Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Dampak Pembangunan Berkelanjutan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Palu 3 Pada Kehidupan Sosial Ekonomi Sosial Masyarakat Desa Lero Tatari Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala Anindiya Ramadani; Haslita Rahmawati Hasan; Suwarni Suwarni; Nuraedah Nuraedah
Jurnal PIPSI (Jurnal Pendidikan IPS Indonesia) Vol 10, No 3 (2025): VOLUME 10 NUMBER 3 SEPTEMBER 2025
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26737/jpipsi.v10i3.6982

Abstract

Penelitian ini membahas dampak pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Palu 3 terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di Desa Lero Tatari, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala. PLTU ini merupakan proyek strategis nasional yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi daerah. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara sosial, keberadaan PLTU membawa perubahan pada pola interaksi sosial, struktur masyarakat, serta masuknya budaya baru akibat pekerja dari luar daerah. Selain itu, terdapat peningkatan fasilitas pendidikan dan infrastruktur desa. Namun, muncul juga kekhawatiran masyarakat terhadap dampak lingkungan seperti pencemaran udara yang dapat mempengaruhi kesehatan.
Adaptasi Sosial Budaya Masyarakat Etnis Bugis Di Desa Bahomakmur Kecamatan Bahodopi Kabupaten Morowali Izma Izma; Haslita Rahmawati Hasan; Amalia Novarita; Nurvita Nurvita
Jurnal PIPSI (Jurnal Pendidikan IPS Indonesia) Vol 10, No 3 (2025): VOLUME 10 NUMBER 3 SEPTEMBER 2025
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26737/jpipsi.v10i3.7008

Abstract

Penelitian ini membahas bagiamana bentuk Adaptasi Sosial Budaya Masyarakat Etnis Bugis yang terjadi Di Desa Bahomakmur Kecamatan Bahodopi Kabupaten Morowali dengan adanya berbagi macama etnis di daerah tersebut salah satunya adalah Etnis Bugis.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan bentuk adaptasi sosial budaya yang terjadi kepada masyarakat etnis Bugis yang berada di Desa Bahomakmur, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, dengan menggunakan metode penelitian Deskriptif Kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat dapat menyeimbangkan dampak modernisasi dengan pelestarian tradisi. Kelompok usia muda (15–25 tahun) dan lanjut usia (51 tahun ke atas) sangat mempertahankan nilai-nilai budaya tradisional, terutama yang tercermin dalam gaya hidup, norma, kebiasaan, dan cara interaksi sosial sehari-hari. Kelompok usia produktif (26–40 tahun) juga cenderung lebih terpapar modernisasi, tetapi tetap mempertahankan beberapa aspek budaya lokal, meskipun nilai-nilai tradisional mereka telah berkurangan. Dari semua kelompok usia, anggota masyarakat tetap terhubung satu sama lain melalui semangat gotong royong, sopan santun, dan kebersamaan. Secara keseluruhan, proses adaptasi ini menunjukkan bagaimana masyarakat Bugis dapat mempertahankan identitas budaya mereka sambil beradaptasi dengan perubahan zaman dan budaya lokal. Meskipun berada di tengah modernisasi, tradisi tetap penting dalam kehidupan sosial masyarakat setempat karena komitmen terhadap pelestarian budaya.
MENINGKATKAN PENGETAHUAN LINGKUNGAN DALAM IMPLEMENTASI PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP DI KELAS Xl SMAN 6 PALU Agustina Allobunga; Haslita Rahmawati Hasan; Khairurraziq Khairurraziq; Risma Fadhilla Arsy
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 13, No 2 (2025): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v13i2.33047

Abstract

Abstrak: Isu lingkungan yang semakin mendesak di Indonesia seperti pencemaran, kerusakan habitat, dan perubahan iklim, yang menunjukkan bahwa generasi muda perlu memiliki kesadaran dan pengetahuan yang tinggi terhadap lingkungan. Observasi awal di SMA Negeri 6 Palu menunjukkan rendahnya pengetahuan siswa mengenai pengelolaan lingkungan dapat dilihat dari perilaku siswa yang membuang sampah sembarangan dan siswa sering membeli makanan dan minuman di kantin sekolah yang menggunakan wadah sekali pakai, seperti sampah plastik, styrofoam, dan botol plastik. Permasalahan ini mendorong perlunya peningkatan pengetahuan lingkungan di kalangan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan lingkungan siswa melalui implementasi pendidikan lingkungan hidup di kelas XI SMA Negeri 6 Palu. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain nonequivalent control group. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 62 siswa yang terbagi menjasi dua kelompok ySaitu kelas eksperimen yang menerapkan pembelajaran outdoor study dan kelas kontrol yang menggunakan metode classroom learning. Data dikumpulkan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan lingkungan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai post-test kelas eksperimen meningkat signifikan dari 46 menjadi 87, sedangkan kelas kontrol hanya meningkat dari 52 menjadi 74. Uji t menunjukkan nilai signifikasi (p-value) 0,000 yang berarti terdapat peningkatan pengetahuan lingkungan yang signifikan pada kelas eksperimen. Sehingga penelitian ini disimpulkan bahwa metode pembelajaran berbasis outdoor study atau pengalaman di luar ruangan lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan lingkungan siswa. Diharapkan hasil penelitian ini dapat mendorong sekolah lain untuk menerapkan metode outdoor study dalam implementasi pendidikan lingkungan hidup sehingga dapat menciptakan generasi yang lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan.  Abstract:  Environmental issues that are increasingly pressing in Indonesia such as pollution, habitat destruction, and climate change, which indicate that the younger generation needs to have high awareness and knowledge of the environment. Initial observations at SMA Negeri 6 Palu showed that students' low knowledge of environmental management can be seen from the behavior of students who litter and students often buy food and drinks in the school canteen that use disposable containers, such as plastic waste, styrofoam, and plastic bottles. These problems encourage the need to increase environmental knowledge among students. This study aims to improve students' environmental knowledge through the implementation of environmental education in class XI of SMA Negeri 6 Palu. The research method used was quasi-experiment with nonequivalent control group design. The sample in this study consisted of 62 students who were divided into two groups, namely the experimental class that applied outdoor study learning and the control class that used classroom learning method. Data was collected through pre-test and post-test to measure the increase in students' environmental knowledge. The results showed that the average post-test score of the experimental class increased significantly from 46 to 87, while the control class only increased from 52 to 74. The t-test showed a significance value (p-value) of 0.000 which means there was a significant increase in environmental knowledge in the experimental class. So this study concluded that the outdoor study-based learning method is more effective in increasing students' environmental knowledge. It is hoped that the results of this study can encourage other schools to apply the outdoor study method in the implementation of environmental education so as to create a generation that is more caring and responsible for environmental sustainability.
PixelLab Media to Improve Spatial Thinking Skills of Class XI Students at MAN 3 Parigi Uswatun Hasanah; Haslita Rahmawati Hasan; Suwarni Suwarni; Risma Fadhila Arsy
Journal of Educational Sciences Vol. 10 No. 8 (2026): Journal of Educational Sciences
Publisher : FKIP - Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jes.10.8.p.1174-1187

Abstract

Spatial thinking is an important competency in Geography learning because students need to understand location, distribution, patterns, and spatial relationships. However, students at MAN 3 Parigi still experienced difficulties in understanding spatial concepts, partly because learning was dominated by conventional methods and limited digital media. This study aimed to analyze the effect of PixelLab media on the spatial thinking skills of Class XI students in learning the distribution of disasters in Indonesia. A quantitative quasi-experimental method with a Nonequivalent Control Group Design was employed. The participants were 51 students, consisting of 26 students in the experimental class and 25 students in the control class. Data were collected using a spatial thinking skills test administered as a pretest and posttest to both groups. The same instrument was used before and after the treatment to measure changes in students' spatial thinking skills.The experimental class achieved a higher posttest mean than the control class, and the difference was statistically significant. The findings indicate that PixelLab-supported learning can help students visualize, classify, compare, and communicate geographic information. Therefore, PixelLab can be used as an alternative digital learning medium to support the development of spatial thinking skills in Geography learning.