Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Share : Social Work Journal

PEMBERDAYAAN EKONOMI LOKAL MELALUI PELATIHAN PERENCANAAN BISNIS UNTUK WIRAUSAHA PEMULA Resnawaty, Risna; Apsari, Nurliana Cipta; Wibhawa, Budhi; Humaedi, Sahadi
Share : Social Work Journal Vol 4, No 1 (2014): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.495 KB) | DOI: 10.24198/share.v4i1.13058

Abstract

Pembangunan masyarakat saat ini berlandaskan paradigma bottom up, sebuah pemahaman pembangunan yang tidak hanya berangkat dari bawah, namun paradigma ini juga memiliki arti bahwa masyarakatlah yang mengendalikan pembangunan. Dalam kegiatan PKM ini, tim berusaha mengajak masyarakat untuk dapat mengenali, memahami kondisi-kondisi aktual dalam masyarakat; dan merumuskan kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kegiatan PKM yang diawali dengan proses assessment bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan potensi ekonomi lokal yang ada di lingkungan masyarakat, sehingga dapat memanfaatkan potensi tersebut secara maksimal, selain itu dengan adanya PKM ini juga, kapasitas masyarakat dapat ditingkatkan terutama pengetahuan dan pemahaman mengenai wirausaha kepada masyarakat.Berdasarkan hasil pemetaan/assessment diketahui bahwa Desa Sukarasa tidak hanya memiliki potensi alam yang melimpah, namun didukung pula oleh sumber daya manusia yang terampil terutama dalam kerajinan tangan dan olahan makanan. Walaupun demikian kondisi kehidupan masyarakat, terutama pada aspek ekonomi belumlah memadai, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti kondisi kualitas SDM yang masih rendah dan infrastruktur desa yang juga belum memadai. Sebagai contoh masyarakat pelaku industri kerajinan tangan dan olahan makanan belum mampu untuk menghasilkan produk yang ‘berbeda’ dan berkualitas bagus sehingga memiliki nilai jual tinggi. Dengan pertimbangan dari berbagai kondisi tersebut, maka kegiatan PKM ini diarahkan pada aspek ekonomi dengan menyelenggarakan pelatihan yang bertemakan “Pemberdayaan Ekonomi Lokal Melalui Pelatihan Perencanaan Bisnis Untuk Wirausaha Pemula”.Hasil dari kegiatan pelatihan tersebut, nampak bahwa warga lebih termotivasi untuk melakukan kegiatan wirausaha, sebab masyarakat sudah memahami mengenai strategi usaha terutama mengenai pemasaran, dan masyarakat berharap kegiatan serupa dapat dilakukan kembali di Desa Sukarasa.
PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL JATINANGOR MELALUI WISATA EDUKASI Mulyana, Nandang; Fauziyyah, Hani; Resnawaty, Risna
Share : Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.367 KB) | DOI: 10.24198/share.v7i1.13827

Abstract

Jatinangor merupakan kawasan industri yang banyak terdapat perguruan tinggi. Jatinangor menjadi wilayah yang paling banyak didatangi oleh orang dari luar daerah baik itu untuk melanjutkan pendidikannya maupun untuk usaha. Hal ini dikarenakan di Jatinangor terdapat perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswa yang besar. Kehadiran pendatang setiap tahun ini menjadi sebuah potensi untuk dimanfaatkan dari pengembangan masyarakat Jatinangor itu sendiri.Salah satu program yang memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh Jatinangor adalah wisata edukasi. Program ini berkaitan dengan tingginya masyarakat untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi yang ada di Jatinangor. Wisata edukasi di Jatinangor tersebut juga diarahkan dengan melibatkan masyarakat sekitar kampus yang ada di Jatinangor. Selain itu, wisata edukasi ini juga sebagai salah satu bentuk pengamalan dari tri darma perguruan tinggi yaitu pengebdian kepada masyarakat.Keberhasilan pengembangan ekonomi masyarakt melalui wisata edukasi ini tentunya tidak terlepas dari keterlibatan semua pihak. Pihak perguruan tinggi yang mempunyai sarana dan informasi yang dapat disebarkan kepada masyarakat. Di sisi lain masyarakat juga akan terdongkrak ekonominya dengan terlibat dalam wisata edukasi. Sementara wisatawan akan terbantu dengan informasi yang diterimanya.
STRATEGI COMMUNITY PRACTICE DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA BERBASIS MASYARAKAT Resnawaty, Risna
Share : Social Work Journal Vol 6, No 1 (2016): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.596 KB) | DOI: 10.24198/share.v6i1.13152

Abstract

Industri pariwisata merupakan salah satu sektor yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Industri pariwisata mendorong tumbuhnya ekonomi produktif di masyarakat. Industry pariwisata membuka peluang bagi masyarakat untuk melakukan berbagai jenis usaha seperti usaha penginapan, katering, kerajinan, dan lainnya. Pengelolaan pariwisata yang baik adalah ketika sektor pariwisata dapat memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat ketika usaha-usaha kecil yang ada di masyarakat ikut dilibatkan dalam industri pariwisata. Kepulauan Seribu memiliki tiga karakteristik khusus sebagai daerah wisata pantai yang menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk datang berkunjung. Ketiga karakteristik wisata ini antara lain wisata pantai (pulau wisata umum) berjumlah 45 pulau, wisata cagar alam berjumlah 2 (dua) pulau dan wisata sejarah berjumlah 4 (empat) pulau. Dari keseluruhan pulau terdapat 11 pulau wisata yang merupakan pulau permukiman,. Salah satu pulau yang menjadi objek wisata favorite di kepulauan Seribu adalah Pulau Tidung. Pulau Tidung merupakan salah satu pulau pemukiman yang memiliki potensi alam yang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan. Potensi tersebut merupakan aset yang dimiliki oleh masyarakat Pulau Tidung, yang apabila dikembangkan akan dapat mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Diawali dengan kebijakan pemerintah pusat yang kemudian diimplementasikan dalam kegiatan pengembangan pariwisata berhasil mendorong pulau Tidung sebagai salah satu tujuan wisata utama di Kepulauan Seribu. Dalam proses pengembangan pariwisata ini Masyarakat Pulau Tidung turut bergerak aktif sebagai pelaku utama dari perubahan yang awalnya masyarakt nelayan menjadi masyarakat pariwisata. Kesadaran masyarakat untuk turut berkontribusi dalam pengembangan pariwisata didukung dengan langkah-langkah strategis dalam mengembangkan keterampilan dan mengembangkan jejaring untuk mendukung kemajuan pariwisata Pulau Tidung, serta keterlibatan antar actor.
PENGANGGULANGAN KEMISKINAN MELALUI PENGEMBANGAN ASET KOMUNITAS Fedryansyah, Muhammad; Resnawaty, Risna
Share : Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.184 KB) | DOI: 10.24198/share.v7i1.13828

Abstract

Penanggulangan kemiskinan merupakan salah satu tujuan utama dalam pembangunan yang dilakukan di daerah. Terkait dengan hal tersebut, orientasi pembangunan yang bergeser dari top down menjadi bottom up juga menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam merancang berbagai program pembangunan. Begitupula yang dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Sumedang, yang berupaya untuk menanggulangi kemiskinan di wilayahnya. Dalam penelitian ini, akan difokuskan pada penanggulangan kemiskinan melalui pengembangan asset komunitas dengan mengambil kasus di wilayah Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Pengembangan asset komunitas merupakan salah satu kajian dalam bidang ilmu kesejahteraan sosial, terutama dalam kajian pengembangan masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan melakukan analisis berdasarkan interpretasi dari data primer maupun sekunder. Proposisi dari penelitian ini adalah penanggulangan kemiskinan dapat dilakukan melalui pengembangan asset komunitas yang ada di masyarakat. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dari dari lima tipe asset komunitas (fisik, sumberdaya manusia, sosial, lingkungan, dan finansial) yang ada di Kecamatan Jatinangor, asset yang dapat dikembangkan adalah asset fisik, asset sumber daya manusia, dan asset sosial. Dengan demikian, pemerintah daerah Kabupaten Sumedang dapat merancang program pembangunan dengan memanfaatkan asset yang sudah ada tersebut (fisik, sumber daya manusia, dan sosial).
CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PT. ANEKA TAMBANG UBPE SEBAGAI SOLUSI MASALAH PENDIDIKAN BAGI MASYARAKAT KECAMATAN NANGGUNG, KABUPATEN BOGOR Rizky, Danis Dea; Raharjo, Santoso Tri; Resnawaty, Risna
Share : Social Work Journal Vol 4, No 2 (2014): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.553 KB) | DOI: 10.24198/share.v4i2.13064

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh munculnya isu mengenai rendahnya pendidikan yangdialami oleh masyarakat kabupaten Bogor. Dilihat dari kondisi wilayah kabupaten Bogor pada bidang pendidikan, yaitu mengalami kerusakan fasilitas gedung sekolah, minimnya jumlah guru yang berstatus PNS, dan berpengaruh pada siswa menerima pelajaran yang tidak efektif. Permasalahan yang dihadapi kabupaten Bogor di bidang pendidikan ini tercermin dari ukuran Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada tahun 1999. Dilihat dari hasil ukuran IPM tahun 1999 beberapa kecamatan yang ada di kabupaten Bogor yaitu salah satunya kecamatan Nanggung cengan kondisi masyarakat tertinggal, pendapatan rendah, serta hubungan antar daerah tidak lancar atau terisolasi. Dilihat isu tersebut selain pemerintah yang dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan di wilayah kecamatan Nanggung maka perlu peran swasta melalui Corporate Social Responsibilit (CSR).PT. Antam UPBE Pongkor ikut berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di wilayah operasi pertambangan melalui program CSR nya, yaitu pemberian bantuan guru honorer, siswa berprestasi, dan perbaikan sarana prasarana sekolah. Adanya program CSR yang dilakukan oleh PT. Antam UPBE akan membantu peningkatkan mata pencaharian masyarakat dan menciptakan kondisi kehidupan yang berkelanjutan.
PERAN INSTITUSI LOKAL DALAM KEGIATAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT: KASUS PUNGGAWA RATU PASUNDAN DALAM PROGRAM DESA WISATA DI DESA SUKARATU KECAMATAN GEKBRONG KABUPATEN CIANJUR Darwis, Rudi Saprudin; Resnawaty, Risna; Irfan, Maulana; Risman, Apep
Share : Social Work Journal Vol 6, No 2 (2016): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.773 KB) | DOI: 10.24198/share.v6i2.13213

Abstract

Pengembangan masyarakat merupakan suatu aktivitas yang direncanakan guna meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui program-program yang mampu mengembangkan potensi yang dimiliki dan menggunakan institusi lokal sebagai wadah aktivitas kolektifnya. Penelitian ini ditujukan untuk menggambarkan peran institusi lokal dalam program Desa Wisata di Desa Sukaratu Kecamatan Gekbrong Kabupaten Bandung yang telah mampu menarik partisipasi aktif masyarakat untuk menjadi pelaku utama dalam pengelolaan kegiatan wisata. Pendekatan yang digunakan dalam studi ini adalah pendekatan kualitatif dengan teknik studi kasus. Adapun kasus yang dijadikan subyek studi adalah kasus Punggawa Ratu Pasundan (PRP) sebagai institusi lokal yang dibentuk dalam program desa wisata di Desa Sukaratu, Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur. Gambaran mengenai peranan institusi lokal dalam pengembangan masyarakat akan dideskripsikan melalui empat peranan yang dilakukan PRP dalam aktivitas pengembangan desa wisata di Desa Sukaratu, yaitu fasilitatif, mediasi, penyampai informasi, dan pendayagunaan gotong royong. Hasil penelitian menunjukan peran fasilitatif dilaksakan oleh PRP dalam menjaring berbagai aspirasi masyarakat dan anggotanya. Peran mediasi dilakukan oleh PRP dalam ranah penyelesaian konflik-konflik yang terjadi didalam organisasi. Peran PRP sebagai penyampai informasi sering dilakukan dalam rapat mingguan guna terus menjaga konsisitensi organisasi dalam mengedukasi masyarakat. Peran terakhir adalah peran PRP dalam mendayagunakan gotong royong masyarakat, peran ini dilakukan dengan mewadahi kegiatan-kegiatan gotong royong masyarakat dan menyalurkannya melalui kegiatan-kegiatan pembangunan yang menyangkut kepentingan umum. Namun suksesi kepengurusan yang tertunda-tunda, hilangnya sosok tokoh masyarakat yang menjadi salah satu penggerak, dan kurangnya dukungan dari pemerintah setempat menyebabkan vakumnya kepengurusan PRP, sehingga kegiatannya agak tersendat. Atas dasar hasil studi ini maka direkomendasikan bahwa untuk merealisasikan suksesi organisasi oleh masyarakat secara independen dan mandiri agar kegiatan pegelolaan wisata Desa Sukaratu dapat berlanjut secara optimal.
Community Driven Development Dalam Implementasi Corporate Social Responsibility oleh PT. Pertamina Subang Resnawaty, Risna; DARWIS, Rudi Saprudin
Share : Social Work Journal Vol 8, No 1 (2018): Share: Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.277 KB) | DOI: 10.24198/share.v8i1.16426

Abstract

ABSTRAKImplementasi CSR oleh badan usaha milik negara sering dianggap sebagai program bantuan sukarela. Tapi tidak demikian dengan program CSR yang dilakukan oleh PT. Pertamina field Subang. Program CSR pada awalnya lebih didominasi oleh program insidental yang berangsur-angsur bergerak menuju pemberdayaan masyarakat. Program pengelolaan sampah menjadi salah satu andalan dalam pelaksanaan CSR di Dusun Dangdeur Kabupaten Subang yang berupaya untuk memberdayakan masyarakat.Community Driven Development (CDD) adalah sebuah konsep yang dapat menjelaskan upaya dan inisiatif masyarakat dalam melaksanakan pengembangan masyarakat. Program CDD sebagai implementasi CSR ini diinisiasi oleh perusahaan, kemudian perusahaan melibatkan dan melatih masyarakat agar bisa mengendalikan proses pengembangan masyarakat secara mandiri, melalui penggunaan aset sumber daya dan membuat keputusan pengambilan wewenang langsung dalam menentukan keberlangsungan program dan pencapaian tujuan bersama dalam masyarakat tersebut.Keywords: community development, community Driven Development, CSR.
PROGRAM ECO FORESTRY GREEN TOURISM SEBAGAI IMPLEMENTASI CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY PT BIO FARMA (PERSERO) DITINJAU DARI PERSPEKTIF INTEGRATED SUSTAINABILITY Resnawaty, Risna; Firmansyah, Tendry; Sarmedi, Sarmedi; Adiansah, Wandi
Share : Social Work Journal Vol 14, No 1 (2024): Share : Social Work Journal
Publisher : University of Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v14i1.54831

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian pada program CSR (Corporate Social Responsibility) PT Bio Farma (Persero) pada Program Eco Forestry Green Tourism di Bukit Senyum Desa Cipada, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat. Program ini memiliki upaya untuk pencapaian target SDGs (Sustainable Develoment Goals) terutama pada SDG1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan yang Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dan SDG 16 (Ekosistem Daratan). Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengkaji fenomena pengembangan pariwisata berbasis masyarakat yang dilakukan dalam salah satu program CSR PT Bio Farma (Persero) yaitu program Eco Forestry Green Tourism dengan menggunakan konsep integrated sustainability dan sustainability compass. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam pada penerima manfaat, CDO dan tokoh masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program Eco Forestry Green Tourism yang digagas oleh PT Bio Farma memberikan peningkatan pendapatan dan keterampilan bagi masyarakat dalam mengelola tempat wisata. Perusahaan juga memiliki fokus pada peningkatan kualitas pendidikan melalui pengembangan antara kurikulum sekolah dengan pengelolaan biodiversity serta pemberian sarana praktik secara langsung dalam bidang peternakan, serta melengkapi sarana dan prasarana wisata di Bukit Cipada yang dikelola oleh masyarakat secara mandiri untuk memanjakan wisatawan yang datang. Dari kacamata integrated development, program CSR yang dilakukan oleh perusahaan bukan hanya mencerminkan komitmen, namun juga kesadaran dari perusahaan untuk melakukan CSR yang terintegrasi yang kemudian menjadi manifestasi identitas perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program Eco Forestry Green Tourism diimplementasikan oleh perusahaan sebagai bentuk CSR yang komprehensif secara bentuk telah mencakup pemenuhan kebutuhan, mempertegas identitas perusahaan, dan telah dapat memenuhi unsur ekonomi: pendapatan, unsur sosial: mewujudkan kurikulum yang terintegrasi antara pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola ternak secara mandiri, serta unsur lingkungan: menjaga hutan bukit senyum sehingga terjaga ekosistemnya dan memiliki nilai ekonomis untuk pariwisata.