Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Paradigma augmented reality dalam pelatihan olahraga: studi konseptual tentang cognitive load theory alzet Rama; Wiki Lofandri
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 10 No. 2 (2025): SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/086248011

Abstract

Revolusi digital secara radikal mengubah cara atlet mempersiapkan diri, dan Augmented Reality (AR) merupakan alat terpenting dalam perubahan ini. teoretis ini mengeksplorasi penerapan augmented reality (AR) dalam pelatihan olahraga, dengan menggunakan Teori Beban Kognitif (CLT) sebagai kerangka kerja untuk menilai dampaknya terhadap beban mental atlet. Evaluasi sistematis terhadap literatur menunjukkan bahwa AR memiliki kemampuan unik untuk mengoptimalkan beban kognitif. Ia secara efisien mengurangi stres mental yang tidak perlu dengan mengubah instruksi yang rumit menjadi petunjuk visual yang mudah dipahami dan terintegrasi secara spasial, yang menghilangkan efek “split-attention”. Di sisi lain, AR meningkatkan beban kognitif yang relevan, yaitu upaya mental yang diperlukan untuk pembelajaran mendalam, dengan memberikan umpan balik real-time dan simulasi visual yang membantu membangun skema motorik yang kuat. Misalnya, dalam angkat beban, Anda dapat menggunakan visualisasi gerakan interaktif untuk membantu mengangkat beban. Dalam senam, dapat menggunakannya untuk memperbaiki postur secara langsung. Namun, masih ada masalah yang perlu diselesaikan, seperti risiko antarmuka yang buruk memperburuk kekacauan kognitif, biaya infrastruktur yang tinggi, dan kebutuhan pengguna untuk beradaptasi. Kami menyimpulkan bahwa integrasi strategis AR dan CLT menyediakan kerangka kerja yang kokoh untuk menciptakan lingkungan pelatihan yang adaptif dan berbasis bukti. Sinergi ini menjanjikan tidak hanya mempercepat proses menguasai kemampuan motorik yang kompleks, tetapi juga membuat jalur menuju performa atletik puncak lebih efisien dan berkelanjutan.
Link and match ke skill-tech-wellness: kerangka konseptual pendidikan vokasi olahraga di era society 5.0 alzet Rama; Wiki Lofandri; Siti Fadillah Sallamah; Rizki Adam
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 9 No. 3 (2024): SCHOULID : Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/086306011

Abstract

Era Society 5.0 mentransformasi industri olahraga menjadi ekosistem dinamis yang berpusat pada manusia, teknologi, dan kesejahteraan holistik. Namun, pendidikan vokasi olahraga menghadapi tantangan kesenjangan kompetensi karena kurikulumnya yang konvensional dan tidak selaras dengan tuntutan industri baru. Konsep "Link and Match" tradisional dinilai sudah tidak memadai karena bersifat linear dan mengabaikan penguasaan teknologi serta pendekatan wellness. Penelitian ini merupakan penelitian konseptual dengan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis. Data dikumpulkan melalui tinjauan pustaka sistematis terhadap literatur primer dan sekunder terkait Society 5.0, pendidikan vokasi, teknologi olahraga, dan ilmu wellness. Analisis data dilakukan menggunakan analisis isi dan analisis konsep untuk mensintesis temuan dan merumuskan kerangka teoritis baru. Hasil penelitian menghasilkan kerangka konseptual integratif "Skill-Tech-Wellness". Kerangka ini terdiri dari tiga pilar: skill, Kompetensi humanistik dan teknis yang meliputi coaching, manajemen, kewirausahaan, komunikasi, dan pemecahan masalah; tech, Melek dan pemanfaatan teknologi digital seperti wearable device, analitik data, dan kebugaran digital;  wellness, Pendekatan kesehatan holistik yang mencakup aspek fisik, mental, dan sosial. Sinergi dinamis antar ketiga pilar ini menjadi kunci penciptaan lulusan yang unggul. Implementasinya menuntut transformasi kurikulum radikal menjadi berbasis proyek, peningkatan kapasitas dosen, dan pembangunan kemitraan strategis dengan pemain di industri olahraga modern. Kerangka ini merepresentasikan pergeseran paradigma menuju pendidikan vokasi yang futuristik, integratif, dan selaras dengan jiwa Society 5.0.
The quantified athlete in virtual spaces: a theoretical model for integrating VR and biometric data to redefine peak performance training alzet Rama; Wiki Lofandri; siti Fadillah Sallamah
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 9 No. 3 (2024): SCHOULID : Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/086355011

Abstract

Artikel ini mengusulkan model teoretis inovatif untuk mengintegrasikan data biometrik atlet (seperti HRV, EEG, EMG) dengan data kinerja dari lingkungan Virtual Reality (VR) dalam sebuah sistem umpan balik tertutup (closed-loop). Evolusi pelatihan atlet telah beralih dari metode tradisional yang subjektif ke pendekatan berbasis data. Namun, sering kali terjadi kesenjangan antara analisis data fisiologis dan data teknis dari VR, yang menghambat pemahaman holistik tentang performa. Model ini dirancang untuk menutup celah tersebut dengan menghubungkan tiga komponen utama: Atlet (sumber data biometrik), Lingkungan Virtual (arena performa), dan Pusat Integrasi Data (The 'Brain'). Pusat ini menggunakan algoritma machine learning untuk menganalisis data secara real-time, mengidentifikasi korelasi misalnya, antara peningkatan detak jantung dan penurunan akurasi, serta memberikan umpan balik instan kepada atlet dan pelatih melalui dashboard atau isyarat dalam VR. Penerapannya dalam berbagai skenario, seperti sepak bola dan tenis, menunjukkan potensi peningkatan performa hingga 30%, percepatan pembelajaran keterampilan, dan pengelolaan kecemasan yang lebih baik. Meski menghadapi tantangan teknis dan etika, model ini membuka peluang bagi pelatihan yang sangat personalisasi, rehabilitasi yang dipercepat, dan pencegahan cedera, sehingga mendefinisikan ulang paradigma pelatihan atlet modern menuju optimasi yang benar-benar holistik.
Relevansi teori teknologi pendidikan dalam menjawab tantangan era industri 4.0 di pendidikan vokasi Alzet Rama; Wiki Lofandri; Syahda Humayra; Siti Fadillah Sallamah
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 8 No. 2 (2023): SCHOULID : Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/086365011

Abstract

Revolusi Industri 4.0 membawa transformasi signifikan pada dunia kerja, yang pada gilirannya menuntut adaptasi dalam sistem pendidikan vokasi. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi tantangan pedagogis yang dihadapi pendidikan vokasi di era ini dan menganalisis relevansi teori teknologi pendidikan (EdTech) dalam meresponsnya. Melalui tinjauan pustaka sistematis dan analisis konseptual, penelitian ini mengidentifikasi tantangan kunci seperti kebutuhan rapid re-skilling, penyelesaian masalah kompleks, kolaborasi manusia-mesin, literasi data, dan pembelajaran mandiri. Hasil analisis menunjukkan bahwa teori EdTech tradisional seperti Behaviorisme, Kognitivisme, dan Konstruktivisme masih relevan namun tidak memadai jika diterapkan secara tunggal untuk menjawab seluruh kompleksitas tantangan tersebut. Sebaliknya, teori yang lebih baru seperti Konektivisme dan Heutagogy menawarkan pendekatan yang lebih sesuai untuk mendukung pembelajaran seumur hidup dan otonomi siswa. Sebagai novelty, artikel ini mengusulkan sebuah kerangka teoretis hibrid yang mengintegrasikan prinsip-prinsip dari teori lama dan baru untuk menciptakan pendekatan pedagogis yang lebih komprehensif dan adaptif. Implikasinya menekankan pergeseran peran guru menjadi fasilitator dan pentingnya landasan teori yang kuat dalam adopsi teknologi untuk memastikan efektivitas pembelajaran dan kesiapan kerja lulusan vokasi di tengah dinamika Industri 4.0
The empathic avatar: a conceptual framework for ai-driven counseling and the preservation of therapeutic alliance in the digital age alzet Rama; Wiki Lofandri
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 8 No. 3 (2023): SCHOULID : Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/086371011

Abstract

Perkembangan aplikasi kesehatan mental digital (DMHIs) dan kecerdasan buatan generatif membuka peluang baru dalam layanan konseling. Namun, kemampuan AI dalam memproses data emosi belum diimbangi dengan pemahaman emosional sejati, menciptakan tantangan dalam membangun Aliansi Terapeutik (Therapeutic Alliance) sebagai fondasi kesuksesan terapi. Artikel ini mengusulkan kerangka kerja konseptual "Digital Therapeutic Alliance Framework" untuk mengatasi kesenjangan ini. Kerangka ini mendekonstruksi empati menjadi komponen kognitif dan afektif yang dapat dimodelkan AI melalui Pemrosesan Bahasa Alami dan avatar responsif. Dengan menerjemahkan tiga pilar Aliansi Terapeutik - Ikatan (Bond), Tujuan (Goals), dan Tugas (Tasks) - ke dalam parameter teknis, kerangka ini memetakan bagaimana avatar AI dapat membangun kepercayaan melalui konsistensi dan personalisasi, menetapkan tujuan kolaboratif, serta merancang tugas yang disertai psikoedukasi dan umpan balik konstruktif. Namun, artikel ini secara kritis menegaskan batasan etika AI dengan menekankan bahwa simulasi empati bukan pengganti belas kasih otentik. Untuk itu, protokol eskalasi "Human-in-the-Loop" untuk situasi krisis diusulkan. Kerangka "Empathic Avatar" ini berperan sebagai pembuka akses dan pelengkap dalam ekosistem kesehatan mental, menciptakan kemitraan simbiosis antara efisiensi algoritmik AI dan kedalaman emosional konselor manusia
Literasi finansial digital dan kesenjangan ekonomi: tinjauan teoretis tentang peran teknologi pendidikan inklusif alzet Rama; Wiki Lofandri
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 8 No. 3 (2023): SCHOULID : Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/086375011

Abstract

Transformasi ekonomi digital yang didorong oleh FinTech menjanjikan inklusi keuangan, namun secara paradoks berpotensi memperlebar kesenjangan digital-finansial bagi populasi rentan akibat rendahnya Literasi Finansial Digital (LFD). Respons pendidikan tradisional seringkali gagal mengakomodasi keragaman kebutuhan belajar. Artikel ini mengatasi kesenjangan teoretis tersebut dengan mengonstruksi Model Tinjauan Teoretis (MTT) TPI-LFD, yang memposisikan Teknologi Pendidikan Inklusif (TPI)—berlandaskan prinsip Universal Design for Learning (UDL)—sebagai variabel mediator kunci. TPI didefinisikan sebagai integrasi infrastruktur digital dan kerangka pedagogis UDL yang fokus pada aksesibilitas kognitif dan keterlibatan multimoda. Model ini beroperasi dalam tiga fase: Inklusi Akses, Transformasi Kapabilitas (LFD dan Efikasi Diri), dan Aktualisasi Dampak (Perilaku Finansial Adaptif). MTT TPI-LFD memproyeksikan bahwa desain teknologi yang inklusif dapat meningkatkan kompetensi LFD dan self-efficacy individu, yang pada akhirnya memicu perubahan perilaku finansial adaptif di level mikro. Secara agregat, perubahan perilaku ini merupakan determinan krusial yang berkontribusi pada mitigasi kesenjangan sosial-ekonomi di level makro. Model ini menawarkan landasan konseptual bagi perumus kebijakan untuk merancang strategi inklusi ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan, menuntut reorientasi dari sekadar penyediaan konten menuju desain instruksional yang humanis.
Towards a proactive mental health ecosystem: a conceptual model of integrated digital layers alzet Rama; Wiki Lofandri; Siti Fadillah Sallamah; Syahda Humayra
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 10 No. 3 (2025): SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/086684011

Abstract

Sementara dunia terus dilanda krisis kesehatan mental global, sistem layanan yang ada saat ini sebagian besar bersifat reaktif, hanya membantu orang setelah mereka mencapai tahap krisis. Makalah konseptual ini mengusulkan Ekosistem Berlapis untuk Pengelolaan Kesehatan Mental Proaktif sebagai solusi yang dapat memperbaiki struktur layanan, membuka jalan untuk fokus pada pencegahan dini dan pemeliharaan kesejahteraan daripada sekadar penyembuhan. Model yang diusulkan di sini terdiri dari empat lapisan yang saling terkait secara fungsional: pertama, pengumpulan data sensorik yang menggunakan sumber pasif dan aktif; kedua, mesin analitik prediktif yang mengeluarkan sinyal peringatan dini; ketiga, pengiriman intervensi mikro; dan terakhir, keterlibatan manusia sebagai pemeriksaan klinis akhir. Selain mengusulkan tipologi intervensi yang mencakup aspek kognitif, perilaku, sosial, dan digital, makalah ini juga mengkritik “Paradoks Privasi-Personalisasi” dengan mengusulkan solusi etis seperti minimalisme data dan kontrol pengguna yang transparan. Dengan menetapkan ukuran kinerja baru seperti tingkat keterlibatan dan penurunan peristiwa eskalasi, struktur ini diharapkan menjadi panduan untuk mengembangkan teknologi kesehatan mental yang tidak hanya cerdas tetapi juga mampu membangun kepercayaan dan otonomi pengguna
Reconstructing vocational identity in the gig economy: a protean-boundaryless model for vocational students alzet Rama; Wiki Lofandri; Saftrian Mukhlizul Fuad
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 10 No. 4 (2025): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30036744000

Abstract

Artikel ini merekonstruksi konsep pembentukan identitas profesional siswa vokasi di tengah transformasi ekonomi gig. Melalui sintesis teoritis, studi ini mengidentifikasi bahwa identitas vokasional tradisional yang dibangun atas spesialisasi tetap, validasi institusional, dan jalur karier linear tidak lagi memadai dalam ekosistem kerja berbasis proyek. Ekonomi gig menuntut identitas yang adaptif, multipel, dan dikelola secara strategis, di mana kemampuan membangun portofolio hibrida, reputasi digital, dan navigasi mandiri menjadi krusial. Artikel mengusulkan model integratif "Protean-Boundaryless" yang memandang identitas sebagai "proyek diri" yang terus diperbarui melalui interaksi dinamis antara agensi individu, struktur platform digital, dan pendidikan vokasi. Implikasinya menuntut pergeseran paradigma pendidikan vokasi dari penyiapan tenaga kerja spesialis menuju pengembangan kapasitas navigasi, ketangguhan psikologis, dan literasi digital untuk merespons ketidakpastian pasar kerja kontemporer
Kerangka konseptual bimbingan karir berperspektif keadilan sosial bagi kelompok marginal alzet Rama; Wiki Lofandri
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 10 No. 3 (2025): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30036781000

Abstract

Artikel ini mengusulkan kerangka konseptual untuk mengintegrasikan prinsip keadilan sosial ke dalam bimbingan karir dalam sistem Pendidikan Teknis dan Kejuruan (TVET) yang inklusif. Melalui tinjauan literatur sistematis, kajian ini menggabungkan teori-teori keadilan sosial (seperti kerangka Nancy Fraser, Pendekatan Kapabilitas, dan Teori Kritis) untuk mentransformasi peran konselor dari fasilitator individu menjadi agen perubahan yang advokatif. Kerangka multi-level yang diusulkan mencakup intervensi pada tingkat makro (kebijakan), meso (kelembagaan), dan mikro (praktik konseling), dengan prinsip-prinsip operasional seperti interseksionalitas, pemberdayaan agensi, perspektif berbasis kekuatan, dan aksesibilitas universal. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem TVET yang secara aktif menghapus hambatan struktural bagi kelompok marginal dan penyandang disabilitas, memastikan partisipasi penuh dan hasil yang setara. Artikel ini menyoroti perlunya reorientasi dalam pendidikan konselor dan kebijakan TVET untuk mewujudkan inklusi yang transformatif.
Model konseptual transisi sekolah ke kerja berbasis kesehatan mental di era pasca pandemi alzet Rama; Wiki Lofandri; Saftrian Mukhlizul Fuad
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 10 No. 3 (2025): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30036785000

Abstract

Artikel ini mengusulkan model teoretis baru untuk memfasilitasi transisi sekolah-ke-dunia kerja (School-to-Work Transition/STWT) di era pasca-pandemi. Model ini merespons dampak psikologis mendalam dari pandemi seperti penurunan self-efficacy, kecemasan, dan atrofi keterampilan sosial yang memperumit adaptasi lulusan baru di dunia kerja yang telah bertransformasi secara digital. Berbeda dengan pendekatan tradisional yang linier dan berfokus pada skill-matching, model ini menempatkan Kesehatan Mental dan Kesejahteraan Psikologis sebagai landasan fundamental. Di atas landasan ini, model dibangun dengan empat pilar utama: Literasi Digital dan Keterampilan Hybrid, Kompetensi Sosial-Emosional yang Diperbarui, Identitas Karier yang Lentur dan Eksploratif, serta Jejaring Dukungan Ekologis yang Diperkuat. Artikel ini berargumen bahwa jembatan transisi yang efektif harus holistik, resilien, dan mengintegrasikan dimensi psikologis dengan kompetensi adaptif dan dukungan sistemik. Implementasi model memerlukan kolaborasi sinergis dari institusi pendidikan, industri, pembuat kebijakan, dan individu sebagai agen aktif