Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Region of Nuclear Ribosomal DNA (ITS2) and Chloroplast DNA (rbcL and trnL-F) as A Suitable DNA Barcode for Identification of Zingiber loerzingii Valeton From North Sumatera, Indonesia Prasetya, Eko; Lazuardi, Lazuardi; Harahap, Fauziyah; Rachmawati, Yuanita; Yusuf, Yusnaeni; Al Idrus, Said Iskandar; Prastowo, Puji
Journal of Tropical Biodiversity and Biotechnology Vol 8, No 3 (2023): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jtbb.76956

Abstract

Zingiber loerzingii Valeton is one of the species in the Zingiberaceae family found throughout Aceh and North Sumatra, Indonesia, with slimy flowers, yellowish white color, and dark orange stamens. Z. loerzingii is endemic in North Sumatra with a very limited distribution. The International Union for Conservation of Nature and Natural Resources classifies this plant into the vulnerable ones category. This study aims to examine the potential of DNA barcoding from nuclear DNA (ITS2) and DNA chloroplasts (rbcL and trnL-F) to identify Z. loerzingii plants. The research sample was obtained from two main distribution areas of Z. loerzingii in North Sumatra, Indonesia, namely Sibolangit Nature Reserve and Tangkahan Conservation Forest. The results showed that all the DNA barcode markers used were able to classify Z. loerzingii into the same group in the phylogenetic analysis. ITS marker is the most effective marker for classifying Zingiberaceae species compared to rbcL and trnL-F markers. The ITS2 marker has the lowest level of intraspecific and intraspecific genetic distance overlap compared to the rbcL and trnL-F markers. This research is expected to provide information related to the DNA barcode of Z. loerzingii in an effort to conserve this rare plant. 
Peningkatan Pengetahuan Petani Jagung Pakpak Bharat dalam Mengolah Limbah Pangkal Jagung Menjadi Pupuk Organik Ramah Lingkungan Sari, Sri Adelila; Prastowo, Puji; Muslim; Kabeakan, Feri Yuni; Hasibuan, Hanisah; Nasution, Lia Mardiana
Bahasa Indonesia Vol 21 No 03 (2024): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/sarwahita.213.6

Abstract

Pakpak Bharat Regency in North Sumatra Province has significant potential in the agriculture sector, particularly in corn cultivation. However, the management of corn waste in this region has been suboptimal, with corn cobs often left to accumulate or burned, leading to environmental pollution. Limited technology and the high cost of equipment have hindered the community from processing this waste into organic fertilizer, resulting in dependence on externally purchased organic fertilizers. This study was aimed to enhance corn farmers' knowledge about processing corn cob waste into organic fertilizer. The methods used were included education, provision of appropriate technology (TTG) in the form of shredders, and training and mentoring in organic fertilizer production. Data were analyzed using scoring methods and Spearman Rank. The results were indicated a significant increase in corn farmers' knowledge in Pakpak Bharat regarding the processing of corn cob waste into organic fertilizer, with scores were rised from 1.57 (low) to 2.80 (high). Factors contributing to this improvement were included of age (rs=0.410*), education (rs=0.500*), and technology suitability (rs=0.620*). Through this activity, farmers learned to convert corn cob waste into organic fertilizer, which reduced environmental impact and improved their income and quality of life.   Abstrak Kabupaten Pakpak Bharat, Provinsi Sumatera Utara, memiliki potensi besar dalam sektor pertanian, khususnya dalam budidaya jagung. Namun, pengelolaan limbah jagung di wilayah ini masih belum optimal, dengan limbah pangkal jagung sering dibiarkan menumpuk atau dibakar, mengakibatkan pencemaran lingkungan. Keterbatasan teknologi dan biaya pengadaan alat yang mahal menghambat masyarakat dalam mengolah limbah ini menjadi pupuk organik, serta ketergantungan pada pupuk organik yang dibeli dari luar. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan petani jagung tentang pengolahan limbah pangkal jagung menjadi pupuk organik. Metode yang digunakan mencakup edukasi, penyediaan teknologi tepat guna (TTG) berupa alat pencacah, serta pelatihan dan pendampingan dalam produksi pupuk organik. Data dianalisis menggunakan metode scoring dan Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan petani jagung di Pakpak Bharat mengenai pengolahan pupuk organik dari limbah pangkal jagung, dari skor 1,57 (rendah) menjadi 2,80 (tinggi). Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan ini meliputi umur (rs=0,410*), pendidikan (rs=0,500*), dan kesesuaian teknologi (rs=0,620*). Melalui kegiatan ini, para petani jagung memperoleh pengetahuan dalam mengolah limbah tongkol jagung menjadi pupuk organik, yang tidak hanya mengurangi dampak lingkungan dari pembakaran limbah tetapi juga pendapatan dan kualitas hidup mereka mestinya dapat ditingkatkan.
Analyze Farmers' Attitudes, Skills, and SDG Achievements through the Production of Organic Fertilizer from Corn Cobs Sri Adelila Sari; Prastowo, Puji; Muslim, Muslim; Kabeakan, Feri Yuni Asiyah; Hasibuan, Hanisah; Nasution, Lia Mardiana
Engagement: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2 (2024): November 2024
Publisher : Asosiasi Dosen Pengembang Masyarajat (ADPEMAS) Forum Komunikasi Dosen Peneliti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29062/engagement.v8i2.1835

Abstract

Unutilized corn cob waste damages the environment and reduces land sustainability. Processing it into organic fertilizer can support a circular economy and reducing waste. This study was aimed to analyze the attitudes, skills, and achievements of farmers' SDGs in processing corn cob waste into organic fertilizer. The method used was counseling and training for 30 farmers. The instrument used was a questionnaire to measure attitudes and skills, with 10 items each. The results showed that there was a significant increase in farmers' attitudes and skills, respectively, with an average score of 0.994 (very accepting category) and 0.993 (very skilled category). The findings concluded that counselling and training can improve positive attitudes and skills of farmers in processing corn cob into organic fertilizer. Thus, the objectives of the Sustainable Development Goals related to food security, environmental protection, independent and competitive farmer groups, local economic growth in Pakpak Bharat could be achieved.
Keanekaragaman Capung (Odonata) di Kawasan Royal Sumatra Golf Course Agna, Radina Nur; Prastowo, Puji
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 8, No 2 (2025): September 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v8i2.12228

Abstract

Kawasan Royal Golf Sumatra, Kecamatan Tuntungan, Kota Medan, merupakan kawasan perumahan modern yang dilengkapi dengan lapangan golf, danau, dan taman, serta berada di pinggir sungai. Kondisi ini menjadikan kawasan, khususnya sekitar danau dan sungai, berpotensi menjadi habitat bagi capung (Odonata). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan kelimpahan capung di kawasan tersebut. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2024 menggunakan metode observasi lapangan dengan teknik pengamatan langsung di empat habitat yang berbeda, yaitu danau, sungai, lapangan golf, dan taman. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener, kelimpahan relatif, dan indeks kesamaan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 7 spesies capung dari dua famili, yaitu Chlorocyphidae dan Libellulidae, dengan indeks keanekaragaman yang berada dalam kategori rendah (H' = 1,85). Tidak ada pengaruh yang signifikan jenis habitat terhadap keanekaragaman capung (Odonata) di kawasan Royal Sumatra Golf Course Medan Tuntungan. Spesies dengan kelimpahan tertinggi adalah Neurothermis terminata, sementara Neurothermis fluctuans memiliki kelimpahan terendah. Berdasarkan habitat, kelimpahan tertinggi ditemukan di habitat sungai (31,6%), sedangkan terendah di lapangan golf (19,8%). Tingkat dominansi capung (Odonata) yang terdapat di kawasan Royal Sumatra Golf Course Medan Tuntungan berada dalam kategori sedang (0,18).
PEMBUATAN VIRGIN COCONUT OIL (VCO) MENGGUNAKAN METODE TANPA PEMANASAN DI DESA TELAGA TUJUH Prastowo, Puji; Huda Panggabean, Nurul; Anjaning Kusuma Marpaung, Dwi Ratna; Septiani, Findi; Ulfa Nuzalifa, Yossie
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 7 (2024): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v7i7.2680-2684

Abstract

Tanaman kelapa (Cocos nucifera L.) memiliki beragam khasiat dan manfaat bagi kehidupan manusia umumnya dan masyarakat Desa Telaga Tujuh khususnya. Kelapa memiliki peran penting baik dari segi sosial, budaya maupun ekonomi bagi masyarakat desa tersebut. Pemanfaatan buah kelapa yang kurang optimal di desa Desa Telaga Tujuh Kecamatan Labuhan Deli menjadi suatu dasar dilakukannya kegiatan pengabdian ini. VCO (Virgin Coconut Oil) atau minyak kelapa murni dapat dijadikan suatu solusi yang dapat dikembangkan dan diproduksi baik dalam skala rumah tangga maupun lebih luas lagi. Tidak hanya menambah nilai ekonomi dari buah kelapa dan meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga memiliki beragam manfaat bagi kesehatan tubuh manusia. Kegiatan pembuatan VCO menggunakan metode tanpa pemanasan telah dilakukan pada bulan Mei 2024 meliputi sosialisasi, diskusi dan praktik pembuatan VCO. Pengolahan dengan menggunakan metode tanpa pemanasan dan tanpa penambahan bahan/zat tertentu dari 4 buah kelapa dihasilkan ± 50 - 60 ml VCO dengan kualitas yang baik seperti berwarna putih (jernih), memiliki aroma khas kelapa dan tidak berbau tengik serta memiliki daya simpan yang cukup lama.
SOSIALISASI PEMANFAATAN METODE SENTRIFUGAL DALAM MENINGKATKAN KUALITAS VIRGIN COCONUT OIL (VCO) DESA TELAGA TUJUH Panggabean, Nurul Huda; Prastowo, Puji; Nasution, Aswarina; Ningsih, Ayu Putri; Amdayani, Susilawati
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 5 (2025): Vol.6 No. 5 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i5.51579

Abstract

Pembuatan VCO (Virgin Coconut Oil) dilakukan dengan beberapa metode, antara lain menggunakan pemanasan maupun tanpa pemanasan. Pemanasan dilakukan dengan merebus santan kelapa menggunakan api kecil hingga santan mengeluarkan minyak, namun metode ini sering menyebabkan perubahan warna pada minyak dan berbau tengik sehingga kualitas VCO yang dihasilkan kurang baik dan tidak bertahan lama. Metode lainnya yaitu dengan cara mekanik, kelapa setelah diparut akan mengalami proses pengadukan secara manual, hal ini akan membantu dalam pelepasan emulsi santan, dimana protein, minyak dan air akan terpisah sendiri melalui metode ini. Metode ini dirasa cukup efektif karena prosesnya tanpa menggunakan pemanasan. Hasil produksi VCO masyarakat di Desa Telaga Tujuh Kabupaten Deli Serdang masih belum optimal dikarenakan VCO masih berbau tengik setelah jangka waktu penyimpanan 30 hari, produksi menggunakan metode tanpa pemanasan. Dibutuhkan perbaikan metode dalam proses produksi dan pengemasan, agar kualitas VCO dapat terjaga dengan baik. Sosialisasi yang dilakukan sebagai upaya peningkatan pemahaman masyarakat sebagai pelaku kegiatan produksi VCO di Desa Telaga Tujuh. Sosialisasi memperkenalkan kepada masyarakat tentang proses produksi VCO menggunakan teknologi tepat guna mesin sentrifugal dan adanya tahap pendinginan dalam pengolahan santan. Proses pendinginan dalam produksi VCO bermanfaat untuk memperlambat atau mencegah reaksi oksidasi dan hidrolisis pada santan yang dapat menyebabkan penurunan kualitas VCO. Mesin sentrifugal bermanfaat untuk menghasilkan VCO yang bebas kontaminasi, cara ini juga efektif dan efisien karena menghasilkan rendemen yang lebih banyak dibandingkan metode fermentasi. Berdasarkan hasil yang diperoleh, masyarakat memiliki peningkatan pemahaman dalam hal pemanfaatan teknologi tepat guna dalam memperbaiki kualitas produk VCO menggunakan mesin sentrifugal dan proses pendinginan dalam pengolahannya.
PENDAMPINGAN DESA MANDIRI PEDULI GAMBUT DI SUMATERA UTARA Sudibyo, Mufti; Syarifuddin, Syarifuddin; Prastowo, Puji; Eddiyanto, Eddiyanto; Sihite, Onggal; Syahputra, Ricky Andi; hutahaean, Harvei Desmon; Nasution, Zuhairiah; Nst, Mutiara Agustina
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 3 (2025): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v8i3.61372

Abstract

The Peatland Care Independent Village (DMPG) program in North Sumatra, implemented in 2024, was designed to enhance environmental quality, protect, and sustainably manage peatland ecosystems. The program involved structured community engagement through various stages, including the recruitment of community facilitators, technical training, the establishment of peatland ecosystem task forces, the development of community activity plans (RKM), and the implementation and presentation of these plans. It was carried out in 12 villages across four districts in North Sumatra. Activities focused on local economic development, such as crop and livestock farming, handicraft production, and capacity building for the community. The stages of the DMPG program are implemented simultaneously and continuously, involving all levels of society and monitored by the university and a delegation from the Ministry of Environment and Forestry. At the end of the program, an evaluation was conducted to measure the impact on the quality of the peatland environment and the economic improvement of the communities in the 12 target villages. The results showed significant improvements in the environmental quality of peatland areas and local economic growth. A survey conducted across 12 villages revealed that 10 villages considered the program highly beneficial in improving the environmental quality of peatland areas, while 2 villages found it beneficial. Regarding economic benefits, 8 villages reported significant improvements in local economies, and 4 villages reported moderate benefits. The program successfully raised community awareness of the importance of peatland conservation and fostered an effective collaborative model involving universities, government agencies, and local communities. These findings underscore the importance of an integrated approach to restoring the ecological functions of peatlands and improving the welfare of surrounding communities.Program Desa Mandiri Peduli Gambut (DMPG) di Sumatera Utara tahun 2024 dirancang untuk meningkatkan kualitas lingkungan, melindungi, dan mengelola ekosistem gambut secara berkelanjutan. Program ini melibatkan pendampingan masyarakat melalui tahapan yang mencakup rekrutmen fasilitator masyarakat, bimbingan teknis, pembentukan tim kerja ekosistem gambut, penyusunan rencana kegiatan masyarakat (RKM), hingga pelaksanaan dan ekspos RKM. Program ini diterapkan di 12 desa yang tersebar di empat kabupaten di Sumatera Utara. Aktivitas melibatkan pengembangan ekonomi berbasis lokal seperti budidaya tanaman dan ternak, produksi kerajinan, serta peningkatan kapasitas masyarakat. Tahapan program DMPG dilaksanakan secara bersamaan dan berkesinambungan dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat serta mendapat pendampingan dari Universitas Negeri Medan serta di monitoring oleh delegasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Di akhir program, dilakukan evaluasi untuk mengukur dampaknya terhadap kualitas lingkungan lahan gambut serta peningkatan ekonomi masyarakat di 12 desa sasaran. Hasil program menunjukkan peningkatan signifikan dalam kualitas lingkungan sekitar ekosistem gambut serta pertumbuhan ekonomi lokal. Selain itu, program ini berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian gambut dan menciptakan model kolaborasi yang efektif antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat. Berdasarkan survey yang dilakukan kepada 12 desa, Dari segi peningkatan kualitas lingkungan sekitar lahan gambut, 10 desa menyatakan program DMPG ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan kualitas lingkungan sekitar lahan gambut, dan 2 desa menyatakan bermanfaat. Dari segi peningkatan ekonomi masyarakat, 8 desa menyatakan sangat bermanfaat bagi peningkatan ekonomi masyarakat dan 4 desa menyatakan bermanfaat. Program DMPG memiliki manfaat Hal ini menegaskan pentingnya pendekatan terintegrasi untuk memulihkan fungsi ekologis gambut dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Keanekaragaman Serangga Polinator pada Tanaman Kopi Arabika (Coffea arabica L) di Desa Nagasaribu 1, Kecamatan Lintongnihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan Sihombing, Vivin Ronatio; Prastowo, Puji
BIO-CONS : Jurnal Biologi dan Konservasi Vol. 7 No. 2 (2025): BIO-CONS: Jurnal Biologi dan Konservasi
Publisher : PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31537/biocons.v7i2.2490

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman, dominansi, dan frekuensi kunjungan serangga polinator pada tanaman kopi arabika (Coffea arabica L) di Desa Nagasaribu 1, Kecamatan Lintongnihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan. Serangga polinator memiliki peran penting dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen kopi melalui proses penyerbukan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan survei lapangan pada lima titik pengamatan yang dipilih dengan purposive sample. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan langsung, untuk keperluan identifikasi dan koleksi menggunakan alat sweep net dan sticky trap, kemudian identifikasi serangga dilakukan di laboratorium menggunakan mikroskop stereo dan buku acuan Borror et al. (2005). Analisis keanekaragaman dilakukan menggunakan indeks Shannon-Wiener, dominansi dengan indeks Simpson, dan frekuensi kunjungan dianalisis berdasarkan jumlah kunjungan per satuan waktu. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 12 spesies serangga polinator dari empat ordo (Diptera, Coleoptera, Hymenoptera, dan Lepidoptera) dengan total 825 individu. Keanekaragaman dikategorikan sedang (H' = 2,09), dan indeks dominansi dikategorikan rendah (D=0,15). Spesies yang paling sering mengunjungi bunga kopi adalah Condylostylus sipho (26,67%).
Identifikasi Mikroplastik pada Insang dan Saluran Pencernaan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) di Danau Toba Kabupaten Simalungun Situmorang, Erika Putri Octavani; Prastowo, Puji; Sudibyo, Mufti
Biocaster : Jurnal Kajian Biologi Vol. 6 No. 1 (2026): January
Publisher : Lembaga Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Kamandanu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/biocaster.v6i1.964

Abstract

Microplastic pollution in the waters of Lake Toba has the potential to accumulate in aquatic biota, including tilapia (Oreochromis niloticus) cultivated in floating net cages. The presence of microplastics in aquatic organisms is an important concern, because it has the potential to disrupt the balance of aquatic ecosystems and pose a risk to food security for humans. This study aims to identify the shape and color of microplastics in the gills and digestive tract of tilapia, as well as analyze the differences in abundance between the two organs. The research was carried out in June-August 2025 using a quantitative descriptive method. Fish samples were taken from three stations in the waters of Lake Toba, Simalungun Regency, namely tourist areas, boat transportation activities, and residential areas. Microplastic identification was performed visually using a microscope after the degradation of organic matter by the Fenton method. The results showed that the abundance of microplastics in the gill organs was 32 particles/individual, while in the digestive tract as many as 31 particles/individual. The microplastics found are dominated by fibers, fragments, and films with the main colors being green, black, red, brown, and transparent. The results of the independent sample t-test showed a value of p = 0.787 (p > 0.05) which indicated that there was no significant difference in microplastic abundance between the gills and the gastrointestinal tract. These findings confirm that microplastics have been distributed relatively evenly in tilapia organs, so that they have the potential to have an impact on the health of Lake Toba's aquatic ecosystem and food safety from aquaculture fisheries.
Keanekaragaman Serangga Berpotensi Penyerbuk pada Tanaman Jambu Biji (Psidium guajava L.) Ivanka, Della; Prastowo, Puji
Biocaster : Jurnal Kajian Biologi Vol. 6 No. 1 (2026): January
Publisher : Lembaga Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Kamandanu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/biocaster.v6i1.1000

Abstract

Pollinator insects have an important role in the success of plant reproduction, but information on the diversity of pollinating insects in guava plants in Tanjung Anom Village is still limited. This study aims to determine the diversity, dominance, distribution pattern, and differences in the presence of potentially pollinating insects in guava plants (Psidium guajava L.) between morning and evening in Tanjung Anom Village, Pancur Batu District, Deli Serdang Regency. The research was carried out from June to August 2025. The selection of sample trees was carried out by purposive sampling, while the observation of pollinating insects used the scan sampling method which was carried out four times with an interval of one week in the morning and evening. The results of the study show that there are nine species of insects with potential pollinators that belong to three orders and four families. The level of diversity is classified as moderate (H' morning = 1.80; H' afternoon = 2.08), while the dominance level was low (C morning = 0.16; C afternoon = 0.11). Distribution pattern analysis showed that five species had a grouping pattern, namely Ischiodon scutellaris, Apis cerana, Tetragonula laeviceps, Xylocopa confusa, and Nomia sp., while four species showed a uniform distribution pattern, namely Anomala sp., Eumerus sp., Apis dorsata, and Xylocopa latipes. The results of the t-test showed a significant difference in the presence of pollinating insects between morning and evening with a p value of < 0.05. These findings show that the difference in the time of daily activity affects the structure of the pollinating insect community in guava plants. Therefore, the results of this study can be used as the basis for agroecosystem management, especially in the regulation of cultivation practices to increase pollination effectiveness and plant productivity.