Dwi Kurniawan, Fajar Kusuma
FKG Unlam

Published : 33 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

UJI TOKSISITAS EKSTRAK DAUN KARAMUNTING (Rhodomyrtus tomentosa (Aiton) Hassk.) TERHADAP HATI TIKUS WISTAR Eka Dwita Natasya Fitri Siregar; Beta Widya Oktiani; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan; Didit Aspriyanto; Ika Kusuma Wardani
Dentin Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i2.13117

Abstract

ABSTRACTBackground: Medicinal plants are types of plants that can ability to effectively treat illnesses. One such plant is caramunting leaves (Rhodomyrtus tomentosa (Aiton) Hassk). The substance in caramunting leaves includes an antibiotic that can counteract infections in the body. To determine the safe dosage of a drug, it is necessary to conduct toxicity tests in vivo on the liver of Wistar rats based on SGOT and SGPT levels. Objective: To analyze the toxic effects of administering caramunting leaf extract (Rhodomyrtus tomentosa (Aiton) Hassk.) in doses of 600 mg/kgBW, 1,200 mg/kgBW, and 2,400 mg/kgBW orally on rat liver based on SGOT and SPGT levels. Method: This study employed a true experimental posttest-only control group design to test the toxicity of caramunting leaf extract on SGOT and SGPT levels in the liver of Wistar rats given orally. Results: Following a 28-day experimental period on research animals, SGPT levels were observed to range from 34.9 to 218.1 U/L, while SGOT levels ranged from 56.1 to 201.9 U/L. These findings remain within the normal range, indicating that the extract does not have a toxic effect on SGPT and SGOT. Conclusion: Karamunting leaf extract at doses of 600 mg/kgBW, 1,200 mg/kgBW, and 2,400 mg/kgBW did not exhibit a toxic effect on SGPT and SGOT levels in Wistar rats.Keywords :     Karamunting, Toxicity, SGOT, SGPT, Antibiotic. ABSTRAK Latar Belakang: Tanaman obat adalah tanaman yang mempunyai khasiat menyembuhkan suatu penyakit. Tanaman yang memiliki potensi tersebut adalah daun karamunting (Rhodomyrtus tomentosa (Aiton) Hassk). Kandungan yang terdapat pada daun karamunting bersifat sebagai antibiotik yang mampu mengatasi infeksi dalam tubuh. Untuk mengetahui batas rasional suatu obat, maka diperlukan penelitian uji toksisitas secara in vivo pada hati tikus wistar berdasarkan kadar SGOT dan SGPT. Tujuan: menganalisis efek toksik pemberian ekstrak daun karamunting (Rhodomyrtus tomentosa (Aiton) Hassk.) dosis 600 mg/kgBB, 1.200 mg/kgBB, dan 2.400 mg/kgBB per oral pada hati tikus berdasarkan kadar SGOT dan SPGT. Metode: Penelitian ini menggunakan design true eksperimental dengan desain posttest-only with control design untuk menguji toksisitas ekstrak daun karamunting terhadap kadar SGOT dan SGPT pada hati tikus wistar yang diberikan secara oral. Hasil: Setelah dilakukan percobaan pada hewan penelitian selama 28 hari didapatkan kadar SGPT 34,9-218,1 U/L dan kadar SGOT 56,1–201,9 U/L. Nilai tersebut menunjukkan hasil tidak melebihi rentang normal yang mengartikan bahan penelitian tidak memiliki efek toksik pada SGPT dan SGOT. Kesimpulan: Ekstrak daun karamunting dengan dosis 600 mg/kgBB, 1.200 mg/kgBB, dan 2.400 mg/kgBB tidak memiliki efek toksik pada kadar SGPT dan SGOT tikus Wistar.Tidak terdapat efek toksik dari pemberian ekstrak daun karamunting dosis 600 mg/kgBB, 1.200 mg/kgBB, dan 2.400 mg/kgBB secara per oral terhadap kadar SGOT dan SGPT tikus Wistar. Kata kunci :  Antibiotik, Karamunting, SGOT, SGPT, Toksisitas
GAMBARAN KEJADIAN MALOKLUSI BERDASARKAN KEBIASAAN BURUK PADA PELAJAR SMA DI WILAYAH NON-PERKOTAAN BANJARMASIN Saidatun Nisa; Diana Wibowo; Riky Hamdani; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan; Isnur Hatta
Dentin Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i2.17741

Abstract

ABSTRACT Background: Malocclusion is an abnormality in the growth and development of teeth that can be influenced by bad oral habits, such as mouth breathing, tongue thrusting, lip biting, thumb sucking, and bruxism. This condition is often not recognized by the individual, but can have a significant impact on oral function and aesthetics. Purpose: This study aims to describe the incidence of malocclusion based on the type of bad oral habits among high school students in non-urban Banjarmasin. Methods: This study is a descriptive study with a quantitative approach and a cross-sectional design. The sample consisted of 175 students selected using a simple random sampling technique. Data were collected through questionnaires and oral clinical examinations, then analyzed descriptively using frequency distribution and percentages. Results: The results showed that the most common bad habit found was mouth breathing (24%), and the majority of those affected were females, while bruxism was most common in males (12.00%). The most common type of malocclusion found was protrusive (25.91%), with the highest prevalence in females. There is a tendency that certain types of bad habits can lead to certain types of malocclusion. Conclusion: Malocclusions based on bad habits are still common in non-urban areas of Banjarmasin, so there is a need for increased education regarding bad habits that can cause malocclusion. Keywords: bad habits, malocclusion, students ABSTRAKLatar Belakang: Maloklusi merupakan kelainan pertumbuhan dan perkembangan gigi-geligi yang dapat dipengaruhi oleh kebiasaan buruk pada rongga mulut, seperti mouth breathing, tongue thrusting, lip biting, thumb sucking, dan bruxism. Kondisi ini sering tidak disadari oleh individu, namun dapat berdampak signifikan terhadap fungsi maupun estetika oral. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian maloklusi berdasarkan jenis kebiasaan buruk pada rongga mulut di kalangan pelajar SMA/sederajat di wilayah non-perkotaan Banjarmasin. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan desain cross-sectional. Sampel terdiri atas 175 pelajar yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pemeriksaan klinis rongga mulut, kemudian dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase.Hasil: Hasil menunjukkan bahwa kebiasaan buruk yang paling banyak ditemukan adalah mouth breathing (24%) dan mayoritas yang mengalami adalah perempuan, sementara bruxism paling banyak dialami oleh laki- laki (12,00%). Jenis maloklusi yang paling sering ditemukan adalah protrusif (25,91%), dengan prevalensi tertinggi pada perempuan. Terdapat kecenderungan bahwa jenis kebiasaan buruk tertentu dapat menyebabkan jenis maloklusi tertentu. Kesimpulan: Kejadian maloklusi berdasarkan kebiasan buruk masih banyak ditemukan di wilayah non- perkotaan Banjarmasin, sehingga perlu adanya peningkatan edukasi mengenai kebiasaan buruk yang dapat menyebabkan kejadian maloklusi.Kata kunci: kebiasaan buruk, maloklusi, pelajar
ANALISIS GAMBARAN LEBAR LENGKUNG RAHANG BERDASARKAN ANALISIS PONT PADA SUKU BANJAR USIA 15-18 TAHUN (Tinjauan Kepada Siswa-Siswi SMAN 12 Banjarmasin) Nada Putri Ariska; Diana Wibowo; Agung Satria Wardhana; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan; Bayu Indra Sukmana
Dentin Vol 8, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i3.14231

Abstract

Background: Malocclusion cases that occur due to improper condition and shape of the jaw are crowded teeth. The prevalence of crowded teeth in South Kalimantan is 11.6%, with 14.2% of them aged 15-24 years. Crowded teeth are caused by the difference between the size of the teeth and the width of the jaw arch, usually the treatment performed is orthodontic treatment that utilizes the growth period. Treatment planning and diagnosis require a measurement of dental and jaw arch width. Measuring the width of the dental and jaw arches can be done by analyzing the study model of the jaw printing results on the patient. Space analysis using the study model most often used in performing treatment and making a diagnosis is Pont analysis. Purpose: This study aims to analyze the description of jaw arch width using Pont analysis in Banjar ethnic aged 15-18 years at SMAN 12 Banjarmasin. Methods: This study is an analytic descriptive study. This study used a cross-sectional approach with a sampling technique using purposive sampling. The sample size was calculated using the Slovin formula. The sample obtained was 82 respondents. Result: The results of this study according to descriptive statistical analysis showed that the mean value of interpremolar width was 36.7 ± 2.9 mm and the mean value of intermolar width was 46.6 ± 3.1 mm. Conclusion: Based on the research conducted, it can be concluded that more respondents have interpremolar width and intermolar width greater than Pont's analysis.Keywords : Banjar Ethnic, Pont Analysis, Jaw Arch Width ABSTRAK Latar Belakang: Kasus maloklusi yang terjadi karena kondisi dan bentuk rahang yang kurang tepat salah satunya adalah gigi berjejal.Prevalensi gigi berjejal di Kalimantan Selatan sebesar 11,6%, dengan 14,2% diantaranya berusia 15-24 tahun. Gigi berjejal disebabkan oleh karena adanya perbedaan antara ukuran gigi dengan lebar lengkung rahang, biasanya perawatan yang dilakukan adalah perawatan orthodonti yang memanfaatkan masa pertumbuhan. Rencana perawatan dan penegakan diagnosis membutuhkan suatu pengukuran lebar lengkung gigi dan rahang. Pengukuran lebar lengkung gigi dan rahang dapat dilakukan dengan cara menganalisis model studi hasil pencetakan rahang pada pasien. Analisis ruang menggunakan model studi yang paling sering digunakan dalam melakukan perawatan dan menegakkan diagnosis adalah analisis Pont. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran lebar lengkung rahang menggunakan analisis Pont pada suku Banjar usia 15-18 tahun di SMAN 12 Banjarmasin. Metode: Studi ini merupakan studi deskriptif analitik. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Besar sampel dihitung menggunakan rumus Slovin. Sampel yang didapatkan sebanyak 82 responden. Hasil: Hasil penelitian ini menurut analisis statistik deskriptif menunjukkan rata-rata lebar interpremolar adalah 36,7 ± 2,9 mm dan rata-rata lebar intermolar adalah 46,6 ± 3,1 mm. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa lebih banyak responden yang memiliki lebar interpremolar dan lebar intermolar lebih besar daripada analisis Pont.Kata kunci : Suku Banjar, Analisis Pont, Lebar Lengkung Rahang