Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Potensi Aktivitas Antimalaria Berbagai Tumbuhan terhadap Plasmodium falciparum ARIFA HAMIDA; Ami Tjitraresmi
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1493.291 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.12946

Abstract

Malaria merupakan penyakit dengan prevalensi yang tinggi di wilayah tropis dan subtropis. Malaria disebabkan oleh protozoa genus Plasmodium, dengan salah satu spesiesnya, Plasmodium falciparum, merupakan penyebab malaria dengan tingkat keparahan yang tinggi. Terapi berbasis artemisinin yang selama ini digunakan sebagai pengobatan antimalaria telah berkurang efikasinya karena adanya resistensi artemisinin. Tumbuhan merupakan sumber berbagai senyawa metabolit sekunder yang berpotensi memiliki aktivitas antimalaria sehingga dapat dimanfaatkan dalam penelitian mengenai pengembangan obat antimalaria yang baru. Pada review ini, potensi aktivitas antimalaria terhadap Plasmodium falciparum tertinggi terdapat pada ekstrak etanol Momordica charantia (IC50 0,0178 µg/ml) dan senyawa  alkaloid cassiarin A dari Cassia siamea (IC50 0,02 µg/ml).
Inhibition of Heme Polymerization Invitro Assay Of Extract of Sirih Leaf (Piper betle Linn.) and Sun Flower Leaves (Helianthus annuus L.) Ami Tjitraresmi; Moelyono Moektiwardoyo; Yasmiwar Susilawati
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijpst.v7i1.25319

Abstract

Malaria is a disease that occurs in tropical countries like Indonesia. The incidence of malaria in the world is still quite high and the occurrence of cases of Plasmodium resistance to antimalarial drugs and the widespread of resistance have prompted researchers to look for new antimalarial drugs, especially from natural materials. Betel leaf (Piper betle Linn.) And sunflower leaf (Helianthus annuus L.) have long been used by the people of Indonesia as an antimalarial drug. The purpose of this study was to determine antimalarial activity through inhibition of heme polymerization and determine secondary metabolite compounds by phytochemical screening from betel leaves and sunflower leaves. The heme polymerization inhibition activity assay was carried out by the in-vitro method using a microplate reader at 415 nm and 630 nm wavelengths. IC50 values of betel leaf extract and sunflower leaf were 178.67 μg/ml and 160.10 μg/ml, respectively. Phytochemical screening results from betel leaf showed the presence of flavonoids, polyphenols, tannins, quinones, saponins, and monoterpenoids-sesquiterpenoids, while sunflower leaves contain alkaloids, polyphenols, flavonoids, steroids and monoterpenoids-sesquiterpenoids.Keywords: Piper betle Linn., Helianthus annuus L., Malaria, Heme Polymerization
Efek Antikalkuli Ekstrak Etanol Herba Seledri (Apium graveolens L.) terhadap Tikus yang Diinduksi Hidroksiprolin Taofik Rusdiana; Lutfi Sulaiman; Eli Halimah; Ami Tjitraresmi; Sri Adi Sumiwi; Yanni D. Mardhiani; Anas Subarnas
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 2 No. 4 (2019): DECEMBER
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v2i4.2052

Abstract

The investigation efforts of an alternative treatment of the kidney stone disease by utilizing Indonesian native plants have still continued both for treatment and prevention. This study aims to strengthen the scientific evidence of the activity of celery as an anticalculi by in vivo assessment using hydroxyprolineinduced rat method. The white male wistar rats used in this study were intraperitoneally induced by hydroxyproline in order to form kidney stones, the celery extract preparations were then given at a dose of 50, 100, and 200 mg/kg of body weight orally for 5 days and observed following parameters: concentration of filtrate urinary calcium, concentration of urinary sediment calcium, as well as kidney to body weight ratio. The results showed that the concentration of filtrate urinary calcium in the test group at a dose of 200 mg/ kg body weight was significantly higher than those of negative control group, whereas the other test groups were not significantly different with the negative control group. The similar result was also shown on the parameter of calcium concentration in the urine sediment, while the ratio of kidney to body weight showed significant differences between all test groups and the negative control group. It can be concluded that the ethanol extract of the herb celery has an anticalculi activity in rats at a dose of 200 mg/kg of body weight.
Review Artikel: Pencemaran Bisphenol A (BPA) Dalam Kemasan Galon dan Dampaknya Bagi Kesehatan Faadhilah, Hisa; Tjitraresmi, Ami
Farmaka Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i2.46546

Abstract

Bisphenol A (BPA) merupakan suatu senyawa polimer dari polikarbonat yang biasa digunakan dalam kemasan makanan/minuman berbahan plastik dan galon air mineral. Kemasan atau galon yang mengandung bahan polikarbonat menghasilkan tekstur kaku dan transparansi yang disukai orang banyak. Kandungan BPA dalam kemasan makanan/minuman dan galon air mineral harus ada dalam batas tertentu. Hasil dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, ditemukan BPA yang melebihi batas normal dapat menyebabkan beberapa masalah kesehatan seperti perubahan sistem hormon tubuh, menurunkan aktivitas hormon, penurunan jumlah dan kualitas sperma, gangguan libido dan kesulitan ejakulasi. Selain itu BPA juga dapat memicu penyakit seperti diabetes dan gangguan ginjal kronis.
Review: Isolasi, Analisis, Aktivitas Farmakologi dan Toksisitas Sinensetin Andira, Ria Hani; Yuniati, Wiwiet; Tjitraresmi, Ami
Indonesian Journal of Biological Pharmacy Vol 4, No 1 (2024): IJBP (April)
Publisher : Department of Biological Pharmacy, Faculty of Pharmacy, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijbp.v4i1.54885

Abstract

Sinensetin, flavonoid polimetoksilasi berasal dari tumbuhan Orthosiphon aristatus yang memiliki beragam manfaat farmakologisnya dengan toksisitas minimal. Orthosiphon aristatus banyak digunakan dalam obat bahan alam baik dalam sediaan jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka. Keberadaan sinensetin dalam simplisia dan ekstrak daun kumis kucing sebagai bahan baku obat herbal terstandar dan fitofarmaka harus memenuhi persyaratan yang ada pada Farmakope Herbal Indonesia. Tinjauan ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang dipublikasikan mengenai isolasi dan identifikasi senyawa sinensetin dari daun kumis kucing dari pengujian kualitatif dan kuantitatif sinensetin pada bahan baku obat bahan alam, serta informasi mengenai aktivitas farmakologis dan toksisitas dari sinensetin. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan meninjau pustaka secara digital. Beberapa aktivitas farmakologis sinensetin yang telah diketahui adalah antikanker, antiinflamasi, antioksidan, antimikroba, antiobesitas, immunomudulator dan vasorelaksan.
Aktivitas Antimalaria dari Tumbuhan Famili Annonaceae : Tinjauan Pustaka Khairunnisa, Shintani Ayunda; Tjitraresmi, Ami
Indonesian Journal of Biological Pharmacy Vol 2, No 1 (2022): IJBP (April)
Publisher : Department of Biological Pharmacy, Faculty of Pharmacy, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijbp.v2i1.38419

Abstract

Malaria merupakan salah satu penyakit mematikan tropis yang disebabkan oleh parasit Plasmodium sp. Pencarian obat baru antimalaria saat ini menjadi penting dilakukan karena banyaknya laporan mengenai kasus resistensi Plasmodium sp. terhadap obat malaria yang beredar saat ini.  Maka diperlukan pencarian alternatif obat antimalaria. Annonaceae adalah suku tumbuhan berbunga yang termasuk ke dalam angiospermae. Beberapa tumbuhan dari suku ini telah diketahui memiliki aktivitas sebagai antimalaria. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antiplasmodial dan senyawa antimalaria yang berasal dari tanaman suku Annonaceae. Jurnal yang diulas dalam artikel ini merupakan jurnal penelitian yang diperoleh secara daring dengan kata kunci antimalaria annonaceae. Dari jurnal – jurnal penelitian yang diulas, terdapat delapan tumbuhan famili Annonaceae yang telah diuji aktivitas antimalarianya baik secara in-vitro terhadap P. falciparum atau in-vivo terhadap P. Berghei pada tikus. Hasilnya semua tumbuhan yang tercantum dalam jurnal yang diulas memiliki manfaat antimalaria dengan berbagai potensi. Greenwayodendron suaveolens memiliki aktivitas terbaik dengan nilai IC50 0,26 g/mL. Terdapat 38 metabolit aktif yang diisolasi dari famili Annonaceae dengan kisaran aktivitas antimalaria berturut-turut sebesar 7 - 203,1 M dan 1,38 - 104,33 g/mL. Dengan hasil terbaik berasal dari senyawa isolasi Anoniane pada 7 M dan Obtusipetadione pada 1,38 g/mL, masing-masing dapat menjadi alternatif untuk obat antimalaria baru. Dari penelusuran literatur yang telah dilakukan, famili Annonaceae terbukti sebagai sumber tumbuhan yang memiliki aktivitas antimalaria, oleh karena itu, semua tumbuhan yang terdaftar perlu diteliti lebih lanjut sebagai obat alternatif antimalaria.
Review : Analisis Formulasi dan Evaluasi Kualitas Fisik Tablet Hisap Berbahan Dasar Ekstrak Bahan Alam Cenora, Cindy; Tjitraresmi, Ami
Indonesian Journal of Biological Pharmacy Vol 4, No 1 (2024): IJBP (April)
Publisher : Department of Biological Pharmacy, Faculty of Pharmacy, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijbp.v4i1.54436

Abstract

Gaya hidup sehat merupakan suatu hal yang tidak asing dilakukan saat ini. Salah satu penerapan gaya hidup sehat yakni dengan mengganti bahan sintesis obat pada sediaan tablet hisap dengan menggunakan ekstrak bahan alam. Tablet hisap adalah sediaan padat farmasi yang yang memiliki banyak kelebihan, salah satunya adalah mudah dikonsumsi oleh semua kalangan termasuk periatri dan geriatri. Metode paling banyak digunakan dalam pembuatan tablet hisap adalah granulasi basah. Setiap bahan tambahan yang diformulasikan pada sediaan ini akan menghasilkan evaluasi yang berbeda-beda. Metode yang digunakan dalam penulisan kajian pustaka ini adalah dengan melakukan penelusuran pustaka dari penelitian yang berkaitan dengan formulasi dan evaluasi sediaan tablet hisap yang menggunakan bahan alam pada laman google scholar. Tujuan dilakukan review ini untuk membandingkan bahan tambahan pada formulasi tablet hisap berbahan dasar ekstrak yang digunakan dengan tujuan untuk melihat perbedaan evaluasi fisik tablet hisap sehingga dapat diketahui bahan tambahan terbaik yang dapat digunakan pada formulasi tablet hisap berbahan dasar alam. Bahan tambahan yang paling banyak digunakan pada formulasi tablet hisap yakni kombinasi mannitol-laktosa sebagai pengisi, PVP sebagai pengikat, kombinasi Mg Stearat-talk sebagai pelicin, sukrosa sebagai pemanis dan asam sitrat sebagai pemberi rasa asam.
Aktivitas Antihipertensi Ekstrak Kering Terstandarisasi Kelopak Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) Hasil Produksi Skala Pilot Yasmiwar Susilawati; Tira Soleha Rahmatullah; Ahmad Muhtadi; Ferry Ferdiansyah Sofyan; Ami Tjitraresmi
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 1 No. 10 (2018): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v1i10.90

Abstract

Salah satu tumbuhan yang digunakan dalam penanganan hipertensi adalah dengan kelopak bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.). Penelitian sebelumnya membuktikan bahwa ekstrak etanol kelopak bunga rosela menunjukkan aktivitas antihipertensi yang signifikan (P<0,1) dan prospektif untuk dikembangkan. Telah dilakukan produksi ekstrak kering rosela terstandarisasi skala pilot di industri ekstrak bersertifikat IEBA. Diperlukan pengujian aktivitas antihipertensi dari ekstrak tersebut sehingga dapat diketahui dosis yang tepat untuk diaplikasikan pada manusia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Non invasive blood pressure terhadap hewan uji tikus putih jantan galur Wistar. Penelitian ini terdiri atas 5 kelompok perlakuan yaitu kelompok kontrol negatif, dosis 150 mg/kgBB; dosis 250 mg/kgBB; dosis 350 mg/kgBB; dan dosis 500 mg/kgBB. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa dosis 250 mg/kgBB ekstrak kering kelopak bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) memiliki aktivitas sebagai antihipertensi pada tikus putih jantan galur wistar dengan persentase inhibisi sistol dan diastol sebesar 27,74% dan 33,18 %. Hasil konversi dosis untuk manusia yang menghasilkan efek penurunan tekanan darah pada manusia adalah dosis 2,8 gram/70 kgBB atau 40 mg/kgBB.
Uncovering Potential Health Beneficial Nutrient of Underutilized Crop Waste: An Insight from Ash and Metal Content Study of Banana Corm Indradi, Raden Bayu; Tjitraresmi, Ami; Ramadhania, Zelika Mega; Diwest, Dani Jermi
Indonesian Journal of Biological Pharmacy Vol 4, No 2 (2024): IJBP (Agustus)
Publisher : Department of Biological Pharmacy, Faculty of Pharmacy, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijbp.v4i2.61559

Abstract

Banana corm is considered unvaluable agricultural waste and is mainly discarded and left unused once the fruits are harvested. Uncovering the hidden values of this waste could be beneficial because of its abundance as a source. Hence, here we study the metal content of banana corm to find its potential health nutrients. The corm from three banana species, Musa balbisiana Colla., Musa x paradisiaca L. AAA, and Musa x paradisiaca L. ABB were collected, prepared, dried, and extracted with ethanol 70%. Dried material and extracts obtained were subjected to total ash and acid insoluble ash determination by gravimetric method and further subjected to metal determination by ICP-EOS tools. The results showed that M. x paradisiaca AAA showed the highest ash content among all three banana species in dried materials and extracts with values of 7.64% and 31.06%, respectively. The most abundant metal contained is potassium, with a M. x paradisiaca AAA had the highest content of potassium in dried samples with 18.774%. It is concluded that banana corm could be a potential source of potassium, which is beneficial in dietary or as supplementation to increase the daily intake of potassium to improve general health.
Antidiabetic activity of combined extracts of Hibiscus sabdariffa Linn. and Stevia rebaudiana Bert. on streptozotocin-induced diabetes Wistar rats Tjitraresmi, Ami; Febriyanti, Raden Maya; Anjabtsawa, Daffa; Susilawati, Yasmiwar; Muhaimin, Muhaimin
Chempublish Journal Vol. 9 No. 2 (2025): Chempublish Journal (July - December)
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/chp.v9i2.46449

Abstract

The increasing prevalence of diabetes mellitus and the limitation in its conventional therapies underscores the need for alternative treatments. Hibiscus sabdariffa Linn. and Stevia rebaudiana Bert. have demonstrated individual antidiabetic activities attributed to their secondary metabolites, including flavonoid and phenolic compounds. This study employed an experimental in vivo design using rats induced with STZ. Thirty rats were divided into five groups (n=6): normal control, negative control, positive control (Glibenclamide), and two treatment groups receiving the combined aqueous extracts of H.sabdariffa and S.rebaudiana (RSAE) at 500 and 1000 mg/kgBW. Diabetes was induced using STZ (50 mg/kgBW administered i.p). Blood glucose levels were measured fasting and 2 hr postprandial at days 0, 3, and 14 after administration of RSAE. Data were analyzed using One-Way ANOVA. RSAE exhibited dose‐dependent hypoglycaemic activity in STZ‐induced diabetic rats, significantly reducing (p < .005) fasting blood glucose by up to 50.7 % and two‐hour post‐prandial glucose by 44.97% at 1000 mg/kgBW.