Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN, PENGETAHUAN, DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN KONSUMSI MULTI-MICRONUTRIENT SUPPLEMENT (MMS) PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LABAKKANG: THE RELATIONSHIP BETWEEN LEVEL OF EDUCATION, KNOWLEDGE, AND FAMILY SUPPORT WITH COMPLIANCE IN CONSUMING MULTI-MICRONUTRIENT SUPPLEMENTS (MMS) AMONG PREGNANT WOMEN IN THE WORKING AREA OF LABAKKANG PUBLIC HEALTH CENTER Hamzah, Alya Rohana Pratiwi; Amir, Safrullah; Hasan, Nurzakiah; Najamuddin, Ulfah; Fajarwati Ibnu, Indra
Jurnal Gizi Masyarakat Indonesia (The Journal of Indonesian Community Nutrition) Vol. 14 No. 1 (2025): Jurnal Gizi Masyarakat Indonesia
Publisher : Departement of Nutrition, Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/jgmi.v14i1.39807

Abstract

Introduction. In overcoming micronutrient deficiencies in pregnant women, WHO in updating the 2020 Antenatal Care (ANC) guidelines recommends providing Multi-Micronutrient Supplement (MMS) to replace Iron Folid Acid Tablets (IFA). However, compliance with MMS consumption in pregnant women is still low. Level of education, knowledge, and family support are factors that influence the compliance of pregnant women in consuming MMS. Aim. To determine the relationship between education level, knowledge, and family support with compliance with MMS consumption in pregnant women in the Labakkang Health Center work area. Method. This study is an analytical observational study using a cross-sectional design. Samples were obtained using a total sampling technique of 96 pregnant women. The research instrument used a questionnaire on compliance, knowledge, and family support. Data analysis used the chi-square test. Results. Based on the results of the study, the majority of pregnant women were highly educated (62.5%) and had good knowledge (67.7%), lack of family support for pregnant women (68.8%), and were not compliant in consuming MMS (58.3%). After statistical tests were conducted, the results showed a significant relationship between education level and compliance with MMS consumption (p-value = 0.000), knowledge with compliance with MMS consumption (p-value = 0.009), and family support with compliance with MMS consumption (p-value = 0.004). Conclusion and Suggestions. Compliance of pregnant women in consuming MMS is still relatively low and there is a relationship between education level, knowledge, and family support with compliance with MMS consumption in pregnant women in the Labakkang Health Center work area. Therefore, to increase compliance with MMS consumption, it is recommended for families to remind pregnant women to consume MMS by collaborating with health workers to obtain education regarding the importance of MMS.
Hubungan Tingkat Stres dengan Perilaku Emotional Eating pada Mahasiswa Tingkat Akhir Program Sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin: RELATIONSHIP BETWEEN STRESS LEVELS WITH EMOTIONAL EATING BEHAVIOUR IN FINAL-YEAR UNDERGRADUATE STUDENTS AT THE FACULTY OF PUBLIC HEALTH, HASANUDDIN UNIVERSITY Alifah Tasya Khaerunnisa; Hidayanty, Healthy; Salam, Abdul; Hasan, Nurzakiah; Rachmat, Muhammad
Jurnal Gizi Masyarakat Indonesia (The Journal of Indonesian Community Nutrition) Vol. 14 No. 1 (2025): Jurnal Gizi Masyarakat Indonesia
Publisher : Departement of Nutrition, Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/jgmi.v14i1.42353

Abstract

Pendahuluan: Emosi memiliki pengaruh dalam pemilihan makanan dan kebiasaan makan seseorang, di mana makanan sering dijadikan sebagai mekanisme koping untuk meredakan emosi tersebut. Dampak yang terjadi dapat mempengaruhi nafsu makan, baik menurunkan atau meningkatkan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan tingkat stres dengan perilaku emotional eating pada mahasiswa tingkat akhir Program Sarjana di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. Bahan dan Metode: Jenis penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan desain cross-sectional. Besar sampel ditentukan menggunakan teknik pengambilan sampel proporsional sampling yang berjumlah 120 responden. Penelitian ini dilakukan dengan pengisian kuesioner Student Stress Inventory (SSI) dan Dutch Eating Behaviour Questionnaire (DEBQ) serta pengukuran antropometri tinggi badan dan berat badan. Analisis data dengan program SPSS menggunakan chi-square. Hasil: Presentase tertinggi pada jenis kelamin perempuan (85%) dengan usia terbanyak pada 20-22 tahun (81,7%) dan pada program studi Kesehatan Masyarkat (66,7%) angkatan 2020 (77,5%). Distribusi status gizi berdasarkan IMT menunjukkan mahasiswa tingkat akhir FKM berstatus gizi gemuk dengan (20%) dan kurus (20,8%). Pada kategori stres terbanyak dialami pada kategori sedang sebanyak (46,7%), dan untuk kategori emotional eating terbanyak pada tingkat sedang dengan (51,7%). Pada hasil uji bivariat pada analisis hubungan menunjukkan adanya hubungan antara stres dengan emotional eating (p-value = 0,003) pada mahasiswa tingkat akhir program sarjana di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. Kesimpulan: Stres dapat mempengaruhi emotional eating. Disarankan kepada mahasiswa untuk mengontrol koping stres yang dialami seperti berfokus pada olahraga, menulis jurnal, menjaga pola makan sehat dan mengatur waktu istirahat juga penting untuk keseimbangan mental dan fisik. Kata kunci : koping stres; perilaku makan; mahasiswa
Development Of Pumpkin Seed Cookies As A Healthy Snack Alternative For Adolescent Girls To Prevent Anemia Nurzakiah, Nurzakiah; Chaerunnimah; Nursalim; Suaib, Fatmawaty; Melati Dian Baso’T; Puspa Melati Gray; Reysti Ningrati L; Febrianti Padang S
Al GIZZAI: PUBLIC HEALTH NUTRITION JOURNAL Vol 5 No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/algizzai.v5i2.55770

Abstract

Pendahuluan: Anemia pada remaja putri merupakan masalah kesehatan global, dan intervensi medis seperti pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) saja mungkin tidak cukup untuk menurunkan prevalensi anemia. Biji labu, yang kaya akan zat gizi, dapat digunakan sebagai dasar camilan sehat untuk membantu mencegah anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kandungan zat gizi dan penerimaan panelis terhadap kukis biji labu berdasarkan aspek warna, aroma, tekstur, dan rasa. Penelitian eksperimental ini dilakukan di laboratorium kuliner Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, Makassar. Metodologi: Uji organoleptik pada 35 panelis yang merupakan mahasiswa. Penerimaan dinilai menggunakan skala hedonik, dan kandungan gizi dianalisis menggunakan Tabel Komposisi Pangan Indonesia. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa satu porsi (30 g) kukis biji labu memberikan 128,3% dari asupan harian zat besi yang direkomendasikan, 83% protein, dan 131,3% seng untuk remaja putri. Dalam hasil organoleptik, 45,8% panelis bersikap netral terhadap warna, 68,5% menyukai aroma, 65,7% menyukai tekstur, dan 74,3% menyukai atau sangat menyukai rasa. Nilai rata-rata daya terima kukis biji labu kuning secara keseluruhan untuk masing-masing atribut adalah: warna 3,2 ± 0,7; aroma 3,8 ± 0,7; tekstur 3,7 ± 0,9; dan rasa 4,0 ± 0,9. Kesimpulan: Penerimaan tertinggi ada pada aspek rasa. Meskipun rasa kukis biji labu menunjukkan penerimaan yang baik, peningkatan warna menggunakan pewarna makanan alami dapat meningkatkan daya tarik visual.  
Faktor Risiko Obesitas pada Orang Dewasa Urban dan Rural Nurzakiah, Nurzakiah; Achadi, Endang; Sartika, Ratu Ayu
Kesmas Vol. 5, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obesitas yang merupakan faktor risiko penyakit degeneratif di negara berkembang. Hal ini terjadi akibat perubahan gaya hidup masyarakat antara lain aktivitas fisik dan pola makan akibat perkembangan status sosial ekonomi masyarakat perkotaan dan pedesaan. Penelitian ini bertujuan mengetahui cut-off point status gizi obese berdasarkan indikator IMT (Indeks Massa Tubuh). Hasil penelitian menemukan bahwa prevalensi obese berdasarkan indikator PLT (Proporsi Lemak Tubuh) (35%), indikator IMT Depkes (22,7%) dan indikator IMT (40,8%). Faktor risiko obesitas yang paling dominan berdasarkan kategori PLT adalah tempat tinggal (OR=2,51;CI 95%:1,24-5,08); berdasarkan kategori IMT Depkes adalah tempat tinggal (OR=2,11;CI 95%:1,16-3,85); sedangkan berdasarkan kategori IMT sampel adalah asupan karbohidrat (OR=3,32;CI 95%:1,38-7,99). Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk memvalidasi cut off point IMT menurut jenis kelamin sebagai tindakan skrining obese serta penyebarluasan informasi tentang Pedoman Umum Gizi Seimbang khususnya asupan karbohidrat pada masyarakat. Obesity is a risk factor for degenerative diseases, especially in developing countries. Obesity occurs due to changes in lifestyle behaviors such as physical activity and eating habits. One cause of this change is economic development in both urban and rural. The objective of this study is to know the cut-off point the nutritional state of obesity base on BMI indicator. The results showed that the prevalence of obese based on indicator BFP (Body Fat Percentage) (35%), BMI indicator from Ministry Of Health (22.7%) and BMI indicator from samples (40.8%). The results showed that the most dominant risk factor associated with the ‘obese’ according to category of Body Fat Percentage was a place to stay (OR = 2.51; 95% CI :1,24-5, 08); based on BMI categories from Ministry Of Health was a place to stay (OR = 2.11, CI 95% :1,16-3, 85), while based on BMI categories from sample was carbohydrate intake (OR = 3.32, CI 95% :1,38-7, 99). The need for continued research to validate the cut-off point of BMI according to sex as an act of screening the obese and the dissemination of information about PUGS (General Guidelines for Balanced Nutrition) in the community, especially the intake of carbohydrates.
HUBUNGAN SUPLEMENTASI VITAMIN A PADA IBU NIFAS, PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF, DAN PERILAKU CUCI TANGAN PAKAI SABUN (CTPS) DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BAYI 0-6 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUDIANG Fadhilah Firda Khaerani; Abdul Salam; Nurzakiah Hasan; Irmayanti
Jurnal Gizi Masyarakat Indonesia (The Journal of Indonesian Community Nutrition) Vol. 14 No. 2 (2025): Vol. 14 No. 2 (2025): Jurnal Gizi Masyarakat Indonesia
Publisher : Departement of Nutrition, Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/jgmi.v14i2.44987

Abstract

Pendahuluan: Penyebab utama tingginya prevalensi diare berkaitan erat dengan masalah sanitasi, kurangnya kesadaran mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir. Keadaan bayi yang masih rentan terhadap penyakit di ikuti dengan kurangnya ibu nifas mengonsumsi sumber zat gizi yang cukup, membuat kualitas Air Susu Ibu (ASI) tidak optimal yang menyebabkan semakin tinggi resiko bayi terkena diare. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara suplementasi vitamin A pada ibu nifas, pemberian ASI eksklusif dan perilaku cuci tangan pakai sabun dengan kejadian diare pada bayi usia 0-6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Sudiang, Kota Makassar. Metode: Desain observasional dengan pendekatan cross-sectional dan analisis statistik untuk menguji hipotesis yang diajukan. Jumlah sampel 173 orang terdiri dari ibu nifas dan bayi usia 0-6 bulan. Pengambilan sampel dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner pada saat posyandu dan secara door to door. Untuk mengetahui hubungan dari masing-masing variabel, maka dilakukan analisis bivariat. Analisis yang digunakan adalah uji Chi Square. Hasil: Diare pada bayi 0-6 bulan, sebanyak 28 (16,2%). Ibu yang mendapatkan suplementasi vitamin A dari vitamin hamil yang dikonsumsi sebelum dan setelah melahirkan sebanyak 12 orang (6,9%). Bayi yang mendapatkan ASI secara eksklusif sebanyak 115 (66,5%). Ibu yang menerapkan perilaku CTPS, sebanyak 149 (86,1%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara suplementasi vitamin A dengan kejadian diare pada bayi 0-6 bulan (p= 0,390). Terdapat hubungan yang positif antara Pemberian ASI ekslusif dan perilaku CTPS dengan kejadian diare pada bayi (0,000). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara suplementasi vitamin A dengan kejadian diare pada bayi 0-6 bulan. Bayi yang tidak diberi ASI eksklusif dan yang ibunya tidak menerapkan CTPS memiliki risiko diare lebih tinggi Kata Kunci: Diare, Vitamin A, ASI Ekslusif, Perilaku CTPS, Bayi
PENANAMAN OBAT KELUARGA DALAM MENGATASI PENYAKIT DEGENERATIF KHUSUSNYA PENYAKIT HIPERTENSI DAN DIABETES MELITUS DI LAHAN PERCONTOHAN DESA TAROWANG, TAKALAR Nur Annisa, Hafsa; Febriani, Adinda; Nurul Fadilah Farid, Firda; Fitrah A Ramadhan, Muhammad; Nahda, Nurul; Amanda Fardin, Vitra; Nurzakiah, Nurzakiah; Novrian Syahruddin, Akmal
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 10 (2022): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v5i10.3555-3560

Abstract

Penanaman Toga (Tanaman Obat Keluarga) yang dilakukan di Desa Tarowang merupakan bentuk budidaya tanaman jahe, kumis kucing, pegagan, temulawak, serta kunyit sebagai salah satu upaya dalam pencegahan penyakit Hipertensi dan Diabetes Melitus melalui pemanfaatan tanaman Toga. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan serta kesadaran masyarakat memanfaatkan tanaman Toga dengan konsep Ambe A'lamun TOGA Ri Pekarangan Ballatta'. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah sosialisasi, kordinasi, dan penanaman Toga. Kegiatan ini dihadiri oleh beberapa perangkat desa dan masyarakat setempat untuk bersama- sama membersihkan dan melakukan penanaman tanaman TOGA di lahan percontohan yang telah disiapkan oleh Kepala Desa Tarowang sebagai alternatif lahan yang ada di Dusun Tarowang. Terdapat tujuh jenis tanaman toga yang ditanam. Hasil dari kegiatan ini berimplikasi kepada pemanfaatan dan budidaya Toga. Kegiatan ini sangat diharapkan masyarakat dapat memiliki kesadaran untuk merawat dan melestarikan TOGA sebagai alternatif pencegahan penyakit Hipertensi dan Diabetes Melitus dihalaman rumah masing-masing.
Factors Associated with Hemodialysis Patient Adherence at Dr. Wahidin Sudirohusodo General Hospital Annisa Dwi Saputri; Andi Selvi Yusnitasari; Nurzakiah Hasan
Science Publication: Journal of Public Health and Nutrition Vol. 2 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : PT Yapindo Jaya Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64965/spjphn.v2i1.44

Abstract

Introduction: Non-adherence among patients with chronic kidney disease (CKD) undergoing hemodialysis has been reported to range from 10% to nearly 60% and may lead to acute and chronic complications, reduced quality of life, and increased mortality risk. Variations in previous findings indicate that factors influencing adherence require further investigation within specific local contexts. This study aimed to analyze factors associated with adherence among hemodialysis patients at Dr. Wahidin Sudirohusodo General Hospital, Makassar. Methods: This study employed a quantitative cross-sectional design and was conducted at the hemodialysis unit of Dr. Wahidin Sudirohusodo General Hospital, Makassar, involving 103 patients selected through purposive sampling. Data were collected through structured interviews using validated questionnaires and review of medical records. Data were analyzed using the Chi-Square test and Fisher’s Exact Test. Ethical approval was obtained from the Health Research Ethics Committee of the Faculty of Public Health, Hasanuddin University (Approval Number: 3500/UN4.14.1/TP.01.02/2024). Results: The analysis showed significant associations between age (p=0.032), family support (p=0.025), and self-efficacy (p=0.025) with hemodialysis adherence. No significant associations were found between sex (p=0.447), education level (p=0.916), duration of hemodialysis (p=0.738), and anxiety level (p=0.738) with adherence. Self-efficacy was identified as the most strongly associated factor with patient adherence. Conclusion: Age, family support, and self-efficacy were significantly associated with hemodialysis adherence. These findings highlight the importance of psychosocial approaches, particularly strengthening self-efficacy and family support, in improving adherence among hemodialysis patients. Future research should employ longitudinal designs to better explore causal relationships.