Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Antimalaria Medicine and Its Mechanism : A Review Nor Latifah; Anas Subarnas; Anis Yohana Chaerunisaa
Majalah Farmasetika Vol 5, No 1 (2020): Vol. 5, No. 1, Tahun 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v5i1.25927

Abstract

Malaria is a deadly disease caused by Plasmodium infection that is spread by female Anopheles. Malaria is a serious and deadly disease due to Plasmodium infection which is spread by female Anopheles mosquitoes. Among the five Plasmodium species, the most common species attacking humans are the Plasmodium falciparum and Plasmodium vivax species. Decreased sensitivity resulting in continuous and inadequate treatment, causing parasitic mutations, other than that allegedly originating from resistant areas. The purpose of this paper is to find out some anti-malaria drugs and the mechanism of action used in Indonesia based on references from the current development of anti-malaria drugs. While the benefits are providing information about antimalarial drugs and the mechanism of action in the use of drugs in Indonesia for malaria. Treatment of malaria is classified into 3, namely: classification of malaria drugs based on the workings of drugs in the Plasmodium life cycle, classification of antimalarial drugs based on the chemical structure of the drug, and classification of antimalarial drugs based on the workplace of the drug in the Plasmodium subcellular organelle.Keywords: Malaria, Plasmodium, antimalarial, mechanism
Peran Pelembab dalam Mengatasi Kondisi Kulit Kering Maria Elvina Tresia Butarbutar; Anis Yohana Chaerunisaa
Majalah Farmasetika Vol 6, No 1 (2021): Vol. 6, No. 1, Tahun 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v6i1.28740

Abstract

Kondisi kulit kering merupakan salah satu masalah kulit yang dapat dialami oleh semua orang. Kondisi kulit kering bagi sebagian orang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman bahkan dapat menyebabkan terjadinya penyakit, seperti dermatitis atopik. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kulit kering, diantaranya iklim, faktor genetik, dan faktor lingkungan. Salah satu, solusi untuk mengatasi kondisi kulit kering adalah penggunaan pelembab. Pelembab merupakan salah satu produk komersial yang banyak tersedia di pasaran. Formulasi pelembab dapat bersifat sebagai humektan, oklusif, dan emolien yang memiliki mekanisme dan bahan yang berbeda. Berdasarkan hal tersebut perlu adanya suatu kajian mengenai perkembangan pelembab, mekanisme dari setiap pelembab, dan bahan-bahan yang dapat berfungsi sebagai pelembab.
FORMULASI MASKER GEL PEEL OFF UNTUK PERAWATAN KULIT WAJAH ASTRI SULASTRI; Anis Yohana Chaerunisaa
Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.277 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i3.10602

Abstract

Kosmetik wajah dapat diperoleh dalam berbagai bentuk sediaan. Masker wajah merupakan kosmetik perawatan kecantikan yang sangat popular untuk meningkatkan kualitas kulit. Masker wajah peel off merupakan salah satu jenis masker wajah yang mempunyai keunggulan dalam penggunaanya yaitu dapat dengan mudah dilepas atau diangkat seperti membran elastis. Masker wajah peel off diformulasikan dengan zat aktif, basis PVA, bahan pelunak, pelembab, pengawet, surfaktan dan pewangi. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perlu dilakukan optimasi formulasi sediaan masker gel peel off untuk memperoleh sediaan dengan kualitas tinggi. Untuk memperoleh formulasi sediaan dengan kualitas yang baik dapat dilakukan dengan evaluasi organoleptis, pH, viskositas, daya sebar, waktu mengering, tampilan dan ketebalan film serta profil stabilitasnya. Sediaan masker wajah peel off dengan kualitas baik dapat dilihat dari waktu mengering yang dipengaruhi oleh konsentrasi EtOH, gelatin dan gliserin, sedangkan kemudahan penggunaan sediaan yang berkaitan dengan viskositas dipengaruhi oleh konsentrasi PVA, karbomer, gelatin dan gliserin, serta kinerja pembentukan film dipengaruhi oleh konsentrasi PVA.Kata kunci: masker wajah gel peel off, formulasi, waktu mengering, kemudahan penggunaan, kinerja pembentukan film
Formulasi Gel Aromaterapi Dengan Basis Karagenan VALENTINE SOFIANI; Sriwidodo Sriwidodo; Anis Yohana Chaerunisaa
Farmaka Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.866 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i3.16238

Abstract

Penggunaan aromaterapi dalam kehidupan sehari-hari sangat banyak dan beraneka ragam bentuk serta kegunaannya. Sediaan aromaterapi yang beredar di pasaran, diantaranya adalah lilin aromaterapi, dupa, dan sabun aromaterapi. Namun, sediaan aromaterapi lain yang dapat digunakan adalah gel aromaterapi. Gel aromaterapi ini menggunakan minyak atsiri yaitu minyak lemon. Komponen utama yang digunakan sebagai polimer pembuatan gel aromaterapi ini adalah karagenan kappa yang merupakan hasil ekstraksi dari rumput laut jenis Eucheuma cottonii. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formula gel aromaterapi yang tepat dengan basis karagenan, mengetahui karakterisasi, dan stabilitas gel aromaterapi dengan basis karagenan. Metode penelitian ini meliputi optimasi basis gel dengan konsentrasi karagenan 2%;2,5%;3%;3,5%;4%, evaluasi basis gel, formulasi gel aromaterapi dan evaluasi gel aromaterapi. Evaluasi yang dilakukan meliputi pengujian organoleptis, pengujian sineresis gel, pengujian total penguapan zat cair dan persen bobot sisa, dan pengujian kekuatan gel pada suhu penyimpanan 25oC dan 40oC. Hasil pengujian organoleptis gel aromaterapi meliputi tekstur, warna, dan bau menunjukkan hasil yang baik pada suhu penyimpanan 25oC yaitu karagenan dengan konsentrasi 3%, minyak atsiri konsentrasi 7% dengan penambahan minyak nilam 1%, pengujian sineresis gel aromaterapi menunjukkan hasil yang baik yaitu kurang dari 1%, pengujian total penguapan zat cair dan persen bobot sisa yang lebih kecil dapat dilihat pada formula gel aromaterapi yang ditambahkan minyak nilam, dan pengujian kekuatan gel berkisar antara 2,200-3400 g.force.Kata Kunci    : Karagenan Kappa, Gel Aromaterapi, Minyak Lemon, Minyak Nilam 
AKTIVITAS ANTIBAKTERI HERBAL TERHADAP SHIGELLOSIS (Shigella dysenteriae) SHEILA FRIZQIA JELITA; Yoga Windhu Wardhana; Anis Yohana Chaerunisaa
Farmaka Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.736 KB) | DOI: 10.24198/jf.v18i1.22028

Abstract

ABSTRAKObat tradisional dengan bahan dasar tanaman telah digunakan sejak lama secara turun temurun di berbagai negara di dunia. Berbagai penelitian telah menunjukkan aktivitas dan mekanisme kerja tanaman-tanaman tertentu dalam melawan patogen yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia Shigellosis merupakan salah satu jenis infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Shigella dysenteriae dan berlokasi di usus. Kasus resistensi terhadap antibiotik juga telah terjadi pada S. dysenteriae, sulfonamid merupakan salah satu dari antibiotik tersebut. Oleh karena itu, pengembangan dan penelitian terkait pengobatan alternatif dengan bahan dasar tanaman sebagai penghambat pertumbuhan bakteri S. dysenteriae dapat menjadi suatu solusi untuk memecahkan masalah tersebut. Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri dari tanaman terhadap S. dysenteriae sebanding dengan antibiotik konvensional, bahkan secara sinergis dapat meningkatkan aktivitas antibiotik konvensional. Maka, penelitian terkait penggunaan bahan alam sebagai antibakteri diharapkan dapat mewujudkan pengobatan yang lebih efektif, efisien, dan aman dalam dunia farmasi.ABSTRACTTraditional medicines with plant based ingredients have been used for a long time for generations in various countries in the world. Numerous studies have shown the activity and mechanism of action of certain plants against pathogens that can cause infection in humans. Shigellosis is one type of acute infection caused by the bacterium Shigella dysenteriae and is located in the intestine. Cases of antibiotic resistance have also occurred in S. dysenteriae, sulfonamide is one of the antibiotics. Therefore, the development and research related to alternative medicine with plant based ingredients as inhibitors of S. dysenteriae's growth can be a solution to solve this problem. In addition, several studies have shown that the antibacterial activity of plants against S. dysenteriae is comparable to conventional antibiotics, even synergistically increase conventional antibiotic activity. Hence, researches related to the use of natural ingredients as an antibacterial agent is expected to be able to objectify a more effective, efficient and safe treatment in the pharmaceutical world.
KARAKTERISASI SERBUK SELULOSA MIKROKRISTAL ASAL TANAMAN RAMI (Boehmeria nivea L. Gaud) Ina Widia; Marline Abdassah; Anis Yohana Chaerunisaa; Taofik Rusdiana
Farmaka Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2087.59 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i3.15447

Abstract

AbstrakKarakteristik serbuk merupakan hal yang  penting untuk dipertimbangkan dalam proses pembuatan tablet, salah satunya akan mempengaruhi sifat alir massa cetak. Bahan pengisi tablet yang sering digunakan adalah selulosa mikrokristal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik serbuk selulosa mikrokristal hasil isolasi dari tanaman rami.  Metode penelitian ini meliputi penyiapan bahan baku serat rami, isolasi α-selulosa, pembuatan selulosa mikrokristal, dan karakterisasi selulosa mikrokristal. Hasil penelitian menunjukan rendemen selulosa mikrokristal sebesar 56,103%. Hasil karakterisasi serbuk selulosa mikrokristal meliputi reaksi warna, organoleptis, kelarutan, titik lebur, dan pH menunjukan kemiripan karakteristik dengan Avicel® PH 102 sebagai pembanding, kadar kelembapan selulosa mikrokristal hasil isolasi dan Avicel® PH 102 sebesar 0,88% dan 0,56%, laju alir 1,487 g/s dan 2,524g/s, sudut istirahat 28,5o dan 26,194o, kerapatan sejati 1,561 g/cm3 dan 1,533 g/cm3, kerapatan curah 0,326 g/cm3 dan 0,374 g/cm3, kerapatan mampat 0,435 g/cm3 dan 0,483 g/cm3, kompresibilitas 25,057% dan 22,567%, ukuran partikel dengan PSA 81,34 µm dan 129,9 µm. Kata kunci : karakteristik, serbuk, selulosa mikrokristal, rami. AbstractPowder characteristics are important to consider in the process of making tablets, one of which will affect the mass flow properties of the prints. The most commonly used tablet filler material is microcrystalline cellulose. The purpose of this research is to know the characteristic of microcrystalline cellulose powder from isolation from ramie. Methods of this study include preparation of raw materials of ramie fiber, α-cellulose insulation, microcrystalline cellulose manufacturing, and microcrystalline cellulose characterization. The result showed that microcrystalline cellulose yield was 56.103%. The results of characterization of microcrystalline cellulose powders include color reaction, organoleptic, solubility, melting point, and pH shown similarity in characteristic to Avicel® PH 102 as comparison, moisture content of microcrystalline cellulose and Avicel® PH 102 was 0.88% and 0.56%, flow rate at 1.487 g/s and 2.524 g/s, resting angle at 28.5o and 26.194o, true density at 1.561 g/cm3 and 1.533 g/cm3, bulk density at 0.326 g/cm3 and 0.374 g/cm3 , tapped density at 0.435 g/cm3 and 0.483 g/cm3, compressibility at 25.057% and 22.567%, particle size with PSA 81.34 μm and 129.9 μm.  Keywords : characteristics, powders, microcrystalline cellulose, ramie.
REVIEW: TANAMAN HERBAL BERKHASIAT SEBAGAI OBAT ANTIMALARIA Sinthiya Eka Wijayanti; Anis Yohana Chaerunisaa
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.503 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.21865

Abstract

Malaria adalah penyakit menular yang ditularkan oleh nyamuk pada manusia dan hewan lain yang disebabkan oleh protista (sejenis mikroorganisme) dari genus Plasmodium. Resistensi Plasmodium falciparum terhadap obat malaria semakin marak terutama pada obat malaria lini pertama seperti klorokuin dan sulfadoksin-pirimetamin. Tanaman herbal yang berkhasiat sebagai obat antimalarial memiliki aktivitas dari senyawa selain kuinon yang memiliki IC50 dengan kategori baik dan paling baik sehingga sangat berpotensial untuk dijadikan obat antimalarial. Dalam review ini telah disajikan 20 tanaman herbal berkhasiat antimalarial dengan berbagai kandungan.Kata kunci: Malaria, antimalaria, tanaman herbal ABSTRACTMalaria is an infectious disease that is transmitted by mosquitoes to humans and other animals caused by protists (a type of microorganism) from the genus Plasmodium. Plasmodium falciparum resistance to malaria drugs is increasingly high in first-line malaria drugs such as chloroquine and sulfadoxine-pyrimethamine. Herbal plants that are efficacious as antimalarial drugs have activity from additives other than quinone which have IC50 with the best and best category so that it is very potential to be used for antimalarial drugs. In this review it contains 20 antimalarial herbs with various ingredients.Keyword: Malaria, Antimalarial, Herbal plant
MUCILAGO OKRA : Variasi Ekstraksi Dan Potensinya Sebagai Eksipien Multifungsi Elvie Rifke Rindengan; Marline Abdassah; Anis Yohana Chaerunisaa
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.086 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.12583

Abstract

Pembuatan bentuk sediaan farmasi memerlukan eksipien. Eksipien yang digunakan dalam suatu formula obat berasal dari bahan alam atau sintesis. Buah Okra (Abelmoschus esculentus) mempunyai kandungan mucilago yang dapat diperoleh melalui proses ekstrasi. Mucilago yang berasal dari tanaman dalam berbagai penelitian memiliki fungsi sebagai eksipien farmasi. Mucilago Okra dapat dimanfaatkan sebagai pengemulsi, pensuspensi, pengikat tablet, matrix tablet dalam pembuatan tablet lepas lambat.
Effect of Carrageenan as Gelling Agent on Tocopherol Acetate Emulgels Meiti Rosmiati; Marline Abdassah; Anis Yohana Chaerunisaa
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.722 KB) | DOI: 10.24198/ijpst.v5i1.14280

Abstract

Vitamin E (Tocopherol acetate) is used in both oral and topical dosage.  The aim of  the research was to study  different concentration of Carrageenan, as gelling agent in Tocopherol acetate Emulgels.  This experimental study was initiated by emulgel formulation using different concentration of carrageenan as gelling agent, as much as 0,5% (F1), 0,75% (F2), 0,85% (F3), 0,95 % (F4), 1% (F5), 1,125% (F6), 1,25% (F7), 1,5% (F8) and 2% (F9).  Tween 20 and Span 20 were used as emulsifiers (1 and 1,5 %),  Liquid paraffin as oily phase (7,5%), Propylen glycol as humectant (10%), propyl and methyl paraben as antimicrobial preservative (0,01% and 0,03%). The physical investigation of emulgel were included pH, spreading test, viscosity and freeze thawtest. The results for promising formula F5 showed that physical parameters of emulgels were in the range of requirement for topical dosage form. Keywords: Tocopherol acetate (Vitamin E), emulgels, carrageenan
Aplikasi Kaolin dalam Farmasi dan Kosmetik Hayatus Sa'adah; Marline Abdassah; Anis Yohana Chaerunisaa
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 16 No. 02 Desember 2019
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (775.022 KB) | DOI: 10.30595/pharmacy.v16i2.5827

Abstract

Kaolin merupakan mineral tanah liat berwarna putih yang memiliki komponen terbesar berupa kaolinit dengan rumus kimia Al2O3.2SiO2.2H2O. Penggunaan kaolin untuk pengobatan berawal dari literatur-literatur barat abad pertengahan, terutama setelah kemunculan pendekatan yang lebih empiris terhadap efek farmakologi, pembentukan farmakope, perkembangan mineralogi, kimia dan teknologi farmasi, kemajuan dalam teknik instrumental, dan peningkatan dari reputasi terapeutik mineral. Kaolin dengan persyaratan khusus dapat digunakan dalam aplikasi farmasi (topikal maupun oral) dan kosmetik. Kaolin telah banyak digunakan sebagai obat dalam penyembuhan tradisional selama ribuan tahun dan penggunaannya sebagai bahan aktif untuk pengobatan beberapa penyakit terus diteliti. Artikel terkait pengumpulan informasi penggunaan kaolin dalam aplikasi farmasi dan kosmetik belum banyak dilakukan, sehingga artikel ini dibuat untuk mengulas peran dan fungsi kaolin dalam aplikasi farmasi dan kosmetik. Tujuan keseluruhan dari artikel ini adalah untuk memberikan informasi tentang pemanfaatan dan pengembangan kaolin sebagai bahan aktif atau eksipien dalam bidang farmasi dan kosmetik. Kaolin dapat diberikan secara oral sebagai antibakteri, antivirus, dan antidiare, dan secara topikal sebagai agen pelindung dermatologis. Selain sebagai bahan aktif, kaolin juga biasa digunakan dalam aplikasi farmasi sebagai bahan eksipien. Beberapa fungsi dari kaolin sebagai eksipien yaitu sebagai bahan pengisi, agen pengemulsi, agen suspensi, dan bahan penghancur. Selain dalam aplikasi farmasi, kaolin juga digunakan dalam aplikasi kosmetik sebagai agen tabir surya dan untuk tujuan perawatan kulit. Metode penulisan artikel ini ditulis berdasarkan studi literatur dari artikel dan jurnal yang relevan dengan permasalahan yang dikaji.