Claim Missing Document
Check
Articles

Struktur dan Makna Verba Majemuk Bahasa Jepang V1+Komu Onin Najmudin; Puspa Mirani Kadir; Novita Puspahaty
Makna: Jurnal Kajian Komunikasi, Bahasa, dan Budaya Vol. 6 No. 1 (2020): MAKNA: Jurnal Kajian Komunikasi, Bahasa dan Budaya
Publisher : Fakultas Komunikasi, Sastra, dan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33558/makna.v6i1.2007

Abstract

The verb komu is one of components of the VV lexical compound verbs. This research aims to identify structures and meanings of the lexical V1+komu compound verbs through to the Transivity Harmony Principle (THP) theory. The Transitivity Harmony Principle (THP) was used to examined the combination between V1 and komu as V2 based on argument structures of the verbs. The data gathered from Japanese language novel Ningen no Daichi that contained V1+komu compound verbs. The results showed that komu as a V2 can be combined with any various types of verb in V1, respectively; transitive+komu (e.g oshi-komu ‘push in’), unaccusative +komu (shizumi-komu ‘sink in’), and unergative+ komu (e.g abare-komu ‘go in violently’). Even combined with different types of verb in V1, komu was retained its argument structure; adding a goal phrase to verb in V1. The combinations of komu with any types of verb in V1 resulting two different meaning, respectively: 1) physical action in/into closed space, 2) a condition within the same situation both physical or psychological condition. In (1) physical action in/into a closed space komu was retained its original meaning, but in (2) a conditions within the same situations both physical or psychological condition komu was losing its lexical meaning.
Derivasi Bahasa Korea (파생어 pasaengeo) pada Cerita Anak berjudul “벽운마을의 산신제 (Byeogunmaeure Sansinje / Mountain God Festival in Byeokwoon Village)” Ni Gusti Ayu Dhyani Widyadari; Ypsi Soeria Soemantri; Wagiati; Puspa Mirani Kadir
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 8 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v8i2.1843

Abstract

Proses derivasi dapat ditemukan dalam percakapan sehari-hari maupun berbagai jenis media yang salah satunya adalah cerita anak. Dalam bahasa Korea, derivasi merupakan salah satu bagian dari kata kompleks atau 복합어 (bokhabeo). Salah satu unsur pembentuk kata derivasi dalam bahasa Korea adalah afiks. Bahasa Korea memiliki beragam jenis afiks, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis afiks derivatif apa saja yang terdapat dalam cerita anak Korea yang berjudul “벽운마을의 산신제 (Byeogunmaeure Sansinje / Mountain God Festival in Byeokwoon Village)”. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka dan teknik simak catat. Teknik analisis data dilakukan dengan beberapa tahap yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan yang didapatkan dari penelitian ini berupa 12 macam afiks derivatif yang terdapat pada 25 data berupa kata berafiks yang yang didominasi oleh sufiks sebanyak 11 data dan 1 data prefiks. Jenis prefiks yang ditemukan yaitu hanya prefiks derivatif verba sedangkan untuk sufiks ditemukan semua jenisnya yaitu sufiks derivatif nomina, verba, ajektiva, dan adverbia.
Perbandingan Peribahasa Jepang dengan Peribahasa Sunda terkait Hubungan Manusia: Kajian Semantik Kognitif Puspa Mirani Kadir; Yulia Pebriani; Susiyanti Rusyan
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.5266

Abstract

Proverbs are a local wisdom or folksy wisdom that contains morals or truths that are values embraced by a society. This is in accordance with Foley (1997, 361) who states that proverbs are a remarkable example of describing the relationship between culture, language, and the human mind. This simple contrast research of the analysis will adjust to important variables in the content analysis. The first time that is done is to analyze proverbial data in two languages, namely Sundanese and Japanese, meaning the same based on a cultural point of view to which four content variables will be analyzed. These four variables are the concept of Warnaen, (1987, 5) in facilitating the grouping of proverbial contents. After that, it is continued with an analysis scheme that refers to the prism model developed by Geeraerts in Langlotz's book entitled Idiomatic Creativity. The model illustrates the existence of a metaphorical relationship between the true meaning of a proverb and the language used in the idiom (Langlotz, 2006, 109). Sundanese and Japanese proverbs in the variable content category are closely related to humans as individuals and humans in social life. In addition, Sundanese proverbs found in oral tradition have a deep meaning in a process of human behavior that behaves, while the dominant Japanese proverb tells of a human behavior from the beginning of the event then continued with a result accompanied by a causal relationship. AbstrakPeribahasa merupakan suatu kearifan lokal atau folksy wisdom yang mengandung moral atau kebenaran yang menjadi nilai yang dianut oleh suatu masyarakat. Hal ini sesuai dengan Foley (1997, 361) yang menyatakan bahwa peribahasa (proverb) merupakan contoh yang luar biasa untuk menggambarkan hubungan antara budaya, bahasa, dan pikiran manusia. Penelitian kontrastif analisis yang sederhana ini akan menyesuaikan dengan variabel penting dalam analisis isi. Pertama kali yang dilakukan adalah menganalisis data peribahasa dalam dua bahasa, yaitu Sunda dan Jepang, bermakna sama berdasarkan sudut pandang budaya yang akan dianalisis empat kategori isi. Empat kategori ini merupakan konsep dari Warnaen, (1987, 5) dalam memudahkan pengelompokan isi peribahasa. Setelah itu dilanjutkan dengan skema analisis yang mengacu pada model prisma yang dikembangkan oleh Geeraerts dalam buku Langlotz yang berjudul Idiomatic Creativity. Model tersebut menggambarkan akan adanya hubungan metafora antara makna sesungguhnya suatu peribahasa dengan bahasa yang digunakan dalam idiom tersebut (Langlotz, 2006, 109). Peribahasa Sunda dan Jepang dalam kategori variabel isi sangat berkaitan erat dengan manusia sebagai pribadi dan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, peribahasa Sunda yang ditemukan dalam tradisi lisan memiliki makna yang dalam pada suatu proses manusia itu berperilaku, sedangkan peribahasa Jepang dominan menceritakan sebuah perilaku manusia dari awal kejadian kemudian dilanjutkan dengan hasil yang disertai dengan hubungan sebab akibatnya.
IMPLIKASI SUFIKS TERHADAP KALIMAT AKTIF DAN PASIF BESERTA KLASIFIKASI TENSES DI DALAM UNPAD NEWS Puteri, Ariani Dwi; Wagiati, Wagiati; Kadir, Puspa Mirani
Journal of Linguistic Phenomena Vol 3 No 1 (2024): Journal of Linguistic Phenomena, Juli 2024
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jlp.v3i1.53144

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implikasi sufiks terhadap kalimat aktif dan pasif beserta tenses yang muncul di dalam dua berita berjudul; “Officially Established, Here are the Tasks of the Unpad PPKS Task Force” dan “Unpad Hosts AHEC 2023, a Platform for Harmonizing Higher Education for ASEAN Development” di situs web University Update News UNPAD. Dalam menganalisis data, penulis menggunakan teori Lieber (2009) dan Baugh (2005) untuk klasifikasi afiksasi dan untuk klasifikasi sufiks ke dalam kalimat aktif dan pasif. Setelah itu, penulis memasukkan jenis kalimat tersebut ke dalam tensesnya di dalam bahasa Inggris dengan menggunakan teori Azar (2002). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan menggunakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa di dalam dua berita di situs web University Update News UNPAD terdapat 32 data yang diklasifikasi menjadi; 5 jenis sufiks (-ed), (-d), (-s), (-ing), dan (-ive). Di dalam kedua artikel tersebut terdapat dua jenis kalimat yang terbentuk dari sufiks, yaitu kalimat aktif dan pasif. Di dalam kalimat aktif terdapat 5 jenis sufiks (-ed), (-d), (-s), (-ing), dan (-ive) dengan jumlah 19 data, sedangkan di dalam kalimat pasif dengan jumlah 12 data terdapat 2 jenis sufiks (-ed) dan (-d). Klasifikasi kalimat aktif dan pasif ini lalu diformulasikan ke dalam bentuk tenses bahasa Inggris. Pada kalimat aktif terdapat 4 jenis tenses; Present Tense (9), Past Tense (7), Present Perfect Tense (2), dan Present Continuous Tense (1). Pada kalimat pasif terdapat 5 jenis tenses; Past Tense (7), Future Tense (2), Present Tense (1), Present Perfect Tense (1) dan Past Future Tense (1).