Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Relationship Between Pre-Pregnancy Body Mass Index (BMI), Number of Pregnancies, and Number of Nutrition Education Participation with Circumference Upper Arm (LILA) of Pregnant Women Aldisurya, Asep Afandi; Akhriani, Mayesti; Wati , Desti Ambar; Dewi, Afiska Prima
Indonesian Journal of Health Research and Development Vol. 1 No. 2 (2023): Indonesian Journal of Health Research and Development
Publisher : CV Media Inti Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58723/ijhrd.v1i2.99

Abstract

Pregnant women's nutritional condition is determined by their Mid-Upper Arm Circumference (MUAC), which measures the body's state of balance. Factors influencing pregnant women's nutritional status include a history of body mass index before pregnancy, the number of pregnancies, and the number of participations in nutrition education. This study sought to discover the link between the history of body mass index before pregnancy, the number of pregnancies, and the number of participations in nutrition education with Mid- Upper Arm Circumference (MUAC) of pregnant women in the Working Area of the Tanjung Bintang Inpatient Public Health Center in 2022. The type of research is observational, analytic design, and cross-sectional, conducted from November to December 2022. The population in the study was 286, and the total sample was 80 respondents using the basic method of random sampling. The instrument used is a questionnaire. The data analysis used is the Spearman Correlation test. The results showed that the average Mid- Upper Arm Circumference (MUAC)of pregnant women was 25.54 with a standard deviation of 3.01, the average respondent's history of BMI was 22.272 kg/m2, the average number of respondents' pregnancies was 2.31 times, the average participation in nutrition education respondents as much as 2.93 times. The data analysis results showed a relationship between body mass index (p=0.0001) and the number of pregnancies (p=0.004) with the Mid- Upper Arm Circumference (MUAC)of pregnant women. There was no correlation between the number of participants in nutrition education (p=0.698) and the Mid- Upper Arm Circumference (MUAC)of pregnant women. It is hoped that the results of this study can add to knowledge about the relationship between the history of body mass index before pregnancy, the number of pregnancies, and the number of participants in nutrition education with MUAC for pregnant women.
Hubungan Pola Konsumsi Sumber Protein Hewani, Riwayat Penyakit Infeksi dan Tingkat Pengetahuan Gizi Ibu dengan Kejadian Stunting Balita 12-59 Bulan Saputri, Ervina Ayu; Abdullah, Abdullah; Akhriani, Mayesti; Marthalena, Yenny
JURNAL RISET GIZI Vol. 13 No. 1 (2025): Mei 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v13i1.12525

Abstract

Latar Belakang: Stunting adalah balita yang memiliki panjang atau tinggi badan kurang dibandingkan dengan anak seumurannya. Secara global 148,1 juta balita mengalami stunting pada tahun 2022. SKI 2023 melaporkan Kabupaten Pringsewu memiliki prevalensi stunting diatas target nasional sebesar 15,8%. Pada bulan Juni 2024 Puskesmas Banyumas melaporkan prevalensi tertinggi stunting terjadi di Pekon Sukamulya (16,3%). Pemahaman terhadap keterkaitan pola konsumsi protein hewani, riwayat penyakit infeksi, dan pengetahuan gizi ibu penting dalam mendukung upaya pencegahan stunting pada balita.Tujuan: Menjelaskan hubungan pola konsumsi sumber protein hewani, riwayat penyakit infeksi dan pengetahuan gizi ibu dengan kejadian stunting balita 12-59 Bulan di Pekon Sukamulya Kabupaten Pringsewu.Metode Penelitian: Jenis penelitian yang digunakan kuantitatif analitik dengan design penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling. Subjek ditentukan dengan rumus ukuran sampel untuk memperkirakan proporsi populasi dengan presisi mutlak penelitian sebanyak 80 balita usia 12-59 bulan. Data diperoleh menggunakan kuesioner Food frequency Questionnaire (FFQ), kuesioner riwayat penyakit infeksi dan pengetahuan ibu. Analisis hasil penelitian menggunakan uji chi-square.Hasil: Hasil penelitian menunjukan 76.3% memiliki status gizi normal, sementara 23.8% nya mengalami stunting. Responden memiliki pengetahuan gizi baik sebanyak 71.3%, kurang 17.5%, dan cukup 11.3%. 80% Responden tidak pernah mengalami penyakit infeksi dalam 3 bulan terakhir, sementara 20% lainnya pernah mengalaminya. Kategori pola konsumsi protein hewani 53.8% responden dalam kategori baik, sedangkan 46.3% lainnya dalam kategori yang kurang.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara pola konsumsi protein hewani (p-value = 0,001 < 0,05), riwayat penyakit infeksi (p-value = 0,001< 0,05) dan pengetahuan gizi ibu (p-value = 0,003 < 0,05) dengan kejadian stunting. Diharapkan puskesmas meningkatkan program penjaringan skrining TBC pada balita. Ibu balita juga harus menerapkan PHBS di tatanan keluarga serta lebih rutin dalam mengikuti kelas pengasuhan.
Hubungan Pola Konsumsi Sumber Protein Hewani, Riwayat Penyakit Infeksi dan Tingkat Pengetahuan Gizi Ibu dengan Kejadian Stunting Balita 12-59 Bulan Saputri, Ervina Ayu; Abdullah, Abdullah; Akhriani, Mayesti; Marthalena, Yenny
JURNAL RISET GIZI Vol. 13 No. 1 (2025): Mei 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v13i1.12525

Abstract

Latar Belakang: Stunting adalah balita yang memiliki panjang atau tinggi badan kurang dibandingkan dengan anak seumurannya. Secara global 148,1 juta balita mengalami stunting pada tahun 2022. SKI 2023 melaporkan Kabupaten Pringsewu memiliki prevalensi stunting diatas target nasional sebesar 15,8%. Pada bulan Juni 2024 Puskesmas Banyumas melaporkan prevalensi tertinggi stunting terjadi di Pekon Sukamulya (16,3%). Pemahaman terhadap keterkaitan pola konsumsi protein hewani, riwayat penyakit infeksi, dan pengetahuan gizi ibu penting dalam mendukung upaya pencegahan stunting pada balita.Tujuan: Menjelaskan hubungan pola konsumsi sumber protein hewani, riwayat penyakit infeksi dan pengetahuan gizi ibu dengan kejadian stunting balita 12-59 Bulan di Pekon Sukamulya Kabupaten Pringsewu.Metode Penelitian: Jenis penelitian yang digunakan kuantitatif analitik dengan design penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling. Subjek ditentukan dengan rumus ukuran sampel untuk memperkirakan proporsi populasi dengan presisi mutlak penelitian sebanyak 80 balita usia 12-59 bulan. Data diperoleh menggunakan kuesioner Food frequency Questionnaire (FFQ), kuesioner riwayat penyakit infeksi dan pengetahuan ibu. Analisis hasil penelitian menggunakan uji chi-square.Hasil: Hasil penelitian menunjukan 76.3% memiliki status gizi normal, sementara 23.8% nya mengalami stunting. Responden memiliki pengetahuan gizi baik sebanyak 71.3%, kurang 17.5%, dan cukup 11.3%. 80% Responden tidak pernah mengalami penyakit infeksi dalam 3 bulan terakhir, sementara 20% lainnya pernah mengalaminya. Kategori pola konsumsi protein hewani 53.8% responden dalam kategori baik, sedangkan 46.3% lainnya dalam kategori yang kurang.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara pola konsumsi protein hewani (p-value = 0,001 < 0,05), riwayat penyakit infeksi (p-value = 0,001< 0,05) dan pengetahuan gizi ibu (p-value = 0,003 < 0,05) dengan kejadian stunting. Diharapkan puskesmas meningkatkan program penjaringan skrining TBC pada balita. Ibu balita juga harus menerapkan PHBS di tatanan keluarga serta lebih rutin dalam mengikuti kelas pengasuhan.
Hubungan Pola Konsumsi Sumber Protein Hewani, Riwayat Penyakit Infeksi dan Tingkat Pengetahuan Gizi Ibu dengan Kejadian Stunting Balita 12-59 Bulan Saputri, Ervina Ayu; Abdullah, Abdullah; Akhriani, Mayesti; Marthalena, Yenny
JURNAL RISET GIZI Vol. 13 No. 1 (2025): Mei 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v13i1.12525

Abstract

Latar Belakang: Stunting adalah balita yang memiliki panjang atau tinggi badan kurang dibandingkan dengan anak seumurannya. Secara global 148,1 juta balita mengalami stunting pada tahun 2022. SKI 2023 melaporkan Kabupaten Pringsewu memiliki prevalensi stunting diatas target nasional sebesar 15,8%. Pada bulan Juni 2024 Puskesmas Banyumas melaporkan prevalensi tertinggi stunting terjadi di Pekon Sukamulya (16,3%). Pemahaman terhadap keterkaitan pola konsumsi protein hewani, riwayat penyakit infeksi, dan pengetahuan gizi ibu penting dalam mendukung upaya pencegahan stunting pada balita.Tujuan: Menjelaskan hubungan pola konsumsi sumber protein hewani, riwayat penyakit infeksi dan pengetahuan gizi ibu dengan kejadian stunting balita 12-59 Bulan di Pekon Sukamulya Kabupaten Pringsewu.Metode Penelitian: Jenis penelitian yang digunakan kuantitatif analitik dengan design penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling. Subjek ditentukan dengan rumus ukuran sampel untuk memperkirakan proporsi populasi dengan presisi mutlak penelitian sebanyak 80 balita usia 12-59 bulan. Data diperoleh menggunakan kuesioner Food frequency Questionnaire (FFQ), kuesioner riwayat penyakit infeksi dan pengetahuan ibu. Analisis hasil penelitian menggunakan uji chi-square.Hasil: Hasil penelitian menunjukan 76.3% memiliki status gizi normal, sementara 23.8% nya mengalami stunting. Responden memiliki pengetahuan gizi baik sebanyak 71.3%, kurang 17.5%, dan cukup 11.3%. 80% Responden tidak pernah mengalami penyakit infeksi dalam 3 bulan terakhir, sementara 20% lainnya pernah mengalaminya. Kategori pola konsumsi protein hewani 53.8% responden dalam kategori baik, sedangkan 46.3% lainnya dalam kategori yang kurang.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara pola konsumsi protein hewani (p-value = 0,001 < 0,05), riwayat penyakit infeksi (p-value = 0,001< 0,05) dan pengetahuan gizi ibu (p-value = 0,003 < 0,05) dengan kejadian stunting. Diharapkan puskesmas meningkatkan program penjaringan skrining TBC pada balita. Ibu balita juga harus menerapkan PHBS di tatanan keluarga serta lebih rutin dalam mengikuti kelas pengasuhan.
Hubungan Indeks Massa Tubuh dan Persen Lemak Total Dengan Kadar Gula Darah Sewaktu Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe II di UPTD Puskesmas Kotaagung Tahun 2024 Nuzila Meysa Rhasetia; Wati, Desti Ambar; Akhriani, Mayesti; Lestari, Lara Ayu
Media Gizi Kesmas Vol 14 No 2 (2025): MEDIA GIZI KESMAS (DECEMBER 2025)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgk.v14i2.2025.194-200

Abstract

Background: The chronic metabolic condition known as type There is a positive correlation between the risk of developing type 2 diabetes mellitus and Body Mass Index (BMI) and body fat percentage. Signs of type 2 diabetes mellitus are hyperglycemia caused by insulin resistance or insulin deficiency. Pro-inflammatory adipokines are produced as adiposity increases, which interferes with insulin sensitivity, causing blood glucose to accumulate. As a result, the body has difficulty absorbing blood sugar. When blood sugar continues to rise, diabetes develops. Objectives: This study aimed to determine the correlation between Body Mass Index (BMI), total body fat percentage, and random blood glucose levels in individuals with Type 2 Diabetes Mellitus. Methods: This study used a cross-sectional approach, an analytical design, and quantitative methodology. The research was conducted at the Kotaagung Public Health Centre from October to December 2024 with a population of 87 and a research sample of 58 Diabetes Mellitus patients using the method of random sampling. A questionnaire was employed as the research tool, measuring body weight and body fat percentage with a Karada scan tool, measuring height using a microtome, and measuring blood sugar levels with a glucometer. Data analysis used the Pearson test. Results: The respondent characteristics by gender showed 19 men (32.8%) and 39 women (67.2%). The mean Body Mass Index (BMI) was 22.23±3.25 kg/m² for men and 25.36±3.58 kg/m² for women. For total body fat percentage, the mean was 20.93±2.95% for men and 36.65±5.82% for women. The mean Random Blood Glucose (RBG) level was 211.00±67.4 mg/dL for men and 258.05±96.24 mg/dL for women. Conclusion: In type 2 diabetes patients treated at Kotaagung Health Center, there was a correlation between random blood sugar levels with body mass index and body fat percentage, with a p-value=0.000.