Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Tafsir Al-Qur’an di Era Global: Antara Konservatisme Klasik dan Inovasi Kontemporer Setyanoor, Erwan; Anwar, Khairil; Mahfuzh, Taufik Warman; Hidayatullah Z, Syarif
Interdisciplinary Explorations in Research Journal Vol. 3 No. 3 (2025)
Publisher : PT. Sharia Journal and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ierj.v3i3.1524

Abstract

Globalisasi dan perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan serius bagi penafsiran Al-Qur’an, khususnya dalam menjaga keseimbangan antara otoritas teks suci yang bersifat normatif dan tuntutan relevansi sosial yang terus berubah. Dalam konteks ini, studi tafsir dihadapkan pada ketegangan epistemologis antara paradigma konservatisme klasik yang menekankan literalisme dan otoritas tradisi ulama salaf, dengan paradigma inovasi kontemporer yang mengedepankan pendekatan kontekstual, maqāṣid al-syarī‘ah, dan hermeneutika modern. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis dialektika antara kedua paradigma tersebut serta mengkaji implikasinya terhadap praktik penafsiran Al-Qur’an di era global. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan normatif-filosofis dan analisis komparatif terhadap karya-karya tafsir klasik dan kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa tafsir konservatif memiliki kekuatan dalam menjaga stabilitas epistemik dan kemurnian makna teks, namun cenderung kurang responsif terhadap isu-isu kontemporer, sementara tafsir inovatif menawarkan relevansi sosial yang tinggi tetapi berisiko terjebak dalam subjektivitas dan relativisme makna. Artikel ini menegaskan perlunya model tafsir integratif yang memadukan kesetiaan terhadap tradisi klasik dengan keberanian metodologis dalam merespons realitas global, sehingga menghasilkan tafsir Al-Qur’an yang bersifat wasathiyah, kontekstual, dan berakar kuat pada prinsip-prinsip dasar Islam.
Telaah Kritis Perbandingan Metode Penafsiran Al-Qur’an antara Hermeneutika Double Movement Fazlur Rahman (Pakistan) dan Tafsir Al-Mishbah M. Quraish Shihab (Indonesia) Salim, Agus; Anwar, Khairil; Mahfuzh, Taufik Warman
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1535

Abstract

Artikel ini mengkaji secara kritis dan komparatif metode penafsiran Al-Qur’an yang dikembangkan oleh dua tokoh tafsir kontemporer berpengaruh, yakni Fazlur Rahman dengan hermeneutika double movement dan M. Quraish Shihab melalui Tafsir al-Mishbah. Fazlur Rahman menawarkan kerangka metodologis yang menekankan rekonstruksi konteks historis pewahyuan untuk mengekstraksi prinsip moral universal, kemudian menerapkannya kembali dalam konteks modern. Sementara itu, Quraish Shihab mengembangkan pendekatan tafsir tahlili dan maudhu‘i yang integratif, berakar pada tradisi tafsir klasik, namun diperkaya dengan analisis kebahasaan, konteks sosial-keindonesiaan, dan visi moderasi Islam. Dengan pendekatan kualitatif-deskriptif berbasis studi kepustakaan, artikel ini membandingkan fondasi epistemologis, langkah metodologis, orientasi etis, serta implikasi sosial dari kedua pendekatan. Hasil kajian menunjukkan bahwa metode Fazlur Rahman unggul dalam merespons problem modernitas secara normatif-etis dan universal, sedangkan metode Quraish Shihab lebih aplikatif dan komunikatif dalam konteks masyarakat Muslim Indonesia. Keduanya memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan tafsir kontemporer yang relevan, kontekstual, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Studi Kasus Penafsiran Ayat Sosial: Analisis Qs An-Nisa’ 34, Al-Hujurat 13, dan Qs Al-Maidah 48 Haisusyi; Anwar, Khairil; Mahfuzh, Taufik Warman
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1541

Abstract

Penelitian ini menganalisis penafsiran ayat-ayat sosial dalam al-Qur’an dengan fokus pada QS An-Nisa’ 34, QS Al-Hujurat 13, dan QS Al-Maidah 48. Ketiga ayat tersebut sering menjadi dasar diskursus tentang relasi gender, kesetaraan manusia, dan pluralitas sosial dalam masyarakat Islam. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis tafsir, dengan menelaah teori dan metodologi penafsiran Ibnu ‘Asyur serta membandingkannya dengan konteks sosial-keagamaan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran terhadap ayat-ayat sosial tidak bersifat tunggal, melainkan dipengaruhi oleh faktor historis, budaya, epistemologis, dan metodologis dari mufasir. QS An-Nisa’ 34 menekankan tanggung jawab sosial laki-laki berdasarkan struktur sosial dan ekonomi pada masa turunnya ayat; QS Al-Hujurat 13 menguatkan prinsip kesetaraan dan kemuliaan berdasarkan takwa; sedangkan QS Al-Maidah 48 menekankan pluralitas hukum dan keberagaman manusia sebagai sunnatullah. Perbedaan penafsiran antarmufasir menyebabkan munculnya dinamika sosial-keagamaan yang beragam dalam masyarakat Islam. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan kontekstual dan maqashidi dalam memahami ayat-ayat sosial sehingga mampu menjawab kebutuhan masyarakat modern tanpa meninggalkan prinsip dasar ajaran Islam.
Metode Penafsiran Ma’na Cum Maghza Qur’an Surah Almaidah Ayat 51 Ardiansyah; Anwar, Khairil; Mahfuzh, Taufik Warman
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1543

Abstract

Surah Al-Māidah ayat 51 merupakan ayat Al-Qur’an yang sering menimbulkan perdebatan, khususnya terkait relasi sosial-politik dan kepemimpinan dalam masyarakat plural. Penafsiran ayat ini kerap dilakukan secara literal sehingga mengabaikan konteks historis dan realitas sosial saat ayat tersebut diturunkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Surah Al-Māidah ayat 51 menggunakan metode penafsiran ma‘nā cum maghzā guna menemukan makna tekstual ayat sekaligus pesan moral yang relevan dengan konteks kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan melalui kajian terhadap tafsir klasik, tafsir kontemporer, dan literatur akademik yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara ma‘nā, larangan dalam ayat tersebut berkaitan dengan kondisi politik Madinah yang sarat konflik, di mana istilah awliyā’ bermakna sekutu atau pelindung politik. Secara maghzā, ayat ini menegaskan pentingnya loyalitas, keadilan, dan kemaslahatan umat. Dalam konteks Indonesia yang plural dan demokratis, ayat ini tidak melarang secara mutlak kepemimpinan non-Muslim selama kepemimpinan tersebut adil dan tidak merugikan kepentingan umat.
Analisis kritis metode tafsir maudhu’i: pengembangan tema, pengumpulan ayat, dan penafsiran komprehensif al-qur’an Ansyori, Muhamad Isa; Anwar, Khairil; Mahfuzh, Taufik Warman
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 10 No. 3 (2025): SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/086515011

Abstract

Metode tafsir maudhu’i merupakan salah satu pendekatan penafsiran al-Qur’an yang berkembang pesat dalam kajian tafsir kontemporer, terutama karena kemampuannya menyajikan pemahaman tematik yang sistematis dan kontekstual. Namun, penerapan metode ini tidak terlepas dari berbagai persoalan metodologis yang memerlukan kajian kritis. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis metode tafsir maudhu’i dengan menitikberatkan pada tiga tahapan utama, yaitu pengembangan tema, pengumpulan ayat, dan penafsiran komprehensif al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) terhadap karya-karya klasik dan kontemporer dalam bidang tafsir dan ulum al-Qur’an. Data dianalisis melalui teknik analisis isi dan komparatif untuk mengidentifikasi pola, kekuatan, serta kelemahan metodologis dalam penerapan tafsir maudhu’i. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir maudhu’i memiliki potensi besar dalam menjawab problematika umat secara tematik dan integratif, tetapi juga mengandung risiko subjektivitas, selektivitas ayat, dan simplifikasi makna apabila tidak diterapkan secara metodologis dan disiplin. Oleh karena itu, artikel ini menegaskan pentingnya penguatan kerangka epistemologis tafsir maudhu’i melalui penentuan tema yang berlandaskan teks, pengumpulan ayat yang komprehensif, serta integrasi ulum al-Qur’an dalam proses penafsiran. Temuan ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan kajian tafsir al-Qur’an yang lebih kritis, sistematis, dan bertanggung jawab secara ilmiah.
METODE PENAFSIRAN ZAHIR–ISYARI DALAM GHARAIB AL-QUR'AN WA RAGHAIB AL-FURQAN: ANALISIS TAFSIR AL-NAISABURI ATAS QS. AL-BAQARAH: 72–73 Muliawan, Cahyo; Anwar, Khairil; Mahfuzh, Taufik Warman
SULTAN ADAM: Jurnal Hukum dan Sosial Vol 3 No 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/sultan.v3i2.1571

Abstract

Kajian terhadap metodologi penafsiran al-Qur’an terus berkembang seiring munculnya berbagai corak pemikiran ulama. Al-Naisaburi sebagai salah seorang mufassir klasik menawarkan metode penafsiran yang unik melalui karyanya Gharaib al-Qur'an wa Raghaib al-Furqan, yakni dengan menggabungkan tafsir zahir (tekstual) dan tafsir isyari (sufistik) dalam satu rangkaian penafsiran. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis untuk menelaah pola penafsiran al-Naisaburi terhadap QS. al-Baqarah: 72-73. Data dikumpulkan dari karya tafsir primer serta literatur pendukung mengenai tafsir isyari dan metodologi tafsir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Naisaburi memulai penafsiran dengan makna zahir, kemudian dilanjutkan dengan penafsiran isyari sebagai pendalaman makna batin yang bernilai spiritual dan etis. Kajian ini menegaskan bahwa model penafsiran al-Naisaburi penting dalam mengembangkan paradigma tafsir integratif yang tidak hanya memuat makna literal teks, tetapi juga membuka dimensi tazkiyatun nafs (pembersihan hati) melalui simbolisme Qur'ani.
Vitalisation of Multicultural Education through the Integration of the Epistemology of the Meaning of Ta’aruf Q.S. al-Hujurāt: 13 Khalfiah, Yuliani; Anwar, Khairil; Mahfuzh, Taufik Warman
Aphorisme: Journal of Arabic Language, Literature, and Education Vol. 6 No. 2 (2025): Arabic Language, Literature, and Education
Publisher : Study Program of Arabic Language Teaching

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/aphorisme.v6i2.8796

Abstract

This study aims to vitalise epistemology by exploring alternative philosophical foundations from QS. Al-Hujurāt: 13 and operationalising them through synthesis with critical and multicultural education theories. This study employs a qualitative research Design with a library research approach to examine the epistemology of ta‘āruf as articulated in QS Al-Hujurāt 13 and its relevance to the revitalisation of multicultural education. Data collection is conducted through documentation techniques by systematically identifying, classifying, and reviewing relevant texts and written sources. The data analysis employs a hermeneutic method to interpret the Qur’anic text contextually and dialogically, combined with qualitative content analysis to examine conceptual patterns and theoretical intersections between Islamic epistemology and multicultural education theories. The results reveal that the concept of “i ta'ārufū” (getting to know each other) in the verse encompasses Ta’aruf Epistemology, a relational, dialogical, and socially transformative knowledge paradigm. Vitalisation is achieved by synthesising and integrating Freire’s concept of dialogue-praxis with Banks’ five dimensions of multicultural education, resulting in a transformation model at the levels of curriculum (oriented towards experience), pedagogy (teacher as learner and facilitator), and evaluation (authentic assessment).