Claim Missing Document
Check
Articles

Studi Literatur Potensi Sediaan Topikal Sarang Burung Walet (Aerodramus fuciphagus) sebagai Penyembuh Luka Halijah Putriyani; Sri Peni Fitrianingsih
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.532 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4545

Abstract

Abstract. A wound is a damage or partial loss of body tissue that is accompanied by a loss of continuity of epithelial tissue due to several factors. Wounds can be classified based on their anatomical structure, nature, healing process and duration of healing. One of the natural material that has the potential to heal wound closure is swallow's nest (Aerodramus fuciphagus). The purpose of this literature review is to determine the potential of swallow's nest (Aerodramus fuciphagus) topical preparations as a wound healer and the content of compounds in swallow's nest (Aerodramus fuciphagus). The research method is used the Systematic Literature Review (SLR). The results of this literature study indicate that gel, cream and ointment preparations containing swallow's nest (Aerodramus fuciphagus) have potential as wound healers. Swallow's nest (Aerodramus fuciphagus) has an epiderdermal growth factor that function as the formation of new acid and tissue texture. Moreover, it contains compounds such as sialic acid, glycosaminoglycans, N-acetylgalactosamine, N-acetylglucosamine, N-acetylneuramin, galactose, fucose, essential amino acids, non-essential amino acids and 53-amino acid polypeptides that act as a healing process in wound closure. Abstrak. Luka merupakan rusaknya ataupun hilangnya sebagian dari jaringan tubuh yang di sertai hilangnya kontinuitas jaringan epitel dikarenakan beberapa faktor. Luka dapat diklasifikasikan berdasarkan struktur anatomis, sifat, proses penyembuhan dan lamanya penyembuhan. Salah satu bahan alam yang memiliki potensi pada penyembuhan dalam penutupan luka yaitu sarang burung walet (Aerodramus fuciphagus). Tujuan dari kajian studi literatur ini yaitu untuk mengetahui potensi dari sediaan topikal sarang burung walet (Aerodramus fuciphagus) sebagai penyembuh luka dan kandungan senyawa dalam sarang burung walet (Aerodramus fuciphagus). Metode penelitian yang dilakukan yaitu dengan menggunakan Systematic Literature Review (SLR). Hasil studi literatur ini menunjukkan bahwa sedian gel, krim dan salep yang mengandung sarang burung walet (Aerodramus fuciphagus) memiliki potensi sebagai penyembuh luka. Sarang burung walet (Aerodramus fuciphagus) memiliki faktor pertumbuhan epidermal yang berfungsi sebagai pembentukan tekstur kulit dan jaringan baru, serta terdapat kandungan senyawa seperti asam sialat, glikosaminoglikan, N-asetilgalaktosamin, N-asetilglukosamin, N-asetilneuraminat, galaktosa, fukosa, asam amino esensial, asam amino nonesensial dan polipeptida asam 53-amino yang berperan sebagai proses penyembuhan dalam penutupan luka.
Uji Aktivitas Antelmintik Infusa Biji Semangka (Citrullus lanatus (Thunb.) Matsum. & Nakai) terhadap Cacing Gelang Babi Dewasa (Ascaris suum Goeze.) dan Telurnya Secara In Vitro Rifa Nabilla Ruswandi; Suwendar; Sri Peni Fitrianingsih
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.431 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4546

Abstract

Abstract. Worm infections are spread throughout the world, including in Indonesia. Deworming disease is treated using synthetic anthelmintic. Indonesia is rich in plants that are useful as medicine, one of the plants that can be used to treat intestinal worms is watermelon seeds (Citrullus lanatus (Thunb.) Matsum. & Nakai). This study aims to determine whether watermelon seeds have anthelmintic activity and to determine the effective concentration of watermelon seeds on the anthelmintic activity of pork round worm (Ascaris suum Goeze.) and their eggs in vitro. The test was divided inti 3 groups, the test group (10%, 5% and 2,5% w/v concentration), the comparison group (Pirantel pamoate, Piperazine citrate for pork roundworms, albendazole for helminth eggs), a negative control group (0,9% NaCl solution, disitilled water and Hank salin solution for pork roundworms). Parameters observed in round worms were to determine the type of paralysis and death of worms, as well as the percent inhibition of worm eggs. The results showed that watermelon seed infusion had anthelmintic activity by causing flaccid paralysis in pork roundworms and had an ovicidal effect on worm eggs. Watermelon seed infusion with concentrations of 10%, 5%, and 2,5% w/v had anthelmintic activity against pork roundworms and their eggs. The best activity shown at a concentration of 10% because the active compound contained more than the concentration of 5% and 2,5% w/v. Abstrak. Infeksi cacingan tersebar di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Penyakit cacingan diobati menggunakan antelmintik sintesis. Indonesia kaya akan tanaman yang bermanfaat sebagai obat, salah satu tanaman yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit cacingan adalah biji semangka (Citrullus lanatus (Thunb.) Matsum. & Nakai). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah biji semangka memiliki aktivitas antelmintik serta mengetahui konsentrasi efektif biji semangka pada aktivitas antelmintik cacing gelang babi dewasa (Ascaris suum Goeze.) serta telurnya secara in vitro. Pengujian dibagi dalam 3 kelompok, kelompok uji (konsentrasi 10&, 5%, dan 2,5% b/v), kelompok pembanding (Pirantel pamoat, piperazin sitrat untuk cacing gelang babi dewasa, albendzole untuk telur cacing). Parameter pengamatan pada cacing gelang babi dewasa yaitu mengetahui tipe paralisis dan kematian cacing dewasa, serta persen inhibisi terhadap telur cacing. Hasil penelitian menunjukkan infusa biji semangka memiliki antivitas antelmintik dengan menyebabkan paralisis flasid pada cacing gelang babi dewasa dan memiliki efek ovisidal pada telur cacing. Infusa biji semangka dengan konsentrasi 10%, 5%, dan 2,5% b/v memiliki aktivitas antelmintik terhadap cacing gelang babi dewasa serta telurnya. Aktivitas yang paling baik ditunjukkan pada konsentrasi 10% karena senyawa aktif yang terkandung lebih banyak dibandingkan dengan konsentrasi 5% dan 2,5% b/v.
Studi Literatur Potensi Beberapa Ekstrak Tumbuhan Mengandung Katekin sebagai Antihipertensi Nurul Susanti; Sri Peni Fitrianingsih; Fetri Lestari
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (746.294 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4701

Abstract

Abstract. High blood pressure or hypertension is one of the risks of cardiovascular disease with a high prevalence of death. Hypertension is a condition in which blood pressure exceeds its normal value, namely systolic blood pressure of more than 140 mmHg and diastolic blood of more than 90 mmHg. There are compounds in plant extracts such as palm oil (Elaeis guineensis), red pine (Pinus densiflora Sieb. et Zucc), boysenberry (Rubus ursinus), tea (Camellia sinensis) and almond (Terminallia catappa) namely catechins that have potential to lower blood pressure by mechanisms such as ACEI (Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor). The research was conducted using a systematic literature review method in reputable journals using the keyword “Antihypertensive”, “Catechin as Antihypertensive”, “Catechin” and “Catechin as Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor”. The results of the literarute show that there are plant part that contain catechin compunds, namely leaves, bark, and seeds that have the potential to reduce blood pressure by inhibiting ACE (Angiotensin Converting Enzyme). Abstrak. Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan salah satu risiko penyakit kardiovaskular dengan prevalensi kematian yang cukup tinggi. Hipertensi merupakan kondisi dimana tekanan darah melebihi nilai normalnya yaitu tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg. Terdapat senyawa dalam ekstrak tumbuhan seperti kelapa sawit (Elaeis guineensis), pinus merah (Pinus densiflora Sieb. et Zucc), boysenberry (Rubus ursinus), teh (Camellia sinensis), dan almond (Terminallia catappa) yaitu katekin yang memiliki potensi menurunkan tekanan darah dengan mekanisme seperti ACEI (Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor). Penelitian dilakukan dengan metode Systematic Literature Review (SLR) pada jurnal bereputasi dengan menggunakan kata kunci “Antihypertensive”, “Catechin”, “Catechin as Antihypertensive”, dan “Catechin as Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor”. Hasil penelusuran literatur menunjukkan bahwa terdapat bagian-bagian tumbuhan yang mengandung senyawa katekin yakni daun, kulit kayu, kulit batang dan biji yang berpotensi menurunkan tekanan darah dengan menghambat ACE (Angiotensin Converting Enzyme).
Studi Literatur Aktivitas Antimalaria Tanaman Afrika (Vernonia amygdalina Del.) Nursetia Widia Astuti; Sri Peni Fitrianingsih; Suwendar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.178 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4815

Abstract

Abstract. Malaria is a public health problem in various parts of the world, because malaria causes death in infants, toddlers, pregnant women and adults and can have an impact on social development. The prevalence of malaria in Indonesia in 2019 was 250,644 cases. Most cases almost occurred in Papua, around 86% with a total of 216,380 cases. The second area with the most malaria cases is East Nusa Tenggara with 12,909 cases and West Papua with 7,079 cases. The use of antimalarial drugs with herbal plants has been used by the community empirically, due to the presence of antimalarial drug resistance, especially in malaria endemic areas. So it is necessary to have antimalarial medicinal plants that can be developed into antimalarial herbal medicines. There are many plants that have antimalarial activity, one of which is the African plant (Vernonia amygdalina Del.). There are many plants that have antimalarial activity, one of which is the African plant (Vernonia amygdalina Del.). The purpose of this literature study was to determine the level of antimalarial activity of African plants and to determine the content of secondary metabolites that are efficacious as antimalarials. The research was conducted using the Systematic Literature Review (SLR) method in reputable journals using the keyword Vernonia amygdalina Del antimalarial. The results of the literature study showed that the African plant parts, namely the leaves from the cyclohexane extract with the maceration method, could inhibit the Plasmodium falciparum parasite with an IC50 value of 4.34 g/ml in the very category and the aqueous extract with the maceration method could inhibit the growth of the Plasmodium berghei parasite with % inhibition. by 70.87% with very active category. African plants contain secondary metabolites from the terpenoid group, namely vernodalol and vernolide with IC50 values ​​<10. Abstrak. Penyakit malaria merupakan masalah kesehatan masyarakat di berbagai belahan dunia, karena penyakit malaria menyebabkan kematian pada bayi, balita, ibu hamil dan orang dewasa juga dapat berdampak pada perkembangan sosial. Prevalensi mengenai penyakit malaria yang terjadi di Indonesia pada tahun 2019 yaitu sebanyak 250.644 kasus. Sebagian kasus hampir terjadi di daerah Papua sekitar 86% dengan jumlah 216.380 kasus. Daerah kedua dengan kasus malaria terbanyak yaitu Nusa Tenggara Timur dengan jumlah kasus sebanyak 12.909 kasus dan Papua Barat dengan jumlah kasus 7.079 kasus. Penggunaan obat antimalaria dengan tanaman herbal telah digunakan oleh masyarakat secara empiris, karena adanya resistensi obat antimalaria terutama didaerah endemik malaria. Sehingga diperlukan adanya tumbuhan obat antimalaria yang dapat dikembangkan menjadi obat herbal antimalaria.Terdapat banyak tanaman yang memiliki aktivitas antimalaria salah satunya adalah tanaman afrika (Vernonia amygdalina Del.). Tujuan dari studi literatur ini adalah untuk mengetahui tingkat aktivitas antimalarial tanaman afrika dan mengetahui kandungan metabolit sekunder yang berkhasiat sebagai antimalaria. Penelitian dilakukan dengan metode Systematic Literatur Review (SLR) pada jurnal bereputasi menggunakan kata kunci Vernonia amygdalina Del. antimalarial. Hasil studi literatur menunjukkan bahwa bagian tanaman afrika yakni daun dari mulai ekstrak sikloheksana dengan metode maserasi dapat menghambat parasit Plasmodium falciparum dengan nilai IC50 sebesar 4,34 µg/ml dengan kategori sangat aktif dan ekstrak air dengan metode maserasi dapat menghambat pertumbuhan parasit Plasmodium berghei dengan %hambatannya sebesar 70,87% dengan kategori sangat aktif. Pada tanaman afrika terkandung metabolit sekunder dari golongan terpenoid yaitu vernodalol dan vernolide dengan nilai IC50<10.
AKTIVITAS ANTIHIPERGLIKEMIA EKSTRAK DAUN NANGKA (Artocarpus heterophyllus Lamk.) DAN DAUN SIRSAK (Annona muricata L.) TERHADAP MENCIT JANTAN Sri Peni Fitrianingsih; Indri - Aryanti; Fetri - Lestari
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.499 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v3i2.37

Abstract

 AbstrakDaun nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.) dan daun sirsak (Annona muricata L.) merupakan beberapa bahan alam yang secara empiris digunakan untuk penanganan Diabetes Mellitus. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas antihiperglikemia ekstrak tunggal dan kombinasi daun nangka dan daun sirsak. Aktivitas antihiperglikemia diuji dengan metode toleransi glukosa pada mencit jantan galur Swiss Webster yang diinduksi glukosa 195 mg/20g BB. Penelitian terdiri dari bbrp kelompok yaitu kelompok kontrol positif, ekstrak daun nangka 7 mg/20 g BB, ekstrak daun sirsak 3,5 mg/20 g BB, kombinasi ekstrak daun nangka dan daun sirsak (1+1), dan kombinasi (½+½) serta pembanding metformin 1,3 mg/20 g BB. Kadar glukosa darah diukur setiap 30 menit selama 2 jam setelah pemberian glukosa menggunakan alat gukometer. Data kadar glukosa darah dan persen penurunannya dianalisa dengan ANAVA dan uji lanjut Tukey HSD. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun sirsak dosis 3,5 mg/20 g BB mencit memiliki aktivitas antihiperglikemia yang lebih baik dibandingkan ekstrak daun nangka dan kombinasi ekstrak daun nangka dan daun sirsak. Kata kunci: daun nangka, Artocarpus heterophyllus Lamk., daun sirsak, Annona muricata L., aktivitas antihiperglikemia AbstractJackfruit leaf (Artocarpus heterophyllus Lamk.) and soursop leaf (Annona muricata L.) are some natural materials which empirically used for the treatment of Diabetes Mellitus. This study was aimed to determine antihyperglycemic activity of single and combination extract of jackfruit leaf and soursop leaf. Antihyperglycemic activity had been examined by glucose tolerance method on Swiss Webster male mice that induced by glucose 195 mg/20g BW. This study consist of 6 groups, those are positive control group, jackfruit leaf extract 7 mg/20 g BW, soursop leaf extract 3,5 mg/20 g BW, combination jackfruit leaf and soursop leaf extracts (1+1), and combination (½+½) and metformin 1,3 mg/20 g BW. Blood glucose level was determined every 30 minutes during 2 hours using glucometer. The data were analyzed by ANOVA and Tukey HSD. The result of this study showed that soursop leaf extract at dose 3,5 mg/20 g BW had antihyperglicemic activity better than jackfruit leaf extract and combination of jackfruit and soursop leaves extract. Keywords : jackfruit leaf, Artocarpus heterophyllus Lamk., soursop leaf, Annona muricata L., antihyperglicemic activity.
Potensi Antiinflamasi Ekstrak Etanol Biji Kurma Ajwa (Phoenix dactylifera L.) terhadap Tikus Wistar Jantan (Rattus norvegicus strain wistar) Muhammad Adril Maulana; Fetri Lestari; Sri Peni Fitrianingsih
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i1.6456

Abstract

Abstract. Inflammation is the body's response to damage in tissues which is characterized by symptoms such as redness, heat, swelling, pain, and loss of function. The ajwa date palm plant (Phoenix dactylifera L.) has secondary metabolite compounds, one of which is flavonoids and phenolic compounds that have anti-inflammatory activity. Based on this background, this study aims to determine the anti-inflammatory potential of ajwa date palm seeds (Phoenix dactylifera L.) in male wistar rats (Rattus norvegicus strain wistar). Samples were extracted by cold extraction using the maceration method. Then a standard solution was made with a concentration of ethanol extract of ajwa date palm seeds 100, and 500 mg/Kg.BB. The method used for anti-inflammatory testing is the paw edema method and the results of the data obtained were analyzed by the Langford method. Then the results of the statistical analysis of the normality test and homogeneity test and non-parametric test. The results showed that ethanol extract of ajwa date palm seeds (Phoenix dactylifera L.) has anti-inflammatory activity by comparing the percentage of udem inhibition at the 60th minute, namely a dose of 100 mg/Kg.BB of 12, 1271%, and a dose of 500 mg/Kg.BB of 3.3082% with the comparison, namely piroxicam tablets 20 mg of 22.1153%. Based on the results obtained, it can be concluded that the ethanol extract of ajwa date palm seeds (Phoenix dactylifera L.) has anti-inflammatory potential against male wistar rats (Rattus norvegicus strain wistar) as seen from the percentage value of udem and percentage of udem inhibition. Abstrak. Inflamasi merupakan respon tubuh terhadap adanya kerusakan dalam jaringan yang dimana ditandai dengan gejala-gejala seperti kemerahan, terasa panas, bengkak, nyeri, dan hingga kehilangan fungsi. Pada tanaman tumbuhan kurma ajwa (Phoenix dactylifera L.) memiliki senyawa metabolit sekunder, salah satunya yaitu flavonoid serta senyawa fenolik yang memiliki aktivitas antiinflamasi. Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi antiinflamasi pada biji kurma ajwa (Phoenix dactylifera L.) terhadap tikus wistar jantan (Rattus norvegicus strain wistar). Sampel diekstraksi dengan ekstraksi cara dingin menggunakan metode maserasi. Kemudian dibuat larutan baku dengan konsentrasi ekstrak etanol biji kurma ajwa sebesar 100, dan 500 mg/Kg.BB. Metode yang digunakan untuk pengujian antiinflamasi yaitu metode edema paw dan hasil data yang didapatkan dianalisis dengan metode langford. Kemudian dilakukan hasil analisis statistik uji normalitas dan uji homogenitas serta pengujian secara non-parametrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol biji kurma ajwa (Phoenix dactylifera L.) memiliki aktivitas antiinflamasi dengan membandingkan persentase inhibisi udem pada menit ke-60 yaitu dosis 100 mg/Kg.BB sebesar 12, 1271% dan dosis 500 mg/Kg.BB sebesar 3,3082% dengan pembanding yaitu piroksikam tablet 20 mg sebesar 22,1153%. Berdasarkan hasil yang didapatkan dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol biji kurma ajwa (Phoenix dactylifera L.) memiliki potensi antiinflamasi terhadap tikus wistar jantan (Rattus norvegicus strain wistar) yang dilihat dari nilai persentase udem dan persentase inhibisi udem.
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Lengkuas Merah (Alpinia Purpurata (Vieill) K.Schum). terhadap Bakteri Penyebab Jerawat: zulfa azmalah; Sri Peni Fitrianingsih; Siti Hazar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. The skin is the outermost organ of the body that functions as a body protector against the environment. Facial skin is one that is prone to skin health problems such as acne which can be caused by oil glands, skin problems such as aging and enlarged skin pores. Acne is a skin disease that often appears in humans, especially on the face. Acne is inflammation accompanied by blockage of the ducts of the skin and hair (polysebaceous) oil glands. In Indonesia, the prevalence rate for acne sufferers is 80-85% for adolescents aged 15-18 years, 12% for women aged <25 years and 3% for those aged 35-44 years (Madelina W, 2018). Acne is more common in women than men. The causes of acne can be caused by genetic factors, endorphins, psychology, weather, stress, food, cosmetics and bacterial infections. This research was conducted by agar diffusion method using wells with Propionibacterium acnes and Staphylococus epidermidis bacteria. Bacteria were treated with ethanol extract of red galangal leaves 2%, 4%, 6%, 8% and 10%. The test parameters can be seen from the formation of clear zones around the wells. As a result, the ethanol extract of red galangal leaves was proven to have antibacterial activity against the tested bacteria. The smallest concentration of extract that forms a clear zone on Propionibacterium acnes bacteria is 2% with an average diameter of the inhibition zone of 15.25 mm & +- SD 2.15 while for Staphylococus epidermidis bacteria the smallest concentration of extract that forms a clear zone is 6% with an average mean inhibition zone diameter 17.33 & +-SD 2.05. Abstrak. Kulit adalah organ terluar tubuh yang berfungsi sebagai pelindung tubuh terhadap lingkungan. Kulit wajah merupakan salah satu yang rentan terkena masalah kesehatan kulit seperti timbulnya jerawat yang dapat disebabkan karena adanya kelenjar minyak, masalah kulit seperti penuaan dan pori kulit yang membesar. Jerawat merupakan salah satu penyakit kulit yang sering muncul pada manusia, terutama pada bagian wajah. Jerawat merupakan peradangan yang disertai dengan penyumbatan saluran kelenjar minyak kulit dan rambut (polisebasea). Di Indonesia tercatat tingkat prevalensi penderita jerawat adalah 80-85% pada remaja dengan rentan usia 15-18 tahun, 12% pada wanita usia <25 tahun dan 3% pada usia 35-44 tahun (Madelina W, 2018). Jerawat sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Penyebab timbulnya jerawat dapat disebabkan karena faktor genetik, endorfin, psikis, cuaca, stress, makanan, kosmetika dan infeksi bakteri. Penelitian ini dilakukan dengan metode difusi agar menggunakan sumuran dengan bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococus epidermidis. Bakteri diberikan perlakuan dengan ekstrak etanol daun lengkuas merah 2%, 4%, 6%, 8% dan 10%. Parameter pengujian dilihat dari terbentuknya zona bening di sekitar sumuran. Hasilnya, ekstrak etanol daun lengkuas merah terbukti memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri uji. Konsentrasi terkecil ekstrak yg membentuk zona bening pada bakteri Propionibacterium acnes adalah 2% dengan rata-rata diameter zona hambat 15,25 mm & +- SD 2,15 sedangkan pada bakteri Staphylococus epidermidis konsentrasi terkecil ekstrak yg membentuk zona bening yaitu 6% dengan rata-rata diameter zona hambat 17,33 & +-SD 2,05.
Formulasi Nanosuspensi Ekstrak Etanol Kulit Batang Kayu Manis dengan Metode Bottom-Up Sani Ega Priani; Sri Peni Fitrianingsih; Livia Syafnir; Faqih Radina
Majalah Farmasetika Vol 8, No 4 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v8i4.46592

Abstract

Kayu manis memiliki berbagai aktivitas farmakologi salah satunya adalah aktivitas sitotoksik. Beberapa penelitian menunjukkan nanosuspensi dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan aktivitas sitotoksik bahan aktif.  Nanosuspensi adalah sistem dispersi koloidal mengandung partikel obat dengan ukuran <1µm yang distabilkan oleh molekul surfaktan dan atau polimer. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan optimasi formula nanosuspensi ekstrak etanol kulit batang kayu manis menggunakan metode bottom up dengan variasi jenis surfaktan/polimer sebagai bahan penstabil. Kulit batang kayu manis diekstraksi menggunakan etanol 96% dengan metode maserasi. Ekstrak dikembangkan menjadi sediaan nanosuspensi dengan teknik antisolvent precipitation menggunakan variasi bahan penstabil yakni tween 80, natrium lauril sulfat, polivinil alkohol (PVA), dan polivinil pirolidon (PVP). Berdasarkan hasil optimasi formula, diketahui bahwa sediaan nanosuspensi mengandung ekstrak kulit batang kayu manis 0,5% menggunakan bahan penstabil PVA 2% memiliki karakteristik fisik paling sesuai,  yang ditandai dengan penampilan  yang jernih, tanpa endapan, nilai persen transmitan 79,57±0,13 %, ukuran partikel 589±17 nm serta nilai PDI 0,50 ± 0,01. Nanosuspensi kayu manis menggunakan PVA 2% sebagai penstabil memiliki karakteristik yang paling optimum.
Studi Analisis Tingkat Kepatuhan Terapi pada Pasien TB Paru Dewasa di Poli TB UPT Puskesmas Pasundan Kota Bandung Melia Puspa Putri Hayatinufus; Suwendar; Sri Peni Fitrianingsih
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.7340

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB), caused by Mycobacterium tuberculosis, remains a significant global health concern, with Indonesia ranking 3rd in the world for TB cases. Incomplete and irregular treatment, coupled with low medication adherence, hinder the success of TB treatment. This study aims to determine the adherence level of pulmonary TB patients at the TB Polyclinic in Puskesmas Pasundan regarding anti-tuberculosis drugs. Additionally, it investigates the relationship between adherence and patient demographic data. Using a descriptive method, the study employed total sampling, including 38 respondents, conducted in March-April 2023. The Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8) assessed patients' adherence to treatment. The correlation test, performed using SPSS, examined the relationship between patient adherence and demographic data. The majority of pulmonary TB patients were male (53%), aged 17-25 years (29%), high school-educated (47%), and employed (71%). Adherence levels were reported as follows: high adherence in 6 individuals (16%), moderate adherence in 21 individuals (55%), and low adherence in 11 individuals (29%). The correlation test revealed no significant relationship between age, gender, education, employment, and adherence level (p-values: 0.983, 0.257, 0.098, and 0.495, respectively). Abstrak. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, salah satu penyakit yang masih menjadi perhatian khusus dunia, khususnya World Health Organization (WHO) pada era Sustainable Development Goals (SDGs). Indonesia berada di peringkat ke-3 setelah India dan China, dengan kasus penderita TBC tertinggi di dunia. Faktor penghambat keberhasilan pengobatan TB, diantaranya yaitu pengobatan yang tidak lengkap, tidak teratur, dan tidak patuhnya pasien dalam minum obat. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat kepatuhan pasien TB paru di Poli TB Puskesmas Pasundan dalam mengonsumsi obat antituberkulosis dan mengetahui hubungan antara kepatuhan dengan data demografi pasien di poli TB Puskesmas Pasundan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, teknik sampling yang digunakan yaitu menggunakan metode total sampling atau mengambil sampel sama dengan jumlah populasi yang sesuai dengan kriteria sampel penelitian, yang dilakukan pada bulan Maret-April 2023. Untuk menilai tingkat kepatuhan pasien terhadap pengobatan, digunakan kuisioner Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8), dan untuk mengetahui hubungan kepatuhan dengan data demografi pasien digunakan uji korelasi menggunakan aplikasi SPSS. Hasil dari 38 responden menunjukan bahwa mayoritas pasien TB Paru berjenis kelamin laki-laki (53%), berusia 17-25 tahun (29%), Pendidikan SMA (47%), dan Bekerja (71%), dengan tingkat kepatuhan minum obat tinggi sebanyak 6 orang (16%), kepatuhan sedang sebanyak 21 orang (55%) dan kepatuhan rendah sebanyak 11 orang (29%). dan hasil uji korelasi antara variabel data demografi dengan tingkat kepatuhan didapatkan bahwa tidak adanya hubungan antara usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan, karena memiliki nilai p-value masing-masing 0,983, 0,257, 0,098 dan 0,495.
UJI AKTIVITAS SITOTOKSIK EKSTRAK DAN FRAKSI DAUN PELAWAN (Tristaniopsis merguensis Griff.) MENGGUNAKAN METODE BRINE SHRIMP LETHALITY TEST (BSLT) Marshanda Putri Nabila; Suwendar; Sri Peni Fitrianingsih
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.7681

Abstract

Abstract. Pelawan leaves (Tristaniopsis merguensis Griff.) are known potential to have cytotoxic activity because they contain a class of phenolic compounds such as flavonoids and tannins. This study aims to determine the preliminary characteristics of pelawan leaves, determine the LC50 value using the Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) method so that it can know whether the ethanol extract and pelawan leaf fraction have cytotoxic activity and can determine which sample has the highest. The effect of pelawan leaf extract and fraction on Artemia franciscana Kellogg. larvae, was analyzed using Probit Analysis. The results showed that the characteristics of pelawan leaves (Tristaniopsis merguensis Griff.) fulfilled the standard parameter requirements and were detected to contain alkaloids, flavonoids, polyphenolics, tannins and saponins. The sample has cytotoxic activity as evidenced by an LC50 value of less than 1000 ppm. The LC50 value of the ethanol extract was 85.5 ppm, the N-hexane fraction was 151.9 ppm, the ethyl acetate fraction was 112 ppm and the water fraction was 95.2 ppm. It was concluded that the samples that had the highest cytotoxic activity were the ethanol extract and water fraction of Pelawan leaves in the medium toxic category, while the N-hexane fraction and ethyl acetate fraction were in the low toxic category. Keywords: Pelawan Leaf (Tristaniopsis merguensis Griff.), Cytotoxic, Artemia franciscana Kellogg., LC50, Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Abstrak. Daun Pelawan (Tristaniopsis merguensis Griff.) diketahui berpotensial memiliki aktivitas sitotoksik karena mengandung golongan senyawa fenolik seperti flavonoid dan tannin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pendahuluan pada daun pelawan, menentukan nilai LC50 menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) sehingga dapat mengetahui apakah ekstrak etanol dan fraksi daun pelawan ini memiliki aktivitas sitotoksik dan dapat menentukan sampel yang memiliki aktivitas sitotoksik yang paling tinggi. Pengaruh ekstrak dan fraksi daun pelawan terhadap larva Artemia franciscana Kellogg., dianalisis menggunakan Analisis Probit. Hasil menunjukkan bahwa karakteristik daun pelawan (Tristaniopsis merguensis Griff.) memenuhi persyaratan parameter standar serta terdeteksi mengandung golongan senyawa alkaloid, flavonoid, polifenolat, tannin dan saponin. Sampel memiliki aktivitas sitotoksik dibuktikan dengan nilai LC50 yang kurang dari 1000 ppm. Nilai LC50 ekstrak etanol sebesar 85,5 ppm, fraksi N-heksan sebesar 151,9 ppm, fraksi etil asetat sebesar 112 ppm dan fraksi air sebesar 95,2 ppm. Disimpulkan bahwa Sampel yang memiliki aktivitas sitotoksik yang paling tinggi adalah ekstrak etanol dan fraksi air daun pelawan dengan kategori medium toksik, sedangkan fraksi N-heksan dan fraksi etil asetat berada di kategori low toksik. Kata Kunci: Daun Pelawan (Tristaniopsis merguensis Griff.), Sitotoksik, Artemia franciscana Kellogg., LC50, Brine Shrimp Lethality Test (BSLT).