Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

PEMANFAATAN LIMBAH BOTTOM ASH SEBAGAI SUBSTITUSI AGREGAT HALUS DALAM PEMBUATAN BETON Zulmahdi Darwis; Soelarso Soelarso
Jurnal Fondasi Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.622 KB) | DOI: 10.36055/jft.v4i1.1226

Abstract

Penggunaan batubara sebagai sumber energi menghasilkan limbah padat berupa bottom ash dan fly ash dari hasil pembakaran.Pemanfaatan limbah bottom ash khususnya yang dihasilkan oleh PT. Styrindo Mono Indonesia masih belum optimal, maka perlu dilakukan penelitian sebagai aplikasi teknologi materialberkelanjutan, agar dapat mengatasi pencemaran lingkungan salah satunya sebagai bahan baku pembuatan beton.Penelitian ini membandingkan antara beton normal (tipe-A) dengan beton yang pemakaian agregat halus nya diganti oleh bottom ash, dengan variasi kondisi bottom ash yang masih alami (tipe-B), lalu kondisi dicuci dikeringkan dalam oven selama ± 24 jam (tipe-C), dan kondisi dicuci dikeringkan oleh sinar matahari (tipe-D). Jumlah benda uji beton sebanyak 60 buah, dengan variasi umur beton 7 hari, 14 hari, 21 hari, 28 hari dan 56 hariHasil penelitian ini menyatakan limbah bottom ash dapat difungsikan sebagai substitusi agregat halus dalam pembuatan beton, dengan dicuci (dibersihkan) terlebih dahulu untuk menghilangkan kotorankotoran organik dan menurunkan kadar karbon. Nilai hasil pengujian pada umur 56 hari menunjukan hasil rata-rata kuat tekan beton normal (tipe A) sebesar 23,64 MPa. Tipe B mengalami penurunan nilai kuat tekan dari beton normal yaitu sebesar 20,35 % dengan nilai kuat tekan sebesar 18,83 MPa. Beton tipe C menghasilkan peningkatan kuat tekan sebesar 5,09 % dari beton normal dengan nilai kuat tekan yang lebih besar diantara tipe lainnya, yaitu sebesar 24,84 MPa. Beton tipe D mengalami penurunan kuat tekan sebesar 3,59 % dari beton normal dengan nilai kuat tekan sebesar 22,79 MPa.Kata Kunci : Beton, Kuat Tekan, Bottom Ash
PEMANFAATAN LIMBAH GAS ESTILEN MENGGUNAKAN PORTLAND COMPOSITE CEMENT (PCC) DAN HR WATER REDUCER LIGNO C 491 SEBAGAI PEMBUATAN BETON Hendrian Budi Bagus Kuncoro; Zulmahdi Darwis; Baehaki Baehaki; Rezka Mugri N.R
Jurnal Fondasi Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.483 KB) | DOI: 10.36055/jft.v7i2.4076

Abstract

Indonesia telah mengembangkan manajemen limbah modern dengan prinsip yaitu 6R ( Reuse, Reduce, Recycle, Replace, Refill, dan Repair ) salah satu sistem managemen limbah ditekankan terhadap Reuse ( pemanfaatan ulang ) dan Recycle ( daur ulang ) dimana dapat menjadi strategi yang tepat dalam pengelolaan limbah untuk menciptakan produk baru. Salah satu cara mendaur ulang limbah tersebut adalah dengan memanfaatkan limbah Gas estilen menjadi bahan tambahan pembuatan beton.Perencanaan beton dengan penambahan limbah karbit dan Ligno C 491, dengan variasi dosis 1,25% Ligno dan 10% , 1,5% Ligno dan 10% , 1,75% Ligno dan 10% , 2% Ligno dan 10% dan pada masing – masing dosis ditambahkan pula limbah karbit sebesar 10% dengan pertimbangan bahan tambah bersifat pozolan apakah mampu diaplikasikan terhadap pembuatan beton ? Jumlah benda uji sebanyak 48 buah, dengan variasi umur beton 3 hari, 7 hari, 14 hari dan 28 hari.Hasil penelitian ini menyatakan penambahan Ligno C 491 dan limbah karbit dapat mempengaruhi kemudahan pengerjaan beton dikarenakan memiliki sifat kecairan (fluidity) yang tinggi namun memilki kemampuan untuk menaikan kuat tekan beton sekitar 40 % hubungan penambahan limbah karbit terhadap pengurangan semen dan hasil pengujian beton sudah mampu untuk mengurangi kebutuhan semen sebagai bahan perekat terlihat dari hasil pengujian beton normal umur 28 hari 19,58MPa, rata-rata kuat tekan pada umur 28 hari untuk beton yang menggunakan dosis 1,25% Ligno dan 10% LBK sebesar 27,18 MPa, dosis 1,5% Ligno dan 10% LBK sebesar 24,76 MPa, dosis 1,75% Ligno dan 10% LBK sebesar 25,16 MPa, dosis 2% Ligno dan 10% LBK sebesar 23,22 MPa. Dari hasil uji tekan penambahan limbah karbit dan Ligno C 491 mampu untuk memenuhi kuat tekan beton normal yaitu antara 15 – 30 Mpa.
PENGARUH TIGA VARIASI TIPE PEREKAT LABUR DAN PENGGUNAAN PASAK VERTIKAL PADA JARAK 15 CM TERHADAP KUAT GESER BALOK BAMBU LAMINASI Zulmahdi Darwis; Hendrian Budi Bagus Kuncoro; Muhammad Afiff Isnaini
Jurnal Fondasi Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.045 KB) | DOI: 10.36055/jft.v6i2.2476

Abstract

Penggunaan balok bambu laminasi menjadi alternatif sebagai salah satu unsur bahan bangunan. Teknik laminasi seperti ini mampu digunakan untuk membentuk bahan bangunan yang digunakan sebagai bahan konstruksi dalam ukuran besar. Penelitian–penelitian sebelumnya telah banyak mengulas kekuatan balok bambu laminasi, tipe keruntuhan dan pola retak. Beberapa pengujian terhadap kuat geser dengan penggunaan perekat labur 60#MDGL, mengakibatkan patahan secara parsial atau patahan geser antar material bambu dan bukan terjadi pada perekat.Penelitian ini diarahkan untuk membuat balok bambu laminasi tanpa menggunakan kulit luar bambu dengan menggunakan variasi 3 tipe perekat labur dan penggunaan pasak vertikal dengan jarak optimum 15 cm, sehingga dapat ditentukan tipe perekat labur yang mempunyai kekuatan optimum dan kekuatan pasak dalam pembuatannya. Perbandingan ukuran atau dimensi balok antara tinggi balok dan lebarnya yaitu 2 : 1 berukuran (12 cm x 6 cm). Selanjutnya diuji kekuatan balok tersebut terhadap kekuatan geser dan lentur.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kekuatan geser yang signifikan diantara ketiga variasi lem. Kekuatan Balok tertinggi adalah benda uji 50#MDGL Ligno dengan nilai beban 20,6 KN dengan lendutan sebesar 22,5 mm. Tegangan geser rata-rata balok laminasi yang didapat adalah 4,43 Mpa.  Kekuatan ini masih lebih besar dari kekuatan balok kayu pada umumnya dimana tegangan geser kayu kuat kelas II sebesar 1,25 Mpa
PERENCANAAN BETON MUTU TINGGI DENGAN MENGGUNAKAN HR-WATER REDUCER LIGNO P 100 DAN PORTLAND COMPOSITE CEMENT (PCC) Zulmahdi Darwis; Soelarso .; Muhammad Isa Ismail
Jurnal Fondasi Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.326 KB) | DOI: 10.36055/jft.v3i1.1719

Abstract

Perkembangkan berbagai jenis bahantambah atau admixtures dan additives untuk campuran beton, terutama water reducer atau plasticizer dan superplastisizer, telah terjadi kemajuan yang sangat pesat pada teknologi beton, dengan berhasil memproduksi beton mutu tinggi bahkan sangat tinggi, dan yang pada akhirnya juga telah memperbaiki dan meningkatkan hampir semua kinerja beton menjadi suatu material modern yang berkinerja tinggi.Penelitian ini merencanakan beton mutu tinggi dengan menggunakan admixture HR-WR Ligno P 100 dan Portland Composite Cement (PCC) dengan variasi dosis 0,8%, 1,2%, 1,6% dan 2%. Jumlah benda uji sebanyak 48 buah, dengan variasi umur beton 3 hari, 7 hari, 14 hari dan 28 hari.Hasil penelitian ini menyatakan penambahan zat aditif ini dapat mempengaruhi kemudahan pengerjaan beton dikarenakan memiliki sifat kecairan (fluidity) yang tinggi sehingga mampu mengalir dan mengisi ruang-ruang atau hanya sedikit sekali memerlukan getaran untuk memadatkannya dan dapat mengurangi waktu proses pemadatan. Nilai hasil rata-rata kuat tekan pada umur 28 hari untuk beton yang menggunakan dosis 0,8% sebesar 37,25 MPa, dosis 1,2% sebesar 36,52 MPa, dosis 1,6% sebesar 35,42 MPa, dan dosis 2% sebesar 40,31 MPa. Penggunaan HR-WRLingo P 100 dapat mengurangi penggunaan air pada dosis 0.8% sebesar 2.42%, pada penggunaan dosis 1.2% sebesar 3.64%, pada penggunaan dosis 1.6% sebesar 4.85% dan pada penggunaan dosis 2% sebesar 6.06%
ANALISIS KOLOM BERBASIS VISUAL BASIC APPLICATION DALAM MENENTUKAN RASIO TULANGAN Soelarso Soelarso; Zulmahdi Darwis
Jurnal Fondasi Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1702.373 KB) | DOI: 10.36055/jft.v4i1.1228

Abstract

Pembuatan diagram interaksi secara manual membutuhkan banyak waktu karena perlu perhitungan beban nominal untuk beragam nilai eksentrisitas beban, serta dengan faktor reduksi kekuatan nominal yang bervariasi. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas desain dan analisis kolom beton bertulang, diagram interaksi umumnya dihasilkan dengan otomatisasi komputer, adapun penelitian ini mencoba untuk menambah wacana baru dalam dunia teknik sipil di dalam menentukan rasio tulangan longitudinal pada kolom betonbertulang dengan menggunakan Visual Basic Application. Visual Basic Application sendiri merupakan program aplikasi yang disertakan pada Ms Office , dimana didalam VBA ini terdapat banyak object seperti ; object model, worksheet, chart, pivot table dan sejumlah fungsi-fungsi lain, dengan VBA kita bisa bekerja dengan object -object tersebut dan mengembangkan prosedur yang ada di dalamnya Oleh karena untuk memudahkan perhitungan rasio tulangan (dengan diagram interaksi kolom) yang cepat dan relatif ekonomis dengan bantuan komputer, dimana diharapkan dapat meminimalisir kesulitan yang ditemui tanpa harus mengulang perhitungan dari awal biladibutuhkan dimensi dan material beton yang berbeda, akan tetapi komputerlah yang akan menghitungnya. Penelitian ini pun dilakukan dengan membandingkan hasil rasio tulangan dari perhitungan manual berbasis Visual Basic Application dengan software PCA Column, adapun hasil perhitungan setelah dibandingkan dengan salah satu software yaitu PCA Column ternyata memberikan hasil yang sama atau rasio tulangan yang dihasilkan relatif samaKata Kunci: Rasio Tulangan, Diagram Interaksi Kolom, Visual Basic Application
PENGARUH PENGGUNAAN PASAK DENGAN VARIASI JARAK (10cm, 15cm, 20 cm ) TERHADAP KUAT LENTUR BALOK LAMINASI BAMBU ( Dendrocalamus asper ) Zulmahdi Darwis; Soelarso Soelarso
Jurnal Fondasi Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.035 KB) | DOI: 10.36055/jft.v5i2.1263

Abstract

Penelitian ini diarahkan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pasak bamboo dengan 3 variasi jarakpada balok laminasi bambu petung terhadap kuat lentur. Perbandingan ukuran balok antara tinggi dan lebarnya adalah dua banding satu yang berukuran (120 mm x 60 mm) dengan bentangbalok 180 cm. Selanjutnya diuji kekuatan balok dengan metode pembebanan lateral terhadap kapasitas lentur dengan penggunaan 3 buah variasi pasak bamboo dengan jarak yaitu 10 cm, 15 cm, dan 20 cm, untuk bambu laminasi menggunakan kulit luar bambu pada permukaan balok direkatkan menggunakan perekat labor 60# Multi Layer Double Glue Line (MDGL) di sisi balok.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh penggunaan pasak bamboo dengan variasi jarak yaitu 10 cm, 15 cm, dan 20 cm pada balok laminasi terhadap kekuatan dan kekakuan yang berbeda beda. Kekuatan Balok tertinggi adalah benda uji 15 cm dengan nilai rata-rata 11,18 kN,dibandingkan dengan balok jarak pasak 10 cm, dan 20 cm yang memiliki nilai rata-rata secara berurutan 8,99 kN, dan 8,34 kN. Kemudian pengujian balok lentur dengan jarak pasak 10 cm, 15 cm, dan 20 cm menghasilkan kekuatan lentur rata-rata secara berututan sebesar 25,739 Mpa, 35,041 Mpa, dan 28,027 Mpa. Hasil dari engujian ini terdapat perbedaan yang signifikan, yaitu adanya pengaruh penggunaan variasi jarak pasak terhadap kuat lentur balok bamboo laminasi.
ANALISA SIMPANGAN PADA STRUKTUR GEDUNG 10 LANTAI MENGGUNAKAN SNI 03-1726-2002 DAN RSNI 03-1726-201X Soelarso Soelarso; Zulmahdi Darwis Darwis
Jurnal Fondasi Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.723 KB) | DOI: 10.36055/jft.v4i1.1225

Abstract

Perencanaan gempa merupakan kajian untuk menghasilkan efisiensi dan desain struktur yang tahan terhadap gaya gempa. Kajian perencanaan gempa harus menggunakan prosedur dan peraturan perencanaan yang terbaru. Peraturan perencanaan struktur gedung tahan gempa di Indonesia sendiri umumnya selaludiperbaharui guna mengakomodir perkembangan iptek dan selalu menyesuaikan dengan kondisi kebutuhan perencanaan struktur gedung. Peraturan perencanaan struktur gedung yang baru adalah RSNI 031726-2002 tentang Tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung dan non gedung. Perencanaan gempa menghasilkan simpangan yang disyaratkan tidak boleh melebihi simpangan izin menurut peraturan yang digunakan.Perhitungan gempa pada struktur gedung 10 lantai dihitung dengan Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung dan SNI 03-1729-2002 dan Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung Dan Non Gedung Rumah Dan Gedung RSNI 03-1726-201X. Nilai gaya gempa yang didapatkan dianalisis menggunakan program bantuan komputer yaitu ETABS v.9.6. untuk mendapatkan simpangan yang simpangannya tidak boleh melebihi simpangan yang disyaratkan.Gaya gempa terbesar didapat dengan menghitung gempa menurut peraturan yang baru yaitu RSNI 031726-201X. Karena pada peraturan yang baru direncanakan dengan dengan kemungkinan terlewati besarannya selama umur struktur bangunan 50 tahun adalah sebesar 2 persen. Simpangan terbesar berada pada gempa yang didistribusikan pada joint struktur sedangkan gempa yang didistribusikan pada pusat massa simpangannya kecil.Kata Kunci : Simpangan, SNI 03-1729-2002, RSNI 03-1726-201X
PERENCANAAN BETON MUTU TINGGI MENGGUNAKAN PORTLAND COMPOSITECEMENT DENGAN PENAMBAHAN WATER REDUCER C491 Zulmahdi Darwis; Muhammad Gilang Prabowo
Jurnal Fondasi Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.722 KB) | DOI: 10.36055/jft.v3i1.1720

Abstract

Teknologi dalam bidang konstruksi terus menerus mengalami peningkatan, dalam bidang konstruksi peningkatan tersebut mengarah kepada penggunaan beton mutu tinggi. Perkembangan teknologi dalam bidang pembuatan beton mutu tinggi mengakibatkan perkembangan pada material bahan pembentuk beton diantaranya  adalah semen. Produksi semen telah mengalami pergeseran dari OPC menjadi PCC (portland composite cement) dan PPC (Portland pozzolan cement). PCC dan PPC merupakan semen dengan karakteristik teknis hampir setara semen tipe I (OPC) serta penggunaan bahan tambah water reducer. Metode penelitian ini yaitu dengan membandingkan penggunaan kadar water reducer dengan persentase 0.8%, 1.2%, 1.6%, 2% perberat semen. Water reducer yang di gunakan pada  penelitian ini adalah bahan Ligno C 491. Hasil penelitian ini rata – rata kuat tekan beton pada umur 28 hari menggunakan bahan tambah C491 dengan persentase 0,8 % sebesar 37,180 Mpa dan merupakan nilai tertinggi sedangkan nilai kuat tekan rata- rata pada  penggunaan persentase 1,2 % sebesar 33,89 Mpa, nilai kuat tekan rata- rata pada  penggunaan persentase 1,6 % sebesar 32,107 Mpa dan nilai kuat tekan rata- rata pada   penggunaan persentase 2% sebesar 30,203 Mpa. Penggunaan water reducer lingo C491 dapat mengurangi penggunaan air pada persentase zat aditif 0.8% sebesar 2.11%, pada persentase zat aditif 1.2% sebesar 3.175%, pada persentase zat aditif 1.6% sebesar 4.23% dan pada persentase zat aditif 2% sebesar 5.29% air yang dapat dikurangi
Utilization of sawdust on the compressive strength of concrete with variations of cement Zulmahdi Darwis; Hendrian Budi Bagus Kuncoro; Axel Xavier Delpiero
Jurnal Teknika Vol 18, No 1 (2022): Available Online in June 2022
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v18i1.12555

Abstract

The construction process requires building materials so that the buildings made can last a long time and cannot be planned. Concrete is the most widely used material in the manufacture of buildings; therefore, a strong and quality concrete material can produce strong concrete according to the plan. As a replacement for each kind of cement, this research aimed to see how bayur sawdust affected concrete strength and find out which amount of sawdust, ranging from 0% to 2.0% of the cement weight, had the maximum compressive strength. The test object is a cylinder with a diameter of 15 cm and a height of 30 cm with 54 specimens. The cement used in this research is 2 (two) Indonesian Cement Manufacturers and 1 (one) Chinese Cement Manufacturer. The results of research conducted from the use of sawdust fibre concrete as much as 0%, 1.0%, and 2.0% of the weight of each (brand) cement, namely the average compressive strength value of Cement Manufacturing Indonesia 1, which is 21.14 MPa, 17.90 MPa, and 22.40 MPa. The average compressive strength of Cement Manufacturer Indonesia 2 is 20.63 MPa, 17.53 MPa, and 21.36 MPa. The average compressive strength of Cement Manufacturers in China is 21.72 MPa, 19.50 MPa, and 23.01 MPa. This study's compressive strength test data showed that the composition between China Factory Cement and 2% sawdust had the most optimal value because it produced the largest compressed concrete, which was 23.01 MPa. Proses konstruksi bangunan memerlukan bahan bangunan yang kokoh agar bangunan yang dibuat dapat bertahan lama dan dapat memikul beban yang telah direncanakan. Beton merupakan bahan yang paling banyak dipakai dalam pembuatan bangunan, oleh sebab itu material penyusun beton yang kuat dan berkualitas dapat menghasilkan kuat tekan beton yang sesuai dengan rencana. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh serbuk kayu bayur sebagai bahan pengganti sebagian dari variasi setiap semen terhadap kuat tekan beton dan mengetahui nilai kuat tekan beton terbesar dari variasi serbuk kayu sebesar 0%, 1.0%, dan 2.0% terhadap berat setiap variasi semen yang digunakan. Benda uji berbentuk silinder berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm dengan benda uji sebanyak 54 buah. Semen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 2 (dua) Semen Pabrikan Indonesia dan 1 (satu) Semen Pabrikan China. Hasil penelitian yang dilakukan dari penggunaan beton serat serbuk kayu sebanyak 0%, 1.0%, dan 2.0% dari berat setiap (merk) semen yaitu didapat nilai kuat tekan rata-rata dari Semen Pabrikan Indonesia 1 yaitu 21.14 MPa, 17.90 MPa, dan 22.40 MPa. Hasil rata-rata kuat tekan dari Semen Pabrikan Indonesia 2 yaitu 20.63 MPa, 17.53 MPa, dan 21.36 MPa. Hasil rata-rata kuat tekan dari Semen Pabrikan China yaitu 21.72 MPa, 19.50 MPa, dan 23.01 MPa. Data pengujian kuat tekan beton pada penelitian ini menunjukkan komposisi antara Semen Pabrikan China dengan serbuk kayu 2% memiliki nilai yang paling optimal karena menghasilkan kuat tekan beton terbesar yakni 23.01 MPa.
Nanofiber Cellulose Cocoa’s Hardboard on Compression Strength and Termite Resistance Hendrian Budi Bagus Kuncoro; Zulmahdi Darwis; Amelia Rizqiyanti
Applied Research on Civil Engineering and Environment (ARCEE) Vol. 3 No. 03 (2022): Resilience in Construction
Publisher : POLITEKNIK NEGERI JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32722/arcee.v3i03.4603

Abstract

Each year’s use of wood needs increases, but the resulting wood production is not in proportion to meet that need. The effort is required to overcome this by using a wood substitute that includes wood-based fiberboard. The manufacture of fiberboards requires a chemical base for adhesive, which can be used to reduce the use of chemicals and thus be used in the cacao fruit’s nanofibers. Related to wood materials, the natural enemy most damaging of these materials is termites. Termites are wood-eating insects that can reduce the quality of timber, for handling this a curing process can be employed using a sourced leaf with an antifeedant. The purpose of this study is to identify the compression failure and resilience of the fiberboard termites after being given an extract of cocoa skin and soursop leaves. Dimension of compression specimens is 200 mm x 50 mm x 30, compression perpendicular is 150 mm x 50 mm x 30 mm and terminate resistence is  70 mm x 50 mm x 150 mm with hollow’s diametres 2 mm deep 1 cm. The standard that used to measure compression is SNI 03-3958-1995 and termite resistance of hardboard is SNI SNI 01-7207-2006. The extra variety used is 0%, 10%, 15%, 20% and 25%. Each variation will be done with a compression failure and termite resistance. Three different test items will be made with a total of 30 test items. Research shows compression failure parallel in strong class V wood, while compression failure perpendicular is included in the E5 quality code. Termite resistance 0%, 10% and 15% include C level damage while at 20% and 25% variation, including B damage.
Co-Authors Abdul Azis Rahmat Abdurohim Abdurohim Achmad Basuki Aditya Pratama Amelia Rizqiyanti Arief Budiman Axel Xavier Delpiero Baehaki, Baehaki Bambang Adhi Priyambodo Enden Mina, Enden Fathonah, Woelandari Fathonah, Woelandari Fathonah, Woelandari Haryadi Haryadi Hendrian Budi Bagus Kuncoro Hendrian Budi Bagus Kuncoro Hendrian Budi Bagus Kuncoro Hendrian Budi Bagus Kuncoro Hendrian Budi Bagus Kuncoro Hendrian Budi Bagus Kuncoro Hendrian Budi Bagus Kuncoro Hendrian Budi Bagus Kuncoro Heri Kusharyanto Hery Supriyadi Ina Asha Nurjanah Javil Egi Pratama Abdurahman Jenfatika Chandra Jonathan Sitorus Kusuma, Rama Indera M. Hasbi Zuher M. Hasbi Zuher Mekro Permana Pinem Midia Rahma Midia Rahma Mina, Enden Muhammad Adha Ilhami Muhammad Afiff Isnaini Muhammad Fakhruriza Pradana, Muhammad Fakhruriza Muhammad Gilang Prabowo Muhammad Isa Ismail Muhammad Yani Bhayusukma Nugroho, Angga Fandam Wahyu Nurjanah, Ina Asha Nurrochmat, Cahyadi Prastika Wahid Santoso Prastyani Prastyani Priyambodho, Bambang Adhi Qurrotul Milania Radityagifari, Muhamad Rahma, Midia Rahma, Midia Rahma, Midia Rama Indera Kusuma Ramadhan, Malik Agung Restu Wigati, Restu Rezka Mugri N.R Rifky Ujianto Riyadi, Andry Afrizal Rizik, Ahmad Farhan Rizka Apriliani Rully Nurul Ashar Soelarso . Soelarso Soelarso Soelarso Soelarso, Soelarso Soelarso, Soelarso Soelarso, Soelarso Soelarso, Soelarso Stefanus Adi Kristiawan Subekti, Subekti Syahdan Raihan Syahid, Mushab Abdu Asy Tb Ahmad Faisal Ujianto, Rifky Usnawa, Hamid Wafiq Wahyu N, Angga Fandam Wili Bakhtiar Wiraningrum, Widya Zeldi Zainaldi Zulfathir, Reza