Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Irfani

HAKIKAT KEBEBASAN BERPIKIR DAN ETIKA Said Subhan Posangi
Irfani Vol. 14 No. 1 (2018): Irfani (e-Journal)
Publisher : LP2M IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah kebenaran yang dicapai melalui berpikir sangat ditentukan oleh subyektifitas atau obyektifitas dalam berpikir. Sebagai diketahui bahwa, dalam membicarakan persoalan berpikir obyektif tidak bisa terlepas dari berpikir secara filsafati, sebab pada dasarnya filsafat mengajak manusia untuk berpikir menurut tata tertibnya (logika) dengan bebas yang tidak terikat dengan tradisi, dogma serta agama, dan dengan sedalam-dalamnya sampai ke dasar persoalan.
TAWHIDI EPISTEMIC: GAGASAN TENTANG TRANSENDENSI SAINS DALAM ISLAM Said Subhan Posangi
Irfani Vol. 13 No. 1 (2017): Irfani (e-Journal)
Publisher : LP2M IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sains Barat dan sains Islam dalam beberapa aspek dianggap berbeda. Perbedaan ini sangat kelihatan ketika sains Barat dengan angkuhnya mengklaim bahwa sains tidak berhubungan dengan agama tdak lahir dari gereja, sementara Islam meyakini bahwa sains tidak dapat dipisahkan dari agama. Ini bisa terjadi karena sains Barat berakar pada ratio sementara sains Islam berakar pada wahyu. Pandangan ini kemudian melahirkan dikotomi antara ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu agama. Inilah yang kemudian mendorong kalangan ilmuan muslim melakukan ijtihad untuk sebuah perubahan paradigma melalui islamisasi sains
HAKIKAT KEBEBASAN BERPIKIR DAN ETIKA Said Subhan Posangi
Irfani (e-Journal) Vol. 14 No. 1 (2018): Irfani (e-Journal)
Publisher : LP2M IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah kebenaran yang dicapai melalui berpikir sangat ditentukan oleh subyektifitas atau obyektifitas dalam berpikir. Sebagai diketahui bahwa, dalam membicarakan persoalan berpikir obyektif tidak bisa terlepas dari berpikir secara filsafati, sebab pada dasarnya filsafat mengajak manusia untuk berpikir menurut tata tertibnya (logika) dengan bebas yang tidak terikat dengan tradisi, dogma serta agama, dan dengan sedalam-dalamnya sampai ke dasar persoalan.
TAWHIDI EPISTEMIC: GAGASAN TENTANG TRANSENDENSI SAINS DALAM ISLAM Said Subhan Posangi
Irfani (e-Journal) Vol. 13 No. 1 (2017): Irfani (e-Journal)
Publisher : LP2M IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sains Barat dan sains Islam dalam beberapa aspek dianggap berbeda. Perbedaan ini sangat kelihatan ketika sains Barat dengan angkuhnya mengklaim bahwa sains tidak berhubungan dengan agama tdak lahir dari gereja, sementara Islam meyakini bahwa sains tidak dapat dipisahkan dari agama. Ini bisa terjadi karena sains Barat berakar pada ratio sementara sains Islam berakar pada wahyu. Pandangan ini kemudian melahirkan dikotomi antara ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu agama. Inilah yang kemudian mendorong kalangan ilmuan muslim melakukan ijtihad untuk sebuah perubahan paradigma melalui islamisasi sains
TRANSFORMASI KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN: MENDEKONSTRUKSI MODEL KEPEMIMPINAN TRADISIONAL UNTUK MENDORONG INOVASI DAN KEUNGGULAN AKADEMIS Said Subhan Posangi; Syafrin Ngiode; Ainun Manggo
Irfani (e-Journal) Vol. 19 No. 2 (2023): Irfani (e-Journal)
Publisher : LP2M IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30603/ir.v19i2.4348

Abstract

Tujuan tulisan ini adalah untuk menganalisis referensi tentang transformasi kepemimpinan dalam Pendidikan, perubahan model kepemimpinan tradisional menjadi kepemimpinan yang modern sesuai dengan zama sekarang ini. Digunakan metode studi literatur, yakni proses Menyusun secara sistematis dan tersusun beberapa model teori tentang model kepemimpinan Pendidikan pada lembaga Pendidikan. Fokus tulisan ini adalah menganalisis teori transformasi kepemimpinan Pendidikan khususnya mengenai dekonstruksi model kepemimpinan tradisional dalam mendorong inovasi dan keunggulan akademis pada lembaga pendidikan. Sumber referensi yakni dari artikel jurnal, buku dan teori lainnya yang berhubungan dengan fokus konten dari judul tulisan ini. Hasil Penelitian yakni Transformasi kepemimpinan pendidikan mencakup perubahan tata kelola, paradigma, dan nilai-nilai fundamental. Pemimpin abad ke-21 harus menjadi fasilitator pembelajaran, inovator, dan berorientasi pada hasil. Keterampilan yang diperlukan termasuk pemahaman teknologi, analisis data, manajemen sumber daya, dan hubungan interpersonal. Partisipasi aktif pemangku kepentingan, pendekatan inklusif, dan dorongan terhadap inovasi menjadi fokus transformasi. Evaluasi kinerja yang berkelanjutan juga menjadi tanggung jawab pemimpin modern. Dekonstruksi model kepemimpinan tradisional menjadi penting dalam menghadapi perubahan dan mendorong inovasi. Fleksibilitas kepemimpinan, pemberdayaan, promosi inovasi, dan pengakuan terhadap keanekaragaman adalah aspek kunci dekonstruksi. Dampak positif melibatkan budaya inovasi, kolaborasi, pemanfaatan teknologi, pengembangan keterampilan abad ke-21, peningkatan efisiensi, dan penyelarasan dengan tuntutan industri.