Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Program Intervensi Kesehatan Pasien Diabetes Melitus dengan Edukasi Makanan Sehat Serta Pemeriksaan Kadar Glukosa dan HbA1c Indahsari, Noer Kumala; Yaniari, Roethmia; Masfufatun, Masfufatun; Herliani, Olivia; Tjandra, Lusiani; Purbowati, Rini
Prosiding Seminar Nasional Kusuma Vol 3 (2025): Prosiding Seminar Nasional Kusuma
Publisher : LPPM UWKS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat di Indonesia. Gaya hidup tidak sehat, khususnya pola makan tinggi gula, lemak, dan rendah serat, menjadi faktor risiko utama. Pengelolaan DM tidak hanya melalui pengobatan farmakologis, tetapi juga membutuhkan edukasi berkelanjutan terkait pola makan sehat dan pemantauan kadar glukosa darah serta HbA1c untuk menilai keberhasilan kontrol glikemik. Tujuan: Program intervensi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pasien DM terhadap pentingnya pengetahuan kesehatan serta mengevaluasi perubahan kadar glukosa darah dan HbA1c setelah diberikan edukasi kesehatan dan intervensi pemeriksaan laboratorium. Metode: Pengabdian Kepada Masyarakat ini menggunakan desain pre-test dan post-test one group design dengan pendekatan kuantitatif. Sebanyak 35 partisipan yang terdiri guru dan karyawan di SMA X dilibatkan dalam program intervensi. Intervensi dilakukan melalui penyuluhan gizi sehat berbasis pedoman Diet Diabetes Indonesia (PERSAGI), konseling individual, serta pemeriksaan kadar glukosa darah puasa dan HbA1c. Data dianalisis menggunakan uji Spearmans-test untuk melihat perbedaan signifikan sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pengetahuan peserta p-value=0,015(p < 0,05) dan hubungan signifikan antara kadar glukosa dan HbA1c dengan nilai p-value = 0,000 (p<0,05), namun tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kadar glukosa darah (p value = 0,1333) dan kadar HbA1c (p-value = 0,497)  Perubahan ini menunjukkan bahwa edukasi terarah dan pemantauan berpengaruh positif terhadap kontrol metabolik peserta. Kesimpulan:Program intervensi kesehatan berbasis edukasi makanan sehat  dan pemeriksaan glukosa serta HbA1c terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta dan memperbaiki kendali glikemik.
Pendampingan Kesehatan Kepada Peternak Dan Pengenalan Penyakit Infeksi Ternak Mastitis Dan Resistensi Antimikroba Di KPUD Tani Wilis Tulungagung Tania, Putu Oky Ari; Masfufatun, Masfufatun; Tjandra, Lusiani; Nadila, Sucia; Colin, Muhammad; Nugraha, Wima Handika; Sakri, Brian Manggala
JAPI (Jurnal Akses Pengabdian Indonesia) Vol 10, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/japi.v10i3.7562

Abstract

Penyakit infeksi pada ternak khususnya sapi perah ada jenis yang beresiko menularkan kepada peternak (zoonosis) atau sebaliknya dapat menularkan ke peternak atau sebaliknya. Mastitis merupakan penyakit infeksi yang menyerang ambing susu sapi perah yang dapat berdampak ekonomi dan kesehatan. Masalah kesehatan lain adalah resistensi antimikroba yang menjadi issue global khususnya di negara berkembang. Daerah Tulungagung, Jawa Timur menjadi daerah empat besar pemasok susu di Jawa Timur. Bidang usaha masyarakat yaitu KPUD Tani Wilis yang menaungi lebih dari 1800 masyarakat produktif yaitu peternak. Pemahaman mengenai penyakit infeksi yang belum tersentuh secara menyeluruh perlu ditingkatkan, untuk itu kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan pengalaman peternak terutama terkait penyakit infeksi pada ternak maupun manusia. Tujuan: memberikan pendampingan dan pengenalan penyakit infeksi mastitis dan resistensi antimikroba pada sapi perah dan orang-orang di sekitar daerah pertanian. Metode: edukasi dengan metode pemaparan materi kepada 57 peserta dan konsultasi peternak ke narasumber, serta pembagian leaflet. Evaluasi kegiatan berupa penilaian pre-test dan pemberian leaflet di awal kegiatan. Hasilnya nilai tertinggi yaitu 100 poin didapatkan pada 23% peserta, dengan nilai terendah 60 poin ditunjukkan dengan prosentase terkecil sebesar 15%. Pada sesi konsultasi tidak kurang dari 11 pertanyaan diajukan kepada narasumber.
PATHOLOGICAL AND MOLECULAR PARAMETERS SHOW NO SIGNIFICANT ASSOCIATION WITH RESIDUAL CANCER BURDEN IN BREAST CARCINOMA Rahmanti, Fishella Aprista; Sandhika, Willy; Tjandra, Lusiani
Folia Medica Indonesiana Vol. 61, No. 2
Publisher : Folia Medica Indonesiana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Residual Cancer Burden (RCB) is a validated scoring system that quantifies the amount of tumour remaining after neoadjuvant chemotherapy (NAC) for breast cancer, providing prognostic information beyond binary outcomes, such as pathologic complete response (pCR). pCR represents a binary endpoint within various NAC response-grading systems, including RCB, rather than a separate reporting system. This study aimed to assess clinicopathological and molecular predictors of RCB class, including histological grade, histopathological type, molecular subtype, and Ki-67 index. A retrospective study was conducted on 68 patients diagnosed with breast carcinoma who underwent NAC. Descriptive statistics and Pearson, Spearman, and chi-square tests were used to evaluate associations between these variables and RCB class. The mean Ki-67 index was 49.9% (standard deviation not specified), and most tumours were grade 2 (48.5%), invasive carcinoma of no special type (79.4%), and luminal B subtype (63.2%). The distribution of RCB classes was RCB III (42.6%), RCB II (35.3%), RCB 0 (13.2%), and RCB I (8.8%). Statistical analysis did not reveal significant associations between histological grade, histopathological type, molecular subtype, or Ki-67 and RCB class (all p > 0.05). No statistically significant associations were identified; however, the study may be insufficiently powered to detect smaller but clinically meaningful relationships. These findings point to the need for larger, multicentre studies with standardised biomarker assessment to improve post-treatment prognostication.
HUBUNGAN KONSUMSI TEH DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WIJAYA KUSMA SURABAYA Mulyana, Clarissa Joceline; Wulandari, Atik Sri; Ratnasari, Diana Tri; Tjandra, Lusiani
Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteran Vol 4 (2026): Edisi 2026
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Anemia berdampak bagi tubuh yaitu menyebabkan mudah terserang penyakit dan penurunan kecepatan berpikir akibat kurangnya pasokan oksigen ke otak. Seseorang dapat dikatakan mengalami anemia apabila memiliki kadar hemoglobin dibawah normal. Penyebabnya multifactorial, salah satunya frekuensi konsumsi teh. karena dalam teh terdapat kandungan tanin yang dapat menghambat penyerapan zat besi yang berfungsi sebagai pembentuk hemoglobin. Budaya konsumsi teh di Indonesia dinikmati oleh semua kalangan termasuk mahasiswa fakultas kedokteran. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsumsi teh dengan kadar hemoglobin dalam darah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Metode: Penelitian berjenis analitik dengan survei observasional dan dilakukan secara cross- sectional. Responden adalah mahasiswa dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner untuk menilai frekuensi konsumsi teh, dan kadar hemoglobin diukur menggunakan alat digital Hb meter. Analisis hubungan antar variabel dilakukan dengan uji chi-square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan ditemukan hubungan signifikan antara frekuensi konsumsi teh dan kadar hemoglobin (p = 0,008), menunjukkan responden sering mengonsumsi teh memiliki kadar hemoglobin lebih rendah dibandingkan dengan responden jarang mengonsumsi teh.Kesimpulan: Frekuensi konsumsi teh memiliki hubungan yang signifikan dengan kadar hemoglobin, menunjukkan bahwa konsumsi teh yang berlebihan berperan dalam menurunkan kadar hemoglobin secara signifikan pada populasi mahasiswa ini.
EDUKASI PADA IBU PKK MENGENAL, MENCEGAH DAN MENGOBATI INFEKSI CACING KREMI PADA ANAK DI PUTAT JAYA SURABAYA Tjandra, Lusiani; Ishartadiati, Kartika; Wulandari, Atik Sri; Purbowati , Rini; Masfufatun; Indahsari, Noer Kumala
Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteran Vol 4 (2026): Edisi 2026
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Cacingan adalah penyakit menular yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia karena menyebar di banyak daerah serta dapat menyebabkan penurunan kualitas kesehatan, gizi, kecerdasan, dan produktivitas. Cacingan adalah penyakit yang berkaitan dengan lingkungan, sehingga perhatian terhadap kebersihan lingkungan harus ditingkatkan. Sebenarnya, infeksi cacing di perut dapat berkurang atau bahkan dihilangkan jika diterapkan pola hidup bersih dan sehat, perlu strategi pemberdayaan masyarakat, dan kemitraan, yang ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang tanda dan gejala cacingan serta cara penularan dan Pencegahannya serta meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat guna memelihara kesehatan. Tujuan Untuk meningkatkan pengetahuan tentang mengenai cara penularan, gejala. cara pencegahan dan pengobatan cacing kremi pada Ibu-ibu PKK di Kelurahan Putat Jaya Surabaya. Metode: edukasi dengan penyuluhan dan demontrasi diutamakan bagi para ibu ibu PKK melalui kader kesehatan yang aktif di masyarakat. Melalui metode ini diharapkan masyarakat, terutama para ibu ibu pkk, dapat lebih aktif dalam mencari informasi mengenai cara penularan, gejala. cara pencegahan dan pengobatan cacing kremi serta mengetahui efek samping dan aturan minum obat cacing. Hasil: didapatkan nilai rata-rata pretest 5.83 dan nilai rata-rata posttest meningkat menjadi 8.20, setelah data di uji T-Test didapatkan p hitung = 0.000, yang berarti ada perbedaan hasil test sebelum dan sesudah edukasi. Kesimpulan: sesudah edukasi terdapat peningkatkan pengetahuan yang signifikan tentang mengenai cara penularan, gejala, cara pencegahan dan pengobatan cacing kremi pada Ibu ibu PKK di Kelurahan Putat Jaya Surabaya.
DAYA HAMBAT MINYAK CENGKEH TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli Putro, Denny Haryono; Tjandra, Lusiani; Indahsari, Noer Kumala
Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteran Vol 4 (2026): Edisi 2026
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Hasil uji aktivitas antibakteri dari penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa batang cengkeh dapat menghentikan pertumbuhan kuman MRSA. Hal ini disebabkan karena 90–95% batang cengkeh mengandung eugenol, zat kimia antibakteri. Bakteri patogen gram positif dan gram negatif, termasuk bakteri yang resistan terhadap antibiotik, dapat dihambat pertumbuhannya oleh kualitas antibakteri dari zat kimia eugenol yang ditemukan dalam batang cengkeh. Tujuan: untuk mengetahui daya hambat minyak cengkeh terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan design post-test only control grup dan metode simple random sampling. Biakan murni bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus digunakan sebagai sampel dalam agar Mueller Hinton Agar. Data penelitiannya adalah data stasitik diameter Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dan analisis data di gunakan adalah one-way ANOVA. Hasil: analisis menunjukkan bahwa minyak cengkeh mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli, terbukti dengan nilai sig. < 0,05. Kesimpulan: efektivitas minyak cengkeh mampu menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Escherichia, namun tidak sebaik Antibiotik Ampicillin dan Kloramfenikol.
Antibacterial Effectiveness of White Champaca Flower (Michelia alba dc) Against Growth of Corynebacterium diphtheriae Putri, Tiara Nandita; Budianto, Nugroho Eko Wirawan; Tjandra, Lusiani
Jurnal Ilmiah Kedokteran Wijaya Kusuma Vol. 14 No. 1 (2025): MARET 2025
Publisher : Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30742/jikw.v14i1.3923

Abstract

Background: Corynebacterium diphtheriae is a bacterium that attacks the respiratory tract, especially the larynx, tonsils, and throat. These bacteria can release toxins that can cause diphtheria. One of the nutritious plants that people often use is the white Champaca flower, or Michelia alba. Objective: This study aimed to examine the antibacterial effectiveness of white champaca flower (Michelia alba dc) against the growth of Corynebacterium diphtheriae. Methods: Experimental research method with post-test only control group design using Cup-plate technique of ethanol extract of white Champaca flower (Micheia alba) in various concentrations (20%, 40%, 60%, 80%, and 100%) and Erythromycin as a positive control and aquades as a negative control. Results: The results of this research are that the minimum inhibitory concentration against the growth of Corynebacterium diphtheriae bacteria at a 20% concentration is 42.16 mm, the concentration of 40% is 47.21 mm, the concentration of 60% is 51.66mm, while at the concentration of 80% the average diameter of the inhibitory zone is 54.49 mm and also at the concentration of 100% the average diameter of the inhibition zone is 54.69 mm which is the average diameter of the largest inhibition zone. The negative control with an inhibitory zone diameter of 0 mm, while the positive control with an inhibitory zone diameter of 44.21 mm. Conclusion: White Champaca flower extract (Michelia alba dc) had antibacterial effectiveness against the growth of Corynebacterium diphtheriae and at a concentration of 100% it is the most effective concentration in inhibiting the growth of Corynebacterium diphtheriae bacteria. 
Incision Wound Healing Activity of Red Betel Leaf (Piper crocatum) in Wistar Rats Maharani Rizki Amanda Barokah; Tjandra, Lusiani; Andra Agnes Al Aska; Atik Sri Wulandari
Jurnal Ilmiah Kedokteran Wijaya Kusuma Vol. 15 No. 1 (2026): March 2026
Publisher : Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30742/jikw.v15i1.5054

Abstract

Background: Incisional wounds are tissue injuries that requireappropriate management to prevent complications. Red betelleaf (Piper crocatum) contains bioactive compounds with antiinflammatory, antioxidant, and antimicrobial properties thatmay enhance wound healing. Objective: This study aimed toevaluate the wound-healing activity of red betel leaf extract inWistar rats with incisional wounds. Methods: The research usedan experimental laboratory design in which test animals weredivided into five groups.: three treatment groups with extractconcentrations of 5%, 10%, and 15%, a positive control groupusing 10% povidone iodine, and a negative control group using0.9% NaCl. Observed parameters included redness, edema,exudate, granulation tissue formation, and wound lengthchanges during the healing process. Result: The resultsdemonstrated that Piper crocatum extract, particularly at aconcentration of 15%, significantly reduced inflammatory signs(erythema, edema, and exudate) and accelerated granulationtissue formation and wound contraction compared with thecontrol groups (p < 0.05). Conclusion: These findings suggestthat red betel leaf extract possesses pharmacological activitythat accelerates wound healing and has potential as acomplementary therapy in wound management.