Claim Missing Document
Check
Articles

Dekonstruksi Kegagalan Tata Kelola Farmasi dan Transformasi Kewarganegaraan Farmasi Pasca-Tragedi GGAPA 2022 Rahmawati, Diah Suci; Agustina, Cindy; Novita, Dina; Kusmayanti, Elvina; Sugiartiningsih
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tragedi Gagal Ginjal Akut Progresif Atipikal (GGAPA) tahun 2022 di Indonesia merupakan titik balik fundamental dalam diskursus hukum kesehatan nasional yang mengungkap kerentanan sistemik dalam tata kelola farmasi. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kegagalan struktural negara dalam menjamin keamanan obat sebagai pelanggaran terhadap hak konstitusional warga negara dan mengevaluasi efektivitas reformasi regulasi pasca-2022 melalui lensa kewarganegaraan farmasi (pharmaceutical citizenship). Menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus, penelitian ini menelaah transformasi dari Undang-Undang Kesehatan lama ke Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 serta peraturan pelaksananya hingga tahun 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integritas rantai pasok farmasi sebelum 2022 sangat rentan akibat ketergantungan impor bahan baku sebesar 90% dan lemahnya pengawasan terhadap eksipien non-farmasi. Meskipun reformasi regulasi melalui pengawasan berbasis risiko dan digitalisasi pelaporan telah memperkuat otoritas Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), masih terdapat kesenjangan signifikan antara norma hukum dengan implementasi di lapangan, terutama terkait akuntabilitas ganti rugi korban dan transparansi kajian risiko. Artikel ini menyimpulkan bahwa pemulihan hak warga negara menuntut reposisi peran negara dari sekadar regulator administratif menjadi pelindung aktif hak atas obat yang aman sebagai bagian integral dari hak untuk hidup.
Pemberdayaan ekonomi melalui digitalisasi dan pelatihan manajemen bisnis untuk produk TOGA di Desa Kebontunggul Kabupaten Mojokerto Putra, Andhika Cahyono; Novita, Dina; Astomo, Reynanda Bagus Widyo; Saputro, Andre Ridho; Marina, Nurul Fitria; Kusnanto, Hadi; Hafizha, Naufal Atha
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 1 (2026): February
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i1.37780

Abstract

Abstrak Kurangnya literasi digital dan manejemn bisnis menjadi hambatan utama warga Desa Kebontunggul dalam mengkomersialkan produk TOGA. Program pelatihan digitalisasi dan manajemen bisnis ini bertujuan untuk membekali warga dengan keterampilan pengolahan produk, pemasaran digital, dan manajemen bisnis dengan metode berupa ceramah, demonstrasi, dan pendampingan. Program ini dilaksanakan di Desa Kebontunggul, Mojokerto, mulai 2 September 2025 dengan 25 peserta. Hasil penilaian pra-tes dan pasca-tes menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan yang signifikan yakni sebesar 40%. Secara teknis, 64% perserta (16/25) berhasil membuat akun bisnis serta mengunggah produk di marketplace, dan 40% (10/25) mampu mengembangkan desain kemasan profesional. Program ini berhasil memproduksi beberapa produk turunan TOGA termasuk minuman herbal dan makanan diproduksi dengan kemasan profesional dan dipasarkan secara online. Kesimpulannya, pelatihan ini secara signifikan meningkatkan literasi digital peserta dan keterampilan manajerial warga, sehingga berdampak dalam meningkatkan potensi kemandirian ekonomi dan perluasan akses pasar untuk produk-produk berbasis desa. Kata kunci: TOGA; pelatihan digitalisasi; pengembangan bisnis; produk herbal; ekonomi pedesaan. Abstract This training program on digitalization and business management for family medicinal plants (TOGA) was conducted in Kebontunggul Village, Mojokerto, from 2 September 2025 with 25 participants. The program aimed to equip residents with skills in product processing, digital marketing, and business management through lectures, demonstrations, and mentoring. Pre-test and post-test assessments showed none disagreed with the program, and there was an increase in the number of residents who strongly agreed with the program after the training. Results indicated that 64% of participants (16/25) successfully created business accounts and uploaded products to marketplaces, while 40% (10/25) developed complete product packaging designs. Several TOGA-derived products including herbal drinks and food were produced with professional packaging and marketed online. The program significantly enhanced participants' digital literacy and is expected to improve economic independence and market access for village-based products." Keywords: TOGA; digitalization training; business development; herbal products; rural economy