Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Gambaran Tingkat Kecemasan Wanita Usia Subur yang Mengalami Keputihan Patologis Andari, Aprilina Sulistya; Priasmoro, Dian Pitaloka; Indari, Indari
Nursing Information Journal Vol. 2 No. 2 (2023): Nursing Information Journal
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STIKES Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54832/nij.v2i2.378

Abstract

Pendahuluan: Keputihan yang terjadi dapat menekan kejiwaan seseorang karena keputihan dapat kambuh dan muncul kembali sehingga dapat berpengaruh pada seseorang baik secara fisiologi maupun psikologis dan dapat menimbulkan kecemasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan wanita usia subur yang mengalami keputihan patologis. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini yaitu semua wanita usia subur yang mengalami keputihan di RW 08 Desa Mojosarirejo sebanyak 101 wanita. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan kriteria inklusi wanita usia subur usia 20-45 tahun yang bersedia menjadi responden dan masih mengalami menstruasi, wanita usia subur usia 20-45 tahun yang mengalami dan pernah mengalami keputihan patologis, dan wanita usia subur usia 20-45 tahun yang tidak buta huruf, jumlah sampel sebanyak 35 responden. Variabel yang diteliti adalah tingkat kecemasan Wanita Usia Subur yang mengalami keputihan patologis. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner DASS 42 yang terdiri dari 14 pernyataan tentang ansietas, yang mengevaluasi bagaimana perasaan responden, selanjutnya data yang yang terkumpul di analis dengan analisis Univariat dan di sajikan dalam bentuk persentase. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mengalami kecemasan ringan sebanyak 19 responden (54%), sebagian kecil mengalami kecemasan sedang sebanyak 11 responden (32%), dan sebagian kecil tidak mengalami kecemasan atau normal sebanyak 5 responden (14%). Kecemasan yang terjadi dimungkinkan karena beberapa faktor yaitu usia, pendidikan, dan pengetahuan yang kurang. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian diharapkan responden peduli akan kesehatannya dengan cara mencari informasi. Dengan mengetahui informasi penanganan penyakit maka akan membentuk mekanisme koping yang baik sehingga tidak salah persepsi dan menimbulkan kecemasan. Diharapkan hasil penelitian ini dapat berguna sebagai acuan pengembangan ilmu keperawatan dan perencanaan keperawatan melalui promosi kesehatan.
Gambaran Tingkat Kecemasan Tentang Karir pada Mahasiswa Tingkat Akhir Prodi D3 Keperawatan ITSK RS dr. Soepraoen Malang Irnanda, Ella; Indari, Indari; Aminah, Tien
Nursing Information Journal Vol. 3 No. 1 (2023): Nursing Information Journal
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STIKES Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54832/nij.v3i1.481

Abstract

Pendahuluan: Keterserapan tenaga perawat yang semakin sedikit berbanding terbalik dengan angka kelulusan mahasiswa perawat setiap tahun. Lapangan pekerjaan yang semakin sempit, tingkat pengangguran yang cukup tinggi dan persaingan dunia kerja yang ketat untuk memperoleh peluang kerja. Hal ini membuat keresahan bagi mahasiswa prodi D3 keperawatan untuk karirnya setelah menjadi sarjana. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi seluruh mahasiswa tingkat akhir prodi D3 Keperawatan ITSK RS dr. Soepraoen Malang. Sampel pada penelitian ini sebagian mahasiswa tingkat akhir Prodi D3 Keperawatan ITSK RS dr. Soepraoen Malang. Menggunakan teknik purposive sampling dengan 60 responden. Variabel penelitian tingkat kecemasan tentang karir pada mahasiswa Prodi D3 Keperawatan. Alat ukur menggunkan lembar kuesioner, kemudian di analisa data menggunakan editing, scoring, coding, tabulating, dan presentase, setelah itu dilakukan penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kecemasan karir pada mahasiswa, hampir setengah dari 19 responden (31,7%) dalam kategori panik, sangat sedikit 7 responden (11,7%) dalam kategori cemas ringan. Hasil penelitian tersebut bisa disebabkan karena beberapa faktor seperti usia, ekonomi, jenis kelamin, pengalaman kerja, serta pendapatan orang tua. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian diharapkan responden mampu untuk meningkatkan kemampuan kognitif, skill, dan memiliki efikasi diri serta perencanaan karir yang matang agar dapat mengurangi cemas yang akan berdampak pada hambatan dalam pemilihan serta kematangan karir.
Korelasi Dukungan Keluarga dengan Kejadian Self Harm pada Remaja Andi Bunga Tenri Ayu; Alfunnafi Fahrul Rizzal; Indari Indari
JURNAL RISET RUMPUN ILMU KESEHATAN Vol. 5 No. 1 (2026): April: Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan
Publisher : Pusat riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrikes.v5i1.7914

Abstract

Self-harm among adolescents is a mental health problem influenced by various psychosocial factors, including family support. The family serves as the primary support system that can protect adolescents from the effects of stress and maladaptive coping behaviors. This study aimed to analyze the relationship between family support and the incidence of self-harm among adolescents. The study employed an analytic quantitative design with a cross-sectional approach. The research sample consisted of 476 adolescents selected using a cluster random sampling technique. Family support was measured using the Perceived Social Support–Family (PSS-Fa) questionnaire, while the incidence of self-harm was assessed using the Self-harm Inventory (SHI). Data were analyzed using the Spearman Rank test. The results showed that the majority of respondents had high levels of family support (65.8%) and did not engage in self-harm (78.2%). Bivariate analysis indicated a significant relationship between family support and the incidence of self-harm among adolescents (p < 0.001), where adolescents with high family support were more likely to be in the non–self-harm category, while mild and severe self-harm were more commonly found among adolescents with low family support. This study concludes that family support plays an important role as a protective factor against self-harm among adolescents. Strengthening the role of the family should be a key focus in family-based nursing interventions for the prevention of mental health problems in adolescents.
Basic Life Support Training On Ability And Self- Confidence Student In Handling Cardiac Arrest Cahyadi, Faisal Ahmad; Hastuti, Apriyani; Indari, Indari; Kurniawan, Ardhiles Wahyu; Laksono, Bayu Budi; Jamil, Mokhtar; ristanto, riki; Fani, Rif'atul; Roesardhyati, Ratna; Soares, Domingos
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Vol 10 No 4 (2025): JURNAL KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jkm.v10i4.27738

Abstract

Background: Basic life support or BLS is a series of first aid measures in emergency situations to save the life of someone experiencing cardiac arrest or respiratory problems. Objective This research aims to determine the effect of BLS (basic life support) training on students' knowledge and self-confidence in handling cardiac arrest in students Bachelor of Nursing Study Program ITSK RS Dr Soepraoen Malang. Method In this study, a pre-experimental research design was used, namely research in which before the research was carried out, the sample was given first in the form of a pre-test on December 18th 2024 and at the end of the study the sample was given a post-test on December 22 2024. The population in this study were college study in Department of Nursing with 160 students involving 160 students as samples using the Cluster sampling method. The independent variable in this research is Basic Life Support (BLS) training and the dependent is knowledge and self-confidence, the data from the examination results are analyzed using univariate and bivariate analysis. Results The research results showed that students' knowledge in handling cardiac arrest was mostly poor, as many as 128 students (80%). and after students took part in the training, there was an increase in students, namely to 44 people (27.50%) who answered correctly and those who answered with less marks decreased to 66 students (41.25%). Meanwhile, the level of self-confidence of students in handling cardiac arrest was found to be mostly good, 112 people (70%). Students' self-confidence also increased for the better, to 138 people (86.25%) who answered good and the remaining 22 people (13.75%) answered enough. Conclusion There is an influence of basic life support training on students' level of knowledge and self-confidence in handling cardiac arrest. It is hoped that students can apply the knowledge they have gained from BLS training and continue to increase their knowledge and self-confidence to help victims with cardiac arrest.
The Stigma Associated With Mental Illness and How it Affects Adolescents' Desire for Assistance Indari; Titi Sri Suyanti; Rahmi Sari Kasoema; Amrina Rasyada
Sustainable Applied Modification Evidence Community (SAMEC) Vol 2 No 2 (2025): December, 2025
Publisher : CV. Get Press Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69855/samec.v2i2.282

Abstract

Adolescent mental health issues are becoming more and more of a global concern.  However, the stigma associated with mental illness continues to be a significant obstacle to getting psychological assistance, particularly for young people. Purpose: This study aims to explore the relationship between the level of stigma against mental illness with the tendency of adolescents to seek professional help. Methods: The research method used is descriptive quantitative survey approach. The sample consisted of 75 adolescents aged 15-18 years who were selected purposively. The instrument used was a questionnaire consisting of two scales: the scale of stigma against mental illness and the scale of seeking psychological help. Results: The results showed that there was a significant negative relationship between the level of stigma with the tendency to seek help (r = -0.56, p < 0.01), which means that the higher the level of stigma, the lower the tendency of adolescents to seek professional help. In addition, adolescent girls tend to have less stigma and are more open to seeking help than adolescent boys. Implications: The implications of these findings suggest the importance of mental health education interventions in schools to reduce stigma and improve mental health literacy. The involvement of teachers, counselors, and parents is key in creating an environment that supports teens to speak up and seek help without fear of being judged. Conclusion: In conclusion, stigma around mental illness is a major factor in preventing teenagers from seeking treatment, and lowering stigma is a calculated move to increase access to mental health care.
Hubungan Antara Regulasi Emosi dengan Kualitas Hidup Pada Pasien Kanker Payudara yang Menjalani Kemoterapi di RST II dr. Soepraoen Septa Jaya Amanda; Indari Indari; Dion Kunto Adi Patria
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52050

Abstract

AbstrakKanker payudara merupakan salah satu jenis kanker dengan prevalensi tertinggi di dunia, termasuk di Indonesia. Proses kemoterapi sering menimbulkan efek samping fisik dan psikologis yang berdampak pada penurunan kualitas hidup pasien. Regulasi emosi memiliki peran penting dalam membantu pasien mengatasi stres selama menjalani pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara regulasi emosi dan kualitas hidup pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di RST II dr. Soepraoen Malang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan desain cross-sectional dan melibatkan 80 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner ERQ dan EORTC QLQ-C30, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rho. Hasil menunjukkan sebagian besar responden memiliki regulasi emosi dan kualitas hidup dalam kategori baik. Terdapat hubungan positif signifikan antara regulasi emosi dan kualitas hidup dengan nilai r = 0,289 dan p = 0,009 (p < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan mengatur emosi dapat membantu individu beradaptasi terhadap stres akibat pengobatan. Oleh karena itu, intervensi psikologis yang berfokus pada penguatan strategi regulasi emosi disarankan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kanker payudara.Kata Kunci: Kanker Payudara, Regulasi Emosi, Kualitas Hidup. AbstractBreast cancer is one of the most prevalent cancers worldwide, including in Indonesia. Chemotherapy often causes physical and psychological side effects that can significantly reduce patients’ quality of life. Emotional regulation plays a crucial role in helping patients cope with stress during treatment. This study aimed to analyze the relationship between emotional regulation and quality of life among breast cancer patients undergoing chemotherapy at RST II dr. Soepraoen Malang. The study employed a quantitative correlational approach with a cross-sectional design involving 80 respondents selected through purposive sampling. Data were collected using the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) and the EORTC QLQ-C30, then analyzed using the Spearman Rho correlation test. The results showed that most respondents had good emotional regulation and quality of life levels. A significant positive correlation was found between emotional regulation and quality of life (r = 0.289; p = 0.009, p < 0.05). These findings indicate that the ability to regulate emotions helps individuals adapt to treatment-related stress. Therefore, psychological interventions focusing on strengthening emotional regulation strategies are recommended to enhance the quality of life of breast cancer patientsKeywords: Breast cancer, Emotional regulation, Quality of life.
INTERVENSI ORIENTASI REALITA PADA PASIEN SKIZOFRENIA DENGAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN GANGGUAN PROSES PIKIR DI RUANG KAKA TUA RUMAH SAKIT JIWA DR. RADJIMAN WEDIODININGRAT LAWANG Nuzulul Rizqi Hamdani; Indari; Juliati Koesrini
Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi Vol. 3 No. 2 (2026): Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi (Februari 2026)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/jurmie.v3i2.1662

Abstract

Schizophrenia is a severe mental disorder characterized by disturbances in thought processes, including grandiose delusions that affect social functioning and patient behavior. Reality Orientation Therapy (ROT) is a nursing intervention that helps patients recognize reality through therapeutic communication. This scientific paper aims to describe the implementation of Reality Orientation Therapy in patients with schizophrenia with the nursing diagnosis of disturbed thought processes: grandiose delusions in the Kaka Tua Ward of Dr. Radjiman Wediodiningrat Mental Hospital, Lawang. The study used a descriptive design with a case report approach involving two patients with schizophrenia. Data were collected through interviews, observation, mental status examinations, and medical record documentation. Interventions included orientation to person, place, and time, establishing a therapeutic relationship, medication adherence education, and family involvement. The results showed decreased delusional verbalization and improved reality orientation, communication, and concentration. Reality Orientation Therapy is effective in helping control disturbed thought processes in patients with schizophrenia experiencing grandiose delusions.
Psikoedukasi dan Pemberdayaan Caregiver Rumah Singgah Dompet Dhuafa Malang Indari, Indari; Astuti, Apriyani Puji; M, Mustikha Wida; Putri, Nirra Riana
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 4 (2026): Volume 9 Nomor 4 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i4.23653

Abstract

ABSTRAK Pendamping pasien kanker (caregiver) memiliki peran penting dalam mendukung proses perawatan, namun beban fisik, emosional, sosial, serta kurangnya aktivitas positif sering menurunkan kualitas hidup dan kesehatan mental mereka. Kondisi ini juga terlihat pada caregiver di Rumah Singgah Dompet Dhuafa Malang yang mengalami kelelahan, kecemasan, dan tidak memiliki pengetahuan memadai dalam merawat pasien. Meningkatkan kesehatan mental dan kualitas hidup caregiver melalui program psikoedukasi dan pemberdayaan. Metode pelaksanaan mencakup analisis situasi, penyusunan materi, empat sesi psikoedukasi (pengkajian masalah, pelatihan perawatan pasien, manajemen stres, dan komunikasi asertif), serta pemberdayaan melalui pelatihan penanaman sayuran. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan caregiver, kemampuan merawat pasien kanker, keterampilan mengelola stres, serta terbentuknya aktivitas produktif yang membantu stabilitas emosional. Kesimpulan dari program ini adalah psikoedukasi dan pemberdayaan efektif dalam meningkatkan kualitas hidup caregiver. Diarahkan pada keberlanjutan program, peningkatan dukungan psikososial, dan monitoring berkala untuk memastikan peningkatan kesehatan mental caregiver. Kata Kunci: Psikoedukasi Caregiver, Pemberdayaan, Kesehatan Mental, Kualitas Hidup.  ABSTRACT Caregivers play an essential role in assisting cancer patients, yet physical, emotional, and social burdens often reduce their quality of life and mental well-being. Similar conditions were found among caregivers at the Dompet Dhuafa Shelter House in Malang, who frequently experience fatigue, anxiety, and limited knowledge in providing care. This program aimed to improve caregivers’ mental health and quality of life through psychoeducation and empowerment activities. The program included situation analysis, material preparation, and four psychoeducation sessions covering problem identification, caregiving skills, stress management, and assertive communication, followed by empowerment activities through vegetable planting training. The findings revealed improvements in caregivers’ knowledge, caregiving abilities, stress management skills, and engagement in productive activities that contributed to emotional stability. Psychoeducation and empowerment were effective in enhancing caregivers’ psychological well-being and quality of life. Keywords: Psychoeducation, Caregiver, Empowerment, Mental Health, Quality of Life
Hubungan Pola Makan Dengan Kejadian Hipertensi Pada Masyarakat Di Wilayah Kerja Puskesmas Pembantu Buhut Jaya Tahun 2025 Selmiati Selmiati; Indari
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.502

Abstract

Latar belakang: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat dan menjadi penyebab utama kematian dini di dunia. Salah satu faktor risiko yang dapat dimodifikasi adalah pola makan yang tidak sehat, seperti konsumsi garam berlebihan, rendah asupan buah dan sayur, serta tingginya konsumsi makanan berlemak dan instan. Berdasarkan data Puskesmas Pembantu (PUSTU) Buhut Jaya, jumlah penderita hipertensi masih cukup tinggi, sehingga perlu dilakukan penelitian terkait faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi, khususnya pola makan masyarakat. Tujuan : untuk mengetahui hubungan pola makan dengan kejadian hipertensi pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Pembantu (PUSTU) Buhut Jaya tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang berada di wilayah kerja PUSTU Buhut Jaya sebanyak 30 orang, dengan teknik pengambilan sampel total sampling. Data pola makan dikumpulkan menggunakan kuesioner Food Frequency Questionnaire (FFQ), sedangkan data tekanan darah diperoleh melalui pengukuran menggunakan sphygmomanometer digital. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Hasil: hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pola makan tidak sehat dan berada pada kategori hipertensi derajat 1 dan 2. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan dengan kejadian hipertensi pada masyarakat di wilayah kerja PUSTU Buhut Jaya tahun 2025 (p < 0,05). Kesimpulan: penelitian ini adalah terdapat hubungan antara pola makan dengan kejadian hipertensi pada masyarakat di wilayah kerja PUSTU Buhut Jaya. Pola makan yang tidak sehat berkontribusi terhadap meningkatnya kejadian hipertensi. 
Hubungan antara tingkat stres dengan mekanisme koping pada remaja yang menjalani hubungan pacaran Ade Sita Ranjani; Alfunnafi Fahrul Rizzal; Indari Indari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2173

Abstract

Background: Adolescence is a developmental stage vulnerable to stress, particularly in the context of dating relationships, which can lead to emotional distress. How adolescents cope with stress is greatly influenced by the coping strategies they use, both those focused on problem-solving and those focused on emotional management. Purpose: To determine the relationship between stress levels and coping mechanisms in adolescents in dating relationships. Method: This quantitative descriptive correlative study used a cross-sectional design with a non-experimental approach. The study was conducted at schools in Pasuruan Regency, namely at State Vocational High School 1 Gempol and Ma'arif Pandaan High School, from November 24-30, 2025. Data analysis was conducted through univariate and bivariate analysis, with the bivariate analysis using the Spearman's rank correlation test. Results: Most respondents experienced moderate stress and tended to use problem-solving-focused coping mechanisms. Statistical tests showed no significant relationship between stress levels and coping mechanisms (p = 0.660). Conclusion: Stress levels in adolescents in dating relationships were not significantly related to their coping strategies. These findings suggest that adolescents' coping patterns may be influenced by factors other than stress levels, such as social support and emotion regulation skills. Suggestion: Further research can examine the role of mental health education, interpersonal communication patterns, and emotional regulation skills as supporting factors in the formation of coping mechanisms, thereby providing a more in-depth picture of the dynamics of stress and coping mechanisms in adolescents in dating relationships.   Keywords: Adolescents; Coping Mechanisms; Dating; Stress Levels.   Pendahuluan: Masa remaja adalah tahapan perkembangan yang rentan terhadap stres, terutama dalam konteks hubungan pacaran yang dapat menimbulkan tekanan emosional. Cara yang dilakukan remaja untuk mengatasi stres sangat dipengaruhi oleh strategi koping yang digunakan, baik yang berfokus pada pemecahan masalah maupun pengelolaan emosi. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan mekanisme koping pada remaja yang menjalani hubungan pacaran. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif korelatif menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan bersifat non-eksperimental. Penelitian dilaksanakan di sekolah yang ada di Kabupaten Pasuruan, yaitu di SMKN 1 Gempol dan SMA Ma’arif Pandaan, pelaksanaan dimulai dari tanggal 24-30 November 2025. Analisis data dilakukan melalui analisis univariat dan bivariat, dengan analisis bivariat menggunakan uji korelasi Spearman’s rank. Hasil: Sebagian besar responden mengalami stres sedang dan cenderung menggunakan mekanisme problem-focused coping. Berdasarkan hasil uji statistik, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara tingkat stres dan mekanisme koping (p = 0.660). Simpulan: Tingkat stres pada remaja yang menjalani hubungan pacaran tidak berhubungan secara signifikan dengan strategi koping yang digunakan. Temuan ini mengindikasikan bahwa pola koping yang dimiliki remaja kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain di luar tingkat stres, seperti dukungan sosial dan kemampuan regulasi emosi. Saran: Penelitian lanjutan dapat mengkaji peran edukasi kesehatan mental, pola komunikasi interpersonal, dan kemampuan regulasi emosi sebagai faktor pendukung dalam pembentukan mekanisme koping, sehingga memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai dinamika stres dan mekanisme koping pada remaja yang menjalani hubungan pacaran.   Kata Kunci: Mekanisme Koping; Pacaran; Remaja; Tingkat Stres.