Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Artificial Intellegence and Techno-Religion: Reframing Tawhid and Maqasid Al-Shariah in Qur'anic Perspective Muhammad Zainul Majdi; Muhammad Haramain; Abd. Hayyi Akrom
KASTA : Jurnal Ilmu Sosial, Agama, Budaya dan Terapan Vol. 6 No. 3 (2026): August
Publisher : Lembaga Bale Literasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/kasta.v6i3.4673

Abstract

The rapid diffusion of artificial intelligence (AI) into religious education, Qur'anic exegesis (tafsir), and da'wah practice raises urgent questions about how classical Islamic epistemology can govern emergent digital technologies. Existing scholarship has largely treated AI governance, exegetical authenticity, and the reconfiguration of religious authority as separate concerns. This paper constructs an integrated Qur'anic ethical framework, anchored in Tawhid, Maqasid al-Shariah, Adl (justice), and Amanah (trust), for evaluating AI's role across Islamic scholarship and education, with particular attention to the Nusantara context and Indonesian State Islamic Higher Education Institutions (PTKI), including IAIN Parepare. Employing a qualitative conceptual-theological method, the study synthesizes recent Scopus-indexed literature (2015–2024) across Islamic studies, AI ethics, digital humanities, and theology, and triangulates this literature with purposive semi-structured interviews conducted with sixteen lecturers and institutional leaders at two Indonesian Islamic higher education institutions, IAIN Parepare and Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor. Findings, corroborated by field interviews, show that algorithmic bias risks decontextualizing Qur'anic meaning; that AI is reshaping religious authority toward hybrid, digitally negotiated figures while lecturers and institutional leaders continue to anchor authority in scholarly transmission and moral exemplarity; that PTKI institutions face both opportunity and risk in adopting AI for religious instruction and currently lack formal governance instruments to manage that risk; and that Islamic theology maintains a firm boundary between AI's mechanistic processing and divine omniscience or human moral agency. The paper argues that AI can be legitimately deployed only as an assistive instrument under sustained human scholarly oversight, and it offers a practical, maqasid-based governance model relevant to PTKI and to Indonesia's broader project of digital transformation in Islamic higher education.
DISRUPSI DAN EKONOMI DAKWAH DIGITAL: KOMODIFIKASI, MONETISASI, DAN REKONFIGURASI OTORITAS USTADZ SELEBRITI DI YOUTUBE Darmianti Razak; Muhammad Haramain
Referensi Islamika: Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): JUNE
Publisher : Academic Bright Collaboration

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61220/ri.v3i1.009

Abstract

Perluasan platform digital telah mengubah dakwah Islam dari komunikasi keagamaan berbasis institusi menuju praktik yang dimediasi platform, algoritma, metrik keterlibatan, dan ekonomi perhatian. Artikel ini menganalisis bagaimana komodifikasi dan monetisasi bekerja di sekitar konten dakwah ustadz selebriti dengan membedakan transaksi komersial, dukungan institusional, dan infrastruktur akses digital. Studi menggunakan netnografi nonpartisipatif dan analisis wacana digital terhadap 40 video dari kanal YouTube resmi Hanan Attaki, Adi Hidayat, dan Abdul Somad pada Januari–Juni 2025. Korpus final terdiri atas tujuh unit Hanan Attaki, empat belas unit Adi Hidayat, dan sembilan belas unit Abdul Somad. Pada kasus Hanan Attaki, tujuh dari tujuh unit memuat ajakan menuju membership dan/atau ekosistem KataUHA pada metadata. Pada kasus Adi Hidayat, tidak ditemukan monetisasi komersial pada empat belas unit, sedangkan enam unit memuat dukungan wakaf atau donasi institusional. Pada kasus Abdul Somad, sembilan belas dari sembilan belas unit memuat jalur pemesanan buku sekaligus informasi wakaf atau donasi institusional dalam template deskripsi. Temuan utama menunjukkan bahwa bukti ekonomi terutama berada pada metadata dan ekosistem kanal, bukan pada substansi ceramah yang telah diverifikasi. Artikel ini mengusulkan pembacaan komodifikasi sebagai proses berlapis melalui konsep differentiated economies of digital da‘wah dan metadata-layer economy, serta menunjukkan bahwa ekonomi dakwah digital beroperasi melalui konfigurasi akses, kelembagaan, dan produk religius yang berbeda.