Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Pengaruh Penambahan Pasir Pantai Pada Tanah Dengan Uji Dynamic Cone Penetrometer Imanuel Ali Nur Sinala Amaral; Wong, Irwan Lie Keng; Sopacua, Helen Adry Irene
Paulus Civil Engineering Journal Vol. 2 No. 4 (2020): PCEJ, Vol.2, No.4, December 2020
Publisher : Universitas Kristen Indonesia Paulus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52722/5835nv52

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh penambahan pasir pantai pada tanah lempung terhadap uji Dynamic Cone Penetrometer (DCP). Metodologi dalam penelitian ini adalah melakukan serangkaian pengujian karakteristik tanah kemudian merancang komposisi campuran pengujian Kompaksi (Proctor Standard) untuk mendapatkan nilai kadar air optimum dan Pengujian Dynamic Cone Penetrometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah memenuhi karakteristik sebagai tanah lempung. Dari pengujian Proctor Standard pada variasi campuran 0%, 7%, 14%, 21%, mengalami peningkatan pada kadar air optimum dan kepadatan kering makasimum. Pada kadar air optimum dengan variasi penambahan 0% yaitu kadar air optimum 21,50% dan kepadatan kering 1,36gr/cm³, variasi 7% yaitu kadar air optimum 22,97% dan kepadatan kering 1,39gr/cm³, variasi 14% yaitu kadar air optimum 23,57% dan kepadatan kering1,46gr/cm³, variasi 21% yaitu kadar air optimum 22,60% dan kepadatan kering 1,47gr/cm³. Dari pengujian Dynamic Cone Penetrometer (DCP) mengalami peningkatan nilai CBR pada setiap penambahan variasi dari 0% sampai 21% mengalami peningkatan yaitu 0% dengan nilai CBR 4,46%, 7% dengan nilai CBR 6,26%, 14% dengan nilai CBR 7,82% dan 21% dengan nilai CBR 9,86%. Hasil dari penelitian membuktikan bahwa pasir pantai meningkatkan nilai CBR tanah sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan daya dukung tanah lempung.
Pengaruh Penambahan Bubuk Gypsum Pada Tanah Lempung Terhadap Uji California Bearing Ratio (CBR) Desgian Malle’ Pangadongan; Rachman, Rais; Wong, Irwan Lie Keng
Paulus Civil Engineering Journal Vol. 2 No. 4 (2020): PCEJ, Vol.2, No.4, December 2020
Publisher : Universitas Kristen Indonesia Paulus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52722/krsa0m32

Abstract

Saat ini pembangunan infrastruktur atau konstruksi sangat gencar dilakukan terkhususnya di Indonesia, tetapi pada pembangunan konstruksi sering ditemukan kondisi tanah yang kurang baik. Oleh karena itu banyak ditemukan konstruksi bangunan sipil dengan kondisi tanah yang jelek, yang berakibat pada bangunan yang mengalami penurunan. Maka dari itu tanah tersebut perluh distabilisasi terlebih dahulu agar dapat memenuhi syarat teknis yang diperlukan. Dari berbagai jenis tanah yang ada, tanah lempung adalah tanah yang paling banyak ditemukan masalah karena memiliki sifat kembang susut yang tinggi yang mengakibatkan daya dukung dari tanah rendah salah satu metode perbaikan yang dilakukan adalah dengan menambahkan bahan pencampuran kimiawi seperti gypsum. Salah satu parameter yang dapat diketahui apakah tanah tersebut baik adalah dari kekuatan daya dukungnya. Daya dukung tanah dapat diketahui dengan pengujian California Bearing Ratio (CBR). Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui sifat fisis tanah lempung dan menganalisis pengaruh penambahan bubuk gypsum pada tanah lempung terhadap nilai CBR. Hasil dari penelitian pada sampel tanah yang terdiri dari dua titik didapat nilai CBR terbesar terjadi pada sampel tanah yang dicampur dengan bubuk gypsum sebanyak 8% dimana titik 1 nilai CBR nya sebesar 5,67% dan titik 2 sebesar 4,13%.
Analisis Stabilitas Lereng Disposal Menggunakan Metode Bishop, Janbu, dan Ordinary Daniel Pasole; Patanduk, John; Wong, Irwan Lie Keng
Paulus Civil Engineering Journal Vol. 2 No. 3 (2020): PCEJ, Vol.2, No.3. September 2020
Publisher : Universitas Kristen Indonesia Paulus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52722/zwzwje95

Abstract

Kestabilan lereng disposal atau penimbunan pada tambang terbuka pada PT. Vale Indonesia Tbk telah menjadi masalah yang membutuhkan perhatian yang lebih bagi kelangsungan kegiatan penambangan dan menjadi hal yang penting untuk melakukan studi teknis. Faktor yang sering mengakibatkan keruntuhan atau kelongsoran ditinjau dari pengaruh geometri lereng seperti sudut kemiringan timbunan lereng dan susunan lapisan material serta akibat beban yang bekerja pada puncak (crest) lereng disposal tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui stabil atau tidaknya suatu lereng yang ditampilkan dalam bentuk nilai faktor keamanan. Tahapan dari proses analisis kestabilan lereng ini dilakukan dengan menggunakan tiga metode yaitu Bishop, Janbu dan Ordinary yang dalam proses analisisnya menggunakan software Geoslope/W 2012. Parameter yang digunakan yaitu sudut geser dalam, kohesi, dan berat jenis tanah. Dimana didapatkan faktor keamanan dari tiga metode yaitu sebelum perubahan, hasil analisis lereng dapat dilihat bahwa faktor aman lereng dengan menggunakan software Geoslope/W 2012 dalam kondisi tidak aman. Sedangkan hasil analisis stabilitas lereng dengan mengubah geometri lereng dan susunan lapisan material akibat beban di crest/puncak lereng, yang dimana mengubah sudut kemiringan lereng dari 35° menjadi 25° serta mengubah lapisan susunan material mampu meningkatkan kestabilan lereng, faktor keamanan yang diperoleh masing-masing tiga metode yaitu, Janbu 1,763; Bishop 1608 dan Ordinary 1,758
Pengaruh Penambahan Abu Batubara Terhadap Hasil Uji Kompaksi (Studi Kasus Tanah Lempung Toraja Utara) Gerwin Kevin Bumbungan; Patanduk, John; Wong, Irwan Lie Keng
Paulus Civil Engineering Journal Vol. 2 No. 3 (2020): PCEJ, Vol.2, No.3. September 2020
Publisher : Universitas Kristen Indonesia Paulus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52722/w91pqf64

Abstract

Tanah merupakan dasar dari suatu struktur bangunan. Setiap daerah memiliki karakteristik dan sifat-sifat tanah yang bervariasi.Seringkali terdapat beberapa sifat tanah yang buruk dan kurang menguntungkan untuk suatu konstruksi bangunan.Contoh beberapa sifat tanah yang perlu diperhatikan adalah plastisitas yang tinggi, kekuatan geser yang rendah, kemampatan atau perubahan volume dan kembang susut yang besar. Sangat penting untuk mengetahui permasalahan tanah tersebut, serta memberikan upaya untuk memperbaikinya. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui penambahan abu batubara pada tanah,serta mengetahui nilai kadar air tanah dalam pengujian pemadatan tanah (kompaksi proctor) setelah dicampurkan abu batubara. Dari hasil pengujian pemadatan tanah diperoleh, tanah yang di stabilisasi dengan abu batubara pada variasi 0%, 10%, 15%, 20% dan 25% menunjukkan adanya peningkatan nilai kepadatan kering. Pada pengujian pemadatan tanah dengan pencampuran abu batubara nilai kepadatan kering dari variasi 0% sebesar 1,307 terus meningkat hingga 25% sebesar 1,379. 
Pengaruh Penambahan Abu Eceng Gondok Pada Tanah Lempung Dengan Pengujian Direct Shear Pasae, Agnes Audelia; Wong, Irwan Lie Keng; Tangdialla, Lintje Tammu
Paulus Civil Engineering Journal Vol. 6 No. 2 (2024): PCEJ Vol.6, No.2, June 2024
Publisher : Universitas Kristen Indonesia Paulus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52722/3ej0b944

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengevaluasi dampak dari penambahan limbah abu eceng gondok pada tanah lempung dengan pengujian kuat geser langsung. Tahapan penelitian ini melibatkan rangkaian pengujian karakteristik fisik tanah dan kuat geser langsung dengan penambahan abu eceng gondok pada tanah yang berada pada Perumahan Cluster Pelangi, Kelurahan Kapasa, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar. Penelitian ini juga menggunakan Uji Geser Langsung untuk mengetahui pengaruh abu eceng gondok terhadap kohesi, sudut geser, dan kuat geser tanah. Berdasarkan hasil pengujian, tanah tersebut diklasifikasikan sebagai lempung A-7-6 oleh AASTHO, namun diklasifikasikan sebagai CL (plastisitas rendah hingga sedang) di USCS. Hasil uji geser langsung menyatakan bahwa kuat geser tanah dapat ditingkatkan sebesar 12% dengan menambahkan variasi jumlah abu eceng gondok. Peningkatan tertinggi nilai kohesi (c) pada tanah asli sejumlah 0,108 KG/CM² meningkat menjadi 0,147 KG/CM², nilai Sudut Geser (q) pada tanah asli meningkat sejumlah 25,37° menjadi 28,41°, dan nilai Kuat Geser (τ) pada tanah asli sejumlah 0,175 KG/CM² meningkat menjadi 0,348 KG/CM². Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan abu eceng gondok dapat meningkatkan daya dukung tanah.
Kinerja Jalan Pajjaiang Segmen Jl. Mannuruki Daya – Pintu 1 Gor Sudiang Bestari, Sufiati; Wong, Irwan Lie Keng; Yosep Kudu Rerung
Paulus Civil Engineering Journal Vol. 6 No. 3 (2024): PCEJ Vol.6, No.3, September 2024
Publisher : Universitas Kristen Indonesia Paulus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52722/hqs5ek89

Abstract

Arus lalu lintas di Jalan Pajjaiang umumnya berasal dari pelaku lalu lintas “kommuter” lalu lintas dari arah Sudiang menuju Jalan Perintis Kemerdekaan dan begitupun arah sebaliknya. Jalan Pajjaiang dilalui trayek angkutan kota Sudiang - Daya dan Bus Mamminasata yang sering berhenti untuk penumpang naik atau turun. Penelitian ini bertujuan agar diketahui arus lalu lintas puncak, derajat kejenuhan, dan kecepatan kendaraan ringan. Metode yang digunakan mengacu pada Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI 2014). Hasil analisis diperoleh derajat kejenuhan sebesar 0,33 dari arah Jalan Mannuruki – Pintu 1 Gor Sudiang dan derajat kejenuhan 0,30 dari arah Pintu 1 Gor Sudiang - Jalan Mannuruki Daya. Nilai derajat kejenuhan yang diperoleh lebih kecil daripada ambang batas 0,85 yang ditetapkan PKJI 2014, berarti arus lalu lintas pada Jalan Pajjaiang segmen Jl. Mannuruki Daya - Pintu 1 Gor Sudiang dalam keadaan belum jenuh. Pembacaan grafik PKJI 2014 didapatkan kecepatan rata-rata kendaraan ringan VT = 56,9 km/jam dari arah Jl. Mannuruki dan VT = 56,1 km/jam dari arah Pintu 1 Gor Sudiang. Perhitungan kecepatan aktual rata-rata kendaraan ringan pada hari Senin diperoleh 39,40 km/jam untuk arah Jl. Mannuruki – Pintu 1 Gor Sudiang dan  41,44 km/jam untuk arah Pintu 1 Gor Sudiang - Jl. Mannuruki Daya. Perhitungan kecepatan aktual rata-rata kendaraan ringan sewaktu ada kegiatan pasar pada hari Minggu 31,72 km/jam dari arah Jl. Mannuruki Daya – Pintu 1 Gor Sudiang dan  29,52 km/jam dari arah Pintu 1 Gor Sudiang - Jl. Mannuruki Daya. Kecepatan hasil pembacaan grafik VT dan hasil perhitungan berbeda jauh. Karena jarak tempuh kendaraan ringan yang disurvei pada lokasi studi 200 m, kurang mewakili kecepatan ruang. Sedangkan grafik dalam PKJI diturunkan dari survei segmen sepanjang 300 m.
Pengaruh Penambahan Serat Kabel Tembaga Pada Campuran Beton Terhadap Kuat Tekan dan Kuat Tarik Belah Augustinus Latuheru; Parung, Herman; Wong, Irwan Lie Keng
Paulus Civil Engineering Journal Vol. 6 No. 3 (2024): PCEJ Vol.6, No.3, September 2024
Publisher : Universitas Kristen Indonesia Paulus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52722/qkzwft73

Abstract

Beton merupakan salah satu bahan pokok yang biasanya dipakai dalam dunia konstruksi, karena sifatnya yang bermacam sesuai dengan perubahan campuran penyusunnya seperti air, semen portland komposit, agregat kasar dan halus serta bahan tambahan lainnya jika diperlukan. Dalam penelitian ini digunakan serat kabel tembaga sebagai bahan tambah dalam campuran beton. Penelitian ini, Karakteristik agregat halus dan agregat kasar dari sungai jeneberang menunjukan hasil yang memenuhi spesifikasi. Agar diketahui karakteristik beton, dilaksanakan uji kuat tekan dan kuat tarik belah. Menurut pengujian tersebut, didapatkan rata-rata Nilai Kuat tekan pada variasi beton normal sebesar 21,966 Mpa, pada variasi 1,75% sebesar 21,118 Mpa dan pada variasi 2% sebesar 20,741 Mpa. Untuk data uji kuat tarik belah  dihasilkan angka rata-rata untuk variasi 0% sebesar 3,300 Mpa, untuk variasi 1,75% sebesar 2,875% dan untuk variasi 2% sebesar 3,017 Mpa.  
Pengaruh Subtitusi Bottom Ash dan Semen Pada Tanah Terhadap Nilai CBR Laboratorium Arfian Rante Tampang; Wong, Irwan Lie Keng; Fitrian, Eltrit Bima
Paulus Civil Engineering Journal Vol. 6 No. 3 (2024): PCEJ Vol.6, No.3, September 2024
Publisher : Universitas Kristen Indonesia Paulus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52722/3dswtk60

Abstract

Tanah termasuk bahan dasar utama dalam konstruksi karena merupakan tempat dimana konstruksi bangunan sipil yang berfungsi menerima dan menahan beban dari suatu struktur diatasnya Tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan karakteristik tanah, sifat fisik, dan untuk mendapatkan pengaruh bahan subtitusi bottom ash dan semen terhadap nilai kepadatan tanah berdasarkan pengujian standar proctor dan daya dukung tanah dengan pengujian California Bearing Ratio (CBR). Dengan metode yang di gunakan mengacu pada Americian Society For Testing Material (ASTM). Berdasarkan klasifikasi Americian Association Of State Highway And Transportation Officials (AASHTO). Tanah yang bertempat dari Kecamatan Desa Moncongloe Bulu, Kabupaten Maros merupakan jenis tanah lempung dengan plastisitas sedang dan tergolong pada klasifikasi A-7-5 (17), pengaruh kepadatan tanah berdasarkan pengujian standar proctor diperoleh berat isi volume kering pada variasi 0% sebesar 1,217 gr/cm², 1,206 gr/cm² untuk variasi 5% semen 1,301 gr/cm² untuk variasi 5% semen dan 5% bottom ash 1,288gr/cm² untuk vasiasi 5% semen dan 10% bottom ash 1,272 gr/cm² untuk variasi 5% semen dan 15% bottom ash 1,352 gr/cm² dengan kadar air rata-rata 35,79%, 28,40%, 30,25%, 32,47%, dan 28,53% Pengaruh daya dukung tanah berdasarkan Pengujian California Bearing Ratio (CBR) digunakan pada penelitian mencapai Pada Variasi 0% dengan nilai rata-rata 4,31% , 4,22% untuk variasi 5% semen dengan nilai rata-rata 6,6% , 6,72% untuk variasi 5 % semen dan 5% bottom ash 6,17% , 5,53% untuk variasi 5% semen dan 10% bottom ash 5,78% , 4,74% untuk variasi 5% semen dan 15% bottom ash 8,76% , 8,03%.
Penyelidikan Tanah Menggunakan Metode N-Spt dan Pengujian Sondir (Studi Kasus Pembangunan Mall Pelayanan Publik Kota Makassar) Julianto, Anugrah; Wong, Irwan Lie Keng; Apriyani, Ika
Prosiding Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 6 (2023): Prosiding Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Joi
Publisher : Yayasan Pendidikan dan Research Indonesia (YAPRI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penyelidikan tanah memegang peranan penting dalam pembangunan konstruksi bangunan sipil dan merupakan salah satu persyaratan yang wajib dilakukan dalam perencanaan konstruksi bangunan bawah. Tanah dari pandangan ilmu Teknik Sipil merupakan himpunan mineral, bahan organik dan endapan-endapan yang relative lepas (loose) yang terletak di atas batu dasar (bedrock). Tanah didefinisikan secara umum adalah kumpulan dari bagian-bagian yang padat dan tidak terikat antara satu dengan yang lain rongga-rongga diantara material tersebut berisi udara dan air (Verhoef,1994). Ikatan antara butiran yang relatif lemah dapat disebabkan oleh karbonat, zat organik, atau oksida-oksida yang mengendap-ngendap diantara partikel-partikel. Ruang diantara partikel-partikel dapat berisi air, udara, ataupun yang lainnya. CPT atau dikenal dengan uji sondir merupakan penyelidikan tanah dilapangan yang banyak digunakan di Indonesia. Pengujian SPT atau sering disebut uji boring merupakan pengujian yang bertujuan untuk mengetahui besar perlawanan dinamik dari tanah dengan teknik penumbukan. Tanah merupakan peranan penting dalam suatu pekerjaan konstruksi. Semua bangunana umunya dibuat di atas dan di bawah permukaan tanah, maka dari itu diperlukan perencanaan pondasi yang mampu menyalurkan beban dari bangunan atas ke tanah. Untuk menentukan dan mengklasifikasikan tanah diperlukan suatu pengamatan lapangan, jika mengandalkan pengamatan di lapangan, maka kesalahan-kesalahan yang disebabkan oleh perbedaan pengamatan perorangan akan menjadi sangat besar. Untuk memperoleh hasil klasifikasi yang objektif, biasanya tanah itu dibagi dalam tanah berbutir kasar dan berbutir halus berdasarkan suatu analisis mekanis. Selanjutnya tahap klasifikasi tanah berbutir halus diadakan berdasarkan percobaan konsistensi. Hardiyatmo menjelaskan bahwa penyelidikan mendetail dengan pengeboran yang diikuti dengan pengujian di laboratorium dan atau di lapangan, selalu dilakukan untuk penyelidikan tanah pada proyek-proyek besar, seperti gedung bertingkat, jembatan, bendungan, bangunan bangunan industri, dan lain lainnya. Bergantung pada maksud dan tujuannya, penyelidikan dapat dilakukan dengan cara menggali lubang uji (test-pit), pengeboran, dan uji secara langsung di lapangan (in-situ test). Dari data yang diperoleh, sifat-sifat teknis dipelajari, kemudian digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menganalisis kapasitas dukung dan penurunan. Abstract Soil from the view of Civil Engineering is a collection of minerals, organic matter and relatively loose deposits that lie on bedrock. Soil is defined in general as a collection of parts that are solid and not bound to one another, the voids between these materials are filled with air and water (Verhoef, 1994). The relatively weak bonds between the grains can be caused by carbonates, organic matter, or oxides precipitating between the particles. The space between the particles can contain water, air, or something else. CPT or known as the sondir test is a field soil investigation that is widely used in Indonesia. The SPT test or often called the boring test is a test that aims to determine the dynamic resistance of the soil using the impact technique. Soil is an important role in a construction work. All buildings are generally made above and below ground level, therefore it is necessary to design a foundation that is able to transfer the load from the superstructure to the ground. To determine and classify soil, a field observation is needed. If you rely on field observations, the errors caused by differences in individual observations will be very large. In order to obtain objective classification results, the soils are usually divided into coarse-grained and fine-grained soils based on a mechanical analysis. Furthermore, the fine-grained soil classification stage was held based on consistency experiments. Hardiyatmo explained that a detailed investigation by drilling followed by testing in the laboratory and/or in the field is always carried out for soil investigations on large projects, such as high-rise buildings, bridges, dams, industrial buildings, and others. Depending on the aims and objectives, investigations can be carried out by digging test pits, drilling and in-situ tests. From the data obtained, the technical properties are studied, then used as a material consideration in analyzing the carrying capacity and settlement
Hubungan Nilai Cbr Laboratorium Dan Dcp Pada Tanah Dasar Parrangan, Dedes; Wong, Irwan Lie Keng; Apriyani, Ika
Prosiding Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 6 (2023): Prosiding Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Joi
Publisher : Yayasan Pendidikan dan Research Indonesia (YAPRI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dalam setiap aspek perkembangan tanah selalu memiliki peranan penting. Tanah menjalankan perannya dalam bidang konstruksi sebagai salah satu komponen dan tempat berdirinya suatu konstruksi. Untuk mengetahui daya dukung tanah dasar, salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan melakukan uji CBR (California Bearing Ratio). Walaupun pengujian CBR dapat dilakukan di laboratorium, namun pada saat proses pengambilan contoh tanah di lapangan sering menemui beberapa kendala terkait kondisi wilayah, jarak antara lokasi dengan laboratorium, keterbatasan transportasi dan ketersediaan alat pengujian. Oleh karena itu diperlukan pengujian alternatif untuk mendapatkan nilai CBR secara cepat dan efisien di lapangan. Salah satu alternatifnya adalah dengan menggunakan alat DCP (Dynamic Cone Penetrometer). Maka dari hasil analisa dari 10 titik pada ruas Moncongloe Bulu, Kecamatan Moncongloe Bulu, Kelurahan Moncongloe Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Berdasarkan metode AASHTO tanah tersebut diklasifikasikan dalam jenis tanah A-7-5 dan A-7-6 tanah berlempung, Dari hubungan CBR Laboratorium dan CBR Lapangan didapatkan persamaan y = 0,0024x + 1,4247 dan memiliki koefisien korelasi (r) = 0,064573 maka dapat disimpulkan hubungan antara nilai CBR Laboratorium dan nilai CBR Lapangan memiliki Hubungan Langsung Positif Lemah. dan koefisien determinasi (R²) = 0,0042 menunjukkan akurasi model tidak baik, ini menjukkan bahwa nilai CBR Laboratorium tidak ada hubungan yang signifikan dengan CBR lapangan dikarenakan perendaman tanah selama 4 hari. Abstract In every aspect of land development always has an important role. Land performs its role in the field of construction as one of the components and as a place for a construction to stand. To find out the bearing capacity of subgrade, one of the methods that can be used is to do a CBR (California Bearing Ratio) test. Although CBR testing can be carried out in the laboratory, during the process of taking soil samples in the field, it often encounters several difficulties related to regional conditions, the distance between the location and the laboratory, transportation limitations and the availability of testing equipment. Therefore, alternative testing is needed to get CBR values ​​quickly and efficiently in the field. One alternative is to use a DCP (Dynamic Cone Penetrometer) tool. So from the results of an analysis of 10 points on the Moncongloe Bulu segment, Moncongloe Bulu District, Moncongloe Village, Maros Regency, South Sulawesi. Based on the AASHTO method, the soil is classified into soil types A-7-5 and A-7-6 clay soil. From the relationship between CBR Laboratory and CBR Field, the equation is y = 0.0024x + 1.4247 and has a correlation coefficient (r) = 0 .064573, it can be concluded that the relationship between Laboratory CBR values ​​and Field CBR values ​​has a Weak Positive Direct Relationship. and the coefficient of determination (R²) = 0.0042 indicates poor model accuracy, this indicates that the laboratory CBR value has no significant relationship with field CBR due to soil soaking for 4 days.