Claim Missing Document
Check
Articles

Stres Akademik sebagai Pemicu Cyberloafing: Peran Status Mahasiswa Pekerja Khinanta Azzahra Al Jannah; Andik Matulessy; Nindia Pratitis
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The combination of studying and working places extra responsibilities on individuals, which can heighten stress within the educational setting. This situation may result in unproductive actions like engaging in online distractions during study time. This research intends to investigate how academic stress correlates with cyberloafing among students who also have jobs. A sample of 160 active students from the University of 17 Agustus 1945 in Surabaya was chosen using purposive sampling methods. The instruments utilized for this research comprise the Academic Stress Scale, grounded in Gadzella's theory, and the Cyberloafing Scale, derived from Akbulut's theory. Both measures have undergone tests for validity and reliability. The analysis through simple regression reveals a noteworthy positive correlation between academic stress and cyberloafing behavior. The results suggest that as academic stress rises, the likelihood of engaging in cyberloafing also increases. It is anticipated that these findings will be valuable for managing academic stress and provide useful insights for educators to help minimize ineffective online activities during learning sessions. Keywords: Academic stress; cyberloafing; dual role; working students. Abstrak Peran ganda sebagai mahasiswa dan pekerja menciptakan tuntutan tambahan yang dapat meningkatkan stres di lingkungan akademis. Kondisi ini bisa menimbulkan perilaku negatif seperti cyberloafing selama proses belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara stres akademik dan cyberloafing di kalangan mahasiswa yang juga bekerja. Sebanyak 160 mahasiswa aktif dari Universitas 17 Agustus 1945, Surabaya, dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling. Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi Skala Stres Akademik yang berdasarkan teori Gadzella dan Skala Cyberloafing yang diadaptasi dari teori Akbulut. Keduanya telah diuji untuk validitas dan reliabilitasnya. Menurut analisis regresi sederhana, ada korelasi positif yang signifikan antara stres akademik dan cyberloafing. Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat stres akademik terkait dengan kemungkinan cyberloafing. Diharapkan hasil ini dapat memberikan kontribusi dalam pengelolaan stres akademik dan memberikan panduan praktis bagi para pendidik untuk mengurangi perilaku online yang tidak produktif selama kegiatan belajar. Kata kunci: Stres akademik; cyberloafing; peran ganda; mahasiswa yang bekerja.
Perilaku agresivitas pada mahasiswa di surabaya: sejauh mana kontrol diri dan dukungan sosial teman sebaya berperan? Ibrahim Reza Saputra; Nindia Pratitis; Andik Matulessy
SUKMA : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 1 (2026): Volume 7 No 1 Juni 2026
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

University students are in a vulnerable developmental phase and often face various academic, social, and emotional pressures that may trigger aggressive behavior. This study aims to examine the relationship between self-control and peer social support with aggressive behavior among university students. The research employed a quantitative method with 117 active students in the city of Surabaya selected using accidental sampling. Data were analyzed using the non-parametric Spearman’s Rho test with the assistance of SPSS 23.0 for Windows. The results indicated that self-control had a significant negative relationship with aggressive behavior (rxy = −0.831, p = 0.000 < 0.05), meaning that higher self-control is associated with lower levels of aggressive behavior. Peer social support also showed a significant negative relationship with aggressive behavior (rxy = −0.715, p = 0.003 < 0.05), indicating that higher peer social support is associated with lower levels of aggressive behavior. The findings of this study provide a foundation for higher education institutions to design student development programs aimed at enhancing self-control and strengthening peer social support as preventive strategies to reduce aggressive behavior among university students. Mahasiswa berada pada fase perkembangan yang rentan menghadapi berbagai tekanan akademik, sosial, dan emosional yang dapat memicu munculnya perilaku agresivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kontrol diri dan dukungan sosial teman sebaya dengan perilaku agresivitas pada mahasiswa. Metode penelitian kuantitatif dengan jumlah responden sebanyak 117 mahasiswa aktif di Kota Surabaya yang diambil dengan teknik accidental sampling. Teknik analisis data menggunakan Non parametrik uji Spearman’s Rho dengan bantuan SPSS 23.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan kontrol diri menunjukkan hubungan negatif signifikan dengan perilaku agresivitas (rxy = -0,831, P=0,000<0,005). Artinya semakin tinggi kontrol diri, maka akan semakin rendah perilaku agresivitas. Pada dukungan sosial teman sebaya menunjukkan hubungan negatif signifikan dengan perilaku agresivitas (rxy = -0,715, P=0,003<0,005). Artinya semakin tinggi dukungan sosial teman sebaya, maka akan semakin rendah perilaku agresivitas. Temuan ini dapat menjadi dasar bagi perguruan tinggi dalam mengembangkan program pembinaan mahasiswa yang berfokus pada peningkatan kontrol diri dan penguatan dukungan sosial teman sebaya guna meminimalkan perilaku agresivitas di lingkungan kampus.    
Kesepian Digital pada Mahasiswa: Peran Problematic Internet Use dan Dukungan Sosial Digital Yusak Kurniawan; Andik Matulessy; Nindia Pratitis
INSAN Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental Vol 10 No 2 (2025): INSAN Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jpkm.v10i22025.238-252

Abstract

The high use of social media as a means of social interaction can lead to loneliness within digital contexts. This condition is known as digital loneliness, which is when a person still feels lonely despite being active online. The purpose of this study is to determine the relationship between Problematic Internet Use (PIU) and Digital Social Support (DSS) with Digital Loneliness (DL) in college students who are active users of social media. The subjects of this study were college students aged 18-34 years selected using purposive sampling (N=250). The instruments used included PIU scale (α=0.747), DSS scale (α=0.863), and DL scale (α=0.934). Data analysis was performed using multiple linear regression. The results of the analysis showed that PIU and DSS were significantly related to DL. PIU was positively related to DL, while DSS was negatively related to DL. These findings indicate that a balance between the intensity of internet use and meaningful social support is needed to prevent DL.
MENURUNKAN INSOMNIA DAN DEPRESI PADA LANSIA MELALUI RELAKSASI OTOT PROGRESIF UPAYA INTERVENSI PSIKOLOGIS MENUJU PENUAAN YANG SEHAT DAN BERMAKNA Rizki Dwi Bakhtiar Surin; Nindia Pratitis; Aliffia Ananta
BUDIMAS : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 7 No. 3 (2025): BUDIMAS : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : LPPM ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29040/budimas.v7i3.17377

Abstract

Lansia rentan mengalami gangguan tidur, khususnya insomnia non-organik yang disebabkan oleh stres, kecemasan, dan depresi ringan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas tidur lansia melalui teknik relaksasi otot progresif. Intervensi dilakukan selama satu bulan kepada lansia berusia 65 tahun di Surabaya. Hasil pengukuran menggunakan KSPBJ-IRS menunjukkan penurunan skor dari 27 menjadi 23, mengindikasikan adanya perbaikan gejala insomnia meskipun masih dalam kategori ringan. Klien juga melaporkan peningkatan kenyamanan dan rasa tenang sebelum tidur. Temuan ini diperkuat oleh penelitian sebelumnya dan menunjukkan bahwa relaksasi otot progresif efektif sebagai intervensi psikologis non-farmakologis dalam mendukung penuaan yang sehat dan bermakna. Kata kunci :Lansia, Insomnia non-organik, Relaksasi otot progresif, Intervensi psikologis
Psikologi Pendidikan: Studi Kasus Konsentrasi Belajar Siswa di Sekolah Menengah Pertama Surabaya Asmalia Alnadi; Nindia Pratitis
Journal of Health, Medical, and Psychological Studies Vol 2 No 1 (2026): : August: Sanitas: Journal of Health, Medical, and Psychological Studies
Publisher : CV SCRIPTA INTELEKTUAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65310/w9xtab54

Abstract

Learning concentration is an important psychological aspect that determines students’ engagement and success in the learning process. This study aimed to analyze the dynamics of learning concentration difficulties among junior high school students through a case study approach within educational psychology services. The study employed a qualitative descriptive method involving five eighth-grade students from a junior high school in Surabaya selected through purposive sampling. Data were collected through observations, interviews, focus group discussions (FGD), learning concentration questionnaires, and psychological assessment using the Intelligenz Struktur Test (IST). The findings revealed that concentration difficulties were influenced by the interaction of cognitive, emotional, behavioral, and learning environment factors. Mindfulness psychoeducation intervention demonstrated potential in improving students’ self-awareness and attention regulation. This study provides implications for the development of educational psychology services based on comprehensive assessment. The findings emphasize the importance of a multidimensional approach in understanding and addressing learning concentration problems among early adolescent students.
HUBUNGAN ANTARA REGULASI EMOSI TERHADAP AGRESIVITAS PADA REMAJA DENGAN PEER PRESSURE SEBAGAI MODERATOR Adella Iliyin Octaviona; Amanda Pasca Rini; Nindia Pratitis
JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA Vol 4 No 5 (2026): Oktober
Publisher : Kampus Akademik Publiser

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jipm.v4i5.3015

Abstract

Agresivitas merupakan salah satu bentuk perilaku yang sering muncul pada masa remaja dan dapat dipengaruhi oleh faktor internal maupun faktor eksternal. Regulasi emosi sebagai faktor internal berperan dalam mengendalikan perilaku agresif, sedangkan peer pressure sebagai faktor eksternal diduga dapat memengaruhi hubungan antara regulasi emosi dan agresivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara regulasi emosi dengan agresivitas pada remaja serta menguji peran peer pressure sebagai variabel moderator dalam hubungan tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 355 remaja berusia 15–19 tahun yang berdomisili di Pasuruan, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner menggunakan skala regulasi emosi berdasarkan teori Gross (2014), skala agresivitas berdasarkan Buss dan Perry (1992), serta skala peer pressure berdasarkan Clasen dan Brown (1986). Analisis data dilakukan menggunakan Regresi Linier Sederhana dan Moderated Regression Analysis (MRA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi emosi memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan agresivitas pada remaja, sehingga semakin tinggi kemampuan regulasi emosi maka semakin rendah tingkat agresivitas. Sebaliknya, peer pressure memiliki hubungan positif dengan agresivitas, yang berarti semakin tinggi tekanan teman sebaya maka semakin tinggi kecenderungan perilaku agresif. Hasil analisis moderasi menunjukkan bahwa peer pressure berperan sebagai variabel moderator yang memperlemah pengaruh regulasi emosi dalam menurunkan agresivitas. Dengan demikian, pada kondisi tekanan teman sebaya yang tinggi, kemampuan regulasi emosi menjadi kurang efektif dalam mengendalikan perilaku agresif. Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor sosial, khususnya tekanan teman sebaya, merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan dalam upaya pencegahan perilaku agresif pada remaja.
Persepsi Label Generasi Strawberry dan Career Adaptability pada Job hopping Generasi Z Luqyana Marsha Firdaus; Amanda Pasca Rini; Nindia Pratitis
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Generation Z faces a fast and flexible work environment that increases job hopping tendencies. This phenomenon is often linked to perceptions of the strawberry generation label and career adaptability. This study aimed to examine the relationship between these variables and job hopping among Generation Z. A quantitative correlational design with multiple regression analysis was conducted on working Generation Z selected through purposive sampling. Data were collected using scales of strawberry generation label perception, career adaptability, and job hopping. The results showed that simultaneously, both variables were not significantly related to job hopping. However, partially, perceptions of the strawberry generation label were significantly related, while career adaptability was not. These findings highlight the role of generational label perceptions in job hopping tendencies among Generation Z. Keywords: career adaptability; generation Z; job hopping; perception of the strawberry generation label Generasi Z menghadapi dinamika dunia kerja yang cepat dan fleksibel sehingga meningkatkan kecenderungan job hopping. Fenomena ini sering dikaitkan dengan persepsi atas label generasi strawberry dan adaptabilitas karier. Penelitian ini bertujuan mengkaji hubungan kedua variabel tersebut dengan job hopping pada Generasi Z. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan analisis regresi berganda pada pekerja Generasi Z yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala persepsi generasi strawberry, adaptabilitas karier, dan job hopping. Hasil menunjukkan bahwa secara simultan kedua variabel tidak berhubungan signifikan dengan job hopping. Namun, secara parsial persepsi atas label generasi strawberry berhubungan signifikan, sedangkan adaptabilitas karier tidak. Temuan ini menegaskan peran persepsi label generasi dalam kecenderungan job hopping Generasi Z. Kata kunci: adaptabilitas karier; generasi Z; job hopping; persepsi atas label generasi strawberry
Toxic Productivity dengan Burnout Pada Mahasiswa Pekerja Nur Hamidah; Nindia Pratitis; Andik Matulessy
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to empirically examine the relationship between toxic productivity and burnout among students who maintain a dual role as workers in Surabaya. The problem focuses on the phenomenon of excessive productivity drive in a metropolitan city, which often forces students to ignore their self-capacity limits, thereby triggering chronic emotional exhaustion. This research employs a quantitative approach with a correlational design. The participant selection technique used was purposive sampling, involving 144 active students working full-time, part-time, or freelance in the Surabaya area. The research instruments consisted of the Toxic Productivity Scale, developed based on Ramadhina’s (2021) aspects, and the Burnout Scale, referring to Maslach and Leiter’s (2016) aspects. The results of the Pearson Product Moment correlation analysis showed a correlation value of r=0.405 with a significance of p=0.000 (p<0.05), indicating a significant positive relationship between toxic productivity and burnout. The effective contribution of toxic productivity to burnout was 16.4%. This implies that the higher the level of toxic productivity in working students, the higher the level of burnout they experience. Keywords: burnout; early adulthood; mental health; toxic productivity; working students Permasalahan dalam penelitian ini berfokus pada fenomena dorongan toxic productivity di kota metropolitan yang sering kali memaksa mahasiswa mengabaikan batas kemampuan diri sehingga memicu burnout yang kronis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Teknik pengambilan partisipan yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah partisipan sebanyak 144 mahasiswa aktif yang bekerja (purna waktu, paruh waktu, maupun freelance) di wilayah Surabaya. Instrumen penelitian terdiri atas Skala Toxic Productivity yang disusun berdasarkan aspek dari Ramadhina (2021) serta Skala Burnout yang mengacu pada aspek dari Maslach dan Leiter (2016). Hasil uji korelasi Product Moment dari Pearson menunjukkan nilai korelasi sebesar r=0,405 dengan signifikansi p=0,000 (p<0,05), yang menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara toxic productivity dan burnout. Sumbangan efektif yang diberikan toxic productivity terhadap burnout sebesar 16,4%. Artinya, semakin tinggi dorongan toxic productivity pada mahasiswa pekerja, maka semakin tinggi pula tingkat burnout yang mereka alami. Kata kunci: burnout; dewasa awal; kesehatan mental; mahasiswa pekerja; toxic productivity.