Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Anchovy Rice Nuggets and Straw Mushroom with Porang Flour Substitution to Prevent Stunting Junendri Ardian; Anisah Anisah; Widani Darma Isasih; M. Thonthowi Jauhari
Biology, Medicine, & Natural Product Chemistry Vol 15, No 1 (2026)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & Society for Indonesian Biodiversity

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/biomedich.2026.151.113-118

Abstract

Stunting is one of the chronic nutritional problems in toddlers that remains highly prevalent in Indonesia. Prevention efforts can be carried out through the innovation of functional foods based on nutrient-rich local ingredients. This study aimed to determine the effect of porang flour substitution on the hedonic quality, toddler panelists’ acceptance, and nutritional composition of anchovy rice and straw mushroom nuggets. The study used an experimental design with three formulas: P1 (60% anchovy rice, 25% straw mushroom, 20% porang flour), P2 (60% anchovy rice, 20% straw mushroom, 25% porang flour), and P3 (60% anchovy rice, 15% straw mushroom, 30% porang flour). Hedonic and hedonic quality tests were conducted on 25 toddler panelists, while proximate analysis included moisture, ash, fat, protein, crude fiber, and carbohydrate content. The results showed that P1 obtained the highest scores and was most preferred in terms of color, aroma, taste, and texture. Proximate analysis also showed that P1 had the highest protein content (6.81%) with 65.82% moisture, 1.56% fat, 2.33% ash, 0.95% crude fiber, and 23.47% carbohydrates. Meanwhile, the increased substitution of porang flour in P3 reduced sensory quality and protein levels, although it increased fiber and carbohydrates. Therefore, P1 can be considered the best formula because it achieved the highest acceptance and provided more suitable nutrients to support the improvement of toddlers’ nutritional status. This study highlights that the utilization of local food ingredients such as anchovy rice, straw mushrooms, and porang flour has the potential to serve as an innovative strategy for stunting prevention.
Effectiveness of Melongas Toddler Massage on Appetite and Sleep Quality of Stunting Toddlers Widani Darma Isasih; Junendri Ardian; M. Thonthowi Jauhari
AgriHealth: Journal of Agri-food, Nutrition and Public Health Vol 6, No 1 (2025): April
Publisher : Research and Development Center for Food, Nutrition and Public Health (P4GKM) LPPM UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/agrihealth.v6i1.100652

Abstract

Stunting is a condition of growth failure in toddlers, with the incidence rate in the North Lombok Regency reaching 19.3% in 2023. Although melongas, a traditional message technique widely practiced by the local community, is believed to support growth and development, there is currently no scientific evidence validating it in addressing stunting. The research aims to determine melongas massage’s effectiveness on stunted toddlers’ appetite and sleep quality. The research method uses a quantitative approach, a quasi-experimental with a nonequivalent control group design. The sampling technique uses saturated sampling. The research population consisted of 96 toddlers. Massage for toddlers using melongas method is carried out 2 times a week, lasting 10 to 15 minutes for 4 weeks. Data were analyzed using the Wilcoxon signed-rank test. The result revealed that most stunted toddlers who received massage therapy based on the melongas method experienced a significant improvement in appetite (47.91%) and sleep quality (75%). This study examines the relationship between massage therapy based on the melongas method and stunted toddlers’ appetite ( -value 0.021) and sleep quality ( -value 0.025). Toddler massage using the melongas method effectively increases stunted toddlers’ appetite and sleep quality.
Peningkatan Pengetahuan Ibu Balita tentang Pencegahan Stunting melalui Pijat Melongas Widani Darma Isasih; Baiq Dinda Puspita Ayu; Muhammad Nasir; Lalu Abdul Aziz
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat IPTEKS Vol. 3 No. 2 (2026): Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat IPTEKS, Maret 2026
Publisher : CV. Global Cendekia Inti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71094/jppmi.v3i2.176

Abstract

Stunting remains a significant public health problem with long-term impacts on child growth and development. This community service aimed to improve mothers’ knowledge on stunting prevention through the integration of local practice, namely melongas infant massage. The activity was conducted at a primary health center in Lombok Utara involving 20 mothers with toddlers using an educative-participatory approach. The program consisted of preparation, socialization with focus group discussion, practical demonstration, and evaluation stages. Initial assessment showed that 70% of participants had low knowledge regarding stunting. After the intervention, there was a notable improvement, with 75% of participants achieving good knowledge levels. The implementation stage also demonstrated that 85% of participants were able to correctly perform melongas massage techniques. Furthermore, about 80% of participants understood the relationship between nutrition, parenting practices, and child stimulation in preventing stunting. Reflective discussions indicated that most participants felt confident to apply the massage techniques at home. The findings suggest that integrating local wisdom into health education enhances understanding and acceptance among participants. This approach not only improves knowledge but also encourages practical behavior change in stunting prevention. Therefore, melongas infant massage can be considered a contextual and sustainable strategy to support community-based stunting prevention programs.
Analisis Ketepatan Waktu Makan Dengan Sisa Makanan Serta Asupan Konsumsi Energi dan Protein Pasien DM Tipe II Riyanti Riyanti; Novia Zuriatun Solehah; M. Thonthowi Jauhari; Junendri Ardian; Widani Darma Isasih
JURNAL WACANA KESEHATAN Vol 11, No 1 (2026): Juli
Publisher : Universitas Dharma Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52822/jwk.v11i1.949

Abstract

Diabetes Melitus (DM) tipe 2 merupakan kondisi metabolik kronis atau pangkreas tidak memproduksi cukup insulin yang menyebabkan glukosa menumpuk dalam darah. Diabetes Melitus (DM) memerlukan pengaturan pola dan ketepatan waktu makan agar dapat menjaga kestabilan kadar glikosa darah dan memenuhi kebutuhan gizi pada pasien.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan ketepatan waktu makan dengan sisa makanan serta tingkat konsumsi energi dan protein pada pasien diabetes melitus tipe 2 di di RSUD Provinsi NTB. Penelitian ini menggunakan desain observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 72 pasien yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data sisa makanan diperoleh menggunakan metode Comstock, sedangkan tingkat konsumsi energi dan protein dihitung berdasarkan perbandingan asupan dengan kebutuhan pasien. Analisis data menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan antara waktu makan dengan sisa makanan (p=0,873) dan tingkat konsumsi protein (p=0,152). Namun, terdapat hubungan signifikan antara waktu makan dengan tingkat konsumsi energi (p=0,033). Ketepatan waktu makan berperan dalam mendukung pemenuhan kebutuhan energi pasien selama perawatan
Hubungan Pola Makan Terhadap Kekambuhan Gastritis Pada Generasi Muda Di Kecamatan Maluk Baiq Amelia Eka Helvyana Putri; Widani Darma Isasih; Ni Made Wiasty Sukanty; Novia Zuriatun Solehah; M. Thonthowi Jauhari
JURNAL WACANA KESEHATAN Vol 11, No 1 (2026): Juli
Publisher : Universitas Dharma Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52822/jwk.v11i1.952

Abstract

Gastritis adalah kumpulan gejala seperti rasa panas di dada, mual, muntah, dan rasa penuh yang dialami oleh penderita gastritis. Penyakit ini dapat disebabkan oleh infeksi Helicobacter pylori atau oleh makanan tertentu yang dapat mengiritasi lambung. Berdasarkan studi pendahuluan, banyak generasi muda masih kurang memperhatikan pola makan karena kesibukan di kehidupan sehari – hari. Oleh karena itu peneliti ingin melakukan penelitian terkait hubungan pola makan terhadap tingkat kekambuhan gastritis di Kecamatan Maluk, Sumbawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola makan terhadap tingkat kekambuhan gastritis pada generasi muda di Kecamatan Maluk, Sumbawa Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain cross – sectional pada 39 orang yang menderita gastritis, dan menggunakan teknik pengambilan sampel total sampling. Analisis data ini menggunakan uji chi – square dengan uji alternatif berupa uji Fisher exact. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara frekuensi makan dengan tingkat kekambuhan gastritis (nilai p-value 0,054 > α 0,05), tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis makanan dengan tingkat kekambuhan gastritis (nilai p-value = 0,711 > α 0,05), dan tidak ada hubungan yang signifikan antara porsi makan dengan tingkat kekambuhan gastritis (nilai p-value 0,121> α 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pola makan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kekambuhan gastritis dapat disebabkan karena adanya perubahan pola makan selama gastritis.
Audiovisual Education: Efforts to Increase Knowledge of Animal Foods in Breast Cancer Patients Begum Hijratul Halida Zia; M. Thonthowi Jauhari; Widani Darma Isasih; Anisah Anisah; Ni Made Wiasty Sukanty
JURNAL WACANA KESEHATAN Vol 11, No 1 (2026): Juli
Publisher : Universitas Dharma Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52822/jwk.v11i1.948

Abstract

Kanker payudara adalah penyakit dengan kejadian tinggi yang membutuhkan dukungan nutrisi optimal selama kemoterapi. Rendahnya pengetahuan pasien mengenai pentingnya mengonsumsi lauk pauk berbasis hewan dapat mempengaruhi asupan protein dan meningkatkan pemborosan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan nutrisi menggunakan media audio-video terhadap tingkat pengetahuan pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di Rumah Sakit Provinsi NTB. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan pendekatan pretest-posttest dua kelompok non-acak pada 34 responden yang dibagi menjadi kelompok audio-video dan leaflet. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil menunjukkan bahwa skor rata-rata pengetahuan pada kelompok audio-video meningkat dari 16,88 menjadi 18,59 dengan nilai p 0,001, menunjukkan adanya pengaruh signifikan pendidikan nutrisi menggunakan media audio-video dalam meningkatkan pengetahuan pasien. Disimpulkan bahwa pendidikan nutrisi melalui media audio-video efektif dalam meningkatkan pengetahuan pasien kanker payudara mengenai pentingnya mengonsumsi lauk pauk berbasis hewan selama kemoterapi.
Hubungan Konsumsi Protein dan Tekanan Darah dengan Kadar Glukosa Darah Penderita Diabetes Melitus Tipe II Azelia Nurpateha Putri; Ni Made Wiasty Sukanty; Junendri Ardian; M. Thonthowi Jauhari; Widani Darma Isasih
JURNAL WACANA KESEHATAN Vol 11, No 1 (2026): Juli
Publisher : Universitas Dharma Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52822/jwk.v11i1.934

Abstract

Abstrak: Diabetes melitus tipe II merupakan penyakit kronis dengan prevalensi yang terus meningkat dan berisiko menimbulkan komplikasi akibat pengendalian glukosa darah yang tidak optimal. Pola konsumsi protein dan tekanan darah diduga berperan dalam pengendalian kadar glukosa darah sehingga perlu diteliti lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi protein dan tekanan darah dengan kadar glukosa darah pada penderita diabetes melitus tipe II. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional pada 80 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ), pengukuran tekanan darah dengan tensimeter, serta pemeriksaan glukosa darah. Penelitian dilaksanakan pada Mei–Agustus 2025. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil menunjukkan mayoritas responden memiliki konsumsi protein rendah, sebagian mengalami hipertensi (53,8%) dan kadar glukosa darah abnormal (93,8%). Rata-rata kadar glukosa darah tergolong tinggi. Analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara konsumsi protein dan kadar glukosa darah (p=0,401) serta tekanan darah dengan kadar glukosa darah (p=0,176). Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa konsumsi protein dan tekanan darah tidak berhubungan secara signifikan dengan kadar glukosa darah. Disarankan pendekatan komprehensif melalui pengaturan diet, aktivitas fisik, dan kepatuhan terapi untuk meningkatkan kontrol glikemik.