Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

PENGEMBANGAN PRODUK READY TO USE THERAPEUTIC FOOD (RUTF) BERBENTUK BAR BERBAHAN KACANG HIJAU, SEREALIA, DAN MINYAK NABATI Development of Ready to Use Therapeutic Food (RUTF) Bar Product Made from Mungbean, Cereal, and Vegetable oils Reni Novia; Budi Setiawan; Sri Anna Marliyati
Media Gizi Indonesia Vol. 17 No. 1 (2022): JURNAL MEDIA GIZI INDONESIA (NATIONAL NUTRITION JOURNAL)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgi.v17i1.21-32

Abstract

Pemberian produk RUTF (Ready to Use Therapeutic Food) merupakan salah satu solusi untuk mengatasi malnutrisi akut berat pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menganalisis produk RUTF berbentuk bar dari kacang hijau, serealia, dan minyak nabati untuk balita malnutrisi akut berat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan dua faktor dan dua ulangan. Faktor tersebut terdiri dari faktor A (kombinasi penggunaan tepung kacang hijau dengan jenis serealia yaitu tepung beras atau tepung jagung), dan faktor B (minyak nabati yaitu minyak kelapa atau minyak kelapa sawit). Penentuan formula terpilih didasarkan pada uji organoleptik (uji hedonik) dan kandungan gizi produk (energi dan protein). Hasil analisis uji hedonik menunjukkan bahwa atribut warna, aroma, rasa tekstur dan keseluruhan produk tidak berbeda nyata antar formula dan semua formula cenderung disukai panelis. Perlakuan kombinasi penggunaan tepung kacang hijau dengan serealia berpengaruh secara signifikan terhadap kandungan protein sedangkan perlakuan penggunaan minyak nabati berpengaruh secara signifikan terhadap kandungan energi produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula yang dipilih adalah formula A1B1 (kombinasi penggunaan tepung kacang hijau dengan tepung beras dan minyak kelapa) yang mengandung energi 522 kkal, 3.42% kadar air, 2.32% kadar abu, 13.57% protein, 28,89% lemak, 51,81% karbohidrat, serat pangan 4.66%, zat besi 13.82 mg /100g, kalsium 348.24 mg/100g, daya cerna protein 94.93%, dan aktivitas air 0.21. Formula A1B1 memenuhi persyaratan standar produk RUTF untuk semua kandungan gizi dan aktivitas air kecuali kandungan air berdasarkan WHO (2007). 
Efektivitas Penyerapan Kalsium pada Model Tikus Kurang Gizi yang Diberi Diet Berbasis Mocaf Diperkaya Inulin Ilmi Dewi Astuti; Rimbawan Rimbawan; Budi Setiawan; Ainia Herminiati
Nutri-Sains: Jurnal Gizi, Pangan dan Aplikasinya Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ns.2020.4.2.4662

Abstract

AbstractThis study aims to determine the calcium balance in undernourished rats fed with inulin-enriched MOCAF-based diet. Twenty-seven Sprague Dawley male rats at post-weaning age were classified into 1 normal control groups and 8 undernourished groups. The undernourished rats were conditioned for one month then followed by intervention with MOCAF-based diet for another one month. Calcium analysis was performed on the urine, feces, and tibial bones of rats.  Data of calcium were processed using One Way Anova test followed by Post Hoc Duncan to determine mean differences between groups. The results showed that calcium absorption, calcium retention, and calcium bioavailability between groups differed significantly (p0.05). The highest calcium absorption and calcium retention were found in the protein-energy-deficient rats fed Manggu MOCAF with inulin (KEP M2 = 97.47 ± 0.39% and 97.4 ± 0.4%) respectively. Bioavailability of calcium was higher in the group of undernourished rats fed with MOCAF-based diet. The highest level of calcium of the tibia was found in the protein-deficient rats fed Mentega MOCAF with inulin (KP T2 = 41.1 ± 3.59%) and was significantly different (p0.05) from the protein-energy-deficient rats fed Manggu MOCAF without inulin group (KEP M1= 25.7 ± 6.71%). This study concluded that inulin-enriched MOCAF-based diet could improve the calcium balance in undernourished rats.   AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian diet berbasis MOCAF diperkaya inulin terhadap efektivitas penyerapan kalsium pada model tikus kurang gizi. Sebanyak 27 tikus jantan galur Sprague Dawley usia lepas masa sapih dikelompokkan menjadi 9 kelompok, yaitu 1 kelompok kontrol normal dan 8 kelompok tikus kurang gizi. Pembuatan model tikus kurang gizi selama satu bulan dan dilanjutkan intervensi dengan diet berbasis MOCAF selama satu bulan. Analisis kalsium dilakukan pada urin, feses, dan tulang tibia tikus. Data kalsium diolah menggunakan ANOVA dilanjutkan dengan Post Hoc Duncan. Hasil penelitian menunjukkan daya serap kalsium, retensi kalsium dan bioavailabilitas kalsium antar kelompok berbeda secara signifikan (p0,05). Daya serap dan retensi kalsium tertinggi terdapat pada kelompok tikus kurang energi protein yang diberi diet MOCAF manggu dengan inulin (KEP M2 = 97,47 ± 0,39% dan 97,4 ± 0,4%). Bioavailabilitas kalsium lebih tinggi pada kelompok tikus kurang gizi yang diberi diet berbasis MOCAF. Kadar kalsium tulang tibia paling tinggi terdapat pada kelompok tikus kurang protein yang diberi diet MOCAF mentega dengan inulin (KP T2= 41,1 ± 3,59 %) dan berbeda signifikan dengan kelompok tikus kurang energi protein yang diberi diet MOCAF Manggu tanpa inulin (KEP M1=25,7 ± 6,71 %). Disimpulkan bahwa diet berbasis MOCAF dengan inulin dapat membantu penyerapan kalsium pada tikus kurang gizi.
FORMULASI MINUMAN SINBIOTIK SARI BUAH KERSEN (Muntingia calabura L.) INSTAN DENGAN PENAMBAHAN ENKAPSULATOR DAN PREBIOTIK Farah Fauziyyah; Budi Setiawan; Sri Anna Marliyati
Amerta Nutrition Vol. 6 No. 3 (2022): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v6i3.2022.282-291

Abstract

Latar Belakang: Buah kersen mengandung serat pangan dan antioksidan, namun belum banyak dimanfaatkan sebagai pangan fungsional. Sari buah berpotensi sebagai bahan dasar minuman sinbiotik. Prebiotik dapat membantu ketahanan bakteri. Maltodekstrin atau gum arab membantu menguragi kelengketan dan menjaga kandungan buah kersen saat proses pengeringan dengan spray dryer. Tujuan: Menganalisis karakteristik fisik, kimia, total bakteri asam laktat (BAL) pada formula minuman sinbiotik sari buah kersen instan dengan penambahan enkapsulator dan prebiotik, serta menentukan formula terbaik. Metode Penelitian eksperimental ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial, dengan variabel bebas jenis enkapsulator (maltodekstrin, gum arab) dan jenis prebiotik (FOS, inulin). Terdapat empat formula dengan kombinasi masing-masing jenis enkapsulator dan prebiotik. Analisis karakteristik fisik mencakup Aw, pH, sifat rehidrasi (wettability, dispersibility, solubility); karakteristik kimia mencakup proksimat, total gula, serat pangan total, aktivitas antioksidan; serta total BAL. Uji beda antar formula menggunakan ANOVA two-way dan uji lanjut Duncan. Hasil: Sari buah kersen dapat digunakan sebagai bahan dasar minuman sinbiotik instan. Formula dengan enkapsulator gum arab memiliki kadar abu dan serat pangan total signifikan lebih tinggi, serta kadar karbohidrat dan dispersibility signifikan lebih rendah dibandingkan formula dengan enkapsulator maltodekstrin (p value <0,05). Formula kombinasi gum arab dan FOS memiliki nilai wettability tertinggi, sedangkan formula kombinasi maltodekstrin dan FOS memiliki nilai total BAL tertinggi (p value <0,05). Kesimpulan: Produk mengandung serat pangan, antioksidan, serta probiotik. Formula dengan enkapsulator gum arab dan prebiotik FOS merupakan formula terbaik karena kandungan serat yang lebih tinggi, kandungan karbohidrat yang lebih rendah, serta aktivitas antioksidan yang sama, dan total BAL yang tidak jauh berbeda dengan formula lainnya.
Pengaruh Pemberian Diet Rendah Protein dan Restriksi Pakan pada Pertumbuhan dan Protein Serum Tikus Lepas Sapih Mulya Agustina; Rimbawan Rimbawan; Budi Setiawan; Ainia Herminiati
Nutri-Sains: Jurnal Gizi, Pangan dan Aplikasinya Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ns.2021.5.1.4653

Abstract

This study aimed to determine the effect of low protein diet and feed restriction on growth and serum protein. This experimental study using randomized controlled group design. Twelve male Sprague dawley (21-28 days old) weighing 50-100 grams were divided into three groups (4 rats/group): normal control, low protein diet and feed restriction group. The data analyzed by ANOVA test followed by Post Hoc Duncan. The determination of total protein using spectrophotometric biuret method and albumin was BCG method. The result showed that low protein diet 5% for 21 days occured weight loss (-5.25 ± 3.3 g), an enlarged liver-to-body weight ratio (4,95%), blood serum albumin (3.22 ± 0.33 g/dl) and total protein (4.61 ± 1.21 g/dl). Feed restriction at level of 30%, 50%, and 60% consecutively for 30 days occured weight loss (-4.75 ± 2.63 g), an enlarged liver-to-body weight ratio (5.18%), and there was a rat that have edema which indicates undernourished condition. Therefore, both diet intervention was able to bring rats into undernourished condition but intervention.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian diet rendah protein dan restriksi pakan terhadap albumin dan total protein serum. Penelitian eksperimental ini menggunakan desain randomized controlled group design dan rancangan acak kelompok (RAK). Dua belas tikus jantan Sprague dawley umur 21-28 hari dengan berat badan 50-100 gram dibagi menjadi tiga kelompok (4 tiap kelompok) yang terdiri dari satu kelompok kontrol normal dan dua kelompok perlakuan. Pengukuran total protein dilakukan menggunakan metode biuret, spektrofotometri dan pengukuran kadar albumin dengan metode BCG. Analisis data menggunakan ANOVA dan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan pemberian diet rendah protein 5% selama 21 hari mengalami penurunan berat badan (-5,25±3,3 g), pembesaran rasio berat organ hati terhadap berat badan (4,95%), kadar albumin (3,22±0,33 g/dl) dan total protein (4,61±1,21 g/dl) serum di bawah normal. Pada restriksi pakan yakni 30%, 50% dan 60% secara berturut-turut selama 30 hari terjadi penurunan berat badan (-4,75±2,63 g), pembesaran rasio berat organ hati terhadap berat badan (5,18%), serta adanya tikus yang mengalami edema dan menandakan kondisi kurang gizi. Kedua perlakuan diet dapat digunakan untuk membuat kondisi tikus kurang gizi. 
Pengaruh Jenis Bubur Buah dan Pemanis terhadap Karakteristik Fisik, Kandungan Gizi, dan Aktivitas Antioksidan Selai Kersen (Muntingia calabura L.) Lembaran Tiara Firstianty Pratiwi; Budi Setiawan; Sri Anna Marliyati
agriTECH Vol 42, No 4 (2022)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.67143

Abstract

Kersen (Muntingia calabura L.) merupakan buah yang mengandung antioksidan dan serat yang bermanfaat bagi kesehatan. Buah kersen masih belum banyak dimanfaatkan menjadi suatu produk makanan olahan. Oleh karena itu, dikembangkan produk makanan berbahan dasar kersen seperti selai kersen lembaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bubur buah yang disaring/tidak disaring serta menggunakan fruktosa cair/fruktosa cair+stevia pada selai lembaran, menganalisis karakteristik fisik, kandungan gizi, aktivitas antioksidan, dan kontribusi energi dan zat gizi per takaran saji selai kersen lembaran. Penelitian ini didesain secara eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial. Faktor pertama yaitu penyaringan bubur buah meliputi A1 (disaring) dan A2 (tidak disaring), sedangkan faktor kedua yaitu jenis gula meliputi B1 (fruktosa cair) dan B2 (fruktosa cair + stevia). Keempat formula selai lembaran dilakukan analisis karakteristik fisik (total padatan terlarut, warna L, a+, b+, hue, dan chroma), kandungan gizi (kadar proksimat, serat pangan, dan total gula), aktivitas antioksidan, serta kontribusi energi dan zat gizi per takaran saji. Data dianalisis menggunakan uji Two-way Anova dan uji lanjut Duncan pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada hasil analisis total padatan terlarut, warna L, b+, chroma, hue, kadar proksimat, serat pangan, dan aktivitas antioksidan pada formula selai kersen lembaran, tetapi terdapat perbedaan yang signifikan untuk hasil warna a+ dan total gula. Formula selai kersen lembaran dengan penyaringan dan penggunaan fruktosa cair + stevia memiliki kandungan energi lebih rendah 30,15-37,9% dan kandungan gula lebih rendah 41,25-47,78% dibandingkan dengan selai buah komersil, sehingga dapat dijadikan sebagai alternatif selingan bagi seseorang yang mengurangi kalori dan asupan gula. Formula ini juga memiliki kandungan serat yang tinggi yaitu sebesar 7,77% atau 2,72 g/35 g.
Kandungan Gizi dan Manfaat Air Kelapa terhadap Metabolisme Diabetes: Kajian Naratif: Nutritional Content and Benefits of Coconut Water for the Diabetes Metabolism: a Narrative Review Jeallyza Muthia Azra; Budi Setiawan; Zuraidah Nasution; Ahmad Sulaeman; Sri Estuningsih
Amerta Nutrition Vol. 7 No. 2 (2023): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v7i2.2023.317-325

Abstract

Background: Coconut water is one of the natural food products that is widely available around the world. This commodity provides nutritional content that could increase rehydration status and improve health. The application of coconut water to health, including improving type 2 diabetes metabolism, has gotten research interest in recent years. Objectives: This narrative review paper aimed to summarize several articles about the nutritional content and the mechanism of the potential bioactive component in coconut water to improve type 2 diabetes metabolism. Methods: This study design was a narrative review of several articles from five databases search: PubMed/MEDLINE, Scielo, PsycINFO, Microsoft Academic, and Google Scholar. Discussion: Coconut water includes several biologically active components such as protein, amino acid, fatty acid, mineral, vitamin, and phenolic compounds. The recent discovery of nutrient content, especially antioxidant properties, and arginine in coconut water, signifies a good potential in improving type 2 diabetes mellitus. Antioxidant and arginine altered blood glucose, glycated hemoglobin, serum creatinine, blood urea, albumin, albumin/globulin ratio, liver function enzyme, lipid profile, antioxidant status, and lipid peroxidation without any significant hepatocellular damage. Arginine enhanced the nitric oxide synthase activity in the liver and arginine levels in the plasma. In mammals, the arginine-nitric oxide system, which includes AMPK, cGMP, PGC-1α, and PI3K, can maintain blood glucose homeostasis, increase insulin sensitivity, and prevent diabetes-induced oxidative stress. Conclusion: Coconut water can help to improve metabolism in type 2 diabetes mellitus conditions through antioxidant activity and arginine content.
PERBANDINGAN KANDUNGAN FITOKIMIA PADA TEH PUTIH DAN TEH HIJAU DENGAN METODE HPLC Rasyid Avicena; Sri Anna Marliyati; Budi Setiawan
ARGIPA (Arsip Gizi dan Pangan) Vol 8 No 1 (2023)
Publisher : UHAMKA PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/argipa.v8i1.11113

Abstract

Tea or Camellia sinensis is reported to contain as many as 4000 bioactive components, one of third are polyphenols. Polyphenols found in tea or Camellia sinensis are catechins, which consist of several types, one of which is Epigallocathecin-3-gallate (EGCG). Assessment of catechin and EGCG levels using HPLC due to considerations of efficiency, speed, and reduction of analysis costs which are also characteristic of HPLC. The aim of this study was to determine and compare the phytochemical content of catechin and EGCG compounds in white and green tea using the HPLC method. The research design used was a comparative analytical design. The main materials used were white tea and green tea from the Tea and Kina Research Center (PPTK), Gambung. The test conducted was a phytochemical examination of catechins and EGCG of white and green tea using the HPLC method in two replication. The results showed that the average catechin content in white tea was greater than that in green tea, which is 2.057±0,12% (w/b) in white tea, and 1.328±0,03% (w/b) in green tea. EGCG content in white tea has an average of 9.349±0,09% (w/b) and is greater than the average EGCG content in green tea which is only 8.037±0,05% (w/b).  This is also reinforced by the statistical analysis results using an independent sample t-test of catechin and EGCG content in white and green tea which showed a significant difference. The conclusion is white tea has a greater catechin and EGCG content compared to green tea.
Hedonic test and nutritional analysis of instant cream soup from sweet corn and mackerel fish for the elderly Khairunnisa, Yunda; Marliyati, Sri Anna; Setiawan, Budi
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 12 ISSUE 6, 2024
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2024.12(6).445-456

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Secara global rata-rata harapan hidup telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir, namun angka ini tidak diiringi dengan angka harapan hidup sehat. Berbagai masalah terkait dengan penuaan seperti kesulitan mengunyah, dan menelan makanan dapat mengurangi kemampuan lansia untuk memenuhi kebutuhan gizinya, untuk itu dibutuhkan modifikasi tekstur dari makanan lansia sehingga memudahkan mereka dalam mengonsumsinya.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formula yang tepat, menganalisis nilai organoleptik, dan kandungan zat gizi sup krim jagung manis dan ikan kembung untuk lansia.Metode: Penelitian ini merupakan experimental di laboratorium dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal yaitu kombinasi jagung dan ikan kembung dalam 3 taraf berbeda. Formula terdiri atas F1 (6% ikan), F2 (8% ikan), dan F3 (10% ikan). Data uji hedonik diperoleh dengan menggunakan kuesioner dan data zat gizi dengan pengamatan di laboratorium. Data penelitian diolah dengan menggunakan uji statistik one-way annova dan paired t test.Hasil: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan untuk seluruh atribut pada uji hedonik dan protein sup krim segar, sehingga formula 3 dipilih sebagai formula terbaik dengan kandungan protein yang lebih banyak dibandingkan formula lainnya. Kandungan gizi sup krim instan yaitu protein 39,98%, lemak 16,13% karbohidrat 34,36%, air 4,80%, abu 4,74%, dan total serat 5,96%.Kesimpulan: Sup krim ini dapat dikembangkan sebagai makanan selingan lansia, sup krim ini disukai oleh panelis dan memiliki kandungan gizi yang baik bagi lansiaABTRACTBackground: From a global perspective, the average life expectancy has risen rapidly in recent years but has not been followed by healthy life expectancy. Several aging-related issues, such as difficulties in chewing and swallowing, can hinder elderly people’s ability to meet their nutritional needs. Therefore, modifying food texture to facilitate easier consumption for this age group is essential.Objectives: This study aims to develop an optimal formula and evaluate the organoleptic and nutritional content of sweet corn and mackerel cream soup for elderly people.Methods: This research was a laboratory experiment employing a Completely Randomised Design (CRD) with a single factor, namely the combination of maize and mackerel at three different levels: F1 (6% fish), F2 (8% fish), and F3 (10% fish). The hedonic test data was obtained through a questionnaire, while nutritional data were gathered through laboratory observation. Then, data were analyzed by one-way ANOVA and paired t-tests.Results: The fresh cream soup's hedonic test and protein content demonstrated no significant differences found between the formulas. Therefore, Formula 3 was the optimal choice, as it exhibited a higher protein content than the other formulas. The nutritional composition of the instant cream soup is as follows: protein (39.98%), fat (16.13%), carbohydrate (34.36%), water (4.80%), ash (4.74%), and total fiber (5.96%).Conclusions: This cream soup has been developed as a snack meal for the elderly. The panelists liked its taste, and it has a good nutritional profile.KEYWORDS: cream soup; mackerel fish; sweet corn; isolat soy protein; eldelry
SUPLEMENTASI DAUN TORBANGUN (COLEUS AMBOINICUS LOUR) UNTUK MENURUNKAN KELUHAN SINDROM PRAMENSTRUASI PADA REMAJA PUTRI (SUPPLEMENTATION OF TORBANGUN LEAVES [COLEUS AMBOINICUS LOUR] IN REDUCING THE COMPLAINST OF PRE-MENSTRUAL SYNDROME [PMS] AMONG TEENAGE G Mazarina Devi; Hidayat Syarief; Rizal Damanik; Ahmad Sulaeman; Budi Setiawan; Rousmala Dewi
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 33 No. 2 (2010)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v33i2.3123.

Abstract

ABSTRACT Background: Torbangun leaves (Coleus ambonicus Lour) is one of type of species from Labiatae family which contains a lot of micronutrient and active element which have been examined as beneficial for human health and quality of life. The plants containing iridoid and flavonoid as well as phytochemical which deal with reproduction hormone is applicable to traditional medication toward PMS cases. Methods: The present study was aimed to assess the efficacy of CAL leaves in the management of PMS. An experimental clinical trial was conducted in 35 teenagers with PMS. Three intervention groups were defined: CAL leaves; commercial preparation; and placebo. Participants were followed-up individually for 1 month. Result: The results showed average menarche occurred around age 13 years, with menstruation lasting 5 days. During each successive treatment cycle, participants experienced a lower pain intensity score. Chi Square test, after adjusting each cycle for baseline pain, treatment compliance and other variables, showed that the group receiving CAL extract had significantly reduced pain intensity (p<0.05) compared with commercial preparation and placebo. Conclusion: The torbangun leaves supplement can be used as treatment to relief symptoms of the premenstrual syndrome. [Penel Gizi Makan 2010, 33(2):180-194]   Keywords: Torbangun leaves (Coleus amboinicus Lour), pre-menstrual syndrome (PMS), teenage girls
Formulation of functional instant pumpkin cream soup with moringa leaves as nutritional support for breastfeeding mothers Atikah Fajriani; Sri Anna Marliyati; Budi Setiawan
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 10, No 1 (2025): March
Publisher : Department of Nutrition at the Health Polytechnic of Aceh, Ministry of Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30867/action.v10i1.2200

Abstract

The exclusive breastfeeding rate has declined, partly due to mothers' perceptions of inadequate breast milk production. Optimal nutrition is crucial to enhance breast milk production. This study aimed to develop instant pumpkin cream soup with moringa leaves, which contains beta-carotene, flavonoids, and phenols as galactagogues and supports meeting the nutritional needs of breastfeeding mothers. Conducted from January to April 2024 in Bogor, West Java, the study used a Randomized Design (CRD) with moringa leaf concentrations of 1%, 2%, and 3%. A sensory evaluation by 35 semi-trained panelists indicated that the highest moringa concentration (F3) achieved the best taste, consistency, and overall acceptability scores. Statistical analysis revealed significant differences in moisture and protein contents between fresh and instant cream soups (p<0,05). The selected formula contained 0,22 mg/g iron, antioxidant activity (IC50:167,79 ppm), 50,95 mg GAE/g total phenols, 20,33 mg QE/g total flavonoids, and 40,50 mcg/g beta-carotene, with a protein digestibility of 43,57%. One serving (25 g) of cream soup provided 5% of the Recommended Dietary Allowance (RDA) for breastfeeding mothers. In conclusion, cream soup formula with 3% moringa leaves was the most preferred, containing nutrients and antioxidants that support increased breast milk production and meet the nutritional needs of breastfeeding mothers.