Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Pengaruh Fly Ash Dan Tempurung Kelapa Sebagai Bahan Substitusi Pada Beton Normal Songko, Imelda; Phengkarsa, Frans; Febriani, Lisa; Wong, Irwan Lie Keng
Prosiding Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 6 (2023): Prosiding Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Joi
Publisher : Yayasan Pendidikan dan Research Indonesia (YAPRI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Beton merupakan suatu campuran yang terdiri dari agregat halus, agregat kasar, air dan semen yang menjadi pengikat dan disatukan dalam perbandingan tertentu. Pada penelitian ini digunakan tempurung kelapa dan fly ash sebagai bahan substitusi pada beton normal dengan mutu rencana 25 MPa. Variasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah variasi normal, 3%, 3,5% dan 4% yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan perbandingan dari fly ash dan tempurung kelapa sebagai bahan substitusi. Pengujian yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu pengujian kuat tekan, kuat tarik belah, kuat lentur, dan pengujian modulus elastisitas beton. Dari hasil pengujian diperoleh nilai rata – rata kuat tekan beton pada umur 28 hari sebesar 25,412 MPa, 28, 264 MPa, 25,059 MPa, dan 20,656 Mpa. Nilai pengujian kuat tarik belah beton umur 28 hari diperoleh nilai rata - rata sebesar 2,734 MPa, 2,875 Mpa, 2,640 Mpa dan 2,451 Mpa. Nilai rata – rata pengujian kuat lentur beton umur 28 hari diperoleh berturut – turut sebesar 2,871 MPa, 2,921 MPa, 2,770 MPa dan 2,619 MPa. Dan nilai rata – rata pengujian modulus elastisitas beton umur 28 hari diperoleh sebesar 23631,659; 23846,63; 23585,448; dan 23319,164 Kata Kunci : , , , , Abstract Concrete is a mixture consisting of fine aggregate, coarse aggregate, water and cement which become binders and are put together in a certain ratio. In this study, coconut shell and fly ash were used as substitute materials for normal concrete with a plan quality of 25 MPa. The variations used in this study are normal variations, 3%, 3.5% and 4% which aim to determine the effect and comparison of fly ash and coconut shell as substitution materials. The tests carried out in this study are testing compressive strength, tensile strength, flexural strength, and testing the modulus of elasticity of concrete. From the test results, the average compressive strength of concrete at the age of 28 days was 25.412 MPa, 28, 264 MPa, 25.059 MPa, and 20.656 Mpa. The tensile strength test value of 28-day-old concrete obtained average values of 2,734 MPa, 2,875 Mpa, 2,640 Mpa and 2,451 Mpa. The average value of the 28-day concrete flexure test was obtained respectively of 2,871 MPa, 2,921 MPa, 2,770 MPa and 2,619 MPa. And the average value of testing the modulus of elasticity of 28-day-old concrete was obtained at 23631,659; 23846,63; 23585,448; and 23319,164.
Analisis Perbandingan Pelat Dengan Balok Dan Pelat Tanpa Balok Payung, Keren Tangke; Tanijaya, Jonie; Sanggaria, Olan Jujun; Wong, Irwan Lie Keng
Prosiding Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 6 (2023): Prosiding Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Joi
Publisher : Yayasan Pendidikan dan Research Indonesia (YAPRI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Setiap gedung memiliki elemen struktur yang disebut sebagai pelat dengan fungsi sebagai lantai atau atap. Pelat membentuk satu kesatuan struktur dengan elemen struktur lainnya seperti balok dan kolom, yang kemudian disebut sebagai sistem pelat. Pelat dengan balok (konvensional) merupakan pelat dengan balok yang sering dijumpai pada bangunan pada umumnya, yaitu pelat yang ditumpu oleh balok sebelum kemudian beban dari pelat tersebut ditransfer ke kolom atau pondasi. Sedangkan pelat tanpa balok (flat plate) merupakan jenis pelat dua arah tanpa balok yang langsung menumpu pada kolom. Pelat tanpa balok dapat mengurangi ketinggian struktur dan waktu pengerjaan konstruksi. Namun, pelat tanpa balok membutuhkan pelat yang lebih tebal dari biasanya untuk mengatasi lendutan. Dalam tugas akhir ini, suatu struktur beton bertulang sekolah 3 lantai akan ditinjau pada lantai 2 dengan bentang 5000 mm x 6000 mm. Dan akan dibandingkan tebal pelat, tulangan pelat, dan juga lendutan pada pelat. Analisis dan desain menggunakan metode Direct Design Method dengan memperhitungkan akibat beban gravitasi (beban mati dan beban hidup). Dari hasil analisis, lendutan pada pelat tanpa balok lebih besar dibandingkan pelat dengan balok, dimana semakin tebal pelatnya maka nilai lendutan pelat akan semakin kecil dan jarak tulangan akan semakin rapat. Abstract Each building has structural elements known as slabs that function as floors or roofs. Slabs form a single structural unit with other structural elements such as beams and columns, which are then referred to as slab systems. Plates with beams (conventional) are plates with beams that are often found in buildings in general, namely plates that are supported by beams before then the load from the plates is transferred to the columns or foundations. While the plate without beams (flat plate) is a type of two-way plate without beams which directly supports the column. Slabs without beams can reduce the height of the structure and construction time. However, slabs without beams require thicker slabs than usual to overcome deflections. In this final project, a 3-storey school reinforced concrete structure will be examined on the 2nd floor with a span of 5000 mm x 6000 mm. And will be compared plate thickness, plate reinforcement, and also the deflection on the plate. Analysis and design using the Direct Design Method by taking into account the effects of gravity loads (dead loads and live loads). From the results of the analysis, the deflection on the slab without beams is greater than the slab with beams, where the thicker the slab, the smaller the deflection value of the plates and the spacing of the reinforcement bars will be denser
Perbandingan Kapasitas Pelat dengan Balok dan Pelat Tanpa Balok dengan Drop Panel Bua’, Stevany Arrang; Tanijaya, Jonie; Sanggaria, Olan Jujun; Wong, Irwan Lie Keng
Prosiding Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 6 (2023): Prosiding Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Joi
Publisher : Yayasan Pendidikan dan Research Indonesia (YAPRI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sistem struktur pelat dan balok biasa (konvensional) merupakan bagian struktur bangunan yang menahan beban permukaan (beban vertikal), biasanya mempunyai arah horisontal, dengan permukaan atas dan bawahnya sejajar. Sedangkan pelat tanpa balok dengan drop panel atau disebut juga lantai cendawan adalah pelat beton bertulang yang langsung ditumpu oleh kolom-kolom, dicirikan dengan tidak adanya balok sepanjang garis kolom dalam, namun balok tepi luar boleh jadi ada atau tidak disesuaikan dengan kebutuhan. Pelat dengan balok dan pelat tanpa balok dengan drop panel direncanakan seragam dengan dimensi 6000x5000 mm sebanyak 9 panel, dengan mutu beton 25 Mpa, mutu tulangan 420 Mpa dan berdasarkan ketentuan SNI 1727:2020, SNI 2847:2019 dan SNI 2052:2017. Analisis pelat menggunakan metode portal ekivalen dan Microsoft Excel.Berdasarkan hasil analisis nilai perbandingan yang diperoleh dari kedua pelat ialah, jika menggunakan tebal pelat yang sama yaitu sebesar =170 mm didapatkan lendutan pada pelat dengan balok sebesar = 1,715 mm, sedangkan pada pelat tanpa balok dengan drop panel didapatkan lendutan sebesar = 3,819 mm. Adapun, jika menggunakan lendutan yang sama yaitu = 1,186 mm didapatkan tebal pelat pada pelat dengan balok =180 mm, sedangkan pada pelat tanpa balok dengan drop panel didapatkan tebal pelat =211,454 mm. Abstract An ordinary (conventional) plate and beam structural system is a part of a building structure that resists surface loads (vertical loads), usually in a horizontal direction, with the upper and lower surfaces parallel. Meanwhile, slabs without beams with drop panels or also known as mushroom floors are reinforced concrete slabs directly supported by columns, characterized by the absence of beams along the inner column line, but the outer edge beams may or may not be adjusted as needed. Slabs with beams and slabs without beams with drop panels are designed to be uniform with dimensions of 6000x5000 mm for 9 panels, with 25 MPa concrete quality, 420 MPa reinforcement quality and based on the provisions of SNI 1727:2020, SNI 2847:2019 and SNI 2052:2017. Plate analysis using the equivalent portal method and Microsoft Excel. Based on the analysis results, the comparative value obtained from the two plates is, if using the same plate thickness, i.e. =170 mm, the deflection on the plate with beams is ∆cr= 1.715 mm, while on the plate without beams with drop panels, the deflection is ∆cr = 3.819 mm. Meanwhile, if you use the same deflection, namely ∆cr= 1.186 mm, you get a plate thickness of the plate with beams =180 mm, while on the plate without beams with drop panels, you get a plate thickness of =211,454 mm.
Pengaruh Parkir Pada Badan Jalan Terhadap Kinerja Ruas Jalan Kajaolalido Angelo Samparaya; Wong, Irwan Lie Keng; Bestari, Sufiati
Paulus Civil Engineering Journal Vol. 6 No. 4 (2024): PCEJ Vol.6, No.4, Desember 2024
Publisher : Universitas Kristen Indonesia Paulus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52722/vrjes982

Abstract

Parkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang bersifat sementara. Kendaraan apa pun yang berhenti di tempat tertentu, baik ada rambu lalu lintas atau tidak, hanya untuk menaikkan dan menurunkan orang atau barang dianggap parkir. Untuk meminimalkan gangguan yang disebabkan oleh parkir di jalan (parking on street) terhadap lalu lintas merupakan hal penting yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan parkir. Jalan Kajaolalido adalah salah satu jalan di Kota Makassar yang memiliki parkir di badan jalan. Pada sisi ruas jalan Kajaolalido memiliki tata guna lahan mixed land use, terdapat sekolah, lapangan olahraga, bank, rumah makan, dan kafe. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh parkir pada badan jalan terhadap kinerja ruas jalan Kajaolalido. Adapun hasil yang diperoleh yaitu derajat kejenuhan pada kondisi jam puncak tertinggi terjadi pada hari Rabu dengan derajat kejenuhan yakni 0,43.  
Pengaruh Penambahan Ampas Arang Cangkang Kepayang Pada Tanah Lempung Terhadap Nilai Kuat Tekan Bebas (UCT) Julvianto Roman Teo; Wong, Irwan Lie Keng; Fitrian, Eltrit Bima
Paulus Civil Engineering Journal Vol. 7 No. 1 (2025): PCEJ Vol.7, No.1, Maret 2025
Publisher : Universitas Kristen Indonesia Paulus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52722/dykx2y47

Abstract

Pada tanah yang lunak, terdapat dua permasalahan utama yang perlu diperhatikan. Pertama, adalah rendahnya daya dukung tanah. Kedua, adalah tingginya tingkat penurunan tanah. Oleh karena itu, telah dilakukan penelitian mengenai stabilisasi tanah menggunakan abu arang tempurung kepayang. Tanah yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Desa Monkongloe Bulu yang terletak di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Hidrometer, penentuan kadar air, berat jenis, batas-batas Atterberg dan analisis saringan digunakan dalam metodologi penelitian. Unified Soil Classification System (USCS), diikuti dengan uji pemadatan standar Proctor. untuk mencapai nilai kepadatan maksimum dan mengukur daya dukung tanah dengan menambahkan variasi persentase abu arang tempurung kepayang yang berbeda yaitu 2%, 4%, 6% dan 8%. Hasil penelitian menunjukkan kadar air rata-rata 35,435% dan berat jenis 2,591, dengan plastisitas tergolong sedang. Tanah USCS termasuk lanau organik dan lempung berlanau organik (OL).
Edukasi Peningkatan Keselamatan Berlalulintas dan K3 Kepada Awak Kendaraan Bis Radjawane, Louise Elizabeth; Sopacua, Helen Adry Irene; Febriani, Lisa; Buarlele, Luciana; Wong, Irwan Lie Keng
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v6i3.13347

Abstract

Pada tahun 2024, Provinsi Sulawesi Selatan berada di peringkat ke-6 yang memiliki tingkat kecelakaan tertintti di Indonesia pada tahun 2024. Kecelakaan yang tercatat bukan hanya dari kendaraan sepeda motor, mobil penumpang, dan truk, tetapi bus pariwisata juga termasuk di dalamnya. Kecelakaan kerja merupakan perhatian yang penting di berbagai industri, dan hal ini terutama berlaku bagi awak bus, memiliki tanggung jawab terhadap perpindahan orang dan logistik dengan aman, nyaman, dan selamat. Untuk membantu mewujudkan aero accident terutama bagi transportasi umum, maka penting dilakukan penyuluhan atau edukasi mengenai keselamatan berlalulintas dan K3. Kegiatan edukasi dilakukan di salah satu perusahaan operator bis di Kota Makassar, yang melayani perpindahan orang dan barang antar kota antar kabupaten. Tingkat pemahaman awak bis mengenai marka dan rambu lalulintas meningkat 20% setelah pembahasan materi. Pemahaman awak bis akan bahaya penggunaan ponsel saat berkendara, bertambah 90% setelah pemberian materi. Pemahaman awak bis akan blind spot pada bis mengalami peningkatan 47% setelah pemberian materi. Pemahaman akan ergonomic meningkat menjadi 95% (setelah pembahasan materi).  Melalui edukasi ini, diharapkan terjadi peningkatan berlalulintas yang aman, nyaman, tertib, dan selamat bagi awak bis dan peningkatan kesehatan dan keselamatan kerja
Pengaruh Penambahan Semen dan Variasi Serat Kelapa Pada Tanah Terhadap Uji Kuat Geser Langsung Irviyanti; Wong, Irwan Lie Keng; Apriyani, Ika
Paulus Civil Engineering Journal Vol. 7 No. 2 (2025): Paulus Civil Engineering Journal V7N2 2025
Publisher : Universitas Kristen Indonesia Paulus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52722/25zx4b71

Abstract

Soil stabilization is an effort to strengthen the soil's bearing capacity and shear strength. The aim of this research was to find the physical properties of the soil and the results of stabilization with a mixture of 5% constant cement and a mixture of 5%, 10% and 15% coconut fiber (length ± -10 mm) with direct shear strength testing. Data from tests on the physical properties of the soil that have been carried out in the laboratory, the AASTHO classification shows that the soil belongs to group A-2-7, and the results of the USCS classification of the soil are classified as silty sandy soil (SM). The results of direct shear strength testing in the soil mechanics laboratory showed that the addition of cement and coconut fiber increased the value of cohesion (c), shear angle (Ø), and shear strength (τ). The highest increase was produced in variations of 5% constant cement and 15% coconut fiber, with increased cohesion of 0.166 kg/cm² (point 1) and 0.168 kg/cm² (point 2), shear angles of 32.15° (point 1) and 32.50° (point 2), and shear strength of 0.367 kg/cm² (point 1) 0.371 kg/cm² (point 2). It can be concluded that the addition of cement and coconut fiber can help stabilize the soil at the landslide point.
Pengaruh Penambahan Limbah Karbit Dan Variasi Abu Serabut Kelapa Terhadap Kuat Geser Aprilia Getruda Rumngewur; Pebrinar Riani Sangle; Wong, Irwan Lie Keng
Paulus Civil Engineering Journal Vol. 7 No. 2 (2025): Paulus Civil Engineering Journal V7N2 2025
Publisher : Universitas Kristen Indonesia Paulus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52722/4g0r1n55

Abstract

Recently, various ways have been developed to improve the soil conditions to increase soil stability. These soil improvements have been widely implemented and have shown positive results. In this research, researchers carried out soil improvement using carbide waste and fiber ash as additional materials. This research aims to determine the characteristics of the soil on Jl. Poros Lembang Kole Palian, Bittuang District, Tana Toraja Regency, South Sulawesi. This research was carried out using an experimental method, namely testing soil characteristics with soil mechanical testing. From the results of the soil mechanical testing obtained, the value obtained after testing the shear strength at a variation of 12% + 5% ash had three samples with an average = 0.449 kg/cm². The value for the variation of 12% carbide + 10% ash has three samples with an average = 0.585 kg/cm². The value for the variation of 12% carbide + 15% ash has three samples with an average = 0.615 kg/cm². Based on this research, it was concluded that the increase in soil shear strength values ​​with the addition of carbide waste and coconut fiber ash indicates that this addition can be used as a soil stabilization material.
Penentuan Bahaya Longsor Berdasarkan Pedoman Penilaian Tingkat Risiko Lereng Jalan (Ruas Waipia-Saleman) Sangle, Pebrinar Riani; Wong, Irwan Lie Keng; Febriani, Lisa
Journal of Applied Civil Engineering and Infrastructure Technology Vol 7 No 1 (2026): Agustus 2026
Publisher : Indonesian Society of Applied Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52158/jaceit.v7i1.1020

Abstract

Landslides are one of the most frequent geological disasters in Indonesia, leading to significant losses to infrastructure and the economy, especially in areas with particularly steep topography, such as Seram Island, Central Maluku. The island is susceptible to landslides due to a combination of natural factors such as high, heavy rainfall, mountainous topography, and seismic activity, as well as anthropogenic factors such as deforestation and agricultural activities on slopes. The objective of this study is to evaluate the landslide hazard in Seram Island (Waipia-Saleman Section) by identifying high-risk areas using the 2018 road slope assessment guidelines. From the analysis result along the Waipia-Saleman section, it was found that there were 6 points with very high potential for landslide, 1 point with a high potential for landslide, 4 points with medium potential for landslide, and 2 points with low potential for landslide. Mitigation recommendations at 6 spots with very high potential slopes were made to reconstruct the slopes. Instrument installation and rehabilitation were conducted at 1 spot with a high potential slope. At the 4 spots with medium potential slopes, rehabilitation was recommended as the mitigation, while the 2 spots with low potential slopes were assigned periodic maintenance.