Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Pengaruh Pertambangan Batuan Tanpa Izin Terhadap Lingkungan Permukiman di Desa Wasuponda Kecamatan Wasuponda Kabupaten Luwu Timur Maharani Anggraeni; Andi Muhibuddin; Syafri Syafri
Urban and Regional Studies Journal Vol. 5 No. 2 (2023): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2023
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v5i2.2699

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak penambangan batuan terhadap lingkungan permukiman di Desa Wasuponda dan memberikan arahan untuk mengendalikan aktivitas penambangan tanpa izin. Metode deskriptif kuantitatif digunakan dalam penelitian ini dengan mengkuantifikasi data dan menjelaskan kejadian secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan pertambangan memiliki pengaruh yang bervariasi terhadap lingkungan permukiman, dengan kondisi jalan memiliki hubungan sangat kuat, kondisi air bersih memiliki hubungan lemah, dan kondisi kesehatan masyarakat memiliki hubungan sangat kuat. Pengelolaan penambangan liar di lingkungan permukiman Desa Wasuponda perlu dilengkapi dengan dokumen UKL-UPL untuk mengendalikan dampaknya terhadap lingkungan. This study aims to evaluate the impact of rock mining on residential environments in the village of Wasuponda and provide guidance on controlling unauthorized mining activities. A quantitative descriptive method was used in this research by quantifying data and describing events descriptively. The results showed that the mining area has varying effects on the residential environment, with road conditions having a very strong relationship, clean water conditions having a weak relationship, and community health conditions having a very strong relationship. Management of illegal mining in the residential environment of Wasuponda village needs to be supplemented with an Environmental Management Plan (UKL-UPL) document to control its impact on the environment.
KARAKTERISTIK KERAGAMAN MORFOLOGI CABAI KATOKKON Capsicum chinense Jacq. Zulkifli Maulana; Nurmawati Mentary; Andi Muhibuddin
Journal of Aquaculture and Environment Vol. 5 No. 2 (2023): Journal of Aquaculture and Enviroment Juni 2023
Publisher : Postgraduate Bosowa University Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/jae.v5i2.3458

Abstract

Cabai Katokkon adalah salah satu jenis cabai di Indonesia yang memiliki potensi ekonomis yang tinggi namun belum banyak dieksplortasi serta diidentifakasi. Cabai katokkon merupakan salah satu komuditi yang paling banyak diminati Masyarakat sekitar Tanah Toraja karena aroma yang khas dan rasa yang pedas.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi serta menentukan karakteristik keragaman morfologi cabai katokkon. Kegunaan penelitian sebagai bahan pengembangan dalam program pemuliaan tanaman dan budidaya cabai katokkon.penelitian ini dilaksanakan di Gren house kebun Pendidikan inergreteed farming system, Sulawesi Selatan, Kabupaten Gowa pada bulan Maret-Juli 2023. Rancangan untuk karakter morfologi mengunakan rancangan acak kelompok dengan  empat karakter dan tiga ulangan dan pengamaytan karakter morfologi berdasarkan deskripsi cabai IPGRI. Hasil penelitian memberikan perbedaan karakter pada buah, tinggi tanaman, umur berbunga dan berbuah dan Panjang daun. One type of chili in Indonesia that has high economic potential but has not been widely explored and identified is katokkon chili. Katokkon chili is one of the most popular commodities in the community around Tanah Toraja because of its distinctive aroma and spicy taste. The purpose of this study was to identify and characterize the morphological diversity of Katokkon chili (Capsicum chinense jacq).The use of research as a development material in plant breeding programs and cultivation of Katokkon chili plants.This research was conducted at Gren house educational garden Inergreteed farmin system, South Sulawesi, Gowa Regency in March-July 2023. The design for morphological characters uses a group randomized design with four characters and three replications and observations of morphological characters based on IPGRI chili descriptions. The results showed differences in fruit characters, plant height, flowering and fruiting age, and leaf length
Respons Pertumbuhan dan Hasil Kentang terhadap Jenis Bioetanol dan Ekstrak Daun Gamal di Dataran Medium Maulana, Zulkifli; Muhibuddin, Andi; Fatmawati, Fatmawati; Mahmud, Haris
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 22 No. 2 (2022): ECOSYSTEM Vol. 22 No 2, Mei - Agustus Tahun 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v22i2.1635

Abstract

Budidaya kentang selama ini dikembangkan di dataran tinggi (>1000 m Dpl), karena kentang berproduksi tinggi jika ditanam pada dataran tinggi dengan suhu 17-20 ºC. Namun,  di dataran tinggi terkendala masalah terbatasnya areal dan biaya produksi tinggi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Juli 2022 di desa loka,  Balai Benih Hortikultura, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng sebagai sentra pengembangan kentang di Sulawesi Selatan.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jenis bioetanol dan konsentrasi ekstrak daun gamal terhadap pertumbuhan dan hasil kentang, serta interaksi antara jenis bioetanol dengan konsentrasi ekstrak daun gamal terhadap pertumbuhan dan hasil kentang. Penelitian dilakukan dalam bentuk percobaan yang disusun menggunakan Rancangan Petak Terpisah (RPT). Petak utama adalah penggunaan  Ekstrak Daun Gamal dan tanpa perlakuan dengan ekstrak daun gamal. Ekstrak daun gamal yang terdiri dari 3 taraf perlakuan yaitu 0 ml/l air, 200 ml/ l air, and 400 ml/ l air. Anak petak adalah penggunaan  bioetanol dengan 4 taraf yaitu, tanpa perlakuan bioetanol, bioetanol  dari eceng gondok, bioetanol dari kulit singkong, dan bioetanol dari kulit kentang.  Hasil percobaan menunjukkan bahwa penggunaan  bioetanol yater baik adalah bioetanol dari kulit kentang. Ekstrak daun gamal 400 ml/l air menghasilkan pengaruh yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil kentang. Potato cultivation has been developed in the highlands (>1000 m above sea level), because potatoes produce high yields if grown in the highlands with a temperature of 17-20 0C. However, in the highlands, there are problems with limited area and high production costs. This research was conducted from April to July 2022 at the Horticulture Seed Centre in the Ulu Ere subdistrict, Bantaeng Regency, South Sulawesi. The study aims to analyze the effect of the type of bioethanol and the concentration of gliricidia sepium extract on the growth and yield of potatoes, as well as the interaction between the type of bioethanol and the concentration of gliricidia sepium extract on the growth and yield of potatoes. The study was conducted in the form of an experiment arranged using a split plot design (SPD). The main plot is the use of gliricidia sepium extract and without treatment with gliricidia sepium extract. Gliricidia sepium extract consisted of 3 treatment levels, namely 0 ml/l water, 200 ml/l water, and 400 ml/l water. The sub-plots used bioethanol with 4 levels, namely, without treatment with bioethanol, bioethanol from water hyacinth, bioethanol from cassava peels,, and bioethanol from potato skins. The experimental results show that the best use of bioethanol is bioethanol from potato skins. gliricidia sepium extract 400 ml/l water gave the best effect on potato growth and yield.
Pemanfaatan Biopestisida Nabati dan Peningkatan Keberdayaan Petani untuk Pengembangan Bawang Merah Muhibuddin, Andi; Zulkifli Maulana; Fatmawati; Andi Gunawan Ratu Chakti; Haris Mahmud
MATAPPA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 7 Nomor 3 Tahun 2024
Publisher : STKIP Andi Matappa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31100/matappa.v7i3.3649

Abstract

Abstrak. Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) ini bermitra dengan Kelompok Tani Anugerah dan Kelompok Tani Passamaturukang yang aktif dalam sektor ekonomi produktif, khususnya dalam pembibitan dan budidaya bawang merah. Tujuannya untuk meningkatkan produktivitas, kualitas, dan nilai tambah hasil bawang merah ramah lingkungan, serta meningkatkan keberdayaan kelompok tani. Pelaksanaan program dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu: (1) sosialisasi program dengan pendekatan Focus Group Discussion (FGD), (2) pelatihan yang mencakup pembuatan biopestisida nabati, pengelolaan keuangan, dan seleksi bibit bawang merah, serta (3) penerapan Demonstrasi Plot bawang merah ramah lingkungan. Hasil program PDB menunjukkan bahwa: (a) produktivitas bawang merah meningkat menjadi ±14,5 ton/ha dari sebelumnya 6,5 ton/ha; (b) kemampuan manajemen kelompok tani bawang merah meningkat 75% dari sebelumnya 50%; (c) omzet bawang merah kelompok tani meningkat 50% dari sebelumnya 25%; (d) (e) pengetahuan kelompok tani tentang pembibitan dan budidaya bawang merah meningkat 75% dari sebelumnya 50%; dan (f) pengetahuan kelompok tani terkait pengelolaan keuangan meningkat 75% dari sebelumnya 25%.
Correlation of Bio-physicochemical Factors with the Expansion of Mangrove Forests in Laikang Bay, Indonesia Mulyani, Sri; Surya, Batara; Rasyidi, Emil Salim; Muhibuddin, Andi; Mahmud, Haris
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 29, No 4 (2024): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.29.4.467-480

Abstract

The bio-physicochemical conditions of seawater are critically important in the rate of expansion of mangrove forests. This study aims to assess the driving factors of mangrove forest expansion with bio-physicochemical water quality analysis using the Maximum Entropy (MaxEnt) method in Laikang Bay, Indonesia. Water quality analysis included measurements of NO3, PO4, kH, salinity, current speed, brightness (D3), NO2, pH, and chlorophyll-a levels (bio-physicochemical factors). This research adopts quantitative methods, with data collected from 42 specific locations between 12:00 a.m. and 3:00 p.m. The observation data was gathered using the stratified random sampling method. Spatial distribution mapping of mangroves and observation data were analyzed using Euclidean nearest neighbor distance with ArcGIS software version 8.1. The MaxEnt method was applied to investigate the percentage contribution of water quality on the distribution of mangroves. The results of this study indicate that the most significant factor contributing to the growth and expansion of mangrove forests in Laikang Bay is the PO4 content, with a contribution value of 47.4%. The PO4 concentration ranges from 0.10 to 1.40 mg.100g-1, with a concentration of approximately 0.10 mg.100g-1 having the greatest impact. Meanwhile, the less influential factor is brightness (D3), with a contribution value of 0.3%. These results indicate that to maintain the growth and expansion of mangrove forests in Laikang Bay, it is necessary to maintain the levels of these influential variables.
Strategi Pelayanan Publik Terhadap Kinerja Aparatur Sipil Negara Pada Badan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah Kota Makassar Marina S, Dian; Muhibuddin, Andi; Juharni, Juharni
Paradigma Journal of Administration Vol. 2 No. 2 (2024): Paradigma Journal of Administration, Desember 2024
Publisher : Postgraduate Bosowa University Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/pja.v2i2.5140

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi strategi pelayanan publik pada kantor Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Makassar, serta untuk menganalisis pengaruh strategi pelayanan publik terhadap kinerja Aparatur Sipil Negara pada Kantor BPKAD Kota Makassar. Populasi pada penelitian ini adalah aparatur sipil negara pada BPKAD yang ditentukan sebanyak 30 orang. Teknik pengumpulan data melalui observasi dan penyebaran kuesioner, dengan teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif dan analisis regresi sederhana. Hasil penelitian yang dilakukan diperoleh temuan yakni terkait dengan strategi pelayanan publik yang telah dilakukan oleh kantor BPKAD Kota Makassar, dimana pada penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pelayanan publik yang dilaksanakan selama ini sudah berada dalam kategori baik, hal ini dapat dilihat dalam hal terkait dengan bukti fisik seperti sarana dan prasarana yang dimiliki sudah tersedia lengkap sehingga menunjang pelayanan kepada pengguna layanan, selain itu keandalan dan daya tanggap yang telah dilakukan sudah sesuai dengan harapan bagi pengguna layanan, begitu pula dengan jaminan dan empati yang sudah berada dalam kategori baik. Pengaruh strategi pelayanan publik terhadap kinerja aparatur sipil negara pada kantor BPKAD kota Makassar, dimana temuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pelayanan publik yang dilaksanakan selama ini dapat meningkatkan kinerja aparatur sipil negara, dimana semakin baik penerapan strategi pelayanan publik yang dilaksanakan selama ini maka akan semakin meningkat pula kinerja aparatur sipil negara. This study aims to analyze the implementation of public service strategies at the office of Regional Financial and Asset Management Area (BPKAD) of Makassar City, and to analyze the influence of public service strategies on the performance of State Civil Apparatus at the office of BPKAD of Makassar City. The population in this study was the state civil apparatus at BPKAD which was determined as many as 30 people. Data collection techniques through observation and distribution of questionnaires, with data analysis techniques using descriptive analysis and simple regression analysis. The results of the research conducted obtained findings related to the public service strategy that has been carried out by the office of BPKAD of Makassar City, where this study shows that the public service strategy implemented so far has been in the good category, this can be seen in terms of physical evidence such as facilities and infrastructure that are already available complete so as to support services to service users, in addition, the reliability and responsiveness that have been carried out are in accordance with the expectations of service users, as well as guarantees and empathy that are already in the good category. The influence of public service strategies on the performance of state civil servants at the office of BPKAD of Makassar City, where the findings in this study indicate that the public service strategies implemented so far can improve the performance of state civil servants, where the better the implementation of the public service strategies implemented so far, the better the performance of state civil servants will be.
Evaluasi Implementasi Konsep Green Planning And Design : Studi Kasus Pada Kawasan Kota Baru Mamminasata Di Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros Mugni, Panjhi Arieq Naufal; Muhibuddin, Andi; Syafri, Syafri
Urban and Regional Studies Journal Vol. 7 No. 1 (2024): Urban and Regional Studies Journal, Desember 2024
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v7i1.3808

Abstract

Pengembangan kawasan perkotaan di Indonesia berkembang sangat cepat, dan dinamis sehingga aktivitas dan pengembangannya akan menimbulkan berbagai macam problematika dan dampak permasalahan lingkungan seperti ketidakseimbangan antara pertumbuhan kawasan perkotaan dan peningkatan kualitas lingkungan. Kondisi inilah yang menjadikan Kota menjadi tidak nyaman untuk dihuni. Kabupaten Maros pun telah menjadi kabupaten yang berkembang sangat pesat mengikuti perkembangan kota Metropolitan Makassar sebagai kota Induk, memaksa Kabupaten Maros yang menjadi bagian dari kawasan perkotaan Mamminasta (Makassar, Maros, Sungguminasa, dan Takalar), menjadi berkembang dengan cepat. Terkhusus pada kawasan perkotaan baru di Kecamatan Moncongloe yang menjadi kawasan kota Satelit. Namun adapula ancaman yang terjadi di Kecamatan Moncongloe yaitu sering terjadinya Banjir, pembakaran sampah oleh masyarakat serta pengelolaan drainase yang kurang baik maka diperlukan suatu konsep pencegahan dan penanganan untuk menanggulangi permasalahan tersebut yaitu konsep kota hijau atau biasa disebut “Green city”. Adapun konsep pendekatan ini masih belum maksimal diterapkan di Kecamatan Moncongloe, maka output dari penelitian ini yaitu mengevaluasi seberapa besarkah penerapan yang telah dilakukan di lokasi penelitian serta merumuskan strategi untuk meningkatkan kinerja dari setiap indikator kota hijau. The development of urban areas in Indonesia is developing very fast, and is dynamic, so that its activities and development will cause various kinds of problems and impacts of environmental problems, such as imbalances between the growth of urban areas and the improvement of environmental quality. This condition makes the city uncomfortable to live in. Maros Regency has also become a district that is developing very rapidly following the development of the Metropolitan city of Makassar as the main city, forcing Maros Regency which is part of the Mamminasta urban area (Makassar, Maros, Sungguminasa, and Takalar) to develop rapidly. Especially in the new urban area in Moncongloe District which is a satellite city area. However, there are also threats that occur in Moncongloe District, namely frequent flooding, burning of garbage by the community and poor drainage management, so a concept of prevention and handling is needed to overcome these problems, namely the concept of a green city or commonly called "Green city". The concept of this approach is still not maximally applied in Moncongloe District, so the output of this study is to evaluate how much implementation has been done in the research location and formulate strategies to improve the performance of each indicator of a green city.
Sinergitas Dinas Pemberdayaan Masyarakat Dan Desa Dalam Pembangunan Desa Di Kecamatan Teminabuan Kabupaten Sorong Selatan Nebore, Esau; Muhibuddin, Andi; Juharni, Juharni
Paradigma Journal of Administration Vol. 3 No. 1 (2025): Paradigma Journal of Administration, Juni 2025
Publisher : Postgraduate Bosowa University Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/pja.v3i1.6026

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menganalisis sinergitas Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa dengan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam pembangunan desa di Kecamatan Teminabuan, Kabupaten Sorong Selatan. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan aparat desa dan masyarakat, serta studi dokumentasi di Kampung Seyolo. Hasil penelitian mengungkapkan tiga temuan kunci: (1) Penyaluran aspirasi masyarakat dilakukan secara lisan dan tertulis melalui BPD sebagai mediator efektif; (2) BPD berperan strategis dalam menetapkan Peraturan Desa, mengawasi implementasinya, serta memantau Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) dan keputusan Kepala Desa; (3) Pemberdayaan masyarakat tercapai melalui partisipasi aktif, akses informasi, penguatan kapasitas organisasi lokal, dan profesionalitas pelaku. Kendala utama teridentifikasi pada keterbatasan akses informasi di empat desa terpencil yang menghambat koordinasi. Simpulan penelitian menegaskan perlunya model sinergitas inklusif berbasis kolaborasi multistakeholder untuk memperkuat tata kelola desa yang akuntabel dan responsif. This study examines the synergy between the Community and Village Empowerment Office and the Village Consultative Body (BPD) in village development within Teminabuan District, South Sorong Regency. Employing a descriptive-analytical qualitative approach, data were collected through participatory observation, in-depth interviews with village officials and community members, and documentation studies in Seyolo Village. Key findings reveal: (1) Community aspirations are channeled verbally and in writing via BPD as an effective mediator; (2) BPD plays a strategic role in establishing Village Regulations, supervising their implementation, and monitoring the Village Revenue and Expenditure Budget (APBDes) and Village Head decisions; (3) Community empowerment is achieved through active participation, information access, local organizational capacity building, and professional actors. The primary constraint lies in limited information access across four remote villages, hindering coordination. The research concludes that an inclusive synergy model based on multi-stakeholder collaboration is essential to strengthen accountable and responsive village governance.
Alih Fungsi Lahan Pada Sertipikat Redistribusi Tanah Dalam Perspektif Penyelenggaraan Pemanfaatan Ruang di Desa Borisallo, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa Almas, Dhafina; Muhibuddin, Andi; Syafri, Syafri
Urban and Regional Studies Journal Vol. 7 No. 2 (2025): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2025
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v7i2.6057

Abstract

Desa Borisallo, Kecamatan Parangloe, Gowa, Sulawesi Selatan, menerima 1.950 sertipikat redistribusi tanah pada 2019-2022. Namun, potensi tambang dan industri batu di wilayah tersebut memicu alih fungsi lahan. Salah satu upaya adalah redistribusi tanah untuk mengurangi ketimpangan kepemilikan tanah dan mendukung pemerataan sosia-ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah: (a) mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan pada sertipikat redistribusi tanah, (b) mengkaji pelaksanaan pemanfaatan ruang yang berkaitan dengan alih fungsi lahan pertanian serta (c) merumuskan strategi pengendalian alih fungsi lahan pertanian pada sertipikat redistribusi tanah untuk mendukung keberlanjutan fungsi agraria dan kesejahteraan masyarakat. Penelitian dirancang dengan metode pendekatan deskriptif kualitatif, dengan teknik sampling purposive sampling dengan responden yaitu Kepala Desa Borisallo dan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Gowa. Teknik analisis data menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor utama penyebab alih fungsi lahan pada sertipikat redistribusi tanah adalah kemiskinan dan lokasi yang beralihfungsi, sedangkan sosialisasi ke masyarakat dan jumlah bidang tanah yang dimiliki tidak terlalu berpengaruh. Pada lokasi yang beralihfungsi diperuntukkan sebagai kawasan budidaya pertanian berupa perkebunan, agroforestry dan pertanian lahan basah berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Gowa sehingga tidak sesuai apabila dijadikan kawasan industri pemecah batu. Alih fungsi lahan pada sertipikat redistribusi tanah harus sesuai dengan RTRW dan mendapat surat rekomendasi dari instansi yang membidangi tata ruang serta izin dari Kepala Kantor Pertanahan. Borisallo Village, located in Parangloe Subdistrict, Gowa, South Sulawesi, received 1,950 land redistribution certificates between 2019 and 2022. However, the mining and stone industry potentials in the area have led to land conversion. One approach to address this issue is land redistribution, which aims to reduce land ownership disparities and promote socio-economic equality. This study aims to: (a) Identify the factors contributing to land conversion in land redistribution certificates, (b) Assess the implementation of spatial planning related to the conversion of agricultural land, and (c) Develop strategies to control agricultural land conversion in land redistribution certificates to ensure the sustainability of agrarian functions and community welfare. The research employed a qualitative descriptive approach, with purposive sampling of respondents, including the Head of Borisallo Village and the Head of the Gowa District Land Office. Data analysis followed the Miles and Huberman model. The findings indicate that the main drivers of land conversion in land redistribution certificates are poverty and the location of the land in question, while public socialization and the amount of land owned had a minimal effect. Areas undergoing conversion are designated for agricultural development, such as plantations, agroforestry, and wetland farming, according to the Spatial Planning (RTRW) of Gowa District, which makes them unsuitable for stone-crushing industrial zones. Therefore, land conversion in land redistribution certificates must comply with the RTRW and receive recommendations from relevant spatial planning authorities, as well as approval from the Head of the Land Office.
Alley Cropping System to Increase Corn Crop Production and Agricultural Productivity in Dry Land Amirudin, Amirudin; Muhibuddin, Andi; Musa, Yunus; Kadekoh, Indrianto; Mas’ud, Hidayati
Journal of Tropical Crop Science Vol. 12 No. 02 (2025): Journal of Tropical Crop Science
Publisher : Department of Agronomy and Horticulture, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jtcs.12.02.358-364

Abstract

Alley cropping is an agroforestry system that plants annual crops or food crops between alleys formed by hedges of trees or shrubs. This study aims to determine the effects of the alley cropping system, the provision of Gamal (Gliricidia sepium) biomass, and the doses of N, P, and K fertilizers on corn production. The study was conducted in 2022 at the educational plantation area, Integrated Farming System, Faculty of Agriculture, Bosowa University, Bontoramba Village, Pallangga Subdistrict, Gowa Regency, South Sulawesi, Indonesia. The experimental design used was a split plot with and without hedgerow plant treatment as the main plot and doses of N, P, and K as subplots. The subplots consist of the control or without fertilizers,  P fertilizer only at 100 kg.ha-1 SP-36, K fertilizer only at 100 kg.ha-1 KCl, N  and K (250 kg.ha-1 Urea, 100 kg.ha-1 KCl), N and P (250 kg.ha-1 Urea, 100 kg.ha-1 SP-36), and N, P and K (250 kg.ha-1 Urea, 100 kg.ha-1 SP-36, 100 kg.ha-1 KCl). The research showed that the alley-cropping system increased corn production from 4,690 to 6,089 tons.ha-1, with an average increase of 50% compared to corn production without the alley-cropping system. The N, P, and K fertilization produced the best average corn yields. The alley-cropping system achieved the highest land productivity compared to those without the alley-cropping system.