Puspa Mirani Kadir
Program Studi Linguistik Jepang Universitas Padjadjaran Jl. Raya Bandung Sumedang Km. 21 Jatinagor 45363, Jawa Barat, Indonesia

Published : 35 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Struktur dan Makna Verba Majemuk Bahasa Jepang V1+Komu Onin Najmudin; Puspa Mirani Kadir; Novita Puspahaty
Makna: Jurnal Kajian Komunikasi, Bahasa, dan Budaya Vol 6 No 1 (2020): MAKNA: Jurnal Kajian Komunikasi, Bahasa dan Budaya
Publisher : Fakultas Komunikasi, Sastra, dan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The verb komu is one of components of the VV lexical compound verbs. This research aims to identify structures and meanings of the lexical V1+komu compound verbs through to the Transivity Harmony Principle (THP) theory. The Transitivity Harmony Principle (THP) was used to examined the combination between V1 and komu as V2 based on argument structures of the verbs. The data gathered from Japanese language novel Ningen no Daichi that contained V1+komu compound verbs. The results showed that komu as a V2 can be combined with any various types of verb in V1, respectively; transitive+komu (e.g oshi-komu ‘push in’), unaccusative +komu (shizumi-komu ‘sink in’), and unergative+ komu (e.g abare-komu ‘go in violently’). Even combined with different types of verb in V1, komu was retained its argument structure; adding a goal phrase to verb in V1. The combinations of komu with any types of verb in V1 resulting two different meaning, respectively: 1) physical action in/into closed space, 2) a condition within the same situation both physical or psychological condition. In (1) physical action in/into a closed space komu was retained its original meaning, but in (2) a conditions within the same situations both physical or psychological condition komu was losing its lexical meaning.
Pengajaran 3 Bahasa (Inggris-Arab-Jepang) Di Madrasah Informal Kelurahan Cipadung Kecamatan Cibiru Puspa Mirani Kadir; Isye Herawati; Budi Rukhyana
KAIBON ABHINAYA : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 4 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Serang Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30656/ka.v4i1.3097

Abstract

Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan proses pengetahuan dan teknologi pengayaan sumber belajar. Kegiatan KKN berlangsung dari tanggal 15 Desember 2020 sampai 15 Februari 2021. Lokasi KKN bertempat di Masjid Al-Huda Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung. Di masjid tersebut terdapat kegiatan pelatihan tiga bahasa, yaitu Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Bahasa Jepang. Selain itu, terdapat sebuah perpustakaan yang dibangun untuk menumbuhkan minat baca terhadap anak-anak di lingkungan setempat. Para orang tua di lingkungan ini memiliki peran besar dalam membentuk lingkungan tempat tinggal yang nyaman dan ramah anak dengan adanya kegiatan di Majelis Ta’lim, Juma’at Berkah, dan lain sebagainya. Melalui hal tersebut tradisi gotong royong masyarakat Indonesia dapat dipertahankan dengan baik. Para orang tua juga membimbing anak-anak usia sekolah untuk rajin mengikuti pengajaran tiga bahasa yang dilaksanakan di Masjid Al-Huda untuk bekal bagi anak-anak di masa depan. Untuk menjawab bagaimana keberlangsungkan pengajaran dan sebagai bahan evaluasi, telah dikeluarkan kuesioner yang diisi oleh orangtua siswa. Angket ini berisi pertanyaan terhadap orangtua santri generasi alpha dalam pengajaran tiga bahasa untuk mengetahui sejauh mana komunikasi yang terjalin antara ibu dan anak terhadap pembelajaran ini.
Derivasi Bahasa Korea (파생어 pasaengeo) pada Cerita Anak berjudul “벽운마을의 산신제 (Byeogunmaeure Sansinje / Mountain God Festival in Byeokwoon Village)” Ni Gusti Ayu Dhyani Widyadari; Ypsi Soeria Soemantri; Wagiati; Puspa Mirani Kadir
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 8 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v8i2.1843

Abstract

Proses derivasi dapat ditemukan dalam percakapan sehari-hari maupun berbagai jenis media yang salah satunya adalah cerita anak. Dalam bahasa Korea, derivasi merupakan salah satu bagian dari kata kompleks atau 복합어 (bokhabeo). Salah satu unsur pembentuk kata derivasi dalam bahasa Korea adalah afiks. Bahasa Korea memiliki beragam jenis afiks, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis afiks derivatif apa saja yang terdapat dalam cerita anak Korea yang berjudul “벽운마을의 산신제 (Byeogunmaeure Sansinje / Mountain God Festival in Byeokwoon Village)”. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka dan teknik simak catat. Teknik analisis data dilakukan dengan beberapa tahap yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan yang didapatkan dari penelitian ini berupa 12 macam afiks derivatif yang terdapat pada 25 data berupa kata berafiks yang yang didominasi oleh sufiks sebanyak 11 data dan 1 data prefiks. Jenis prefiks yang ditemukan yaitu hanya prefiks derivatif verba sedangkan untuk sufiks ditemukan semua jenisnya yaitu sufiks derivatif nomina, verba, ajektiva, dan adverbia.
The Grammatical Functions of Korean Sentences in Yun Dong Ju’s Poem Titled 길 (Gil/The Road) and its Indonesian Equivalent Lia Amelia Nurkhazanah; Ypsi Soeria Soemantri; Wagiati Wagiati; Puspa Mirani Kadir
Eralingua: Jurnal Pendidikan Bahasa Asing dan Sastra Vol 6, No 2 (2022): ERALINGUA
Publisher : Makassar State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/eralingua.v6i2.29431

Abstract

Abstract. The aim of this study is to compare the grammatical functions contained in Yun Dong Ju's poem entitled 길 (Gil/The Road) in the book Puisi untuk Rakyat Indonesia (Poetry for Indonesian People) translated by Chung Young Rim. The data were analyzed based on the syntactic structure in the source language, which is Korean, and its translation into the target language, which is Indonesian, to implement the study of syntactic theory and its application in the field of comparative literary translation. The method of this research was descriptive contrastive qualitative. Meanwhile, the data collection techniques were observing and taking notes. First of all, the researchers explained the grammatical functions contained in the poem both in Korean and Indonesian, and then compared the syntactic function data. The results of the study on Yun Dong Ju’s poem entitled (Gil/ The Road) that focused on the comparison between the grammatical functions in the source language and those in the target language showed that there are 4 times occurrence of the addition of subjects and 1 time occurrence of the addition of adjunct in the target language; 5 changes in grammatical functions, 4 deletions of grammatical functions in the target language, and 2 diction differences in grammatical functions. Furthermore, there are 2 data that show no changes in in its grammatical functions. The changes in the syntactic structure found in Yun Dong Ju’s poem entitled길 (Gil/The Road) occurred to avoid ambiguity in conveying meaning since in Indonesian, clear subjects and adjuncts are needed. Therefore, the translation system tends to be broader than the source language.Keywords:  Syntax, Grammatical Functions, Poem, Korean, Indonesian
PEMBENTUKAN VERBA POTENSIAL DALAM KATIMAT BAHASA INDONESIA DAN BAHASA JEPANG (SUATU KAJIAN MORFOLOGIS) Ira Natasha Naomi Purba; Yuyu Yohana Risagarniwa; Puspa Mirani Kadir
Widyaparwa Vol 41, No 2 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2399.386 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v41i2.73

Abstract

Peningkatan minat pembelajar bahasa dari Indonesia terhadap bahasa Jepang berdampak pada semakin banyaknya penelitian yang dilakukan untuk memudahkan pemahaman tata bahasa Jepang dengan baik dan benar. Salah satu tema yang menarik untuk diteliti adalah ungkapan potensial atau dalam bahasa jepang disebut kanou hyougen. Ungkapan potensial ini merupakan bentuk kebahasaan yang menunjukkan makna kesanggupan atau potensi, biasanya ditunjukkan melalui verba potensial yang dibentuk baik secara morfologis maupun sintaktis. Penelitian ini akan membahas tentang pembentukan verba potensial secara morfologis pada bahasa Indonesia dan bahasa Jepang. Kajian untuk mencari persamaan dan perbedaannya. Hal ini dilakukan agar pembelajar bahasa Jepang di Indonesia semakin mudah memahami tata bahasa Jepang khususnya yang menyangkut tema kanou hyougen. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan struktural kontrastif. Dari penelitian ini diperoleh simpulan bahwa pembentukan verba potensial secara morfologis dalam bahasa Indonesia melibatkan proses afiksasi, sedangkan dalambahasa ]epang melibatkan proses konjugasi yangmengubah makna verba dasar menjadi verba turunan yang bermakna potensial. The increasing interest on Japanese language among learners in Indonesia brings impact on the increasing of Japanese language studies to facilitate the understanding of proper Japanese grammar. One of the interesting themes to study is the potential expression or in Japanese it is called as Kanou Hyougen. This potential expression is one form of language which shows ability or potential meaning, and it is commonly indicated by potential verb which is formed both morphologically and syntactically. This research will explore the morphologically forming of potential verbs in lndonesian and Japanese language then seek for their differences and similarities. This is done in order to ease the understanding of Japanese grammar especially in Kanou Hyougen theme. This study is carried out by using qualitative descriptive method and structural and constrastive theory. Conclusions obtained from this research show that the morphologically formation of potential verbs in lndonesian involves affixation process whereas in Japanese involves conjugation process that changes the meaning of the basic verb into a derivation verb which contains potential meaning.
Perbandingan Peribahasa Jepang dengan Peribahasa Sunda terkait Hubungan Manusia: Kajian Semantik Kognitif Puspa Mirani Kadir; Yulia Pebriani; Susiyanti Rusyan
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.5266

Abstract

Proverbs are a local wisdom or folksy wisdom that contains morals or truths that are values embraced by a society. This is in accordance with Foley (1997, 361) who states that proverbs are a remarkable example of describing the relationship between culture, language, and the human mind. This simple contrast research of the analysis will adjust to important variables in the content analysis. The first time that is done is to analyze proverbial data in two languages, namely Sundanese and Japanese, meaning the same based on a cultural point of view to which four content variables will be analyzed. These four variables are the concept of Warnaen, (1987, 5) in facilitating the grouping of proverbial contents. After that, it is continued with an analysis scheme that refers to the prism model developed by Geeraerts in Langlotz's book entitled Idiomatic Creativity. The model illustrates the existence of a metaphorical relationship between the true meaning of a proverb and the language used in the idiom (Langlotz, 2006, 109). Sundanese and Japanese proverbs in the variable content category are closely related to humans as individuals and humans in social life. In addition, Sundanese proverbs found in oral tradition have a deep meaning in a process of human behavior that behaves, while the dominant Japanese proverb tells of a human behavior from the beginning of the event then continued with a result accompanied by a causal relationship. AbstrakPeribahasa merupakan suatu kearifan lokal atau folksy wisdom yang mengandung moral atau kebenaran yang menjadi nilai yang dianut oleh suatu masyarakat. Hal ini sesuai dengan Foley (1997, 361) yang menyatakan bahwa peribahasa (proverb) merupakan contoh yang luar biasa untuk menggambarkan hubungan antara budaya, bahasa, dan pikiran manusia. Penelitian kontrastif analisis yang sederhana ini akan menyesuaikan dengan variabel penting dalam analisis isi. Pertama kali yang dilakukan adalah menganalisis data peribahasa dalam dua bahasa, yaitu Sunda dan Jepang, bermakna sama berdasarkan sudut pandang budaya yang akan dianalisis empat kategori isi. Empat kategori ini merupakan konsep dari Warnaen, (1987, 5) dalam memudahkan pengelompokan isi peribahasa. Setelah itu dilanjutkan dengan skema analisis yang mengacu pada model prisma yang dikembangkan oleh Geeraerts dalam buku Langlotz yang berjudul Idiomatic Creativity. Model tersebut menggambarkan akan adanya hubungan metafora antara makna sesungguhnya suatu peribahasa dengan bahasa yang digunakan dalam idiom tersebut (Langlotz, 2006, 109). Peribahasa Sunda dan Jepang dalam kategori variabel isi sangat berkaitan erat dengan manusia sebagai pribadi dan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, peribahasa Sunda yang ditemukan dalam tradisi lisan memiliki makna yang dalam pada suatu proses manusia itu berperilaku, sedangkan peribahasa Jepang dominan menceritakan sebuah perilaku manusia dari awal kejadian kemudian dilanjutkan dengan hasil yang disertai dengan hubungan sebab akibatnya.
Kalimat Interogatif dalam Kanal YouTube ‘ChinesePod’: Kajian Sintaksis Wulan Sekar Arum; Puspa Mirani Kadir; Wagiati Wagiati
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Vol 8, No 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sh.v8i2.1727

Abstract

Interrogative sentences are an important aspect of learning a foreign language. Research on Chinese interrogative sentences is still very rare, so the writer chooses to research Chinese interrogative sentences. This study aims to examine the interrogative sentences contained in the video entitled '旅行在中国 Traveling in China' on the YouTube channel 'ChinesePod'. This research is a qualitative descriptive study, using observation and note-taking techniques. The data is classified based on the type of interrogative sentence, the function and location of the question word in each interrogative sentence. The results obtained show that there are 10 types of questions with 'yes/no' answers with ten question words functioning as predicates. Then there are 7 types of questions with answers to information which are divided into three question words which function as subjects, two question words function as predicates, one question word functions as a delimiter, and one question word functions as an adverb of place.Keywords – Chinese, Interrogative Sentence, Syntax.
Proses Morfologis Gairaigo pada Game Kantai Collection Jagadhita, Raditya; Kadir, Puspa Mirani; Wagiati
AYUMI : Jurnal Budaya, Bahasa dan Sastra Vol 10 No 2 (2023): AYUMI: Jurnal Budaya, Bahasa dan Sastra
Publisher : Japanese Literature Study Program, Faculty of Letters, Dr. Soetomo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/ayumi.v10i2.6551

Abstract

The game Kantai Collection, more commonly known as Kancolle, is a Japanese-language game that is very popular among young Japanese people, especially among fans of anime-themed games. This game is set in the background of World War II and features many foreign characters who use gairaigo (loanwords from foreign languages) in their conversations. Gairaigo refers to borrowed words from foreign languages used by the Japanese people. The aim of this research is to classify the morphological processes of gairaigo in the source data and analyze how these gairaigo words are formed. This study is a qualitative descriptive research using the free observation method. The research collected data from six characters who frequently use gairaigo. The results of the study found 57 gairaigo words, consisting of 48 affixations, 6 combinations, and 3 word truncations, but no reduplication or direct borrowing was found. Furthermore, there were no changes in word classes in these gairaigo affixations. Keywords: gairaigo; game; morphological process.
Kesalahan Morfologi Dalam Tulisan Yang Diunggah Di Instagram @riaricis1795 Haruna, Nabilah; Puspa Mirani Kadir; Wagiati
SPHOTA: Jurnal Linguistik dan Sastra Vol. 15 No. 2 (2023): SPHOTA: Jurnal Linguistik dan Sastra
Publisher : Fakultas Bahasa Asing (FBA) Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/sphota.v15i2.6721

Abstract

The majority of Indonesian people choose to use social media such as Instagram to channel their thoughts and feelings in the form of videos, and photos, then affixed with writing to describe the activities carried out. In this study, the researcher analyzed the morphological errors contained in the writing uploaded on Instagram @riaricis1795. This account was taken as the object of the data because it is included in top 10 the most popular celebrities who reached 34 million followers. Besides that, Ria Ricis is a role model for the young generation in Indonesia nowadays. This research aims to know how many mistakes were made by one of the country's celebrities when writing 'captions' on her personal Instagram page. The research method used is a descriptive analysis approach by observing and recording. Then, the data taken is limited to 30 uploads from a total of 560 that have been uploaded by @riaricis1795. The results of the analysis of the data found that there are 102 errors which include errors in the reduction of prefixes, and suffixes, omission of letters, use of uppercase and lowercase letters, improper reduplication words, separation and connection of words, and errors in abbreviating words.
WORD FORMATION OF ABBREVIATION ON TIKTOK TRENDING NEOLOGISM Kadir, Puspa Mirani; Aulia, Dhannisa; Wagiati, Wagiati
Jurnal SORA - Pernik Studi Bahasa Asing Vol 7 No 1 (2023): Jurnal SORA
Publisher : Sekolah Tinggi Bahasa Asing Yapari-ABA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58359/jurnal_sora.v7i1.94

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap jenis-jenis pembentukan kata dalam singkatan di TikTok. Jenis singkatan tersebut adalah initialism dan shortening. Singkatan initialism adalah versi pendek yang diucapkan huruf demi huruf dan mengambil huruf pertama dari kata-kata tersebut. Sedangkan shortening adalah kata yang disingkat agar lebih lugas. Teori yang digunakan adalah teori singkatan dari Kridalaksana (2007) yang mendefinisikan pembentukan kata, digunakan untuk mendeskripsikan dan menganalisis data. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, di mana sumber data diperoleh dari pengguna TikTok di Indonesia dari video dan caption yang mereka gunakan. Hasil menunjukkan bahwa tujuh (7) data diklasifikasikan berdasarkan jenis proses singkatan. Terdapat (5) data yang berisi inisialisasi singkatan dan (2) data yang berisi pemendekan singkatan. Selain itu, makna dari setiap potongan data juga akan dijelaskan dengan teori semantik dari Charles W. Kreidler.