Claim Missing Document
Check
Articles

Peran Amelioran dalam Perbaikan Kualitas Tanah di Lahan Kering Aulia, Firda; Suwardji, Suwardji; Mulyati, Mulyati; Endang Susilowati, Lolita
Empiricism Journal Vol. 6 No. 4: December 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/11ay8v58

Abstract

Lahan kering di Indonesia mencakup sekitar 76% dari luas daratan dan sebagian besar mengalami degradasi sedang hingga berat akibat keterbatasan air, rendahnya bahan organik, serta pengelolaan tanah yang tidak berkelanjutan. Kondisi ini menurunkan produktivitas tanaman hingga 30–50% dan memperburuk ketahanan pangan nasional. Meskipun kajian tentang amelioran telah berkembang, masih terdapat kekurangan sintesis komprehensif antara efektivitas amelioran organik yang berorientasi jangka panjang dan amelioran anorganik yang bereaksi cepat, khususnya pada tanah Ultisol dan Inceptisol di Nusa Tenggara dan Sulawesi, serta minimnya integrasi faktor sosial-ekonomi petani kecil dengan implikasi kebijakan rehabilitasi lahan kritis. Kajian ini bertujuan untuk meninjau peran amelioran dalam memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah lahan kering di Indonesia, mengidentifikasi faktor kontekstual yang memengaruhi efektivitasnya, serta merumuskan rekomendasi praktis dan kebijakan. Metode yang digunakan adalah kajian literatur dengan pendekatan deskriptif kualitatif terhadap 18 artikel jurnal terakreditasi, prosiding, dan laporan lembaga resmi. Hasil kajian menunjukkan bahwa pupuk kandang meningkatkan kapasitas menahan air sebesar 22% dan N-total 0,15%, biochar meningkatkan porositas tanah 18% serta ketersediaan fosfor 25%, sedangkan dolomit dan kapur pertanian mampu menetralkan keasaman tanah dengan kenaikan pH 1,75–2,05 unit. Kombinasi organik-anorganik terbukti paling efektif, dengan peningkatan hasil tanaman mencapai 50–100% dibandingkan aplikasi tunggal. Keberhasilan penerapan amelioran dipengaruhi oleh jenis tanah, dosis, ketersediaan air, serta kondisi sosial-ekonomi petani, sehingga penerapan terpadu dan berkelanjutan berpotensi menjadi strategi penting dalam rehabilitasi lahan kering dan peningkatan produktivitas pertanian di Indonesia. The Role of Ameliorants in Soil Quality Improvement in Drylands Abstract Dryland areas in Indonesia cover approximately 76% of the total land area, with most experiencing moderate to severe degradation due to water scarcity, low organic matter, and unsustainable land management practices. These conditions reduce crop productivity by 30–50% and exacerbate national food security challenges. Although studies on soil ameliorants have expanded, there remains a significant gap in synthesizing the long-term effectiveness of organic ameliorants versus the rapid effects of inorganic ones, particularly on Ultisol and Inceptisol soils in Nusa Tenggara and Sulawesi. Moreover, limited integration of smallholder socio-economic factors into land rehabilitation policies further constrains practical application. This review aims to examine the role of ameliorants in improving the physical, chemical, and biological properties of dryland soils in Indonesia, identify contextual factors influencing their effectiveness, and provide practical recommendations and policy implications. The study employs a qualitative descriptive literature review of 18 peer-reviewed articles, conference proceedings, and official reports. Findings indicate that organic ameliorants such as manure increase water-holding capacity by 22% and total nitrogen by 0.15%, while biochar enhances soil porosity by 18% and phosphorus availability by 25%. Inorganic ameliorants such as dolomite and agricultural lime raise soil pH by 1.75–2.05 units and improve calcium and magnesium availability. The combination of organic and inorganic inputs produces synergistic effects, boosting crop yields by 50–100% compared to single applications. Successful implementation depends on soil type, dosage, water availability, and farmer socio-economic conditions, highlighting the need for integrated and sustainable strategies in dryland rehabilitation and agricultural productivity improvement in Indonesia.
Aplikasi Inokulasi Plant Growth Promoting Rhizobacteria dengan Sistem Tumpangsari Menuju Peningkatan Efisiensi Air dan Hara yang terbatas di Lahan Kering di Nusa Tenggara Barat Putri Yunita Wahyuti; Suwardji Suwardji; Lolita Endang Susilowati; Mulyati Mulyati
Jurnal Riset Rumpun Ilmu Tanaman Vol. 4 No. 2 (2025): Oktober : JURRIT: Jurnal Riset Rumpun Ilmu Tanaman
Publisher : Pusat riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrit.v4i2.7862

Abstract

This research was conducted to systematically examine scientific evidence regarding the mechanisms and synergistic impacts of PGPR and intercropping on Water Use Efficiency (WUE) and Nutrient Use Efficiency (NUE) in drylands. The method used was a systematic literature study with a search for peer-reviewed articles and strict selection of research evaluating WUE and NUE parameters in intercropped crops and crops inoculated with PGPR. The results showed that intercropping systems can increase soil water retention, improve microclimate conditions, and optimize the utilization of space and nutrients between plant species. PGPR contributes to improving plant growth through nitrogen fixation mechanisms, phosphate dissolution, phytohormone production, and strengthening tolerance to drought stress. The synergy between these two approaches enhances the plant's ability to utilize water and nutrients more efficiently, thereby implying an increase in productivity and sustainability of dryland agricultural systems. These findings emphasize the need for verification through field trials, development of adaptive local PGPR isolates, and institutional and policy support to expand the application of this technology to drylands.
PENGARUH BIOAMELIORAN TERHADAP SERAPAN NITROGEN DAN FOSFOR SERTA HASIL TUMPANGSARI JAGUNG-KEDELAI Astiko, Wahyu; Mohamad Taufik Fauzi; Lolita Endang Susilowati; Lalu Zulkifli
Jurnal Agrotek Tropika Vol. 13 No. 4 (2025): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 13, NOVEMBER 2025
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v13i4.11421

Abstract

Lahan suboptimal memiliki potensi besar sebagai lahan pertanian produktif di masa depan. Untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan, sistem tumpangsari merupakan alternatif budidaya yang efektif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh berbagai formulasi bioamelioran terhadap serapan nitrogen (N), fosfor (P), dan hasil tumpangsari jagung–kedelai. Penelitian dilaksanakan pada Juni–Agustus 2025 di Dusun Sumur Mual, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Analisis biologi dan kimia tanah dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi dan Kimia Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Mataram. Rancangan Acak Kelompok (RAK) digunakan dengan lima perlakuan dan tiga ulangan, yaitu: P0 (tanpa bioamelioran), F1 (10% kompos, 10% pupuk kandang, 10% biochar sekam, 70% pupuk hayati mikoriza), F2 (15%, 15%, 15%, 55%), F3 (20%, 20%, 20%, 40%), dan F4 (25%, 25%, 25%, 25%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan F4, yang terdiri atas campuran 25% kompos, 25% arang sekam, 25% pupuk kandang, dan 25% pupuk hayati mikoriza, menunjukkan hasil terbaik dalam meningkatkan populasi spora mikoriza dan persentase kolonisasi akar. Perlakuan ini juga memberikan hasil panen jagung dan kedelai yang lebih tinggi, serta meningkatkan konsentrasi hara tanah (N total dan P tersedia) dan serapan hara oleh tanaman. Aplikasi bioamelioran F4 mampu meningkatkan efektivitas bioamelioran dalam mendukung pertumbuhan dan produktivitas tumpangsari jagung- kedelai.