Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal

Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap SIkap dan Perilaku Masyarakat Tentang Penggolongan Obat Tradisional di Indonesia di Kecamatan Medan Tembung Nainggolan, Zefanya Grace Winneke; Rina Amelia; Dalimunthe, Dina Arwina; Nasution, Afrida Aryani
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 6 No. 1 (2024): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v6i1.15388

Abstract

Pendahuluan. Keanekaragaman hayati Indonesia sangat tinggi, terdapat sekitar 30.000 spesies tumbuhan di Indonesia yang memiliki khasiat obat atau bisa dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Pengobatan tradisional telah lama menjadi bagian esensial dari sistem pengobatan di Indonesia. BPOM pada tahun 2004 menggolongkan obat tradisional berdasarkan uji klinis menjadi jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka. Tujuan. Menganalisis hubungan tingkat pengetahuan terhadap sikap dan perilaku masyarakat tentang penggolongan obat tradisional di Indonesia di Kecamatan Medan Tembung Metode penelitian. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan instrumen kuesioner yang berisikan pertanyaan untuk mengukur tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku. Sampel penelitian terdiri dari masyarakat di Kecamatan Medan Tembung sebanyak 105 orang yang dipilih melalui consecutive sampling. Data yang digunakan adalah data primer dengan metode analisis berupa uji korelasi Chi-square. Hasil dan Diskusi. Data hasil penelitian dari 105 orang sampel didapatkan bahwa terdapat 70 orang (66,7%) dengan tingkat pengetahuan yang kurang, 100 orang (95,2%) dengan sikap yang baik, dan 78 orang (74,3%) dengan perilaku yang baik. Hasil analisis bivariat didapatkan 66 orang (62,8%) dengan tingkat pengetahuan kurang tetapi memiliki sikap baik 52 orang (49,5%), dengan tingkat pengetahuan kurang tetapi perilakunya baik, sehingga berdasarkan karakteristik responden tersebut didapatkan hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan dengan nilai p = 0,042 dan pekerjaan dengan perilaku didapatkan nilai p = 0,009 responden. Kesimpulan. Tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang penggolongan obat tradisional di Indonesia dengan sikap dan perilaku masyarakat di Kecamatan Medan Tembung dikarenakan sebagian besar masyarakat masih menerapkan compliance. Introduction. Indonesia's biodiversity is very high, there are around 30,000 plant species in Indonesia that have medicinal properties or can be used as traditional medicine. Traditional medicine has long been an essential part of the medical system in Indonesia. In 2004, BPOM classified traditional medicines based on clinical trials into herbal medicines, standardized herbal medicines and phytopharmacies. Objective. Analyzing the relationship between the level of knowledge and community attitudes and behavior regarding the classification of traditional medicines in Indonesia in Medan Tembung District. Research method. This research is an analytical observational study with a cross-sectional approach. Research data was collected using a questionnaire instrument containing questions to measure the level of knowledge, attitudes and behavior. The research sample consisted of 105 people in Medan Tembung District who were selected through consecutive sampling. The data used is primary data with the analysis method in the form of the Chi-square correlation test. Results and Discussion. Research data from 105 sample people showed that there were 70 people (66.7%) with a poor level of knowledge, 100 people (95.2%) with good attitudes, and 78 people (74.3%) with good behavior. The results of the bivariate analysis showed that 66 people (62.8%) had a low level of knowledge but had a good attitude, 52 people (49.5%), with a low level of knowledge but good behavior, so that based on the characteristics of these respondents, a significant relationship was found between the level of education and level of knowledge with a value of p = 0.042 and work with behavior obtained a value of p = 0.009 for respondents. Conclusion. There is no relationship between the level of knowledge about the classification of traditional medicines in Indonesia and the attitudes and behavior of the people in Medan Tembung District because the majority of people still practice compliance.  
Tuberkulosis Gumma pada Pasien Tuberkulosis Paru Donytasari, Fitri Meutia; Dalimunthe, Dina Arwina; Siregar, Remenda
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 6 No. 1 (2024): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v6i1.16760

Abstract

Background: Tuberculosis (TB) gumma (metastatic tuberculous abscess) is a rare form of cutaneous TB, generally occurring in malnourished and immunocompromised patient. Case: A 24 year old man with a chief complaint of ulcers accompanied by a thick pigmented crusts on the neck and left abdomen without pain since 3 months ago. Initially, 6 months ago a small skin coloured lump the size of a green bean seed arised on the stomach and neck, not itchy or painful. One month later, the mass got bigger, ulcerated, and pus drainage were seen. The patient was also currently diagnosed with pulmonary TB. Dermatological examination showed an ulcer with a diameter of 10 cm with crusts and pus with irregular edges and hyperpigmentation in the left colli region and an ulcer with a diameter of 15 cm with crusts and pus with irregular edges and hyperpigmentation in the left lumbar region. The results of histopathological examination of the dermis showed fibrocollagenous connective tissue with infiltration of inflammatory lymphocytes and PMN cells, localized clusters of epithelioid cells with central necrosis and Langhans multinucleated giant cells were found. Discussion: Gumma tuberculosis is a multibacillary variant of cutaneous TB with a focus on hematogenous spread. Antituberculosis drugs are given according to the phase and the dose is according to the patient's body weight. Conclusion: A case of gumma tuberculosis has been reported in an immunocompetent young adult patient with pulmonary tuberculosis. The prognosis in patients is generally good. Pendahuluan: Tuberkulosis (TB) gumma (abses tuberkulosis metastatik) adalah bentuk TB kutis yang jarang, umumnya terjadi pada keadaan malnutrisi dan imunokompromais. Kasus: Seorang laki-laki berusia 24 tahun dengan keluhan utama luka borok disertai dengan keropeng hitam yang tebal pada leher dan perut kiri yang tanpa rasa nyeri sejak 3 bulan lalu. Awalnya, 6 bulan yang lalu pasien merasakan adanya benjolan kecil seukuran biji kacang hijau pada perut dan leher yang sewarna kulit dan tidak terasa gatal maupun nyeri. Satu bulan setelahnya benjolan dirasakan semakin membesar kemudian pecah dan mengeluarkan nanah. Pasien saat ini juga didiagnosis dengan TB paru. Dari pemeriksaan dermatologis tampak ulkus dengan diameter 10 cm disertai krusta dan pus dengan tepi ireguler dan hiperpigmentasi pada regio colli sinistra dan ulkus dengan diameter 15 cm disertai krusta dan pus dengan tepi ireguler dan hiperpigmentasi pada regio lumbalis sinistra. Hasil histopatologis dari jaringan regio abdomen dekstra menunjukan bagian dermis terdiri dari jaringan ikat fibrokolageneus dengan infiltrasi sel-sel radang limfosit dan PMN, setempat tampak kelompokan sel-sel epiteloid dengan nekrosis sentral dan dijumpai Langhans multinucleated giant cell. Diskusi: Tuberkulosis gumma merupakan varian multibasiler dari TB kutis dengan fokus penyebaran secara hematogen. Obat antituberkulosis (OAT) diberiksan sesuai fase dan dosis disesuaikan dengan berat badan pasien. Kesimpulan: Telah dilaporkan satu kasus tuberkulosis gumma pada pasien dewasa muda imunokompeten yang mengalami tuberkulosis paru. Prognosis pada pasien umumnya baik.
Hubungan Pengetahuan Anak tentang Cuci Tangan dengan Kejadian Diare di Desa Panobasan Harahap, Nurul Wahida; Arto, Karina Sugih; Supriatmo; Dalimunthe, Dina Arwina
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2020): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v2i1.3392

Abstract

Background: Diarrhea is a condition in which feces are discharged from the bowel in loose consistency or even liquid form, and the frequency is usually more often ( usually three times or more) in one day. Non-hygienic lifestyles, such as not washing hands before consuming food and after doing activities can cause negative impact to health, particularly the occurrence of diseases that related to poor sanitation, such as diarrhea. The prevalence are more common by 10 % in rural areas compared to 7.4% in urban areas. Incidence rate in diarrhea tends to be higher in group with lower education whom work as farmer, fisherman, or labor. Objectives: This study aims to analyze the relationship of childrend`s knowledge about hand washing and diarrhea occurence. Methods: This study is an  analytic study with a cross sectional design. The data is primary data that were collected directly from respondents through questionnaire. The respondents were chosen by stratified random sampling method. Results: From data of 35 respondents, the p-value 0.005 ( p <0.05), PR value 0.364 ( 0.177 – 0.749). Conclusion: There is a significant relationship between childrend`s knowledge about hand washing with diarrhea in Panobasan village. Keywords: children's knowledge, diarrhea, hand washing     Latar Belakang: Diare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih sering (biasanya tiga kali atau lebih) dalam satu hari. Kebiasaan kurang higienis berupa tidak mencuci tangan sebelum makan atau tidak mencuci tangan setelah melakukan aktivitas yang berhubungan dengan lingkungan dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan masyarakat, terutama munculnya penyakit yang berkaitan dengan perilaku hidup bersih dan sehat yang rendah salah satunya yaitu diare. Prevalensi diare lebih banyak di pedesaan dibandingkan perkotaan, yaitu sebesar 10% di pedesaan dan 7,4 % di perkotaan. Diare cenderung lebih tinggi pada kelompok pendidikan rendah dan bekerja sebagai petani, nelayan dan buruh. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan anak tentang cuci tangan dengan kejadian diare. Metode: Penelitian ini merupakan studi penelitian analitik dengan desain penelitian cross sectional, metode pengumpulan data penelitian ini adalah data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari sampel menggunakan kuesioner. Sampel dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan cara stratified random sampling. Hasil: Dari 135 responden, hubungan pengetahuan anak tentang cuci tangan dengan kejadian diare didapatkan hasil  dengan nilai p = 0,005 (p < 0,05), dan nilai PR = 0,364 (0,177 – 0,749). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahauan anak tentang cuci tangan dengan kejadian diare di desa Panobasan. Kata kunci: cuci tangan, diare, pengetahuan anak
Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Pemilihan Pengobatan Ketombe pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Sriwulan, Anyelin; Dalimunthe, Dina Arwina; Paramita, Deryne Anggia; Widjaja, Sry Suryani; Samosir, Fauzan Azmi Hasti Habibi
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 4 No. 2 (2023): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v4i2.10495

Abstract

Latar Belakang. Ketombe merupakan gangguan kulit kepala yang ditandai dengan pengelupasan abnormal pada kulit kepala. Ada tiga penyebab utama yang menimbulkan ketombe yaitu jamur Malassezia, sekresi kelenjar sebasea, dan sensitivitas individu. Berbagai macam pengobatan telah banyak dilakukan untuk mengatasi masalah ketombe. Tujuan. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan pemilihan pengobatan ketombe pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan. Metode. Penelitian ini bersifat deskriptif menggunakan metode pendekatan studi potong-lintang. Sampel penelitian merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang disebarkan secara online melalui Google form dan QR Code. Hasil. Didapatkan mahasiswa memiliki pengetahuan yang baik tentang ketombe (92,1%). Berdasarkan pemilihan pengobatan ketombe, sumber informasi didapatkan melalui media elektronik (84,2%), tempat membeli obat di swalayan/mal (72,6%), cara memilih pengobatan ketombe hanya menggunakan sampo saja (63,7%), faktor pemilihan pengobatan ketombe karena mudah didapatkan (71,1%), alasan pemilihan pengobatan ketombe karena kandungan yang terdapat di dalam sampo sangat bagus (58,4%), bahan yang dipilih dalam pemilihan pengobatan ketombe menggunakan bahan alami dan bahan kimia (51,1%). Kesimpulan. Tingkat Pengetahuan mahasiswa baik tentang ketombe. Berdasarkan pemilihan pengobatan ketombe, sumber informasi yang paling banyak didapatkan responden melalui media elektronik, tempat responden membeli obat paling banyak di swalayan/mal, cara responden dalam memilih pengobatan ketombe paling banyak hanya menggunakan sampo, faktor pemilihan pengobatan ketombe responden paling banyak karena mudah didapatkan, alasan pemilihan pengobatan ketombe responden paling banyak karena kandungan yang terdapat dalam sampo sangat bagus, bahan yang dipilih responden dalam pemilihan pengobatan ketombe paling banyak menggunakan bahan alami dan bahan kimia.
Gambaran Stretch Mark pada Siswi SMA Global Prima National Plus School Kamila, Rania; Putra, Imam Budi; Dalimunthe, Dina Arwina; Samosir, Fauzan Azmi Hasti Habibi; Kadri, Alfansuri
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2023): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v5i1.11035

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang. Stretch mark merupakan jenis skar atrofi pada kulit yang disebabkan oleh peregangan kulit yang berlebihan. Karakteristik stretch mark bervariasi tahap awal yaitu striae rubrae yang berwarna kemerahan, hingga tahap kronis yaitu striae albae, stretch mark yang halus dan berwarna putih. Prevalensi stretch mark pada populasi remaja dilaporkan berkisar antara 6% hingga 86%. Hal ini dapat terjadi diakibatkan oleh beberapa faktor sehingga gambaran stretch mark pada remaja perempuan penting diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran stretch mark pada siswi SMA Global Prima National Plus School. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross-sectional study. Subjek penelitian pada penelitian ini adalah siswi kelas XII SMA Global Prima National Plus School sebanyak 47 orang yang memenuhi kriteria inklusi dengan menggunakan metode purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar penelitian yang ditanyakan langsung kepada subjek penelitian lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik pada subjek penelitian secara langsung. Hasil. Stretch mark dijumpai pada 38 siswi dari 47 siswi dengan distribusi paling banyak pada usia 17 tahun (66%) dan reponden dengan usia menarche normal (51,1%) regio stretch mark terbanyak pada regio femur (25,4%) dan jenis stretch mark terbanyak yaitu striae albae (82,5%). Kesimpulan. Secara keseluruhan, sebagian besar subjek penelitian memiliki stretch mark, dimana paling banyak dijumpai pada subjek penelitian dengan IMT kategori normal dan pada subjek penelitian dengan riwayat keluarga memiliki stretch mark. Kata Kunci: Gambaran, stretch mark, striae albae, striae rubrae.   ABSTRACT Background. Stretch mark is a a type of atrophic scar that was caused by excessive stretching of the skin. Stretch mark vary in the early stages as striae rubrae, are characterized with redness and the chronic stage, striae albae which appears white and wrinkly. The prevalence of stretch marks in the adolescent population reportedly ranged from 6% to 86%. This can occur due to several factors so that the picture of stretch marks in adolescent girls is important to know. Aim of this study is to describing stretch mark in Global Prima National Plus School high school students. Methods.This is a descriptive study with cross-sectional study design. The sample in this study were 47 students of SMA Global Prima National Plus School who met the inclusion criteria by using the purposive sampling method. Data acquired by using a research sheet that was asked directly to the research subject followed by physical examination of the research subject directly. Results. Stretch marks were found in 38 students from 47 students with the most distribution at the age of 17 years (66%) and research subject with normal menarche (51.1%) the most common location of stretch marks are in the femur region (25.4%) and the most common types of stretch marks are striae albae (82.5%). Conclusion. Overall, most of the research subjects had stretch marks, where majority of the research subjects had normal BMI with family history of stretch marks with normal BMI and in the research subjects with a family history of stretch marks. Key words: Descriptive,  Stretch mark, striae albae, straie rubrae.
The Overview of Coronary Heart Disease Risk Factors in Perimenopausal and Postmenopausal Female Patients at Haji Adam Malik General Hospital in 2021 Faustine, Elaine; Andra, Cut Aryfa; Dalimunthe, Dina Arwina; Haykal, Teuku Bob; Andriyani, Yunilda
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2023): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v5i1.12615

Abstract

ABSTRACT Background: Cardiovascular diseases are taking an estimated 17, 9 million lives each year, 85% were caused by coronary heart disease. After menopause, there are physiological changes that occurs in women’s body that increase the risk of coronary heart disease. Risk factors associated with the incidence of coronary heart disease are, family history, age, hypertension, diabetes, dyslipidemia, obesity, and smoking. Objectives: To examine the risk factors associated with the incidence of coronary heart disease in perimenopausal and postmenopausal women at RSUP Haji Adam Malik in 2021. Methods: This study is a descriptive study with cross sectional design and retrospective approach, carried out at RSUP Haji Adam Malik. The data were taken from 1 January-31 December 2021. Results: The results showed that out of 75 perimenopausal and postmenopausal women who suffered from CHD, 61 patients (81,3%) were >50 years old, 3 patients (4%) had a family history of CHD, 53 patients (70,7%) had hypertension, 45 patients (60%) had diabetes, 58 patients (77,3%) with dyslipidemia, 10 patients (13,3%) were obese, and 14 patients (18,7%) had a history of smoking. Conclusion: Risk factors for CHD in perimenopausal and postmenopausal women, are having a family history of CHD, age, hypertension, diabetes, dyslipidemia, obesity, and smoking. Keywords: coronary heart disease, risk factors, perimenopausal women, postmenopausal women, women with CHD   ABSTRAK Latar Belakang: Penyakit kardiovaskular menyebabkan kematian 17,9 juta penduduk dunia setiap tahunnya, dan 85% diantaranya disebabkan oleh penyakit jantung koroner. Pada wanita yang telah mengalami menopause, terjadi perubahan fisiologis pada tubuh wanita sehingga risiko penyakit jantung koroner meningkat. Faktor risiko yang meningkatkan kejadian penyakit jantung koroner antara lain, usia, riwayat keluarga, hipertensi, diabetes, dislipidemia, obesitas, dan merokok. Tujuan: Untuk mengetahui faktor risiko yang menyebabkan terjadinya penyakit jantung koroner pada pasien wanita perimenopause dan postmenopause di RSUP Haji Adam Malik Medan pada tahun 2021. Metode: Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross sectional dengan pendekatan retrospektif, yang dilakukan di RSUP H. Adam Malik. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan, dari 75 orang wanita perimenopause dan postmenopause yang menderita PJK, sebanyak 61 pasien (81,3%) berusia >50 tahun, 3 pasien (4%) memiliki riwayat keluarga dengan PJK, 53 pasien (70,7%) menderita hipertensi, 45 pasien (60%) menderita diabetes, 58 pasien (77,3%) mengalami dislipidemia, 10 pasien (13,3%) mengalami obesitas, dan 14 pasien (18,7%) memiliki riwayat merokok. Kesimpulan: Faktor risiko PJK pada wanita perimenopause dan postmenopause, meliputi riwayat keluarga, usia, hipertensi, diabetes, dislipidemia, obesitas, dan merokok. Kata Kunci: faktor risiko, penyakit jantung koroner, wanita dengan PJK, wanita perimenopause, wanita postmenopause