Claim Missing Document
Check
Articles

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA PASIEN PENDERITA CEREBROVASCULAR ACCIDENT BLEEDING DENGAN MASALAH KEPERAWATAN PENURUNAN KAPASITAS ADAPTIF INTRAKRANIAL: EMERGENCY NURSING CARE FOR PATIENTS EXPERIENCING CEREBROVASCULAR ACCIDENT BLEEDING WITH NURSING PROBLEMS OF DECREASED INTRACRANIAL ADAPTIVE CAPACITY Firnanda Amelia Putri; Dwi Rahayu
Jurnal Ilmiah Pamenang Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Imiah Pamenang (JIP)
Publisher : Stikes Pamenang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jip.v7i2.356

Abstract

Abstrak Introduksi: Cerebrovascular Accident Bleeding (CVA Bleeding) menyumbang Disability-Adjusted Life Years sebesar 49,6% dari stroke secara keseluruhan. CVA Bleeding terjadi ketika pembuluh darah di otak pecah kemudian menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial (PTIK) sehingga terjadi penurunan kapasitas adaptif intrakranial. Tindakan yang perlu dilakukan adalah manajemen PTIK. Tujuan studi kasus ini untuk mendiskripsikan asuhan keperawatan gawat darurat pada pasien CVA Bleeding dengan masalah keperawatan penurunan kapasitas adaptif intrakranial. Metode: Metode yang digunakan adalah deskriptif karena mampu menggambarkan kondisi perkembangan pasien secara rinci. Tindakan diberikan kepada dua pasien di Ruang HCU Mahakam RSUD Dr. Saiful Anwar Provinsi Jawa Timur. Hasil: Hasil pengkajian didapatkan dua pasien CVA Bleeding mengalami Triad Cushing, kesadaran menurun, pupil anisokor, agitasi ringan, dan terdapat reflek Babinski. Masalah keperawatan yang muncul yaitu penurunan kapasitas adaptif intrakranial. Tindakan yang dilakukan berupa memonitor tanda dan gejala PTIK, meminimalisir stimulus lingkungan, memposisikan head up 30°, dan memberikan terapi farmakologis. Evaluasi hari terakhir menunjukkan perbaikan kondisi pada kedua pasien dimana Triad Chusing membaik dan kesadaran meningkat sehingga masalah keperawatan teratasi sebagian. Analisis: Manajemen PTIK dengan pengaturan posisi head up 30° dapat meningkatkan aliran balik vena serebral sehingga oksigenasi serebral tercukupi dan mencegah herniasi yang pada akhirnya tanda-tanda PTIK berkurang. Discuss: Tindakan manajemen PTIK dengan pengaturan posisi head up 30° mampu mengurangi PTIK sehingga penurunan kapasitas adaptif intrakranial dapat dikendalikan. Rekomendasi: Studi kasus ini belum menyajikan nilai TIK. Studi selanjutnya diharapkan menyajikan nilai TIK sebagai parameter objektif dan memperluas jumlah kasus guna meningkatkan generalisasi hasil.   Abstract Introduction: Cerebrovascular Accident Bleeding (CVA Bleeding) contributes to 49.6% of Disability-Adjusted Life Years from strokes. CVA Bleeding occurs when the brain's blood vessels rupture, causing an increase in intracranial pressure (ICP), which results in decreased intracranial adaptive capacity. The necessary intervention is ICP management. This case study aims to describe emergency nursing care for patients with CVA bleeding and decreased intracranial adaptive capacity. Methods: A descriptive approach to describe patient progress in detail. The study involved two patients in HCU Mahakam, Dr. Saiful Anwar Regional Hospital, East Java Province. Results: The assessment showed that two patients with CVA Bleeding experienced Cushing's Triad, decreased consciousness, anisocoria pupils, mild agitation, and positive Babinski reflexes. The identified nursing problem was decreased adaptive intracranial capacity. Implementations included monitoring signs and symptoms of increased ICP, minimizing environmental stimuli, positioning the head up 30°, and providing pharmacological therapy. The final day's evaluation showed improvement in Cushing's Triad and increased consciousness, partially resolving the nursing problem. Analysis: Management of increased ICP by positioning the head up 30° can enhance cerebral venous return, ensuring adequate cerebral oxygenation, preventing herniation, and ultimately reducing signs of increased ICP. Discussion: Management of increased ICP by positioning the head up 30° can reduce the increase in ICP, thereby controlling the decrease in intracranial adaptive capacity. Recommendation: This case study lacked ICP values. Future research should include them as an objective parameter and expand the sample size to improve the generalizability of outcomes
PENINGKATAN KETRAMPILAN PENGENALAN TANDA TRAUMA ABDOMEN DENGAN TEKNIK BEHAVIORAL SKILL TRAINING : IMPROVING ABDOMENAL TRAUMA SIGNS RECOGNITION SKILLS USING BEHAVIORAL SKILL TRAINING TECHNIQUES Dwi Rahayu; Yunarsih; Didik Susetiyanto Atmojo; Elfi Quyumi Rahmawati; Suryono; Fajar Rinawati; Kristiyan Wijianto
Jurnal Ilmiah Pamenang Vol. 6 No. 1 (2024): Jurnal Imiah Pamenang (JIP)
Publisher : Stikes Pamenang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jip.v6i1.240

Abstract

Abstrak   Trauma abdomen merupakan trauma yang terletak didaerah antara pelvis bagian bawah dan diafragma pada bagian atas. Trauma abdomen terdiri atas trauma tumpul abdomen dan trauma tembus abdomen. Pada kasus-kasus trauma tumpul diagnosis lebih susah ditegakkan karena biasanya terjadi multisistem trauma, sedangkan trauma pada organ intra-abdomen kemungkinan terjadi karena adanya luka penetrasi. Trauma merupakan penyebab kematian utama usia-usia produktif yaitu usia dibawah 40 tahun, juga merupakan penyebab kematian ke-3 di dunia, setelah penyakit kanker dan kardiovaskuler. Kasus trauma abdomen masih sering mengalami penundaan diagnostik, dan fasilitas penunjang yang belum memadai sehingga mengakibatkan rawat inap berkepanjangan dan meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas.  Trauma abdomen merupakan penyebab yang cukup signifikan bagi angka kesakitan dan kematian. Diagnosis trauma abdomen sering kali terlewatkan akibat gejala fisik yang terkadang dikaburkan oleh adanya intoksikasi maupun trauma kepala. Trauma abdomen yang tidak diketahui masih menjadi momok penyebab kematian yang seharusnya dapat dicegah. Tujuan penelitian ini adalah untuk peningkatan ketrampilan pengenalan tanda kejadian trauma abdomen dengan teknik behavioral skill training. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pre experimental design dengan rancangan one group pretest-postest. Responden dalam penelitan ini sebesar 40 responden. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling, pengumpulan data menggunakan lembar kuesioner melalui google form. Analisa data dilakukan dengan uji statistik  paired t test. Hasil penelitian menunjukkan p value : 0,000 dimana ( p value < 0,05 ) sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara ketrampilan pengenalan tanda trauma abdomen sebelum dan sesudah dilakukan teknik behavioral skill training. Metode BST efektif digunakan untuk melatih ketrampilan responden dalam ketrampilan pengenalan tanda trauma abdomen yang terjadi pada pasien. Abstract  Abdominal trauma is trauma located in the area between the lower pelvis and the upper diaphragm. Abdominal trauma consists of blunt abdominal trauma and penetrating abdominal trauma. In cases of blunt trauma, the diagnosis is more difficult to make because multisystem trauma usually occurs, while trauma to intra-abdominal organs may occur due to penetrating injuries. Trauma is the main cause of death in productive age, namely under 40 years of age, and is also the 3rd cause of death in the world, after cancer and cardiovascular disease. Abdominal trauma cases still often experience diagnostic delays and inadequate supporting facilities, resulting in prolonged hospitalization and increased morbidity and mortality rates. Abdominal trauma is a significant cause of morbidity and mortality. The diagnosis of abdominal trauma is often missed due to physical symptoms which are sometimes obscured by intoxication or head trauma. Unknown abdominal trauma is still a scourge that causes death that should be preventable. The aim of this research is to improve skills in recognizing signs of abdominal trauma using behavioral skills training techniques. The research design used in this research is a pre-experimental design with a one group pretest-posttest design. Respondents in this research were 40 respondents. The sampling technique used was purposive sampling, data collection using a questionnaire via Google Form. Data analysis was carried out using the paired t test statistical test. The results of the research show p value: 0.000 where (p value <0.05) so it can be concluded that there is a significant difference between skills in recognizing signs of abdominal trauma before and after behavioral skills training techniques. The BST method is effectively used to improve respondents' skills in recognizing signs of abdominal trauma that occur in patients.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DEWASA DENGAN STROKE NON HEMORAGIK DENGAN MASALAH KEPERAWATAN GANGGUAN MOBILITAS FISIK : NURSING CARE FOR ADULT PATIENTS WITH NON-HEMORRHAGIC STROKE WITH NURSING PROBLEMS PHYSICAL MOBILITY IMPAIRMENT Dwi Rahayu; Fitri Aprilia; Topo Rohadi
Jurnal Ilmiah Pamenang Vol. 6 No. 2 (2024): Jurnal Imiah Pamenang (JIP)
Publisher : Stikes Pamenang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jip.v6i2.247

Abstract

Abstrak Introduksi : Stroke non hemoragik (SNH) merupakan penyakit yang terjadi karena penyumbatan pembuluh darah yang berakibat aliran darah yang menuju ke otak terhenti yang merupakan masalah patologi yang hampir mencakup 80% masalah stroke yang sering terjadi. Gangguan Mobilitas Fisik adalah keterbatasan dalam gerakan fisik dari satu atau lebih ekstremitas secara mandiri. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk melakukan asuhan keperawatan pada pasien SNH dengan gangguan mobilitas fisik. Metode : Asuhan keperawatan medikal bedah dilakukan di Ruang IRNA Flamboyan pada bulan November 2023 dan Ruang IRNA Cendana pada bulan Januari 2024 di Rumah Sakit Kabupaten Kediri selama 4 hari. Metode yang dilakukan yaitu pemecahan masalah (problem solving) dengan pendekatan proses keperawatan menggunakan metode deskriptif. Hasil : Hasil pengkajian didapatkan bahwa terdapat 2 pasien Stroke Non Hemoragik mengalami masalah keperawatan gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskular dengan tindakan keperawatan yang dilakukan adalah dukungan mobilisasi dan latihan ROM (Range of  Motion) dengan melakukan latihan rentang gerak pasif, memonitor keluhan nyeri serta memantau kekuatan otot. Analisis : Hasil pengkajian didapatkan bahwa adanya kelemahan pada ekstremitas sebelah kiri, penurunan rentang gerak, menurunnya kekuatan otot, pasien tirah baring dan lemah. Discuss : Asuhan keperawatan medikal bedah diharapkan dapat memodifikasi pengetahuan, peran keluarga dan individu dalam upaya peningkatan timbulnya kecacatan yang berkelanjutan dan risiko stroke.   Abstract Introduction: Non-hemorrhagic stroke (SNH) is a disease that occurs due to blockage of blood vessels which results in blood flow to the brain stopping, which is a pathological problem that accounts for almost 80% of frequent strokes. Physical Mobility Impairment is a limitation in the physical movement of one or more extremities independently. The purpose of this writing is to provide nursing care for SNH patients with physical mobility disorders. Method: Medical surgical nursing care was carried out in the IRNA Flamboyan Room in November 2023 and the IRNA Cendana Room in January 2024 at the Kediri Regency Hospital for 4 days. The method used is problem solving with a nursing process approach using descriptive methods. Results: The results of the study showed that there were 2 Non-Hemorrhagic Stroke patients experiencing nursing problems, physical mobility disorders related to neuromuscular disorders, the nursing actions taken were mobilization support and ROM (Range of Motion) exercises by doing passive range of motion exercises, monitoring pain complaints and monitoring muscle strength. Analysis: The results of the assessment showed that there was weakness in the left extremity, decreased range of motion, decreased muscle strength, the patient was on bed rest and weak. Discuss: Medical surgical nursing care is expected to modify knowledge, the role of the family and the individual in an effort to increase the incidence of ongoing disability and the risk of stroke.