Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Naditira Widya

JEJAK AKULTURASI BUDAYA JAWA DAN KALIMANTAN DI TAMAN PURBAKALA CANDI AGUNG DI AMUNTAI, KALIMANTAN SELATAN [TRACES OF ACCULTURATION BETWEEN JAVA AND KALIMANTAN AT THE CANDI AGUNG ARCHAEOLOGICAL PARK IN AMUNTAI, SOUTH KALIMANTAN] Soni Sadono; Didit Endriawan
Naditira Widya Vol 15 No 2 (2021): NADITIRA WIDYA VOLUME 15 NOMOR 2 OKTOBER 2021
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v15i2.462

Abstract

Tulisan ini membahas situs-situs Candi Agung, Tiang Mahligai Junjung Buih, dan Pertapaan Pangeran Suryanata di Taman Purbakala Candi Agung, Provinsi Kalimantan Selatan. Tujuan penelitian ini adalah memahami akulturasi budaya asli dan asing yang telah terjadi pada ketiga situs tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan arkeologi dan semiotika budaya dengan mengelaborasi aspek-aspek kualitatif datanya. Aspek-aspek yang dibahas adalah bentuk dan fungsi candi, nama dan fungsi situs pemandian dan pertapaan, nama-nama tokoh legenda yang terkait dengan keberadaan candi, dan peristiwa-peristiwa dalam legenda. Subjek kajian terdiri atas dua aspek dokumentasi, yaitu visual (foto-foto situs) dan verbal (legenda). Subjek visual berupa dokumentasi pribadi pada tahun 2010. Subjek verbal terdiri atas buku-buku dan jurnal-jurnal yang membahas subjek penelitian, yaitu Hikayat Banjar, Hikayat Lambung Mangkurat, dan Tutur Candi. Hasil penelitian menunjukkan adanya akulturasi budaya Jawa dan Kalimantan, baik dalam bentuk bangunan candi, keberadaan situs pertapaan, nama-nama tokoh legenda, dan juga peristiwa.This paper discusses the sites of Candi Agung, Tiang Mahligai (bathing) Junjung Buih, and Pertapaan (hermitage) Pangeran Suryanata in the Archaeological Park of Candi Agung, South Kalimantan Province. The purpose of this study is to understand the acculturation between native and foreign cultures that had occurred at the three sites. This research uses the archaeological and cultural semiotics approach by elaborating the qualitative aspects of the data. The aspects discussed are the form and function of the temple, the name and function of the bathing and hermitage sites, the names of the legendary figures associated with the existence of the temple, and the events mentioned in the legend. The subject of the study consists of two aspects of documentation, i.e. visual (photos of the site) and verbal (legends). Visual subjects were of personal documentation obtained in 2010. Verbal subjects consist of books and journals that discuss the research subject, i.e. Hikayat Banjar, Hikayat Lambung Mangkurat, and Tutur Candi. Research results showed the occurrence of acculturation of Javanese and Kalimantan cultures, both in the form of temple buildings, the existence of hermitage sites, names of legendary figures, and cultural events.
KOMPLEKS PERCANDIAN BATUJAYA: POTENSI WISATA PASCA PANDEMI DI KARAWANG Soni Sadono; Catur Nugroho; Topik Mulyana
Naditira Widya Vol 17 No 1 (2023): Naditira Widya Volume 17 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v17i1.496

Abstract

Tulisan ini dibuat dengan dasar keunikan yang terdapat pada candi yang ada di Karawang, Jawa Barat. Kawasan candi yang saat ini menjadi destinasi wisata memiliki daya tarik yang unggul di wilayah Karawang. Meskipun demikian, selama pandemi seluruh aktivitas dibatasi begitu pula dalam ranah pariwisata. Hal ini juga mempengaruhi jumlah kunjungan ke Kompleks Percandian Batujaya, Karawang. Sementara candi peninggalan masa Kerajaan Tarumanegara ini berpotensi untuk memajukan pariwisata di Karawang karena keunikan bangunannya yang tidak kalah menarik dibandingkan dengan bangunan candi yang berada di wilayah Jawa lainnya. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji potensi wisata pada Kompleks Percandian Batujaya sehingga dapat meningkatkan kembali minat pengunjung pada objek candi ini. Metode menggunakan pendekatan sejarah dan arkeologis dengan metode kualitatif. Aspek yang dibahas mengenai sejarah singkat dari Kompleks Percandian Batujaya, tempat wisata Kompleks Percandian Batujaya selama masa pandemi dan pascapandemi, dan bagaimana potensi yang dapat dikembangkan di area kompleks percandian agar dapat menarik minat pengunjung. Hasil dari penelitian menjelaskan adanya dampak yang terjadi selama pandemi menuju pasca-pandemi dalam pariwisata yang ada di Kompleks Percandian Batujaya, baik dari segi fasilitas, infrastruktur maupun peraturan saat mengunjungi area percandian bagi para wisatawan. The uniqueness of the Batujaya Temples has the potential to increase the attractiveness of the Karawang area as an excellent tourist destination. However, the impact of the pandemic which has caused restrictions on activities, including tourism, has affected the number of visits to the Batujaya Temples. This research aimed an in-depth understanding of the tourism potential of the Batujaya Temples to increase the number of visitors. A historical and archaeological approach was used and discussion was focused on the brief history of the Batujaya Temples, the condition of the Batujaya Temple during the pandemic and post-pandemic period, as well as the cultural potential that can be developed further. The results of the research show that the impact of the pandemic and post-pandemic conditions at the tourist location of the Batujaya Temples was the improvement of public facilities and infrastructure, as well as adjusting tourist visit regulations to post-pandemic conditions.
Co-Authors Abdurrachman, Arazak Adrian Permana Zen Adzani, Qaisya Afti, Sevilla Naufal Agus Dody Purnomo Alam, Samsul Alfath, Muhammad Amal, Hanif Hasanul Ambari, Muhamad Wildan Amelia Pasha, Dea Arrafi, Ananda Dhaffa Arsyafitri, Yasmin Annisaa Asep Sufyan Muhakik Ayuningtyas, Ester Dyah Bagus Nur Rochman, Bagus Nur Brilindra Pandanwangi Brillian, Rayhan Muhammad Catur Nugroho Cucu Retno Yuningsih Didit Endriawan Donny Trihanondo Dwitama, Muhamad Rizki Dyah Ayu Wiwid Sintowoko Epri Diningrum, Anisa Ersyad, Firdauz Azwar Fahrez, Arsyi Muhammad Fahreza, Rayhan Fauzan, Emir Ahmad Fiallco, Yoppyndra Firdaus Azwar Ersyad, Firdaus Azwar Firdaus, Ivan Fauzy Firdaus, Mahadika Fuadi, Rizka Aulia Putri Giri R, Vega Harrie Lutfie Hening Laksani Hibatullah, Fikri Nabil Huriyah, Hanin Husna, Safaratul Hutabarat, Tiurma Rotua Iqbal Prabawa Wiguna Ivana, Jenifer Janitra, Azarinnabila Kasputra, Danil Kharisma Nasionalita Kusumanugraha, Sigit Leni Cahyani Mahendra, Rengga Nadif Miftahussurur, Giat Agus Muyassar, Muhamad Ihsan Nastiti, Tiara Khaliza Nazori, Futrawan Nurwidhi, Dwiannisa Shafira Pamungkas, Ridho Putra Pandanwangi, Brilindra Paramitha Pebrianti2 Pebrianti2, Paramitha Putri, Jade Elisa Rachmawanti, Ran3 Rafli, Muhammad Rahmat Hidayat Ranti Rachmawanti Ridwan, Marsha Nabila Rohadiyat, Vega Giri Rustandi, Aprilia Putri Sakinah, Alma Raissa Sampurno Wibowo Sarita, Sandrina Rahma Setiadi, Mochamad Rizal Setiawan, Rheza Putra Suprayogi, Bambang Melga Teddy Ageng Maulana Topik Mulyana Tri Haryotedjo Vega Giri Rohadiat Yudhistira, Laurensius Zahira, Pocut Aisha