Claim Missing Document
Check
Articles

Kajian Interaksi Obat Antihipertensi pada Pasien Geriatri Rawat Inap di Rumah Sakit Al-Mulk Kota Sukabumi Aliya Rahmah Adriani; Suwendar; Fetri Lestari
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.814 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4328

Abstract

Abstract. The prevalence of hypertension in Indonesia continues to increase every year, and is widely found in the geriatric category. The cause of hypertension in geriatrics is due to a decrease in the functioning of the body's organs. In pasien geriatrics are at high risk of experiencing drug interactions due to health problems that are likely to be more than one, resulting in the administration of more than one drug. Drug interactions can lead to changes in the effectiveness or toxicity of a drug. The purpose of this study is to determine what drugs can cause interactions with antihypertensive drugs and their impact on geriatric patients undergoing antihypertensive therapy. The study was conducted using data in the form of medical records of inpatient geriatric patients at Al-Mulk Hospital, Sukabumi City. This study used Stockley's Drug Interaction E-book and Drug Interaction Checker to analyze drug interactions. The results of the analysis obtained are further classified by the mechanism of drug interaction and severity. Based on the research that has been carried out, that drugs that have the potential to cause drug interactions with antihypertensive drugs are aspirin, atorvastatin, cefadroxil, ceftriaxone, digoxin, ibuprofen, ketorolac, lansoprazole, meloxicam, and omeprazole and their adverse effects. Abstrak. Prevalensi penyakit hipertensi di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya, dan banyak terdapat pada kategori geriatri. Penyebab hipertensi pada geriatri karena adanya penurunan fungsi kerja organ tubuh. Pada pasien geriatri beresiko tinggi mengalami interaksi obat karena permasalahan kesehatan yang kemungkinan lebih dari satu, sehingga pemberian obat yang lebih dari satu. Interaksi obat dapat menyebabkan berubahnya keefektifan atau toksisitas dari suatu obat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui obat apa saja yang dapat menimbulkan interaksi dengan obat antihipertensi serta dampaknya pada pasien geriatri yang menjalani terapi antihipertensi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan data berupa rekam medis pasien geriatri rawat inap di Rumah Sakit Al-Mulk Kota Sukabumi. Penelitian ini menggunakan E-book Stockley’s Drug Interaction serta Drug Interaction Checker untuk menganalisis interaksi obat. Hasil analisis yang diperoleh selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan mekanisme interaksi obat dan tingkat keparahan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, bahwa obat yang berpotensi menyebabkan interaksi obat dengan obat antihipertensi yaitu aspirin, atorvastatin, cefadroxil, ceftriaxone, digoksin, ibuprofen, ketorolak, lansoprazole, meloxicam, dan omeprazole serta dampaknya yang merugikan.
Studi Literature Kasus Drug Related Problems Kategori Adverse Drug Reactions pada Pasien Pediatrik Munadiya Waridatiddiyanah Fauzi; Fetri Lestari; Sri Peni Fitrianingsih
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.776 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4458

Abstract

Abstract : Adverse drug reactions are responses to a drug that are noxious, unwanted and that occur at doses normally used for the prevention, diagnosis, or treatment of disease or for the modification of physiological function. Pediatrics comes from the Greek, namely pedos which means child and iatrica which means treatment of children, so pediatrics is treatment of pediatric patients. In this study, the authors used the Literature Review Study method by conducting studies in several journals and taking data according to the inclusion and exclusion criteria. The problem formulation of this study is to identify the presence of Adverse Drug Reactions in pediatric patients in various hospitals based on the highest population contained in various literatures and the purpose of this study is to evaluate Adverse Drug Reactions in pediatric patients used in various hospitals. The results obtained were 8 journals, 9 drug classes, 16 drug names and 5828 patient populations affected in the case of Drug Related Problems in the Adverse Drug Reactions category. The names of the 5 drugs are: Amoxicillin, Ampicillin, Amikacin, Cefotaxime and Ceftriaxone. Of the several antibiotics used by the patient, there were also complaints of unwanted side effects such as: Urticaria Rash, Itching at the injection site, Diarrhea, Dry Skin, Dark Blue Lips and Lichen nitidus. The solution is to stop the suspected drug and give the drug to prevent a reaction, to give an alternative medicine to prevent a reaction, to continue treatment with dehydration therapy fluids, to continue the treatment and consult the doctor concerned. Abstrak : Adverse Drug Reactions adalah respon terhadap suatu obat yang merugikan, tidak diinginkan dan yang terjadi pada dosis yang biasa digunakan untuk pencegahan, diagnosis, atau terapi penyakit atau untuk modifikasi fungsi fisiologik. Pediatri berasal dari bahasa Yunani yaitu pedos yang berarti anak dan iatrica yang berarti pengobatan anak, maka pediatri adalah pengobatan pada pasien anak. Pada penelitian ini penulis menggunakan metode Studi Literature Riview dengan dilakukannya pengkajian pada beberapa jurnal dan diambil data sesuai kriteria inklusi dan ekslusi. Rumusan masalah dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi adanya Adverse Drug Reactions pada pasien pediatrik di berbagai rumah sakit berdasarkan Populasi tertinggi yang terdapat di berbagai literature dan Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk melakukan evaluasi Adverse Drug Reactions pada pasien pediatrik yang digunakan diberbagai rumah sakit. Hasil yang didapat sebanyak 8 Jurnal, 9 Golongan obat, 16 Nama obat dan 5828 populasi pasien yang terdampak pada kasus Drug Related Problems kategori Adverse Drug Reactions, setelah diakumulasikan dari beberapa jurnal yang didapat hasil terbanyak terdapat pada golongan obat Antibiotik yaitu sebanyak 5338 yang tergolongkan dari 5 nama-nama obat yaitu: Amoxicillin, Ampicillin, Amikacin, Cefotaxime dan Ceftriaxone. Dari beberapa obat golongan antibiotik tersebut yang dikonsumsi oleh pasien terdapat juga beberapa keluhan efek samping yang tidak diinginkan seperti: Ruam Urtikaria, Gatal ditempat suntikan, Diare, Kulit Kering, Bibir Kebiruan Gelap dan Lichen nitidus. Solusinya yaitu Menghentikan obat yang dicurigai dan diberikan obat untuk mencegah reaksi, Diberikan obat alternatif untuk mencegah reaksi, Melanjutkan perawatan bersama dengan cairan terapi dehidrasi, Dilanjutkan perawatannya dan konsultasikan kedokter yang bersangkutan.
Skrining Fitokimia dan Karakterisasi Simplisia Buah Apel Hijau (Malus sylvestris (L.) Mill) Adinda Dewani Soetadipura; Fetri Lestari
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.777 KB)

Abstract

Abstract. Indonesia is one of the mega biodiversity countries in the world that has high diversity, consisting of 30,000 plant species. WHO has recommended the use of traditional medicine including herbal medicine for the maintenance of public health, prevention and treatment of disease. In Indonesia, the use of medicinal plants has often been used by people from ancient times. Currently, the lifestyle of returning to nature (back to nature) is increasingly in demand by the public. According to the Basic Health Research (Riskesdas) in 2018, the percentage of Indonesians who consume traditional medicine is 38.7%. Apple is one type of fruit that is efficacious as a medicinal plant that is very popular in the community. Green apple (Malus sylvestris(L.) Mill) is a rich source of antioxidant compounds because it contains quercetin which is a flavonoid compound. Green apples have benefits for the prevention of cardiovascular disease, diabetes, inflammation, cancer, and asthma. A use of natural materials in health efforts must meet the criteria of safety, efficacy and quality. To meet these criteria, phytochemical screening and simpliciacharacterization were carried out. The results of the phytochemical screening showed that the simplicia of green apples contained a class of flavonoid compounds, polyphenols and tannins. The results of the simplicia characterization were the watersoluble extract content of 9.01 % ± 1.22; ethanol soluble extract content 22.31 % ±0.04; drying shrinkage 7.30 % ± 0.22; water content 5.5 % ± 0.7, total ash content 7 % ± 0.09; acid insoluble ash content 6.95 % ± 0.06. Abstrak. Indonesia merupakan salah satunegara mega biodiversitas di dunia yang memiliki keanekaragaman tinggi, terdiri30.000 jenis tumbuhan. WHO telahmerekomendasikan penggunaan obattradisional termasuk obat herbal untukpemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit. Di Indonesia sendiri pemanfaatan tumbuhanberkhasiat obat sudah sering digunakanoleh masyarakat dari jaman dahulu. Saatini, gaya hidup kembali ke alam (back to nature) semakin diminati oleh masyarakat. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, persentasependuduk Indonesia yang mengkonsumsiobat tradisional adalah 38,7%. Apelmerupakan salah satu jenis buah yang berkhasiat sebagai tumbuhan obat yang sudah sangat popular di masyarakat. Buahapel hijau (Malus sylvestris (L.) Mill) merupakan sumber yang kaya akansenyawa antioksidan karena mengandungquercetin yang merupakan senyawaflavonoid. Buah apel hijau memilikimanfaat sebagai pencegahan penyakitkardiovaskular, diabetes, inflamasi, kanker, dan asma. Suatu pemanfaatanbahan alam dalam upaya kesehatan harusmemenuhi kriteria keamanan, khasiat dan mutu. Untuk memenuhi kriteria tersebut, maka dilakukan skrining fitokimia dan karakterisasi simplisia. Hasil skriningfitokimia yang diperoleh menunjukkanbahwa simplisia buah apel hijaumengandung golongan senyawa flavonoid, polifenol dan tannin. Hasil darikarakterisasi simplisia yaitu kadar sari larut air 9,01 % ± 1,22; kadar sari larutetanol 22,31 % ± 0,04; susut pengeringan7,30 % ±0,22; kadar air 5,5 % ± 0,7, kadarabu total 7 % ± 0,09; kadar abu tidak larutasam 6,95 % ± 0,06.
Studi Literatur Potensi Beberapa Ekstrak Tumbuhan Mengandung Katekin sebagai Antihipertensi Nurul Susanti; Sri Peni Fitrianingsih; Fetri Lestari
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (746.294 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4701

Abstract

Abstract. High blood pressure or hypertension is one of the risks of cardiovascular disease with a high prevalence of death. Hypertension is a condition in which blood pressure exceeds its normal value, namely systolic blood pressure of more than 140 mmHg and diastolic blood of more than 90 mmHg. There are compounds in plant extracts such as palm oil (Elaeis guineensis), red pine (Pinus densiflora Sieb. et Zucc), boysenberry (Rubus ursinus), tea (Camellia sinensis) and almond (Terminallia catappa) namely catechins that have potential to lower blood pressure by mechanisms such as ACEI (Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor). The research was conducted using a systematic literature review method in reputable journals using the keyword “Antihypertensive”, “Catechin as Antihypertensive”, “Catechin” and “Catechin as Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor”. The results of the literarute show that there are plant part that contain catechin compunds, namely leaves, bark, and seeds that have the potential to reduce blood pressure by inhibiting ACE (Angiotensin Converting Enzyme). Abstrak. Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan salah satu risiko penyakit kardiovaskular dengan prevalensi kematian yang cukup tinggi. Hipertensi merupakan kondisi dimana tekanan darah melebihi nilai normalnya yaitu tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg. Terdapat senyawa dalam ekstrak tumbuhan seperti kelapa sawit (Elaeis guineensis), pinus merah (Pinus densiflora Sieb. et Zucc), boysenberry (Rubus ursinus), teh (Camellia sinensis), dan almond (Terminallia catappa) yaitu katekin yang memiliki potensi menurunkan tekanan darah dengan mekanisme seperti ACEI (Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor). Penelitian dilakukan dengan metode Systematic Literature Review (SLR) pada jurnal bereputasi dengan menggunakan kata kunci “Antihypertensive”, “Catechin”, “Catechin as Antihypertensive”, dan “Catechin as Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor”. Hasil penelusuran literatur menunjukkan bahwa terdapat bagian-bagian tumbuhan yang mengandung senyawa katekin yakni daun, kulit kayu, kulit batang dan biji yang berpotensi menurunkan tekanan darah dengan menghambat ACE (Angiotensin Converting Enzyme).
Profil Peresepan Terapi Obat Covid-19 pada Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Santosa Hospital Bandung Kopo Periode Juni-Juli 2021 Muhammad Fakhry Ramadhan; Fetri Lestari; Suwendar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.038 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4833

Abstract

Abstract. Coronavirus Disease 2019 (COVID19) is a disease caused by the SARS-CoV-2 virus and has become a health problem around the world. Since it was first announced in Indonesia, from time to time covid-19 cases have increased in number, requiring special attention. Covid-19 management around the world has not been uniform, but each country is trying various treatment modalities to increase the cure rate. Prescribing profiles can be used as a basis in planning or supplying medicines for a disease and can increase insight and proficiency in counseling and pharmaceutical services for drug therapy. This study is to determine the profile of prescribing drug therapy in COVID-19 patients at Santosa Hospital Bandung Kopo from June to July 2021 period with observational descriptive methods and data collection from medical records with consecutive sampling. COVID-19 patients, in the age range of 46-65 years, totaled 49 patients and dominated by the male sex totaling 49 patients. The length of treatment for the most COVID-19 patients, which is more than 5 days, is 63 patients. The most common use of drugs prescribed on pharmacological therapy is Remdesivir followed by Favipiravir (antiviral), azithromycin (antibiotic), vitamin D3 5000 IU, Enoksaparin sodium (anticoagulant). The most widely prescribed use of drugs on symptomatic therapy is Lansoprazole (gastrointestinal tract), N-Acetylcystein (airway), Dexamethasone (corticosteroids), Acetaminophen (PCT) (analgesics), Betahistine (antihistamines). The most widely used use of drugs in patients with comorbidities are Amlodipine (cardiovascular), Metformin (antidiabetic), Midazolam (psychopharmaceutical). Abstrak. COVID-19 merupakan lanjutan dari wabah virus corona sebelumnya yaitu SARS dan MERS, penyakit ini juga bersifat zoonosis yaitu virus dapat menular dari hewan ke manusia, bahkan dapat menular dari manusia ke manusia. Sampai saat ini sebagian besar obat yang digunakan untuk penderita COVID-19 adalah agen antivirus atau antibodi yang digunakan untuk penyakit lain. Berdasarkan Buku Pedoman Tatalaksana COVID-19 pada bulan Desember 2020, hanya ada beberapa terapi farmakologis yang dianjurkan untuk pasien dengan gejala ringan, sedang atau berat seperti vitamin C, vitamin D, antibiotik berupa azitromisin, antivirus berupa oseltamivir, favipiravir, dan remdesivir, pengobatan simtomatis serta fitofarmaka. Penelitian ini untuk mengetahui profil peresepan terapi obat pada pasien COVID-19 di Rumah Sakit Santosa Hospital Bandung Kopo periode Juni-Juli 2021 dengan metode deskriptif observasional dengan pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan mengambil data sekunder berupa data yang didapat dari rekam medik dan dengan teknik pengambilan sampel yaitu consecutive sampling. Sejumlah 90 pasien COVID-19 terbanyak yaitu pada usia 46-65 tahun sebanyak 49 pasien dan jenis kelamin sebanyak 49 pasien. Lama perawatan terbanyak yaitu diatas 5 hari sebanyak 63 pasien. penggunaan obat yang paling banyak diresepkan pada terapi farmakologi adalah Remdesivir yang dilanjutkan dengan Favipiravir (antivirus), Azitromisin (antibiotik), vitamin D3 5000 IU, Enoksaparin sodium (antikoagulan). Penggunaan obat yang paling banyak diresepkan pada terapi simtomatis adalah Lansoprazole (saluran cerna), N-Acetylcystein (saluran nafas), Deksametason (kortikosteroid), Acetaminophen (PCT) (analgetik), Betahistine (antihistamin). Penggunaan obat yang paling banyak digunakan pada pasien dengan komorbid adalah Amlodipine (kardiovaskular), Metformin (antidiabetes), Midazolam (psikofarmaka).
Studi Kepatuhan Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis pada Pasien Tuberkulosis di Puskesmas Kalibalangan Lampung Utara Sonia Vicka Farlinza; Fetri Lestari; Ratu Choesrnia
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.246 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4834

Abstract

Abstract. Data from the World Health Organization (WHO) 2019 Globally, it is estimated that there were 10.0 million people suffering from Tuberculosis (TB) disease in 2017. It can be seen in Lampung that there was an increase from 2017-2019, which was 25%-54%. The government estimates that the number of TB sufferers will continue to increase. The increasing number of TB sufferers is caused by various factors, namely the lack of patient compliance for treatment and taking medication. The purpose of this study was to determine the level of adherence to the use of anti-tuberculosis drugs in category 1 tuberculosis patients at the Kalibalangan Health Center, North Lampung Regency. The methodology of this research is a descriptive survey with a cross sectional approach. The data on anti-tuberculosis drug adherence was obtained from MMAS-8 questionnaire filled out by TB patients. 36 respondents were included in the inclusion criteria consisting of 1 respondent (3%) in the low category of compliance, 4 respondents (11%) in the medium category and 31 respondents (86%) in the high category of compliance, and 31 respondents (86%) were in the category of high compliance. The results of the intensive phase TB patient adherence to category 1 TB treatment in this study showed that adherence to taking medication was classified as high. Abstrak. Data dari World Health Organization (WHO) 2019 Secara global, diperkirakan terdapat 10,0 juta orang (kisaran 9,0-11,1 juta) menderita penyakit Tuberkulosis (TB) pada 2017. Berdasarkan data angka penemuan kasus TB (CDR) semua kasus TB Di Provinsi Lampung dapat diketahui terjadi kenaikan dari tahun 2017-2019 yaitu sebesar 25%-54%. Pemerintah memperkirakan jumlah penderita TB akan terus meningkat. Jumlah penderita TB yang meningkat disebabkan oleh berbagai faktor, yakni kurangnya tingkat kepatuhan penderita untuk berobat dan meminum obat. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat kepatuhan penggunaan obat anti tuberkulosis pada pasien tuberkulosis kategori 1 di Puskesmas Kalibalangan Kabupaten Lampung Utara. Metodologi penelitian ini ialah survei deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Data kepatuhan minum obat anti tuberkulosis didapatkan dari kuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8) yang diisi oleh responden penderita Tuberkulosis. Dari hasil temuan didapatkan sebanyak 36 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Tingkat kepatuhan dari 36 responden sebanyak 1 responden (3%) masuk dalam kategori kepatuhan rendah, sebanyak 4 responden (11%) masuk dalam kategori kepatuhan sedang, dan 31 responden (86%) masuk dalam kategori kepatuhan tinggi. Hasil kepatuhan pasien TB fase intensif terhadap pengobatan TB kategori 1 pada penelitian ini menunjukkan bahwa kepatuhan minum obat yang tergolong tinggi.
Studi Kepatuhan Pengobatan Pasien Diabetes Melitus Tipe-2 di Puskesmas Desa Rantau Keloyang Provinsi Jambi Laila Afifah AB; Fetri Lestari; Lanny Mulqie
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.652 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4841

Abstract

Abstract. Type 2 Diabetes Mellitus is the most common form of diabetes. Treatment therapy for type 2 diabetes consists of five main components, namely diet, exercise, monitoring of metabolic status, pharmacological therapy, and education. Most patients with type 2 diabetes will experience difficulties in self-management related to physical activity, healthy eating, drug use, blood glucose monitoring, and stress management. Long-term therapy in patients with type 2 diabetes mellitus will greatly determine the level of drug use adherence. This study aims to determine the level of treatment adherence of type 2 DM patients at the Rantau Keloyang Health Center and the factors that influence it. Observational research method with cross sectional design. Retrospective data collection and MMAS-8 questionnaire filling. The level of compliance is seen from the number and average score of each respondent. Then in the analysis of the factors that influence the patient's medication adherence with the results of the questionnaire. The results showed that the level of compliance of patients with Type-2 Diabetes Mellitus at the Puskesmas Rantau Desa Keloyang had a low level of adherence, namely 66% of patients with low adherence, 44% of patients with moderate adherence, and 0% of patients with moderate adherence. patients with moderate adherence. patients with high adherence. Factors that affect patient compliance in taking medication are lack of knowledge and good education to patients, busy patients' time, and difficulty or often forgetting to take medication. Abstrak. Diabetes Melitus Tipe-2 merupakan bentuk paling umum dari diabetes. Terapi pengobatan DM tipe 2 ini terdiri dari lima komponen utama yaitu aturan makan, olahraga, pemantauan status metabolik, terapi farmakologi, dan edukasi. Sebagian besar pasien DM tipe 2 akan mengalami kesulitan dalam pengelolaan diri yang berhubungan dengan aktivitas fisik, makan sehat, penggunaan obat, pemantauan glukosa darah, serta pengelolaan stres. Pengobatan diabetes melitus tipe-2 ini dilakukan dalam jangka panjang sehingga akan sangat menentukan tingkat kepatuhan penggunaan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepatuhan pengobatan pasien DM tipe 2 di Puskemas Desa Rantau Keloyang dan faktor yang mempengaruhinya. Metode penelitian observasional dengan desain cross sectional. Pengambilan data secara retrospektif dan pengisian kuisioner MMAS-8. Tingkat kepatuhan dilihat dari dari jumlah dan rata-rata skor dari setiap responden. Kemudian di analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan pengobatan pasien dengan hasil kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kepatuhan pasien Diabetes Melitus Tipe-2 di Puskesmas Desa Rantau Keloyang memiliki tingkat kepatuhan yang rendah yaitu 66% pasien dengan tingkat keptuhan rendah, 44% pasien dengan kepatuhan sedang, dan 0% pasien dengan kepatuhan tinggi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan pasien dalam melakukan pengobatan yaitu kurangnya pengetahuan dan edukasi yang baik kepada pasien, kesibukan waktu pasien, dan kesulitan atau sering lupa dalam mengkonsumsi obat.
AKTIVITAS ANTIHIPERGLIKEMIA EKSTRAK DAUN NANGKA (Artocarpus heterophyllus Lamk.) DAN DAUN SIRSAK (Annona muricata L.) TERHADAP MENCIT JANTAN Sri Peni Fitrianingsih; Indri - Aryanti; Fetri - Lestari
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.499 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v3i2.37

Abstract

 AbstrakDaun nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.) dan daun sirsak (Annona muricata L.) merupakan beberapa bahan alam yang secara empiris digunakan untuk penanganan Diabetes Mellitus. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas antihiperglikemia ekstrak tunggal dan kombinasi daun nangka dan daun sirsak. Aktivitas antihiperglikemia diuji dengan metode toleransi glukosa pada mencit jantan galur Swiss Webster yang diinduksi glukosa 195 mg/20g BB. Penelitian terdiri dari bbrp kelompok yaitu kelompok kontrol positif, ekstrak daun nangka 7 mg/20 g BB, ekstrak daun sirsak 3,5 mg/20 g BB, kombinasi ekstrak daun nangka dan daun sirsak (1+1), dan kombinasi (½+½) serta pembanding metformin 1,3 mg/20 g BB. Kadar glukosa darah diukur setiap 30 menit selama 2 jam setelah pemberian glukosa menggunakan alat gukometer. Data kadar glukosa darah dan persen penurunannya dianalisa dengan ANAVA dan uji lanjut Tukey HSD. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun sirsak dosis 3,5 mg/20 g BB mencit memiliki aktivitas antihiperglikemia yang lebih baik dibandingkan ekstrak daun nangka dan kombinasi ekstrak daun nangka dan daun sirsak. Kata kunci: daun nangka, Artocarpus heterophyllus Lamk., daun sirsak, Annona muricata L., aktivitas antihiperglikemia AbstractJackfruit leaf (Artocarpus heterophyllus Lamk.) and soursop leaf (Annona muricata L.) are some natural materials which empirically used for the treatment of Diabetes Mellitus. This study was aimed to determine antihyperglycemic activity of single and combination extract of jackfruit leaf and soursop leaf. Antihyperglycemic activity had been examined by glucose tolerance method on Swiss Webster male mice that induced by glucose 195 mg/20g BW. This study consist of 6 groups, those are positive control group, jackfruit leaf extract 7 mg/20 g BW, soursop leaf extract 3,5 mg/20 g BW, combination jackfruit leaf and soursop leaf extracts (1+1), and combination (½+½) and metformin 1,3 mg/20 g BW. Blood glucose level was determined every 30 minutes during 2 hours using glucometer. The data were analyzed by ANOVA and Tukey HSD. The result of this study showed that soursop leaf extract at dose 3,5 mg/20 g BW had antihyperglicemic activity better than jackfruit leaf extract and combination of jackfruit and soursop leaves extract. Keywords : jackfruit leaf, Artocarpus heterophyllus Lamk., soursop leaf, Annona muricata L., antihyperglicemic activity.
Potensi Antiinflamasi Ekstrak Etanol Biji Kurma Ajwa (Phoenix dactylifera L.) terhadap Tikus Wistar Jantan (Rattus norvegicus strain wistar) Muhammad Adril Maulana; Fetri Lestari; Sri Peni Fitrianingsih
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i1.6456

Abstract

Abstract. Inflammation is the body's response to damage in tissues which is characterized by symptoms such as redness, heat, swelling, pain, and loss of function. The ajwa date palm plant (Phoenix dactylifera L.) has secondary metabolite compounds, one of which is flavonoids and phenolic compounds that have anti-inflammatory activity. Based on this background, this study aims to determine the anti-inflammatory potential of ajwa date palm seeds (Phoenix dactylifera L.) in male wistar rats (Rattus norvegicus strain wistar). Samples were extracted by cold extraction using the maceration method. Then a standard solution was made with a concentration of ethanol extract of ajwa date palm seeds 100, and 500 mg/Kg.BB. The method used for anti-inflammatory testing is the paw edema method and the results of the data obtained were analyzed by the Langford method. Then the results of the statistical analysis of the normality test and homogeneity test and non-parametric test. The results showed that ethanol extract of ajwa date palm seeds (Phoenix dactylifera L.) has anti-inflammatory activity by comparing the percentage of udem inhibition at the 60th minute, namely a dose of 100 mg/Kg.BB of 12, 1271%, and a dose of 500 mg/Kg.BB of 3.3082% with the comparison, namely piroxicam tablets 20 mg of 22.1153%. Based on the results obtained, it can be concluded that the ethanol extract of ajwa date palm seeds (Phoenix dactylifera L.) has anti-inflammatory potential against male wistar rats (Rattus norvegicus strain wistar) as seen from the percentage value of udem and percentage of udem inhibition. Abstrak. Inflamasi merupakan respon tubuh terhadap adanya kerusakan dalam jaringan yang dimana ditandai dengan gejala-gejala seperti kemerahan, terasa panas, bengkak, nyeri, dan hingga kehilangan fungsi. Pada tanaman tumbuhan kurma ajwa (Phoenix dactylifera L.) memiliki senyawa metabolit sekunder, salah satunya yaitu flavonoid serta senyawa fenolik yang memiliki aktivitas antiinflamasi. Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi antiinflamasi pada biji kurma ajwa (Phoenix dactylifera L.) terhadap tikus wistar jantan (Rattus norvegicus strain wistar). Sampel diekstraksi dengan ekstraksi cara dingin menggunakan metode maserasi. Kemudian dibuat larutan baku dengan konsentrasi ekstrak etanol biji kurma ajwa sebesar 100, dan 500 mg/Kg.BB. Metode yang digunakan untuk pengujian antiinflamasi yaitu metode edema paw dan hasil data yang didapatkan dianalisis dengan metode langford. Kemudian dilakukan hasil analisis statistik uji normalitas dan uji homogenitas serta pengujian secara non-parametrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol biji kurma ajwa (Phoenix dactylifera L.) memiliki aktivitas antiinflamasi dengan membandingkan persentase inhibisi udem pada menit ke-60 yaitu dosis 100 mg/Kg.BB sebesar 12, 1271% dan dosis 500 mg/Kg.BB sebesar 3,3082% dengan pembanding yaitu piroksikam tablet 20 mg sebesar 22,1153%. Berdasarkan hasil yang didapatkan dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol biji kurma ajwa (Phoenix dactylifera L.) memiliki potensi antiinflamasi terhadap tikus wistar jantan (Rattus norvegicus strain wistar) yang dilihat dari nilai persentase udem dan persentase inhibisi udem.
PERBANDINGAN EKSTRAK BENALU TEH (Scurrula atropurpurea (Bl.) Dans.) DENGAN EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza) SEBAGAI HEPATOPROTEKTOR PADA TIKUS WISTAR Fetri Lestari; Mochamad Tanto Kuswanto; Lanny Mulqie
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v6i1.10816

Abstract

Penggunaan obat antituberkulosis isoniazid dan rifampisin diketahui dapat menyebabkan drug-induced hepatitis sehingga memerlukan pemberian hepatoprotektor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol benalu teh (EBT) dalam mencegah kenaikan kadar Serum Glutamic-Pyruvic Transaminase/ SGPT pada tikus yang diinduksi isoniazid dan rifampisin, dibandingkan dengan ekstrak temulawak (ETL). Sebanyak 24 ekor tikus dibagi menjadi 6 kelompok yaitu kontrol positif; kontrol negatif; tiga kelompok uji masing-masing diberi induktor dan EBT dengan dosis 35, 70, dan 140 mg/kgBB; kelompok pembanding diberi induktor dan sediaan mengandung ETL dengan dosis 36 mg/kgBB. Setelah 15 hari, dilakukan analisa parameter kadar SGPT sampel darah dari vena lateralis ekor. Hasil menunjukkan kelompok EBT dosis 70 mg/kgBB dan 140 mg/kgBB serta kelompok ETL memiliki rata-rata kadar SGPT lebih rendah yang signifikan secara statistik  dibandingkan kelompok kontrol positif  (p<0,05). Rata-rata kadar SGPT kelompok EBT dosis 70 mg/kgBB dan 140 mg/kgBB tidak berbeda bermakna secara statistik dengan kelompok ETL. Sehingga disimpulkan bahwa efek hepatoprotektor ekstrak benalu teh dengan dosis tersebut sebanding dengan ekstrak temulawak.Kata kunci: hepatoprotektor, benalu teh, temulawak, antituberkulosis, SGPTÂ