN!”. Data dianalisis menggunakan teori Lakoff tentang fitur kebahasaan perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat dari lima gay yang diwawancarai tetap menggunakan fitur kebahasaan laki-laki, namun menggunakan intonasi naik seperti fitur kebahasaan perempuan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa fitur kebahasaan dipengaruhi oleh faktor sosial seperti pelecehan, seksual, atau lingkungan yang feminim. Fitur kebahasaan juga tidak bisa dipaksakan, seperti dalam contoh data yang ditemukan, mereka tetap menggunakan fitur laki-laki, namun intonasinya saja yang seperti fitur kebahasaan perempuan. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam ranah bahasa dan gender kedepannya.
PEMANFAATAN KOSAKATA VIRAL SEBAGAI STRATEGI PENULISAN JEBAKAN KLIK DALAM SINIAR Unggul Putro Sambodo; Sailal Arimi
JURNAL ILMU BUDAYA Vol. 11 No. 2 (2023): Jurnal Ilmu Budaya
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jib.v11i2.28443

Abstract

This study aims to explain the use of viral vocabulary as a keyword in a strategy of creating clickbait in a podcast video. This study employed a descriptive qualitative methodology. The data are the linguistic features in the title and thumbnail of the podcast videos as well as the number of views it gets obtained from the Deddy Corbuzier and CURHAT BANG Denny Sumargo YouTube channels that was taken from July to December 2022 using reading and note-taking techniques. The process of data analysis consisted of selecting the vocabulary associated with a viral issue as a clickbait keyword. Then, the data will be compared with the 2022 search trend results. The study's findings indicate a connection between the use of viral keywords in clickbait and the amount of views a podcast video receives. The choice of keywords and when to utilize them are crucial factors in getting viewers.
Umpatan sebagai Penanda Relasi Keakraban Antar Mahasiswa: Analisis Berbasis Bentuk dan Gender Salsabilla, Rika; Arimi, Sailal
MIMESIS Vol. 4 No. 2 (2023): JULI 2023
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/mms.v4i2.8367

Abstract

Swear words using is considered low-value and inappropriate behavior in a normative society. There are differences between men and women in in the using of swear words. The purpose of this study was to identify the swearing lexicon along with the lingual forms and its references used by each gender. Also, to find out the frequency of its use and what factors trigger the use of swear words from each gender. Quantitative and qualitative approaches were used with data collection techniques through a questionnaire survey conducted on 115 students. The results of the study found that the choice of lexicon of swear words from the male gender is wider and more varied. Swearing is identified based on morphological and syntactic lingual forms. References of male gender come from groups of objects, animals, body parts, professions, situations, and activities. Meanwhile, references of female gender are more polite although they still seem rude, namely coming from groups of words such as animals, circumstances, activities, and objects. The frequency of use of both genders shows that the intensity of swear words using is rarely used.