Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Sinteza

Formulasi dan Evaluasi Lulur Limbah Kulit Dalam (Albedo) Buah Durian (Durio zibethinus Murr.) sebagai Kosmetik Alami Minawati, Minawati; Febriani, Yuyun; Ihsan, Ersi Arviana
Sinteza Vol. 2 No. 1 (2022): February
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.299 KB) | DOI: 10.29408/sinteza.v2i1.2750

Abstract

Kulit buah durian secara keseluruhan mengandung senyawa flavonoid, fenolik, saponin, dan tanin. Golongan flavonoid yang dimiliki oleh kulit durian berfungsi sebagai aktivitas antioksidan yang menjadi senyawa penting dalam menjaga kesehatan tubuh. Antioksidan dalam bahan kosmetik dapat bermanfaat untuk memperbaiki sel-sel kulit yang rusak akibat radikal bebas. Tujuan  penelitian ini adalah untuk menghasilkan formulasi sediaan lulur yang terbaik dari kulit dalam (albedo) durian berdasarkan uji sifat fisiknya. Penelitian ini merupakan penelitian experimental menggunakan posttest design dengan perlakuan konsentrasi dari kulit dalam (albedo) durian sebagai bahan aktif sediaan lulur. Formulasi sediaan lulur dari kulit dalam (albedo) durian dibuat dengan konsentrasi 1%, 1,5%, dan 3%. Uji sifat fisik sediaan  lulur ditentukan berdasarkan uji organoleptis, viskositas, pH, daya sebar, daya lekat, homogenitas, dan hedonik (kesukaan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi sediaan lulur dari kulit dalam (albedo) durian memilik perbedaan berdasarkan uji sifat fisiknya dengan formulasi yang terbaik adalah formulasi sediaan lulur kulit dalam (albedo) 3% baik dari segi aroma, tekstur, dan warna.
Formulasi dan Evaluasinya Lulur Ubi Ungu (Ipomea batatas) Ikhsan, Ersi Arviana; Febriani, Yuyun
Sinteza Vol. 1 No. 1 (2021): February
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.341 KB) | DOI: 10.29408/sinteza.v1i1.3205

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi lulur ubi ungu yang baik untuk kulit. Lulur atau Body masker adalah perawatan tubuh dengan membalut seluruh permukaan kulit tubuh menggunakan bahan masker yang mempunyai fungsi berbeda-beda. Fungsinya sesuai dengan produk yang digunakan misalnya melembutkan (softing), mengencangkan (firming), mencerahkan kulit, membantu proses detoksifikasi, atau meramingkan tubuh (slimming). Dari tujuan tersebut preformulasi yang digunakan adalah: 15,3 gram ubi ungu, 30,6 gram serbuk beras ketan, 0,02 gram metil paraben, air mawar 10 mL, susu 2 gram, dan aquades ditambahkan sampai berat 60 gram dalam pembuatan lulur. Untuk mengetahui produk lulur yang diinginkan maka dilakukan penyebaran angket terhadap 80 responden. Hasil analisis angket menunjukkan 76,3% responden pernah menggunakan lulur, 70% responden menggunakan lulur dalam bentuk semi padat, 86% responden belum pernah menggunakan lulur dari bahan ubi ungu, dan, 74% responden mengharapkan produk lulur yang digunakan dapat mencerahkan kulit.
Analisis Fitokimia dan Karakterisasi Senyawa Antosianin Ubi Jalar Ungu (Ipomea batatas) sebagai Bahan Dasar Lulur Hasil Budidaya Daerah Jenggik Lombok Febriani, Yuyun; Ikhsan, Ersi Arviana; Ardyati, Sulistia
Sinteza Vol. 1 No. 1 (2021): February
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.364 KB) | DOI: 10.29408/sinteza.v1i1.3207

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan zat aktif dan mengkarakterisasi senyawa antosianin yang terdapat pada ubi jalar ungu sebagai bahan dasar dalam pembuatan produk kosmetika lulur. Diharapkan dengan pembuatan lulur yang berasal dari bahan ubi jalar ungu dapat memaksimalkan pemanfaatan sumber daya lokal sebagai produk tepat guna dan bernilai ekonomis tinggi. Untuk tujuan ini maka dilakukanlah penelitian dengan menggunakan sampel ubi jalar ungu yang diambil dari daerah Jenggik, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Terlebih dahulu dilakukan determinasi tumbuhan dan selanjutnya melakukan analisis fitokimia dan karakterisasi senyawa antosianin ubi jalar ungu. Hasil analisis fitokimia menunjukkan bahawa ubi jalar ungu dari daerah jenggik mengandung senyawa flavonoid, antosianin, saponin, dan tanin. Untuk karakterisasi senyawa antosianin digunakan uji kromatografi lapis tipis dengan fase gerak butanol:asam asetat:air dengan perbandingan 4:5:1 dengan nilai Rf yang dihasilkan sebesar 0,41. Hasil ini menunjukkan bahwa ubi jalar ungu mengandung senyawa antosianin sehingga ubi jalar ungu dari daerah jenggik dapat dijadikan sebagai bahan dasar lulur.
Analisis Zat Pewarna Rhodamin B pada Jajanan Pasar di Kabupaten Lombok Timur Husani, Ariqatul; Haritani, Hartini; Febriani, Yuyun
Sinteza Vol. 1 No. 2 (2021): August
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/sinteza.v1i2.4483

Abstract

Salah satu pewarna makanan yang banyak digunakan dalam proses pembuatan jajanan pasar tradisional adalah zat pewarna sintetis rhodamin B. Pewarna ini dilarang untuk digunakan pada makanan ataupun minuman karena bersifat karsinogenik atau dapat memicu pertumbuhan sel kanker. Tujuan dari penelitian untuk menganalisis kadar rhodamin B yang terdapat pada jajanan pasar. Sampel pada penelitian ini sebanyak 30 sampel jajanan pasar, populasi dalam penelitian ini yaitu 6 pasar yang terdapat di Kabupaten Lombok Timur. Metode yang digunakan dalam penelitia ini yakitu metode Kromatografi Lapis Tipis dan Spektrofotometri Uv-Vis, untuk mencari data kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian yakni dari 30 sampel jajanan pasar yang telah di lakukan uji pewarnaan menunjukkan 6 sampel yang dicurigai mengandung rhodamin B, di uji KLT terdapat 5 sampel yang dinyatakan positif mengandung rhodamin B, dan di uji spektrofotometri menunjukkan semua sampel negatif mengandung rhodamin B. Namun terdapat pewarna lain yang di temukan pada uji spektofotometri Uv-Vis yaitu pewarna sintetis karmoisin. Dapat disimpulkan bahwa jajanan pasar yang beredar di pasar Kabupaten Lombok Timur negatif mengandung rhodamin B.
Analisis Kandungan Piroksikam dan Deksametason pada Jamu Pegal Linu yang Beredar di Lombok Timur Hanifa, Ahdiani; Febriani, Yuyun; Gemantari, Baiq Maylinda
Sinteza Vol. 4 No. 1 (2024): February
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/sinteza.v4i1.17436

Abstract

In recent year 2020 and 2021 BPOM discovered aching herbs containing medicinal chemicals such as piroxicam and dexamethasone. The addition of piroxicam and dexamethasone to herbal rheumatic pain can cause dangerous side effects such as myopathy, impaired kidney function, edema, hypertension, and gastrointestinal bleeding. The aim of this study was to determine the presence and levels of piroxicam and dexamethasone in herbal aches and pains circulating in East Lombok. The qualitative and quatittaive analysis of piroxicam and dexamethasone used in this research. The qualitative analysis used test of drug class compounds to determine the presence or absence of piroxicam and dexamethasone with FeCl3 reagent to detect piroxicam and acetic anhydrous and sulfuric acid reagent to detect dexamethasone.  Therefore, using TLC (Thin Layer Chromatography) as confirmation of the presence or absence of piroxicam and dexamethasone also used in this study. Each positive sample in the TLC process has confirmed and searched for levels using UV-Visible Spectrophotometry as quantitave analysis. The data result have analyzed by   SPSS version 16 to show the signification data in each sample. The TLC analysis results showed 6 positive samples containing piroxicam and 5 positive samples containing dexamethasone. According to assay results, the piroxicam levels were 13,71 ppm, 13,74 ppm, 14, 49 ppm, 13,87 ppm, 13, 99 ppm resepectively. The results for dexamethasone levels were 25,20 ppm, 0,45 ppm, 2,20ppm respectively. So, this show that herbal rheumatic pain in east Lombok contained piroxicam and dexamethasone with diffrence level in each sample with signification value p<0,05.
2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) Radical Scavenging Analysis and Antibacterial Activities of Renggak Seed (Amomum Dealbatum Roxb) Azim, Muhlisun; Hariadi, Puspawan; Fatmayanti, Baiq Risma; Febriani, Yuyun; Wazni, Annisa Rizqita; Anggraini, Virta Dwi
Sinteza Vol. 5 No. 1 (2025): February
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/sinteza.v5i1.28683

Abstract

Natural sources have complex interaction mechanisms in providing inhibitory effects against various radical reactions and multi-drug resistance (MDR). Amomum dealbatum (Renggak in Lombok) seed phytochemistry and bioactivities have the potential to be investigated. This study aims to explore the bioactivity of extracts and fractions of renggak seeds in reducing reactive oxygen species and inhibiting bacterial growth to overcome MDR. The methods used to determine the level of free radical scavenging and antibacterial activity in this study were the 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) and agar diffusion methods. The results of the phytochemical tests of the ethanolic extract of Renggak seeds contain triterpenoids, alkaloids, saponins, and phenolics. Meanwhile, in the hexane fraction were found alkaloids, saponins, and phenolics. The results of antibacterial tests on Staphylococcus aureus using the agar diffusion method for ethanol and hexane extracts at concentrations of 20, 40 and 60% were 12.50±1.00, 19.00±0.00, and 21.8±0.76 for ethanol extracts, respectively. The hexane fraction was 5.33±0.57, 10.83±0.57, and 14.33±0.28 mm. For Salmonella sp bacteria, it was 9.00±1.00, 14.16±0.29, and 18.16±1.04 mm for ethanol extracts than was 7.50±0.50, 12.67±0.76, and 15.67±0.76 mm for hexane fractions. Moreover, the ethyl acetate fraction contains triterpenoids, alkaloids, saponins and phenolics which are responsible for giving antioxidant effects with an IC50 value of 66.515±2.37 ppm and is classified as a strong antioxidant to scavenging free radicals of DPPH. The higher the concentration of the fraction, the higher the inhibition of the growth of Salmonella sp and Staphylococcus aureus bacteria. The ability of the extract and fraction to inhibit bacterial growth and reduce free radicals makes renggak seeds very potential for further investigation.