Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Hubungan Frekuensi Konsumsi Pangan, Keanekaragaman Konsumsi Pangan dan Tingkat Stres dengan Hipertensi pada Lanjut Usia (Lansia) Kusumawati, Astiwi Fadillah; Abdullah, Abdullah; Khairani, Masayu Dian; Akhriani, Mayesti
JPP JURNAL KESEHATAN POLTEKKES PALEMBANG Vol 19 No 2 (2024): JPP (Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jpp.v19i2.2438

Abstract

Background: Hypertension is a serious medical condition and can increase the risk of other diseases. This disease causes premature death worldwide, with >1 in 4 men and 1 in 5 women suffering from this disease. The purpose of this study was to determine the relationship between the frequency of food consumption, diversity of food consumption and stress levels in the elderly in Pekon Sumber Agung, Ambarawa District, Pringsewu Regency. Sampling used purposive sampling. The population in this study were the elderly in Pekon Sumber Agung, Ambarawa District, Pringsewu Regency. The number of samples was 55 elderly people. Data were collected by direct interviews with respondents and analyzed bivariately using the Gamma test Method: This study is a quantitative study with a cross-sectional research design. Results: The results of this study indicate that there is a relationship between the frequency of food consumption (p-0.005), diversity of food consumption (p-0.001), and stress levels (p-0.001) with hypertension in the elderly in Pekon Sumber Agung, Ambarawa District, Pringsewu Regency. Conclusion: hypertension in the elderly is caused by the frequency of food consumption, the diversity of food consumption that is not diverse enough and stress levels. Suggestions for Pekon Sumber Agung, Ambarawa District, Pringswu Regency with the results of this study, the researcher hopes that routine posyandu will be carried out in every hamlet and more activities will be added at the elderly posyandu such as elderly gymnastics and nutritional counseling
PRILAKU MAKAN EXTERNAL DAN RESTRAINED EATING BERHUBUNGAN DENGAN TOTAL PERSEN LEMAK PADA REMAJA Akhriani, Mayesti; Nurhayati, Aftulesi; Billah, Muhammad Muayyad; Kurniawati, Meti; Muharammah, Alifiyanti
Ensiklopedia of Journal Vol 7, No 2 (2025): Vol. 7 No. 2 Edisi 3 Januari 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/eoj.v7i2.2803

Abstract

 Abstract: Adolescent obesity is a nutritional problem in society influenced by genetic factors, excess energy intake and a sedentary lifestyle. Emotional eating, external eating and restraint are eating behaviors leading to excessive intake. This study aimed to determine the correlation between eating behavior (emotional, external and eating control) and the percentage of total fat in adolescents. This cross-sectional study recruited 79 teenagers aged 15-17 years, with a gender proportion of 75% female. Data collected in December 2022 includes eating behavior data using the Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ) questionnaire in Bahasa. Anthropometric data including body weight and total percent fat used Bioelectrical Impedance Analysis (BIA), while body height was measured using a stadiometer. The results of the nutritional status of Body Mass Index (BMI) to age showed that 27% of respondents were overweight with a median total fat percentage of 24%. The results of the Sperman-Rank statistical test showed that there was a significant relationship between external eating and total fat percentage (p value 0.015), and restrained eating and total fat percentage (p value 0.001). The conclusion of this study is that there is no significant correlation between emotional eating and total fat percentage, and there was a significant relationship of external and restrained eating with total fat percentage in adolescents.Keywords: External, Restrained, Adolescents
The Correlation Between Protein Intake And Muscle Mass in Breast Cancer Patients at Dr. H. Abdul Moeloek Regional Hospital Mastuti, Yuni; Akhriani, Mayesti; Junita, Dera Elva; Muharramah, Alifiyanti
JURNAL KESMAS DAN GIZI (JKG) Vol. 6 No. 2 (2024): Jurnal Kesmas dan Gizi (JKG)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35451/jkg.v6i2.2048

Abstract

Breast cancer is the second-leading cause of death among women. Since protein serves as a building ingredient for cells, muscles, and tissues, eating enough of it is thought to be essential for gaining muscle mass. The cornerstone for cancer patients to maintain and/or gain muscle mass will be an adequate protein intake. In this study, breast cancer patients' muscle mass was measured and a 24-hour recall of their weekdays and weekends was conducted. The average amount of protein consumed by participants was 31.22 grams, and the average percentage of muscle mass was 24.02%. The purpose of this study is to ascertain how breast cancer patients' protein consumption and muscle mass relate to one another. This study uses quota sampling as the sample method and a cross-sectional design. There were fifty-six responders in the sample. This research uses the Spearman rank. The normality test results show that the significance value for muscle mass is p value = 0.016 (p < 0.05), it can be concluded that the data is distributed abnormally. Meanwhile, the normality test results for protein intake p-value = 0.200 (p > 0.05) can be concluded that the data is normally distributed, so it is continued with the Spearman rank correlation test. Based on the results of the Spearman rank correlation test, a correlation coefficient value of 0.488 was obtained with a significance p-value of 0.0001. So there is a positive significant correlation between protein intake and muscle mass in breast cancer sufferers at Dr. H. Abdul Moeloek Regional Hospital of Lampung Province p value = 0.0001 (p<0.05).
Hubungan Pola Konsumsi Sumber Protein Hewani, Riwayat Penyakit Infeksi dan Tingkat Pengetahuan Gizi Ibu dengan Kejadian Stunting Balita 12-59 Bulan Saputri, Ervina Ayu; Abdullah, Abdullah; Akhriani, Mayesti; Marthalena, Yenny
JURNAL RISET GIZI Vol 13, No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v13i1.12525

Abstract

Latar Belakang: Stunting adalah balita yang memiliki panjang atau tinggi badan kurang dibandingkan dengan anak seumurannya. Secara global 148,1 juta balita mengalami stunting pada tahun 2022. SKI 2023 melaporkan Kabupaten Pringsewu memiliki prevalensi stunting diatas target nasional sebesar 15,8%. Pada bulan Juni 2024 Puskesmas Banyumas melaporkan prevalensi tertinggi stunting terjadi di Pekon Sukamulya (16,3%). Pemahaman terhadap keterkaitan pola konsumsi protein hewani, riwayat penyakit infeksi, dan pengetahuan gizi ibu penting dalam mendukung upaya pencegahan stunting pada balita.Tujuan: Menjelaskan hubungan pola konsumsi sumber protein hewani, riwayat penyakit infeksi dan pengetahuan gizi ibu dengan kejadian stunting balita 12-59 Bulan di Pekon Sukamulya Kabupaten Pringsewu.Metode Penelitian: Jenis penelitian yang digunakan kuantitatif analitik dengan design penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling. Subjek ditentukan dengan rumus ukuran sampel untuk memperkirakan proporsi populasi dengan presisi mutlak penelitian sebanyak 80 balita usia 12-59 bulan. Data diperoleh menggunakan kuesioner Food frequency Questionnaire (FFQ), kuesioner riwayat penyakit infeksi dan pengetahuan ibu. Analisis hasil penelitian menggunakan uji chi-square.Hasil: Hasil penelitian menunjukan 76.3% memiliki status gizi normal, sementara 23.8% nya mengalami stunting. Responden memiliki pengetahuan gizi baik sebanyak 71.3%, kurang 17.5%, dan cukup 11.3%. 80% Responden tidak pernah mengalami penyakit infeksi dalam 3 bulan terakhir, sementara 20% lainnya pernah mengalaminya. Kategori pola konsumsi protein hewani 53.8% responden dalam kategori baik, sedangkan 46.3% lainnya dalam kategori yang kurang.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara pola konsumsi protein hewani (p-value = 0,001 0,05), riwayat penyakit infeksi (p-value = 0,001 0,05) dan pengetahuan gizi ibu (p-value = 0,003 0,05) dengan kejadian stunting. Diharapkan puskesmas meningkatkan program penjaringan skrining TBC pada balita. Ibu balita juga harus menerapkan PHBS di tatanan keluarga serta lebih rutin dalam mengikuti kelas pengasuhan.
Hubungan Pola Konsumsi Sumber Protein Hewani, Riwayat Penyakit Infeksi dan Tingkat Pengetahuan Gizi Ibu dengan Kejadian Stunting Balita 12-59 Bulan Saputri, Ervina Ayu; Abdullah, Abdullah; Akhriani, Mayesti; Marthalena, Yenny
JURNAL RISET GIZI Vol 13, No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v13i1.12525

Abstract

Latar Belakang: Stunting adalah balita yang memiliki panjang atau tinggi badan kurang dibandingkan dengan anak seumurannya. Secara global 148,1 juta balita mengalami stunting pada tahun 2022. SKI 2023 melaporkan Kabupaten Pringsewu memiliki prevalensi stunting diatas target nasional sebesar 15,8%. Pada bulan Juni 2024 Puskesmas Banyumas melaporkan prevalensi tertinggi stunting terjadi di Pekon Sukamulya (16,3%). Pemahaman terhadap keterkaitan pola konsumsi protein hewani, riwayat penyakit infeksi, dan pengetahuan gizi ibu penting dalam mendukung upaya pencegahan stunting pada balita.Tujuan: Menjelaskan hubungan pola konsumsi sumber protein hewani, riwayat penyakit infeksi dan pengetahuan gizi ibu dengan kejadian stunting balita 12-59 Bulan di Pekon Sukamulya Kabupaten Pringsewu.Metode Penelitian: Jenis penelitian yang digunakan kuantitatif analitik dengan design penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling. Subjek ditentukan dengan rumus ukuran sampel untuk memperkirakan proporsi populasi dengan presisi mutlak penelitian sebanyak 80 balita usia 12-59 bulan. Data diperoleh menggunakan kuesioner Food frequency Questionnaire (FFQ), kuesioner riwayat penyakit infeksi dan pengetahuan ibu. Analisis hasil penelitian menggunakan uji chi-square.Hasil: Hasil penelitian menunjukan 76.3% memiliki status gizi normal, sementara 23.8% nya mengalami stunting. Responden memiliki pengetahuan gizi baik sebanyak 71.3%, kurang 17.5%, dan cukup 11.3%. 80% Responden tidak pernah mengalami penyakit infeksi dalam 3 bulan terakhir, sementara 20% lainnya pernah mengalaminya. Kategori pola konsumsi protein hewani 53.8% responden dalam kategori baik, sedangkan 46.3% lainnya dalam kategori yang kurang.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara pola konsumsi protein hewani (p-value = 0,001 0,05), riwayat penyakit infeksi (p-value = 0,001 0,05) dan pengetahuan gizi ibu (p-value = 0,003 0,05) dengan kejadian stunting. Diharapkan puskesmas meningkatkan program penjaringan skrining TBC pada balita. Ibu balita juga harus menerapkan PHBS di tatanan keluarga serta lebih rutin dalam mengikuti kelas pengasuhan.
Hubungan Pola Konsumsi Sumber Protein Hewani, Riwayat Penyakit Infeksi dan Tingkat Pengetahuan Gizi Ibu dengan Kejadian Stunting Balita 12-59 Bulan Saputri, Ervina Ayu; Abdullah, Abdullah; Akhriani, Mayesti; Marthalena, Yenny
JURNAL RISET GIZI Vol 13, No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v13i1.12525

Abstract

Latar Belakang: Stunting adalah balita yang memiliki panjang atau tinggi badan kurang dibandingkan dengan anak seumurannya. Secara global 148,1 juta balita mengalami stunting pada tahun 2022. SKI 2023 melaporkan Kabupaten Pringsewu memiliki prevalensi stunting diatas target nasional sebesar 15,8%. Pada bulan Juni 2024 Puskesmas Banyumas melaporkan prevalensi tertinggi stunting terjadi di Pekon Sukamulya (16,3%). Pemahaman terhadap keterkaitan pola konsumsi protein hewani, riwayat penyakit infeksi, dan pengetahuan gizi ibu penting dalam mendukung upaya pencegahan stunting pada balita.Tujuan: Menjelaskan hubungan pola konsumsi sumber protein hewani, riwayat penyakit infeksi dan pengetahuan gizi ibu dengan kejadian stunting balita 12-59 Bulan di Pekon Sukamulya Kabupaten Pringsewu.Metode Penelitian: Jenis penelitian yang digunakan kuantitatif analitik dengan design penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling. Subjek ditentukan dengan rumus ukuran sampel untuk memperkirakan proporsi populasi dengan presisi mutlak penelitian sebanyak 80 balita usia 12-59 bulan. Data diperoleh menggunakan kuesioner Food frequency Questionnaire (FFQ), kuesioner riwayat penyakit infeksi dan pengetahuan ibu. Analisis hasil penelitian menggunakan uji chi-square.Hasil: Hasil penelitian menunjukan 76.3% memiliki status gizi normal, sementara 23.8% nya mengalami stunting. Responden memiliki pengetahuan gizi baik sebanyak 71.3%, kurang 17.5%, dan cukup 11.3%. 80% Responden tidak pernah mengalami penyakit infeksi dalam 3 bulan terakhir, sementara 20% lainnya pernah mengalaminya. Kategori pola konsumsi protein hewani 53.8% responden dalam kategori baik, sedangkan 46.3% lainnya dalam kategori yang kurang.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara pola konsumsi protein hewani (p-value = 0,001 0,05), riwayat penyakit infeksi (p-value = 0,001 0,05) dan pengetahuan gizi ibu (p-value = 0,003 0,05) dengan kejadian stunting. Diharapkan puskesmas meningkatkan program penjaringan skrining TBC pada balita. Ibu balita juga harus menerapkan PHBS di tatanan keluarga serta lebih rutin dalam mengikuti kelas pengasuhan.
TINGKAT PENGETAHUAN PREBIOTIK, PROBIOTIK, DAN ASUPAN SERAT DENGAN KEJADIAN KONSTIPASI PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DENGAN HEMODIALISA: Relation Between Knowledge of Prebiotic, Probiotik and Fiber Intake on The Incidence of Contipation Among Patient with Chronic Kidney Disease on Hemodialysis Amara, Talika; Nurhayati, Aftulesi; Elva Junita, Dera; Akhriani, Mayesti
Media Gizi Pangan Vol 32 No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Media Gizi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mgp.v32i1.849

Abstract

Hemodialisa mengharuskan pasien untuk melakukan pembatasan seperti pembatasan pola makan dan aktivitas fisik selama pasien melakukan hemodialisa. Hal tersebut menimbulkan gangguan pada sistem pencernaan yaitu konstipasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan tingkat pengetahuan prebiotik, probiotik, dan asupan serat pada kejadian konstipasi pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di Rumah Sakit Bhayangkara Bandar Lampung. Jenis penelitian analitik kuantitatif, dengan pendekatan cross-sectional. Total populasi sample adalah 91 responden penyakit ginjal kronik dengan hemodialisa pada bulan mei – juni 2024. Teknik sampling menggunakan purposive sampling. Analisi data yang digunakan meliputi data univariat dan bivariat dengan menggunakan uji statistik chi-square. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesionesr tingkat pengetahuan prebiotik dan probiotik milik refita et al., (2021), formulir 2 x 24 jam food recall untuk asupan serat, dan Bristol Stool Chart untuk mengetahui tingkat kejadia konstipasi responden. Hasil penelitian diperoleh ada hubungan tingkat pengetahuan prebiotik dan probiotik (p=0.002), serta asupan serat (p=0.004) dengan kejadian konstipasi pada pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisa. Saran untuk penelitian kedepan untuk melakukan konsultasi gizi dengan menambahkan materi mengenai prebiotik dan probiotik serta asupan serat oleh ahli gizi kepada pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisis.
Hubungan tingkat kecukupan energi, protein dan risiko eating disorder dengan status gizi (underweight) pada remaja putri usia 15-17 tahun di SMKN 1 Talang Padang Masyana, Ratu; Muharramah, Alifiyanti; Abdullah, Abdullah; Akhriani, Mayesti
FLORONA : Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2025): Florona: Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : ARKA INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55904/florona.v4i1.1365

Abstract

Fase remaja merupakan fase perkembangan yang terjadi secara pesat, sehingga membutuhkan asupan zat gizi yang seimbang dan juga relatif besar, apabila konsumsi zat gizi tidak seimbang akan mengakibatkan defisiensi pada zat gizi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecukupan energi, kecukupan protein, dan risiko eating disorder dengan status gizi (underweight) pada remaja putri di SMKN 1 Talang Padang. Desain penelitian menggunakan desain penelitian cross sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik random sampling dengan jumlah sampel 78 responden. Instrumen yang digunakan meliputi timbangan berat badan, microtoise, kuesioner eating disorder, dan formulir recall 24 jam serta dianalisis data menggunakan uji SPSS 25. Hasil penelitian yang telah dilakukan analisis data dengan menggunakan uji chi-square menunjukkan adanya hubungan antara tingkat kecukupan energi, tingkat kecukupan protein, dan risiko eating disorder dengan status gizi remaja putri yang dibuktikan dengan nilai p-value masing-masing yaitu 0.001. Sehingga dapat disimpulkan bahwa asupan gizi dan perilaku makan merupakan faktor penting yang memengaruhi status gizi remaja putri di lingkungan SMKN 1 Talang Padang.
PENGARUH MODIFIKASI LAUK NABATI TERHADAP CITA RASA DAN DAYA TERIMA MENU MAKAN PAGI PASIEN RAWAT INAP Rosida, Oktania; Akhriani, Mayesti; Junita, Dera Elva; Wahyudi, Dian Arif
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 11, No 2 (2025): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v11i2.1342

Abstract

The acceptability of hospital food is reflected by the amount of food left over. High levels of leftover food result inadequate nutrition for patients and economy aspect indicate wasted costs, which makes the food budget inefficient and ineffective. The study was aimed to determine the effect of plant-based dish modification on the taste and acceptability of the breakfast menu for Class III inpatient patients. The study was quantitative that used a quasi-experimental design with a static group comparison design, conducted in October 2024, at Batin Mangunang Regional General Hospital. The sample consisted of all Class III soft food diet patients with total 30 respondents using purposive sampling as the sampling technique. The total population was 30 patients. Bivariate analysis in this study used the Wilcoxon test. Data collected was using the instrument questionnaire. The results of the study showed that there was an effect of modifying the plant-based dish (tofu) on acceptability and preference levels for appearance (p-value 0.000), color (p-value 0.001), shape (p-value 0.001), portion (p-value 0.001), presentation (p-value 0.001), taste (p-value 0.001), aroma (p-value 0.001), cooking level (p-value 0.001), seasoning (p-value 0.001), and temperature (p-value 0.001). Based on the results of the analysis, it was concluded that there was a relationship between modifications of the vegetable side dish menu of tofu and the acceptability which could affect the patient's food intake. Jumlah makanan yang tersisa sangat sedikit, menunjukkan daya terima makanan pasien rumah sakit. Tingkat sisa makanan yang tinggi dapat mengurangi kebutuhan gizi pasien dan secara ekonomis dapat menyebabkan anggaran makanan kurang efisien dan efektif. Tujuan penelitian untuk mengetahui bagaimana perubahan lauk nabati berdampak pada cita rasa dan daya terima menu makan pagi pasien rawat inap kelas III. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan rancangan perbandingan grup statis, dan telah dilakukan di RSUD Batin Mangunang pada bulan Oktober 2024. Pada penelitian ini, subjek yang digunakan ialah seluruh pasien diet makanan lunak kelas III, yang berjumlah 30 responden. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling dengan total populasi 30 pasien. Penelitian ini menggunakan uji Wilcoxon untuk analisis bivariat. Pengumpulan data menggunakan instrumen kuesioner. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat pengaruh modifikasi lauk nabati tahu terhadap daya terima dan tingkat kesukaan penampilan (p-value 0,000), warna (p-value 0,000), bentuk (p-value 0,000), porsi (p-value 0,000), penyajian (p-value 0,000), rasa (p-value 0,000), aroma (p-value 0,000), tingkat kematangan (p-value 0,000), bumbu (p-value 0,000), dan suhu (p-value 0,000). Berdasarkan hasil analisis disimpulkan terdapat hubungan diantara modifikasi menu lauk nabati tahu dengan daya terima yang dapat memengaruhi asupan makan pasien.
Hubungan Asupan Lemak Dan Asupan Serat Dengan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi Usia 35-75 Tahun Di Wilayah Uptd Puskesmas Pasiran Jaya Septiana, Rima; Junita, Dera Elva; Wati, Desti Ambar; Akhriani, Mayesti
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hypertension is a condition when systolic blood pressure is > 120 mmHg and diastolic blood pressure is > 80 mmHg. Factors that influence the occurrence of hypertension are such as diet (sodium, potassium, fiber, and fat intake), as well as exercise habits. Low fiber intake can cause less excretion of bile acids through feces, resulting in a lot of cholesterol being absorbed from the bile. Cholesterol that is widely distributed in the blood vessels will inhibit blood circulation, thus increasing blood pressure. The purpose of this study was the relationship between fat intake and fiber intake with blood pressure in hypertensive patients aged 35-75 years at the Pasiran Jaya Health Center UPTD in 2024. This study was conducted in September - November 2024. The design in this study used a quantitative design with the approach used was cross sectional, the sample of this study was hypertensive respondents in the Pasiran Jaya Health Center UPTD Area, Tulang Bawang Regency, as many as 103 respondents with the sampling technique used was accidental sampling. the measuring instrument used was the SQ FFQ instrument and blood pressure. The bivariate analysis of this study used the Pearson test. The results of the statistical test analysis showed that there was a relationship between fat intake and systolic blood pressure with a P Value (p = 0.027) and diastolic (p = 0.032) in hypertensive patients aged 35-75 years in the Pasiran Jaya Tulang Bawang Health Center UPTD Area in 2024. The results of the statistical test analysis There is a relationship between fiber intake and systolic blood pressure with a P Value (p = 0.003) and diastolic (p = 0.001) in hypertensive patients aged 35-75 years in the Pasiran Jaya Tulang Bawang Health Center UPTD Area in 2024. Every patient is expected to be able to consume sufficient fat and fiber so that blood pressure remains normal.