Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Analysis of Soil Improvement Through PVD and Vacuum Preloading with Several Equivalent Permeability Methods Gusnadi, Zakwan; Iman Handiman; Herwan Dermawan; Asrinia Desilia
Indonesian Geotechnical Journal Vol. 3 No. 1 (2024): Vol. 3, No. 1, April 2024
Publisher : Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56144/igj.v3i1.92

Abstract

Vacuum preloading combined with prefabricated vertical drain (PVD) is one of the common soft soil improvement methods. Soft soils often pose significant problems in construction projects due to their low shear strength and high compressibility, leading to settlement issues and potential structural instability. The PVD combined with vacuum preloading method addresses these problems by accelerating the consolidation process and minimizing settlement during service period. The acceleration occurs due to the presence of PVD, allowing dissipation of excess pore water in horizontal direction towards the PVD. Thereafter, the water in the PVD is drained to the surface. When modelled in 2D, PVD behaves as a continuous drain in the plane strain direction, causing the flow conditions to deviate from the actual conditions. To address this issue, equivalent soil permeability values is required, allowing the 2D model to produce results closely resembling the actual conditions. This research explores the improvement of PVD vacuum preloading through three equivalent permeability approaches. Utilizing field monitoring data, which includes settlement measurements from settlement plates, changes in pore water pressure recorded by piezometers, and lateral deformation data captured by inclinometers, the study evaluates the effectiveness of these approaches. Comparative analyses with field monitoring data reveal that Indraratna equivalent permeability method has the best fit. The integration of PVD and vacuum preloading, coupled with the refinement of equivalent permeability methodologies, offers a promising solution for addressing soft soil problems in geotechnical engineering. This research contributes to the practical application of these methods in construction projects, emphasizing their potential to enhance soil stabilization and reduce settlement-related risks.
ANALISIS STABILITAS COFFERDAM JEMBATAN DENGAN KOMBINASI PERKUATAN PADA JEMBATAN WAMPU SUMATERA UTARA Sari, Novia Komala; Gusnadi, Zakwan; Sarifah, Fitriana
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 7, Nomor 2, Mei 2024
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v7i2.25835

Abstract

Soil strength can be reduced through saturation on the slopes beneath bridge and excessive loading. This reduction can undoubtedly affect the stability of these slopes with the possibility of causing landslide issues in the future. In Addition, it has been observed that the issues of landslides on slopes are generally caused by reduced soil shear strength or the addition of shear forces with subsequent effects on the overall bridge structure. This means there is a need for an early prediction mechanism for the landslide to plan and design the appropriate reinforcement system to minimize the potential instability of slopes in the future. Therefore, this research was conducted to determine the effective reinforcement system by creating the cofferdam to address the issues of soil saturation and increased load caused by heavy machinery operations. The process involved the adoption of the PLAXIS software based on 2-dimensional finite element analysis to model the quite complex combination of loads and reinforcement. The reinforcement used in the cofferdam system include sheet piles, piles, and gabions. The results showed that the reinforcement combination placed the safety factor into the stable category and met the allowed safety requirements. Moreover, the internal forces within the sheet piles were found to be smaller than their structural capacity. Abstrak Penjenuhan tanah pada lereng di bawah jembatan dan pembebanan yang berlebih dapat menyebabkan pengurangan kekuatan tanah. Pengurangan kekuatan tanah tentu saja akan berdampak pada kestabilan lereng di bawah jembatan, serta dapat mengakibatkan masalah longsoran dikemudian hari. Secara umum masalah longsoran pada lereng diakibatkan oleh pengurangan kuat geser tanah atau penambahan gaya geser yang terjadi. Pada kasus lereng jembatan tentu saja masalah longsoran ini akan mempengaruhi struktur jembatan secara keseluruhan. Apabila mekanisme longsoran dapat diprediksi sejak awal maka sistem perkuatan dapat direncanakan sesuai kebutuhan, sehingga dapat memperkecil potensi ketidakstabilan lereng dimasa yang akan datang.  Penelitian ini bertujuan untuk mencari sistem perkuatan yang efektif dengan membuat cofferdam untuk menangani masalah penjenuhan tanah dan penambahan beban akibat alat berat yang bekerja. Untuk memodelkan kombinasi beban dan perkuatan yang cukup kompleks digunakan bantuan software PLAXIS berbasis elemen hingga 2 dimensi dalam proses analisis. Tipe perkuatan yang digunakan pada sistem cofferdam diantaranya sheet pile, cerucuk, dan Gabion. Hasil analisis menunjukan bahwa dengan kombinasi perkuatan tersebut faktor keamanan yang dihasilkan masuk dalam kategori stabil dan memenuhi syarat aman yang diijinkan. Kemudian gaya dalam yang terjadi pada sheet pile masih lebih kecil dari kapasitas strukturalnya.
Analysis of Soil Replacement and Woven Geotextile Reinforcement on Embankment Stability Agustina, Yani Putri; Handiman, Iman; Sarifah, Fitriana; Hamonangan, Efran Kemala; Irawan, Pengki; Gusnadi, Zakwan
invotek Vol 24 No 1 (2024): INVOTEK: Jurnal Inovasi Vokasional dan Teknologi
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/invotek.v24i1.1168

Abstract

Toll roads are infrastructure built to improve the regional and national economy. The challenge faced on this toll road is soft soil as deep as 7 m. This research analyzes the stability of the embankment with a slope of 1V:2H and a height of 4.5 m without and with repair using the Limit Equilibrium Method (LEM) because the Safety Factor (SF) value in LEM provides a more critical value than the Finite Element Method (FEM). In addition, the settlement amount was also analyzed. The SF value in short term conditions with an embankment load of 1.31 < 1.4 and earthquake load of 0.83 < 1.1. Then, at pavement installation, 1.33 < 1.4, plus earthquake load 0.84 < 1.1. In long term conditions, during the operational period, 1.48 < 1.5, plus earthquake load 0.84 < 1.1. This indicates that the soil requires improvement. To address the problem, soil improvement utilized 2.5 m deep soil replacement and 75 kN woven geotextile. The SF value with repair under short term conditions, with embankment load 1.53 > 1.4, plus earthquake load 1.18 > 1.1. Then, at the time of pavement installation, 1.56 > 1.5, plus earthquake load 1.19 > 1.1. In the long term condition, it was 1.62 > 1.5 at the time of operation, plus earthquake load 1.22 > 1.1. The total settlement after the operation is 0.21 cm ≤ 10 cm and the settlement rate is 0.68 < 2 cm/year. This shows that improvements can increase the SF value and reduce settlement.
Analisis Perkuatan Timbunan pada Oprit Jembatan Menggunakan Pile Embankment Agustiana, Laska Aurelia; Hadiman, Imam; Gusnadi, Zakwan; Desilia, Asrinia
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 11, No 3: November 2025
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v11i3.241

Abstract

ABSTRAKPembangunan timbunan oprit jembatan di atas tanah lunak sering dihadapkan dengan permasalahan penurunan berlebih dan ketidakstabilan timbunan, sehingga dapat membahayakan pengguna jalan serta menimbulkan kerusakan struktural. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas metode perkuatan timbunan menggunakan pile embankment dibandingkan dengan timbunan tanpa perkuatan pada jalan Tol Trans Sumatera. Kondisi tanah dasar menunjukkan tanah lempung sedalam 10 meter dengan konsistensi medium hingga stiff dan tanah pasir sedalam 10 meter dengan konsistensi medium dense hingga very dense, serta kelas situs termasuk tanah lunak (SE). Data primer berupa uji SPT dengan analisis numerik menggunakan FEM 2D. Hasil analisis timbunan tanpa perkuatan menunjukkan penurunan sebesar 40,99 cm dalam waktu 5,353 tahun dengan konsolidasi 99%; mengalami kelongsoran dengan bentuk circle tipe deep sliding pada lapisan tanah pertama akibat beban lalu lintas. Sedangkan penggunaan perkuatan pile embankment dengan tiang spun pile diameter 60 cm; Load Transfer Platform (LTP) setebal 60 cm; dan penggunaan geogrid dapat mereduksi penurunan hingga 85,9%. Serta, faktor keamanan untuk kondisi statik sebesar 3,035 dan kondisi gempa sebesar 1,201. Sistem perkuatan pile embankment efektif mengatasi masalah penurunan dan stabilitas pada infrastruktur yang berdiri di atas tanah lunak.Kata kunci: Pile Embankment, Penurunan Konsolidasi, Stabilitas Lereng, Timbunan Oprit ABSTRACTThe construction of bridge approach embankments built on soft soil is often faced with problems of excessive settlement and embankment instability, can endanger road users and cause structural damage to bridge approaches. This research aims to analyze the effectiveness of embankment reinforcement methods using pile embankment compared to unreinforced embankments on the Trans Sumatera Toll Road. The subsoil conditions show a clay layer 10 meters deep with medium to stiff consistency and a sand layer 10 meters deep with medium dense to very dense consistency, with site class as soft soil (SE). Primary data from SPT tests and numerical analysis using 2D FEM. The results of unreinforced embankment analysis show settlement of 40.99 cm over 5.353 years with 99% consolidation, and the embankment experiences failure with a circular-type deep sliding pattern in the first soil layer due to traffic loads. Meanwhile, the use of pile embankment reinforcement using spun pile with 60 cm diameter, Load Transfer Platform (LTP) with 60 cm thickness, and the use of geogrid can reduce settlement by up to 85.9%. The safety factor for static conditions is 3.035 and for earthquake conditions is 1.201. The pile embankment reinforcement system is effective in addressing settlement and stability problems in infrastructure built on soft soil.Keywords: work-life balance, construction, construction worker, literature review  
Evaluasi Kebutuhan Jumlah Fondasi Tiang Pancang pada Proyek Pembangunan Gedung Rumah Sakit di Jakarta Timur Puan Padya Pamelagiyanti; Iman Handiman; Zakwan Gusnadi; Empung Empung; Yusep Ramdani; Fitriana Sarifah; Herwan Dermawan; Asrinia Desilia
Akselerasi : Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Vol 7, No 2 (2025): November
Publisher : Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/aks.v7i2.17523

Abstract

Fondasi tiang pancang merupakan elemen penting dalam mendukung struktur bangunan, terutama pada tanah lunak yang memiliki daya dukung rendah. Fondasi berfungsi sebagai struktur bawah yang menyalurkan beban dari struktur di atasnya ke tanah yang cukup keras sehingga fondasi mampu memikul beban secara aman dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kebutuhan jumlah fondasi tiang pancang pada titik B6-BE dalam Proyek Pembangunan Gedung Rumah Sakit di Jakarta Timur melalui pendekatan analitik dan pengujian komprehensif lapangan. Analisis dilakukan menggunakan metode API RP2A dan software Tiang, serta pengujian Static Loading Test (SLT) aksial dan lateral. Interpretasi hasil uji pembebanan statik dilakukan dengan metode Davisson, Chin, Mazurkiewicz, dan pendekatan p-y curve. Hasil evaluasi menggunakan software Kelompok Tiang menunjukkan bahwa konfigurasi tiang pancang rencana dengan jumlah 10 tiang mampu menahan beban aksial dan lateral dengan deformasi yang masih berada dalam batas aman, sehingga memungkinkan dilakukannya analisis terhadap konfigurasi tiang yang lebih efisien. Analisis konfigurasi tiang dengan jumlah 9 dan 8 tiang menunjukkan bahwa desain tersebut masih memenuhi kriteria daya dukung aksial, dengan kapasitas masing-masing sebesar 1225,4 kN untuk konfigurasi 9 tiang dan 1374,3 kN untuk konfigurasi 8 tiang. Konfigurasi dengan 7 tiang menghasilkan daya dukung aksial maksimum sebesar 1566,3 kN, yang melebihi daya dukung izin sebesar 1395,5 kN sehingga konfigurasi tersebut dinyatakan tidak aman secara struktural.
Analisis Stabilitas Galian dengan Menggunakan Metode Secant Pile Tammy Flafiana Nabillah; Iman Handiman; Zakwan Gusnadi; Fitriana Sarifah; Yusep Ramdani
Akselerasi : Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Vol 7, No 1 (2025): Juli
Publisher : Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/aks.v7i1.17519

Abstract

Penelitian ini dilakukan pada galian untuk basement gedung di kawasan padat penduduk daerah Bandung, Jawa Barat. Galian diperkuat menggunakan secant pile karena sifatnya yang fleksibel, minim getaran dan tidak membutuhkan lahan luas, sesuai dengan kondisi dengan bangunan eksisting terdekat pada jarak 24,3 m. Analisis difokuskan pada faktor keamanan, deformasi lateral dan deformasi aksial. Metode elemen hingga digunakan melalui perangkat lunak berbasis elemen hingga dengan peninjauan pada dua potongan, yaitu potongan melintang (potongan 1) dan potongan memanjang (potongan 2). Parameter tanah yang digunakan diperoleh dari uji lapangan SPT dan uji laboratorium pada empat titik bor log dengan kedalaman muka air tanah bervariasi, yaitu 1,2 m, 3,3 m, 0,8 m dan 2 m pada masing-masing titik bor log. Kondisi tanah sekitar galian hingga kedalaman secant pile berdiameter 60 didominasi oleh tanah lunak, dengan kedalaman galian 4,5 m dan panjang secant pile 9 m. Hasil analisis menunjukkan nilai faktor keamanan pada galian potongan 1 sebesar ,934 ( 1,5) dan pada potongan 2 sebesar 1,946 ( 1,5) serta FK terhadap heave, blow-in dan piping  berturut-turut sebesar 1,6 ( 1,25), 1,274 ( 1,25) dan 1,66 ( 1,5). Deformasi lateral yang terjadi pada dinding secant pile sebesar 4,16 cm ( 4,5 cm) pada potongan 1 dan 4,22 cm ( 4,5 cm) pada potongan 2 serta deformasi aksial (penurunan tanah di area sekitar galian) potongan 1 sebesar 0,03 cm dan 0,27 cm pada potongan 2. Keseluruhan hasil analisis menunjukkan galian dengan perkuatan secant pile aman sesuai dengan batas izin geoteknik.
Analisis Kapasitas Lateral Fondasi Tiang Pancang dengan Metode Broms dan Metode P-y Yuli Yulianti; Iman Handiman; Zakwan Gusnadi; Fitriana Sarifah; Rosi Nursani
Akselerasi : Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Vol 7, No 2 (2025): November
Publisher : Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/aks.v7i2.17582

Abstract

Dalam perencanaan sebuah pembangunan harus dilakukan perhitungan dari struktur atas sampai struktur bawah bangunan. Struktur bawah bangunan dipengaruhi oleh kondisi tanah di lapangan, maka perlu dilakukan analisis kondisi tanah di lapangan. Selain analisis tanah terdapat beberapa perencanaan pada fondasi bangunan yang dapat dilakukan berupa analisis penurunan, stabilitas tanah, daya dukung tanah dan analisis lainnya. Daya dukung merupakan aspek penting dalam perencanaan fondasi tiang pancang, daya dukung yang dianalisis berupa daya dukung aksial dan daya dukung lateral. Daya dukung lateral merupakan kemampuan struktur menahan beban lateral yang akan diterima oleh fondasi. Beban lateral berupa beban yang berasal dari gempa bumi, angin, lalu lintas dan beban lainnya. Dalam analisis daya dukung lateral terdapat beberapa metode yang dapat digunakan, berdasarkan metode analitik untuk tiang panjang dapat menggunakan metode Broms dan hanya dapat digunakan untuk kondisi tanah homogen. Sedangkan berdasarkan metode numerik dapat menggunakan metode P-y yang dapat memberikan nilai tekanan tanah lateral (p) dan defleksi lateral (y) pada sepanjang tanah yang akan dilakukan analisis metode ini memperkuat metode Broms karena metode P-Y dapat dilakukan pada semua jenis kondisi tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kapasitas lateral tiang pancang dengan metode Broms dan metode P-y dengan hasil akhir akan dibandingkan dengan hasil uji lateral statis. Hasil dari penelitian ini didapatkan hasil perhitungan pada metode P-y lebih mendekati dengan hasil uji lateral statis dengan metode Broms memiliki nilai defleksi yang jauh lebih besar dengan kenaikan yang linear. Maka berdasarkan hasil perhitungan analisis metode P-y dapat digunakan sebagai alternatif perhitungan pada perencanaan daya dukung lateral tanah.
HyRoBERTa: Hybrid Robustly Optimized BERT Approach Model for Sentiment and Sarcasm Detection in Post-Flood Social Media Analysis Yuliyanti, Siti; Septi Asriani, Aveny; Purwayoga, Vega; Gusnadi, Zakwan
Jurnal RESTI (Rekayasa Sistem dan Teknologi Informasi) Vol 10 No 1 (2026): February 2026
Publisher : Ikatan Ahli Informatika Indonesia (IAII)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29207/resti.v10i1.6963

Abstract

The detection problem is a crucial step in sentiment classification because it strengthens the validity and reliability of the model's interpretation of ambiguous text, especially in complex social contexts such as post-disaster public communication. Without this detection, the model is prone to significant classification errors. This study presents a hybrid approach for sentiment analysis with sarcasm detection after a flood disaster by combining the RoBERTa model with sequential deep learning architectures such as GRU, LSTM, and BiLSTM. We used a dataset of 17,520 tweets that were pre-processed using cleaning, normalization, and tokenization. Then, the positive class is further detected to determine whether it is sarcasm. The model was trained using a transformer-based transfer learning method with a combination of hyperparameters: the number of epochs, batch size, dropout rate, and learning rate. The experimental results show that the RoBERTa-GRU model achieved the highest accuracy for sentiment classification at 97. 26%, whereas the RoBERTa-BiLSTM model excels in detecting sarcasm with an accuracy of 98. 74%. RoBERTa-BiLSTM excels in sarcasm detection because it provides a bidirectional sequential mechanism and better long-term memory, effectively leveraging RoBERTa's rich embedding to identify contextual contradictions that are characteristic of sarcasm. Meanwhile, RoBERTa-GRU succeeds in sentiment classification because its architecture is more concise yet effective enough to infer dominant sentiments that have been filtered from the robust representation provided by RoBERTa, making the model more efficient for less complex tasks.