Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Perspektif Al-Qur’an tentang Pembebasan Manusia melalui Pendidikan Akhlak Ainusyamsi, Fadlil Yani; Husni, Husni
Jurnal Penelitian Pendidikan Islam Vol 9 No 1 (2021): Islamic Educational Studies
Publisher : Graduate Program, Universitas Islam Darussalam (UID) | Islamic University of Darussalam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36667/jppi.v9i1.670

Abstract

This study aims to elaborate the concepts of the Qur'an about moral education. In addition, this study also aims to understand the concept of human liberation in the Qur'anic perspective. This study uses the literature review method by tracing a number of verses of the Qur'an that are relevant to the theme of the study. In addition to examining relevant verses of the Qur'an, this study is also equipped with a reflection method, which is a method that seeks to reflect the author's knowledge and experience in the current context, so that the author's knowledge and experience are used as a mirror in understanding the realities and problems of Muslims. The results of the study show that efforts to improve the character and behavior of Muslims are to free mankind from ignorance, poverty, and neglect of Islamic moral values.
RAGAM ANXIETAS MASYARAKAT MESIR PADA 1960-AN Edfanda, Monda; Ainusyamsi, Fadlil Yani; Hidayat, Deden
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v4i1.10381

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kecemasan-kecemasan yang dialami oleh tokoh-tokoh (masyarakat) Mesir pada tahun 1960-an, serta bagaimana bentuk-bentuk kecemasan masyarakat Mesir pada tahun 1960-an dalam novel “Al-Karnak” karya Najib Mahfudz.            Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Objek penelitian ini adalah novel yang berjudul “Al-Karnak” karya Najib Mahfudz. Penelitian difokuskan pada permasalahan yang berkaitan dengan kecemasan-kecemasan yang dialami tokoh-tokoh yang dikaji secara psikologi sastra. Metode penelitian terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap orientasi atau deskripsi, tahap reduksi atau fokus, dan tahap seleksi yaitu peneliti menguraikan fokus yang telah ditetapkan menjadi lebih rinci.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: Pertama, kasus kecemasan objektif yang dialami oleh tokoh-tokoh (masyarakat) Mesir dalam novel “Al-Karnak” terdapat sebanyak 36 kasus. Simtom-simtom cemas tersebut berasal dari konflik-konflik yang acapkali terjadi: seperti merasa asing di lingkungan kafe, rasa canggung terhadap lawan bicara, situasi tidak nyaman, takut akan argumen sendiri, rasa ingin tahu terhadap suatu kejadian, merasa was-was akan seseorang yang dicintainya, tragedi penangkapan golongan muda yang berkali-kali, siksaan-siksaan dan perubahan-perubahan fisik pada mereka yang telah dipenjara, terancamnya kebebasan komunal, ingin cepat mati karena takut akan masa depan, cemas akan anggapan orang lain, mempertanyakan alasan penangkapan, mengalami neurosis noögenik, dan rusaknya harga diri, serta rasa bersalah terhadap kematian seseorang. Kedua, kasus kecemasan neurotik yang dialami oleh tokoh-tokoh (masyarakat) Mesir dalam novel “Al-Karnak” terdapat sebanyak 26 kasus. Simtom-simtom cemas tersebut berasal dari konflik-konflik yang beragam: seperti budaya yang belum tentu diterima oleh masyarakat, mengomentari penampilan seseorang, berhati-hati dalam berbicara, meragukan rasa cinta, cemas akan masa depan, penangkapan berkali-kali tanpa alasan yang jelas, mengalami neurosis noögenik, mengkhawatirkan diri sendiri, mencemaskan perubahan sikap orang yang dicintai, disiksa oleh agen-agen pemerintahan dan bertanya pada nasib, serta dituduh berbeda paham.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kecemasan-kecemasan yang dialami oleh tokoh-tokoh (masyarakat) Mesir pada tahun 1960-an, serta bagaimana bentuk-bentuk kecemasan masyarakat Mesir pada tahun 1960-an dalam novel “Al-Karnak” karya Najib Mahfudz.            Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Objek penelitian ini adalah novel yang berjudul “Al-Karnak” karya Najib Mahfudz. Penelitian difokuskan pada permasalahan yang berkaitan dengan kecemasan-kecemasan yang dialami tokoh-tokoh yang dikaji secara psikologi sastra. Metode penelitian terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap orientasi atau deskripsi, tahap reduksi atau fokus, dan tahap seleksi yaitu peneliti menguraikan fokus yang telah ditetapkan menjadi lebih rinci.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: Pertama, kasus kecemasan objektif yang dialami oleh tokoh-tokoh (masyarakat) Mesir dalam novel “Al-Karnak” terdapat sebanyak 36 kasus. Simtom-simtom cemas tersebut berasal dari konflik-konflik yang acapkali terjadi: seperti merasa asing di lingkungan kafe, rasa canggung terhadap lawan bicara, situasi tidak nyaman, takut akan argumen sendiri, rasa ingin tahu terhadap suatu kejadian, merasa was-was akan seseorang yang dicintainya, tragedi penangkapan golongan muda yang berkali-kali, siksaan-siksaan dan perubahan-perubahan fisik pada mereka yang telah dipenjara, terancamnya kebebasan komunal, ingin cepat mati karena takut akan masa depan, cemas akan anggapan orang lain, mempertanyakan alasan penangkapan, mengalami neurosis noögenik, dan rusaknya harga diri, serta rasa bersalah terhadap kematian seseorang. Kedua, kasus kecemasan neurotik yang dialami oleh tokoh-tokoh (masyarakat) Mesir dalam novel “Al-Karnak” terdapat sebanyak 26 kasus. Simtom-simtom cemas tersebut berasal dari konflik-konflik yang beragam: seperti budaya yang belum tentu diterima oleh masyarakat, mengomentari penampilan seseorang, berhati-hati dalam berbicara, meragukan rasa cinta, cemas akan masa depan, penangkapan berkali-kali tanpa alasan yang jelas, mengalami neurosis noögenik, mengkhawatirkan diri sendiri, mencemaskan perubahan sikap orang yang dicintai, disiksa oleh agen-agen pemerintahan dan bertanya pada nasib, serta dituduh berbeda paham.
SIMBOL KEKERASAN POLITIK DI IRAK ERA KEPEMIMPINAN SADDAM HUSSEIN DALAM NOVEL UKHRUJ MINHA YA MAL’UN KARYA SADDAM HUSSEIN (KAJIAN SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PEIRCE) Ahmad Bambang Soemargono; Fadlil Yani Ainusyamsi; Wildan Taufiq
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v2i1.6474

Abstract

Penelitian ini berjudul simbol kekerasan politik di Irak era kepemimpinan Saddam Hussein dalam novel Ukhruj Minha Ya Mal’un Karya Saddam Hussein. Saddam Hussein adalah seorang presiden di negara Irak sekaligus sastrawan yang hebat. Ia menggunakan karya sastra sebagai alat pengkritik untuk melawan kekerasan-kekerasan yang dilakukan musuhnya. Seperti dalam novel Ukhruj Minha Ya Mal’un yang didalamnya banyak menceritakan kelicikan dan kejahatan yang dilakukan oleh musuhnya yaitu Amerika. Ia juga menciptakan beberapa karya sastra diantaranya novel yang berjudul Zabibah Wa al-Mulk, al-Qal’ah al-Hashinah, Rijal Wa Madinah dan Ukhruj Minha Ya Mal’un. Maka dari itu, peneliti menggunakan novel sebagai objek dalam penelitian ini.Tujuan dari penelitian ini bertujuan untuk memahami simbol  kekerasan politik di Irak era kepemimpinan Saddam Hussein dan mendeskripsikan makna kekerasan politik yang terdapat dalam novel Ukhruj Minha Ya Mal’un karya Saddam Hussein. Sehingga dalam novel tersebut, dapat diketahui variasi kekerasan politik yang disimbolkan.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitik. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini berdasarkan sesuai dengan hasil menelaah dan mengkaji sumber data yang didapatkan dari novel Ukhruj Minha Ya Mal’un. Sedangkan kajian yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep triadik Semiotika Charles S. Peirce, yaitu mengungkap Representamen (R), Objek (O), serta Interpretan (I).Berdasarkan analisis, penelitian ini ditemukan 20 data yang memberikan simbol-simbol kekerasan politik, diantaranya: (1) kekerasan tidak langsung (indirect violence); (2) kekerasan alienatif (alienative violence); (3) kekerasan refresif (represif violence); (4) peperangan; (5) revolusi. Kekerasan politik adalah suatu kondisi yang sangat tidak ingin dihadapi oleh sebagian besar dari  masyarakat serta hanya menguntungkan bagi elit politik saja. Karena hal itu, dengan adanya analisis ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menjadi dasar dalam mengenal dan mengetahui variasi dari kekerasan politik yang biasa terjadi disekelilingnya. 
PELANGGARAN PRINSIP KERJASAMA DAN IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM FILM IBRAHIM KHALILULLAH Ahmad Reza Fahlevi; Fadlil Yani Ainusyamsi
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v2i2.6533

Abstract

Penelitian ini  mengkaji tuturan para tokoh dalam film Ibrahim Khalilullah. Peneltian bertujuan untuk mendeskripsikan Pelanggaran Prinsip Kerjasama dan Implikatur Percakapan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualiataif. Mendeskripsikan data yang terdapat pelanggaran prinsip kerjasama dan mengandung implikatur percakapan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak dan catat. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan menggunakan metode padan ekstralingual dengan menghubungkan tuturan tokoh dengan makna yang terkandung di luar bahasa. Pendekatan dilakukan dengan kajian Pragmatik Grice. Hasil analisis disimpulkan menjadi dua hal. Pertama, pelanggaran prinsip kerjasama berjumlah 25 dan di klasifikikan berdasarkan pelanggaran maksim  yaitu pelanggaran maksim kuantitas, pelanggaran maksim kualitas, pelanggaran maksim relevansi, dan pelanggaran maksim cara. Kedua, wujud implikatur yang ditemukan, diklasifikasikan berdasarkan temuan peneliti yaitu: kalimat informasi, dengan maksud implikatur:  mengungkapkan perasaan khawatir, membanggakan diri sendiri, menyatakan, mengingatkan, menyatakan, memuji, menegaskan, menegaskan, menyatakan, memuji, menyatakan, menyatakan. Kalimat permohonan: menegaskan, menyatakan, mengungkapkan perasaan bersalah, meminta, menegaskan. Kalimat permintaan: menegaskan. Kalimat sindiran: mengingatkan, mengingatkan, meminta. Kalimat ajakan: menyarankan. Kalimat perintah:  menegur. Kalimat mengingatkan, dengan maksud implikatur: mengingatkan. Kalimat desakan: menyadarkan.
Eksistensi Perempuan Mesir dalam Novel Perempuan di Titik Nol Karya Nawal El-Saadawi Firman Syah; Fadlil Yani Ainusyamsi; Asep Supianudin
Az-Zahra: Journal of Gender and Family Studies Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : UIN Sunan Gunung Dajti Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/azzahra.v1i2.10438

Abstract

Perempuan dan eksistensi adalah dua kata yang sulit untuk disatukan, eksistensi perempuan merupakan sesuatu yang mengharukan apabila dapat terwujud. Perempuan benyak terjerembab dalam jurang perbudakan baik itu fisik, mental dam emosional. Konsekuensi logis yang diterima perempuan adalah mereka terdegradasi dari kesempatan dan peluang dalam hal aktualisasi potensi diri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk ketidakadilan gender seperti marjinalisasi, subordinasi, streotip, kekerasan dan beban kerja tambahan. Selain daripada itu, peneliti ingin mengetahui bentuk eksistensi perempuan, karena itu adalah salah satu bentuk perlawanan yang dilancarkan perempuan di ranah publik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-analitik, sumber data pada penelitian ini adalah Novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal El-Saadawi. Hasil penelitian ini mendeskripsikan bentuk ketidakadilan gender dan bnetuk eksistensi perempuan dalam novel Novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal El-Saadawi.  
Islam, Seni Musik, dan Pendidikan Nilai di Pesantren Sulasman -; Fadlil Yani Ainusyamsi
PANGGUNG Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.779 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v24i3.120

Abstract

 The purpose of this study is to give a description about how the Islam views about art, especially music art. To explain about this purpose, the documentation study is applied in this research. The de- scription is done ontologically, epistemologically, and axiological. For that reasons, we can comprehend what the music is, how characteristic features and ways of working of the music, also we can know how and what for we play music. Furthermore, there will be a new paradigm about music art in the Moslem especially in Pesantren. This research use qualitative method and the result shows that Pesantren as the educational organization of Islam has its own contribution in instilling the values of theological, juri- dical, Islamic socio-cultural, and sophistical. Sphistical value in Pesantren has been put by purpose for cleansing up the soul. To provide the passion and meaning in the context of deepening enlightenment to students performed the internalization of sophistical values in Pesantren through the music. There are differences about art especially music art in Pesantren between Ulama of Ahlussunah and Ulama of Sufi. Regardless of the controversy between the music is halal or haram, the up growing phenomenon that is there are a many Pesantren which developing the music art. Music in Pesantren is not only just an art but also as a tool of increasing and helping the private and social of Santri. Keywords: Islam, Art, Music, Ulama, Pesantren    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk memberi gambaran bagaimana pandangan Islam tentang seni,  khususnya Seni Musik. Untuk menjelaskan tujuan ini, maka digunakan studi pustaka. Penjelasan dilakukan secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Oleh karena itu, kita akan paham tentang musik, bagaimana ciri-ciri dan cara kerja musik, serta tahu alasan dan tujuan kita bermusik. Dengan demikian maka akan lahir paradigma baru tentang seni musik di ka- langan umat Islam khususnya di kalangan pesantren. Metode yang digunakan adalah kualita- tif dan hasil penelitian menunjukan bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam telah berjasa dalam menanamkan nilai-nilai teologia, yuridis, sosio kultural Islam, dan nilai sufistik. Nilai sufistik di pesantren ditanamkan dengan tujuan untuk membersihkan kalbu dari segala kotoran jiwa. Untuk memberikan gairah pendalaman serta pemaknaan dalam rangka pence- rahan jiwa bagi santri dilakukan internalisasi nilai-nilai sufistik di pesantren  melalui musik. Terdapat perbedaan pandangan mengenai seni khususnya seni musik dikalangan pesantren yaitu antara  ulama ahlusunnah dan ulama sufi. Terlepas dari kontroversi antara halal dan haram nya musik, banyak pesantren yang mengembangkan seni musik. Musik di pesantren selain untuk seni juga dijadikan alat untuk  meningkatkan dan membantu pribadi dan sosial santri. Kata kunci: Islam, Seni, Musik, Ulama, Pesantren
Relasi Kekuasaan Dalam Film Uwais Al-Qarni Karya Akbar Tahvilian (Kajian Hegemoni Foucault) Rika Rizki Rahayu; Fadlil Yani Ainusyamsi; Mawardi Mawardi; Yuke Alfi Zulyatmi
Az-Zahra: Journal of Gender and Family Studies Vol 3, No 2 (2023)
Publisher : UIN Sunan Gunung Dajti Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/azzahra.v3i2.20015

Abstract

This study explains the power relations carried out in the film Uwais al-Qarni by Akbar Tahvilian towards the woman Yathrib and the child character Salman. The Quraysh warriors exercised power relations with the Yathrib women through threatening words that made them hand over all the jewelry they had. Power relations are also carried out with a child named Salman. A Yemeni youth tries to bully Salman by abusing him. Literary research is a bridge of understanding between works and connoisseurs of works. This study aims to explain the forms of power relations action contained in the film Uwais Al-QarniKarya Akbar Tahvilian, which is then reviewed with Foucault's Hegemony. The method used in this research uses descriptive qualitative methods with a type of literary sociology approach, namely Foucault's hegemony. Research results from the film Uwais Al-Qarni show that the film contains various acts of nepotism committed by the authorities by fooling and oppressing the people, being arrogant, arrogant and pursuing popularity through the existence of power. While the form of power relations is carried out through thoughts in culture and religion, as well as social growth and development in the state and people.
JENIS DAN FUNGSI TINDAK TUTUR ILOKUSI IBNU SINA DALAM FILM ANIMASI AL-‘ALIM IBNU SINA Furqon, Alif Agung; Ainusyamsi, Fadlil Yani
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v6i1.13547

Abstract

Pragmatik merupakan studi tentang kebahasaan yang berfokus pada maksud tuturan yang dihasilkan atau disampaikan oleh penutur, baik secara lisan maupun tulisan. Penelitian ini membahas tentang jenis dan fungsi tindak tutur ilokusi pada tuturan Ibnu Sina dalam film animasi Ibnu Sina. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis tindak tutur ilokusi berdasarkan kesesuaian antara struktur dan fungsi serta mengidentifikasi fungsi-fungsi tindak tutur ilokusi pada tuturan Ibnu Sina. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pragmatik. Data dalam penelitian ini merupakan tuturan-tuturan Ibnu Sina. Data tersebut merupakan hasil transkripsi yaitu mengubah data audio visual menjadi bentuk tulis untuk dianalisis. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah simak dan catat. Sedangkan teknik analisis data peneliti menggunakan teknik padan ekstralingual dengan cara menghubung-bandingkan unsur-unsur yang berada diluar bahasa yakni konteks tuturan. Hasil penelitian ini peneliti mendapatkan lima jenis ilokusi yaitu asertif, direktif, komisif, ekspresif dan deklaratif dengan fungsi pragmatis yang beragam. Berdasarkan kesesuaian antara struktur dan fungsinya terdapat tindak tutur langsung dan tidak langsung pada tuturan Ibnu Sina. Tindak tutur tidak langsung terdapat pada tindak tutur asertif, direktif dan komisif, ketika lawan tutur Ibnu Sina seseorang yang lebih dewasa darinya dan lebih tinggi kedudukannya. Seperti halnya penegasan dengan kalimat tanya, menyarankan dan menolak dengan kalimat berita.
AFIKSASI INFLEKTIF KATA KERJA MASA LAMPAU DALAM BAHASA ARAB DAN BAHASA JEPANG Mutaqin, Ihsan Anwar; Ainusyamsi, Fadlil Yani; Dayudin, Dayudin
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 7, No 1 (2024)
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v7i1.28852

Abstract

Bahasa sebagai sebuah alat komunikasj yang digunakan oleh manusia dalam segala aspek kehidupannya merupakan sistem yang dibangun oleh sistem - sistem lainnya.  Morfologi merupakan salah satu sistem yang membangun sebuah bahasa. Afiksasi merupakan proses pembentukan kata sehingga kata dapat digunakan dalam sebuah ujaran. Proses afiksasi ini dapat bersifat inflektif dan devariatif. Bahasa Arab dan bahasa Jepang merupakan salah satu bahasa yang produktif dalam proses afiksasi inflektif. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan dari proses afiksasi inflektif dalam bahasa Arab dan bahasa Jepang dapat digunakan metode analisis kontrastrif. Proses afiksasi inflektif dalam kata kerja bentuk lampau bahasa Arab dan bahasa Jepang memiliki persamaan dari posisi penempatan afiksnya yakni berupa sufiks dan berbeda dari makna yang diberikan oleh afiks yang mengimbuhi kata kerja lampaunya.
Akhlaq and Music: Student Character Development through Musical Expression Ainusyamsi, Fadlil Yani
Tsamratul Fikri Vol 17 No 2 (2023): Tsamratul Fikri | Jurnal Studi Islam
Publisher : Asosiasi Mahasiswa Program Pascasarjana | Universitas Islam Darussalam (UID) | Islamic University of Darussalam | Ciamis | Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36667/tf.v17i2.1179

Abstract

The objective of this study is to ascertain endeavors aimed at cultivating students' character through the medium of music. This study employs qualitative methodologies, primarily focusing on conducting descriptive investigations. Data collecting involves utilising primary and secondary sources, encompassing theories, factual information, and documents pertaining to music, education, and character. Data analysis employs descriptive analysis, which involves the theoretical description of data through data collection, data reduction or simplification of theories and concepts, presentation of data by attempting to derive conclusions from various theories and concepts, and data verification, which entails rechecking the accuracy of the drawn conclusions and making necessary adjustments. The research findings indicate that music can contribute to attaining educational objectives, particularly in fostering the growth of an individual's personality and character in alignment with society's values and norms. The objective is to cultivate conscientious attitudes and conduct in individuals, positively contributing to society, nation, and state advancement.