Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Swamedikasi, DAGUSIBU, dan Waspada Bahan Berbahaya Kosmetik: Pengabdian Masyarakat di Dusun Kepuhsari, Surakarta: Indonesia Ainurofiq, Ahmad; Fatimi, Hana Anisa; Prabowo, Imam; Larasati, Rizky Dwi; Choiri, Syaiful; Az Zahro, Fatimah Aqilah; Usmarini, Razita Fathya; Maharani, Vania; Fauziah, Siva; Purbowati, Dwi; Rinaldi, Rafli; Jauhari, Muh Rizqi Fadlah
Jurnal Abdimas Madani dan Lestari (JAMALI) Volume 08, Issue 1, Maret 2026
Publisher : UII

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jamali.vol8.iss1.art18

Abstract

Inappropriate self-medication limited public understanding of the DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang) concept, and the widespread use of harmful cosmetic products remain major challenges in improving community health. This community service activity aimed to increase the knowledge of residents in Dusun Kepuhsari RW 38 regarding rational self-medication, proper application of the DAGUSIBU principle (Get, Use, Store, and Dispose of Medicine Correctly), and the risks associated with hazardous cosmetic ingredients. The activity was carried out through an educational and participatory approach consisting of a pretest, leaflet distribution, direct delivery of material by resource persons, interactive Q&A sessions, distribution of door prizes, and a posttest. The results showed an overall increase in participants' understanding across all three topics. Knowledge of self-medication increased by 1.2 times, while understanding of DAGUSIBU improved by 1.44 times. Education on harmful cosmetics also led to a significant improvement in participants' awareness of product legality, identification of dangerous substances, and associated health risks. Through this educational program, the community is expected to become more informed and responsible in using both medicines and cosmetics safely and wisely.
Pemanfaatan bahan alam sebagai bahan dasar sampo antiketombe di RW 38, Dusun Kepuhsari, Kecamatan Mojosongo, Kota Surakarta Ainurrofiq, Ahmad; Fatimi, Hana Anisa; Prabowo, Imam; Larasati, Rizky Dwi; Choiri, Syaiful; Haifani, Ashrifathia; Suryaningsih, Dela Ardhina; Maharani, Dila Okta; Reswari, Khusnul Ergina; Suhada, Riska Aulia; Adiningsih, Shafa Nadira Putri; Revalina, Sheli Gita
KACANEGARA Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol 9, No 2 (2026): Mei
Publisher : Institut Teknologi Dirgantara Adisutjipto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28989/kacanegara.v9i2.3348

Abstract

Ketombe merupakan permasalahan kulit kepala yang umum terjadi dan berdampak negatif terhadap kenyamanan serta kepercayaan diri penderitanya. Penggunaan sampo antiketombe berbahan kimia sintetik dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan iritasi dan resistensi mikroba. Oleh karena itu, pendekatan berbasis bahan alam seperti daun pandan (Pandanus amaryllifolius) dan rimpang jahe (Zingiber officinale) dinilai lebih aman dan berkelanjutan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat RW 38 Dusun Kepuhsari dalam memanfaatkan sumber daya alam lokal sebagai bahan dasar sampo herbal antiketombe. Melalui edukasi dan praktik langsung pembuatan sampo, masyarakat diajak memahami manfaat kandungan aktif kedua tanaman serta proses formulasi sediaan. Hasil evaluasi pretest dan posttest menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman masyarakat terkait penyebab ketombe, manfaat jahe dan pandan, serta proses pembuatan sediaan sampo. Program ini tidak hanya meningkatkan kesadaran kesehatan, tetapi juga membuka potensi ekonomi berbasis produk alami yang ramah lingkungan.
Formulasi Nanoemulsi Ekstrak Terpurifikasi Daun Afrika (Vernonia amygdalina) Terinkoporasi dalam Dissolved Microneedle Patch Daryati, Amalia; Suryaningrum, Meila Tunjung; Prakoso, Ahmad; Isnaini, Ikke Ramandhita Mulia; Choiri, Syaiful
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 7, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v7i3.65276

Abstract

Sistem penghantaran sediaan patch transdermal mampu meningkatkan kepatuhan pasien, diabetes melitus dengan menghindari regimen dosis yang rumit serta penggunaan injeksi insulin. Senyawa 11β,13-dihydrovernolide yang diisolasi dari tanaman daun afrika (Vernonia amygdalina) terbukti secara efektif mampu menurunkan kadar gula darah. Microneedle merupakan alat untuk menghantarkan obat secara perkutan sehingga mampu mencapai sirkulasi sistemik. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan nanoemulsi isolat ekstrak terpurifikasi daun afrika terinkorporasi dalam dissolved microneedle patch. Senyawa diisolasi dan diekstraksi menggunakan maserasi dengan pelarut metanol, dilanjutkan fraksinasi cair-cair, dan kromatografi kolom. Purifikat yang diperoleh dikarakterisasi profil kromatogram lapis tipis dan spektra vibrasional. Pengembangan formula nanoemulsi menggunakan teknik mixture design untuk memperoleh formula optimum yang diinkorporasikan ke dalam campuran polimer dan microneedle dicetak menggunakan master template. Pengujian in vivo dilakukan menggunakan tikus sebagai model hewan uji dan dikaji penurunan kadar gula darah tikus. Hasil fraksi semipolar diperoleh rendemen 11,99 % dan isolat daun afrika diperoleh rendemen 0,075%. Profil kromatogram lapis tipis menunjukkan spot tunggal pada sampel isolat dan spektra vibrasional mengkonfirmasi gugus-gugus senyawa 11β,13-dihydrovernolide. Karakterisasi ukuran droplet nanoemulsi menunjukkan hasil 73,54±3,92 nm dengan distribusi ukuran droplet yang seragam 0,594±0,058. Jarum yang dihasilkan berukuran pada rentang 100-250 µm dengan nilai folding endurance patch sebesar >300 kali. Hasil pengujian kadar glukosa menunjukkan bahwa kelompok patch transdermal nanoemulsi mampu menurunkan kadar gula darah sebear 60% dan tidak berbeda bermakna dengan control positif. Formula patch isolat tanpa nanoemulsi mampu menurunkan kadar gula darah tikus sebesar 20%. Formulasi nanoemulsi isolat daun afrika terinkorporasi dalam dissolving microneedle menunjukkan peningkatan efektivitas antidiabetes dibandingkan tanpa formulasi nanoemulsi.
Uji Aktivitas Afrodisiaka Ekstrak Sambiloto (Andrographis Paniculata) pada Tikus Jantan Galur Wistar Pratama, Tiara Dewi Salindri; Wahyuni, Dinar Sari Cahyaningrum; Ainurofiq, Ahmad; Hadi, Saptono; Choiri, Syaiful; Rakhmawati, Rita; Nugraheni, Estu Retnaningtyas
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 11, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v11i1.94957

Abstract

Salah satu obat tradisional yang sudah digunakan sejak zaman dahulu secara turun menurun di Indonesia adalah sambiloto.  Permasalahan disfungsi seksual, terutama pada pria, dapat berdampak signifikan terhadap kualitas hidup dan kesehatan mental. Pemilihan sambiloto sebagai bahan baku karena tanaman sambiloto memiliki aktifitas sebagai afrodisiak melalui pengaturan kadar hormon atau efek langsung pada jaringan seksual. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengkaji aktivitas seksual hewan uji tikus jantan galur Wistar pada efek pemberian ekstrak etanol sambiloto. Selama tujuh hari, hewan uji akan diberikan ekstrak setiap hari, dan perilaku seksualnya akan diamati 30 menit setelah pemberian terakhir. Kelompok perlakuan pada penelitian ini dibagi menjadi 5 yaitu perlakuan kontrol negatif yang diberikan aquades, perlakuan kontrol positif yang menerima ekstrak pasak bumi dengan dosis sebanyak 7,5 mg/kgBB, serta kelompok perlakuan dengan ekstrak sambiloto, kelompok perlakuan dosis pertama (26,5 mg/kgBB), dosis kedua (50,5 mg/kgBB), dan dosis ketiga (100,5 mg/kgBB). Setiap kelompok terdiri dari tujuh tikus jantan. Dilakukan pengamatan setelah 30 menit pemberian ekstrak dengan memasukkan tikus jantan ke dalam chamber tikus betina dan diamati selama 30 menit. Parameter yang diamati meliputi Frekuensi pemasangan (Mounting Frequency), frekuensi intromisi (Intromission Frequency), latensi pemasangan (Mounting Latency), dan latensi intromisi (Intromission Latency). Hasil dari penelitian menunjukkan jika pemberian ekstrak etanol sambiloto pada dosis 26,5 mg/kgBB, 50,5 mg/kgBB, dan 100,5 mg/kgBB memengaruhi aktivitas seksual hewan uji yang dilihat dari parameter frekuensi pemasangan (Mounting Frequency), frekuensi intromisi (Intromission Frequency), latensi pemasangan (Mounting Latency), dan latensi intromisi (Intromission Latency).
Tamanu Oil (Calophyllum inophyllum L.) Promotes Wound-Healing Activity in Alloxan-Induced Diabetic Rats, and Its Fatty Acids Profile Rakhmawati, Rita; Hadi, Saptono; Ainurofiq, Ahmad; Nugraheni, Estu Retnaningtyas; Choiri, Syaiful; Pratama, Tiara Dewi Salindri
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v9i2.80107

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) is a metabolic disease and is a severe threat because it causes diabetic wounds. Treating injuries in patients with DM is dominated by synthetic chemicals such as anti-inflammatory, corticosteroids, and antibacterial. It has side effects, so further exploration of natural ingredients is needed. One plant that has the potential to heal wounds is tamanu oil or nyamplung oil. This study aimed to investigate the effect of tamanu oil on the healing of diabetic wounds and the fatty acid composition profile. Male rats of the Wistar strain (Ratus novergius) were given incision wounds along a 2 cm depth of 2 mm, randomly divided into three groups, by applying topically twice a day. We are profiling fatty acids using gas chromatography-mass spectrometry (GC-MS). As far as we know, this is the first study showing that tamanu oil can speed up the healing of diabetic wounds in rats. The Tamanu oil containing oleic acid (42.65%), linoleic acid (25.69%), stearic acid (16.50%), and palmitic acid (12,93) had better effectiveness than other groups, demonstrated by wound closure exceeding 50% on day six and wound closure by 100% on day nine.